PAUTAN TAMBAHAN

Jumaat, 29 Julai 2016

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (QS Adz Dzaariyaat [51]: 55)



Kita adalah da’i sebelum menekuni profesi apa pun. Karena berda’wah dan mengajak kepada kebaikan sesuai dengan kemampuan adalah tuntutan keimanan seorang mukmin. Termasuk bagian dari da’wah adalah At Tadzkir (memberi peringatan) bukan memberi hidayah. Sebab, manusia dikenal pelupa. Maka, ia dalam bahasa Arab disebut Insaan likatsrati nisyaan (karena sering lupa). Sementara memberi hidayah hak prerogratif Allah swt.

Tugas Nabi saw dan da’i

Ayat di atas didahului dengan perintah Allah swt kepada Rasulullah saw untuk berpaling dari orang-orang kafir dan tidak selalu risau dan galau terhadap dosa-dosa mereka (QS Adz Dzaariyaat [51]: 54). Sebab, tugas Rasul hanyalah Al Balaagh (menyampaikan risalah) dan At-Tadzkir. Dan beliau saw telah melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya.

Ayat ini menunjukan kegalauan yang sekaligus perhatian besar Rasulullah yang besar terhadap kaumnya. Namun, kemudian Allah menegaskan bahwa tugas beliau hanyalah memberi peringatan, bukan memberi hidayah. Dalam ayat lain, Allah juga berfirman, “Maka tetaplah memberi peringatan, sesungguhnya engkau hanya pemberi peringatan” (QS Al Ghaasyiyah [88]:21). Apakah mereka merespon secara positif atau negatif itu bukan wewenang dan urusan Nabi. Firman Allah, “Engkau tidaklah mampu menguasai (hati) mereka” (QS Al Al Ghaasyiyah [88]:22). Sebab, yang mampu memberi hidayah hanyalah Allah. Karenanya Rasulullah saw pernah ditegur olah Allah ketika bersikeras ingin mengajak dan menyeru pamannya, Abu Thalib kepada laailaaha illallah menjelang akhir hayatnya seperti dalam hadits riwayat Imam Muslim (lihat Asbabun Nuzul, As Suyuti) sehingga turunlah ayat, “Sesungguhnya engkau tidak akan mampu memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai. Akan tetapi Allah yang mampu memberi hidayah kepada orang yang ia kehendaki. Dan Dia Maha Mengetahui orang-orang yang telah mendapat hidayah” (QS Al Qashas [28]: 56). Dan da’i adalah pewaris Nabi, maka ia mengemban misi dan tugas Nabi.

Menurut Syekh Abdurrahman As Sa’di dalam kitab tafsirnya, bahwa At Tadzkir yang diemban oleh Nabi dan juga da’i ada dua macam:

Mengingatkan hal-hal yang tidak diketahui secara terperinci, namun secara global dapat dicerna dan diketahui oleh fitrah dan akal. Sebab, Allah telah menciptakan akal untuk menyukai kebaikan dan membenci keburukan. Dan syari’at Allah menyetujui hal itu. Untuk itu semua yang diperintahkan dan dilarang oleh syari’at adalah masuk dalam kategori tadzkir. Dan sempurnanya tadzkir adalah mengingatkan kebaikan dan kemaslahatan yang terdapat dalam setiap perintah syari’at dan mengingatkan kemudharatan yang terdapat dalam setiap larangan syari’at.

Mengingatkan apa yang sudah maklum diketahui oleh orang-orang mukmin, tetapi kelalaian menimpanya sehingga perlu diingatkan secara berulang-ulang supaya terpatri dalam benaknya untuk kemudian diamalkan. (Taysir Al Karim Ar Rahman fi Tafsir Kalam Al Mannan, As Sa’di, hal. 812, Muassasah Ar Risalah Lebanon, 2002)

Dari sudut pandang pendidikan keluarga. Tentu ayat ini sangat penting bagi para orangtua dan kalangan pendidik bahwa kewajiban mereka adalah selalu mengingatkan secara kesinambungan dan tanpa kenal putus asa para anak dan siswa mereka untuk senantiasa rajin belajar, berakhlakul karimah dan menjadi anak yang shalih.

Orang beriman selalu merespon positif teguran dan peringatan

Dalam ayat di atas, Allah swt mempostkan bahwa peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. Keimanan, rasa takut (khosyyah), ketundukan dan mengikuti ridha Allah yang mereka miliki mewajibkan mereka untuk dapat mengambil manfaat setiap teguran, nasehat dan peringatan. Ayat ini sekaligus memberikan pemahaman betapa bahayanya orang yang tidak terpengaruh dan tidak mengambil manfaat dari peringatan. Sebab, dikhawatirkan hal ini menafikan keimanannya. Sungguh kerugian dan malapetaka besar ketika seseorang mengklaim beriman, tetapi tidak dianggap beriman karena tidak mau mengambil pelajaran dari setiap peringatan.

Hal ini dipertegas oleh Allah swt dalam ayat yang lain, “Maka berikanlah peringatan jika peringatan itu bermanfaat. Orang yang takut akan dapat mengambil pelajaran, sementara orang yang celaka akan menjauhinya”(QS Al A’la [85]: 9:10).

Sementara orang yang tidak memiliki iman dan tidak memiliki kesiapan untuk menerima peringatan, maka tidak ada manfaatnya memberikan peringatan kepadanya. Ia seperti tanah yang teramat tandus dan gersang yang tidak terpengaruh oleh air hujan sederas apapun. Manusia yang semacam ini meski dibombardir dengan ayat sebayak apapun tidak akan beriman sampai mereka melihat azab yang sangat pedih. Inilah prototype orang kafir yang sngat bebal dan kebal terhadap peringatan apa pun sebagaimana firman Allah swt “Sesungguhnya orang-orang kafir itu sama saja engkau beri peringatan atau tidak, mereka tidak akan beriman” (QS Al Baqarah [2]: 6)

Hal ini menuntut kita untuk waspada, jangan sampai kita memiliki sifat seperti orang kafir. Seorang istri harus mendengar nasehat dan peringatan suaminya. Begitu juga sebaliknya. Anak mendengar peringatan-peringatan dan petuah orangtuanya. Murid mesti merespek nasehat dan teguran gurunya. Seorang pemimpin harus merespon positif setiap peringatan dan teguran rakyatnya. Sekeras apapun peringatan yang ditunjukan kepada kita, dari siapapun datangnya selama itu positif dan membawa kebaikan dunia dan akhirat, kita harus menerimanya dengan lapang dada dan tangan terbuka.

Al Quran telah mengabadikan sosok ternama di zamannya yang dihancurkan dan dibinasakan olah Allah swt karena sombong dan tidak pernah mau mendengar nasehat dan peringatan Rasul-Nya. Di antaranya adalah kaum ‘Ad, Tsamud, Fir’aun, Qarun dan lain-lain.

Nah, relakah terlucuti keimanan dari hati kita gara-gara kita tidak mau mengambil manfaat dari setiap peringatan?! Sebab, dalam kajian tafsir Imam Ibnu Katsir - rahimahullah - bahwa, “Hanya hati yang beriman yang dapat mengambil manfaat dari setiap peringatan.” (Tafsir Ibnu katsir V/213)

Dan keunggulan manusia-manusia besar yang dicatat dengan tinta emas sejarah adalah diantaranya disebabkan mereka adalah manusia yang selalu terbuka dengan teguran dan peringatan. Sayyidina Umar bin Khathab ra misalnya, mengungkapkan kebahagiaannya yang luar biasa ketika ditegur dan diperlihatkan kekurangan-kekuranganya oleh sahabatnya, bahkan beliau ra sampai perlu mendoakannya dengan mengatakan, “Semoga Allah merahmati orang yang menghadiahkan kepadaku aib atau kekurangan-kekuranganku.”

Semoga kita sekeluarga selalu mampu memelihara dan mempertahankan kualitas keimanan kita dengan selalu merespon positif setiap nasehat, teguran dan peringatan dari manapun datangnya.