PAUTAN TAMBAHAN

Jumaat, 29 Julai 2016

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (QS Adz Dzaariyaat [51]: 55)



Kita adalah da’i sebelum menekuni profesi apa pun. Karena berda’wah dan mengajak kepada kebaikan sesuai dengan kemampuan adalah tuntutan keimanan seorang mukmin. Termasuk bagian dari da’wah adalah At Tadzkir (memberi peringatan) bukan memberi hidayah. Sebab, manusia dikenal pelupa. Maka, ia dalam bahasa Arab disebut Insaan likatsrati nisyaan (karena sering lupa). Sementara memberi hidayah hak prerogratif Allah swt.

Tugas Nabi saw dan da’i

Ayat di atas didahului dengan perintah Allah swt kepada Rasulullah saw untuk berpaling dari orang-orang kafir dan tidak selalu risau dan galau terhadap dosa-dosa mereka (QS Adz Dzaariyaat [51]: 54). Sebab, tugas Rasul hanyalah Al Balaagh (menyampaikan risalah) dan At-Tadzkir. Dan beliau saw telah melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya.

Ayat ini menunjukan kegalauan yang sekaligus perhatian besar Rasulullah yang besar terhadap kaumnya. Namun, kemudian Allah menegaskan bahwa tugas beliau hanyalah memberi peringatan, bukan memberi hidayah. Dalam ayat lain, Allah juga berfirman, “Maka tetaplah memberi peringatan, sesungguhnya engkau hanya pemberi peringatan” (QS Al Ghaasyiyah [88]:21). Apakah mereka merespon secara positif atau negatif itu bukan wewenang dan urusan Nabi. Firman Allah, “Engkau tidaklah mampu menguasai (hati) mereka” (QS Al Al Ghaasyiyah [88]:22). Sebab, yang mampu memberi hidayah hanyalah Allah. Karenanya Rasulullah saw pernah ditegur olah Allah ketika bersikeras ingin mengajak dan menyeru pamannya, Abu Thalib kepada laailaaha illallah menjelang akhir hayatnya seperti dalam hadits riwayat Imam Muslim (lihat Asbabun Nuzul, As Suyuti) sehingga turunlah ayat, “Sesungguhnya engkau tidak akan mampu memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai. Akan tetapi Allah yang mampu memberi hidayah kepada orang yang ia kehendaki. Dan Dia Maha Mengetahui orang-orang yang telah mendapat hidayah” (QS Al Qashas [28]: 56). Dan da’i adalah pewaris Nabi, maka ia mengemban misi dan tugas Nabi.

Menurut Syekh Abdurrahman As Sa’di dalam kitab tafsirnya, bahwa At Tadzkir yang diemban oleh Nabi dan juga da’i ada dua macam:

Mengingatkan hal-hal yang tidak diketahui secara terperinci, namun secara global dapat dicerna dan diketahui oleh fitrah dan akal. Sebab, Allah telah menciptakan akal untuk menyukai kebaikan dan membenci keburukan. Dan syari’at Allah menyetujui hal itu. Untuk itu semua yang diperintahkan dan dilarang oleh syari’at adalah masuk dalam kategori tadzkir. Dan sempurnanya tadzkir adalah mengingatkan kebaikan dan kemaslahatan yang terdapat dalam setiap perintah syari’at dan mengingatkan kemudharatan yang terdapat dalam setiap larangan syari’at.

Mengingatkan apa yang sudah maklum diketahui oleh orang-orang mukmin, tetapi kelalaian menimpanya sehingga perlu diingatkan secara berulang-ulang supaya terpatri dalam benaknya untuk kemudian diamalkan. (Taysir Al Karim Ar Rahman fi Tafsir Kalam Al Mannan, As Sa’di, hal. 812, Muassasah Ar Risalah Lebanon, 2002)

Dari sudut pandang pendidikan keluarga. Tentu ayat ini sangat penting bagi para orangtua dan kalangan pendidik bahwa kewajiban mereka adalah selalu mengingatkan secara kesinambungan dan tanpa kenal putus asa para anak dan siswa mereka untuk senantiasa rajin belajar, berakhlakul karimah dan menjadi anak yang shalih.

Orang beriman selalu merespon positif teguran dan peringatan

Dalam ayat di atas, Allah swt mempostkan bahwa peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. Keimanan, rasa takut (khosyyah), ketundukan dan mengikuti ridha Allah yang mereka miliki mewajibkan mereka untuk dapat mengambil manfaat setiap teguran, nasehat dan peringatan. Ayat ini sekaligus memberikan pemahaman betapa bahayanya orang yang tidak terpengaruh dan tidak mengambil manfaat dari peringatan. Sebab, dikhawatirkan hal ini menafikan keimanannya. Sungguh kerugian dan malapetaka besar ketika seseorang mengklaim beriman, tetapi tidak dianggap beriman karena tidak mau mengambil pelajaran dari setiap peringatan.

Hal ini dipertegas oleh Allah swt dalam ayat yang lain, “Maka berikanlah peringatan jika peringatan itu bermanfaat. Orang yang takut akan dapat mengambil pelajaran, sementara orang yang celaka akan menjauhinya”(QS Al A’la [85]: 9:10).

Sementara orang yang tidak memiliki iman dan tidak memiliki kesiapan untuk menerima peringatan, maka tidak ada manfaatnya memberikan peringatan kepadanya. Ia seperti tanah yang teramat tandus dan gersang yang tidak terpengaruh oleh air hujan sederas apapun. Manusia yang semacam ini meski dibombardir dengan ayat sebayak apapun tidak akan beriman sampai mereka melihat azab yang sangat pedih. Inilah prototype orang kafir yang sngat bebal dan kebal terhadap peringatan apa pun sebagaimana firman Allah swt “Sesungguhnya orang-orang kafir itu sama saja engkau beri peringatan atau tidak, mereka tidak akan beriman” (QS Al Baqarah [2]: 6)

Hal ini menuntut kita untuk waspada, jangan sampai kita memiliki sifat seperti orang kafir. Seorang istri harus mendengar nasehat dan peringatan suaminya. Begitu juga sebaliknya. Anak mendengar peringatan-peringatan dan petuah orangtuanya. Murid mesti merespek nasehat dan teguran gurunya. Seorang pemimpin harus merespon positif setiap peringatan dan teguran rakyatnya. Sekeras apapun peringatan yang ditunjukan kepada kita, dari siapapun datangnya selama itu positif dan membawa kebaikan dunia dan akhirat, kita harus menerimanya dengan lapang dada dan tangan terbuka.

Al Quran telah mengabadikan sosok ternama di zamannya yang dihancurkan dan dibinasakan olah Allah swt karena sombong dan tidak pernah mau mendengar nasehat dan peringatan Rasul-Nya. Di antaranya adalah kaum ‘Ad, Tsamud, Fir’aun, Qarun dan lain-lain.

Nah, relakah terlucuti keimanan dari hati kita gara-gara kita tidak mau mengambil manfaat dari setiap peringatan?! Sebab, dalam kajian tafsir Imam Ibnu Katsir - rahimahullah - bahwa, “Hanya hati yang beriman yang dapat mengambil manfaat dari setiap peringatan.” (Tafsir Ibnu katsir V/213)

Dan keunggulan manusia-manusia besar yang dicatat dengan tinta emas sejarah adalah diantaranya disebabkan mereka adalah manusia yang selalu terbuka dengan teguran dan peringatan. Sayyidina Umar bin Khathab ra misalnya, mengungkapkan kebahagiaannya yang luar biasa ketika ditegur dan diperlihatkan kekurangan-kekuranganya oleh sahabatnya, bahkan beliau ra sampai perlu mendoakannya dengan mengatakan, “Semoga Allah merahmati orang yang menghadiahkan kepadaku aib atau kekurangan-kekuranganku.”

Semoga kita sekeluarga selalu mampu memelihara dan mempertahankan kualitas keimanan kita dengan selalu merespon positif setiap nasehat, teguran dan peringatan dari manapun datangnya.

Khamis, 28 Julai 2016

Hukum Memilih Pemimpin Kafir [ Bukan Muslim Hukumnya Haram ] - Buya Yahya



DALIL QUR’AN TENTANG HARAMNYA ORANG KAFIR MEMIMPIN UMAT ISLAM

Berikut ini adalah sejumlah Dalil Qur’ani beserta Terjemah Qur’an Surat (TQS) yang menjadi dasar untuk bersikap dalam memilih pemimpin :

Al-Qur’an melarang menjadikan orang kafir sebagai Pemimpin

3. Aali ‘Imraan : 28.

{لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ} [آل عمران: 28]

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN/PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Alloh, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Alloh memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Alloh kembali(mu).”

4. An-Nisaa’ : 144.

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَتُرِيدُونَ أَنْ تَجْعَلُوا لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُبِينًا} [النساء: 144]

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Alloh (untuk menyiksamu) ?”

5. Al-Maa-idah : 57.

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ} [المائدة: 57]

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi PEMIMPINMU, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Alloh jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.”

Al-Qur’an melarang menjadikan orang kafir sebagai Pemimpin walau Kerabat sendiri :

9. At-Taubah : 23.

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا آبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الْإِيمَانِ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ } [التوبة: 23]

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan BAPAK-BAPAK dan SAUDARA-SAUDARAMU menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan, dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

58. Al-Mujaadilah : 22.

{لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ} [المجادلة: 22]

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Alloh dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Alloh dan Rasul-Nya, sekali pun orang-orang itu BAPAK-BAPAK, atau ANAK-ANAK atau SAUDARA-SAUDARA atau pun KELUARGA mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada- Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Alloh ridha terhadap mereka, dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Alloh. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.”

Al-Qur’an melarang menjadikan orang kafir sebagai teman setia

3. Aali ‘Imraan : 118.

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ } [آل عمران: 118]

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi TEMAN KEPERCAYAANMU orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.”

9. At-Taubah : 16.

{ أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تُتْرَكُوا وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَلَمْ يَتَّخِذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَا رَسُولِهِ وَلَا الْمُؤْمِنِينَ وَلِيجَةً وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ} [التوبة: 16]

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan sedang Alloh belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi TEMAN SETIA selain Alloh, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman? Dan Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Al-Qur’an melarang saling tolong dengan kafir yang akan merugikan umat Islam

28. Al-Qashash : 86.

{ وَمَا كُنْتَ تَرْجُو أَنْ يُلْقَى إِلَيْكَ الْكِتَابُ إِلَّا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ ظَهِيرًا لِلْكَافِرِينَ} [القصص: 86]

“Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al-Quran diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu menjadi PENOLONG bagi orang-orang kafir.”

60. Al-Mumtahanah : 13.

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ قَدْ يَئِسُوا مِنَ الْآخِرَةِ كَمَا يَئِسَ الْكُفَّارُ مِنْ أَصْحَابِ الْقُبُورِ} [الممتحنة: 13]

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan PENOLONGMU kaum yang dimurkai Alloh. Sesungguhnya mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa.”

Al-Qur’an melarang mentaati orang kafir untuk menguasai muslim

3. Aali ‘Imraan : 149-150.

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا الَّذِينَ كَفَرُوا يَرُدُّوكُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ (149) بَلِ اللَّهُ مَوْلَاكُمْ وَهُوَ خَيْرُ النَّاصِرِينَ } [آل عمران: 149، 150]

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu MENTAATI orang-orang yang KAFIR itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi. Tetapi (ikutilah Alloh), Alloh lah Pelindungmu, dan Dialah sebaik-baik Penolong.”

Al-Qur’an melarang beri peluang kepada orang kafir sehingga menguasai muslim

4. An-Nisaa’ : 141.

{… وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا} [النساء: 141]

“…… dan Alloh sekali-kali tidak akan MEMBERI JALAN kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” Al-Qur’an memvonis munafiq kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin

4. An-Nisaa’ : 138-139.

{ بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (138) الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا} [النساء: 138، 139]

“Kabarkanlah kepada orang-orang MUNAFIQ bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih. (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu ? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Alloh.”

Al-Qur’an memvonis ZALIM kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin

5. Al-Maa-idah : 51.

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ } [المائدة: 51]

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang ZALIM.”

Al-Qur’an memvonis fasiq kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin

5. Al-Maa-idah : 80-81.

{تَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ (80) وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ وَلَكِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ فَاسِقُونَ} [المائدة: 80، 81]

“Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Alloh kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Alloh, kepada Nabi dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang FASIQ.”

Al-Qur’an memvonis sesat kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin

60. Al-Mumtahanah : 1.

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ أَنْ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ رَبِّكُمْ إِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي تُسِرُّونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنْتُمْ وَمَنْ يَفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ } [الممتحنة: 1]

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Alloh, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah TERSESAT dari jalan yang lurus.”

Al-Qur’an mengancam adzab bagi yang jadikan kafir sbg Pemimpin / Teman Setia

58. Al-Mujaadilah : 14-15.

{أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ تَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مَا هُمْ مِنْكُمْ وَلَا مِنْهُمْ وَيَحْلِفُونَ عَلَى الْكَذِبِ وَهُمْ يَعْلَمُونَ (14) أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ} [المجادلة: 14، 15]

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Alloh sebagai teman ? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui. Alloh telah menyediakan bagi mereka AZAB yang sangat keras, sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.”

Al-Qur’an mengajarkan doa agar muslim tidak menjadi sasaran fitnah orang kafir
60. Al-Mumtahanah : 5.

{رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ} [الممتحنة: 5]

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (SASARAN) FITNAH bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Sabtu, 23 Julai 2016

Seorang lagi permata ummah dijemput pergi bertemu Illahi, Tuan Guru Salleh Musa Meninggal Dunia


Seorang lagi permata ummah dijemput pergi bertemu Illahi. Buat yang belum mengenali, di bawah disertakan serba ringkas latar belakang beliau.

Nama : Tuan Guru Hj Salleh bin Musa
Tarikh Lahir : 08.02.1929
Ayah : Tn Guru Hj Musa bin Salleh
Ibu : Khatijah bt Md Saad Mehamad
Tempat lahir : Pekan Sik Kedah
Bil Adik beradik : 8 orang
Anak ke : 3

Pendidikan :
1. Sek Rendah Keb Sik (Dan ke Pondok Tn Hussin Kedah, kemudian ke Pondok Tn Guru Hj Mad Nawawi Gurun Kedah, ini kurang mashur kerana Tn Guru Sekejap sahaja disana)
2. Pondok Pak Chu Him Gajah Mati Pendang Kedah
3.Darul Ulum Makkah dan menamatkan sijil kepujian Aliy
4. Kemudian mendalami ilmu di Masjidil Haram Makkah bersama syeikh-syeikh terkemuka diantaranya Syeikh Ismail Fatani , Syeikh Yassin Al Fadani , Syeikh Abd Qadir Mandili , Syeikh Syed Alawi Al Malikki , Syeikh Syed Amin Qutubi dan syeikh muktabar lain .

Berkahwin dengan Hj Hatiah bt Hanafi
Mendapat 2 orang cahaya mata semasa berlajar di Makkah. Tn Guru memiliki 11 orang cahaya mata semuanya. Kini isteri beliau sudah meninggal dunia dan Tn Guru sekali lagi berkahwin dengan Hj Sofiah bt Hj Awang.

Tahun 1964 Tn Guru pulang ke Tanah air dan terus berkhidmat membantu mengajar di pondok ayah beliau di Pekan Sik. Tn Guru menggantikan ayah beliau sebagai mudir Madrasah Ar Rahmaniah hingga sekarang. Sekarang Tn Guru dibantu oleh anak beliau Syeikh Muslim sebagai Timbalan Mudir. Tn Guru menumpukan dakwah sepenuh masa di Pondok hingga sekarang dan beliau menyampaikan dakwah di setiap daerah di sekitar negri Kedah Darul Aman.

KDYMM Sultan Kedah telah anugerahkan beberapa pingat kebesaran , diantaranya B.K.M , S.D.K dan Tokoh Pendakwah Negeri Kedah tahun 2009,

Pada tahun 2010 MB Kedah YAB Dato' Seri Di-Raja Ust Azizan Abd Razak meanugerahkan Tokoh Pondok Negeri Kedah , 2011 beliau dinobat Tokoh Ilmuan Daerah Sik Oleh Pegawai Daerah Sik.

ULAMA DARI TANAH ARAB TERUTAMANYA YAMAN , JORDAN, MESIR SERING MENZIARAHI TN GURU KERANA TN GURU MERUPAKAN ULAMA YANG SEMPAT MENDALAMI ILMU DENGAN ULAMA MUKTABAR MASJIDIL HARAM MAKKAH SATU KETIKA DULU.

Antara masyaikh hafizahumullah yang menziarahi beliau :
Syeikh Yussuf Al Hassani (Lubnan)
Syeikh Muhammad Ibrahim (Mesir)
Habib Kazim ( Yaman )
Habib Abdullah ( Jeddah)
Syeikh Habib ( Jordan)

Saudara yang saya kasihi ,Tn Guru Hj Salleh merupakan ulama yang terkenal di Kedah kerana beberapa faktor ketokohan beliau, diantaranya beliau merupakan Tn Guru Pondok yang paling tua nisbah umur dikalangan Tn Guru Pondok disekitar Kedah.

Kedua beliau merupakan tokoh ulama Tauhid di alam melayu, seluruh pelajar pondok seluruh Malaysia , Thailand akan berkumpul di Pondok Tn Guru Hj Salleh Sik setiap bulan Ramadan semata-mata untuk belajar ilmu tauhid dengan Tn Guru Hj Salleh.

Ketiga beliau sangat petah dalam penyampaian ilmu dan dakwah , mudah difahami apa yang beliau syarahkan. Kuliah minguan beliau setiap hari Jumaat tidak kurang dari 3000 orang yang hadir. Setiap hari beliau gigih mengajar di Madrasah Ar Rahmaniah dan beliau keluar menyampaikan dakwah di seluruh daerah didalam Kedah , hampir 24 tempat beliau jelajah setiap bulan, Allah beri taufiq pada beliau , walau usia 83 tahun tetapi beliau masih bertenaga menyebarkan ilmu dan berjuang.

Keempat ketokohan beliau tidak dapat dinafikan oleh kawan dan lawan ,tegas dalam hukum menyebabkan ramai suka dengan beliau . Allahyarham Pak Teh Keroh pernah berpesan pada muridnya "Kamu semua kena taat segala fatwa dari Tn Guru Hj Salleh Sik."

Kelima beliau sangat aktif berjuang untuk memastikan Islam tertegak didalam negara Malaysia yang kita cintai. Wadah yang beliau pilih adalah Parti Islam Se-Malaysia(PAS) kerana ini merupakan amanat dari dua orang Guru Mulia beliau di Makkah iaitu Syeikh Qadir Mandili dan Syeikh Wan Ismail ( Pak Da Eil).

Keenam Fikiran beliau sangat terbuka.

Ketujuh beliau merupaka tempat rujuk kepada pimpinan tertinggi parti Parti Islam Se-Malaysia Peringkat Pusat & Negeri.

Seorang ulama di negeri Kedah apabila saya ziarahi beliau, beliau berkata " Tn Guru Hj Salleh merupakan setengah daripada orang yang memiliki wilayah yang luas dan punya sahabat dan musuh semua tunduk padanya"

BERASA DOSA andai tidak perkenalkan Ulama yang dikenali kepada Umum .
Masyarakat sekarang selalunya kenal ulama setelah ulama itu meninggal, mari kita mula berazam untuk memperkenalkan ulama tempatan seramai mungkin kepada masyarakat umum , mudahan dengan usaha ini ramai masyarakat dapat mengenali ulama kita yang masih wujud untuk kita sama-sama ambil menafaat dengan mereka.

ULAMA ADALAH PEWARIS ANBIYA , seharusnya kita mendekati mereka.
Jangan setelah mereka meninggal dunia barulah kita menyesal kerana tidak bertemu dan belajar dari mereka.







Jumaat, 1 Julai 2016

Hukum Sambut Raya 6 | Ziarah Kubur Masa Raya & Makan Atas Kubur - Ustaz ...



Suasana hari raya disambut meriah dengan adik-beradik, anak-anak, saudara-mara yang duduk jauh dapat berkumpul sekali. Justeru itu peluang berkumpul itu dimanfaatkan dengan menziarahi kubur untuk sama-sama bertahlil dan berdoa.

Kawasan perkuburan yang banyak diziarahi diberkati dengan doa, tahlil dan ucapan salam daripada pengunjung. Sehubungan dengan itu, ulamak Fiqh menyatakan sunat mengkebumikan jenazah orang Islam di tanah perkuburan yang banyak kubur dan ramai diziarahi orang bagi mendapat doa daripada mereka.

Ziarah kubur bertujuan mengingat mati supaya kita tidak leka dengan nikmat dunia. Firman Allah swt,

أَلْهَـٰــكُمُ التَّكَاثُرُ. حَتَّى زُرْتُمُ المَقَابِرَ

Yang bermaksud, Bermegah-megah telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur[1].
Mengingati mati juga adalah satu cara membersihkan hati, hadith Nabi saw,

قال رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ القُلُوبَ تَصْدَأُ كَمَا يَصْدَأُ الحَدِيد. قِيْلَ : يَا رَسُولَ الله وَمَا جَلاَءُهَا؟ فَقَالَ : تِلاَوَة القُرآن وَذِكْر المَوْت. أخرجه البيهقى

Yang bermaksud, Sabda Rasulullah saw, sesungguhnya hati ini berkarat sepertimana besi yang berkarat. Sahabat bertanya: Wahai Rasulullah bagaimana untuk mengilatkannya? Baginda menjawab: Membaca al-Quran dan mengingati mati.

Ulama menyatakan ada tiga perkara untuk merawat hati:
1. Taat kepada Allah.
2. Memperbanyakkan mengingati mati.
3. Menziarahi kubur orang Islam.


Islam menggalakkan kita mengingati mati supaya kita sedar dan membuat persediaan untuk mati. Membuat persediaan untuk mati adalah sebahagian daripada Taqwa sebagaimana pentakrifan Taqwa oleh Saidina Ali Karamallahu Wajhah:

Taqwa ialah takut kepada Allah, beramal dengan al-Quran, redha dengan yang sedikit dan membuat persediaan untuk hari kematian[2].

Hukum menziarahi kubur adalah harus dengan dengan adab-adab yang digariskan oleh Syariat. Manakala menziarahi kubur kaum kerabat terutama ibu bapa adalah sunat Muakkad. Makin bertambah pahalanya jika kubur ibu bapa diziarahi pada tiap-tiap hari Jumaat atau hari raya[3] dan dibaca surah Yasin di sisinya. Hal ini berdasarkan hadith,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ زَارَ قَبْرَ أَبَوَيْهِ أَوْ إِحْدَاهُمَا فِي كُلِّ جُمْعَةٍ غُفِرَ لَهُ وَكُتِبَ بِرًّا. (رواه الطبرانى في الأوسط)

Yang bermaksud, Dari Abu Hurairah ra berkata: Sabda Nabi saw: Barang siapa menziarahi kubur kedua ibu bapanya atau salah seorang daripadanya, tiap-tiap hari Jumaat nescaya diampunkan baginya dan dicatit sebagai (anak) yang berbakti.

Begitu juga hadith,

عَن ابْن عمر رَضِي الله عَنهُ قَالَ مَنْ زَارَ قَبْر أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدهُمَا احتِسَابًا كَانَ كَعدْلِ حجَّة مَبْرُورَة وَمَنْ كَانَ زوارًا لَهُمَا زَارَت الْمَلَائِكَة قَبْره

Yang bermaksud, Daripada Ibn Umar ra berkata: Sesiapa menziarahi kubur kedua ibu bapanya atau salah seorang daripadanya dengan penuh keikhlasan ianya menyamai pahala haji yang mabrur dan sesiapa menziarahi kedua-duanya maka malaikat akan menziarahi kuburnya pula[4].

Kebiasaan pengunjung akan memberi salam dahulu kemudian berdoa semoga Allah memberikan rahmat dan maghfirahNya (keampunan) kepada simati.

Daripada Ibnu Mas‘ud, Rasulullah saw bersabda:

كُنْتُ نَهَيتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ القُبُورِ، فَزُورُوا القُبُور فَـإِنَّهَا تُزَهِّدُ فِى الدُّنْيَا وَتُذَكِّرُ الآخِرَة

Yang bermaksud, Aku melarang kamu menziarahi kubur maka ziarahlah kubur. Ini kerana dengan menziarahi kubur menjadikan kamu bersederhana dengan dunia dan mengingati akhirat.

Bertahlil atau berdoa adalah untuk menolong simati. Sabda Rasulullah saw, yang bermaksud:

Tiadalah orang yang mati di dalam kuburnya melainkan seperti orang yang tenggelam meminta pertolongan menanti doa yang ada perhubungannya daripada bapanya, atau saudaranya atau kawan temannya. Dan apabila dia mendapati orang mendoakannya adalah terlebih kasih baginya daripada dunia dan segala isinya. Riwayat al-Dailimi
Hadith tentang menghadiah pahala al-Quran kepada ahli kubur[5],

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أنه قَالَ: مَنْ دَخَلَ المَقَابِر وَقَرَأَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَد عَشَر مَرَّات وَأَهْدَى ثَوابها لِلْمَوْتَى، غَفَرَ اللهُ لِلْمَوْتَى وَأَدْخل فِى قَبُورِهِمُ النُّور وَالسُّرُور، وَيَكْتُب اللهُ تَعَالَى لِلُقَارِئ بِكُلِّ مَيت مَاتَ مِنْ يَوْمٍ أَهْبَطَ الله آدَم إِلَى الأَرْضِ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ عَشَر حَسَنَات.

Yang bermaksud, Daripada Nabi SAW bersabda: Sesiapa memasuki kawasan kubur dan membaca (قل هو الله أحد) sepuluh kali serta menghadiahkan pahala bacaan tersebut kepada si mati, maka Allah ampunkan si mati dan memasukkan cahaya dan kegembiraan ke dalam kubur mereka. Allah akan tulis pahala si pembaca dengan sepuluh kebajikan, mengikut bilangan mayat yang mati bermula dari hari Nabi Adam dicampakkan ke bumi hinggalah ke hari kiamat.

[1] (At-Takathur 001-002)
[2] Taqwa: Hakikat, Hukum-Hukum dan Kesan-Kesannya, Dr. Muhammad al-Zuhayli, terbitan Jabatan Mufti N.Sembilan, hlmn 2.
[3] Mastika Hadith Rasulullah SAW, Bahagian Hal Ehwal Islam, Jabatan Perdana Menteri, Jld 2 Hlmn 428.
[4] Nawadir al-Usul fi Ma’rifah Ahadith al-Rasul, al-Hakim al-Tirmizi, Sumber ke-15, bab fi Tahqiq al-Tahdid ‘Ala Zuwarat al-Qubur.
[5] Bustan al-Waizin wa Riyadh al-Sami’in, Imam Abi al-Farj Abdul Rahman bin Abi al-Hasan Ali bin Muhammad bin Ali bin al-Jauzi al-Qarasyi al-Tamimi al-Bakri al-Hanbali, Dar al-Kutub al-Arabi, 2001, halaman 293

Kesimpulan ; Usahlah kita bergaduh semata-mata nak kata orang sesat dan bid’ah dalam perkara furu’ ini. Belajarlah merai perbezaan.

Ziarah kubur hari raya tidak lah wajib tapi ia amalan yang baik terutama dalam mengingati mati. Cuma jagalah adab2 ketika menziarahi kubur. Bacalah doa utk penghuni kubur kerana nanti kita juga akan menyertai mereka.

Janganlah kerana amalan baik ini, golongan wahabi atau sefikrah dengannya menuduh orang awam itu bid’ah dan sesat dan janganlah juga orang awam mengasari semula dengan kata-kata kesat.
Railah perbezaan. Islam ini untuk dinikmati bukanlah dihukumi.