PAUTAN TAMBAHAN

Rabu, 28 Jun 2017

BAGAIMANA QADA SOLAT YANG TIDAK DIKETAHUI BILANGANNYA?


1. Solat fardu yang tidak dilakukan dalam waktunya, wajib diqada sama ada solat itu ditinggalkan dengan sengaja atau tidak sengaja. Solat yang ditinggalkan dengan sengaja, wajib diqada segera, manakala solat yang ditinggalkan secara tidak sengaja tidak wajib diqada segera tetapi menyegerakan qadanya adalah sunat.

2. Ada beberapa perbezaan antara melakukan solat secara tunai (dalam waktu) dan melakukannya secara qada. Antara perbezaannya seperti berikut :

a.  Solat tunai dilakukan dalam waktunya sedangkan solat qada tidak semestinya dilakukan dalam waktunya. Maksudnya solat Zuhur tidak wajib diqada dalam waktu Zuhur, bahkan boleh diqada dalam waktu Asar, Maghrib, Isyak dan Subuh.

b.  Solat tunai dibaca nyaring pada solat Maghrib, Isyak dan Subuh manakala solat Zuhur dan Asar dibaca secara sir (perlahan). Solat qada pula dibaca sir pada waktu sir dan dibaca jahar (nyaring) pada waktu nyaring. Maksudnya solat Maghrib, Isyak dan Subuh dibaca perlahan jika diqada pada waktu Zuhur atau Asar walaupun ia jenis solat yang dibaca nyaring. Begitu juga solat Zuhur dan Asar dibaca nyaring jika diqada pada waktu Maghrib, Isyak dan Subuh walaupun ia jenis solat yang dibaca sir atau perlahan.

c.  Solat tunai dilakukan secara tamam dalam keadaan bermukim dan secara qasar dalam keadaan musafir. Solat qada wajib dilakukan secara tamam jika dilakukan semasa bermukim walaupun solat yang diqada itu ditinggalkan semasa musafir. Jika diqada solat semasa musafir, ia boleh dilakukan secara tamam atau qasar walaupun solat yang diqada itu ditinggalkan semasa bermukim.

3. Jika tidak diketahui bilangan solat yang ditinggalkan, bagaimana cara mengqadanya. Caranya mudah sahaja. Seseorang yang tidak mengetahui bilangan solat yang ditinggalkan, maka dia hendaklah mengqada setiap fardu solat berulang-ulang kali sehingga dia yakin dia telah mengqadakan sepenuhnya. Sekiranya dia masih tidak yakin, maka dia terus mengqadanya sehingga sampai tahap yakin. Dengan cara itu semua solat yang ditinggalkan dikira telah diqada sepenuhnya.

(Catatan Syeikh Ahmad Faisol Hj Omar)

Isnin, 26 Jun 2017

Islam Banyak Mengatur Etika dan Moral Kepemimpinan

Islam telah banyak mengatur etika dan moral kepemimpinan, baik di dalam Alquran maupun hadis Nabi Muhammad saw serta ijma para ulama. Semua ajaran etika dan moral dalam kehidupan masyarakat adalah merupakan etika dan moral kepemimpinan, namun inti dari semua itu adalah amanah dan keadilan sebagaimana firman Allah swt dalam QS. An-Nahl/16:90

Bermaksud: "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran".

Keadilan dalam hal ini adalah di dalam memutuskan suatu perkara tidak berat sebelah, keadilan harus dinikmati setiap orang baik muslim muapun non muslim, pejabat maupun bukan pejabat, keluarga maupun bukan keluarga, hendaknya putusan yang diberikan kepada mereka sesuai dengan ketetapan hukum dan bukan berdasarkan atas permusuhan.

Beberapa perinsip ajaran Islam yang dapat dijadikan etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara antara lain meliputi kekuasaan sebagai amanah, musyawarah, keadilan sosial, persamaan, pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia. Dalam konteks kenegaraan, amanah dapat berupa kekuasaan ataupun kepemimpinan. Kekuasaan adalah amanah, maka Islam secara tegas melarang kepada pemegang kekuasaan agar melakukan abusei atau penyalagunaan kekuasaan yang diamanahkannya. Karena itu pemegang kekuasaan atau pemimpin wajib berlaku adil dalam arti yang sesungguhnya.

Apabila beberapa perinsip ajaran Islam tersebut di atas tidak diamalkan dengan baik dan benar, maka akan muncul keterpurukan etika dan moral pemimpin sebagai berikut:

Pertama,

Keterpurukan etika dan moral pemimpin disebabkan masih ada hubungannya dengan korupsi yaitu pemimpin yang sangat ambisius untuk mendapatkan harta yang banyak, tidak mempertimbangkan halal dan haram yang penting tujuan tercapai.

Selain itu,  hukum bertujuan untuk mencapai keadilan sebagaimana yang ditegaskan dalam surah Al-Maidah/5:42 "sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya".

Kedua,

Keterpurukan etika dan moral seorang pemimpin adalah pemahaman terhadap ajaran agama sebagai pengendali dalam melakukan tindakan, karena lemahnya agama dapat menyebabkan para pemimpin tidak memperhatikan nilai-nilai etika dan moral. Oleh karenanya wajib bagi seorang pemimpin untuk memperbaiki pemahaman terhadap ajaranya.

Ketiga,

Keterpurukan etika dan moral pemimpin adalah pemimpin yang bersikap sombong. Sebagaimana halnya raja Namruz. Dia adalah orang pertama yang melakukan kesombongan di muka bumi yang mengakui dirinya sebagai Tuhan. Ketika terjadi krisis ekonomi pada zaman kerajaannya, rakyat sangat menginginkan makanan, tetapi raja Namruz tidak mau memberikan makanan yang dia miliki walaupun membeli, jika rakyat tidak mau bersujud kepadanya dan mengucapkan Kamulah Tuhanku.

Itulah sikap sombong yang diperlihatkan oleh seorang pemimpin yang tidak memperdulikan nilai-nilai etika dan moral dalam kepemimpinannya.

Keempat,

Kurangnya rasa tanggung jawab. Kekuasaan bukanlah sebuah kenikmatan yang harus dihirup, melainkan suatu tanggung jawab, maka berat harus dipikul dan mempertanggungjawabkannya dihadapan Allah swt yang secara demokrasi adalah dihadapan rakyat secara terbuka dan jujur. Berkuasa adalah bukan memegang kendali politik sambil menikmati sumber daya dengan cara menindas, melainkan terkandung pertanggungjawaban politik yang berat di dalamnya.

Kelima,

Tidak jujur. Tanpa kejujuran, maka keutamaan moral lainnya kehilangan nilai. Bersikap baik kepada orang lain, tetapi tanpa kejujuran adalah kemunafikan dan sering beracum. Hal yang sama berlaku pada sikap tenggang rasa dan  diri, tanpa kejujuran, dua sikap itu tidak lebih dari sikap berhati-hati tanpa tujuan untuk tidak ketahuan maksud yang sebenarnya.

Sikap jujur harus dimiliki setiap pemimpin, karena tanpa kejujuran seorang penguasa atau seorang pemimpin, segala tindakannya akan mengarah kepada kemunafikan dan tanpa kejujuran keutamaan etika dan moral kehilangan nilai.

Alquran adalah petunjuk bagi umat manusia, maka tidak berlebihan apabila alquran dijadikan sebagai konsep etika politik, dimana etika ingin menjawab “bagaimana hidup yang baik”.

Dengan demikian alquran menerangkan tentang etika dan moral sebagaimana terdapat dalam QS. Al-Imran/3:159

Maksudnya : Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Kandungan ayat tersebut di atas menerangkan tentang etika dan moral kepemimpinan yang diperlukan untuk mendapatkan dukungan dan partisipasi umat, antara lain memiliki sifat lemah lembut dan tidak menyakiti hati orang lain dengan perkataan atau perbuatan, serta memberi kemudahan dan ketentraman kepada masyarakat. sifat-sifat ini merupakan faktor subyektif yang dimiliki seorang pemimpin yang dapat merangsang dan mendorong orang lain untuk berpartisipasi dalam musyawarah,. Sebaliknya, jika seorang pemimpin tidak memiliki sifat-sifat tersebut di atas, niscaya orang akan menjauh dan tidak memberi dukungan.

Dalam sejarah, kaum Majusi telah menguasai dunia selama empat ribu tahun. Kelanggengan kekuasaan hanya dapat terjadi dengan perilaku adil terhadap rakyat dan memelihara urusannya secara bersama-sama. Mereka tidak membiarkan kezaliman dalam urusan agama dan keyakinan mereka. Mereka mengelolah negaranya dengan adil. Mereka juga senantiasa berbuat adil terhadap manusia. Dengan demikian dapat dipahami bahwa kemakmuran dan kehancuran dunia bergantung kepada penguasanya. Jika penguasa adil, maka dunia akan makmur dan rakyat akan merasa aman, sebaliknya penguasa tidak adil, maka dunia akan runtuh. Sebab agama merupakan sistem nilai yang diyakini kebenarannya dan panduan kehidupan serta modal ketenangan jiwa sebelum seseorang menentukan suatu tindakan tertentu.

Prinsip ajaran Islam yang dapat dijadikan etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah kekuasaan sebagai amanah. Prinsip amanah tercantum dalam Alquran surah Al-Nisa/4:58

Maksudnya: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat".

 Makna amanah adalah “titipan” atau “pesan”. Dalam demokrasi Islam, amanah dipahami sebagai “sesuatu karunia atau nikmat Allah yang merupakan suatu bentuk pemeliharaan dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan perinsip-perinsip dasar yang telah ditetapkan dalam Alquran yang kelak harus dipertanggungjawabkan kepada Allah.

Seseorang yang bertanggungjawab diharapkan takut kepada Allah terhadap apa yang ditugaskan kepadanya dari urusan umat agar ia ingat betapa besarnya amanah yang diemban untuk mengerjakannya. Alquran sebagai sumber gagasan etika politik berusaha menanamkan perilaku yang baik kepada para pemimpin untuk mewujudkan suatu pemerintahan yang berwibawa. Oleh karenanya perilaku rakyat sangat tergantung dari kebijakan para pemimpin, rakyat bermoral adalah cerminan dari seorang pemimpin. Pemimpin yang bertanggungjawab adalah pemimpin yang beretika dan bermoral yang bersumber dari nilai-nilai luhur agama. Dengan demikian segala tindakan yang baik, adil, beramanah dari pemimpin akan mendapatkan syafaat, selama pemimpin tidak keluar dari koridor yang telah digariskan oleh Allah swt dalam Alquran sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Kesimpulan

Etika politik Islam senantiasa merujuk pada ketentuan dalam Alquran dan hadis. Dalam Alquran menyerukan umatnya untuk berlaku adil dan berbuat baik serta berlaku amanah. Perinnsip dasar dalam etika politik Islam adalah menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan dan menghormati hak-hak asasi manusia, sehingga tercipta suatu kedamaian yang berkelanjutan dibawah norma-norma agama. Dan ketika segala aktifitas politik yang dilakukan senantiasa dituntut oleh nilai-nilai yang bersumber dari Alquran, maka aktifitas yang dilakukan mendapat berkah yang berlipat ganda, sehingga terhindar dari malapetaka yang disebabkan karena melakukan keterpurukan atau kemungkaran.

Ahad, 25 Jun 2017

CERAMAH BADAR AL- KUBRA OLEH TITM -19 JUN 2017



CERAMAH BADAR AL- KUBRA OLEH TITM -19 JUN 2017
Madinah Ramadhan, Perkarangan Stadium Sultan Muhammad IV, Kota Bharu, Kelantan.

PERUTUSAN PRESIDEN PAS SEMPENA HARI RAYA AIDILIFTRI 1438H


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

Alhamdulillah bersyukur kepada Allah kerana dapat menjadi tetamu Allah selama sebulan di bulan Ramadan. Allah telah mendidik kita dengan meninggalkan makan minum dan kemahuan nafsu yang dihalalkan di waktu siang hari pada bulan-bulan yang lain. Tujuannya supaya kita sedar betapa kehidupan kita menjadi manusia dengan adanya akal fikiran untuk mencari ilmu dan pengalaman hidup, rezeki harta dan kemudahan adalah semuanya pemberian daripada Allah. 

Hari raya bermakna kita menyambut kemenangan, maka tiada kemenangan bagi mereka yang tidak berpuasa Ramadan dan tidak meninggalkan maksiat. Setelah itu, wajiblah juga kita raikan kemenangan dengan berjuang melawan musuh Allah seluruh pelosok dunia yang menyekat dan menghalang Islam, supaya hukum Allah di dalam Al-Quran yang diajarkan oleh Rasulullah SAW diamalkan semula keseluruhannya setelah dibuang oleh para penjajah.

Walaupun kita telah berjaya meletakkan di dalam Perlembagaan Persekutuan melalui rundingan bahawa Islam adalah agama negara, tetapi di dalam perlembagaan itu juga masih ada halangan-halangan yang menyekat kuasa hukum Islam. Di antaranya adalah perkara yang disebut Akta 355 yang menjadikan Mahkamah Syariah bagi orang-orang Islam disekat kuasanya. 

Mewujudkan Mahkamah Syariah adalah perintah Al-Quran dan ajaran Rasulullah SAW. Mahkamah Syariah sudah ada pada namanya sahaja, tetapi kuasa berhukum dengan syariat Allah disekat dan dihalang oleh penjajah Inggeris dahulu. Maka wajib kepada kita semua bersatu membuang segala sekatan itu dan haram bersama mereka yang menentang dan menghalang usaha ini. Melaksanakan hukum Allah juga menjadi sebahagian daripada iman dan amal soleh yang wajib kerana termasuk dalam perkara amar maaruf dan nahi mungkar yang disebut oleh Allah menjadi syarat mendapat rahmat-Nya.

Marilah kita menyambut hari raya dengan semangat kuat bertaqwa kepada Allah, membuktikan keimanan kepada semua petunjuk Al-Quran dan bersatu menentang semua pihak yang bermusuh dengan usaha menegakkan hukum Islam, yang terkini adalah RUU 355 yang menjadi pembuka pintu kepada semua negeri bagi kembali kepada hukum Islam mengikut kemampuan masing-masing. Lupakan segala perbalahan kita dengan menghadapi musuh yang sebenar kerana yang menjadi musuh kita adalah yang menentang Islam secara terbuka atau bersembunyi dengan berbagai tipu daya dan fitnah.

Dalam kesempatan ini juga, saya bagi pihak Parti Islam Se-Malaysia (PAS), ingin mengucapkan Selamat Hari Raya Aidilfitri kepada semua ahli PAS, para penyokong dan seluruh umat Islam walau dimana jua berada.

Saya mendoakan anak-anak di perantauan yang pulang beraya di kampung halaman agar selamat sampai ke destinasi yang dituju. Pandulah secara berhemah dan berhati-hati. Elakkan memandu ketika mengantuk, berehatlah sekejap. Patuhi peraturan jalanraya dan had laju yang ditetapkan serta menghormati pengguna jalanraya yang lain.

Selamat Hari Raya Aidilfitri.
Minal 'Aidin Wal Faizin
 
ABDUL HADI AWANG
Presiden PAS

Bertarikh: 1 Syawwal 1438H bersamaan  25 Jun 2017M

Selasa, 20 Jun 2017

DAP anti Islam, Umno tak bersungguh dengan Islam.


DAP anti Islam, Umno tak bersungguh dengan Islam.

Ketika berucap dalam Majlis Berbuka Puasa di Jitra kelmarin 19 Jun, Perdana Menteri Dato' Seri Najib mendakwa sebab PAS telah meninggalkan pakatan pembangkang ialah kerana dibuli oleh DAP.

Suatu kenyataan yang bunyinya agak lucu dari seorang Presiden Umno yang gagal untuk memahami isu sebenar yang menyebabkan PAS membatalkan tahaluf dengan DAP.

Umum mengetahui PAS adalah sebuah parti yang telah begitu lama berjuang di persada politik tanahair. Kewujudannya telah menjangkau usia 66 tahun. Kematangan dan ketahanan PAS melalui jatuh bangun serta kalah menang dalam perjalanan yang panjang ini usah dipertikaikan lagi. Malah PAS adalah sebuah parti yang jauh lebih kukuh berbanding parti-parti lain dalam pakatan pembangkang dari segi aspek jentera parti, jumlah cawangan serta keahlian di peringkat akar umbi.

Selama 66 tahun PAS teguh mempertahankan prinsip perjuangan dengan meletakkan Islam sebagai dasar. Ketika berpakat atau berpisah dengan mana-mana parti lain, syarat utama PAS ialah Islam. Tidak ada kompromi dan tolak ansur dalam mempertahankan prinsip Islam walau dengan siapa sekalipun PAS membuat kerjasama.

DAP bukan setakat tidak mahu melaksanakan Islam malah memusuhi Islam. DAP adalah sebuah parti anti Islam walaupun di dalamnya ada beberapa orang pemimpin Melayu.

Ibarat seorang kawan yang naik satu kereta bermusafir bersama kita, bila masuk waktu solat, kalau pun mereka tak mahu solat, sekurang-kurangnya mereka bersetuju untuk berhenti dan tunggu sehingga kita selesai solat. Bukan kita nak paksa mereka solat. Tapi ternyata DAP bukan setakat tak mahu solat, malah mereka juga menentang keras untuk kita berhenti seketika bagi menunaikan solat. Maka DAP tak layak lagi dibuat kawan.

Orang yang tak faham Sirah Nabi akan mengatakan bahawa Rasulullah dan para Sahabat telah berhijrah meninggalkan Kota Mekah ke Madinah kerana ditindas, dizalimi dan disiksa oleh musyrikin Quraisy. Lalu Rasulullah berhijrah untuk menyelamatkan diri. Tetapi mereka yang faham akan mengerti bahawa sebab Rasulullah berhijrah dari Mekah ke Madinah adalah untuk berpindah dari satu tempat dimana Islam tak diizinkan berdiri sebagai satu sistem lengkap lalu berpindah ke satu tempat baru dimana Islam boleh berdiri sebagai sistem lengkap sehingga membentuk dan mentadbir sebuah negara. Perlaksanaan Islam yang menjadi sebab hijrah, bukannya kerana takut dan bukan juga kerana dibuli oleh musyrikin Quraisy.

Mereka yang tak faham akan mengatakan PAS telah meninggalkan pakatan pembangkang kerana dibuli, tapi mereka yang faham akan melihat dengan jelas bahawa halangan dan penentangan DAP terhadap Islam adalah punca PAS meninggalkan rakan tahaluf dalam pakatan pembangkang. Tahaluf bukannya dilaksanakan semata-mata kerana nak menang ke Putrajaya tanpa menghiraukan soal bagaimana dan dimana nanti syariat Allah mengambil peranan dalam mengisi kemenangan.

Kalau DAP menghalang dan menentang syariat Allah, kenapa PAS tak bersama Umno? Sebuah parti orang Melayu beragama Islam!

Jawabnya DAP menentang Islam manakala Umno pula tak bersungguh dan tak serius nak melaksanakan Islam. Islam bagi Umno cuma dizahirkan ketika terdesak dan terhimpit untuk meraih sokongan. Masa senang Umno lupa Islam, bila tersepit Umno ingat Islam. Pemimpin Umno bertakbir dalam Perhimpunan Agong Umno, dalam masa yang sama kerajaan Umno jugalah yang memberi lesen kepada pelbagai maksiat dan judi dihalalkan dalam negara.

Pemimpin Umno bercakap tentang Islam. Mereka jugalah juara penyelewengan, rasuah, salah guna kuasa, kroni, nepotisme, salah tadbir urus, pembaziran harta negara serta kemewahan melampau pemimpin negara.

Islam dalam Umno hanyalah satu biro, bukannya dasar dan matlamat perjuangan.

Memang PAS dan Umno sama-sama orang Melayu, tetapi sangat berbeza kerana Melayu Umno berjuang atas dasar kebangsaan sementara Melayu PAS meletakkan Islam sebagai dasar.

Pemimpin Umno dan PAS sama-sama Islam. Tapi belum ada lagi pemimpin PAS yang ditahan dan dibicarakan kerana rasuah. Pemimpin Umno pula ramai yang merengkok dalam penjara kerana rasuah.

Pemisah antara PAS dan Umno ialah Islam! Terima Islam sebagai dasar perjuangan lalu berkerja untuk melaksanakan Islam, maka kita boleh bersama.

Dr Azman Ibrahim
Ahli Jawatankuasa Kerja PAS Pusat
20 Jun 2017

Ahad, 18 Jun 2017

PAS merupakan sebuah parti yang memperjuangkan Islam di Malaysia.

PAS merupakan sebuah parti yang memperjuangkan Islam menjadi amalan dan teras kepada masyarakat di Malaysia. Menjadikan Islam sebagai teras perjuangan bermakna menjadikan Al-Quran dan As-Sunnah sebagai rujukan utama dalam merancang perjalanan dan menentukan tindakan yang ingin diambil. Ulama pula menjadi teraju utama perjuangan PAS kerana merekalah yang lebih hampir kepada Al-Quran dan As-Sunnah, dan merekalah yang selayaknya memimpin sebuah gerakan Islam.

Islam adalah panduan, Islam juga adalah matlamat dan cita-cita perjuangan PAS. Sepertimana yang disebut oleh Saidina Omar R.A:

“Kita adalah kaum dimuliakan oleh Allah dengan Islam. Sekiranya kita mencari kemuliaan selain daripada Islam, Allah akan menghinakan kita.”

Islam tidak memerlukan teras tambahan kerana kesempurnaan kandungan yang ada pada Islam. Dibimbangi, tokok tambah yang dibuat, diambil pula daripada sumber yang tidak Islamik, menjejaskan hala tuju perjuangan Islam itu sendiri. Firman Allah Taala di dalam Al-Quran:

“Pada hari ini Aku (Allah) telah sempurnakan bagi kamu Agama (Deen = cara hidup) kamu, dan Aku cukupkan ke atas kamu nikmat-nikmatKu, dan Aku redha Islam menjadi Agama (Deen = cara hidup) bagi kamu.” (Surah Al-Maidah, 5 : 3)

Menjadikan Islam sebagai teras juga membawa makna matlamat utama perjuangan ialah mencari keredhaan Allah. Berjuang bukan kerana jawatan dan kedudukan, sebaliknya berjuang sehingga sanggup berkorban harta dan nyawa semata-mata untuk mencari keredhaan Allah dan meninggikan kalimah Allah yang Maha Tinggi. Misi Islam ialah beramal kerana Allah, Dialah yang lebih layak menjadi tempat rujukan dan menjadi pemutus dalam setiap tindakan hamba-hambaNya.

Dahulu, Tanah Melayu pernah menjadikan Islam dan segala undang-undang yang terdapat di dalamnya sebagai perlembagaan dan sumber rujukan utama. Namun, pencerobohan dan penjajahan oleh imperialis barat telah mengganggu-gugat kedudukan Islam sehinggalah pada hari ini, rakyat Malaysia sendiri lupa akan asal-usul juga sejarah yang pernah dilakarkan oleh ulama silam. Imperialis Barat bukan sahaja datang membawa misi untuk menjajah Tanah Melayu, bahkan mereka membawa doktrin dan ideologi yang memisahkan masyarakat, khususnya pentadbiran di Tanah Melayu ini daripada Islam.

Konsep demokrasi yang diperkenalkan juga merupakan antara doktrin yang berjaya mereka terapkan di dalam amalan pentadbiran Kerajaan Malaysia. Sungguhpun begitu, PAS menggunakan ruang yang ada untuk terus memastikan agenda Islam dapat diperjuangkan dalam suasana demokrasi. Malah bersama-sama dengan Pakatan Rakyat memastikan keadilan dan demokrasi dapat ditegakkan kembali di Malaysia. Ini kerana, demokrasi selagi tidak melampaui batas, adalah diterima dan boleh menjadi platform yang baik untuk memperjuangkan Islam. Hasilnya, Kerajaan Negeri Kelantan terus aman dan berkembang dan dipimpin dengan Islam menjadi teras utama kerajaan.

Demokrasi pula merujuk kepada kuasa rakyat dan penyertaan ramai dalam membuat sesuatu keputusan. Konsep majoriti merupakan asas kepada demokrasi. Dalam konteks negara demokrasi, parti yang mendapat lebih banyak undi akan terpilih sebagai parti pemerintah. Semua parti politik yang menyertai pilihanraya di Malaysia, menerima hakikat ini. Sekalipun proses demokrasi di Malaysia tidak begitu menjamin hak semua rakyat, khususnya parti politik, kita perlu bersetuju bahawa proses demokrasi ini adalah proses terbaik untuk memastikan keharmonian politik dan sosial di Malaysia.

Begitupun, Islam tidak boleh disamaertikan dengan proses Demokrasi. Kebenaran Islam tidak bergantung kepada ramainya penyokong. Apalagi hukum-hakam dalam Islam, bukanlah subjek yang boleh dipertimbangkan melalui suara majoriti. Namun, situasi dalam negara demokrasi memerlukan sokongan ramai untuk memastikan Islam berjaya ditegakkan. Maka menjadi tanggungjawab semua umat Islam di Malaysia tidak kira dari parti Umno Barisan Nasional, lebih-lebih lagi dari parti PAS untuk memperjuangkan Islam melalui lunas-lunas demokrasi.

Islam merupakan agama Allah. Ia disampaikan oleh para Nabi dan Rasul, melalui proses yang pelbagai. Namun, ia bukanlah suatu yang boleh dipertimbangkan untuk diterima atau ditolak, sebaliknya menjadi tanggungjawab setiap individu muslim untuk melaksanakan Islam dalam kehidupan.

PAS sebagai sebuah parti politik mengambil bahagian dalam pilihanraya, sebagai tanda penerimaan dan persetujuan bahawa Malaysia sebuah negara yang demokratik. PAS juga berkeyakinan penuh bahawa melalui jalan demokrasi ini, PAS mampu mencapai matlamatnya memaknakan kedudukan Islam sebagai agama rasmi negara. Walaupun bersetuju untuk menyertai proses demokrasi, tetapi PAS perlu kekal sebagai parti Islam yang tulen. Menggabungkan diri dalam perjuangan Islam sahaja sudah cukup indah dan sempurna tanpa menyamakannya dengan mana-mana bentuk ideologi dan pemikiran.

PAS sebagai sebuah parti politik tidak pernah menjadikan Islam sebagai bahan dagangan politik untuk mendapatkan kuasa, apa lagi menjadikan Islam sebagai mangsa demokrasi sehingga isi kandungannya boleh dipisah-pisahkan sesuka hati. Sebaliknya, PAS komited menjadikan Islam sebagai teras perjuangan dan menjadikan Malaysia ini Negara yang berkebajikan adalah selaras dengan misi ini.

Bahkan Allah Taala melantik seluruh umat manusia, tidak terkecuali walau seorangpun, sebagai khalifah yang menjadi wakil pemerintahan di muka bumi. Bermakna, manusia seluruhnya memikul tanggungjawab untuk memakmurkan dan memelihara dunia ini dengan penuh keharmonian dan keadilan.

Sumbar dari:
Muhammad Ismi Mat Taib

Isnin, 5 Jun 2017

Peranan PAS melalui dakwah dan politik.


Tanggapan yang selalu tersilap ialah menganggap PAS hanyalah sebuah parti politik.

PAS sebenarnya lebih dari itu. PAS pada asasnya ialah satu gerakan dakwah dan tarbiyah ummah yang bertujuan mengajak kembali kepada ketauhidan dan menjauhi syirik.

Selain itu, PAS juga mengajak ummah untuk menentang perhambaan kepada harta, pangkat kebesaran dan menentang perhambaan kepada manusia dan sistem ciptaan manusia.

Politik membentuk sebahagian dari asas perjuangan PAS.

Penyertaan PAS dalam pilihanraya tidak sama matlamatnya dengan parti politik lain.

Dalam apa juga keadaan, PAS berusaha menzahirkan Islam di dalam semua aspek kehidupan, termasuklah politik.

PAS terus bekerja menyampaikan risalah dakwah kepada seluruh sendi masyarakat. Dakwah bukan hanya mengajak kepada Islam sebagai aqidah tetapi seluruh sendinya.

Jika kita menggunakan kebersihan awam dan tandas awam di negara Malaysia yang majoriti rakyatnya beragama Islam sebagai piawai, begitulah jauhnya lagi amalan Islam dipraktikkan di Malaysia.

Ini menjadikan persoalan-persoalan seperti kebajikan, kebersihan, keselamatan pekerja, pembelaan golongan tertindas, tadbir urus kerajaan, sistem kenegaraan sebagai medan dakwah yang sangat luas.

Bukankah semua ini adalah manhaj Islam sebagai penyelamat ummah?

Pembinaan tarbiyah ummah bermula seawal kelahiran. Semua medan besar dakwah ini tidak terikat dengan pilihanraya.

Kerana itu, ahli dan pimpinan PAS yang memahami perjuangan besar PAS sebagai satu gerakan dakwah, tidak akan terbelenggu dengan dogma bahawa kalau tewas maka habislah perjuangan.

Selain dakwah, PAS juga berusaha untuk memperbaiki diri.

PAS juga berusaha untuk menentang kemungkaran, menukar parti yang korup, rasuah dan pelbagai kelemahan yang ada dengan Islam sebagai pemandu.

PAS bekerja keras bagi mencapai kemenangan setiap kerusi yang dipertandingkan. Kerana itu, PAS berdaftar sebagai sebuah parti politik. Bukan semacam jamaah dakwah lain.

Kerana mendapatkan kekuasaan adalah sebahagian dari kesempurnaan penghayatan Islam. Kuasa ialah alat bukannya matlamat akhir perjuangan PAS.

Inilah yang membezakan kita dengan parti politik lain.

Mereka yang hanya berfikir mengenai kerusi pilihanraya akan meroyan apabila hanya memikirkan soal menang kalah perjuangan berdasarkan pilihanraya sahaja.

Aspek kemenangan pilihanraya hanyalah sebahagian daripada wasilah perjuangan PAS yang luas.

Penetapan tiga tonggak utama perjuangan iaitu dakwah, tarbiyah dan siasah membuktikan jauhnya pandangan politik PAS.

Di saat kita memburu kemenangan pilihanraya, kita wajib memperkasakan kesemua dimensi perjuangan iaitu dakwah dan tarbiyyah.

Ketiga-tiga tonggak ini mestilah seimbang, bagi mempastikan perubahan secara seimbang dan bersepadu.

Fokus yang besar kepada gerak kerja politik sahaja, dengan mengabaikan tarbiyyah akan hanya melahirkan golongan yang kecewa dan putus asa apabila tewas dalam pilihanraya hatta pemilihan parti di muktamar.

Ia akan mula menyalahkan pelbagai pihak atas kekalahannya, lantas ia menjadi golongan yang mudah futur dalam perjuangan. Di saat inilah syaitan akan menghasutnya dan menjauhkan ia dari perjuangan dan jihad.

Andainya ukuran kejayaan hanya kepada kalah atau menang pilihanraya sahaja, maka sangat murahlah perjuangan ini. Hampir tiada beza dengan parti lain yang dasarnya tidak berpijak kepada aqidah dan syariat Allah.

Memantapkan tonggak dakwah

Apabila Lujnah Dakwah dipisahkan dari lujnah penerangan, maka ia telah menghantar isyarat jelas perlunya diperkasakan peranan dakwah dalam PAS.

Lujnah kanan dalam parti ini mempunyai fungsinya tersendiri. Ia berkait rapat dengan hala tuju parti dan pemerkasaan organisasi parti.

Lujnah ini menjadi pilihan kepada ahli yang berminat dalam medan dakwah melebihi medan politik pilihanraya. Ia mesti menyediakan ruang dan peluang yang terbuka kepada petugasnya.

Medan dakwah yang sangat luas ini memerlukan kesungguhan kerja dan mujahadah yang sangat tinggi.

Medan ini memerlukan dana yang besar bagi menggerakkan aktiviti samada di kalangan umat Islam atau mereka yang belum menerima Islam sebagai aqidah mereka.

Kita mesti bekerja sebagai sebuah kerajaan menanti yang tersusun teguh samada fizikal jamaah (organisasi) atau rohiyyah jamaah yang dibuktikan melalui kepatuhan, ketaatan, dan keikhlasan dalam perjuangan.

Bahtera besar ini mesti terus belayar, di saat gelombang besar, mungkin perjalanannya perlahan dan lebih berhati-hati, manakala di saat lautan tenang ia boleh meluncur laju ke destinasi.

Nakhoda kapal akan memastikan laluan kapal akan belayar dengan betul walau sesekali membelok ke kiri atau kanan bagi mengelak batu karang atau gelombang besar. Ia tahu apa yang perlu dilakukan.

Anak-anak kapal tidak perlu mengambil alih tugas nakhoda. Kerana nakhoda jamaah ini mempunyai pasukan bagi membincang, merangka dan membuat keputusan bagi membantu tepatnya keputusan dan benarnya tindakan.

Tarbiyyah adalah tonggak utama dalam parti. Ia bukan hanya berlegar di sekitar kepimpinan melalui medan sedia ada, seperti usrah, tamrin, rehlah, muqayyam dan liqa fikri.

Tarbiyyah meliputi pendidikan politik Islam kepada rakyat. Mendidik agar berfikir secara Islam agar boleh bertindak secara Islam.

Apabila PAS memperkenalkan BPMS (Budaya Politik Matang dan Sejahtera), ia bukan sekadar anjakan pendekatan politik, tetapi ia adalah perubahan cara berfikir di kalangan masyarakat.

Ia dijadikan dorongan untuk mendidik rakyat agar berfikir secara Islam, berdasarkan wahyu Ilahi. Penilaiannya bukan hanya hitam dan putih. Tetapi yang hak sebagai hak, yang batil sebagai batil.

Anjakan ini bersifat mendidik rakyat agar berani menyokong kebenaran seandainya ia sesuatu yang benar, walaupun ia dilakukan oleh pihak yang tidak disukai mereka.

Gambaran bahawa pembangkang perlu membangkang kerajaan secara totok, dan kerajaan perlu mempertikaikan segala cadangan pembangkang adalah cara lapuk dan ketinggalan.

BPMS membuat anjakan besar bahawa kita perlu menyokong apa jua tindakan yang betul dan tepat walaupun ia daripada pihak yang tidak disukai seperti kerajaan memerintah, selagi tidak bercanggah dengan syarak.

Namun kita perlu bangkit menentang sesuatu yang bercanggah dengan syarak, walau dilakukan oleh pihak yang disukai, seperti parti sendiri.

Penentangan terhadap kemungkaran tidak semestinya dalam bentuk menyerang peribadi atau memaki hamun dan mencerca. Lagi tidak munasabah jika kemungkaran dijawab menggunakan fitnah atau fitnah diguna untuk menjawab satu fitnah yang lain.

Ia boleh dilakukan dengan menegur, menasihati, memberi cadangan, menyerah memo, demonstrasi, atau menggerakkan rakyat agar mengundi dengan betul di dalam pilihanraya.

Pendekatan yang lebih matang ini inshaAllah menjadikan perubahan yang dicari tidak mendatangkan kemudharatan yang lebih besar kepada rakyat dan negara. Tragedi perubahan yang malang yang telah banyak berlaku di pelbagai negara perlu dijadikan panduan.

Betapa banyak rakyat yang lebih menderita selepas perubahan yang dicari. Mereka ditekan dengan kezaliman pemimpin, rasuah dan salahguna kuasa, penyelewengan harta negara sehingga sangat membebankan rakyat lalu mereka bangkit.

Sayangnya selepas berjaya dilakukan pertukaran kerajaan yang zalim dan menindas itu, mereka baru sedar penggantinya sebenarnya jauh lebih teruk menjadikan mereka lebih menderita dari sebelumnya. Inilah yang berlaku di Iraq, Libya dan Mesir.

Ini semua memberi petunjuk bahawa mengurus perubahan lebih penting dari perubahan itu.

Anjakan pendekatan BPMS, malangnya telah menyebabkan PAS dilihat mesra Umno-BN. Lalu pelbagai serangan dihalakan kepada parti dan kepimpinannya untuk terus menanam persepsi tersebut.

Pimpinan PAS menyedari dan sudah menjangkakan hal ini, kerana rata-rata pembangkang masih berfikiran lama, dan hanya selesa dengan politik warisan penjajah yang berpaksi kepada politik sekular yang tidak ada kawalan akhlak dan adab Islam.

Ceramah yang tradisinya mesti ada maki hamun, cerca dedah keaiban peribadi, dan sengaja mewujudkan persepsi negatif walaupun berdasarkan fakta yang tidak betul sekalipun.


Permohonan maaf atau menarik balik tuduhan menjadi perkara murah yang boleh dijualbeli dalam politik. Satu-satu fitnah hari ini sanggup dipertahankan sehingga ia dibicarakan di mahkamah bertahun kemudian sebelum meminta maaf. Bagi golongan ini, yang penting ialah membina persepsi semasa bagi meraih sokongan pada waktu itu sahaja.

Beginilah budaya politik negara bertahun lamanya yang semakin menjadi-jadi saban hari kerana adanya media sosial sehingga memualkan. Tidak hairan bila munculnya gambaran bahawa politik itu kotor. Politik yang tiada kena-mengena dengan agama. Politik suku agama suku dan sebagainya.

Negara dikatakan sedang menuju kepada negara maju. Kemajuan bukan hanya dalam aspek pembangunan, ia juga mesti meliputi politik kepartian.

Kalau di negara maju menjadi kebiasaan Perdana Menteri boleh menjemput ketua pembangkang hadir mendengar taklimat sesuatu projek besar negara. Peruntukan yang sama akan diberi kepada parti kerajaan atau pembangkang yang memenangi pilihanraya.

Pembangkang juga akan dilantik dalam sesuatu jawatankuasa bagi memantau perjalanan kerajaan.

Tanpa budaya BPMS, ini mustahil diamalkan di negara ini. Jika ada ahli parlimen setempat daripada pembangkang yang hadir dalam program kerajaan seperi majlis bantuan kepada nelayan di bawah parlimennya, mereka terus dicop kononnya hendak bersama kerajaan. Ini yang terjadi pada PAS.

Apabila pimpinan PAS menghadiri majlis menentang kezaliman umat Islam Rohingya, pelancaran kapal Flotilla maka terus diserang sebagai ' PAS dan Umno sekapal'. Beginilah cara berpolitik hari ini sehingga melahirkan kenaifan fikiran sebahagian masyarakat kita.

Namun begitu, PAS akan terus membudayakan BPMS.

PAS berbangga bahawa kita telah berjaya membuat anjakan cara berfikir dan berpolitik di negara ini.

Apa-apa yang baru yang melanggar amalan hari ini akan pasti mendatangkan pelbagai reaksi. InsyaAllah, kita pasti akan berjaya dengan izin Allah.

PAS percaya bahawa budaya BPMS ini sangat diperlukan sebelum negara boleh bergerak ke depan, dan supaya perubahan yang dicari tidak akan bersifat separa dan tergantung.

Hampir semua rakyat bersetuju, negara memerlukan pemandu baru.

Pemandu yang lama ini sengaja mengekalkan rakyat dalam keadaan sakit, pada masa yang sama berlakon menjadi doktor tunggal yang dapat memberikan panadol menyebabkan rakyat terpaksa bergantung padanya. Itulah kaitan sebenar antara GST dan BR1M.

Kita mengakui bahawa kepimpinan negara yang diterajui oleh Umno-BN adalah punca kepada masalah negara. Namun, perkara yang lebih penting pada waktu ini ialah membantu rakyat bagi memahami situasi yang berlaku dalam negara kini.

Rakyat memerlukan pemandu baru yang bukan sahaja tahu jalan yang ingin dilalui, tetapi turut memahami jalan mana yang selamat bagi rakyatnya di dunia dan akhirat.

Pemandu ini tidak hanya sibuk membina dunia, tapi juga sibuk membina akhirat bagi negara dan rakyatnya.

Oleh itu, pemandu yang baru mesti juga bertindak mengikut panduan Al-Quran dan Hadis.

PAS telah mengutarakan kerajaan teknorat sebagai penyelesaian.

Kerajaan teknokrat adalah satu langkah ke hadapan bagi memberi peluang kepada tokoh dan cendekiawan negara menerajui hala tuju baru dan pentadbiran negara manakala parti dan ahli politik menjadi wadah perubahan tersebut.

Maksud kerajaan teknorat ialah sebuah sistem pemerintahan yakni kuasa parti politik terhadap negara hanya terhad untuk melantik kalangan profesional sebagai eksekutif pentadbir negara bermula daripada Perdana Menteri hingga ke peringkat terbawah.

Sebelum ini, pemimpin parti politik yang biasa menjawat jawatan PM dan menteri. Tetapi idea kerajaan teknokrat ini meletakkan penjawat tersebut berdasarkan kelulusan akademik tertentu yang tidak terlibat dengan pilihan raya.

Kuasa politik yang didapati melalui pilihanraya hanyalah sekadar kuasa untuk melantik siapa yang sesuai di kalangan professional untuk mentadbir negara.

Berdasarkan sejarah politik negara, kita harus menerima hakikat bahawa bukan semua teknokrat tahu berpolitik dan bukan semua ahli politik itu berminda teknokratik.

Seperti BPMS, PAS akan berusaha melanjutkan idea kerajaan teknorat ini sebagai satu model pentadbiran untuk negara. InshaAllah.

Tuan Ibrahim Tuan Man
Timbalan Presiden PAS
4 Jun 2017

Selasa, 30 Mei 2017

Politik Persepsi Yang Jijik.

Politik persepsi, sudah lapuk. Buat tuduhan dulu, kemudian minta maaf. Bom dulu berita, kemudian minta maaf. Apa yang penting bentuk dulu persepsi buruk untuk mencapai matlamat politik. Dosa dan pahala ketepikan dahulu. Inilah yang cuba dibuat kepada PAS untuk mematikan perjuangan PAS. Mereka silap, PAS sudah 66 tahun melawan Umno Perikatan, kemudian Umno Bn. 13 kali PRU di negara ini, cuma sekali sahaja PAS tidak lawan umno, iaitu pada tahun 1974. Sekarang pemimpin pakatan harapan menuduh PAS hendak bersama BN di dalam PRU 14. Inilah modal lapuk. Apabila mereka berceramah sahaja. Selepas Assalamualaikum," PAS hendak masuk umno". inilah tag line yang paling popular.

Paling kelakar sekali menuduh PAS, sekiranya BN menang PRU 14, semuanya berpunca daripada PAS kerana PAS tidak mahu sertai Pakatan Harapan. Belum menang sudah tidak demokratik. Kalau menang nanti apa hendak jadi dengan negara ini. Kalau begitu semua orang boleh tubuh parti baru, kemudian sertai Pakatan Harapan. Kemudian lawan di kerusi tradisi PAS atau lawan di Kelantan. Selepas itu memberi amaran, kalau BN menang semuanya punca kerana PAS berpakat dengan BN. Hakikatnya mereka yang melawan kerusi tradisi PAS yang melawan Umno. Mereka yang menjadi talian hayat Umno BN. Ini jenis politik apa yang kita hendak namakan.

Cyber trooper mereka cukup cekap dibantu pula oleh portal popular yang memang dulu kini selamanya tidak pernah bersama dengan PAS untuk agenda Islam. Ucapan pemimpin PAS akan diambil sekerat dan diletakkan tajuk supaya memburukkan PAS. Isi keseluruhan tidak diambil. Etika kewartawanan sudah dibuang ke laut China Selatan. Manakala ucapan pemimpin mereka akan disucikan seperti air mutlak oleh cyber trooper mereka. Walau pun kadang -kadang mengguris perasaan hati umat Islam.

Jika ada gambar pemimpin PAS bersama dengan pemimpin Umno walau pun minum teh atau bersama dengan program kerajaan terus dituduh hendak masuk umno. Pantang lihat gambar pemimpin kerajaan Kelantan bersama dengan kerajaan pusat terus mengatakan PAS sudah bersama dengan umno. Jika ada pemimpin Dap, bukan sekadar minum malahan berlaga perut dan berpegang tangan tidak ada masalah. Maka terus cyber trooper mereka akan membersihkan tindakan ini, seperti suci di dalam debu. Ini program kerajaan tidak ada masalah. Jika pemimpin kesayangan mereka tidak apa, kalau pemimpin PAS, maka macam-macam ayat yang dihemburkan. Sehingga ada yang menuduh akan disambar oleh api neraka, kerana hadir program kerajaan. InsyaAllah pengikut PAS tidak sebodoh itu hendak melebelkan seorang kerana berpegang tangan dan berlaga perut di dalam program kerajaan.

Pesan saya kepada pengikut PAS sabar sahajalah. Kita tengok siapa yang akan seberang masuk BN dan melutut kepada umno selepas kalah PRU 14. Kita kenal siapa mereka. Apabila BN tabur dedak tahulah kita siapa yang akan terkam ke sana.

Generasi muda yang berumur 20-30 tahun tidak menerima kaedah ini. Mereka mahu penyelesaian. PAS akan buktikan dengan amalan walau pun tidak sempurna tetapi lebih baik daripada pemimpin BN dan Pakatan Harapan. Biar rakyat menjadi saksi. Walau pun mereka nampak gagah tetapi tidak kekal. Benar kata Syed Qutb "Kebatilan walau pun nampak kuat, ia akan musnah. Manakala kebenaran walau pun nampak lemah ia akan menang". Fitnah tidak bertahan lama, kerana mereka yang menyebar fitnah akan mati dan lemah ingatan. Kebenaran bertambah kukuh kerana akan ada penerusannya hingga kiamat.

Hj Idris Hj Ahmad

Naib Presiden PAS
2 Ramadhan 1438/ 29 Mei 2017

Selasa, 23 Mei 2017

HUBUNGAN DAP DENGAN DOMINIONISM DAN CHRISTIAN ZIONISM?

Pusat Penyelidikan PAS (PPP) mengalu-alukan pendedahan yang dibuat oleh Pensyarah Sains Politik Universiti Utara Malaysia (UUM) yang juga Fellow Institut Kajian Strategi Islam Malaysia (IKSIM), Dr Kamarul Zaman Yusoff, tentang hubungan DAP dan ajaran Kristian dalam konteks amalan berpolitik di negara ini. Pendedahan yang bertujuan mendedahkan hipokrasi DAP dalam mengamalkan politik sekular, telah diheret oleh media massa untuk melihat hubungan DAP dengan gerakan Kristianisasi. Secara umumnya, maklumbalas yang diberikan oleh pimpinan DAP khususnya Hannah Yeoh terhadap isu yang digembar-gemburkan oleh media, ialah dengan cuba menafikan keterlibatan DAP dengan gerakan Kristianisasi di Malaysia.

Berkaitan dengan isu ini, PPP melihat DAP tiada kesungguhan untuk membersihkan nama mereka daripada tuduhan-tuduhan tersebut. Dengan sikap berlepas tangan pimpinan-pimpinan DAP yang lain dan meletakkan beban untuk menjawab isu ini hanya kepada Hannah Yeoh, menunjukkan DAP bimbang isu ini akan meletup. Tuduhan berkaitan hubungan DAP dan gerakan Kristianisasi ini bukan sahaja akan menyebabkan masyarakat Islam semakin menyedari tentang siapa sebenar DAP, bahkan masyarakat Tionghua juga yang majoritinya beragama Buddha juga akan turut sedar. Sekiranya tuduhan ini benar, DAP akan kehilangan undi yang lebih besar dari kalangan pengundi-pengundi Islam, malah berkemungkinan juga akan kehilangan undi dari pengundi-pengundi masyarakat Tionghua.

DAP sepatutnya membersihkan nama mereka lebih awal lagi terutamanya selepas penerbitan sebuah buku bertajuk “Sang Nila Utama and the Lion of Judah: Dominionism and Christian Zionism in Malaysia” pada awal tahun 2015. Buku ini ditulis oleh seorang ahli akademik dari New Zealand, Iain Buchanan, yang diterbitkan oleh International Movement for a Just World. Buchanan juga sebelum ini menghasilkan sebuah buku yang bertajuk “The Armies of God: A Study in Militant Christianity”. Di dalam kedua-dua buah buku ini, penulis cuba menggambarkan kewujudan gerakan Kristianisasi global yang melampau, digunakan oleh kuasa Imperialisme untuk mendominasikan politik dunia termasuk di negara-negara umat Islam seperti Malaysia.

Penulis telah memuatkan dalam kedua-dua buku ini bukti-bukti yang sarat tentang teori yang cuba beliau ketengahkan, iaitu wujud gerakan Kristianisasi melampau yang dipelopori oleh Imperialis, bukan sekadar penyebaran agama Kristian yang biasa seperti yang dilakukan oleh pendakwah-pendakwah Kristian yang lain. Berdasarkan pengamatan PPP, gerakan Kristianisasi melampau ini seperti yang difahami daripada tulisan Buchanan telah disekat di beberapa negara umat Kristian sendiri seperti Russia yang kuat berpegang kepada Ortodoks. Terdapat juga beberapa negara yang telah menghalang penyebaran gerakan seumpama ini, demi untuk menghalang campurtangan kuasa Imperialisme di negara-negara tersebut.

Sehubungan dengan itu, PPP mendesak supaya DAP menjawab buku Buchanan yang bertajuk “Sang Nila Utama and the Lion of Judah: Dominionism and Christian Zionism in Malaysia” kerana di dalam buku tersebut secara jelas menyebut keterlibatan pimpinan-pimpinan DAP seperti Lim Guan Eng, Hannah Yeoh dan lain-lain. Sebagai contohnya pada mukasurat 26 hingga mukasurat 34, di bawah tajuk kecil “Dominionism: Lesson from Penang”, penulis menyebut tentang kaitan kerajaan Pulau Pinang yang diketuai oleh DAP. Nama Lim Guan Eng dan Hannah Yeoh turut disebut di bawah tajuk kecil ini. PPP melihat pendedahan buku ini yang memalitkan DAP khususnya dengan gerakan Dominionism adalah perkara yang lebih utama untuk mereka jawab.

Buku yang ditulis oleh Buchanan ini, sekiranya apa yang didakwanya benar, ia merupakan ancaman kepada kestabilan negara. Penulis menyebut pada mukasurat 7 bahawa Malaysia secara khususnya sangat mudah diserang dengan gerakan Dominionism dan Christian Zionism. PPP juga mengambil perhatian bahawa penulis pernah membentang kajiannya berkaitan dengan gerakan Kristianisasi melampau ini dalam satu persidangan di Malaysia, yang dirasmikan ketika itu oleh Timbalan Menteri Pengajian Tinggi, Datuk Saifuddin Abdullah. Melihat kepada kesan besar gerakan Kristianisasi melampau yang didedahkan oleh penulis ini, PPP sekali lagi mendesak supaya DAP memberi jawapan terhadap pendedahan buku tersebut yang telah berlegar di dunia maya sejak 2015 lagi.

Dr Mohd Zuhdi Bin Marzuki
Pegarah Pusat Penyelidikan PAS

16 Mei 2017
20  Sha`ban 1438

Sabtu, 20 Mei 2017

Sesunguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara maka perbaiklah diantara saudara kamu.



Usaha pertama Baginda Rasulullah saw untuk membina masyarakat di Madinah, ialah dengan mendirikan masjid sebagai asas perpaduan. Seterusnya Baginda mempersatukan dua golongan yang telah beratus tahun bermusuhan sesama sendiri iaitu golongan Khaus dan Khazraj, lalu dikenali golongan ini sebagai Ansar. Seterusnya Baginda mempersatukan golongan yang datang daripada mekah yang diberi nama golongan Muhajirin. Hasilnya, terbentuklah satu masyarakat yang bersatu padu yang disatukan dengan ikataan ukwah Islamiah bercirikan kehendak Allah dan Rasul. Sebagaimana firmanNya ;

انما المؤمنون اخوة فاصلحوا بين اخويكم

Artinya, Sesunguhnya orang- orang Mukmin itu bersaudara maka perbaiklah diantara saudara kamu .

Islam adalah agama yang mendapat keredhaan Allah dan penuh dengan hikmah dan keberkatan.Sebagai contoh, perasaan bukanlah sessuatu yang boleh ditukar dengan wang ringgit dan harta kekayaan. Namun apabila hati manusia tersebut diikat dengan Islam dan iman, ianya akan tertambat dan berpaut menjadi satu. Ini merupakan kurniaan yang besar daripada tuhan kepada hambanya yang beriman sahaja.

Mari kita sama-sama fikirkan, kita mempunyai seorang kawan baik yang bukan Islam dan mengajak ke rumahnya untuk menjamu selera. Sudah pasti kita menolaknya. Tetapi jika dia seorang Islam, tentu tidak menjadi masalah kepada kita. Ini menunjukkan Islam menjadi titik tolak perhubungan sesama manusia. Dan Allah swt menceritakan pautan hati di kalangan Islam adalah dengan kurniaan Allah yang maha besar sebagaimana firmanNya;

و الف بين قلوبهم لو انفقت ما فى الارض جميعا ما الفت بين قلوبهم لكن الله الف بينهم انه عزيز حكيم

Artinya, Dan yang mempersatukan hati mereka. Walaupun kamu membelanjakaan semua harta kekayaan yang berada dibumi , nescaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesunguhnya dia maha perkasa lagi maha bijaksana . Al- Anfal 63

Peribahasa yang biasa kita dengar, Bersatu Teguh Bercerai Roboh merupakan ungkapan ke arah perpaduan. Hadis Nabi tidak terkecuali dalam memupuk dan menggalakkan umat Islam agar menghayati nilai-nilai perpaduan seperti kasih-sayang, hormat menghormati, dan bertolak ansur sesama Islam.

Sebagaimana hadis yang masyhur kita dengar,

لا يؤمن احدكم حتى يحب لاخيه ما يحب لنفسه

Arinya :- Tidak beriman seseorang kamu dengan iman yang sempurna, sehinggalah ia kasih kepada saudaranya sebagaimana ia kasih kepada dirinya sendiri.

Maka dengan penerangan Hadis dan Al-Quran tersebut fahamlah kita, perpaduan termasuk dalam urusan agama dan amat dituntut di dalam Islam. Manakala sifat yang suka kepada permusuhan dan perbalahan sesama Islam, amatlah di benci Allah dan Rasulnya. Sebagaimana maksud daripada sabda junjungan manusia iaitu, Yang paling Allah benci ialah yang keras kepala dalam perbalahan ( Riwayat bukhari dan muslim )

Firman Allah swt ini menunjukkan kepada kita supaya menghulurkan perdamaian jika pihak musuh ingin berbuat demikian.

وان جنحوا للسلم فاجنح لها وتوكل على الله انه هو السميع العليم-الانفال 61

Maksudnya : Dan jika pihak musuh cenderung kepada perdamaian, maka engkau juga hendaklah cenderung kepadanya serta bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya dia maha mendengar lagi maha mengetahui – al- anfal 61

Manusia yang memusuhi perpaduan adalah mereka yang telah memasuki perangkap syaitan dan kuncu- kuncunya. Perasaan dendam dan taksub tidak mengira tempat menjerumuskan seseorang ke kancah permusuhan dan perpecahan. Musuh-musuh Islam samaada yang boleh dilihat oleh mata seperti orang- orang kafir ataupun yang tidak dapat dilihat oleh mata kasar iaitulah syaitan, amat suka jika umat Islam berpecah-belah dan bercakaran sesama sendiri. Sebagaimana firman Allah swt,

وقل لعبادى يقولوا التى هى احسن ان الشيطان ينزغ بينهم ان الشيطان كان للانسان عدوا مبينا- الاسراء 53

Artinya Dan katakanlah kepada hamba- hambaku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik ( benar ) sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka . Sesunguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi kamu - Al-Israk ayat 53

Untuk memupuk perpaduan sekalipun, bukannya mudah. Namun adalah sesuatu yang tidak mustahil, tidak semestinya pada sudut politik sahaja. Banyak sudut lain atau perkara yang menjadi persamaan di antara kita umat Islam.

Langkah pertama untuk kita memupuk semangat perpaduan ialah, Kedua-dua pihak perlu mengikhlaskan diri kerana menuntut keredhaan Allah, Bukannya ada agenda tersembunyi untuk mendapatkan sesuatu kepentingan samada politik atau lainnya. Dan Insyaallah, niat yang murni akan membuka jalan yang positif.

Langkah kedua, mengkurangkan polemik berpolitik. Kedua-dua pihak hendaklah menjuruskan ke arah isu kepentingan bersama, seperti isu agama. Contohnya isu hak penjagaaan anak, apabila salah seorang ibu bapa yang bukan Islam memeluk Islam, maka hendaklah hak penjagaan anak tersebut diserahkan kepada ibu bapa yang Islam. Begitu juga isu murtad. Kedua-dua pihak boleh mengambil pendekatn bersama. Tidak kurang juga isu hak keistimewaan bumiputra yang boleh merapatkan jurang perpecahan.

Langkah ketiga, pihak yang berkuasa memegang tampuk pemerintah hendaklah mengurangkan tekanan kepada pihak yang satu lagi dan tidak menganak-tirikan golongan yang satu lagi samada dari sudut politik mahupun ekonomi.

Langkah keempat, setiap individu muslim hendaklah melihat sesuatu perkara dengan neraca fikiran, berlapang dada dan tidak menggunakaan sentimen kepartian semata- mata. Di samping itu individu muslim hendaklah berada di atas ikatan 'makasidul syariyyah' yang mengajak kita melakukan pengislahan dan menjauhkan kerosakan.

Islam menetang sebarang bentuk assabiah iaitu semangat perkauman dan menyokong kumpulannya dengan melulu tanpa berfikiran waras. Jika dahulu, assabiah boleh diertikan taksub kepada kaum sendiri, bangsa sendiri, atau kumpulan sendiri. Dan assabiah boleh diertikan juga, mereka yang melulu dan mengunakan sentimen kepartian semata- mata tanpa menilik kepada kesan jangka panjang sesuatu masalah yang dihadapi.

Rasulullah saw bersabda, bukanlah dari kalangan kami sesiapa yang menyeru kepaada assobiah, bukan dari golongan kami mereka yang berpegang atas asobiah, dan bukan dari golongan kami, sesiapa yang mati atas dasar assobiah( Abu Daud)

Jika orang Islam bersatu, tidak ada golongan lain samaada bukan Islam ataupun Islam yang rugi dan terpinggir, kerana umat Islam telah tersohor sebagai manusia yang baik dari dahulu hinggalah sekarang. Terkadang, mereka sanggup melepaskan hak mereka untuk kebaikan bersama. Tetapi, jika umat Islam berpecah, pasti ada golongan yang 'menangguk di air yang keruh' untuk mengambil kesempatan diatas kelemahan kita.

Ibnu Kasir di dalam kitabnya 'binayah wannihayat' menceritakan sejarah peperangan Jamal di antara Saidina Ali dan Aisyah. Punca perbalahannya ialah, pembunuhan Saidina Othman. Apabila ada tanda perdamaian di antara kedua pihak ini, golongan yang telah melakukan pembunuhan terhadap Saidina Osman membuat tipu helah dengan melakukan penyerangan pada malam hari di kedua–dua belah tentera ini. Maka di sangkakan pembelotan telah berlaku di kalangan tentera Saidina Ali, dan begitu juga Aisyah. Akhirnya, berlakulah peperangan yang memakan korban yang tinggi di kalangan umat Islam sendiri. Pada hakikatnya, Abdullah bin Saba dan kumpulannya ingin menyembunyikan bahawa sebenarnya, merekalah yang membunuh Saidina Osman. Tetapi dengan helah yang licik, mereka terselamat daripada hukuman.

Rasulullah ada bersabda yang maksudnya secara umum demikian, Janganlah kamu bersangatan membenci seseorang kerana mungkin suatu masa nanti ia akan menjadi sahabat kamu dan janganlah kamu melampau mengasihi seseorang kerana kemungkinan suatu hari kelak ia menjadi musuh kamu . Oleh itu, sama-samalah kita merenungkan sesuatu yang amat tingi nilainya disi Allah dan penghidupan kita.

Isnin, 8 Mei 2017

Siapa Sebenarnya ULAMA?


Penggunaan kalimat ulama di sisi kita bukanlah suatu yang asing. Gelaran ulama dalam kalangan masyarakat kita hari ini banyak diguna untuk penjenamaan tertentu seperti kepimpinan ulama, ulama tradisional, persatuan ulama, dewan ulama, ulama muda, dan yang seumpamanya.

Sejauh manakah kefahaman kita terhadap kalimat “ulama” dan siapakah sebenarnya yang tepat untuk dimaksudkan sebagai ulama? Lebih tidak enak, sejak akhir-akhir ini, nampak seakan-akan begitu mudah meletakkan gelaran ulama kepada sesiapa sahaja dalam rangka meraih populariti, publisiti dan tujuan-tujuan yang amat meragukan. Pakai jubah, pakai serban, dan boleh cakap tentang agama di atas pentas terus digelar ulama.

Dalam sejarah era para sahabat, Khalifah ‘Ali radhiyallahu ‘anhu pernah mengerahkan tentera memerangi sekumpulan manusia (kaum Khawarij) yang mana mereka yang diperangi ini memiliki sifat tekun beribadah seperti rajin solat malam, selalu berpuasa, dan begitu hebat bacaan al-Qur’annya. Disebutkan juga riwayat tentang ibadah-ibadah yang mereka lakukan adalah jauh lebih hebat mengatasi ibadah para sahabat. Namun, kumpulan manusia tersebut tetap diperangi dan dihapuskan atas beberapa sebab yang kritikal iaitu menyelisihi manhaj para sahabat dalam memahami agama dan berpisah dari ketaatan terhadap pemerintah (menjadi pemberontak).

Ini sebagaimana yang dijelaskan melalui hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bahawa tekun beribadah semata-mata bukanlah sebuah jaminan bahawa seseorang itu berada di atas landasan yang benar, apatah lagi untuk meletakkan mereka di dalam barisan alim ulama. Sabdanya:


يَخْرُجُ فِيكُمْ قَوْمٌ تَحْقِرُونَ صَلَاتَكُمْ مَعَ صَلَاتِهِمْ وَصِيَامَكُمْ مَعَ صِيَامِهِمْ وَعَمَلَكُمْ مَعَ عَمَلِهِمْ وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ


“Akan datang kepada kamu suatu kaum yang kamu akan merasa rendah apabila solat kamu dibandingkan dengan solat mereka, puasa kamu dibandingkan dengan puasa mereka, dan amal-amal kamu dibandingkan dengan amal-amal mereka. Mereka membaca al-Qur’an (tetapi) tidak melepasi kerongkong. Mereka keluar dari batas-batas (disiplin) agama seperti anak panah menembus keluar dari tubuh sasarannya.” (Shahih Al-Bukhari, no. 5058)

Pernahkah pula kita menekuni kisah imam Malik bin Anas, imam Ahmad bin Hanbal, Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyyah, dan beberapa ulama lainnya yang berfatwa dari dalam penjara? Jika kita perhatikan dari kisah mereka, bukankah ia juga dapat menterjemahkan kepada kita bahawa kriteria seseorang ulama itu bukanlah semestinya mereka berada di dalam barisan Majlis Fatwa Negara, Dewan Ulama, atau pun yang menyandang jawatan-jawatan khas hal ehwal agama tertentu di dalam negaranya. Bahkan pernah terjadi di zaman mereka ini orang-orang yang menyandang jawatan keagamaan adalah dari kalangan sesat berfahaman Jahmiyah dan Muktazilah yang menyelewengkan begitu banyak perkara-perkara agama.

Apakah Kriteria-kriteria Digelar Ulama?

Pertama, kriteria-kriteria yang tepat untuk menunjukkan seseorang itu sebagai manusia yang layak dipanggil atau digelar ulama? Sekaligus tidaklah setiap pihak atau individu bermudah-mudah dalam mengkategorikan sesiapa sahaja yang disukainya sebagai ulama yang wajar dijadikan sebagai contoh atau ikutan (diambil pendapatnya) dan berhak mengeluarkan fatwa (menyelesaikan masalah masyarakat dan umat Islam).

Seorang tokoh besar tabi’in, Muhammad bin Sirin rahimahullah (Wafat: 110H) berkata:


إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ

“Sesungguhnya ilmu itu adalah dien (petunjuk kehidupan), oleh itu telitilah dengan baik daripada siapa kamu mengambil ilmu agama.” (Muqaddimah Shahih Muslim, 1/14)

Kriteria seseorang ulama yang paling utama adalah paling takut dan paling taat kepada Allah, disebabkan mereka sangat mengenali Allah Subhanahu wa Ta’ala, nama-nama-Nya, dan sifat-sifat-Nya berdasarkan ilmu yang benar.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya dari kalangan hamba Allah yang paling takut (tunduk) kepada-Nya adalah para ulama (orang-orang yang berilmu).” (Surah Fathir, 35: 28)

Juga firman-Nya:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Katakanlah, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”.” (Surah Az-Zumar, 39: 9)

Dari ayat di atas, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menyatakan:

العالم بالرحمن [من عباده] مَنْ لم يشرك به شيئا، وأحل حلاله، وحرم حرامه، وحفظ وصيته، وأيقن أنه ملاقيه ومحاسب بعمله

“Orang ‘aalim (yang berilmu) tentang Allah yang Maha Pengasih [dari kalangan hamba-Nya] adalah orang yang tidak mensyirikkan Allah dengan sesuatu apa pun, menghalalkan dan mengharamkan sebagaimana yang ditetapkan Allah, menjaga dan memelihara tuntutan dan kehendak Allah, meyakini bahawa Allah akan menemuinya dan menghisab amal perbuatannya.” (Tafsir Ibn Katsir, 6/544)

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah (Wafat: 620H) berkata, “Di antara sifat para ulama adalah banyak meneliti tentang ilmu berkaitan amal yang berkaitan dengan perkara-perkara yang mampu menjadikan amal-amal itu rosak, mengotorkan hati, dan menimbulkan keragu-raguan. Kerana asal amalan itu adalah dekat dan mudah, tetapi yang sukar adalah bagi menjadikannya bersih. Sementara ushul agama adalah menjauhi dari segala bentuk keburukan. Dan tidak dapat menjauhi keburukan melainkan dengan apabila dia mengetahuinya. Dan sebahagian lagi sifat para ulama adalah sentiasa meneliti rahsia amal-amal berkaitan syari’ah dan mengamati hukum-hakamnya. Sehingga mereka mengetahui dengan mendalam sebab-musabab sesuatu hukum itu berada di dalam agama. Kemudian, termasuk sikap mereka juga adalah mereka sentiasa megikuti jejak langkah para Sahabat dan generasi terbaik dari kalangan Tabi’in serta mereka menjauhi segala bentuk perkara baru dalam agama (bid’ah).” (Mukhtashar Minhaj Al-Qashidin, m/s. 26 – Maktabah Daar Al-Bayaan)

Keduanya, ulama itu adalah mereka yang mewarisi dan menyampaikan apa yang disampaikan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berupa Al-Qur’an, hadis-hadis dan sunnahnya bersertakan kefahaman yang benar (faqih). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:


وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya para ulama itu adalah pewaris para Nabi. Dan para Nabi tidaklah mewariskan dinar mahu pun dirham. Namun, mereka mewariskan ilmu. Maka, sesiapa yang mengambil ilmu tersebut, benar-benar dia telah mendapat bahagian yang sangat besar.” (Sunan Abi Dawud, no. 3641. Dinilai sahih oleh al-Albani)

Berkata Imam Ibnu Hibban rahimahullah (Wafat: 354H):

في هذا الحديث بيان واضح أن العلماء الذين لهم الفضل الذي ذكرنا هم الذين يعلمون علم النبي صلى الله عليه وسلم دون غيره من سائر العلوم ألا تراه يقول: “العلماء ورثة الأنبياء” والأنبياء لم يورثوا إلا العلم وعلم نبينا صلى الله عليه وسلم سنته فمن تعرى عن معرفتها لم يكن من ورثة الأنبياء

“Dalam hadis ini terdapat penjelasan yang sangat jelas bahawa ulama yang memiliki keutamaan yang kami ulas adalah mereka yang mengajarkan ilmu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sahaja, bukan yang mengajarkan ilmu-ilmu lain. Bukankah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Ulama adalah pewaris para nabi” dan para nabi tidak mewariskan apa pun melainkan ilmu dan ilmu Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah sunnahnya. Sesiapa pun yang tidak mengetahui sunnah, maka bukanlah pewaris para nabi.” (Shahih Ibn Hibban, 1/291 – Tahqiq Syua’ib Al-Arna’uth)

Ilmu di sini adalah meliputi sehingga kepada seluruh cabang-cabang ilmu dalam agama, sama ada aqidah, hadis, tafsir, fiqh, atsar para sahabat dan termasuklah penguasaan bahasa (bahasa arab). Dan ilmu tersebut dibawa pula oleh orang-orang yang terpercaya sebagaimana hadis berikut:

يحمل هذا العلم من كل خلف عدوله ينفون عنه تحريف الغالين وانتحال المبطلين وتأويل الجاهلين

“Ilmu agama ini akan terus dibawa oleh orang-orang yang adil (terpercaya dan bukan fasiq) dari generasi ke generasi, yang selalu berjuang membersihkan agama dari penyelewengan maksud-maksud agama, pendustaan orang-orang sesat yang mempergunakan nama agama, dan pentakwilan agama yang salah yang dilakukan oleh orang-orang yang jahil.” (Hadis Riwayat Al-Baihaqi, Ath-Thabrani, dan Ath-Thahawi. Al-Albani menyatakan, “Hadis ini masyhur tetapi diperselisihkan keabsahannya.” (Tahrim Alat Ath-Tharb, m/s. 69) Lihat juga: Misykah Al-Mashabih dengan Tahqiq Al-Albani, no. 248)

Dari itu, mereka yang menyampaikan segala sesuatu yang tidak terdapat dalam sunnah-sunnah Rasulullah dengan menyandarkannya atas nama agama atau sunnah, maka tindakan tersebut memerlukan kepada penelitian dan perincian kerana takut-takut ianya termasuk ke dalam ciri-ciri penyebar dan pembuat bid’ah (mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama).

Sebab itulah Al-Imam Al-Barbahari rahimahullah (Wafat: 329H) mengatakan:

واعلم أن العلم ليس بكثرة الرواية والكتب ولكن العالم من اتبع الكتاب والسنة وإن كان قليل العلم والكتب ومن خالف الكتاب والسنة فهو صاحب بدعة وإن كان كثير الرواية والكتب

“Dan fahamilah bahawa ilmu itu bukanlah dengan banyaknya riwayat dan kitab, tetapi yang dikatakan sebagai ‘aalim (orang yang berilmu) itu adalah orang yang mengikuti Al-Kitab dan sunnah walaupun hanya sedikit ilmu dan kitabnya. Sesiapa yang menyalahi Al-Kitab dan As-Sunnah maka dia adalah ahli bid’ah walaupun ilmu dan kitabnya banyak.” (Syarh As-Sunnah, m/s. 45, no. 81)

Ketiga, ulama memiliki ilmu yang mendalam terhadap agama dan mampu menganalisa serta merungkaikan kepelbagaian persoalan agama dan ilmu-ilmunya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ

“Dan itulah contoh-contoh yang kami buat untuk manusia, dan tiada yang memahaminya melainkan orang-orang yang berilmu.” (Surah Al-Ankabut, 29: 43)

Abu Qasim Al-Ashbahani rahimahullah (Wafat: 425H) memberitahu kepada kita, “Bahawasanya ahli kalam (golongan pemikir atau ahli falsafah) tidaklah termasuk ulama. Para ulama Salaf (terdahulu) berkata, “Seseorang tidak boleh menjadi imam di dalam agama sehingga dia memiliki kriteria berikut:

1 – Memahami bahasa arab berserta pelbagai perkara yang berhubung dengannya termasuk menguasai makna-makna syair arab,

2 – memahami perbezaan pendapat di antara para ulama atau ahli fiqh,

3 – seorang yang berilmu,

4 – mengerti tentang i’rab (tatabahasa arab dari kata per kata),

5 – memahami al-Qur’an berserta bacaan-bacaannya dan perbezaan di antara para qurra’ (para periwayat bacaan al-Qur’an),

6 – menguasai tafsir sama ada berkaitan ayat-ayat muhkam (yang jelas) atau pun mutasyabihat (yang samar-samar), yang nasikh (yang memansuhkan) mahu pun yang mansukh (yang dimansuhkan) serta pelbagai kisah di dalamnya,

7 – memahami hadis-hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, dapat membezakan di antara yang sahih dan sebaliknya, yang bersambung atau pun terputus, hadis-hadis mursal dan sanad-sanadnya, yang masyhur, dan yang gharib,

8 – serta mengetahui perkataan-perkataan (atsar) para Sahabat radhiyallahu ‘anhum,

9 – kemudian dia wajib wara’, menjaga diri, jujur, terpercaya, membina (mengeluarkan) pendapat dan agamanya berpandukan kitabullah dan sunnah Rasul-Nya”.” (Sallus Suyuf wal Asinnah ‘ala Ahlil Hawa wa Ad’iya’ As-Sunnah oleh Tsaqil Shalfiq Al-Qasimi, m/s. 85-86 – Terjemahan/Terbitan Pustaka As-Sunnah)

Dengan ilmu tersebutlah kemudiannya orang-orang yang berilmu dari kalangan ulama ini menegakkan tauhid dan menegakkan keadilan (al-haq). Iaitu dengan tidak menyembunyikan ilmu serta sentiasa menyebarkan kebenaran dengan cara mengajar, menerapkan nilai-nilai agama, mengajak kepada kebaikan, dan melarang manusia dari segala bentuk kemungkaran di atas prinsip-prinsipnya.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:


شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ


“Allah mempersaksikan bahawasanya tiada yang berhak diibadahi (dengan benar) melainkan Dia, dan para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian), yang menegakkan dengan keadilan. Tiada yang berhak diibadahi (dengan benar) melainkan Dia, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Surah Ali ‘Imran, 3: 18)

Keempat, dengan kriteria dan keilmuan tersebutlah masyarakat menjadikan mereka sebagai tempat rujukan sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala agar kita sentiasa merujuk kepada orang yang mengetahui (berilmu). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Bertanyalah kamu kepada Ahl Adz-Dzikri (orang yang berilmu iaitu dari kalangan ulama) apabila kamu tidak mengetahui.” (Surah An-Nahl, 16: 43)

Al-Imam Ibn Al-Qayyim rahimahullah menyatakan:

واهل الذكر هم اهل العلم بما انزل على الانبياء
“Dan Ahli dzikir itu adalah orang-orang yang memiliki ilmu terhadap apa-apa yang Allah turunkan kepada para nabi.” (Miftah Daar As-Sa’aadah, 1/52)


Al-Imam Ibn Qutaibah rahimahullah (Wafat: 276H) berkata, “Sekiranya masalah yang rumit di antara kedua perkara tersebut dikembalikan kepada orang yang berilmu yang memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka jelaslah bagi mereka manhaj tersebut dan jalan keluarnya pun menjadi luas, tetapi ada sesuatu yang menghalang mereka, iaitu sibuk mencari kekuasaan, suka mengikut keyakinan dan perkataan-perkataan saudara-saudaranya.” (Sallus Suyuf wal Asinnah ‘ala Ahlil Hawa wa Ad’iya’ As-Sunnah, m/s. 83 – Terjemahan/Terbitan Pustaka As-Sunnah)

Al-Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal rahimahullah (Wafat: 241H) mengatakan:

إذا كان عند الرجل الكتب المصنفة فيها قول رسول الله – واختلاف الصحابة و التابعين فلا يجوز أن يعمل بما شاء ويتخير فيقضي به ويعمل به حتى يسأل أهل العلم ما يؤخذ به فيكون يعمل على أمر صحيح

“Jika di hadapan seseorang itu ada beberapa kitab yang disusun di mana di dalamnya mengandungi perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, pendapat-pendapat yang berbeza dari kalangan para sahabat dan tabi’in, maka dia tidak boleh mengamalkan, memilih, dan memutuskan sesuatu pendapat berdasarkan kehendaknya (semata-mata), tetapi dia perlu bertanya terlebih dahulu kepada ahlul ilmi (para ulama) tentang apa yang harus dia ambil sehingga dia dapat bertindak berdasarkan suatu pendapat yang sahih.” (I’lam al-Muwaqqi’in, 1/44)

Demikianlah beberapa kriteria yang dapat diungkapkan dari beberapa sumber rujukan berkenaan ciri-ciri ulama yang dengannya supaya kita tidak bermudah-mudah menobatkan seseorang sebagai ulama atau mengangkat perkataan sesiapa sahaja atas tiket gelaran ulama tanpa asas yang tepat. Bahkan kitalah yang perlu bersama-sama duduk bersimpuh menuntut ilmu kepada para ulama yang memiliki ciri-ciri pewaris Nabi serta berhati-hati kepada sesiapa sahaja yang sering mendabik dada bahawa dirinya adalah ulama, terutamanya dalam rangka meraih populariti politik demokrasi akhir-akhir ini. Tidaklah dinamakan sebagai ulama orang-orang yang mempergunakan agama untuk mengkritik, mencela, mengumpat, dan mengaibkan pemerintah walaupun kebanyakan orang menggelarkannya sebgai ulama. Sebaliknya sikap suka mengkritik, mencela, mengumpat, dan mengaibkan pemerintah adalah sebahagian ciri-ciri ahli bid’ah dari kalangan khawarij.

Tidak juga dikatakan sebagai ulama kepada mereka yang pantang ditanya terus berfatwa itu dan ini tanpa landasan fakta yang boleh dipertanggungjawabkan (dari Al-Qur’an dan As-Sunnah di atas kefahaman ahli sunnah wal-jama’ah).

Al-Imam ‘Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah (Wafat: 198H) berkata:


احْفَظْ، لَا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ الرَّجُلُ إِمَامًا حَتَّى يَعْلَمَ مَا يَصِحُّ مِمَّا لَا يَصِحُّ، وَحَتَّى لَا يحْتَجُّ بِكُلِّ شَيْءٍ، وَحَتَّى يَعْلَمَ بِمَخَارِجِ الْعِلْمِ

“Hafalkanlah, tidak boleh seseorang itu menjadi imam (orang yang diambil pendapatnya dan teladan) sampailah dia mengetahui apa yang sahih dari apa yang tidak sahih, dan sampailah dia tidak berhujah dengan setiap sesuatu (yang dia capai), dan sampai dia mengetahui tempat keluarnya ilmu (iaitu dari mana ilmu seharusnya diambil).” (Hilyat ul-Awliyaa oleh Abu Nu’aim, 9/3)

Dan ketahuilah bahawa ulama juga adalah manusia. Dan tidak semestinya ulama wajib untuk mengetahui setiap perkara dan apa yang dipertanyakan. Bahkan termasuk ciri-ciri orang yang berilmu juga adalah orang yang mampu mengatakan, “Aku tidak tahu” terhadap apa yang tidak diketahuinya. Dia tidak menokok-tambah sesuatu pun ke dalam agama, dan dia tidak mengolah agama mengikut hawa nafsunya.


‘Abdullah bin Mas’oud radhiyallahu ‘anhu mengatakan:


يَا أَيُّهَا النَّاسُ مَنْ عَلِمَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ بِهِ وَمَنْ لَمْ يَعْلَمْ فَلْيَقُلْ اللَّهُ أَعْلَمُ فَإِنَّ مِنْ الْعِلْمِ أَنْ يَقُولَ لِمَا لَا يَعْلَمُ اللَّهُ أَعْلَمُ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِنَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنْ الْمُتَكَلِّفِينَ

“Wahai manusia, sesiapa yang mengetahui sesuatu hendaklah dia mengatakannya, dan sesiapa yang tidak mengetahui hendaklah dia mengatakan, “Allahu A’lam (Allah lebih mengetahui)”.

Kerana termasuk sebahagian dari ilmu adalah mengatakan “Allahu A’lam” bagi sesuatu yang tidak diketahuinya.” Kemudian beliau menyebutkan firman Allah (Surah Shaad, 38: 86),

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas dakwahku dan bukanlah aku dari kalangan orang yang mengada-adakan.”.” (Shahih Al-Bukhari, no. 4809)

Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah (Wafat: 241H) pernah mengatakan:

ينبغي للرجل إذا حمل نفسه على الفتيا أن يكون عالما بالسنن عالما بوجوه القرآن عالما بالأسانيد الصحيحة وذكر الكلام المتقدم

“Wajib bagi seseorang yang meletakkan dirinya sebagai pemberi fatwa untuk mengetahui (dengan mendalam) tentang As-Sunnah, mengetahui (dengan mendalam) kepelbagaian ilmu Al-Qur’an, sanad-sanad yang sahih, dan pendapat (perkataan-perkataan) orang-orang terdahulu.” (I’lam Al-Muwaqqi’in, 1/46)

Sehingga Imam Malik rahimahullah (Wafat: 179H) yang merupakan seorang tokoh dan bintang kepada para ulama menegaskan pendiriannya dengan penuh tawadhu’:

ما أفتيت حتى شهد لي سبعون أني أهل لذلك
“Aku tidak berfatwa sehinggalah tujuh puluh orang (ulama) mengakui bahawa aku layak berfatwa.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 8/96)

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah (Wafat: 204H) pula menyatakan:

لا يحل لأحد أن يفتي في دين الله إلا رجلا عارفا بكتاب الله بناسخه ومنسوخه ومحكمه ومتشابهه وتأويله وتنزيله ومكيه ومدنيه وما أريد به ويكون بعد ذلك بصيرا بحديث رسول الله ص – وبالناسخ والمنسوخ ويعرف من الحديث مثل ما عرف من القرآن ويكون بصيرا باللغة بصيرا بالشعر وما يحتاج إليه للسنة والقرآن ويستعمل هذا مع الإنصاف ويكون بعد هذا مشرفا على اختلاف أهل الأمصار وتكون له قريحة بعد هذا فإذا كان هكذا فله أن يتكلم ويفتي في الحلال والحرام وإذا لم يكن هكذا فليس له أن يفتي

“Tidak halal memberikan fatwa dalam permasalahan agama melainkan bagi seseorang yang memiliki pengetahuan tentang Al-Qur’an, sama ada berkaitan ayat nasikh dan mansukhnya, ayat muhkamat dan mutasyabihatnya, tafsir dan sebab turunnya, ayat makiyah dan madaniyahnya, dan setiap isi kandungannya. Setelah itu dia wajib mengetahui hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sama ada hadis nasikh atau mansukhnya, dan dia wajib mengetahui hadis tersebut sebagaimana dia mengetahui Al-Qur’an serta perlu menggunakan perkara tersebut dengan adil. Kemudian dia wajib mengetahui perbezaan pendapat orang-orang yang berilmu (para ulama) dari pelbagai penjuru lalu mendalaminya. Apabila telah seperti itu, maka dibolehkan baginya untuk mengemukakan pendapat dan memberikan fatwa dalam persoalan halal dan haram. Seandainya tidak seperti itu, maka tidak boleh baginya untuk berfatwa.” (I’lam Aal-Muwaqqi’in, 1/46)

Wallahu a’lam.

Dipetik dari:

Abu Numair
www.ilmusunnah.com

Ahad, 7 Mei 2017

AKIBAT MENGHINA ULAMAK

Akhir-akhir ini ada sebahagian orang yang suka mencemarkan nama 1 atau sekumpulan ulama. Kemudian mereka meninggalkan dan tidak mengambil pendapat atau fatwa mereka, serta berlepas diri dari bimbingan mereka ... Lalu apa kesan dan risikonya? Padahal di sebutkan di dalam satu hadis, para Ulama ini adalah "Delegasi" Allah di muka bumi atas makhluknya. Merekalah yang mewarisi ilmu dari para Nabi.

Jika benar manusia sekarang sudah lari dan menjauhi ulama’ maka ada 3 adzab yang menimpa umat ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits

سَيَأْتِيْ زَمَانٌ عَلَى اُمَّتِيْ يَفِرُّوْنَ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَالْفُقَهَاءِ فَيَبْتَلِيْهِم اللهُتَعَالَى بِثَلاَثِ بَلِيَّاتٍ:

Akan datang kepada umatku suatu masa dimana mereka lari menjauhi ulama’ dan fuqoha’ (ahli fiqih), maka Allah menurunkan tiga bala’ untuk mereka.

Pertama

اُوْلاَهَا يَرْفَعُ بَرَكَةَ مِنْ كَسْبِهِمْ

Allah menghilangkan barokah dari usaha mereka

Benarkah saat ini mencari harta yang barokah sukar? Kalau tidak benar kenapa para konglomerat nakal, para pejabat korup yang sudah berharta trilyunan masih gila harta, masih memakan harta rakyat? Jawabnya kerana hartanya sudah tidak barokah. Hasil usaha yang tidak barokah pasti membawa kesan negatif, bila dimakan tidak menambah kenyang tapi malah kurang dan semakin rakus.

Makanan yang masuk menyebabkan tubuh malas beribadah, dan kebanyakan berakhir menjadi suatu penyakit. Harta yang tidak barokah bila digunakan untuk kos pendidikan anak bukannya menjadikan anak semakin baik melainkan malah menjadi semakin buruk, digunakan berfoya-foya, zina, dadah, sekurang-kurangnya menyebabkan anak berani terhadap orang tua. Lantas jika ingin selamat dari harta yang tidak barokah jalan satu-satunya adalah mendekat pada para ulama '.

Kedua

وَالثَّانِيَةُ يُسَلِّطُ اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِمْ سُلْطَانًا ظَالِمًا

Allah mengangkat penguasa untuk mereka, penguasa yang zalim.

Akibat jauh dari para ulama ', banyak diantara kita memilih pemimpin, pegawai, anggota dewan bukan lagi atas dasar kemampuannya berbuat adil tetapi kerana kemasyhuran beliau, atau kerana obral janjinya, atau kerana obral hartanya. Sehingga ketika menjawat jawatan mereka bukannya menjadi pengayom rakyat, pembawa suara rakyat, malah memakan harta rakyat.

Ketiga

وَالثَّالِثَةُ يَخْرُج. ُ مِنَ الدُّنْيَا بِغَيْرِ اِيْمَان ٍ

Mereka keluar dari dunia (mati) dalam keadaan tanpa iman. Dengan kata lain Su'ul Khatimah. Dan inilah Azab yang paling ditakutkan, naudzu billahi min dzalik.

Jika hal ini terjadi maka kesengsaraan yang dialami bukan tahunan melainkan kekal selama-lamanya disiksa di api neraka.

Oleh karena itu, Bila menghormati para ulama diperintahkan, maka sebaliknya menghina dan merendahkan mereka dilarang, sungguh betapa mengerikan jika ada seorang muslim berani menghina Ulama Shalafus Shalih, ingin tahu bahayanya lainnya??

1. Menghina ulama akan menyebabkan rusaknya agama

Berkata Al-Imam Ath-Thahawi –rahimahullah- :
“Ulama salaf dari kalangan ulama terdahulu, demikian pula para tabi’in, harus disebut dengan kebaikan. Maka siapa yang menyebut mereka dengan selain kebaikan maka dia berada di atas kesesatan”

Berkata Al-Imam Ibnul Mubarak –rahimahullah- :
"Siapa yang mengganggu ulama, akan hilang akhiratnya. Siapa yang mengganggu umara '(pemerintah), akan hilang dunianya. Siapa yang mengganggu teman-temannya, akan hilang kehormatannya "

Dan mencela ulama termasuk diantara dosa-dosa besar.

2. Orang yang menghina ulama sama artinya dia mengumumkan perang kepada Allah. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits tentang wali Alloh yang diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari -rahimahullah- dari Abu Hurairah -radhiyallohu 'anhu-:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ : مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْآذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ – …رواه البخاري

Dari Abu Hurairah”Sesungguhnya Allah ta’ala telah berfirman :

‘Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka sesungguhnya Aku menyatakan perang terhadapnya…[HR. Al Bukhari]

Dan para ulama, mereka adalah termasuk wali-wali Allah.

3. Orang yang menghina ulama sengaja mencampakkan dirinya untuk terkena do’a dari seorang alim yang terzhalimi. Hal ini sebagaimana kisah salah seorang Shahabat yang bernama Sa’ad bin Abi Waqqash –radhiyallohu ‘anhu- dan beliau termasuk salah seorang dari 10 Shahabat yang dijamin dengan Surga.

4. Orang yang mencibir para ulama maka ia akan dijerumuskan kepada apa yang ia tuduhkan kepada ulama itu.

Berkata Ibrahim An-Nakha-i –rahimahullah- :

"Aku mendapati dalam jiwaku keinginan untuk membicarakan aib seseorang; akan tetapi yang mencegahku dari memperkatakannya adalah aku bimbang jika aib orang itu ternyata menimpa diriku "

5. Orang yang merasa lezat dengan meng-ghibah para ulama maka ia akan diberikan su-ul khatimah (akhir kehidupan yang jelek)

Al-Qadhi Az-Zubaidi, ketika dia meninggal dunia lisannya berubah menjadi hitam, hal ini dikarenakan dia suka mencibir Al-Imam An-Nawawi.

6. Daging para ulama itu beracun Berkata Imam Ahmad bin Hanbal –rahimahullah- :

“Daging para ulama itu beracun. Siapa yang menciumnya maka ia akan sakit. Siapa yang memakannya maka ia akan mati.”

7. Mencela ulama merupakan sebab terbesar bagi seseorang untuk terhalangi dari dapat mengambil faidah dari ilmu para ulama.

Berkata Al-Imam Hasan Al-Bashri –rahimahullah- : “Dunia itu seluruhnya gelap, kecuali majelis-majelisnya para ulama.”

Demikianlah dampak bahayanya menjauh, terlebih membenci dan meninggalkan diri dari bimbingan para ulama.

Semoga kita Allah persatukan di bawah bimbingan para Ulama Billah wa Fillah. Dan tidak di kelompokkan menjadi para pembenci kekasih-kekasih kekasih Allah.

Sabtu, 6 Mei 2017

Bolehkah umat Islam mengambil parti politik sebagai jalan atau kaedah, dan bertanding dalam sistem pilihanraya, untuk memperjuang agama?

0leh: AZMAN HUSSIN

SISTEM demokrasi dikatakan suatu sistem terbaik pada zaman moden untuk memilih pemimpin atau negarawan dalam menerajui pemerintahan sesebuah negara.

Apakah demokrasi? Demokrasi lebih-kurang bermaksud dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Ia diterjemahkan dari perkataan Yunani, demos kratos (kuasa rakyat). Ia bermaksud pemerintahan dari rakyat (diputuskan mengikut kehendak rakyat terbanyak), dibuat oleh rakyat (dilaksanakan oleh rakyat), dan ditujukan kepada rakyat (dinikmati oleh seluruh rakyat).

Pengertian mudahnya ia adalah sistem sekular, memisahkan urusan dunia dan akhirat. Ia tidak terlibat dengan unsur-unsur ketuhanan.

Semuanya dari akal fikiran manusia, oleh manusia, dan untuk kehidupan manusia seluruhnya. Tiada penglibatan dan campur tangan tuhan.

Suara majoriti adalah tuhan (kebenaran) dalam demokrasi. Ini sebenarnya adalah hukum alam. Yang teramai akan mengalahkan yang lebih sedikit dalam pilihanraya, walaupun minoriti yang kuat boleh mengalahkan majoriti yang lemah dalam kes rampasan kuasa. Demokrasi boleh diringkaskan kepada maksud: sesiapa yang dipilih secara majoriti sebagai pemimpin akan sah diiktiraf menjadi pemimpin.

Jika majoriti rakyat mahu mengiktiraf seorang ateis sebagai pemimpin, maka sahlah ia (kerana ia daripada undi majoriti rakyat).

Bolehkah umat Islam mengambil parti politik sebagai jalan atau kaedah, dan bertanding dalam sistem pilihanraya, untuk memperjuang agama?

Demokrasi adalah neutral; boleh jadi baik atau tidak baik hasilnya. Bergantung kepada pengundi. Jika majoriti pengundi berakhlak baik, kesudahannya pemimpin berakhlak baiklah yang diangkat sebagai pemimpin. Akhlak pemimpin adalah gambaran, cerminan atau refleksi akhlak masyarakat akar-umbi di bawah.

Walaupun dikatakan pemimpin yang membentuk rakyat, sebenarnya situasi itu tidak begitu di dalam negara yang mengamalkan sistem demokrasi. Selagi seseorang pemimpin memerlukan undi daripada rakyat, selagi itulah rakyat yang akan membentuk watak pemimpin. Jika pemimpin tidak mengikut kehendak rakyat, ia akan kalah.

Adalah salah sama sekali mengumpamakan pemerintah dengan seorang bapa yang bertanggungjawab membentuk bagaimana akhlak si anak. Dalam demokrasi ia tidak begitu. Politikus memerlukan sokongan rakyat, maka politikus yang telah dibentuk oleh rakyat, sedangkan si ayah adalah berkuasa penuh untuk menentukan apa yang harus dilakukan oleh seorang anak.

Maka, memenangi majoriti undi rakyat adalah tujuan utama dan terpenting dalam sistem demokrasi. Rakyat boleh menyokong sesebuah parti, tetapi ia tidak bermakna rakyat akan mematuhi ajaran atau dasar-dasar yang dibawa parti. Parti politik boleh menyatukan undi, dan undi boleh saja didapatkan dari orang yang hanya menyokong tapi tidak mengikuti dasar-dasar parti. Pelacur, penipu, perasuah atau penjudi dikira sah mengundi dalam sistem demokrasi Ini tidak selari dengan misi politik yang dibawa Nabi Muhammad SAW untuk mengubah masyarakat. Orang-orang yang mengikuti baginda adalah orang yang bertaut hatinya kerana Allah SWT, yang akhlak mereka mengikut al-Quran dan sunnah nabi saw sepenuh hati.

Parti politik dapat menguatkuasakan undang-undang kepada rakyat jika memenangi pilihanraya, tetapi ia tidak dapat mengubah akhlak masyarakat. Dakwahlah yang akan mengubah akhlak masyarakat. Sebaliknya, dalam demokrasi, rakyat yang telah mengubah parti politik. Jika parti politik tidak menuruti kehendak masyarakat, ia akan kalah. Maka parti politik akan mengadaptasikan diri dengan kehendak-kehendak masyarakat. Ini tidak sama dengan jalan nabi-nabi terdahulu yang mengubah masyarakat dengan dakwah. Nabi tidak mengubah atau berkompromi dengan prinsip agama hanya kerana ingin memenangi rakyat. Pemimpin agung mengubah rakyat, bukan diubah oleh rakyat.

Politik Nabi Muhammad SAW adalah mendakwah dan menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat melalui contoh teladan baginda sendiri, sehingga Islam menjadi cara hidup (addin, budaya dan semuanya tentang kehidupan manusia). Kesempurnaan agama seseorang itu akan terpancar melalui akhlaknya. Islam Nabi SAW bukan hanya di mulut dan ceramah. Semenanjung Tanah Arab yang jahil dan zulmat menjadi terang rohaninya kerana dakwah.

Semua ini bukan dilakukan dengan undang-undang negara, tetapi kerana masyarakat telah meredhai dan menerima kebenaran Islam selepas menerima seruan dakwah Nabi SAW. Undang-undang negara hanyalah kaedah untuk melindungi rakyat. Ia seumpama pagar yang menahan rakyat daripada dicerobohi musuh-musuh. Tamsilkan sekumpulan kuda liar; Islam menjinakkan kuda, bukan membina pagar untuk mengurung kuda. Pagar hanya dibangunkan apabila kuda sudah dijinakkan untuk mengelakkan serangan serigala. Jika pagar dibina tanpa dijinakkan kuda-kuda, ia tidak ada gunanya, kuda-kudanya itu pasti merosakkan pagar. Jika rakyat tidak sepenuhnya mengamalkan suruhan agama, tidak ada maknanya sesebuah negara yang menegakkan hukum-hukum agama.

Makna di sini, Islam tidak perlukan jalan parti politik untuk menegakkan agama, bahkan negara Islam akan tertegak secara automatik jika setiap orang Islam berakhlak seperti pengikut-pengikut nabi suatu masa dulu.

Islam sebenarnya sudah ada kaedah politiknya sendiri, iaitu dakwah; memenangi hati majoriti rakyat dengan dakwah, menyampaikan kalimah kebesaran Allah. Apabila akhlak Islam menjadi budaya masyarakat, selesailah semua masalah. Masalah akhlak tidak boleh diselesaikan dengan kekuasaan politik.

Tentang kekuasaan negara, Allah SWT telah berjanji dalam ayat ini, “wahai orang-orang yang beriman, sekiranya kamu membantu (agama) Allah, maka Allah akan membantu kamu, dan mengukuhkan kaki-kaki kamu,” (Muhammad 47: 7).

Masalah asas yang sebenarnya adalah begini: parti politik memilih kuasa untuk melaksanakan hukum-hukum Islam melalui negara. Nabi Muhammad SAW pula berusaha memasyarakatkan Islam. Walaupun tidak berhajatkan kepada kekuasaan, baginda telah dikurniakan kekuasaan oleh Allah sehingga tertegaklah negara Islam Madinah. Nabi menghidupkan api (agama) untuk menerangi alam. Parti politik mencari cahaya untuk menghidupkan api, sedangkan cahaya tidak boleh didapati jika tidak dihidupkan api.

Nabi SAW bermula dari bawah, iaitu individu kepada negara. Parti politik bermula daripada negara kepada individu. Maksudnya, parti politik mahu melaksanakan Islam dengan mengambilalih negara. Tapi bagaimana negara Islam akan terbina jika individu-individunya tidak berkualiti Islam? Ia hanya akan tinggal nama sahaja sebagai negara Islam, tetapi rakyatnya tidak mengamalkan Islam sepenuhnya.

Parti politik boleh berhujah yang mereka juga berdakwah untuk memenangi rakyat. Tetapi kerana mereka lebih mengutamakan tujuan membina negara Islam, mereka sesat jalan dan terperangkap dalam tong najis demokrasi tajaan dan anjuran Yahudi dan Nasara. Tangan kanan Yahudi dan Nasara mempromosikan sistem demokrasi, tangan kiri pula mendakwah seluruh umat manusia mengikuti agama (budaya hidup) mereka melalui setiap aspek kehidupan. Maka majoriti yang terperangkap dalam lubang biawak Yahudi dan Nasara inilah yang akan memenangkan pemimpin berakhlak seperti mereka.

Itulah demokrasi. Suatu hukum alam yang memenangkan pihak majoriti.

Kenyataannya: Nabi Muhammad SAW mengubah akhlak masyarakat tanpa menubuhkan parti atau menyertai suku-suku kaum tertentu. Baginda menyatukan semua parti (suku-suku kaum) dengan dakwah Islam. Politikus boleh menguatkuasakan undang-undang, tetapi ia tidak dapat menahan rakyat dari melanggar undang-undang tersebut.

Walaupun Islam itu suatu sistem hidup yang syumul dan menyeluruh, tetapi politik dalam Islam bukanlah politik yang berlandaskan sistem demokrasi, iaitu menurut suara majoriti. Politik Islam adalah dakwah, tabligh, menyampaikan seruan agama dan mengajak manusia kepada ketaatan kepada perintah Allah SWT, kerana jika rakyat mentaati perintah Allah SWT akan tegaklah negara seperti Madinah, negara Islam contoh dalam sejarah.

Bahkan politik yang paling agung adalah mengajak dan menyeru umat manusia kepada kebesaran Allah SWT.

Manusia Tidak Diciptakan Secara Sia-sia.


Manusia tidak diciptakan secara sia-sia. Kerana itu manusia harus memahami tujuan apa dia diciptakan, apakah tugas yang harus dilakukan dan apakah peraturan yang perlu diikuti. Mereka yang beranggapan bahawa kejadian manusia adalah tanpa tujuan adalah jahil. Adalah mustahil sesuatu kejadian yang besar terjadi tanpa ada tujuan. Sebagai contoh, kita perhatikan setiap anggota badan kita ada hikmat atau tujuan tertentu. Setiap anggota menjalankan tugas atau fungsi masing-masing bagi menyempurnakan kehidupan kita. Mulut bertugas untuk makan demi kebaikan seluruh badan. Jantung pula berfungsi mengepam darah ke seluruh anggota badan. Demikian juga setiap anggota badan yang lain, semuanya mempunyai fungsi tersendiri, saling lengkap-melengkapi. Kalaulah setiap anggota badan manusia itu dijadikan untuk sesuatu hikmah, maka sudah tentulah kejadian manusia itu sendiripun adalah untuk sesuatu hikmah atau tujuan tertentu. Malangnya orang yang tidak beriman tidak dapat menyelami hikmah penciptaan manusia. Ini kerana hikmah sesuatu barang ciptaan tidak akan diketahui sesiapa, kecuali melalui pemberitahuan dari orang yang mencipta barang tersebut ataupun wakilnya.

Orang yang beriman kepada Allah s.w.t. mengetahui hikmah pencitaan mereka iaitu untuk mentaati Penciptanya dan beribadat kepada-Nya. Oleh itu tidak ada sebarang benda ciptaan kecuali ia akan beroperasi menurut kehendak penciptanya. Dalam hal penciptaan manusia, Allah s.w.t. menjelaskan di dalam firman-Nya:

Terjemahan: dan (ingatlah) Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mereka menyembah dan beribadat kepadaKu. Aku tidak sekali-kali menghendaki sebarang rezeki pemberian dari mereka, dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepadaKu. Sesungguhnya Allah s.w.t. Dia lah sahaja Yang memberi rezeki (kepada sekalian makhlukNya, dan Dia lah sahaja) Yang mempunyai kekuasaan Yang tidak terhingga, lagi Yang Maha kuat kukuh kekuasaanNya. (Surah al Dzariyat:56-58).

Allah s.w.t. menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi yang bertanggungjawab mengimarahkan (memajukan) alam dunia ini mengikut kehendak-Nya. Dernikianlah bentuk ibadat dan ketaatan yang Allah s.w.t. tuntut daripada manusia. Kita diperintahkan supaya melakukan segala suruhan-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Firman Allah s.w.t. :

Terjemahan: dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat; "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi". mereka bertanya (tentang hikmat ketetapan Tuhan itu Dengan berkata): "Adakah Engkau (Ya Tuhan kami) hendak menjadikan di bumi itu orang Yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah (berbunuh-bunuhan), padahal Kami sentiasa bertasbih Dengan memujiMu dan mensucikanMu?". Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui akan apa Yang kamu tidak mengetahuinya". (Surah al Baqarah:30).

Dengah amanah kekhalifahan ini maka setiap manusia diuji tentang ketaatan mereka sama ada mereka telah menjalankan tugas menurut yang diarnanahkan atau sebaliknya. Dari sinilah dapat dibezakan di antara orang yang beriman dengan mereka yang kufur yakni tidak beriman. Firman Allah s.w.t. :

Terjemahan: dan Demi sesungguhnya, kamu tetap datang kepada Kami (pada hari kiamat) Dengan bersendirian, sebagaimana Kami jadikan kamu pada mulanya; dan kamu tinggalkan di belakang kamu apa Yang telah Kami kurniakan kepada kamu; dan Kami tidak melihat beserta kamu penolong-penolong Yang kamu anggap dan sifatkan Bahawa mereka ialah sekutu-sekutu Allah s.w.t. Dalam kalangan kamu. Demi sesungguhnya, telah putuslah perhubungan antara kamu (dengan mereka), dan hilang lenyaplah daripada kamu apa Yang dahulu kamu anggap dan sifatkan (memberi faedah dan manfaat). (Surah al An’am:94).

Mereka yang beriman kepada Allah s.w.t. akan mendapat keredhaan dan kebaikan daripada-Nya, sementara mereka yang kufur akan berakhir dengan keburukan dan kemurkaan-Nya. Setelah diberi tempoh masa tertentu di bumi manusia akan dikembalikan kepada Allah s.w.t. untuk dihitung amal perbuatannya serta ditentukan balasannya. Firman Allah s.w.t. :

Terjemahan: dan (ingatlah), Allah s.w.t. menciptakan langit dan bumi Dengan cara Yang sungguh layak dan berhikmat (untuk membuktikan keesaanNya dan keadilanNya), dan supaya tiap-tiap diri diberi balasan Dengan apa Yang mereka telah kerjakan (baik atau jahat), sedang mereka tidak dikurangkan balasannya sedikitpun. (Surah al Jathiah:22).

Kalaulah kita yakin bahawa setiap anggota badan kita ada mempunyai fungsi dan tidak dijadikan secara sia-sia, maka sudah pastilah manusia itu tidak diciptakan secara sia-sia, malah mempunyai hikmahnya yang tersendiri. Kalaupun hikmah penciptaan manusia itu tidak begitu teserlah di alam dunia ini ia pasti akan teserlah di akm Akhirat nanti, iaitu alam yang akan ditempohi setiap manusia. Keadaan kehidupan di dunia ini boleh kita umpamakan seperti kehidupan janin di dalam perut ibu. Janin itu tentu tidak dapat memikirkan manfaat atau hikmah dia dikurniakan dua biji mata sedangkan ianya sedikitpun tidak berfaedah (semasa dalam rahim). Kenapakah dia diciptakan dua paru-paru sedangkan ia tidak mempunyai nilai sekarang (semasa dalam rahim). Apakah tujuan semua kejadian itu? Tetapi kalaulah janin itu menunggu sehingga dia lahir ke dunia, pasti dia akan mendapati bahawa semua kurniaan itu ada hikmahnya. Hikmah yang dia tidak dapat dia mengetahuinya semasa masih berada di dalam rahim.

Apakah-perkembangan dan perjalanan kita di dalam kehidupan dunia ini tidak sama dengan perkembangan kita di dalam rahim ibu?

Apakah tidak serupa kematian itu dengan kelahiran? Apakah tidak sama keluarnya manusia dari dunia ini dengan keluarnya mereka dari rahim ibu? Firman Allah s.w.t. :

Terjemahan: Wahai umat manusia, sekiranya kamu menaruh syak (ragu-ragu) tentang kebangkitan makhluk (hidup semula pada hari kiamat), maka (perhatilah kepada tingkatan kejadian manusia) kerana sebenarnya Kami telah menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setitik air benih, kemudian dari sebuku darah beku, kemudian dari seketul daging Yang disempurnakan kejadiannya dan Yang tidak disempurnakan; (Kami jadikan secara Yang demikian) kerana Kami hendak menerangkan kepada kamu (kekuasaan kami); dan Kami pula menetapkan Dalam kandungan rahim (ibu Yang mengandung itu) apa Yang Kami rancangkan hingga ke suatu masa Yang ditentukan lahirnya; kemudian Kami mengeluarkan kamu berupa kanak-kanak; kemudian (kamu dipelihara) hingga sampai ke peringkat umur dewasa; dan (dalam pada itu) ada di antara kamu Yang dimatikan (semasa kecil atau semasa dewasa) dan ada pula Yang dilanjutkan umurnya ke peringkat tua nyanyuk sehingga ia tidak mengetahui lagi akan sesuatu Yang telah diketahuiNya dahulu. dan (ingatlah satu Bukti lagi); Engkau melihat bumi itu kering, kemudian apabila Kami menurunkan hujan menimpanya, bergeraklah tanahnya (dengan tumbuh-tumbuhan Yang merecup tumbuh), dan gembur membusutlah ia, serta ia pula menumbuhkan berjenis-jenis tanaman Yang indah permai. (Surah al Hajj:5).

Maha suci Allah s.w.t. daripada melakukan sesuatu yang sia-sia. Manusia telah diciptakan daripada tanah, dibentuk dari nutfah dan seterusnya dibentuk dalam sebaik-baik kejadian. Sudah tentulah penciptaan yang begitu sempurna itu raerapunyai tujuan yang besar. Bukan setakat untuk kehidupan yang sementara di dunia, tetapi yang lebih penting ialah untuk kehidupan yang lebih sempurna di Akhirat. Firman Allah s.w.t.

Terjemahan: "Maka Adakah patut kamu menyangka Bahawa Kami hanya menciptakan kamu (dari tiada kepada ada) sahaja Dengan tiada sebarang hikmat pada ciptaan itu? dan kamu (menyangka pula) tidak akan dikembalikan kepada kami?" Maka (dengan Yang demikian) Maha Tinggilah Allah s.w.t. Yang Menguasai seluruh alam, lagi Yang tetap benar; tiada Tuhan melainkan Dia, Tuhan Yang mempunyai Arasy Yang mulia. (Surah al Mukminun:115-116).

Allah s.w.t. mengingatkan manusia bahawa kehidupan mereka tidak berakhir di dunia ini, malah akan ada alam lain yang akan ditempohi manusia. Firman Allah s.w.t. :

Terjemahan: Patutkah manusia menyangka, Bahawa ia akan ditinggalkan terbiar (dengan tidak diberikan tanggungjawab dan tidak dihidupkan menerima balasan)? Bukankah ia berasal dari air mani Yang dipancarkan (ke Dalam rahim)? Kemudian air mani itu menjadi sebuku darah beku, sesudah itu Tuhan menciptakannya, dan menyempurnakan kejadiannya (sebagai manusia)? Lalu Tuhan menjadikan daripadanya dua jenis - lelaki dan perempuan. Adakah (Tuhan Yang menjadikan semuanya) itu - tidak berkuasa menghidupkan orang-orang Yang mati? (tentulah berkuasa)! (Surah al Qiyamah:36-40).

Allah s.w.t. menciptakan untuk manusia sesuatu yang sesuai dengan fitrahnya. Sebagai contoh, setiap anggota badan manusia ada fungsinya yang tersendiri, kaki untuk berjalan, mata untuk melihat, mulut untuk makan dan begitulah seterusnya. Justru itu menjadi tanggungjawab manusia untuk memelihara fitrah tersebut supaya bersesuaian dengan fitrah kejadiannya. Manusia yang menukar fitrah kejadian sesuatu dengan tujuan asal penciptaannya adalah melakukan penyelewengan dan kerosakan.

Allah s.w.t. telah menjelaskan kepada manusia bahawa tujuan penciptaan mereka adalah untuk beribadat kepada-Nya. Malangnya orang yang tidak beriman mengubah hikmah penciptaan manusia. Mereka merasa sombong dan enggan beribadat kepada Allah s.w.t. Perbuatan mereka yang menyeleweng daripada fitrah kejadian manusia itu hanya akan merugikan diri sendiri. Akibat buruk penyelewengan mereka daripada fitrah asal kejadian manusia itu akan mereka ketahui di Akhirat kelak di mana mereka akan dimasukkan ke Neraka Jahanam. Firman Allah s.w.t. :

Terjemahan: Iaitu orang-orang Yang mendustakan Al-Quran dan Segala Yang dibawa oleh Rasul-rasul Kami Yang telah Kami utus; maka mereka akan mengetahui kelak. Ketika belenggu dan rantai dipasung di leher mereka, sambil mereka, diseret. Ke Dalam air panas Yang menggelegak; kemudian mereka dibakar Dalam api neraka; (Surah al Mukmin:70-72).

Bentuk pengibadatan yang Allah s.w.t. tuntut daripada manusia ialah supaya manusia menjalani kehidupan di atas muka bumi ini menurut kehendak dan hidayah-Nya. Ertinya ibadat itu bukan sahaja terbatas kepada soal sembahyang dan puasa sahaja, tetapi meliputi semua perlakuan manusia. Semua perlakuan manusia yang berada dalam lindungan yang dibenarkan Allah s.w.t. adalah dikira ibadah. Sementara apa jua perintah atau ajaran yang mengajak manusia ke arah yang lain daripada tujuan asal penciptaannya, maka itu adalah maksiat dan kederhakaan kepada Allah s.w.t.