PAUTAN TAMBAHAN

Ahad, 20 Mac 2016

Sejarah Kekejaman Kaum Syi’ah Terhadap Ahlu Sunnah

Tragedi Suriah #2 - Syaikh Muhammad Hasan

AHLU SUNNAH MENJADI INCARAN GOLONGAN LAIN

Benteng kaum Muslimin diserang dari dalam, kira kira begitulah ungkapan yang dirasakan umat ini atas kejahatan ahli bid’ah khususnya Syiah terhadap Islam, Sunnah dan Ahlu Sunnah. Pengkhianatan dan kekejaman yang dilakukan oleh ahli bid’ah terhadap Islam dan kaum Muslimin sangat banyak terjadi. Ini tidak lain dilandasi oleh keyakinan mereka yang mengkafirkan dan menghalalkan darah orang-orang yang berada di luar kalangan mereka. Kurangnya penghormatan mereka terhadap kehormatan, harta dan darah kaum Muslimin dan kesembronoan mereka dalam menjatuhkan vonis kafir terhadap siapa saja yang tidak sepaham menjadi alasan mereka melakukan semua itu.

Tercatat di awal sejarah Islam dua kelompok bid’ah yang melakukannya, yaitu, Syiah dan Khawârij. Akibat dari tindakan pengkhianatan mereka tersebut banyak Sahabat Nabi Radhiyallahu ‘anhum yang terbunuh. Mereka tak segan-segan menghalalkan darah Sahabat Radhiyallahu a’nhum, para Ulama dan orang shalih dengan alasan yang mengada-ada tanpa rasa takut dan rasa malu sedikit pun terhadap Allâh Azza wa Jalla.

Sejak awal kemunculan kelompok-kelompok bid’ah ini selalu yang menjadi incaran dan targetnya adalah Ahlu Sunnah. Kelompok-kelompok bid’ah itu rela melupakan perbedaan-perbedaan di antara mereka walaupun dalam masalah yang prinsipil untuk bekerja sama dalam mematikan Sunnah dan menghancurkan Ahlu Sunnah, begitulah sejarah berbicara. Khususnya pada abad ke-4 Hijriyah ketika mulai berdirinya daulah Syiah di beberapa wilayah, terutama di daerah-daerah pegunungan. Seiring dengan semakin gencarnya gerakan dakwah mereka ditambah lagi semakin lemahnya daulah Ahlu Sunnah pada masa itu.



SYIAH, MUSUH DALAM SELIMUT


Imam Ibnu Katsîr rahimahullah telah menjelaskan fenomena ini dalam kitabnya ketika menyebutkan biografi salah seorang tokoh Syiah yaitu Ibnu Nu’mân : “Ibnu Nu’mân ini adalah seorang tokoh Syiah dan pembela mereka. Ia punya kedudukan di kalangan penguasa-penguasa daerah karena mayoritas penduduk di daerah-daerah tersebut pada masa itu mulai condong kepada tasyayyu’ (Syi’ah). Di antara muridnya adalah asy-Syarîf ar-Râdhi dan al-Murtadhâ.”[1]

Beberapa sekte, seperti Ismâ’îliyah, Buwaihiyah, Qarâmithah dan lain-lainnya memakai jubah Syiah ini untuk meraih tujuannya. Contoh kasusnya adalah yang terjadi di Afrika utara, salah seorang juru dakwah Syiah yang bernama Husain bin Ahmad bin Muhammad bin Zakariya ash-Shan’âni yang berjuluk Abu ‘Abdillâh asy-Syî’i masuk ke wilayah Afrika seorang diri tanpa harta dan tanpa satu pun orang yang mendampinginya. Ia terus melakukan kegiatan dakwah di sana hingga ia berhasil menguasainya. [2]

Abu ‘Abdillâh asy-Syîi’i inilah yang berhasil meyakinkan kaum Muslimin untuk menerima ‘Ubaidullâh al-Qaddah sebagai imam dakwah sehingga mereka membaiatnya. Lalu ‘Ubaidullâh ini menggelari dirinya sebagai al-Mahdi dan mendirikan daulah ‘Ubaidiyah yang kemudian lebih dipopulerkan dengan sebutan sebagai daulah Fâthimiyyah. Padahal pada hakekatnya merupakan daulah yang beraliran bathiniyah.

Di antara kejahatan yang dilakukan oleh ‘Ubaidullâh ini, suatu kali kudanya masuk ke dalam masjid. Lalu rekan-rekannya ditanya tentang hal itu, mereka menjawab, “Sesungguhnya kencing dan kotoran kuda itu suci, karena ia adalah kuda al-Mahdi (yakni ‘Ubaidullâh). Pengurus masjid mengingkari hal itu. Maka mereka pun membawanya ke hadapan ‘Ubaidullâh al-Mahdi, dan akhirnya ia menghabisi pengurus masjid tersebut. Ibnu ‘Adzâra t berkata,“Sesungguhnya di akhir hayatnya ‘Ubaidullâh ini ditimpa sebuah penyakit yang mengerikan yaitu adanya cacing yang keluar dari duburnya dan kemudian memakan kemaluannya. Begitulah keadaannya hingga kematian merenggutnya.” [3]

Abu Syâmah rahimahullah berkomentar tentang ‘Ubaidullâh ini dengan berkata, “Ia adalah seorang zindiq (kafir), khabîts (sangat buruk), dan merupakan musuh Islam. Menunjukkan diri sebagai Syiah dan berupaya keras untuk menghilangkan agama Islam. Ia banyak membunuh Fuqahâ’, ahli hadits, orang orang shalih dan banyak manusia lainnya. Anak keturunannya tumbuh dengan pola pikir seperti itu dan apabila ada kesempatan mereka akan menunjukkan taringnya, jika tidak maka mereka akan menyembunyikan diri.” [4]

Adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Duhai kiranya kalau ia hanya seorang penganut Syiah saja, tetapi ternyata di samping itu ia juga seorang zindiq.” [5]

Para ulama yang telah mereka bunuh di antaranya adalah Abu Bakar an-Nâbilisi, Muhammad bin al-Hubulli, Ibnu Bardûn yang dibunuh oleh Abu ‘Abdillâh asy-Syî’i. Sementara Ibnu Khairûn Abu Ja’far Muhammad bin Khairûn al-Mu’âfiri tewas di tangan ‘Ubaidullâh al-Mahdi.

Di antara penguasa mereka yang telah banyak membunuh para Ulama adalah al-‘Adhid, penguasa terakhir Bani ‘Ubaid. Ibnu Khalikân rahimahullah berkata tentang orang ini, “al-‘Adhid ini orang yang sangat kental Syi’ahnya, sangat keterlaluan dalam mencaci maki Sahabat Nabi, apabila ia melihat seorang Sunni (Ahlu Sunnah), ia menghalalkan darahnya.” [6]

Salah satu sekte yang menimpakan berbagai bala terhadap Ahlu Sunnah adalah Buwaihiyah. Sekte ini dinisbatkan kepada Buwaihi bin Fannakhasru ad-Dailami al-Fârisi. Berkuasa di Irak dan Persia lebih kurang satu abad ketika kekhalifahan ‘Abbasiyah sedang melemah di Baghdad. Sekte ini juga menunjukkan kefanatikannya kepada ajaran Syi’ah. Bahkan mereka memotivasi orang orang Syiah di Baghdad untuk melakukan tindakan-tindakan perlawanan terhadap Ahlu Sunnah. Hampir tiap tahun terjadi pertikaian dan benturan-benturan antara kaum Syiah dan Ahlu Sunnah. Sehingga banyak korban jiwa jatuh dan menimbulkan kerugian materiil yang besar, toko-toko dan pasar-pasar dibakar. Untuk menunjukkan hegemoni dan dominasi mereka atas Ahlu Sunnah, pada tahun 351H kaum Syiah di Baghdad dengan dukungan dari Mu’izzud Daulah mewajibkan masjid-masjid untuk melaknat Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu dan tiga Khalifah Râsyid (Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman Radhiyallahu ‘anhum ). Sebuah ketetapan yang tak mampu dicegah oleh kekhalifahan ‘Abbasiyah.[7]



Syiah menyembah patung

Di bawah ini adalah ringkasan sejarah kelompok Rafidhah (sebutan yang diberikan para ulama terhadap aliran Syi’ah), satu virus yang membahayakan aqidah umat Islam. Kami akan tampilkan – dengan izin Allah – peristiwa-peristiwa nyata dan penting yang pernah dilalui dalam sejarah mereka. Semoga ringkasan singkat ini mampu membuka pandangan majoriti Ahlus Sunnah yang telah termakan isu dan slogan-slogan pendekatan antara Islam dan Rafidhah.

14 HIJRAH : Pada tahun inilah pokok dan asas dari kebencian kaum Rafidhah terhadap Islam dan kaum muslimin, kerana pada tahun ini meletus perang Qadisiyyah yang mengakibatkan runtuhnya kerajaan Parsi Majusi, nenek moyang kaum Rafidhah. Pada saat itu, kaum Muslimin dibawah kepemimpinan Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu.

16 HIJRAH : Kaum Muslimin berhasil menakluki ibu kota Kaisar, Parsi, Mada’in. Dengan ini hancurlah kerajaan Parsi. Kejadiaan ini masih disesali oleh kaum Rafidhah hingga saat ini.

23 HIJRAH : Abu Lu’lu’ah Al-Majusi yang dikenali sebagai Baba ‘Alauddin oleh kaum Rafidhah telah membunuh Khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu. Ini merupakan salah satu simbol mereka dalam memusuhi Islam.

34 HIJRAH : Munculnya Abdullah bin saba’, si yahudi dari Yaman yang digelarkan Ibnu Sauda’, berpura-pura masuk Islam, tapi menyembunyikan kekafiran dalam hatinya. Dia menggerakkan kekuatan dan melancarkan provokasi melawan khalifah ketiga Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu hingga khalifah tersebut dibunuh oleh para pemberontak kerana fitnah yang dilancarkan oleh Ibnu Sauda’ (Abdullah bin Saba’) pada tahun 35 Hijrah. Keyakinan yang diserukan oleh Abdullah bin Saba’ ini berasal dari pokok-pokok ajaran Yahudi, Nasrani dan Majusi iaitu bertuhankan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, wasiat, raj’ah, wilayah, keimamahan, bada’ dan lain-lain.

36 HIJRAH : Malam sebelum terjadinya perang Jamal, kedua belah pihak telah sepakat untuk berdamai. Mereka bermalam dengan sebaik-baik malam sementara Abdullah bin Saba’ berserta pengikutnya bermalam dengan penuh kemunafikan. Lalu dia membuat provokasi kepada kedua belah pihak hingga terjadilah fitnah seperti yang diinginkan oleh Ibnu Saba’. Pada masa kekhilafahan Ali bin Abi Thalib, kelompok Abdullah bin Saba’ datang kepada Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu seraya berkata, “Kamulah, kamulah!!” Ali bin Abi Thalib menjawab: “Siapakah saya?”, mereka berkata: “Kamulah sang pencipta!”, lalu Ali bin Abi Thalib menyuruh mereka untuk bertaubat tapi mereka menolak. Kemudian Ali bin Abi Thalib menyalakan api dan membakar mereka.

41 HIJRAH : Tahun ini adalah tahun yang paling dibenci oleh kaum Rafidhah kerana tahun ini dinamakan tahun jama’ah (tahun penyatuan) kaum muslimin dibawah pimpinan sang penulis wahyu, khalifah Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu ‘anhu, dimana Hasan bin Ali bin Abi Thalib menyerahkan kekhilafahan kepada Mu’awiyah. Maka dengan ini surutlah tipu daya kaum Rafidhah.

61 HIJRAH : Pada tahun ini, Husein bin Ali Radhiyallahu ‘anhu terbunuh di karbala iaitu pada hari ke-10 bulan muharram setelah ditinggalkan oleh para penyokong dan diserahkan kepada pembunuh.

260 HIJRAH : Hasan Al-Askari meninggal dunia, namun kaum Rafidhah menyangka bahawa imam ke-12 yang ditunggu-tunggu (Muhammad bin Al-Hasan Al-Askari) telah bersembunyi di sebuah Sirdab (ruang bawah tanah) di Samurra’ dan akan kembali lagi ke dunia.

277 HIJRAH : Munculnya gerakan Al-Qaramithah beraliran Rafidhah di daerah Kufah dibawah kendalian Hamdan bin Asy’ats yang dikenali dengan julukan Qirmith.

278 HIJRAH : Munculnya gerakan Al-Qaramithah beraliran Rafidhah di daerah Bahrain dan Ahsa’ yang dipelopori oleh Abu Sa’id Al-Janabi.

280 HIJRAH : Munculnya kerajaan Zaidiyah beraliran Rafidhah di Sa’dah dan San’a daerah Yaman, dibawah kepemimpinan Al-Husein bin Al-Qasim Ar-Rasiy.

297 HIJRAH : Munculnya kerajaan Ubaidiyin di Mesir dan Maghribi (Morocco) yang didirikan oleh Ubaidillah bin Muhammad Al-Mahdi.

317 HIJRAH : Abu Thahir Ar-Rafidhi Al-Qurmuthi sampai dan memasuki kota Mekah pada hari tarwiyah (8 Dzulhijjah) lalu membunuh jemaah Haji di masjidil Haram serta mencongkel Hajar Aswad dan membawanya ke tempat ibadah mereka di Ahsa’ dan hajar Aswad itu berada disana sampai tahun 355 H. Kerajaan mereka tetap wujud di Ahsa’ hingga tahun 466 H. Pada tahun ini berdirilah kerajaan Hamdaniyah di Mousul dan Halab, kemudian tumbang pada tahun 394 H.

Dan pada tahun 317 H, mereka menyerang jamaah haji di Masjidil Harâm, dan membunuhi para jamaah yang berada dalam masjid lalu membuang mayat mayat ke sumur Zamzam. Mereka membunuh orang orang di jalan-jalan kota Mekah dan sekitarnya. Jumlah korbannya mencapai tiga puluh ribu jiwa. Bahkan ia merampas kelambu Ka’bah dan membagi-bagikannya kepada pasukannya. Ia menjarah rumah-rumah penduduk Mekah dan mencungkil Hajar Aswad dari tempatnya untuk ia bawa ke Hajar (ibukota daulah mereka di Bahrain).[12]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah merekam kekejaman yang dilakukan oleh Abu Thâhir al-Janâbi al-Bâthini ini dengan berkata, “Ia menjarah harta penduduk Mekah dan menghalalkan darah mereka. Ia membunuhi manusia di rumah-rumah mereka hingga yang berada di jalan-jalan. Bahkan menjagal banyak jamaah haji di Masjdil Haram dan di dalam Ka’bah. Lalu pemimpin mereka, yakni Abu Thâhir –semoga Allâh Azza wa Jalla melaknatnya- duduk di pintu Ka’bah, sementara orang-orang disembelihi di hadapannya dan pedang-pedang berkelebatan membantai orang-orang di Masjidil Haram pada bulan haram (suci) di hari Tarwiyah yang merupakan hari yang mulia. Sementara Abu Thâhir ini berseru, “ Aku adalah Allâh, Allâh adalah aku. Aku menciptakan makhluk dan akulah yang mematikan mereka.

Orang-orang pun berlarian menyelamatkan diri dari kekejaman Abu Thâhir ini. Di antara mereka bahkan ada yang bergantung pada kelambu Ka’bah. Namun itu tidak menyelamatkan jiwa mereka sedikit pun. Mereka tetap ditebas habis dalam keadaan seperti itu. Mereka dibunuhi meskipun mereka sedang bertawaf…”

Beliau melanjutkan, “Setelah pasukan Qarâmithah ini melakukan aksi brutal mereka itu –semoga Allâh melaknat mereka- dan perbuatan keji mereka terhadap para jamaah haji, Abu Thahir ini menyuruh pasukannya agar melemparkan mayat-mayat yang tewas ke sumur Zamzam. Dan sebagian lain dikubur di tempat-tempat mereka di tanah haram bahkan di dalam Masjidil Haram. Lalu kubah sumur Zamzam pun dirobohkan. Kemudian Abu Thâhir memerintahkan agar mencopot pintu Ka’bah, melepaskan kelambunya, untuk ia koyak-koyak dan bagikan kepada pasukannya.”[13]

Dan jangan lupa juga pengkhianatan mereka terhadap Khalifah al-Musta’shim billâh yang dilakoni oleh Muhammad bin al-Alqami dan Nâshiruddîn ath-Thûsi, yang anehnya kedua orang ini dianggap pahlawan oleh orang-orang Syi’ah. Keruntuhan kota Baghdad yang kala itu merupakan ibukota Daulah Abbasiyah di tangan pasukan Tatar tak lepas dari konspirasi yang dilakukan oleh Ibnul Alqami dan ath-Thûsi. Hal ini didorong dendam kesumat Ibnul Alqami ini terhadap Ahlu Sunnah. Pasalnya, pada tahun 656 H terjadi peperangan hebat antara Ahlu Sunnah dan Syiah yang berujung dengan takluknya kota Karkh yang merupakan pusat kegiatan kaum Syiah dan beberapa rumah sanak keluarga al-Alqami menjadi korban penjarahan. Ia sangat berambisi meruntuhkan kekuatan Ahlu Sunnah dan menggunakan segala cara untuk mencapai tujuannya, walaupun harus bersekutu dengan pasukan musuh dan berkhianat terhadap khalifah. Hal itu ia lampiaskan ketika ia memegang jabatan kementrian bagi Khalifah al-Musta’shim billâh, ia memberi jalan bagi pasukan Tatar untuk masuk Baghdad. Peristiwa itu terjadi pada tahun 656 H. Ketika Hulago Khan dan pasukannya yang berjumlah dua ratus ribu personil mengepung Baghdad dan menghujani istana khalifah dengan anak panah. Pengamanan sekitar istana saat itu lemah karena sebelum terjadinya peristiwa ini, Ibnul Alqami secara diam-diam telah mengurangi jumlah personil tentara khalifah dengan cara memecat sejumlah besar perwira dan mencoret nama mereka dari dinas ketentaraan. Pada masa kekhalifahan sebelumnya, yaitu Khalifah al-Mustanshir, jumlah pasukan mencapai 100.000 personil. Sementara pada masa al-Musta’shim billâh jumlahnya menyusut menjadi 10.000 personil saja. Kemudian Ibnul Alqami ini mengirim surat rahasia kepada bangsa Tatar dan memprovokasi mereka untuk menyerang Baghdad. Ia sebutkan dalam surat rahasia itu kelemahan angkatan bersenjata Daulah Abbasiyah di Baghdad. Itulah sebabnya bangsa Tatar dengan sangat mudah dapat merebutnya. Ketika pasukan Tatar mulai mengepung Baghdad sejak tanggal 12 Muharram 656 H, saat itulah Ibnul Alqami melakukan pengkhianatannya untuk kesekian kali. Dialah orang pertama yang menemui pasukan Tatar. Lalu ia keluar bersama keluarganya, pembantu serta pengikutnya pada saat-saat kritis itu untuk menemui Hulago Khan dan mendapat perlindungan darinya. Kemudian ia membujuk Khalifah agar ikut keluar bersamanya menemui Hulagokan untuk mengadakan perdamaian, yaitu memberikan separoh hasil devisa negara kepada bangsa Tatar.

Maka berangkatlah Khalifah bersama para qadhi, Fuqâha’, tokoh-tokoh negara dan masyarakat serta para pejabat tinggi negara lainnya dengan 700 kendaraan. Ketika sudah mendekati markas Hulago Khan, mereka ditahan oleh pasukan Tatar dan tidak diizinkan menemui Hulago Khan kecuali hanya Khalifah bersama 17 orang saja. Permintaan ini dipenuhi oleh Khalifah. Ia berangkat bersama 17 orang sementara yang lain menunggu. Sepeninggal Khalifah, sisa rombongan itu dirampok dan dibunuh oleh pasukan Tatar. Selanjutnya Khalifah dibawa ke hadapan Hulago Khan seperti seorang pesakitan yang tak berdaya Kemudian atas permintaan Hulago Khan, Khalifah kembali ke Baghdad ditemani oleh Ibnul Alqami dan Nâshiruddîn ath-Thûsi. Di bawah rasa takut dan tekanan yang hebat, Khalifah mengeluarkan emas, perhiasan dan permata dalam jumlah yang sangat banyak. Namun tanpa disadari oleh Khalifah, para pengkhianat dari Syiah ini telah membisiki Hulago Khan agar menampik tawaran damai dari Khalifah. Ibnul Alqami ini berhasil meyakinkan Hulago Khan dan membujuknya untuk membunuh Khalifah. Dan tatkala Khalifah kembali dengan membawa perbendaharaan negara yang banyak untuk diserahkan, Hulago Khan memerintahkan agar Khalifah dieksekusi. Dan yang mengisyaratkan untuk membunuh Khalifah adalah Ibnul Alqami dan ath-Thûsi.

Dengan terbunuhnya Khalifah pasukan Tatar leluasa menyerbu Baghdad tanpa perlawanan berarti. Maka jatuhlah Baghdad ke tangan musuh. Dilaporkan bahwa jumlah orang yang tewas saat itu lebih kurang dua juta orang. Tidak ada yang selamat kecuali Yahudi, Nashrani dan orang-orang yang meminta perlindungan kepada pasukan Tatar, atau berlindung di rumah Ibnul Alqami dan orang-orang kaya yang menebus jiwa mereka dengan menyerahkan harta kepada pasukan Tatar. [14]

329 HIJRAH : Pada tahun ini Allah telah menghinakan kaum Rafidhah kerana pada tahun ini bermulalah Ghaibah Al-Kubra atau menghilang selamanya. Menurut mereka, imam Rafidhah yang ke-12 telah menulis surat dan sampai kepada mereka yang bunyinya: “Telah dimulailah masa menghilangku dan aku tidak akan kembali sampai masa yang diizinkan oleh Allah, maka barangsiapa yang mengatakan bahawa dia telah berjumpa denganku maka dia adalah pendusta dan telah tertipu.” Semua ini mereka lakukan dengan tujuan menghindari akan banyaknya pertanyaan orang-orang awam kepada ulama mereka tentang keterlambatan Imam Mahdi keluar dari persembunyiannya.

320-334 HIJRAH : Munculnya kerajaan Buwaihiyah beraliran Rafidhah di daerah Dailam yang didirikan oleh Buwaih bin Syuja’. Mereka membuat kerosakan di Kota Baghdad, Iraq, sehingga orang-orang bodoh pada masa itu mulai berani memaki-maki para Sahabat Radhiyallahu ‘anhum.

339 HIJRAH : Hajar Aswad dikembalikan ke Makkah atas arahan dari pemerintah Ubaidiyah di Mesir.

352 HIJRAH : Pemerintahan Buwaihiyun mengeluarkan peraturan untuk menutup pasar-pasar pada tanggal 10 muharram dan memberhentikan semua kegiatan jual beli. Lalu para wanita keluar rumah tanpa mengenakan jilbab dengan memukul-mukul diri mereka di pasar-pasar. Pada saat itulah pertama kali dalam sejarah diadakan perayaan kesedihan atas meninggalnya Husein bin Ali bin Abi Thalib.

358 HIJRAH : Kaum Ubaidiyun beraliran Rafidhah menguasai Mesir. Salah satu pemimpin yang terkenal adalah Al-Hakim Biamrillah yang mendakwa dirinya sebagai Tuhan dan menyeru kepada ajaran reinkarnasi (carnation / kelahiran semula). Dengan runtuhnya kerajaan ini pada tahun 568 H muncullah gerakan Druz yang berfaham kebatinan.

402 HIJRAH : Keluarnya pernyataan kebatilan nasab Fatimah yang digembar-gemburkan oleh penguasa kerajaan Ubaidiyah di Mesir dan menjelaskan ajaran mereka yang sesat dan mereka adalah zindiq dan telah dihukumi kafir oleh seluruh ulama’ kaum muslimin.

408 HIJRAH : Penguasa kerajaan Ubaidiyah di Mesir yang bernama Al-Hakim Biamrillah mengaku bahawa dirinya adalah Tuhan. Salah satu dari kehinaannya adalah dia berniat untuk memindahkan kubur Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dari kota Madinah ke Mesir sebanyak 2 kali. Yang pertama adalah ketika dia disuruh oleh beberapa orang zindiq untuk memindahkan jasad Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam ke Mesir. Lalu dia membangun bangunan yang megah dan menyuruh Abul Fatuh untuk membongkar kubur Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam tetapi masyarakat tidak rela dan memberontak sehingga membuatkan dia membatalkan niatnya. Yang kedua ketika beliau mengutus beberapa orang untuk membongkar kubur Nabi. Utusan ini tinggal berdekatan masjid dan membuat lubang menuju kubur Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam. Perbuatan ini sampai kepada pengetahuan penduduk Madinah lalu utusan tersebut dibunuh.

483 HIJRAH : Munculnya gerakan Al-Hasyasyin yang menyeru kepada kerajaan Ubaidiyah berfahaman Rafidhah di Mesir yang didirikan oleh Al-Hasan As-Shabah, berketurunan darah persia untuk memulai dakwahnya di wilayah Parsi pada tahun 473 Hijrah.

500 HIJRAH : Penguasa Ubaidiyun membangun sebuah bangunan yang megah di Mesir dan diberi nama mahkota Al-Husein. Mereka menyangka bahawa kepala Husein bin Ali bin Abi Thalib dikuburkan di sana. Hingga saat ini banyak kaum Rafidhah yang pergi melaksanakan Haji ke tempat tersebut. Kita bersyukur kepada Allah atas nikmat akal yang diberikan kepada kita, kita (ahlus sunnah) tidak bodoh mengikut jejak langkah mereka.

656 HIJRAH : Penghianatan besar yang dilakukan oleh Rafidhah pimpinan Nasiruddin At-Thusi dan Ibnul Alqomi yang bersekongkol dengan kaum Tartar Mongolia sehingga kaum Tartar masuk ke Baghdad dan membunuh lebih dari 2 juta orang Islam dan membunuh sejumlah besar dari Bani Hasyim yang seolah-olah dicintai oleh kaum Rafidhah. Pada tahun yang sama muncullah kelompok Nushairiyah yang didirikan oleh Muhammad bin Nusair berfaham Rafidhah Imamiyah.

907 HIJRAH : Berdirinya kerajaan Shafawiyah di Iran yang didirikan oleh Syah Ismail bin Haidar Al-Shafawi yang juga seorang Rafidhah. Dia telah membunuh hampir 2 juta Ahli Sunnah yang menolak memeluk agama Rafidhah. Pada saat masuk ke Baghdad dia telah memaki-maki Khulafa’ Rasyidin di depan umum dan membunuh siapa saja yang tidak mahu memeluk agama Rafidhah. Beliau juga telah membongkar banyak kubur orang-orang Sunni (Ahlus Sunnah) seperti kubur Imam Abu Hanifah.

Termasuk peristiwa penting yang terjadi pada masa kerajaan Shafawiyah adalah ketika Shah Abbas melakukan Haji ke Masyhad untuk menandingi dan memalingkan orang-orang yang melakukan Haji ke Makkah. Pada tahun yang sama Shadruddin Al-Syirazi memulakan dakwahnya kepada mazhab Baha’iyah. Mirza Ali Muhammad Al-Syirazi mengatakan bahawa Allah telah masuk ke dalam dirinya, setelah mati dia digantikan oleh muridnya Baha’ullah. Sementara itu di India muncul kelompok Qadiyaniyah pimpinan Mirza Ghulam Ahmad yang mengatakan bahwa dirinya ialah Nabi dengan keyakinan-keyakinan yang batil. Kerajaan Safawiyah berakhir pada tahun 1149 Hijrah.

1218 HIJRAH : Seorang Rafidah dari Iraq datang ke daerah Dar’iyah di Najd dan menampakkan kesolehan serta kezuhudannya. Pada suatu hari, dia solat di belakang Imam Muhammad bin Su’ud lalu si Syiah berkenaan membunuh Imam Muhammad bin Su’ud ketika sedang sujud dalam solat Ashar dengan menggunakan belati yang disembunyikan. Semoga Allah memerangi kaum Rafidhah para pengkhianat.

1289 HIJRAH : Pada tahun ini buku Fashlul Khitab fi Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab (kalimat penjelasan bahawa kitab Allah telah diselewengkan dan diubah) karangan Mirza Husain bin Muhammad An-Nuri At-Thibrisi. Kitab ini memuat pendapat dan bukti-bukti yang direka oleh Rafidhah bahawasanya Al-Qur’an yang ada saat ini telah diselewengkan, dikurangi dan ditambah.

1366 HIJRAH : Sebuah majalah Rafidhah dengan nama Birajmil Islam terbit dengan memuat syair-syair yang mengutamakan tanah Karbala mebelibihi Makkah Al-Mukarramah.
  • Ia karbala tanah membentang, thawaflah tujuh kali pada tempat kediamannya,
  • Tanah Makkah tak memiliki keistimewaan dibanding keistimewaannya,
  • Sebongkah tanah, meski hamparan gersang adanya,
  • Mendekat dan mengangguk-angguk bahagian atasnya kepada bahagian yang dibawahnya.

1389 HIJRAH : Khomeini menulis buku Wilayatul faqih dan Al-Hukumah Al-Islamiyah. Sebahagian kekafiran yang ada pada buku tersebut (Al-Hukumah Al-Islamiyah, hal. 35) : Khomeini berkata bahawa termasuk keyakinan pokok dalam mazhab kami adalah bahawa para imam kami memiliki posisi yang tidak dapat dicapai oleh para malaikat dan para Nabi sekalipun.

1399 HIJRAH : Berdirinya pemerintahan Rafidhah di Iran yang didirikan oleh penghianat besar Khomeini setelah berhasil menumbangkan pemerintahan Syah di Iran. Ciri khas negara Syi’ah Iran ini adalah mengadakan demonstrasi dan tindakan anarkis atas nama revolusi Islam di tanah suci Mekah pada hari mulia iaitu musim haji pada setiap tahun.

1400 HIJRAH : Khomeini menyampaikan pidatonya pada peringatan lahirnya Imam Mahdi fiktif mereka pada tanggal 15 sya’ban. Sebahagian pidatonya berbunyi demikian : “Para Nabi diutus Allah untuk menanamkan prinsip keadilan di muka bumi tapi mereka tidak berhasil, bahkan Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam yang diutus untuk memperbaiki kemanusiaan dan menanamkan prinsip keadilan tidak berhasil.. yang akan berhasil dalam misi itu dan menegakkan keadilan di muka bumi serta dapat meluruskan segala penyimpangan adalah Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu….” Begitulah menurut Khomeini para Nabi telah gagal, termasuk Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam sementara revolusi kafirnya dianggapnya sebagai suatu keberhasilan dan keadilan.

1407 HIJRAH : Jemaah haji iran mengadakan demonstari besar-besaran di kota Makkah pada hari Jumaat di musim haji tahun 1407 H. Mereka melakukan kerosakkan di kota Makkah seperti yang telah dilakukan oleh nenek moyang mereka kaum Al-Qaramithah. Mereka membunuh beberapa orang petugas keselamatan dan jemaah haji, merosak dan membakar kedai, menghancurkan dan membakar kereta-kereta dan orang-orang yang berada di dalamnya. Jumah korban saat itu mencapai 402 orang, 85 dari mereka adalah pasukan keselamatan dan penduduk Saudi.

1408 HIJRAH : Mu’tamar Islam yang diadakan oleh Liga Dunia Islam di Makkah mengumumkan fatwa bahwa Khomeini telah KAFIR.

1409 HIJRAH : Pada musim haji tahun ini kaum Rafidhah meledakkan beberapa bom tempat di sekitar Masjidil Haram di kota Makkah. Mereka meledakkan bom itu tepat pada tanggal 7 Dzulhijjah dan mengakibatkan kematian seorang jemaah haji dari Pakistan dan mencederakan 16 orang yang lain, serta mengakibatkan kerosakan yang begitu besar. 16 pengganas Rafidhah itu berjaya ditangkap dan dijatuhi hukuman mati pada tahun 1410 Hijrah.

1410 HIJRAH : Khomeini Laknatullah mati dalam keadaan yang amat teruk. Semoga Allah memberinya balasan yang setimpal. Kaum Rafidhah membangun sebuah bangunan diatas kuburannya yang menyerupai ka’bah di Makkah, semoga Allah memerangi mereka.

Sejarah pasti akan berulang. Pengkhianatan Syiah Ar-Rafidhah yang dilakukan oleh mereka pasti akan terjadi. Tujuan mereka hanyalah satu : Untuk menghancurkan islam dan melemahkan kita kaum Muslimin. Ketahuilah wahai kaum muslimin, setiap kali ada pengkhianatan terhadap ahlus sunnah, hampir pasti dibelakangnya ada campur tangan kaum Rafidhah.

Bahkan pada tahun 352 H, Mu’izzud Daulah menyuruh kaum Muslimin untuk menutup toko-toko mereka, mengosongkan pasar, meliburkan jual-beli dan menyuruh mereka untuk meratap. Para wanita disuruh keluar tanpa penutup kepala dan wajah dicoreng-moreng, lalu berkeliling kota sambil meratap dan menampar-nampar pipi atas kematian Husain bin ‘Ali Radhiyallahu ‘anhuma. Maka kaum Muslimin pun melakukannya, sementara Ahlu Sunnah tidak mampu mencegahnya karena banyaknya jumlah kaum Syiah dan kekuasaan kala itu berada di tangan mereka (di tangan kaum Buwaihiyyun). [8] Sehingga Imam adz-Dzahabi rahimahullah sampai berkomentar, “Sungguh telah terlantar urusan agama Islam dengan berdirinya daulah Bani Buwaihi dan Bani ‘Ubaid yang bermadzhab Syiah ini. Mereka meninggalkan jihad dan mendukung kaum Nasrani Romawi dan merampas kota Madâin.” [9]

Di antara sekte Syiah adalah Syiah Ismâ’iliyah. Setelah wafatnya Ja’far bin Muhammad ash-Shâdiq, kaum Syiah terpecah dua kelompok. Satu kelompok menyerahkan kepemimpinan kepada anaknya, yaitu Mûsâ al-Kâzhim, mereka inilah yang kemudian disebut Syiah Itsnâ ‘Asyariyah (aliran Syiah yang meyakini adanya imam yang berjumlah dua belas orang, red). Dan satu kelompok lagi menyerahkan kepemimpinan kepada anaknya yang lain, yaitu Ismâ’il bin Ja’far, kelompok ini kemudian dikenal sebagai Syiah Ismâ’iliyah. Kadang kala mereka dinisbatkan kepada madzhab bathiniyah dan kadang kala dikaitkan juga dengan Qarâmithah. Akan tetapi, mereka lebih senang disebut Ismâ’iliyah. [10] Adapun Qarâmithah sendiri adalah penisbatan kepada Hamdân Qirmith. Kemudian pengikut-pengikutnya dikenal dengan sebutan Qarâmithah. Di antara tokoh mereka yang menimpakan fitnah besar terhadap kaum Muslimin adalah Abu Thâhir Sulaimân bin Hasan al-Janâbi.

Mereka inilah yang bersekutu bersama kaum Nasrani dan Tatar untuk melawan Islam dan kaum Muslimin. Ketika mereka sudah memiliki kekuatan dan berhasil mendirikan daulah Bahrain, mereka melakukan aksi-aksi yang membuat bulu kuduk merinding; berupa perampasan, pembunuhan dan pemerkosaan. Bahkan kekejaman seperti itu tidak pernah dilakukan oleh bangsa Tatar maupun kaum Nasrani sekalipun. Pada tahun 312 H, mereka menghadang kafilah haji yang hendak kembali ke Irak. Mereka merampas kendaraan kafilah itu, bekal-bekal dan harta benda yang mereka bawa, dan meninggalkan rombongan haji begitu saja sehingga kebanyakan dari mereka mati kehausan dan kelaparan. [11]

SEBUAH PELAJARAN BERHARGA

Melalui rekaman sejarah yang telah dipaparkan Ulama, menyerahkan amanat dan jabatan kepada kaum Syiah merupakan tindakan bunuh diri yang membahayakan umat. Karena sejarah telah membuktikan pengkhianatan yang mereka lakukan terhadap kaum Muslimin, khususnya kepada Ahlu Sunnah.

Al-Baghdâdi rahimahullah telah menjelaskan secara ringkas permusuhan kaum Syiah Bathiniyah ini terhadap Islam dan kaum Muslimin. Beliau berkata, “Ketahuilah –semoga Allâh membuatmu bahagia- sesungguhnya bahaya yang ditimbulkan oleh kaum Bathiniyah terhadap kaum Muslimin lebih besar daripada bahaya yang ditimbulkan oleh kaum Yahudi, Nashrani maupun Majusi. Bahkan lebih besar daripada kaum Dahriyah (atheis) serta kelompok-kelompok kafir lainnya. Bahkan lebih besar daripada bahaya yang ditimpakan oleh Dajjal yang muncul di akhir zaman. Karena orang orang yang tersesat akibat dakwah Bathiniyah ini sejak awal mula munculnya dakwah mereka sampai hari ini lebih banyak daripada orang-orang yang disesatkan oleh Dajjal pada waktu munculnya nanti. Karena fitnah Dajjal tidak lebih dari empat puluh hari, sementara kejahatan kaum Bathiniyah ini lebih banyak lagi daripada butiran pasir dan tetesan hujan.” [15]

Kaum Bathiniyah ini sengaja memilih ajaran Syiah sebagai alat untuk beraksi karena adanya kecocokan dengan ambisi dan keinginan mereka. Karena mereka tidak menemukan jalan masuk kepada Islam kecuali dengan menampakkan ajaran Syiah ini dan menisbatkan diri kepada agama Syiah. Abu Hamid Al-Ghazâli t mengungkapkan, “Telah sukses diadakan pertemuan di antara pengikut-pengikut ajaran Majusi dan Mazdakiyah dari kalangan kaum Tsanawiyah yang mulhid (kafir) serta sekelompok besar kaum filsafat mulhid –ad-Dailami menambahkan- dan sisa-sisa pengikut ajaran Kharamiyah serta kaum Yahudi. Mereka disatukan dengan satu slogan yaitu membuat tipu daya untuk menolak Islam. Mereka berkata, “Sesungguhnya Muhammad telah mengalahkan kita dan menghapus agama kita. Carilah sekutu untuk menghadapinya karena kita tidak mampu secara frontal untuk menghadapi mereka. Kita tidak bisa berhasil merebut kekuasaan yang ada di tangan kaum Muslimin dengan senjata dan peperangan. Karena kekuatan mereka dan banyaknya personil pasukan mereka. Demikian pula kita tidak mampu untuk beradu argumentasi dengan mereka karena mereka memiliki Ulama, fudhala’ dan ahli tahqiq. Tidak ada cara kecuali melakukan makar dan tipu daya. Kemudian mereka membuat rancangan dan program untuk mencapai tujuan ini. Dan di antara cara yang mereka tempuh adalah masuk ke tengah kaum Muslimin melalui jalan tasyayyu’ (ajaran Syi’ah). Walaupun mereka juga menganggap bahwa kaum Syiah ini sesat, hanya saja mereka itu adalah orang yang paling dangkal akalnya, paling konyol logikanya, paling mudah untuk menerima perkara-perkara yang mustahil, paling percaya dengan riwayat-riwayat dusta yang mereka buat, serta yang paling mudah untuk menerima riwayat-riwayat palsu. Apalagi dalam ideologi Syiah ini terdapat ajaran taqiyah (bermuka dua) yang sangat mereka perlukan untuk menjalankan misi mereka. Maka mereka pun bersembunyi di balik ajaran ini untuk melemahkan Islam dan kaum Muslimin. Sehingga tampilan luar mereka adalah Syiah, tetapi batin mereka berisi kekufuran (terhadap Islam). [16]

Itulah sedikit dari fakta sejarah yang sudah terjadi. Sebenarnya masih banyak lagi sejarah hitam kekejaman ahli bid’ah ini (kaum Syiah) terhadap Ahlu Sunnah khususnya dan kaum Muslimin pada umumnya. Kita harus mengambil pelajaran dari masa lalu agar tidak berulang pada masa mendatang. Karena sesungguhnya seorang Mukmin itu tidak boleh jatuh dalam satu lobang berulang kali, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallâh a’lam

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XIII/1431H/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858197]

_______
Footnote

[1]. Al-Bidâyah wan Nihâyah (XII/17)
[2]. Wafayâtul A’yân, Ibnu Khalikân (II/192)
[3]. Akhbâr Mulûk Bani ‘Ubaid tulisan ash-Shanhâji hlm. 96
[4]. Ar-Raudhataini fi Akhbâri Daulatain hlm. 201
[5]. Târîkh Islâm , adz-Dzahabi
[6]. Wafayâtul A’yân (III/110)
[7]. Al-Kâmil (VIII/542)
[8]. Al-Kâmil (VIII/549)
[9]. Siyar A’lâmun Nubalâ’ (XVI/232)
[10]. Al-Milal wan Nihal (I/191-192)
[11]. Târîkh Akhbâr Qarâmithah hlm. 38
[12]. Târîkh Akhbâr Qarâmithah hlm. 54
[13]. Al-Bidâyah wan Nihâyah (XI/160)
[14]. Al-Bidâyah wan Nihâyah (XVIII/213-224)
[15]. Al-Farqu bainal Firaq hlm 382
[16]. Silahkan lihat Fadhâih Bâthiniyah hlm 18-19 dengan sedikit penambahan dan pengurangan.

Jumaat, 18 Mac 2016

Islam Akan Jadi Agama Terbesar di Amerika



Jika tren-tren demografi saat ini berlanjut, Muslim dapat menjadi kelompok agama terbesar kedua di Amerika Serikat pada 2050, melampaui Yahudi, yang saat ini berada di posisi kedua, menurut lembaga penelitian Pew Research Center.

Muslim-muslim di AS memiliki tingkat fertilitas tertinggi dan usia rata-rata termuda di antara kelompok agama besar di negara tersebut, yang membantu mendorong pertumbuhannya, menurut Michael Lipka dari Pew Research Center.

Jumlah orang yang diidentifikasi sebagai Yahudi diperkirakan turun dari 1,8 persen pada 2010 menjadi 1,4 persen pada 2050.

Pada 2010, usia rata-rata Yahudi Amerika adalah 41 tahun, sementara usia rata-rata Muslim adalah 24, atau berbeda 17 tahun.

Selain itu, rata-rata Yahudi memiliki 1,9 anak per perempuan sementara angka untuk Muslim AS adalah 2,8, menurut Pew.

Pada sebuah survei tahun 2013, Pew menemukan bahwa lebih dari 22 persen Yahudi dewasa di AS menganggap diri mereka ateis, agnostik atau tidak berafiliasi dengan keyakinan apapun, namun masih mengidentifikasi diri sebagai Yahudi.

Pew tidak menyertakan orang-orang ini dalam populasi Yahudi.

Jika angka-angka yang diproyeksikan tersebut menyertakan kelompok Yahudi secara "etnis" atau "budaya" ini, mungkin populasi Yahudi yang terdefinisikan secara luas masih melampaui jumlah Muslim pada 2050.

Apapun perubahannya, secara keseluruhan, Amerika Serikat diperkirakan masih akan menjadi negara dengan mayoritas Kristen.

Pada 2010, lebih dari tiga perempat orang Amerika atau 78,3 persen teridentifikasi sebagai Kristen. Namun semakin banyak orang Amerika menganggap diri mereka tidak berafiliasi dengan agama manapun, dan pada 2050, jumlah orang yang menganggap diri mereka Kristen diperkirakan akan turun sampai 66.4 persen.

Hikmah Terkini


Motivasi Menjadi Muslim

Pertama, karena kehidupan mereka yang sebelumnya sekuler, tidak terarah, tidak punya tujuan, hidup hanya money, music and fun. Pola hidup itu menciptakan kegersangan dan kegelisahan jiwa. Mereka merasakan kekacauan hidup, tidak seperti pada orang-orang Muslim yang mereka kenal. Dalam hingar bingar dunia modern dan fasilitas materi yang melimpah banyak dari mereka yang merasakan kehampaan dan ketidakbahagiaan. Ketika menemukan Islam dari membaca Al-Qur’an, dari buku atau kehidupan teman Muslimnya yang sehari-harinya taat beragama, dengan mudah saja mereka masuk Islam.

Kedua, merasakan ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan yang tidak pernah dirasakannya dalam agama sebelumnya yaitu Kristen. Dalam Islam mereka merasakan hubungan dengan Tuhan itu langsung dan dekat. Beberapa orang Kristen taat bahkan mereka sebagai church priest mengaku seperti itu ketika diwawancarai televisi. Allison dari North Caroline dan Barbara Cartabuka, seorang diantara 6,5 juta orang Amerika yang masuk Islam pasca 9/11, seperti diberitakan oleh Veronica De La Cruz dalam CNN Headline News, Allison mengaku “Islam is much more about peace.” Sedangkan Barbara tidak pernah merasakan kedamaian selama menganut Katolik Roma seperti kini dirasakannya setelah menjadi Muslim.

Demikian juga yang dirasakan oleh Mr. Idris Taufik, mantan pendeta Katolik di London, ketika diwawancara televisi Al-Jazira. Mantan pendeta ini melihat dan merasakan ketenangan batin dalam Islam yang tidak pernah dirasakan sebelumnya ketika ia menjadi mendeta di London. Ia masuk Islam setelah melancong ke Mesir. Ia kaget melihat orang-orang Islam tidak seperti yang diberitakan di televisi-televisi Barat. Ia mengaku, sebelumnya hanya mengetahui Islam dari media. Ia sering meneteskan air mata ketika menyaksikan kaum Muslim shalat dan kini ia merasakan kebahagiaan setelah menjadi Muslim di London.

Ketiga, menemukan kebenaran yang dicarinya. Beberapa konverter mengakui konsep-konsep ajaran Islam lebih rasional atau lebih masuk akal seperti tentang keesaan Tuhan, kemurnian kitab suci, kebangkitan (resurrection) dan penghapusan dosa (salvation) ketimbang dalam Kristen. Banyak dari masyarakat Amerika memandang Kristen sebagai agama yang konservatif dalam doktrin-doktrinnya. Eric seorang pemain Cricket di Texas, kota kelahiran George Bush, berkesimpulan seperti itu dan memilih Islam. Sebagai pemain cricket Muslim, ia sering shalat di pinggir lapang. Di Kristen, katanya, sembahyang harus selalu ke Gereja.

Seorang konverter lain memberikan kesaksiannya yang bangga menjadi Muslim. Ia menjelaskan telah berpuluh tahun menganut Katolik Roma dan Kristen Evangelik. Dia mengaku menemukan kelemahan-kelemahan doktrin Kristen setelah menyaksikan debat terbuka tentang “Is Jesus God?” (Apakah Yesus itu Tuhan?) antara Ahmad Deedat, seorang tokoh Islam dari Afrika Selatan dan seorang doktor teologi Kristen. Argumen-argumen Dedaat dalam diskusi menurutnya jauh lebih jelas, kuat dan memuaskan ketimbang teolog Kristen itu. Deedat, menurutnya, menumbangkan “every single point of argument” lawan debatnya. Menariknya, misi awalnya ia menonton debat agama itu justru untuk mengetahui Islam karena ia bertekad akan menyebarkan injil ke masyarakat-masyarakat Muslim. Yang terjadi sebaliknya, ia malah menemukan keunggulan doktrin Islam dalam berbagai aspeknya dibandingkan Kristen. Angela Collin, seorang artis California yang terkenal karena filmnya Leguna Beach dan kini menjadi Director of Islamic School, ketika diwawancarai oleh televisi NBC News megapa ia masuk Islam, ia mengungkapkan: “I was seeking the truth and I’ve found it in Islam. Now I have this belief and I love this belief,” katanya bangga.

Keempat, banyak kaum perempuan Amerika Muslim berkesimpulan ternyata Islam sangat melindungi dan menghargai perempuan. Dengan kata lain, perempuan dalam Islam dimuliakan dan posisinya sangat dihormati. Walaupun mereka tidak setuju dengan poligami, mereka melihat posisi perempuan sangat dihormati dalam Islam daripada dalam peradaban Barat modern. Seorang convert perempuan Amerika bernama Tania, merasa hidupnya kacau dan tidak terarah jutsru dalam kebebasannya di Amerika. Ia bisa melakukan apa saja yang dia mau untuk kesenangan seperti seks, drug, free-party dan having fun lainnya, tapi ia rasakan malah merugikan dan merendahkan perempuan. Setelah mempelajari Islam, awalnya merasa minder. Setelah tahu bagaimana Islam memperlakukan perempuan, ia malah berkata “women in Islam is so honored. This is a nice religion not for people like me!” (perempuan dalam Islam begitu dihargai. Ini adalah agama yang indah dan mulia bukan untuk orang seperti saya!) katanya. Dia masuk Islam setelah mempelajarinya beberapa bulan dari teman Muslimnya.

Perkembangan Islam di dunia Barat sesungguhnya lebih prospektif karena mereka terbiasa berfikir terbuka. Dalam keluarga Amerika, pemilihan agama dilakukan secara bebas dan independen. Banyak orang tua mendukung anaknya menjadi Muslim selama itu adalah pilihan bebasnya dan independen. Mereka mudah saja masuk Islam ketika menemukan kebenaran disitu. Angela Collin menjadi Muslim dengan dukungan kedua orang tua. Ketika diwawancarai televisi NBC, orang tuanya justru merasa bangga karena Angela adalah seorang “independent person.” Nancy seorang remaja 15 tahun, masuk Islam setelah bergaul dekat temannya keluarga Pakistan dan keluarganya tidak mempermasalahkan walaupun telah lama hidup dalam tradisi Kristen.

Sumber:
https://moeflich.wordpress.com/2008/03/18/islam-di-amerika-keajaiban-bernama-911/

Rabu, 16 Mac 2016

Rusia mulai menarik peralatan militer dari Suriah


Vladimir Putin mengumumkan bahwa pasukan Rusia akan keluar dari Suriah, Kementerian Pertahanan mulai menarik alutsista Rusia di Suriah.

Moskow telah mulai menarik peralatan militer dari Suriah, Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan.

“Teknisi di pangkalan udara telah mulai mempersiapkan pesawat untuk penerbangan jarak jauh ke pangkalan udara di Federasi Rusia,” kata pejabat.

Pengumuman ini muncul beberapa jam setelah Presiden Vladimir Putin memerintahkan pasukannya untuk mulai menarik diri dari Suriah.

Selama pertemuan di Kremlin dengan menterinya, Putin mengatakan pasukan harus menarik diri karena mereka sebagian besar telah mencapai tujuan mereka.

Dia juga memerintahkan upaya diplomatik negara ditingkatkan untuk mengamankan kesepakatan damai di Suriah.

Langkah itu diumumkan pada pembicaraan damai yang didukung PBB antara pihak yang berseteru di Suriah dan dilanjutkan di Jenewa.


Penarikan pasukan ini dilakukan setelah lima bulan Moskow melancarkan operasi militer untuk mendukung rezim Damaskus.

Gelombang serangan udara oleh pesawat-pesawat tempur Rusia terhadap pasukan oposisi Suriah telah memperburuk konflik dalam perang berdarah menjelang gencatan senjata yang rapuh baru-baru ini.

Seorang juru bicara mengatakan pemimpin Rusia telah sepakat tentang penarikan militer melalui pembicaraan telepon dengan Assad.

Putin mengatakan: “Pekerjaan yang efektif dari militer kita menciptakan kondisi untuk memulai proses perdamaian.”

“Saya percaya bahwa tugas yang diserahkan kepada kementerian pertahanan dan angkatan bersenjata Rusia, secara keseluruhan, telah terpenuhi.

“Dengan partisipasi militer Rusia … angkatan bersenjata (rezim) Suriah telah mampu mencapai perputaran mendasar dalam memerangi ‘terorisme internasional’ dan telah mengambil inisiatif di hampir segala hal.”

“Karena itu saya memerintahkan menteri pertahanan … untuk memulai penarikan pada bagian utama kontingen militer kami dari Suriah.”

Namun, Putin tidak memberikan jadwal kapan penyelesaian penarikan dan mengatakan Moskow akan mempertahankan kehadiran militer di Suriah.

Damaskus mengatakan Moskow telah berjanji untuk terus mendukung rezim dalam “menghadapi terorisme”.

Pengumuman ini juga dibahas selama panggilan telepon antara Putin dan Presiden AS Barack Obama.

Oposisi utama Suriah memberi peringatan tentang keputusan Rusia dan harus tetap berhati-hati, karena hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa keputusan itu bisa menjadi “sebuah tipuan”.

Saat ini semua pihak akan menunggu dan melihat apa dampak penarikan militer Rusia terhadap kondisi di Suriah.

Salem al Meslet, juru bicara Komite Negosiasi Tinggi Oposisi, mengatakan kepada wartawan di Jenewa: “Besok kita akan melihat apakah keputusan ini dibuat untuk kepentingan rakyat Suriah atau hanya untuk kepentingan (rezim Suriah Bashar) al Assad.

“Ini akan menjadi lebih penting jika Putin memutuskan untuk benar-benar berdiri di samping rakyat Suriah, bukan di samping diktator.”

Sky NEWS

Kita umat Islam terus dipermainkan dengan drama musuh-musuh Allah


Cara kita nak tahu hubungan 2 negara itu erat. Selepas pertemuan rasmi mereka pergi ke lobby dan berbincang secara individu.

Kita umat Islam terus dipermainkan dengan drama siapa baik siapa jahat yang didalangi US, Russia, Israel, Syiah dan negara-negara sekutu mereka. Setiap kali ada konflik yang berlaku di mana-mana benua salah satu kita akan pilih sebagai hero, ternyata kita silap, contoh perang Israel-Syiah Hezbollat Lubanan, perang Vietnam, perang dunia ke 2 Jepun-Amerika dan banyak lagi peperangan yang dirancang mengelirukan umat islam.

Ingatlah kita sepatutnya memilih pihak umat Islam bukan Rusia ataupun Amerika.

Hari ini rakyat Syria disembelih oleh rejim zalim Bashar, Putin Rusia dan Syiah, kumpulan yang mempertahankan rakyat Syria sekarang adalah tentera pembebasan Syria atau FSA yang berfahaman Ahli Sunnah Wal Jamaah (rakyat Syria). Jadi pihak mana kita pilih? Fikir rasional bersama saudara kita atau sekutu Syiah yang sentiasa memaki sahabat Rasulullah s.a.w?

Syria Care - Malaysia

Isnin, 14 Mac 2016

Kesesaatan Syiah, Berani Menggambar Wajah Rasulullah S.A.W



Ini adalah kesesatan  oleh Syiah.

Apakah Kitab Al-Kafi?

Kitab al-Kafi adalah merupakan rujukan utama penganut Syi’ah di mana mereka mengambil ajaran-ajaran dari kitab ini sebagai pegangan agama mereka. Kitab ini adalah setaraf dengan kitab Sahih Bukhari di sisi Ahl as-Sunnah wal-Jamaah.

Pandangan Imam Syafii Terhadap Syiah

Pandangan Imam Syafii Terhadap Syiah dan bukan pandangan Aqidah Al-Asy’ariah. Adalah menjadi kesalahan fatal bila mengaitkan Imam Syafii dengan Aqidah Al-Asy’ariah. Dari Yunus bin Abdila’la, beliau berkata: Saya telah mendengar asy-Syafi’i, apabila disebut nama Syi’ah Rafidhah, maka ia mencelanya dengan sangat keras, dan berkata: “Kelompok terjelek! (terhodoh)”. (al-Manaqib, karya al-Baihaqiy, 1/468. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/486)

“Saya belum melihat seorang pun yang paling banyak bersaksi/bersumpah palsu (berdusta) dari Syi’ah Rafidhah.” (Adabus Syafi’i, m/s. 187, al-Manaqib karya al-Baihaqiy, 1/468 dan Sunan al-Kubra, 10/208. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/486)

Imam asy-Syafi’i berkata tentang seorang Syi’ah Rafidhah yang ikut berperang: “Tidak diberi sedikit pun dari harta rampasan perang, kerana Allah menyampaikan ayat fa’i (harta rampasan perang), kemudian menyatakan: Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami”. (Surah al-Hasyr, 59: 10) maka barang siapa yang tidak menyatakan demikian, tentunya tidak berhak (mendapatkan bahagian fa’i).” (at-Thabaqat, 2/117. Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, 2/487)

Syi’ah: Harus Menyetubuhi Isteri Pada Dubur

Daripada al-Barqiyy, beliau memarfu’kannya [Menyambungkan sanad sampai kepada imam maksum Syiah] daripada Abi Abdillah a.s. katanya: “Bila seseorang menyetubuhi isterinya pada duburnya lalu dia tidak sempat keluar air mani maka kedua-duanya tidak wajib mandi. Jikalau dia keluar air mani maka wajib mandi ke atasnya dan isterinya tidak wajib mandi”. (Rujukan: Muhammad bin Ya’kob al-Kulaini al-Furu’ min al-Kafi jil. 3 hal. 47)

Syi’ah: Ahlus Sunnah Adalah Kafir Dan Najis

Adapun Nasibi [ialah gelaran kepada Ahlus Sunnah yang digunakan oleh Syi’ah], keadaannya dan hukum tentangnya maka telah diterangkan tentangnya iaitu dua perkara. Pertama, dalam menerangkan makna Nasibi yang disebutkan di dalam riwayat-riwayat bahwa mereka adalah najis dan lebih buruk daripada Yahudi, Nasrani dan Majusi. Mereka juga adalah kafir serta najis dengan kesepakatan ulama Imamiyyah (keredhaan Allah untuk mereka). Pendapat yang dipegang oleh kebanyakan ashab (ulama Syi’ah) ialah mereka adalah orang yang menyatakan permusuhan terhadap Ahlul Bait Muhammad shallallahu alaihi wasallam. [Memusuhi dan membenci Ahlul Bait di sisi Syi’ah bermaksud tidak menerima dan beriman terhadap mereka sebagaimana yang akidah yang dianuti oleh penganut Syi’ah] dan sentiasa melahirkan kebencian terhadap mereka (Ahlul Bait) sebagaimana yang terdapat di kalangan Khawarij dan sebahagian mereka yang tinggal di Waraa an-Nahr [di sebalik sungai Jaihun di Khurasan iaitu kawasan yang didiami oleh ramai dari kalangan ulama Ahlus Sunnah]. Dan mereka (ulama Syiah) menyusun hukum-hukum dalam bab bersuci, najis, kufur, iman, harus berkahwin dan tidak harus ke atas Nasibi berdasarkan makna di atas. (Rujukan: Sayyid Ni’mat Allah al-Musawi al-Jazairi al-Anwar an-Nu’maniyyah jil. 2 hal. 306)

Syi’ah: Ahlus Sunnah Lebih Hina Daripada Anjing

Daripada Ibnu Abi Ya’fur daripada Abu Abdillah a.s. katanya: “Jangan mandi daripada telaga yang berhimpun padanya sisa air mandi dari bilik mandi kerana padanya terdapat air mandi anak zina dan ia tidak akan bersih sehingga tujuh keturunan dan padanya juga terdapat air mandian nasibi dan ia adalah yang paling buruk di antara keduanya. Sesungguhnya Allah tidak menciptakan makhluk yang lebih buruk dari anjing dan sesungguhnya nasibi adalah lebih hina di sisi Allah dari anjing”. (Rujukan: Muhammad bin Ya’kob al-Kulaini al-Furu’ min al-Kafi jil. 3 hal. 14)

Agama Syi’ah: Sahabat-Sahabat Merupakan Penyeleweng Al-Quran.

Mereka golongan yang gemar takwil ayat-ayat Allah. Sesungguhnya Allah taala telah menerangkan kisah orang-orang yang mengubah (kitab Allah) dengan firman-Nya:

الَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِندِ اللَّهِ لِيَشْتَرُواْ بِهِ ثَمَناً قَلِيلاً

Orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu.[Al-Baqarah ayat 79]

Syiah mentakwil ayat ini iaitu mereka (sahabat-sahabat Nabi) memasukkan ke dalam kitab sesuatu yang tidak dikatakan oleh Allah untuk mengelirukan manusia lalu Allah membutakan hati-hati mereka sehingga mereka meninggalkan di dalamnya (al-Quran) sesuatu yang menunjukkan perbuatan yang telah mereka lakukan kepadanya dan menerangkan tipu daya mereka, menimbulkan kekeliruan dan menyembunyikan apa yang mereka lakukan terhadapnya (al-Quran).

Syi’ah: Al-Quran Sekarang Tidak Asli Kerana Ianya Bukanlah Yang Dihimpunkan Oleh Imam-Imam Maksum Di Sisi Syi’ah.

Thiqah al-Islam (al-Kulaini) daripada Muhammad bin Yahya daripada Ahmad bin Muhammad daripada Ibnu Mahbub daripada ‘Amar bin Abi al-Miqdam daripada Jabir katanya, aku mendengar Abu Ja’far a.s. berkata: “Tidaklah seseorang itu mendakwa bahawa ia telah mengumpulkan al-Quran kesemuanya sebagaimana diturunkan melainkan ia adalah seorang pendusta, al-Quran tidak dihimpunkan dan dihafal sebagaimana diturunkan oleh Allah Taala kecuali Ali bin Abi Talib a.s. dan imam-imam selepasnya a.s.”

As-Saffar di dalam al-Bashaair daripada Muhammad bin al-Husain bin Syu’aib daripada Abdul Ghaffar katanya, ada seorang bertanya Abu Ja’far a.s. maka dia a.s. menjawab: “Tidak ada seorangpun yang mampu untuk mengatakan bahawa dia menghimpunkan keseluruhan al-Quran kecuali para washi (imam-imam)”.

Daripada Abdillah bin ‘Amir daripada Abi Abdillah al-Barqi daripada al-Husain bin Uthman daripada Muhammad bin al-Fadhl daripada Abi Hamzah ath-Thumali daripada Abi Ja’far a.s. katanya: “Saya tidak mendapati dari kalangan umat ini orang yang boleh menghimpunkan al-Quran kecuali para washi”.

Syi’ah: Imam-Imam Mempunyai Kedudukannya Sama Dengan Para Nabi Dan Tidak Sempurna Segala Amalan Tanpa Beriman Kepada Imam-Imam.

Sesungguhnya imamah berada pada kedudukan para nabi, warisan para washi, kepimpinan daripada Allah dan kepimpinan daripada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam., seperti kedudukan Amir al-Mukminin a.s., pusaka Hasan dan Husain a.s. sesungguhnya imamah adalah teraju agama, peraturan kepada orang-orang Islam, kebaikan di dunia dan kemuliaan kepada orang-orang beriman. Sesungguhnya imamah adalah asas Islam yang subur, dan cabangnya yang tinggi. Kesempurnaan sembahyang, zakat, puasa, haji dan jihad adalah dengan (kepercayaan kepada) imam. Dan juga (kesempurnaan dengan imam) menyempurnakan fai dan sedekah, melaksanakan hudud dan hukum-hukum dan menghalang (mempertahankan) tempat sasaran musuh dan penjuru-penjuru (Negara).


Syi’ah: Imam-Imam Mempunyai Ciri-Ciri Khusus Termasuk Maksum

Imam itu suci daripada dosa dan selamat daripada sebarang keaiban, dikhususkan dengan ilmu (diberikan ilmu yang khusus), diberikan sifat penyantun, peraturan agama, kemuliaan orang-orang Islam, kebencian orang-orang munafik dan kebinasaan kepada orang-orang kafir. Imam-imam adalah orang yang maksum daripada sebarang dosa dan kekurangan. Imam-imam mempunyai ilmu khusus yang tidak diberikan kepada sesiapapun termasuk para nabi. Dengan imam-imam sahaja orang-orang Islam akan memperoleh kemuliaan serta mengalahkan orang-orang kafir.

Syi’ah: Imam-Imam Syiah Mempunyai Sifat-Sifat Ketuhanan

Ali bin Muhammad dan Muhammad bin al-Hasan daripada Sahl bin Ziyad daripada Muhammad bin al-Walid katanya: Sa’id al-A’raj telah meriwayatkan kepada kami, katanya: Saya dan Sulaiman bin Khalid masuk menemui Abu Abdillah a.s. lalu dia memulakan (bicara) kepada kami dengan berkata: “Wahai Sulaiman! Apa-apa yang datang daripada Amir al-Mukminin (‘Ali) a.s. hendaklah diambil (amalkan) dan apa-apa yang dilarang olehnya hendaklah ditinggalkan. Beliau diberikan kelebihan sebagaimana yang diberikan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.a. dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.a. diberikan kelebihan mengatasi sekalian makhluk Allah. Menghubungkan kekurangan atau keaiban kepada mana-mana hukum yang dibuat Amir al-Mukminin a.s. adalah seperti menghubungkan kekurangan kepada Allah ‘azza wa jalla dan kepada Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam.a.. Mengingkarinya (Amir al-Mukminin) sama ada dalam masalah kecil atau besar sama seperti melakukan syirik kepada Allah. Amir al-Mukminin a.s. adalah pintu Allah yang tidak sampai kepada Allah kecuali melaluinya dan jalannya yang mana orang yang melalui jalan yang lain akan binasa. Dengan cara inilah berganti imam-imam a.s. seorang demi seorang. Allah menjadikan mereka sebagai paksi-paksi bumi sehingga bumi tetap (tidak bergoncang) dengan sebab mereka dan menjadikan mereka sebagai hujah yang nyata ke atas makhluk yang berada di atas bumi dan di perutnya.

Dia (perawi) berkata lagi: Amir al-Mukminin a.s. berkata: “Aku adalah pembahagi (bagi pihak) Allah antara syurga dan neraka. Akulah pembeza yang agung, akulah tuan punya tongkat (Musa) dan bukti-bukti (mukjizat). Semua malaikat dan ruh telah menyatakan pengakuan terhadapku (menerimaku) sebagaimana mereka telah mengakui terhadap Muhammad shallallahu alaihi wasallam.a.. Aku telah menanggung beban seperti yang ditanggung oleh Muhammad shallallahu alaihi wasallam.a. iaitu bebanan daripada Tuhan. Sesungguhnya Muhammad shallallahu alaihi wasallam.a. akan diseru lalu diberikan persalinan dan diminta supaya bercakap (di hari akhirat) dan aku juga akan diseru lalu diberikan persalinan dan diminta supaya bercakap maka aku bercakap sebagaimana ia bercakap. Aku telah diberikan beberapa ciri yang tidak diberikan kepada siapapun sebelumku. Aku mengetahui ilmu tentang kematian-kematian dan ujian-ujian, keturunan dan pemberi kata putus. Tidak terlepas dariku apa yang telah berlaku sebelumku dan tidak tersembunyi dariku sesuatu yang di belakangku. Aku memberikan berita gembira dengan izin Allah dan aku menunaikan segala perkara daripada Allah ‘azza wa jalla. Semua itu diberikan kekuatan oleh Allah kepadaku dengan izinnya.

(Rujukan: Muhammad bin Ya’kub al-Kulaini al-Usul min al-Kafi jil. 1 hal. 197)

Syi’ah: Tiada Perbezaan Sembahyang Ahlus Sunnah Dengan Perzinaannya

Daripada Hannan daripada Abi Abdillah a.s. katanya: “Tidak memberi apa-apa erti (sama sahaja) seorang Nasibiitu sama ada ia bersembahyang atau berzina. Ia adalah balasan yang sesuai dengan amalannya kerana kecuaiannya terhadap sebesar-besar syarat (penerimaan amalan seseorang-penterjemah berdasarkan riwayat rukun Islam di sisi Syi’ah) iaitu al-Walayah. Maka amalannya itu sama seperti orang yang sembahyang tetapi tidak berwuduk’. Ayat ini turun berkenaan mereka:

عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ (*) تَصْلَى نَارًا حَامِيَةً

Mereka menjalankan kerja yang berat lagi berpenat lelah, (*) Mereka tetap menderita bakaran Neraka yang amat panas (membakar)[Surah al-Ghasyiah ayat 3 dan 4].

Ali Akbar al-Ghifari mengatakan dalam nota kaki: “Zohirnya Imam Ja’far as-Sadiq maksudkan dengan an-Nasibah dalam ayat ini ialah orang yang menyatakan permusuhan Ahl al-Bait a.s.. Boleh jadi juga Imam a.s. maksudkan dengan makna keletihan iaitu mereka keletihan melakukan amalan-amalan yang rumit dalam keadaan ia tidak memberikan sebarang manfaat kepadanya”. (Rujukan: Muhammad bin Ya’kob al-Kulaini ar-Raudhah min al-Kafi jil. 8 hal. 160,161)

Agama Syi’ah: Kedudukan Imam-Imam Adalah Seperti Nabi-Nabi Bahkan Mengatasi Mereka.

Sesungguhnya nabi-nabi dan imam-imam a.s. diberikan taufik oleh Allah serta dikurniakan daripada perbendaharaan ilmu dan hikmah-hikmahNya (Allah) kepada mereka apa yang tidak diberikan kepada orang lain lalu ilmu mereka mengatasi ilmu orang yang sezaman dengan mereka sesuai dengan firman Allah ta’ala: “Maka adakah yang dapat memberi hidayat petunjuk kepada kebenaran itu, lebih berhak diturut ataupun yang tidak dapat memberi sebarang petunjuk melainkan sesudah dia diberi hidayat petunjuk? Maka apakah alasan sikap kamu itu? Bagaimana kamu sanggup mengambil keputusan (dengan perkara yang salah, yang tidak dapat diterima oleh akal)?” (Surah Yunus 35) serta

firman-Nya: “Dan barang siapa yang dianugerahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).”
(Surah al-Baqarah 269)

dan firman-Nya berkenaan Thalut: “(Nabi mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (Surah al-Baqarah 247).

Dan Ia berfirman kepada Nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam.: “Allah telah menurunkan kepadamu Kitab (Al-Quran) serta Hikmah (pengetahuan yang mendalam) dan telah mengajarkanmu apa yang engkau tidak mengetahuinya dan adalah kurnia Allah yang dilimpahkanNya kepada mu amatlah besar.” (Surah an-Nisa’ 113)

dan Allah berfirman berkenaan imam-imam dari kalangan ahl bait nabi-Nya dan keturunannya a.s.: “Atau patutkah mereka dengki kepada manusia (Nabi Muhammad dan umatnya) disebabkan nikmat (pangkat Nabi dan agama Islam) yang telah diberikan oleh Allah kepada mereka dari limpah kurniaNya? Kerana sesungguhnya Kami telahpun memberi kepada keluarga Ibrahim: Kitab (agama) dan hikmat (pangkat Nabi) dan kami telah memberi kepada mereka kerajaan yang besar. Maka di antara mereka (kaum Yahudi yang dengki itu) ada yang beriman kepada (apa yang telah di kurniakan oleh Allah kepada keluarga Nabi Ibrahim) itu dan ada pula di antara mereka yang berpaling daripadanya (tidak beriman) dan cukuplah dengan Neraka Jahannam yang sentiasa menyala-nyala itu (menjadi tempat seksa mereka).” (Surah an-Nisa’ 54,55).

Sesungguhnya bila Allah ‘azza wa jalla memilih seorang hamba untuk melaksanakan urusan hamba-hamba-Nya, dia akan menyinari hatinya, meletakkan di dalam hatinya sumber-sumber hikmah, sentiasa mengilhamkannya dengan ilmu, tidak lemah selepas itu di dalam memberikan jawapan, tidak melencong dari ketepatan. Ia adalah maksum serta dibantu, diberi taufik serta diluruskan segala tindakannya. Ia selamat dari sebarang kesilapan, kegelinciran dan keburukan. Allah mengkhususkannya dengan sifat-sifat sedemikian supaya ia menjadi hujah kepada hamba-hambaNya, pembantunya terhadap segala makhluk-Nya. Yang demikian adalah kurniaan Allah yang Ia berikan kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya dan Allah mempunyai kurniaan yang sangat luas.
 (Usul al-Kafi jil. 1 hal. 202,203)

Khomeini: Kedudukan Sayyidina Ali Setaraf Dengan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.

Syeikh dan ustaz kita al-‘Arif al-Kamil Syeikh al-Abadi di dalam al-Ma’arif al-Ilahiyyah di hadapan murid-muridnya: “Kalaulah Ali a.s. muncul sebelum Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. pasti dia akan menyatakan syari’at sebagaimana yang dinyatakan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam. dan pasti dia akan menjadi nabi serta rasul. Yang demikian adalah kerana kedua-duanya sama dari segi kerohanian dan kedudukan-kedudukan maknawi (batin) dan zahir”. (Rujukan: Misbah al-Hidayah ila al-Khilafah wa al-Wilayah al-Imam al-Khomeini hal. 153)

Syi’ah: Ahl as-Sunnah Adalah Anak Zina

Daripada Abi Hamzah daripada Abi Ja’far a.s. katanya (Abu Hamzah): aku berkata kepadanya (Abu Ja’far): “Sesungguhnya pengikut-pengikut kita menghina dan menuduh orang yang menyalahi mereka”. Imam Abu Ja’far berkata kepadaku: “Menahan diri daripada mereka adalah lebih baik”[bertaqiyyah]. Kemudian dia berkata lagi kepadaku: “Demi Allah, wahai Abu Hamzah! Sesungguhnya semua manusia adalah anak zina kecuali Syi’ah kita”. (Rujukan: Muhammad bin Ya’kob al-Kulaini ar-Raudhah min al-Kafi jil. 8 hal. 285)



Syi’ah: Imam Mahdi Bila Dibangkitkan Akan Memenggal Ahl As-Sunnah


Daripada Salam bin al-Mustanir katanya, saya mendengar Abu Ja’far (Muhammad al-Baqir) a.s. meriwayatkan apabila al-Qaim (al-Mahdi) bangkit, dia akan mengemukakan keimanan [Mengikut fahaman Syi’ah] kepada setiap Nasibi. Jikalau dia (Nasibi) benar-benar menerimanya (maka ia akan selamat) dan jika tidak al-Qaim akan memenggal lehernya atau dia memberikan jizyah (penerimaan jizyah ini berlaku pada permulaan kebangkitan al-Mahdi kerana berdasarkan riwayat-riwayat yang lain menunjukkan tidak diterima daripada Nasibi atau Ahl as-Sunnah kecuali diberi pilihan sama ada beriman sebagaimana Syi’ah atau dibunuh) sebagaimana ahli zimmi memberikan jizyah (kepada kerajaan Islam) pada hari ini. Dia (al-Mahdi) akan mengikat di tengahnya (pinggang) tali pinggang (Sebagai tanda ahli zimmah dan bukan seorang Syi’ah) dan akan mengeluarkan mereka dari bandar-bandar ke perkampungan-perkampungan. (Rujukan: Muhammad bin Ya’kob al-Kulaini ar-Raudhah min al-Kafi jil. 8 hal. 227)

Syi’ah: Ahlus Sunnah Lebih Hina Dari Yahudi, Nasrani Dan Musyrik

Dengan sanad ini daripada Muhammad bin Ya’kub daripada Ahmad bin Idris daripada Muhammad bin Ahmad bin Yahya daripada Ayyub bin Nuh daripada al-Wasya daripada orang yang menyebutkannya daripada Abi ‘Abdillah (Ja’far as-Sadiq) a.s. bahawa beliau tidak suka sisa jilatan anak zina, Yahudi, Nasrani, Musyrik dan setiap orang yang menyalahi Islam. Lebih dibenci ialah sisa jilatan Nasibi.

(Rujukan: Syeikh at-Thaaifah Abi Ja’far at-Thusi Tahzib al-Ahkam jil. 1 hal. 223)

Syi’ah: Nabi Adam Mempunyai Usul Kufur

Daripada Abi Basyir katanya, Abu Abdillah a.s. berkata: “Usul kekufuran ada tiga iaitu terlalu tamak, sombong dan hasad. Adapun terlalu tamak, ia terdapat pada Adam a.s. ketika dia ditegah daripada pokok (larangan) maka terlalu tamak telah mendorongnya supaya makan daripadanya. Adapun sombong, ia terdapat pada iblis ketika dia diperintahkan supaya sujud kepada Adam lalu dia enggan. Adapun hasad, ia terdapat pada dua orang anak Adam ketika salah seorang membunuh pasangannya”.

(Rujukan: Muhammad bin Ya’kob al-Kulaini al-Usul min al-Kafi jil. 2 hal. 289)

Al-Kulaini: Kitab Al-Kafi Hanya Mengandungi Riwayat Sahih Saja

Saya berkata: Sesungguhnya anda ingin mempunyai sebuah kitab yang lengkap yang terhimpun di dalamnya semua bidang ilmu agama (Islam) yang memadai bagi seseorang pelajar, yang menjadi rujukan bagi pencari hidayah dan orang yang ingin kepada ilmu agama serta mahu beramal dengannya boleh mengambil daripadanya melalui riwayat-riwayat yang sahih dari orang-orang yang benar a.s. (imam-imam Ahl al-Bait) dan (mengandungi) sunnah yang diyakini yang boleh diamalkan serta (dengan atsar-atsar ini) boleh dilaksanakan segala kefarduan yang ditetapkan oleh Allah ‘azza wa jalla dan sunnah nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam. dan keluarganya. Dan aku katakan: “Jika demikian, aku harapkan ia (kitab) ini menjadi sebab untuk Allah memberikan pertolongan dan taufiq-Nya kepada saudara-saudara kita dan penganut ajaran kita serta memberikan petunjuk kepada mereka”. (Rujukan: Muhammad bin Ya’kob al-Kulaini Mukaddimah al-Usul min al-Kafi Jil. 1 hal. 8)

Agama Syi’ah: Ilmu Imam-Imam Menyamai Ilmu Para Nabi

Bab Sesungguhnya Allah ‘Azza Wa Jalla Tidak Mengajarkan Kepada Nabinya Satu Ilmu Kecuali Dia Akan Memerintahkan Supaya Mengajarkannya Kepada Amir Al-Mukminin Dan Dia Berkongsi Dengannya (Nabi) Dalam Ilmu.

Ali bin Ibrahim daripada ayahnya daripada Ibnu Abi ‘Umair daripada Ibnu Azinah daripada Abdillah bin Sulaiman daripada Humran bin A’yun daripada Abi Abdillah a.s. katanya: “Sesungguhnya Jibril a.s. telah datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. membawa dua biji delima. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. makan salah satu dan membelah dua yang satu lagi lalu memakan separuh dan memberi makan kepada Ali separuh lagi. Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. berkata kepadanya: “Wahai saudaraku! Apakah engkau mengetahui dua biji delima itu? Jawabnya: “Tidak”. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. menjawab: “Yang pertama adalah kenabian. Engkau tidak mempunyai bahagian padanya dan yang satu lagi adalah ilmu. Engkau setanding denganku padanya”. Aku (perawi) pun berkata: “Semoga Allah sentiasa memeliharamu. Bagaimana ia menjadi kongsi Nabi shallallahu alaihi wasallam. padanya? Dia menjawab: “Tidaklah Allah mengajarkan kepada Muhammad shallallahu alaihi wasallam. satu ilmu kecuali Dia akan memerintahkannya supaya mengajarkannya kepada Ali a.s.”.

Ali bin Ibrahim daripada ayahnya daripada Ibnu Abi ‘Umair daripada Ibnu Azinah daripada Zurarah daripada Abi Ja’far a.s. katanya: “Jibrail a.s. turun kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. membawa dua biji delima dari syurga lalu memberikan kedua-duanya kepadanya. Maka dia makan sebiji dan membelah dua yang satu lagi. Ia memberikan kepada Ali a.s. separuh daripadanya lalu ia memakannya. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. berkata: “Adapun delima pertama yang dimakan olehku, maka dia adalah kenabian. Engkau tidak mempunyai bahagian daripadanya sedikitpun. Adapun yang satu lagi ia adalah ilmu. Engkau adalah kongsiku padanya”.

Muhammad bin Yahya daripada Muhammad bin al-Hasan daripada Muhammad bin Abdul Hamid daripada Mansur bin Yunus daripada Ibnu Azinah daripada Muhammad bin Muslim katanya: saya mendengar Abu Ja’far a.s. berkata: “Jibril turun kepada Muhammad shallallahu alaihi wasallam. membawa dua biji delima daripada syurga lalu Ali a.s. bertemu dengannya. Maka Ali pun bertanya: “Apakah dua delima yang ada di tanganmu? Dia pun menjawab: “Adapun ini ia adalah nubuwwah, engkau tidak mempunyai bahagian padanya. Adapun ini, dia adalah ilmu. maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. membelahnya menjadi dua lalu dia memberikannya separuh dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. mengambil separuh. Kemudian baginda bersabda: “Engkau berkongsi denganku padanya dan aku berkongsi denganmu padanya”. Baginda berkata lagi: “Demi Allah! Tidaklah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. mengetahui satu huruf pun daripada ilmu yang diajarkan oleh Allah kepadanya kecuali dia akan mengajarkannya kepada Ali. Kemudian ilmu itu berakhir kepada kami. Kemudian dia meletakkan tangannya ke atas dadanya”.

Syi’ah: Orang Yang Mulia Ialah Orang Yang Menyembunyikan Pegangannya

Daripada Sulaiman bin Khalid katanya, Abu Abdillah a.s. berkata: “Wahai Sulaiman! Sesungguhnya kamu berada di atas satu agama yang sesiapa yang menyembunyikannya akan dimuliakan oleh Allah dan sesiapa yang menyatakannya akan dihinakan oleh Allah”. (Rujukan: Muhammad bin Ya’kob al-Kulaini al-Usul min al-Kafi jil. 2 hal. 222)

Syi’ah: Kitab-Kitab Suci Yang Lain Selain Al-Quran

Daripada Abi Bashir katanya, aku masuk menemui Abi Abdillah (Jaa’far as-Sadiq) a.s. lalu aku berkata kepadanya: “Aku jadikan diriku sebagai tebusan kepadamu! Sesungguhnya aku ingin bertanya kepadamu satu masalah, adakah di sini ada seseorang yang mendengar kata-kataku? Dia (Abu Bashir) berkata lagi: “Lalu Abu Abdillah a.s. mengangkat di antaranya dengan rumah yang lain lalu dia memerhati ke arahnya”. Kemudian dia berkata: “Wahai Aba Muhammad, tanyalah apa yang terlintas padamu”. Aku pun berkata: “Aku jadikan diriku sebagai tebusan kepadamu! Sesungguhnya Syi’ahmu membicarakan bahawa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. mengajarkan kepada Ali a.s. satu bab (ilmu) yang terbuka untuknya daripada bab itu seribu bab? Maka dia (Abu Abdullah) a.s. berkata: “Wahai Aba Muhammad! Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. mengajarkan Ali a.s. seribu bab yang terbuka daripada setiap bab seribu bab”. Perawi (Abu Bashir) berkata, aku berkata: “Ini demi Allah adalah sebenar-benar ilmu”. Perawi (Abu Bashir) berkata: “Lalu dia (Abu Abdullah) a.s. menggores-gores seketika tanah kemudian berkata: “Sesungguhnya inilah sebenar-benar ilmu dan tiada yang sepertinya”.

Perawi (Abu Bashir) berkata, kemudian dia (Abu Abdullah) a.s. berkata: “Wahai Aba Muhammad (Abu Basir)! Sesungguhnya kami mempunyai al-Jamiah, adakah mereka mengetahui apakah itu al-Jami’ah? Abu Basir berkata, “Aku jadikan diriku sebagai tebusan kepadamu! Apakah itu al-Jamiah? Abu Abdillah a.s. menjawab: “Ia adalah satu sahifah yang panjangnya tujuh puluh hasta Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.. Ia menyampaikannya dari mulutnya dan Ali a.s. menulisnya. Di dalamnya terdapat setiap perkara halal dan haram dan setiap perkara yg diperlukan oleh manusia sehinggalah diyat luka kerana mengoyakkan kulit dan ia memukul tangannya kepadaku sambil berkata: “Adakah engkau memberi izin kepadaku wahai Aba Muhammad? Perawi (Abu Bashir) berkata, aku berkata: “Aku jadikan diriku sebagai tebusan kepadamu, sesungguhnya aku adalah untukmu maka buatlah apa yang engkau kehendaki. Perawi (Abu Bashir) berkata, “Lalu dia meramas aku dengan tanggannya dan berkata: “Sehingga diyat sebegini (dia melakukan seolah-olah marah) Perawi (Abu Bashir) berkata, aku berkata: “Sesungguhnya inilah sebenar-benar ilmu dan tiada yang sepertinya”.

Kemudian ia (Abu Abdillah) diam seketika lalu berkata: “Sesungguhnya di sisi kami ada al-Jufr, apakah mereka tahu apa itu al-Jufr? Abu Basir berkata, aku berkata: “Apakah itu al-Jufr? Abu Abdillah a.s. menjawab: “Satu bekas dari kulit di dalamnya ilmu nabi-nabi dan para wasi, ilmu ulama yang lalu dari kalangan Bani Israil. Perawi (Abu Bashir) berkata, aku berkata: “Sesungguhnya inilah sebenar-benar ilmu dan tiada yang sepertinya”.

Kemudian ia (Abu Abdillah) diam seketika lalu berkata: “Sesungguhnya di sisi kami ada Mushaf Fatimah, apakah mereka tahu apa itu Mushaf Fatimah? Abu Basir berkata, aku berkata: “Apakah itu Mushaf Fatimah? Abu Abdillah a.s. menjawab: “Satu mushaf yang di dalamnya tiga kali ganda quran kamu ini. Demi Allah tidak terdapat di dalamnya daripada quran kamu walaupun satu huruf”. Perawi (Abu Bashir) berkata, aku berkata: “Sesungguhnya inilah sebenar-benar ilmu dan tiada yang sepertinya”.

Imam Ali Ar-Ridha: Golongan Syi’ah Berbohong Mendakwa Cintakan Ali r.a.

Musa bin Bakr al-Wasithi katanya, Abu al-Hasan (Imam Ali ar-Ridha) a.s. berkata: “Kalau aku mengklasifikasikan Syi’ahku, pasti aku tidak akan dapati mereka kecuali orang-orang yang mendakwa sahaja (yang mereka cintakan Ahl al-Bait). Kalau aku hendak menguji mereka pasti aku tidak akan temui kecuali orang-orang yang murtad. Kalau aku mahu membersihkan mereka (daripada dakwaan mereka) tentu tidak akan tinggal walaupun seorang daripada seribu. Kalau aku mahu menyelidiki keadaan mereka (yang sebenar) pasti tidak akan tinggal dari kalangan mereka kecuali aku dapati mereka sambil berbaring di atas sofa-sofa (dengan sombong) mengatakan bahawa kami adalah Syi’ah Ali sedangkan Syi’ah Ali yang sebenar ialah orang yang perbuatannya membenarkan kata-katanya”. (Rujukan: Muhammad bin Ya’kob al-Kulaini ar-Raudhah min al-Kafi jil. 8 hal. 228)

Syi’ah: Al-Quran Sebenar Tiga Kali Ganda Daripada Al-Quran Yang Ada Sekarang Ini

Daripada Hisyam bin Salim daripada Abu ‘Abdullah a.s. katanya: “Sesungguhnya al-Quran yang dibawa oleh Jibril a.s. kepada Muhammad shallallahu alaihi wasallam. adalah sebanyak tujuh belas ribu ayat”. (Rujukan: Muhammad bin Ya’kob al-Kulaini al-Usul min al-Kafi jil. 2 hal. 634.


Ahad, 13 Mac 2016

KERANA DAP MINTA PAS BUANG ISLAM




KUANTAN: PAS tidak bersama DAP kerana parti itu meminta supaya dibuang Islam dari perjuangan PAS, sedangkan PAS tidak pernah mengkritik dasar, konsep dan prinsip DAP sama ada berkait pegangan sosialis atau agamanya.

Apatah lagi apabila DAP menentang PAS untuk melaksanakan Undang-undang Islam di Kelantan, ianya adalah sikap yang tidak betul dan salah kerana pelaksanaannya langsung tidak melibatkan orang bukan Islam.

Perkara itu ditegaskan Presiden PAS, Dato’ Seri Tuan Guru Abdul Hadi Awang semasa pada Dialog Rakyat: Jaminan Sosial Islam Untuk Masyarakat Bukan Islam di Hotel Seri Malaysia, di sini baru-baru ini.

“Contohnya mengenai arak dan judi di Terengganu masa saya jadi Menteri Besar, sama dengan Tok Guru Nik Aziz juga di Kelantan. Bila kita menang, kita panggil tuan-tuan punya kedai arak dan kedai judi. Kita tanya mereka, apa pandangan agama kamu berkenaan dengan arak?

“Mereka kata arak, agama mereka kata boleh. Kalau boleh ok, untuk kamu sahaja, untuk kamu sahaja, kamu tak boleh jual kepada orang Islam, orang Islam haram. Kamu boleh jual sama-sama kamu, itu tak jadi salah, tak boleh halang.

“Judi bagaimana? Judi kata mereka, agama mereka larang judi. Maka kita tutup kedai judi. Tetapi kalau ada budaya kaum yang suka berjudi, dia nak berjudi sama-sama dia, hari raya dia sebagai contoh umpamanya, nak berjudi di rumah dia, kita tak boleh larang. Kerana itu sudah jadi budaya dia, terpulang kepada diri dia sendiri,” terang Tuan Guru.

Menjawab pertanyaan PAS berbaik dengan Umno, beliau jelaskan, hal itu hanya melibatkan perkara kebaikan seperti menentang kezaliman, dadah dan jenayah, membela orang miskin dan sebagainya.

Jelasnya, PAS pernah menyertai kerajaan dalam Majlis Perundingan Ekonomi Negara kerana ianya bermanfaat untuk rakyat, tetapi bangun membantah kerajaan terhadap pelaksanaan Cukai Barangan dan Perkhidmatan (GST) kerana ia membebankan rakyat.

Begitu juga katanya berkenaan masalah Perjanjian Perkongsian Trans Pasifik (TPPA), PAS membangkang kerana ia hanyalah semata-mata agenda Amerika untuk melawan China.

“Maka Malaysia, negara Asian diheret, bukan sahaja untuk lawan ekonomi, untuk lawan perang dengan China. Amerika jadikan negeri kita pengkalan untuk berperang dengan China. Dia suruh kita berperang, Amerika bagi senjata, Amerika bagi upah, kita beri senjata kat dia. Dia dapat duit, kita yang mati. Ini dia.

“Jadi TPPA ini agenda politik dan ekonomi. PAS menentang agenda ini walaupun kita boleh berbaik dengan Umno dalam perkara yang baik. Perkara tak baik, kita lawan. Itu dia,” jelasnya.

Malah menurut Tuan Guru, PAS bukan sahaja pernah bekerjasama dengan Umno dan DAP tetapi juga Parti Komunis semasa sama-sama menentang penjajah dahulu.

Tapi katanya, apabila Komunis pergi kepada revolusi bersenjata, PAS tidak lagi bersama dan menyokong Komunis kerana revolusi bersenjata tidak sesuai dengan negara ini.

Tambahnya lagi, PAS bersama Umno dahulu untuk memperjuangkan kemerdekaan, tetapi apabila Umno bersifat sekular dan meletakkan asas kemerdekaan berdasarkan acuan British, maka PAS menolak kerjasama.

Beliau turut mengungkap sejarah dan sebab PAS bersama Umno dalam Kerajaan Campuran dan Parti Perikatan sebelum keluar dari BN.

“Dalam senario politik, perkara lama biasa tak berulang. Maka kita ubah kepada pendekatan politik yang baru, kerjasama tanpa kita masuk kerajaan. Perkara yang baik kita kerjasama, perkara yang tak baik kita lawan. Itu sikap yang tegas terhadap PAS. Dan kita tidak mahu menyusahkan rakyat. Kita lawan dengan tidak menyusahkan rakyat.

“Dengan sebab itu kita tidak ikut Arab Spring, demonstrasi sampai habis sehingga berlaku huru-hara menyebabkan asing boleh campur tangan. Kita tidak ada Malaysia Spring tidak kita ada ‘brake’, bila kita ada ‘brake’, kita ‘brake’ terus,” tegasnya.

Begitu juga katanya, apabila PAS membantah DAP untuk melaksanakan Pilihan Raya Majlis Perbandaran yang lebih menjurus penguasaan satu kaum di mana ianya bertentangan dengan realiti kemasyarakatan dan sosiologi negara ini.

Ujarnya, sejarah 13 Mei 1969 telah memberi pengajaran berkaitan kesan diskriminasi dan ketidakpuasan hati antara kaum hingga berlaku ketegangan yang mesti dipastikan ianya tidak berulang.

Seru beliau, perpaduan mesti diwujudkan dan semua pihak perlu sedar bahawa DAP tidak boleh memerintah bersama kaum Cina sahaja, begitu juga PAS tidak boleh dengan orang Melayu sahaja, mestilah melibatkan kaum lain bersama.

“Ini kita kena sedar hakikat masyarakat majmuk yang ada dalam negara ini, kita tak boleh degil dalam masalah ini, kena melibatkan semua kaum. Itu kita kena sedar. (Begitu juga) hubungan PAS dengan PKR ini bergantung kepada sejauh mana dia menghormati dasar dan konsep yang ada pada PAS.

“Macam DAP juga, kalau masih menghormati, kita terima. Dengan sebab itu, kita menerima kerjasama kita di Selangor. Kerjasama dengan PKR yang mengatakan tidak ada masalah dengan PAS.

“Adapun PKR yang mengadakan kerjasama dengan PAN, menubuhkan Pakatan Harapan, yang menimbulkan pertembungan dengan PAS, ini satu pendekatan yang salah yang perlu kita nilai dan ukur dari semasa ke semasa,” jelasnya.


Orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah adalah orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan sungguh-sungguh, kemudian mereka orang-orang yang berjuang untuk menegakkan kalimat Allah yang tinggi.



Orang-orang yang berpendapat bahwa setiap prinsip manapun yang dikenal umat manusia dalam sejarahnya yang panjang, mungkin untuk berjuang menentang segala macam keaniayaan, sebagaimana perjuangan yang telah dilakukan Islam, atau dapat berdiri di samping orang-orang yang teraniaya semuanya sebagaimana yang telah dilakukan Islam, atau dapat berteriak di depan muka para tiran dan diktator-diktator yang sombong sebagaimana yang telah dilakukan oleh Islam, maka orang yang berpendapat begini amat tersalah, atau amat tergoda, atau amat tidak mengerti akan Islam.

Orang yang berpendapat bahwa mereka itu orang Islam, tetapi mereka tidak berjuang menentang keaniayaan dengan segala bentuknya, tidak mempertahankan orang-orang yang teraniaya dengan sebaik-baiknya dan tidak berteriak di depan muka para tiran dan diktator. Orang yang berpendapat seperti ini amat tersalah sekali, atau mereka itu amat munafik, atau amat tidak mengerti akan Islam.

Inti Islam itu adalah gerakan pembebasan. Mulai dari hati nurani setiap individu dan berakhir di samudera kelompok manusia. Islam tidak pernah menghidupkan sebuah hati, kemudian hati itu dibiarkannya menyerah tunduk kepada suatu kekuasaan di atas permukaan bumi, selain daripada kekuasaan Tuhan Yang Satu dan Maha Perkasa. Islam tidak pernah membangkitkan sebuah hati, lalu dibiarkannya hati itu sabar tidak bergerak dalam menghadapi keaniayaan dalam segala macam bentuknya, baik keaniayaan ini terjadi terhadap dirinya, atau terjadi terhadap sekelompok manusia di bagian dunia manapun, dan di bawah penguasa manapun juga.

Jika anda melihat keaniayaan terjadi, bila anda mendengar orang-orang yang teraniaya menjerit, lalu anda tidak menemui umat Islam ada di sana untuk menentang ketidakadilan itu, menghancurkan orang yang aniaya itu, maka Anda boleh langsung curiga apakah umat Islam itu ada atau tidak. Tidak mungkin hati-hati yang menyandang Islam sebagai aqidahnya, akan rela untuk menerima ketidakadilan sebagai sistemnya, atau rela dengan penjara sebagai hukumnya.

Masalahnya, Islam itu ada atau tidak ada. Kalau Islam itu ada maka ini berarti perjuangan yang tidak akan henti-hentinya, jihad yang tidak ada putus-putusnya, mencari syahid demi untuk menegakkan kebenaran, keadilan dan persamaan. Kalau Islam tidak ada, maka di waktu itu yang terdengar adalah bisikan do’a-do’a, bunyi tasbih yang dipegang di tangan, jimat-jimat dengan do’a perlindungan, berserah diri dengan harapan langit akan menghujankan rezeki dan kebaikan ke atas bumi, menghujankan kemerdekaan dan keadilan. Langit tidak pernah menghujankan hal-hal seperti ini. Tuhan tidak akan menolong suatu kelompok manusia yang tidak mau menolong diri sendiri, orang yang tidak percaya kepada keluarganya sendiri, dan tidak menjalankan hukum Tuhan tentang jihad dan perjuangan:

“Allah tidak akan mengubah nasib suatu bangsa, sampai bangsa itu mengubah nasibnya sendiri.” (QS. Ar-Rad [13] : 11)

Islam adalah aqidah revolusioner yang aktif. Artinya kalau ia menyentuh hati manusia dengan cara yang benar, maka dalam hati itu akan terjadi suatu revolusi: revolusi dalam konsepsi, revolusi dalam perasaan, revolusi dalam cara menjalani kehidupan, dan hubungan individu dan kelompok. Revolusi yang berdasarkan persamaan mutlak antara seluruh umat manusia. Seorang tidak lebih baik dari yang lainnya selain dengan taqwa. Berdasarkan kehormatan manusia, yang tidak meninggalkan seorang makhluk pun di atas dunia, tidak suatu kejadian pun, dan tidak suatu nilai pun. Revolusi itu berdasarkan keadilan mutlak, yang tidak dapat membiarkan ketidakadilan dari siapa pun juga, dan tidak dapat merelakan ketidakadilan terhadap siapa pun juga. Baru saja manusia merasakan kehangatan aqidah ini, ia akan maju ke depan untuk merealisasikannya dalam alam nyata dengan seluruh jiwanya. Ia tidak tahan untuk bersabar, untuk tinggal diam, untuk tenang-tenang saja, sampai ia benar-benar telah menyelesaikan realisasinya di alam nyata. Inilah pengertiannya bahwa Islam itu suatu aqidah revolusioner yang aktif-dinamis.

Orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah adalah orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan sungguh-sungguh, kemudian mereka orang-orang yang berjuang untuk menegakkan kalimat Allah yang tinggi. Kalimat Allah di atas bumi ini tidak akan dapat tertegak, selain jika ketidakadilan dan keaniayaan telah dihilangkan darinya sampai seluruh manusia itu memperoleh persamaan seperti gigi sisir, di mana tidak ada salah seorang pun yang lebih dari orang lain selain karena ketaqwaan.

Orang-orang yang melihat ketidakadilan di sepanjang jalan, dan bertemu dengan kesewenang-wenangan di setiap saat, dan mereka tidak menggerakkan tangan maupun lidah, padahal mereka itu mampu untuk menggerakkan tangan dan lidah. Mereka ini adalah orang-orang yang hatinya tidak digugat oleh Islam. Jika hatinya tergugat oleh Islam tentulah mereka akan berubah menjadi para mujahidin yang berjuang mulai dari saat api yang suci itu menyentuh hati-hati yang rasional dan menyalakannya, dan mendorongnya dengan dorongan yang kuat ke medan perjuangan.

Seandainya jiwa nasionalisme mampu mendorong kita sekarang ini untuk berjuang menentang penjajahan yang dibenci itu, seandainya jiwa kemasyarakatan mampu mendorong kita hari ini untuk berjuang menentang kaum feudal yang tidak berbudi dan kapitalisme yang memeras, seandainya jiwa kebebasan individu mampu untuk mendorong kita sekarang ini untuk berjuang menentang diktator yang melampaui batas dan ketidakadilan yang congkak, maka jiwa Islam mengumpulkan penjajahan, feudalisme dan kediktatoran di bawah sebuah nama, yaitu: ketidakadilan. Jiwa Islam mendorong kita semua untuk memerangi segalanya itu, tanpa pikir-pikir dan tanpa ragu-ragu, tanpa pembicaraan lagi dan tanpa dibeda-bedakan lagi. Itulah salah satu ciri Islam yang besar di bidang perjuangan manusia untuk menegakkan kemerdekaan, keadilan dan kehormatan.

Seorang muslim yang telah merasakan jiwa Islam dengan hatinya, tidak mungkin akan memberikan pertolongan kepada pihak penjajah, atau memberikan bantuan kepada mereka, atau berdamai dengan mereka sehari pun, atau berhenti berjuang melawan mereka, baik secara sembunyi-sembunyi atau secara terang-terangan. Pertama-tama ia akan menjadi pengkhianat bagi agamanya, sebelum menjadi pengkhianat terhadap tanah airnya, terhadap bangsanya dan terhadap kehormatan dirinya. Setiap orang yang tidak merasakan adanya rasa permusuhan dan kebencian terhadap kaum penjajah dan tidak melakukan perjuangan menentang mereka sekuat tenaga, adalah pengkhianat. Lalu bagaimana dengan orang yang mengadakan perjanjian persahabatan dengan mereka? Bagaimana dengan orang yang mengadakan persekutuan abadi dengan mereka? Bagaimana dengan orang yang memberikan bantuan kepada mereka baik di zaman damai maupun di zaman perang? Bagaimana dengan orang yang membantu mereka dengan makanan sedangkan bangsanya sendiri kelaparan?

Bagaimana dengan orang yang melindungi dan menutup-nutupi mereka?

Seorang muslim yang merasakan jiwa Islam dengan hatinya tidak mungkin akan membiarkan kaum feudal yang tidak bermoral dan kaum beruang yang menindas itu berada dalam keamanan dan ketenteraman. Ia akan memberitahukan perbuatan mereka yang tidak punya rasa malu. Ia akan menjelaskan kejelekan-kejelekan mereka. Ia akan berteriak di depan muka mereka yang tidak bermalu itu. Ia akan berjuang menentang mereka dengan tangan, dengan lidah dan dengan hati, dengan segala cara yang dapat dilakukannya. Setiap hari yang dilaluinya tanpa perjuangan, setiap saat yang dilaluinya tanpa pergelutan, dan setiap detik yang dilaluinya tanpa karya nyata, dianggapnya sebagai dosa yang menggoncang hati nuraninya, sebagai kesalahan yang membebani perasaannya, sebagai suatu perbuatan kriminil yang hanya dapat dihapuskan dengan perjuangan penuh dorongan, penuh kehangatan, penuh tolakan.

Setiap muslim yang merasakan Islam dengan hatinya tidak akan mungkin membiarkan diktator yang aniaya serta penguasa zalim yang tidak bermalu bergerak di atas permukaan bumi, menjadikan manusia budak beliannya, padahal tiap-tiap manusia dilahirkan oleh ibunya sebagai orang yang merdeka. Tetapi orang Islam itu akan maju ke depan dengan jiwa dan hartanya, untuk memperkenankan seruan Tuhannya yang menciptakannya dan memberi rezeki kepadanya:

“Kenapa kamu tidak berjuang di jalan Allah dan untuk kepentingan orang-orang yang tertindas, yang terdiri dari laki-laki, wanita dan anak-anak kecil, yang berkata, ‘Wahai Tuhan Kami! Keluarkanlah kami dari negara yang penduduknya aniaya ini. Berikanlah kepada kami seorang penolong dari sisi-Mu. Berikanlah kepada kami seorang pembantu dan sisi-Mu’.” (QS. An-Nisa’ [4] : 75)

Jadilah seorang Islam. Ini telah cukup untuk mendorongmu berjuang menentang penjajahan dengan berani, mati-matian, penuh pengorbanan dan kepahlawanan. Kalau Anda tidak dapat melakukannya, cobalah periksa hatimu. Barangkali hati itu telah tertipu tentang hakekat imanmu. Kalau tidak begitu, alangkah sabarnya Anda, karena tidak berjuang menentang penjajahan.

Jadilah seorang Islam. Ini saja telah cukup untuk mendorong anda berjuang melawan segala bentuk ketidakadilan sosial, suatu perjuangan yang dilakukan dengan terus-terang, penuh semangat, penuh dorongan. Kalau Anda tidak melakukan hal ini, cobalah periksa hatimu. Mungkin hati itu telah tertipu tentang hakekat imanmu. Kalau tidak begitu, kenapa Anda menjadi demikian teganya untuk tidak berjuang melawan pencaplokan hak?

Jadilah seorang Islam. Ini saja telah cukup untuk mendorong maju ke depan, berjuang melawan ketidakadilan, dengan tekad yang teguh tanpa memperdulikan kekuatan-kekuatan lawan yang hanya berupa kekuatan lalat, tetapi oleh orang-orang lemah dikira merupakan halangan besar. Kalau Anda tidak melakukan hal ini, cobalah periksa hatimu, mungkin ia telah tertipu tentang hakekat imanmu. Kalau tidak begitu, kenapa Anda menjadi demikian sabarnya dan teganya untuk tidak berjuang menentang ketidakadilan?

Semua prinsip yang terdapat di atas dunia ini, semua jalan pemikiran yang terdapat di atas dunia ini, akan mengambil jalan yang berada-beda, masing-masingnya mencari bidangnya sendiri-sendiri, untuk merealisasikan keadilan, kebenaran dan kemerdekaan. Tetapi Islam berjuang di segala bidang itu. Ia mencakup seluruh gerakan pembebasan. Ia menggerakkan seluruh pejuang.

Kalau orang-orang yang mempunyai prinsip dan jalan pemikiran mendasarkan kekuatannya kepada kekuatan dunia yang cepat hilang, Islam mendasarkan kekuatannya kepada kekuatan azali dan abadi. Orang orang Islam melakukan perjuangan dengan hati yang penuh rindu untuk mencapai syahid di bumi, agar ia beroleh kehidupan di langit:

“Sesungguhnya Allah telah membeli jiwa dan harta orang-orang yang beriman, dengan janji bahwa mereka itu akan mendapat surga. Mereka berjuang di jalan Allah. Mereka membunuh dan terbunuh. Ini adalah suatu janji yang benar yang terdapat dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih memenuhi janji dari Allah?” (QS. At-Taubah [9] : 111)


Sabtu, 12 Mac 2016

Larangan Tashabuh dengan Orang Kafir



Larangan Tashabuh dengan Orang Kafir

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi)

وَلَن تَرْضَى عَنكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ

“Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, sesungguhnya petunjuk Allah Subhanahuwata’ala tulah petunjuk (yang benar). Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Al-Baqarah:120)

Penjelasan Ayat

Di dalam ayat yang mulia ini, Allah Subhanahuwata’ala menyingkap apa yang terdapat di dalam hati orang-orang kafir dari kalangan Yahudi dan Nashara berupa ketidaksenangan mereka terhadap Islam yang dibawa oleh Rasulullah Sholallahualaihiwasalam dan para pengikutnya. Sehingga seluruh kemampuan yang mereka miliki, mereka gunakan untuk menggiring kaum muslimin agar mengikuti agama dan keyakinan mereka yang batil. Mereka jalankan makar tersebut sedikit demi sedikit, hingga akhirnya seorang muslim keluar dari Islam dan condong kepada agama mereka, wal ‘iyadzu billah.

Karena itu, agama Islam menganjurkan untuk selalu menyelisihi kebiasaan orang-orang kafir sebagai sikap berlepas diri dari mereka dan keyakinan mereka. Sekaligus juga upaya menutup pintu masuknya pengaruh dan sikap kecondongan kepada agama dan tradisi yang mereka bawa.

Al-’Allamah Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di Rahimahullah dalam menjelaskan ayat ini berkata:

“(Allah Subhanahuwata’ala ) mengabarkan kepada Rasul-Nya bahwa Yahudi dan Nashara tidak senang kepadanya kecuali (bila kita) mengikuti agama mereka. Sebab mereka senantiasa mengajak kepada apa yang menjadi keyakinan mereka dan menyangka bahwa itu adalah petunjuk. Maka katakanlah kepada mereka: “Sesungguhnya petunjuk Allah yang engkau diutus dengannya adalah petunjuk yang sebenarnya. Adapun apa yang kalian yakini itu adalah hawa nafsu, dengan dalil firman Allah Subhanahuwata’ala :

“Dan jika engkau mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang kepadamu ilmu, maka Allah tidak akan menjadi wali dan penolongmu.”

Di dalam ayat ini terdapat larangan besar untuk mengikuti hawa nafsu Yahudi dan Nashara. Juga larangan menyerupai mereka terhadap apa yang khusus dari agama mereka. Pembicaraan ini walaupun ditujukan kepada Rasulullah Sholallahualaihiwasalam , sesungguhnya umatnya termasuk di dalamnya. Sebab yang menjadi ibrah adalah keumuman maknanya dan bukan kekhususan siapa yang diajak berdialog, sebagaimana pula yang menjadi ibrah adalah keumuman suatu lafadz dan bukan dikhususkan pada sebab turunnya.” (Taisir Al-Karimir Rahman, 64-65)

Berkata pula Ibnu Jarir Rahimahullah dalam menafsirkan ayat ini: “Wahai Muhammad, tidaklah Yahudi dan Nashara senang kepadamu selamanya. Maka biarkanlah mereka untuk mengikuti apa yang menyenangkan mereka dan yang sesuai dengan mereka. Dan carilah apa yang mendatangkan ridha Allah dalam mengajak mereka kepada apa yang Allah utus kepadamu berupa kebenaran.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/164)

Demikian pula yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah setelah menyebutkan ayat ini: “Perhatikanlah bagaimana Allah mengatakan dalam pengkabaran tersebut ‘millah mereka’ dan mengatakan dalam hal larangan ‘hawa-hawa nafsu mereka’ sebab kaum tersebut (Yahudi dan Nashara) tidaklah senang kecuali (bila kita) mengikuti millah (ajaran) mereka secara mutlak. Hardikan (Allah) tersebut adalah dalam hal mengikuti hawa nafsu mereka sedikit atau banyak. Dan merupakan perkara yang telah diketahui bahwa mengikuti mereka terhadap apa yang ada di dalam agama mereka adalah termasuk jenis mengikuti apa yang mereka lakukan dari hawa nafsu atau menjadi sebab mengikuti hawa nafsu mereka.” (Iqtidha Ash-Shirathil Mustaqim, 1/87)

Nash-nash Larangan Tasyabbuh dengan Orang Kafir

Di dalam Al-Qur’an Al-Karim dan As-Sunnah An-Nabawiyyah yang shahih banyak menyebutkan larangan bagi kaum muslimin untuk menyerupai dan mengikuti cara hidup orang-orang kafir baik secara global maupun terperinci. Di mana semua itu menunjukkan bahwa agama Allah Subhanahuwata’ala ini dibangun di atas prinsip yang menjadi salah satu pondasi Islam yaitu berlepas diri dan menyelisihi ash-habul jahim (penghuni jahannam) dari kalangan orang-orang kafir.

Di antara dalil yang menjelaskan hal tersebut adalah firman-Nya:

وَلَقَدْ آتَيْنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ وَآتَيْنَاهُم بَيِّنَاتٍ مِّنَ الْأَمْرِ فَمَا اخْتَلَفُوا إِلَّا مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمْ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ إِنَّ رَبَّكَ يَقْضِي بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِّنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاء الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

إِنَّهُمْ لَن يُغْنُوا عَنكَ مِنَ اللَّهِ شَيئًا وإِنَّ الظَّالِمِينَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِينَ

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israil Al Kitab (Taurat), kekuasaan, dan kenabian. Dan Kami berikan kepada mereka rizki-rizki yang baik serta Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masanya). Dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata tentang urusan (agama). Maka tidaklah mereka berselisih melainkan sesudah datang kepada mereka pengetahuan karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Sesungguhnya Tuhanmu akan memutuskan antara mereka pada hari kiamat terhadap apa yang selalu mereka perselisihkan padanya. Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu. Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari (siksaan) Allah. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa.” (Al-Jatsiyah: 16-19)

Syaikhul Islam Rahimahullah berkata:

“Allah mengabarkan bahwa Ia memberikan kenikmatan kepada Bani Israil dengan berbagai kenikmatan dunia dan akhirat. Dan bahwa mereka berselisih setelah datangnya ilmu kepada mereka disebabkan menentang al-haq sebagian mereka terhadap sebagian yang lain. Lalu Allah menjadikan Muhammad r berada di atas syariat yang telah ditetapkan-Nya, memerintahkan (umat ini) untuk mengikuti beliau dan melarang dari mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak berilmu. Termasuk orang-orang yang tidak berilmu adalah semua orang yang menyelisihi syariat-Nya.

Hawa nafsu adalah apa yang mereka condong kepadanya dan apa yang diamalkan oleh kaum musyrikin berupa cara-cara mereka yang dzahir/ tampak, yang menjadi kewajiban agama mereka yang batil dan yang semacamnya. Maka menyesuaikan (meniru) keadaan seperti mereka adalah mengikuti hawa nafsu. Oleh karena itu, orang-orang kafir merasa gembira bila kaum muslimin menyerupakan diri dengan mereka dalam sebagian keadaan mereka dan mereka senang dengannya. Mereka sangat berharap bahwa jika mereka lebih berupaya lagi maka hal tersebut akan terjadi (yaitu kaum muslimin akan mengikuti mereka).

Kalau seandainya perbuatan itu bukan termasuk mengikuti hawa nafsu mereka, tentu tidak diragukan bahwa menyelisihi mereka lebih menutup jalan untuk mengikuti mereka dan lebih membantu untuk menggapai ridha Allah U. Menyesuaikan diri dengan mereka (dalam sebagian perkara) bisa membawa kepada perbuatan menyerupai mereka dalam hal lain. Karena barangsiapa yang mendekati tempat terlarang, lama kelamaan dia akan terjatuh ke dalamnya.” (Iqtidha Ash-Shiratil Mustaqim, 1/85-86)

Lebih ditegaskan lagi dengan sabda Rasulullah Sholallahualaihiwasalam :

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk mereka (kaum tersebut).” (HR. Abu Dawud dari Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahuanhu dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani Rahimahullah dalam Shahih Al-Jami’, no. 6149)

Syaikhul Islam Rahimahullah berkata: “Hadits ini hukum minimalnya adalah haram menyerupai mereka (kaum kafir) walaupun dzahir hadits ini menunjukkan kafirnya orang yang menyerupai mereka, seperti firman-Nya:

وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang loyal kepada mereka maka sesungguhnya dia termasuk dari mereka.” (Al-Maidah: 51) (Iqtidha Ash-Shiratil Mustaqim, 1/241) Bentuk Penyelisihan Islam Terhadap Kuffar

Perpindahan kiblat

Di dalam perintah Allah tentang pemindahan kiblat kaum muslimin terdapat pelajaran yang sangat berharga, khususnya dalam menampakkan sikap berlepas diri dari orang-orang kafir dan tidak menyerupai mereka dalam setiap ibadah dan tradisi mereka, sehingga terjadi perbedaan yang dzahir antara muslim dan kafir. Allah Subhanahuwata’ala berfirman:

“Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nashrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu. Dan kamupun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebagian merekapun tidak akan mengikuti kiblat sebagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, maka kamu termasuk golongan orang-orang yang zalim. Orang-orang (Yahudi dan Nashrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan dari mana saja kamu keluar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram; sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. Dan dari mana saja kamu keluar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Maka janganlah kamu, takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Dan agar Kusempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk. (Al-Baqarah: 145-150)

Para ulama salaf berkata: “Makna ayat ini adalah agar tidak ada hujjah atas kalian tatkala menyerupai kiblat mereka, di mana mereka mengatakan: “Mereka telah mencocoki kami dalam hal kiblat, maka tidak lama lagi akan mencocoki kami dalam agama kami.” Maka Allah mematahkan hujjah mereka dengan (perintah untuk) menyelisihi kiblat mereka.

Allah Subhanahuwata’ala menjelaskan bahwa di antara hikmah dipindahkannya kiblat adalah menyelisihi kaum kuffar dalam kiblat mereka agar yang demikian memutuskan keinginan mereka yang batil.” (Iqtidha Ash-Shirathil Mustaqim, 1/88)

Memelihara jenggot dan memangkas kumis

Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim dari hadits Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah Sholallahualaihiwasalam bersabda:

“Selisihilah kaum musyrikin, cukurlah kumis dan biarkanlah jenggot kalian.”

Dalam riwayat Al-Imam Muslim dari hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah Sholallahualaihiwasalam bersabda:

“Pangkaslah kumis biarkanlah jenggot kalian, selisihilah kaum Majusi.”

Shalat dengan menggunakan sandal atau khuf (sepatu dan semisalnya)

Merupakan salah satu petunjuk Rasulullah Sholallahualaihiwasalam dalam shalat adalah melaksanakan shalat tanpa alas kaki dan terkadang dengan beralas kaki. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari hadits ‘Amru bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya (Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash), ia berkata:


“Aku melihat Rasulullah Sholallahualaihiwasalam shalat dalam keadaan bertelanjang kaki dan dalam keadaan menggunakan sandal.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, dll. Dihasankan oleh Syaikhuna Muqbil bin Hadi Rahimahullah dalam kitab beliau Syar’iyyatush Shalati bin Ni’al)

Namun bukanlah petunjuk Rasulullah Sholallahualaihiwasalam apabila seseorang tidak pernah melaksanakan shalat dengan memakai sandal dalam keadaan memungkinkan bagi dia untuk menggunakannya. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Al-Hakim dari hadits Syaddad bin Aus Radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah Sholallahualaihiwasalam bersabda:

“Selisihilah kaum Yahudi karena mereka tidak shalat dengan sandal dan sepatu mereka.”(HR. Abu Dawud, Al-Hakim, Al-Baihaqi, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani Rahimahullah dalam Shahih Al-Jami’ no. 3210)

Syaikhuna Al-’Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i Rahimahullah berkata: “Di antara kemudharatan yang paling besar tatkala meninggalkan shalat dengan memakai sandal, bahwa mayoritas kaum muslimin menjadi jahil tentang sunnah ini dan menganggap bahwa yang shalat dengan memakai dua sandalnya telah melakukan dosa besar dan telah menganggap halal apa yang telah dianggap halal oleh para pelaku dosa besar.” (lihat kitab Syar’iyyatus Shalati Binni’al. Lihat perkataan beliau dalam kitab tersebut, dalil-dalil serta atsar dari ulama salaf, serta kemudharatan ditinggalkannya sunnah yang mulia ini)

Masih banyak lagi contoh sikap Islam dalam menyelisihi ash-habul jahim. Silahkan lihat kitab Iqtidha Ash-Shirathil Mustaqim karangan Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah Rahimahullah.

Keterjerumusan Kaum Muslimin dalam Menyerupai Kaum Kuffar

Sudah merupakan sunnatullah bahwa di antara umat ini akan ada yang terjerumus ke dalam kesesatan, dengan cara mengikuti langkah-langkah orang-orang sebelum mereka dari kalangan ahli kitab dan musyrikin. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Sholallahualaihiwasalam :

“Kalian pasti akan mengikuti langkah-langkah orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal atau sehasta demi sehasta, sampai walaupun mereka masuk ke dalam lubang dhabb, kalian pun memasukinya.” Para shahabat bertanya: “Apakah yang dimaksud adalah Yahudi dan Nashara?” Beliau menjawab: “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (Muttafaqun ‘alaihi dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahuanhu).

Berikut ini adalah sebagian bentuk penyerupaan terhadap ahli kitab dan kuffar yang sebagian kaum muslimin terjatuh ke dalamnya.

Menjadikan kuburan orang-orang yang dianggap shalih sebagai masjid

Hal ini telah diperingatkan oleh Rasulullah Sholallahualaihiwasalam dengan sabdanya:

“Semoga Allah memerangi kaum Yahudi, mereka telah menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid.” (Muttafaqun ‘alaihi dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahuanhu)

Lihat pembahasan lebih rinci tentang hukum membangun masjid di atas kuburan dalam kitab Tahdzir As-Sajid min Ittikhadzil Qubur Masajid karangan Asy-Syaikh Al-Albani Rahimahullah.

Tidak menerima kebenaran kecuali apa yang datang dari kelompoknya

Termasuk salah satu karakter kaum Yahudi adalah mereka telah mengetahui kebenaran sebelum nampak orang yang mengucapkannya dan yang menyerunya. Namun tatkala datang kepada mereka yang mengucapkan al-haq tersebut dan ternyata bukan dari kelompok yang mereka kehendaki, maka mereka pun enggan untuk mengikuti dan mereka tidak menerima kebenaran kecuali yang datang dari kelompok yang mereka menisbahkan diri kepadanya. Padahal mereka tidaklah mengikuti apa yang wajib dalam keyakinan mereka. Allah Subhanahuwata’ala berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُواْ بِمَا أَنزَلَ اللّهُ قَالُواْ نُؤْمِنُ بِمَآ أُنزِلَ عَلَيْنَا وَيَكْفُرونَ بِمَا وَرَاءهُ وَهُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقاً لِّمَا مَعَهُمْ قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُونَ أَنبِيَاء اللّهِ مِن قَبْلُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِين

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kepada Al Qur’an yang diturunkan Allah”, mereka berkata: “Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami”. Dan mereka kafir kepada Al Qur’an yang diturunkan sesudahnya, sedang Al Qur’an itu adalah (Kitab) yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: “Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?” (Al-Baqarah: 91)

Dan hal ini banyak menimpa orang-orang yang menisbahkan diri kepada kelompok tertentu dalam berilmu atau beragama dari kalangan ahli tasawwuf, atau kepada selain mereka, atau kepada seorang pemimpin yang diagungkan oleh mereka dalam agama -kecuali Rasulullah Sholallahualaihiwasalam . Mereka tidak mau menerima ajaran agama ini baik pendapat maupun riwayat kecuali yang dibawa oleh pemimpin mereka. Padahal Islam mengharuskan mengikuti kebenaran tersebut secara mutlak, baik pendapat maupun riwayat, tanpa mengkhususkan seseorang atau kelompok kecuali Rasulullah Sholallahualaihiwasalam . (lihat kitab Iqtidha Ash-Shirathil Mustaqim, 1/ 74-75)

Wallahul hadi ilaa sabiilir rasyaad.

sumber:

http://asysyariah.com/larangan-tashabuh-dengan-orang-kafir/

https://www.youtube.com/watch?v=k-PqEBo4HFk