Ahad, 20 April 2014

Penghinaan Terkini Mahathir Terhadap Hudud Dan Jawapan Pemimpin Pas




Diterbitkan pada 18 Apr 2014

Kenyataan terbaru Mahathir berkaitan Hukum Hudud. Beliau terus mempertikai Hukum Hudud yang pada pandanganya tidak adil kerana hanya dikenakan kepada orang islam. (Allah tidak adil !!!!!)

Disertakan penjelasan menarik oleh Ust Nasuruddin Daud bersama nas2 Al Quran berkaitan kenyataan oleh Mahathir. Ini menunjukkan betapa bangangnnya Mahathir yang mentafsir hukum Islam berdasarkan akal ceteknya semata mata...



Selasa, 15 April 2014

Bahaya Menolak Hukum Allah


Sebagai agama yang menyeluruh, sempurna dan saling menyempurnakan, ajaran Islam mesti diterima secara keseluruhan. Demikianlah Allah سبحانه و تعالى memerintahkan orang beriman di dalam Al-Qur'an. Apabila seorang yang mengaku muslim tidak mau menerima ajaran Islam secara kaaffah (keseluruhan) berarti ia mengikuti langkah-langkah syaitan. Syaitan berkehendak agar seorang muslim menerima sebahagian ajaran Islam dan menolak sebahagian yang lain.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. "(QS Al-Baqarah 208)

Tetapi jika seorang hamba Allah bersikap pilah-pilih terhadap Kitabullah dimana sebahagian diterima dan sebahagian lain ditolak, hal ini sudah cukup mengerikan. Mengapa? Sebab Allah سبحانه و تعالى menggambarkan akibat yang diderita kaum yahudi yang bersikap demikian dahulu kala. Tidak saja mereka terkena mudharat di dunia, tetapi di akhirat mereka juga bakal menderita.

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

"Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan ​​dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu lakukan.” (QS Al-Baqarah 85)



Di era modern penuh fitnah dewasa ini salah satu bidang yang ramai ditolak oleh kaum muslimin ialah bidang undang-undang. Allah سبحانه و تعالى memerintahkan orang-orang beriman agar ber-tauhid (mengesakan Allah) dalam bidang undang-undang sebagaimana keharusan ber-tauhid pada bidang-bidang kehidupan lain.

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ

“… dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.” (QS Al-Maidah 49)

Allah سبحانه و تعالى memerintahkan orang-orang beriman agar memutuskan perkara (menetapkan hukum) berlandaskan Kitabullah. Artinya, wajib hukumnya bagi kaum muslimin menerima dan menegakkan hukum Allah, bukan undang-undang manusia yang tentunya berlandaskan hawa nafsu. Bahkan dalam ayat-ayat lain Allah secara tegas menyatakan bahawa hak menetapkan hukum merupakan hak prerogratif Allah سبحانه و تعالى. Allah tidak memerlukan adanya sekutu alias partner di dalam menyusun undang-undang-Nya.

إِنِ الْحُكْمُ إِلا لِلَّهِ يَقُصُّ الْحَقَّ وَهُوَ خَيْرُ الْفَاصِلِينَ

“Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik.” (QS Al-An’aam 57)

وَلا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا

“… dan Dia (Allah) tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan hukum-Nya”.

Namun di dalam sistem undang-undang dan politik moden justeru sudah menjadi pendapat umum bahawa manusia berhak menyusun undang-undang untuk dikuatkuasakan kepada masyarakat luas . Ada segelintir elit yang diberi kuasa me - perundangan undang - undang dan undang-undang . Bahkan mereka memperoleh sebutan " berprestij " iaitu sebagai anggota legislatif alias ahli parlimen . Di Amerika Syarikat sebutan mereka adalah law - makers ( para pembuat undang-undang ) . Lalu masyarakat di luar kelompok elit tadi diharuskan mentaati undang - undang dan undang-undang yang telah dihasilkan kumpulan elit tersebut . Inilah yang disebut Sayyid Qutb sebagai bentuk penghambaan sebahagian manusia terhadap sebahagian yang lain . Kumpulan elit tersebut memainkan peranan Playing God ( beraksi sebagai tuhan ) di tengah masyarakat , sedangkan masyarakat luas menghambakan diri kepada kumpulan elit tersebut dalam bentuk mentaati produk hukum buatan para lawmakers tersebut . Inilah syirik hukum yang menjangkiti banyak manusia di era modern penuh fitnah dewasa ini . Na'udzubillaahi min dzaalika…!

Dalam Kitab “Syarh Nawaqidh Al-Islam”, Syaikh Sulaiman Nashir Al-Ulwan menulis:

“Harusnya setiap muslim dan muslimah mengetahui bahwa hukum Allah dan Rasul-Nya wajib didahulukan atas hukum lainnya. Tiada suatu persoalanpun yang terjadi di antara sesama manusia melainkan harus dikembalikan kepada hukum Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang berhukum kepada selain hukum Allah dan Rasul-Nya, maka ia telah kafir.” ( “Penjelasan Pembatal Keislaman”, halaman 64-65, Penerbit At-Tibyan – Solo)

Dalam kitab “Fathul Majid” yang merupakan syarah (penjelasan) dari Kitabut Tauhid, Al-Allamah Abdurrahman Hasan Alu Asy-Syaikh menulis:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلالا بَعِيدًا

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS An-Nisa 60)

Al-Imad Ibnu Katsir berkata: “Ayat ini mencela orang yang berpaling dari Al-Qur’an dan As-Sunnah serta berhakim kepada selain keduanya, yaitu kepada kebatilan, dan inilah yang dimaksud dengan thaghut di sini.”

Telah disebutkan apa yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim tentang definisi thaghut, bahwa ia adalah segala sesuatu di mana seorang hamba melebihi batas padanya, baik berupa yang disembah, atau diikuti atau ditaati. Barangsiapa berhukum kepada selain Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah صلى الله عليه و سلم berarti ia telah berhakim kepada thaghut di mana Allah telah memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar mengingkari thaghut. Karena berhakim dibolehkan hanya kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya serta kepada siapa yang berhukum kepada keduanya. Barangsiapa berhakim kepada selain keduanya berarti ia telah melebihi batasannya, keluar dari apa yang Allah dan Rasul-Nya syariatkan dan mendudukkannya pada posisi yang bukan haknya..” (“Fathul Majid”, hlm 951, Pustaka Sahifa, Jakarta).

Selanjutnya Al-Allamah Abdurrahman Hasan Alu Asy-Syaikh menulis:

Imam Malik berkata: “Thaghut adalah apa yang disembah selain Allah.”

Demikian pula siapa yang menyeru untuk berhakim kepada selain Allah dan Rasul-Nya, maka dia telah meninggalkan ajaran Rasulullah صلى الله عليه و سلم dan tidak menyukainya, mengangkat sekutu bagi Allah dalam ketaatan dan menyelisihi ajaran Rasulullah صلى الله عليه و سلم dalam apa yang Allah perintahkan kepadanya dalam firman-Nya:

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ

“… dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.” (QS Al-Maidah 49)

(“Fathul Majid”, hlm 953, Pustaka Sahifa, Jakarta).

Jadi, barangsiapa berhukum kepada selain Allah dan Rasul-Nya berarti telah mengangkat sekutu bagi Allah dalam ketaatan..! Apa arti kalimat ini? Artinya, seseorang yang bersikap demikian telah jatuh kepada dosa puncak yang tak akan diampuni Allah bila hingga wafat ia tidak bertaubat darinya, yaitu dosa syirik…!

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS An-Nisa 48)



Mengapa perkara demikian mendasar tidak disedari oleh sebahagian ( besar ) kaum muslimin di era modern penuh fitnah dewasa ini ? Kerana faham sekularisme ( pemisahan urusan agama dari urusan kehidupan duiawi ) telah mendominasi fikiran dan hati mereka . Mereka menelan bulat - bulat ideologi kafir yang menyuruh manusia agar meletakkan urusan agama sebatas pada private sector ( lingkup peribadi ) sedangkan urusan public sector ( lingkup masyarakat umum ) hendaknya diatur oleh berbagai ajaran produk manusia . Urusan agama yang dimaksudkan ialah sebatas menjalankan ibadah ritual seperti solat , puasa dan haji misalnya . Sedangkan urusan public sector ialah seperti bidang politik , sosial , ekonomi dan undang-undang . Maka barangsiapa yang menerima ideologi sekularisme bermakna ia telah bersikap pilah - pilih dalam melaksanakan agama Allah . Dan ini jelas bermakna ia mengabaikan perintah Allah ( untuk memasuki Islam secara keseluruhan ) dan malah terjebak ke dalam menuruti langkah - langkah syaitan ( menerima Islam secara separa alias menjadi seorang sekularis ) …!

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syetan. Sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah 208)

Akibat paling buruk dari hal ini ialah batalnya iman atau Tauhid atau keislaman seseorang di mata Allah سبحانه و تعالى . Dan dalam bab hukum, dewasa ini kita menyaksikan begitu mudahnya seorang yang mengaku muslim dapat terjatuh kepada Nawaaqidhul Iman (pembatalan iman)…! Penulis sangat khawatir bahwa kondisi dunia kita saat ini sangat sesuai dengan apa yang Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم peringatkan 15 abad yang lalu:

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا

Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda: "Segeralah beramal sebelum datangnya fitnah-fitnah seperti malam yang gelap gelita. Di pagi hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu menjadi kafir di pagi harinya. Di pagi hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu menjadi kafir di pagi harinya. Dia menjual dien-nya (agamanya) demi mendapatkan barang kenikmatan dunia.” (HR Muslim – 169) Shahih

Isnin, 14 April 2014

DS Anwar Ibrahim - Reformasi 2.0 Di Kuantan



 

Umno -  BN gadai tanah orang Melayu

RENUNGAN :

Semua bentuk ujian ini telah dinyatakan Allah SWT dalam firman yang bermaksud:

“Demi sesungguhnya Kami akan menguji kamu dengan sedikit perasaan takut (kepada musuh) dan kelaparan, dan kekurangan daripada harta benda dan jiwa serta hasil tanaman. Dan berilah khabar gembira kepada orang beriman.” (Surah al-Baqarah, ayat 155)

Sesungguhnya kami menciptakan tiap-tiap sesuatu menurut takdir yang telah ditentukan. Surah al-Qamar, Ayat 49 Setiap ujian atau masalah hidup yang ditimpakan kepada kita mengikut tahap keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT kerana Dia tidak akan membebankan masalah yang melangkaui kemampuan manusia itu untuk menghadapinya.

Seorang mukmin seharusnya menghadapi setiap ujian dengan jiwa tenang dan bersangka baik, begitu juga jika melihat ujian berlaku ke atas orang lain. Setiap ummah kena bersangka baik, sabar hadapi dugaan Ibnu Khathir dalam kitab Tafsir Ibnu Kathir menyatakan, Allah SWT pasti akan menguji setiap jiwa yang beriman melalui harta dimilikinya, dirinya sendiri, anak serta isterinya. Namun, setiap daripada mereka diuji mengikut kadar agama, jika agamanya kuat, maka bertambahlah ujian kepadanya.
Dengan bertambahnya ujian kepada mereka, bukan bererti Allah SWT sengaja membebankan dan menjadikan mereka lemah dengan ujian itu tetapi ia adalah batu aras menentukan siapa yang benar-benar beriman dan siapa tidak.

Allah SWT berfirman yang bermaksud:

“Adakah manusia itu patut dibiarkan begitu saja berkata ‘kami telah beriman’. Maka dengan ujian itu, nyatalah apa yang diketahui Allah mengenai orang yang sebenar-benarnya beriman dan nyatalah pula apa yang diketahui-Nya mengenai orang yang berdusta.” (Surah Al-Ankabut, ayat 2-3)

Begitu juga apabila kita melihat ujian berlaku ke atas orang lain, kita seharusnya bersangka baik dan tidak menyatakan perkara yang buruk kepada mereka kerana perbuatan itu ditegah oleh Islam.

Tambahan lagi, ujian yang diterima mereka adalah ketetapan khusus untuk mereka dan mungkin jika kita ditimpa ujian sedemikian rupa, kita tidak mampu menghadapinya.

Selain itu, seorang mukmin yang baik mengamalkan sifat sabar kerana sabar mampu menghasilkan kebaikan dan mencegah daripada melakukan perkara di luar norma ditetapkan Islam.

Ali bin Abi Talib berkata:

“Ingatlah! Sesungguhnya sabar itu sebahagian daripada iman seperti kedudukan kepala daripada tubuh badan. Apabila kepala dipotong, rosaklah tubuh badan.

Kita boleh mengambil iktibar daripada kisah hidup Nabi Ayyub yang diuji dengan kehilangan anak disayangi, harta benda hangus terbakar serta penyakit ganjil yang berterusan. Namun, beliau tetap sabar dan terus melakukan ibadat kepada Allah SWT.

Ketika ditanya syaitan laknatullah mengapa beliau masih beribadat kepada Allah SWT walaupun setelah diuji dengan pelbagai ujian, beliau lantas menjawab:

“Hai Iblis terkutuk, Alhamdulillah! Dia telah memberi dan mengambilnya pula dari saya. Semua harta dan anak adalah fitnah untuk lelaki dan wanita, maka Dia mengambilnya dari saya, sehingga saya dapat bersabar lagi tenang untuk beribadah kepada Tuhan saya.”

Melalui kisah ini, dapat kita merenung bagaimana Nabi Ayyub menghadapi pelbagai ujian dengan sabar dan reda, serta hanya mengeluh di dalam doa beliau saja seperti yang termaktub dalam surah Al-Anbiya’, ayat 83:

“Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku ditimpa kepayahan, dan engkaulah yang Maha Mengasihani.”

Kita mampu menghadapi apapun ujian yang datang jika tahu serta mampu mengurus jiwa dengan baik dan ini akan menjadikan setiap ujian menghasilkan kebaikan, bukannya menjadikan kita bertambah lemah atau berputus asa.

Ahad, 13 April 2014

Jumaat, 11 April 2014

Pakatan tinggal dewan selepas Azmin diarah keluar


Ahli Parlimen Pakatan Rakyat hari ini bertindak meninggalkan dewan beramai-ramai selepas dua wakil rakyat ahli mereka diarah keluar oleh Speaker Tan sri Pandikar Amin Mulia. Azmin Ali(PKR-Gombak) diarah keluar Dewan apabila beliau berterusan menuntut penjelasan mengapa usul yang ditandatangani oleh 64 ahli parlimen untuk membahaskan peri laku tiga hakim Mahkamah Rayuan berhubung kes Liwat II membabitkan Datuk Seri Anwar Ibrahim tidak dipercepatkan. Manakala Hanipa Maidin (PAS - Sepang) pula diarah keluar ketika cuba membangkitkan perintah tetap berhubung keengganan speaker mempercepatkan usul Azmin.


Ahli parlimen Gombak, Azmin Ali hari ini diarah keluar Dewan Rakyat oleh Speaker Tan Sri Pandikar Amin Mulia. Ia berikutan tindakan timbalan presiden PKR itu yang berterusan menuntut penjelasan mengapa usulnya untuk membahas peri laku tiga hakim Mahkamah Rayuan yang membicarakan kes Liwat II datuk Seri Anwar Ibrahim tidak dipercepatkan.





Isnin, 7 April 2014

AHLI POLITIK PENYANGAK YANG KEBAL DARI UNDANG-UNDANG


Dato' Seri Tuan Guru Haji Abdul Hadi Awang berhujah bahawa masalah utama negara bukanlah masalah kewangan, tetapi yang menghancurkan negara adalah munculnya AHLI POLITIK PENYANGAK yang kebal daripada undang-undang.

 video : http://www.youtube.com/watch?v=k_VWuxSEge4



SIARAN LANGSUNG

Selasa, 1 April 2014

PAS: Insiden Memali konspirasi kerajaan


PAS hari ini menggesa siasatan semula ke atas insiden Memali 1985 selepas mantan Timbalan Perdana Menteri, Tun Musa Hitam mendedahkan bahawa Tun Dr Mahathir Mohamad berada di Malaysia dan bukannya di China semasa kejadian berkenaan.

Ahli Parlimen Pokok Sena, Datuk Mahfuz Omar, berkata pendedahan Musa itu memperlihatkan kejadian Memali sebagai satu konspirasi kerajaan dan pembentangan Kertas Putih pada 1986 perlu ditarik balik.





Tahukah saudara-saudari tentang kisah Memali.

Mahathir adalah syaitan yang merancang pembunuhan Umat Islam secara besar-besaran di Malaysia. Beliau merupakan ahli kehormat Bilderberg, iaitu sebuah organisasi Zionis yang merancang semua konspirasi penghapusan Umat Islam di seluruh dunia. Mahathir bertopengkan Peace Global Perdana Organisation, Pekima dan UMNO bagi mengaburi mata Umat Islam tentang penglibatan beliau di dalam organisasi sulit Zionis. Beliau merupakan penyembah Dajjal nombor 1 di dalam negara kita.

Mahathir juga seorang ejen rahsia CIA. Beliaulah yang merasuah ramai orang untuk membuat konspirasi rusuhan 13 Mei. Beliau juga yang membuat surat layang dan mengedarkan kepada askar, polis, UMNO dan mahasiswa bagi memfitnah Tunku Abdul Rahman. Ketika beliau dibuang daripada kabinet, beliau pernah tinggal di Australia dan dibiayai sepenuhnya oleh perisikan rahsia CIA. Ketika itu, beliau telah memburuk-burukkan Melayu dengan mengatakan bahawa Melayu adalah manusia yang paling pemalas di dalam dunia dan Melayu tidak tahu membuat jarum.

Manakala di Memali, beliau merupakan syaitan yang merancang pembunuhan Umat Islam di situ dan mengarahkan mahkamah supaya tidak melayan kes Memali ini.

Mahathir juga yang merasuah Tan Sri Rahim Noor dengan memberi wang sebanyak RM3.5juta bagi meletakkan racun di dalam makanan Anwar (yang ketika itu dimasuki lokap di atas tuduhan yang tidak pernah dilakukan oleh Anwar sendiri).

Pada tahun 1999, Mahathir menulis surat kepada PM Israel dengan memberi ucapan tahniah dan meminta Ehud Barak supaya memujuk Madelene Albright supaya memberi dana daripada tabung Clinton untuk membiayai UMNO dalam pilhanraya umum Malaysia dan membunuh semua Gerakan Islam di Malaysia.

Jangan percaya terhadap semua temberang di dalam media massa tajaan Tun Dr Mahathir .

Kini APCO menjelma. Maka sudah pastinya Umat Islam akan ditindas lebih dahsyat daripada kisah Memali tahun 1985.

Peristiwa Memali - YouTube
http://www.youtube.com/watch?v=lCqOkl210mE

Ahad, 30 Mac 2014

Mati syahid besar ganjarannya ( KEJAM & ZALIM : antara 529 anggota Ikhwan Muslimin yg ditahan)


Perbicaraan ditunda kepada tarikh 28 April yang melibatkan Dr. Muhammad Badie’ pemimpin Ikhwanul Muslimin beserta 628 orang penyokong Presiden Mursi




Oleh DR. ZULKIFLI MOHAMAD ALBAKRI

SHEIKH Muhammad Abu Zahrah berkata: Sentiasalah nas-nas al-Quran yang mulia mengingatkan pengajaran dan iktibar berkenaan kekalahan di Uhud, seolah-olah musibah ini bukanlah pemisah yang hakiki sebaliknya kembali kepada yang menang dan tidak berpaling daripada apa-apa.

Di sini terdapat banyak iktibar dan faedahnya yang terbesar ialah kemenangan serta menjelaskan realiti dan hakikat jiwa.

Dalam ayat-ayat ini juga, Allah SWT menjelaskan perbezaan antara golongan yang beriman dan yang terpisah serta kematian orang yang dikasihi ketika berjihad. Berbanding dengan jiwa orang kafir apabila terkena musibah ini amat jauh perbezaannya.

Iktibar dan fiqh ayat 156:

l Al-Qurtubi berkata: Iaitu golongan munafiqin. Justeru, dilarang orang Islam daripada berkata sebagaimana ucapan mereka.

* Al-Maraghi berkata: Beriman kepada qada dan qadar tidak semestinya menjadikan seseorang muslim melakukan sesuatu pekerjaan secara terpaksa (jabariyah).

Ini kerana kalimah qada mempunyai pertalian dengan ilmu Allah mengenai sesuatu yang akan terjadi. Ilmu-Nya adalah sesuatu yang dapat diungkapkan, sedikit pun tidak menunjukkan unsur paksaan. Qadar pula menyatakan sesuatu yang sudah terjadi seiring dengan ilmu-Nya.

Ilmu Allah SWT sudah pasti sesuai dengan apa yang berlaku, seandainya tidak ia akan menunjukkan Allah SWT bersifat jahil.

* Hamka berkata: Telah kita ketahui bahawa erti kufur ialah tidak mahu menerima kebenaran, walaupun orangnya masih mengakui muslim. Maka adalah orang-orang lemah imannya mengucapkan kata yang hanya patut keluar dari mulut orang kafir atau munafik.

Setelah mereka melihat kenyataan, bahawa dalam peperangan Uhud itu banyak orang yang tewas ataupun dalam kejadian yang lain, misalnya ada orang yang mati dalam perantauan, maka si lemah iman itu berkata: "Jika dia tidak pergi meninggalkan kampung halaman, tentu mereka tidak akan mati".

* Quraish Shihab: Ayat di atas memberi tontonan kepada kaum muslimin dengan menjadikan beberapa hal dari peristiwa itu sebagai titik tolak tontonan. Ia dimulai dengan akidah iaitu meluruskan sangkaan buruk terhadap Allah SWT.

Lebih-lebih lagi kerana ada di antara keluarga mereka terkorban dan sedih dengan kematian keluarga mereka, atau boleh jadi atau boleh jadi berbekas dalam hati mereka ucapan-ucapan orang munafik.

* Al-Sonhaji berkata: Setelah Allah menerangkan tentang kekalahan orang-orang mukmin dalam peperangan Uhud didorong oleh hasutan syaitan yang menyesatkan mereka.

Maka Allah mengingatkan mereka di dalam ayat ini dengan jenis hasutan syaitan yang lain pula iaitu hasutan yang menggoncangkan serta menyesatkan orang-orang yang kufur.

Iktibar dan fiqh ayat 157:

l Ibn Kathir berkata: Ayat ini mengandungi makna bahawa berperang dan mati di jalan Allah merupakan salah satu cara untuk mendapatkan rahmat, ampun dan keredaan-Nya. Dan yang demikian itu lebih baik daripada tetap hidup di dunia ini dan memperoleh segala isinya yang fana ini.

* Al-Maraghi berkata: Maksud mati pada jalan Allah SWT ialah sesuatu usaha yang baik dilakukan dalam keredaan Allah SWT.

Keampunan dan rahmat yang diberi oleh Allah SWT kepada mereka yang mati atau terbunuh lebih baik bagi kamu dibandingkan dengan segala kesenangan harta dan perhiasan yang ada di tangan orang kafir dalam meneruskan kehidupan dunia yang fana ini.

Ini kerana kesenangan dunia hanya bersifat sementara, sedangkan rahmat Allah SWT bersifat kesenangan yang abadi.

* Hamka berkata: Orang yang mati di atas katil seperti biasa, atau mati di medan peperangan, atau mati kerana sakit, kerana kecelakaan dan berbagai lagi dengan putusnya nyawa yang hanya satu sahaja.

Semuanya akan menjadi mayat, maka nyawa pun akan kembali ke tempat yang ditentukan oleh Allah SWT. Dan kelak semua mayat dan nyawa akan akan disatukan dan kembali berkumpul di hadapan mahkamah Allah SWT, dan di sanalah akan ditentukan arah mana kamu tujukan hidup itu.

* Quraish Shihab berkata: Setelah ayat yang lalu melarang mengikuti orang kafir atau munafik, serta menjelaskan kekeliruan ucapan-ucapan mereka tentang kematian, dan keengganan mereka berjihad kerana takut menemui kematian.

Melalui ayat di atas, Allah SWT menjelaskan ganjaran gugur di jalan Allah SWT serta apa yang dirah setelah kematian.

Ayat ini menyatakan bahawa sungguh demi Allah SWT, wahai orang-orang benar-benar beriman jika kamu gugur di jalan Allah memperjuangkan nilai-nilai-Nya, keampunan terhadap dosa dan kesalahan kamu dan rahmat-Nya akan dianugerahkan kepada kamu, dan tentu saja keampunan dan kerahmatan itu lebih baik bagimu dari apa yang mereka kumpulkan itu harta benda termasuk harta rampasan perang atau selainnya yang berkaitan dengan duniawi.

* Al-Sonhaji berkata: Adapun keampunan dari Allah yang dapat menghapuskan dosa dan rahmat yang dikurniakan-Nya pula sesungguhnya lebih baik daripada segala jenis kemewahan harta yang dikumpulkan dan dinikmati oleh orang-orang kafir.

Kemewahan tersebut tidak akan kekal di dunia yang fana ini, sedang keampunan dan rahmat Allah itu akan berkekalan selama-lamanya.

Iktibar dan fiqh ayat 158

l Ibn Kathir berkata: Ayat ini mengandungi bahawa yang mati di jalan Allah SWT adalah mati juga. Ia merupakan cara untuk mendapat rahmat Allah, keampunan dan keredaan-Nya. Dan ini jauh lebih baik daripada kekal di dunia yang fana ini.

* Al-Qurtubi berkata: Allah SWT memberi peringatan kepada mereka dengan kenyataan ini supaya jangan lari dari medan peperangan tetapi hendaklah lari daripada hukuman-Nya dan azab yang akan ditimpa kepada mereka.

* Al-Maraghi berkata: Maksud ayat "Kamu dikumpulkan kepada Allah SWT" ialah setiap manusia pada hari mereka dikumpulkan di akhirat kelak akan menerima semua balasan daripada Allah.

Mereka tidak mampu mengalihkan perhatian kepada yang lain. Oleh yang demikian, perhatiannya hanya semata-mata kerana Allah SWT sahaja. Segala makhluk yang hidup hanya kembali kepada Allah SWT sahaja.

* Al-Sonhaji berkata: Sesetengah orang-orang yang mengabdikan diri kepada Allah dan menyembah-Nya itu ada tiga tingkatan pengabdiannya:

* Siapa yang mengabdikan diri kepada Allah kerana takutkan neraka-Nya, Allah amankan dia dari apa yang ditakutinya. Ia sesuai dengan maghfirah (keampunan) yang diberikan oleh Allah.

* Siapa yang mengabdikan diri kepada Allah kerana mengharapkan syurga-Nya, Allah jayakan untuk mencapai apa yang dicita-citakannya. Dan ini sesuai dengan rahmat-Nya yang dikurniakan oleh Allah iaitu syurga-Nya kerana salah satu daripada syurga itu bernama Rahmat.

* Sesiapa yang mengabdikan diri kepada Allah semata-matu untuk ke hadrat Allah dan tidak kepada yang lain, dialah hamba Allah yang tulus ikhlas yang dilayakkan untuk menerima kehormatan dari Allah.

Ini sesuai pula dengan pengakuan Allah yang difirmankan-Nya, yang bermaksud: "Pasti kepada Allah juga kamu dikumpulkan".

Semoga kita menjadi golongan yang mendapat keampunan Allah, rahmat dan keredaan-Nya. Amin.


Dipos oleh Suara Rakyat.

KEJAM & ZALIM : antara 529 anggota Ikhwan Muslimin yg ditahan

Sabtu, 29 Mac 2014

Rakaman Audio Khutbah Jumaat 28.03.2014 Penyampai : Ustaz Husnul Yaqin Bin Jalius ( Imam 1 )

Imam Ustaz Husnul Yaqin bin Jalius




Rabu, 26 Mac 2014

PAS Kecam Keras Hukuman Mati 529 Ahli Ikhwanul Muslimin

Dato' Seri Tuan Guru Haji Abdul Hadi Awang

Perbicaraan ditunda kepada tarikh 28 April yang melibatkan Dr. Muhammad Badie’ pemimpin Ikhwanul Muslimin beserta 628 orang penyokong Presiden Mursi 2


KUALA LUMPUR: PAS mengecam keras hukuman mati yang dijatuhkan mahkamah Mesir terhadap 529 ahli Ikhwanul Muslimin termasuk Mursyid Amnya, Dr Mohammad Badie atas pelbagai tuduhan yang di reka cipta dan menggesa demokrasi dan keamanan dipulihkan di negara tersebut dengan menarik balik pengharaman Ikhwan Muslimin, tegas Presiden PAS, Datuk Seri Tuan Guru Abdul Hadi Awang.

Berikut adalah kenyataan rasmi Presiden PAS yang dikeluarkan hari ini:

Parti Islam SeMalaysia (PAS) mengecam dengan sekeras-kerasnya keputusan sebuah mahkamah Mesir yang menjatuhkan hukuman mati ke atas 529 ahli-ahli Ikhwanul Muslimin termasuklah terhadap Mursyid Am Ikhwan Dr Mohammad Badie atas pelbagai tuduhan yang di reka cipta. Ini dilihat sebagai salah satu tindakan mendadak secara keras ke atas pergerakan Ikhwanul Muslimin.

Kes ini melibatkan perbicaraan paling pantas dalam sejarah kehakiman moden dengan skala tertuduh sebegitu ramai bagi pertuduhan bunuh. Apa yang berlaku menunjukkan tatacara perbicaraan mahkamah dan peraturan undang-undang tidak dipatuhi.

Kami menggesa agar demokrasi dan keamanan dipulihkan dengan menarik balik pengharaman Ikhwan Muslimin, sebuah organisasi politik yang telah mendokong dan menyertai piliharanya dalam sistem demokrasi di Mesir.

Kami menggesa badan kerjasama antarabangsa seperti PBB, Liga Arab dan OIC mencontohi tindakan Afrika yang menggantung keahlian Mesir sebagai anggota kesatuan Afrika kerana menceroboh demokrasi dan secara jelas membunuh rakyatnya sendiri.

PAS mengutuk perancangan terlaknat ini. Walaupun berlainan geografi, namun kita tetap bersolidariti dengan saudara-saudara seangkatan kita di Mesir. Inilah realiti cabaran kita, gerakan Islam akhirnya pasti menjadi sasaran utama golongan pengkhianat.

Insiden ini jika tidak ditangani dengan sewajarnya boleh berkembang menjadi krisis yang lebih besar dan berterusan termasuk ke peringkat antarabangsa kerana Terusan Suez di Mesir merupakan antara laluan utama perkapalan dunia. Jika krisis dalaman yang boleh mengganggu perjalanan kapal sudah tentu keperluan utama seperti makanan dan minyak akan tersekat dan memberikan impak terhdap pasaran dunia.

Abdul Hadi Awang Presiden Parti Islam SeMalaysia (PAS)


Sumber : Harakahdaily.net ‪#‎mesirkini‬ ‪#‎R4BIA‬

Perbicaraan ditunda kepada tarikh 28 April yang melibatkan Dr. Muhammad Badie’ pemimpin Ikhwanul Muslimin beserta 628 orang penyokong Presiden Mursi

Salah seorang pelajar yang merupakan antara 529 Pro Anti kudeta yang bakal dihukum mati memeluk adiknya yang menangis

wabillah ......

RAJA SAUDI KESULITAN SAAT MEMBACA AL QURAN

RAJA SAUDI



Ketika membacakan Al Quran (Al hujurat:13), perhatikan ketika video di ulang berulang kali


Raja Saudi telah menambahkan ayat Al Quran, karena dalam Al Quran surat Al Hujurat ayat 13 tidak ada kata

"LITA'AWANU ( yang berarti :Supaya kalian saling tolong menolong).

Apa maksut Raja Saudi dengan menambahkan ayat itu? apa hanya untuk membenarkan kebijakan yang telah mendatangkan banyak tentera kafir ke Arab?

Seandainya benar begitu, ini sebuah bentuk kekufuran yang nyata, dan terjemahan yang lengkap surah Al Hujurat Ayat 13:

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."(QS. Al hujurat :13)

APAKAH INI KEKELIRUAN YANG WAJAR ATAU KESENGAJAAN?




1. Raja Saudi Bangga Sambut Amerika Untuk Memulai Kembali Perundingan Langsung dengan Yahudi

2. Raja Saudi Keturunan Yahudi

Isnin, 24 Mac 2014

Tahniah !! kak Wan, tahniah PKR dan seluruh jentera PR yang bertungkus lumus sehingga berjaya mengalahkan BN di PRK Kajang.


Keputusan Rasmi PRK DUN Kajang 23 Mac 2014 Selangor

Datin Paduka Chew Mei Fun 11362 Undi

Datuk Seri Dr Wan Azizah Wan Ismail 16741 Undi

Pemenang N25 PRK Kajang Majoriti Datuk Seri Dr Wan Azizah Wan Ismail 5379 undi

Keputusan jumlah undi telah diumumkan dengan rasminya oleh Pengurus Pilihan Raya PRK DUN Kajang oleh Datuk Hassan Nawawi Abdul Rahman

Keputusan Penuh PRK Kajang 2014 dan Perbandingan PRU 13

PRK DUN Kajang - 23/3/14

Peratus Keluar Mengundi - 72.1%

PR - 16741

BN - 11362

Undi Rosak - 176

Majoriti - 5379

Jumlah Keluar Mengundi - 28279

PRU13 DUN Kajang - 5/5/13

Peratus Keluar Mengundi - 88.4%

PR - 19571

BN - 12747

4 Calon Bebas/Berjasa - 1431

Undi Rosak - 541

Majoriti - 6824

UNDI POPULAR:

PR: 60%,

BN : 40%

UNDI POPULAR

Pakatan Rakyat telah meningkat dari 57% pada PRU13 kepada 60% di PRK.

Jumlah Keluar Mengundi - 34290 + 140 (bawa keluar kertas undi)

* Pengundi PRU13 yang tidak keluar mengundi - 6151


PKR menang majoriti 5,379 undi




Penambahan Undi Melayu Buat Umno Tertekan



Undi muda menangkan PR- Kak Wan





Wacana Pengukuhan Aqidah



Wacana Pengukuhan Aqidah Siri 1 - Perbezaan Mazhab Menurut Perspektif Ahli Sunnah

Ahli Panel :
1. Dato' Seri Tuan Guru Haji Abdul Hadi Awang
2. Prof Madya Dr Hj Abdul Aziz Hanafi
3. Prof Madya Dr Fauzi Deraman

Bhg. 1/4 : Wacana Pengukuhan Aqidah Siri 1 (Ucapan YB Ustaz Nasrudin Hassan) :
https://www.youtube.com/watch?v=Ix3gxv7kbCY


Bhg. 2/4 : Wacana Pengukuhan Aqidah Siri 2 (Pembentangan Kertas Kerja oleh Tuan Guru Haji Abdul Hadi Awang) :

https://www.youtube.com/watch?v=0i6YJEeN3Kg&list=UUfoWnH0922jSob3-fu_I0Vg




Minit ke 48 - bermula wacana
https://www.youtube.com/watch?v=0i6YJEeN3Kg&list=UUfoWnH0922jSob3-fu_I0Vg


Bhg 3/4 : Wacana Pengukuhan Aqidah Siri 3
https://www.youtube.com/watch?v=OC0dvXOENgc


Bhg 4/4 : Wacana Pengukuhan Aqidah Siri 4
https://www.youtube.com/watch?v=3a1iFfsBvJ0



Sabtu, 22 Mac 2014

KEMATIAN YANG MULIA (KHUSNUL KHOTIMAH)

Ustaz Azhar Idrus

Pertama: Mereka yang dapat mengucapkan syahadah menjelang kematian sebagaimana ditunjukkan dalam banyak hadis sahih, antaranya Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Barang siapa yang ucapan terakhirnya ‘Laa ilaaha illallah’, maka dia masuk syurga.” (Hadis Hasan)

Ke-2: Kematian yang disertai dengan basahnya kening dengan keringat atau peluh berdasarkan hadis Buraidah bin Hushaib r.a: Dari Buraidah bin Khusaib RA bahawa ketika dia berada di Khurasan sedang membesuk seorang sahabatnya yang sakit dia mendapatinya sudah meninggal tiba-tiba keningnya berkeringat maka dia berkata: “Allahu Akbar!, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Kematian seorang mukmin disertai keringat di keningnya.” (Hadis Sahih)

Ke-3: Mereka yang (baik-baik dan soleh) meninggal dunia pada malam Jumaat atau siangnya berdasarkan sabda Rasulullah SAW: “Tidaklah seorang Muslim yang meninggal pada hari Jumaat atau malam Jumaat melainkan Allah melindunginya daripada seksa kubur.”

Ke-4: Meninggal dalam keadaan syahid di medan perang sebagaimana artinya: “Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahawa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah mati, tetapi mereka hidup diberi rezeki di sisi Tuhan mereka. Mereka bergembira dengan kurnia yang diberikan Allah kepada mereka dan memberi khabar gembira kepada orang yang belum mengikuti mereka di belakang janganlah mereka takut dan sedih. Mereka memberi khabar gembira dengan kenikmatan dari Allah dan kurniaNya dan bahawa Allah tidak mensia-siakan balasan bagi orang-orang beriman.” (QS Ali Imran:169-171)

Rasulullah SAW juga pernah bersabda: “Orang yang syahid mendapatkan enam perkara: Diampuni dosanya sejak titisan darahnya yang pertama; diperlihatkan tempatnya dalam syurga; dijauhkan dari seksa kubur; diberi keamanan dari goncangan yang dahsyat di hari kiamat; dipakaikan mahkota keimanan; dinikahkan dengan bidadari syurga; diizinkan memberi syafaat bagi tujuh puluh anggota keluarganya.”

Ke-5: Mereka yang meninggal dunia ketika berjuang di jalan Allah (bukan terbunuh) berdasarkan sabda Rasulullah SAW: “Apa yang kalian nilai sebagai syahid antara kalian? Mereka berkata: Ya Rasulullah, siapa yang terbunuh di jalan Allah, maka dia syahid. Beliau berkata: Jadi sesungguhnya syuhada’ umatku sedikit.” Mereka berkata: “Lalu siapa mereka Ya Rasulullah?” Baginda bersabda: “Barang siapa yang terbunuh di jalan Allah syahid, barang siapa yang mati di jalan Allah syahid, barang siapa yang mati kerana wabak taun syahid, barang siapa yang mati kerana penyakit perut syahid dan orang yang tenggelam syahid.”

Ke-6: Mati kerana satu wabah penyakit tahun berdasarkan beberapa hadis antaranya: Rasulullah SAW bersabda: “Wabah tahun adalah kesyahidan bagi setiap Muslim.”

Daripada Aisyah RA, ia bertanya kepada Rasulullah mengenai wabak taun. Rasulullah SAW menerangkan bahawa wabak taun itu adalah satu azab (bala) daripada Allah yang diantar kepada siapa yang dikehendakinya, dan Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi hambanya yang beriman. Maka seseorang (Mukmin) yang berada di daerah yang ditimpa wabak taun, dan terus tinggal di situ dan bersabar menghadapi bala itu serta mengetahui yang dia tidak akan terkena kecuali menurut apa yang telah ditentukan Allah. Baginya pahala seperti pahala orang yang mati syahid.

Ke-7: Mereka yang mati kerana penyakit dalam perut berdasarkan hadis di atas.

Ke-8 dan ke-9: Mereka yang mati kerana tenggelam dan terkena runtuhan berdasarkan sabda Nabi SAW: “Syuhada ada lima: yang mati kerana wabak taun, karena penyakit perut, yang tenggelam, yang terkena runtuhan dan yang syahid di jalan Allah.”

Ke-10: Matinya seorang wanita dalam nifasnya disebabkan melahirkan anaknya: Dari Ubadah bin Shamit RA bahawa Rasulullah SAW menjenguk Abdullah bin Rawahah RA dan berkata: Beliau tidak berpindah dari tempat tidurnya lalu berkata: “Tahukah kamu siapa syuhada’ dari umatku?” Mereka berkata: “Terbunuhnya seorang Muslim adalah syahid.” Baginda berkata: “Jadi sesungguhnya para syuhada’ umatku, terbunuhnya seorang Muslim syahid, mati kerana wabak taun syahid, wanita yang mati kerana janinnya syahid (ditarik oleh anaknya dengan tali arinya ke syurga).”

Ke-11 dan ke-12: Mereka yang mati karena terbakar dan sakit bengkak panas yang menimpa selaput dada di tulang rusuk, ada beberapa hadis yang terkait yang paling masyhur: Dari Jabir bin ‘Atik dengan sanad marfu’: “Syuhada’ ada tujuh selain terbunuh di jalan Allah: yang mati kerana wabak taun syahid; yang tenggelam syahid; yang mati kerana sakit bengkak yang panas pada selaput dada syahid; yang sakit perut syahid; yang mati terbakar syahid; yang mati terkena runtuhan syahid; dan wanita yang mati setelah melahirkan syahid.”

Ke-13: Mereka yang mati kerana sakit TB berdasarkan hadis: Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Terbunuh di jalan Allah syahid, wanita yang mati kerana melahirkan syahid, orang yang terbakar syahid, orang yang tenggelam syahid, dan yang mati kerana sakit TB syahid, yang mati kerana sakit perut syahid.” (Hadis Hasan)

Ke-14: Mereka yang mati kerana mempertahankan hartanya yang hendak dirampas. Dalam hal itu ada beberapa hadis di antaranya: Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang terbunuh kerana hartanya (dalam riwayat: barang siapa yang hartanya diambil tidak dengan alasan yang benar lalu dia mempertahankannya dan terbunuh,) maka dia syahid.”

Ke-15 dan ke-16: Mereka yang mati kerana mempertahankan agama dan dirinya: Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang terbunuh kerana hartanya syahid, barang siapa yang terbunuh kerana keluarganya syahid, barang siapa yang terbunuh kerana agamanya syahid, barang siapa yang terbunuh kerana darahnya syahid.”

Ke-17: Mereka yang mati dalam keadaan ribath (berjaga-jaga di perbatasan) di jalan Allah. Ada dua hadis dalam hal itu salah satunya: Rasulullah SAW bersabda: “Ribath sehari semalam lebih baik dari berpuasa dan qiyamullail selama sebulan, dan jika mati maka akan dijalankan untuknya amalan yang biasa dikerjakannya, akan dijalankan rezekinya dan diamankan dari fitnah.”

Ke-18: Mati ketika melakukan amal soleh berdasarkan hadis Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Barang siapa yang mengucapkan: ‘Laa ilaaha illallah’ mengharapkan wajah Allah lalu wafat setelah mengucapkannya maka dia masuk syurga, barang siapa berpuasa satu hari mengharapkan wajah Allah lalu wafat ketika mengerjakannya maka dia masuk syurga, barang siapa yang bersedekah dengan satu sedekah mengharapkan wajah Allah lalu wafat ketika mengerjakannya maka dia masuk syurga.”

Ke-19: Mereka yang dibunuh oleh penguasa yang zalim kerana memberi nasihat kepadanya: Rasulullah SAW bersabda: “Penghulu para syuhada’ adalah Hamzah bin Abdul Mutalib dan seseorang yang mendatangi penguasa yang zalim, lalu dia memerintahkan yang baik dan melarang dari yang mungkar lalu dia dibunuhnya.” Hadis dikeluarkan oleh Al-Hakim dan disahihkannya, dan Al Khatib.


https://www.facebook.com/photo.php?v=771148816243490

Sabtu, 8 Mac 2014

ISU PANAS!!![Hukum Civil Dan Syariah (Ulasan Kes Liwat) - Ustaz Ahmad Jailani seorang peguam syariah

Ustaz Ahmad Jailani seorang peguam syariah


Panas dan hebat kuliah ini.

Live perbahasan kes liwat menurut undang-undang sivil vs undang-undang syariah. Tajuk panas malam nie! Wajib dengar, mudah2an bermanfaat.

Ceramah oleh Ustaz Ahmad Jailani seorang peguam syariah.



http://www.youtube.com/watch?v=T6ckNdyBqHE atau www.zonkita.org/zonkuliah

Khamis, 6 Mac 2014

“Barang siapa memandang kepada wajah orang Alim sekali dengan pandangan yang senang, niscaya Allah menjadikan pandangan tersebut malaikat yang memintakan ampun baginya hingga hari kiamat”.

Habib Omar

Keutamaan Memandang Wajah Ulama‘

Mata yang memandang mempunyai pengaruh kuat dan berdampak signifikan terhadap aktivitas batiniyyah kita. Begitu kuatnya pengaruh itu sehingga mempengaruhi kekhusyu’an seseorang untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Syekh Thahir bin Saleh Al-Jazairi dalam kitabnya: Jawahirul Kalamiyah menguraikan sebuah permasalahan:

‘Bagaimana mata mempunyai pengaruh, padahal mata itu hanya termasuk bagian badan manusia yang lembut dan tidak ada hubungannya dengan sesuatu yang dilihat, dan tidak ada sesuatu yang keluar dari mata itu yang berhubungan dengan sesuatu yang dilihat?’ Maka dijawab bahwa tidak ada yang menghalangi jika sesuatu yang lembut itu mempunyai pengaruh yang kuat, dan tidak diisyaratkan bahwa adanya pengaruh itu harus ada hubungannya, karena sesungguhnya kita lihat sebagian manusia yang mempunyai kewibawaan dan kekuasaan bila melihat kepada seseorang dengan pandangan yang mengandung amarah, kadang-kadang menyebabkan yang dipandang itu ketakutan dan gemetar, malah bisa menyebabkan kematiannya. Padahal pada lahirnya ia tidak memasukkan sesuatu pada yang dilihatnya dan tidak terjadi antara yang mempengaruhi dan yang dipengaruhi hubungan ataupun sentuhan. Kalau magnet mempunyai kekuatan dapat menarik besi padahal tidak ada hubungan antara magnet dan besi yang ditariknya itu dan tidak keluar sesuatu yang dapat menyebabkan menariknya itu. Bahkan benda-benda yang lembut lebih besar pengaruhnya daripada benda-benda yang kasar. Karena sesungguhnya perkara-perkara yang besar adalah timbul dari kuatnya kehendak dan niat, sedangkan kehendak dan niat itu termasuk hal yang tidak tampak. Maka tidak mengherankan kalau mata mempunyai pengaruh terhadap yang dipandangnya sekalipun mata itu sangat lembut, dan tidak ada hubungan atau sesuatu yang keluar dari mata itu.

 Ulama' Keturunan Rasulullah

Kekuatan dan kecepatan pengaruh mata dalam memandang telah disinggung oleh Nabi SAW dalam suatu riwayat dari Ibnu Abbas Ra.:

“Pandangan mata adalah suatu kebenaran. Jika ada sesuatu yang dapat mendahului taqdir (ketetapan Allah), maka sungguh pandangan mata akan mendahuluinya”. (HR. Muslim). Karena itulah mata bisa membahayakan, seperti hipnotis, dll. dan Nabi SAW mengajarkan kepada kita suatu do’a:

“Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari setiap syetan, binatang buas, dan pandangan mata yang membahayakan”.

Sari As-Saqathi Rhm. berkata: “Lidahmu adalah penyambung dari hatimu, dan wajahmu adalah cermin darinya. Pada wajahmu ditemukan apa yang ada di dalam hatimu”.[1]

BERSAMA KEPIMPINAN ULAMA'

Ketika anak-anak Ya’qub ingin pergi ke Mesir, menemui Yusuf As. yang ketika itu sudah menjadi Perdana Menteri, Ya’qub As. menasehati mereka: “Hai anak-anakku, janganlah kamu bersama-sama masuk dari satu pintu gerbang, masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlainan!” (QS. Yusuf[17]: 67)

Qatadah mengatakan bahwa Ya’qub As. mengkhawatirkan mereka dari bahaya pandangan (Al-‘Ain) orang-orang yang melihat mereka karena anak-anak Ya’qub As. tergolong orang-orang yang tampan dan berpenampilan menarik. Demikianlah Al-Quran mengisahkan tentang isyarat kuatnya pengaruh pandangan terhadap sesuatu yang diinginkan, yang dipahami oleh sebagian orang tertentu yang diberikan pengetahuan tentangnya.

Keutamaan pandangan kepada wajah seorang Ulama banyak sekali, di antaranya sebagaimana disabdakan oleh Nabi SAW:

“Barang siapa memandang kepada wajah orang Alim sekali dengan pandangan yang senang, niscaya Allah menjadikan pandangan tersebut malaikat yang memintakan ampun baginya hingga hari kiamat”. [2]

Imam Al-Hafizh Al-Mundziri meriwayatkan sebuah hadits dari 40 hadits berkenaan dengan keutamaan menuntut ilmu, yakni bersabda Rasulullah SAW:

“Pandangan sekali kepada orang Alim lebih Allah cintai daripada ibadah 60 tahun, berpuasa siang harinya dan berdiri ibadah pada malamnya”. Kemudian sabda beliau SAW: “Jika tiada Ulama niscaya binasa (celaka)lah umatku”.

Hadits tersebut menunjukkan betapa besarnya keutamaan memandang wajah orang Alim secara lahiriyyah, dikarenakan seseorang yang melakukannya akan mendapat pengaruh kekhusyu’an dan ketenangan hati sehingga mendorongnya kepada Hubbul Akhirah. Tidak semua Ulama dikategorikan seperti makna hadits di atas, karena kata ‘Ulama’ menggunakan Isim Makrifah (Al-’Ulamaa-u), yang menandakan ketertentuan/kekhususan. Tentunya Ulama yang dimaksud di sini adalah Ulama yang telah mencapai kemakrifatan yang Hakiki, dimana pancaran jiwanya mampu melenyapkan sekat-sekat yang menutupi hati. Maka Rabithah, yakni memandang wajah Syekh dengan mata hati lebih diutamakan dan memiliki tempat yang khusus di kalangan Ahli-ahli Thariqat, sebagai penyatuan ruhaniyah seorang murid yang dhaif lagi faqir, dengan Syekhnya yang kamil menuju Hadhrat Allah Ta’ala.

Di dalam sebuah hadits dikatakan bahwa ada sebagian ahli dzikir yang dapat menyebabkan orang lain ingat kepada Allah. Yakni dengan memandang wajahnya saja, membuat mereka teringat untuk dzikrullah. Hadits lain menyebutkan bahwa ‘Sebaik-baik orang di antara kamu ialah seseorang yang apabila orang lain memandang wajahnya, maka ia ingat kepada Allah, jika mendengar ucapannya maka bertambah ilmunya, dan jika melihat amal perbuatannya maka tertariklah pada akhirat’.[3] Atas dasar hadits ini para pembimbing dzikir (Syekh Shufi) terdahulu sangat menganjurkan untuk senantiasa mengenang wajah Syekhnya sebagai alat untuk mempermudah dzikir (ingat) kepada Allah SWT, dan yang demikian itu akan membuat dirinya tenggelam dalam lautan mahabbah dzikir-Nya.

Berkata Syekh Mushthafa Al-Bakri Rahimahullaahu Ta’ala:

“Dan di antara apa yang diwajibkan atas seorang murid adalah rabithah hatinya dengan Gurunya dan maknanya bahwa murid senantiasa mengekalkan atas penyaksian akan rupa Syekhnya. Inilah merupakan syarat yang dianjurkan bagi kaum Shufi yang mewariskan kepada maqam makrifat yang tinggi”. (Hidayatus Salikin)

(Dikutip dari Buku ‘DZIKIR QUR’ANI, mengingat Allah sesuai dengan fitrah manusia’)

Isnin, 3 Mac 2014

Syahid Imam Ustaz Khairi Abdul Rahman dibedil oleh 2 orang lelaki bermotosikal yang tidak dikenali.

Narathiwat: Syahid Imam Ustaz Khairi Abdul Rahman (57) dan cederah parah ditembak anaknya Haris (17) dalam perjalanan ke Pondok Tuan Guru Abdul Rahman, Kampung Belukar Sena, Narathiwat lebih kurang jam 10 pagi waktu Malaysia.

Lebih kurang 300 meter ke Sekolah ketika menaiki motosikal. Mereka 2 beranak dibedil oleh 2 orang lelaki bermotosikal yang tidak dikenali.










sepasang suami isteri ditembak mati di daerah Jering Yaring Pattani Isterinya sedang mengandung 3 bulan 15 November 2013

Khamis, 13 Februari 2014

SYAIR, PUSI & QASIDAH DALAM PRESPEKTIF ISLAM

Mohd Abd Rashid Bin Yah al-Kubrawiy al-Husaini

Apa Itu Qasidah?

Qasidah merupakan puisi, syair atau puji-pujian terhadap Allah mahupun Habibuna Rasulullah S.A.W. Qasidah adalah satu cara para ahli sufi meluahkan rasa rindu dan kagum mereka kepada Allah, RasulNya, Para Sahabat Nabi, Wali-wali Allah dan guru-guru mereka yang Mursyid.

Ramai penulis Arab berpendapat bahawa orang pertama yang mencipta qasidah ialah penyair Arab al- Muhalhal bin Rabiah al- Tuglabi yang hidup beberapa tahun sebelum Nabi Muhammad SAW lahir. Qasidah kemudian mengalami perkembangan ketika para penyair pra- Islam terkenal seperti Umru al-Qais, Alqamah dan Ubaid menulis syair-syair qasidah dan membacakannya di depan Kaabah. Bahkan ada beberapa qasidah yang ditulis oleh Umru al- Qais yang menjadi sebahagian daripada syair yang digantung di dinding Kaabah. Setelah kedatangan Islam, seni qasidah terus hidup dengan penukaran kepada qasidah yang menyeru kepada kecintaan terhadap Allah dan Rasulullah.

Qasidah mencapai kemuncaknya pada zaman Abbasiyah. Para penyair Islam seperti al- Mutanabbi, tidak hanya mencipta syair qasidah, tetapi juga mengembangkan ilmu yang menjadi kaedah penulisannya, iaitu 'ilm 'arud. Pada zaman Mamluk, qasidah mendapat perhatian bersungguh- sungguh. Al-Busyiri, seorang penyair, mengarang himpunan qasidah yang dikenali dengan qasidah Burdah. Qasidah ini memuatkan pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Penulisan syair lagu Qasidah berzanji yang kini popular di kalangan masyarakat di Indonesia dan Malaysia, banyak dipengaruhi oleh buku karangan al-Busyiri.

Syair yang dikenali di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersama para sahabatnya adalah berbeza dengan al-ghina’ (nyanyian). Syair arab yang dimaksudkan adalah merujuk kepada lantunan suara dengan nada biasa seperti puisi, syair, atau sajak .

Al-Ghina’ (nyanyian) pula merujuk kepada lantunan suara seperti syair tetapi dengan bentuk alunan suara yang dinyaringkan dan diperindahkan dengan susunan seni suara tertentu yang khusus.

Al-Hafiz Ibnu Hajar al’Asqalani rahimahullah (Wafat: 852H) menyebutkan:

ويطلق الغناء (بالمد والكسر): على الترنم الذي تسميه العرب (النصب) بفتح النون وسكون المهملة

Terjemahan: Disebut al-ghina’) adalah menyanyi dengan susunan irama/intonasi yang dinyaringkan (disebut an-Nashab) oleh orang ‘Arab. (al-Hafiz Ibnu Hajar, Fathul Bari, 2/442)

Secara umumnya, syair adalah mubah (dibolehkan) selagi mana di dalamnya tidak mengandungi sesuatu yang terlarang.

AL-GHINA'

Berkenaan al-Ghina' (nyayian) pula, ulama’ berselisih pendapat antara yang membenarkan dan mengharuskannya. Bagi yang mengharuskannya seumpama Ibnu Hazm, Asy-Syeikh Abdul Ghani An-Nabulsi, Asy-Syazili At-Tunisi dan lain-lain meletakkan syarat mestilah mempunyai niat yang betul dan tidak bertentangan dengan syara’.

Isu nyanyian dan muzik dalam Islam juga merupakan perkara yang diperselisihkan oleh ulama’, antaranya menghukumkan nyanyian sebagai haram dan harus. Masing-masing mempunyai hujah-hujah yang tersendiri dalam memahami nas-nas yang berkaitan dengan perkara ini.

Namun, ulama’ bersepakat dalam menghukumkan haram bagi setiap jenis nyanyian yang mengandungi unsur kekejian, unsur kefasikan atau unsur penggalakkan ke arah melakukan maksiat.ada golongan yang mengharuskan jika sekiranya tanpa alat muzik dan ada juga yang mengharamkan secara mutlak samada menggunakan alat muzik ataupun tidak.

Teks Hadis tentang Syair

Syair telah menjadi sebahagian dari tradisi orang-orang Arab jahiliyah. Sejarah menunjukkan bahawa pada zaman Rasulullah Saw telah terbentuk sebuah pasar syair yang dikenal dengan nama Pasar ‘Uqadz tempat para ahli syair dari segala penjuru qabilah melantunkan syair-syair karya mereka, dan bagi syair-syair terbaik diberikan hadiah dan karyanya ditempalkan pada dinding Kabah.

Dalam Islam terdapat dua bentuk penjelasan tentang kedudukan syair. Ada teks yang menjelaskan tentang kebolehannya dan ada pula yang mencelanya. Berikut beberapa teks hadis yang menjelaskan kebolehan syair dan bersyair:

عَنْ عَمْرِو بْنِ الشَّرِيدِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ رَدِفْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمًا فَقَالَ هَلْ مَعَكَ مِنْ شِعْرِ أُمَيَّةَ بْنِ أَبِى الصَّلْتِ شَيْئًا قُلْتُ نَعَمْ قَالَ: هِيهِ فَأَنْشَدْتُهُ بَيْتًا فَقَالَ: هِيهِ ثُمَّ أَنْشَدْتُهُ بَيْتًا فَقَالَ: هِيهِ حَتَّى أَنْشَدْتُهُ مِائَةَ بَيْتٍ

Dari Amru bin al-Syarid dari Ayahnya, ia berkata, “Suatu ketika aku bersama Rasulullah saw, kemudian beliau berkata, ‘Apakah kamu mengetahui beberapa (bait) dari syair karya Umayyah bin ash-Shalt?’ Aku menjawab, ‘Ya’. Beliau berkata, ‘lantunkanlah!’, kemudian aku melantunkan satu bait. Beliau berkata, ‘lanjutkan’ kemudian aku melantunkan satu bait. Beliau berkata, ‘lanjutkan’. Hingga aku melantunkan 100 bait (syair)” H.r. Muslim

Imam an-Nawawi rahimahullah (Wafat: 676H) berkata ketika menjelaskan berkenaan hadis yang menyebutkan persoalan Syairnya Umayyah, beliau berkata:

وَمَقْصُود الْحَدِيث أَنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِسْتَحْسَنَ شِعْر أُمِّيَّة , وَاسْتَزَادَ مِنْ إِنْشَاده لِمَا فِيهِ مِنْ الْإِقْرَار بِالْوَحْدَانِيَّةِ وَالْبَعْث , فَفِيهِ جَوَاز إِنْشَاد الشِّعْر الَّذِي لَا فُحْش فِيهِ , وَسَمَاعه , سَوَاء شِعْر الْجَاهِلِيَّة وَغَيْرهمْ , وَأَنَّ الْمَذْمُوم مِنْ الشِّعْر الَّذِي لَا فُحْش فِيهِ إِنَّمَا هُوَ الْإِكْثَار مِنْهُ , وَكَوْنه غَالِبًا عَلَى الْإِنْسَان . فَأَمَّا يَسِيره فَلَا بَأْس بِإِنْشَادِهِ وَسَمَاعه وَحِفْظه

“Maksud hadis ini menunjukkan bahawa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menganggap baik syair Umayyah dan meminta tambahan syair terhadap apa yang ada di dalamnya dari pengakuannya terhadap ke-Esaan (Allah) dan hari akhir. Dan di dalamnya maklumat tentang bolehnya melantunkan syair yang tidak mengandungi kekejian, sekaligus mendengarkannya. Sama sahaja, adakah syair tersebut merupakan syair Jahiliyyah atau selainnya. Dan yang perlu dijauhi berkaitan persoalan syair yang tidak mengandungi kekejian ini adalah yang tidak berlebihan padanya. Dan itulah yang biasanya terjadi kepada diri manusia. Adapun sedikit syair dengan cara melantunkan, mendengarnya, atau menghafalnya maka tidak mengapa.” (an-Nawawi, Syarah Shohih Muslim, 12/15)

Selain riwayat di atas terdapat pula keterangan lain sebagaimana diriwayatkan oleh al-Tirmidzi sebagai berikut:

عن أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ مَكَّةَ فِي عُمْرَةِ الْقَضَاءِ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَوَاحَةَ بَيْنَ يَدَيْهِ يَمْشِي وَهُوَ يَقُولُ خَلُّوا بَنِي الْكُفَّارِ عن سَبِيلِهِ الْيَوْمَ نَضْرِبْكُمْ عَلَى تَنْزِيلِهِ ضَرْبًا يُزِيلُ الْهَامَ عن مَقِيلِهِ وَيُذْهِلُ الْخَلِيلَ عن خَلِيلِهِ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ يَا ابْنَ رَوَاحَةَ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي حَرَمِ اللَّهِ تَقُولُ الشِّعْرَ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَلِّ عَنْهُ يَا عُمَرُ فَلَهِيَ أَسْرَعُ فِيهِمْ مِنْ نَضْحِ النَّبْلِ

Dari Anas bahwasanya Rasulullah Saw masuk ke Makkah pada masa umrah Qadha dan Abdullah bin Rawahah sedang berjalan di depan beliau sambil berkata : “Berikan jalan kepada anak orang-orang kafir # Hari ini kami akan memukul kalian dirumah kalian # Dengan pukulan yang menghilangkan kesedihan dari peraduannya # Dan menjauhkan seorang kekasih dari kekasihnya. Umar kemudian berkata kepadanya : ‘wahai Ibnu Rawahah dihadapan Rasulullah Saw dan didalam masjid al-haram kamu melantunkan syair?’ kemudian Nabi Saw berkata kepada Umar : “Biarkan dia wahai Umar sebab hal itu lebih mempercepat dari siraman yang baik”

Dalam riwayat yang lain Rasulullah Saw memuji syair salah seorang sahabat yang bernama Labid bin Rabi’ah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَصْدَقُ كَلِمَةٍ قَالَهَا الشَّاعِرُ كَلِمَةُ لَبِيدٍ: أَلَا كُلُّ شَيْءٍ مَا خَلَا اللهَ بَاطِلُ وَكَادَ ابْنُ أَبِي الصَّلْتِ يُسْلِمُ

Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallhu ‘alaihi wa sallam beliau berkata : “Kalimat yang paling benar yang diucapkan oleh penyair adalah kalimat Labid: “Ketahuilah segala sesuatu yang selain Allah adalah batil (rosak dan binasa)”. Dan hampir saja Umayyah bin Abu al-Shalt memeluk Islam”. H.r. At-Thahawi

Dalam riwayat lain Rasulullah Saw mengemukakan bahwasanya terdapat kandungan hikmah dibalik bait-bait syair sebagaimana sabda Baginda Saw:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- : إِنَّ مِنَ الشِّعْرِ حِكْمَةً

Dari Ibnu Abas, ia berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya terdapat hikmah diantara (bait-bait) syair’.” H.r. Al-Baihaqi

Adapun hadis yang menerangkan akan ketidakbolehan syair dan bersyair adalah :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لأَنْ يَمْتَلِئَ جَوْفُ أَحَدِكُمْ قَيْحًا خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمْتَلِئَ شِعْرًا

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Lambung seseorang penuh dengan nanah lebih baik daripada penuh dengan syair’.” H.r. Abu Daud

Pemahaman Hadis-hadis Syair

Dari beberapa teks hadis di atas menunjukkan terjadinya kontroversi tentang hukum syair. Di satu sisi Rasulullah saw membenarkan dan menyuruh sebahagian dari sahabat Baginda untuk melantunkan syair, bahkan Baginda sendiri melantunkan syair sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad dan al-Tirmidzi :

عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ شُرَيْحٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قُلْتُ لِعَائِشَةَ هَلْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَمَثَّلُ الشِّعْرَ قَالَتْ رُبَّمَا تَمَثَّلَ شِعْرَ ابْنِ رَوَاحَةَ وَيَقُولُ وَيَأْتِيكَ بِالْأَخْبَارِ مِنْ لَمْ تُزَوِّدِ

Dari al-Miqdam bin Syureh, dari Ayahnya, ia berkata, “Aku bertanya kepada Aisyah: ‘Apakah Rasulullah Pernah melantunkan syair?’ Aisyah menjawab, ‘Beliau pernah melantunkan Syair Ibnu Rawahah dan beliau melantunkan: ‘Dan akan datang kepadamu berita dari yang tidak kamu sangka’.”

Namun pada sisi yang lain Rasulullah saw melarang untuk bersyair sebagaimana sabda Baginda Saw :

لأَنْ يَمْتَلِئَ جَوْفُ أَحَدِكُمْ قَيْحًا خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمْتَلِئَ شِعْرًا » – رواه أبو داود –

“Lambung seseorang penuh dengan nanah lebih baik daripada penuh dengan syair”. H.r. Abu Daud

Ketika melihat hadis kedua tentang larangan bersyair secara zahir, maka akan ditemukan larangan untuk bersyair secara mutlak, sebab Rasulullah Saw menyebutkan bahwa “perut seseorang dipenuhi oleh nanah (yang dapat merosaknya) lebih baik daripada dipenuhi oleh syair”. Atas dasar ini beberapa ulama melarang syair secara mutlak berdasarkan hadis tersebut.

Al-Hafiz Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah berkata:

هذه المبالغة في ذم الشعر أن الذين خوطبوا بذلك كانوا في غاية الإقبال عليه والاشتغال به فزجرهم عنه ليقبلوا على القرآن وعلى ذكر الله تعالى وعبادته فمن أخذ من ذلك ما أمر به لم يضره ما بقي عنده مما سوى ذلك والله أعلم

“Penyebab munculnya celaan yang cukup keras tersebut adalah disebabkan orang yang diajak berbicara merupakan orang-orang yang menyibukkan diri dan menghabiskan waktunya hanya untuk bersyair, sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mencela mereka supaya mereka kembali kepada al-Qur’an, berzikir, dan beribadah kepada Allah. Sesiapa yang telah melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya, maka tidak mengapa sekiranya baki waktunya yang tinggal (sisa waktu yang tinggal) digunakan untuk perkara lain. Wallahu a’lam. (Fathul Bari, 10/550)

Imam Ibnu Hajar berkata: “Para ulama terdahulu berbeda pendapat tentang apabila isi sebuah kitab seluruhnya adalah syair, Al-Sya’bi berpendapat bahawa hal tersebut (kitab dipenuhi oleh syair) tidak boleh, dan al-Zuhry berpendapat bahawa telah menjadi sebuah sunnah terdahulu bahwa basmalah tidak boleh tercampur dengan syair, sementara Said bin Jubair dan Jumhur serta pilihan al-Khatib bahawa buku yang dipenuhi dengan syair dan basmalah tercampur dengan syair adalah boleh”

Sebenarnya hadis tentang larangan bersyair memiliki asabab al-wurud, sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim sebagai berikut:

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ نَسِيرُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِاْلعَرْجِ إِذْ عَرَضَ شََاعِرٌ يُنْشِدُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-: خُذُوا الشَّيْطَانَ أَوْ أَمْسِكُوا الشَّيْطَانَ لأَنْ يَمْتَلِئَ جَوْفُ رَجُلٍ قَيْحًا خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمْتَلِئَ شِعْرًا

Dari Abu Said al-Khudri, ia berkata, “Ketika kami sedang berjalan bersama Rasulullah Saw di al-’Araj, tiba –tiba seorang penyair membacakan syair (kepada kami) Maka Rasulullah pun berkata: ‘Tahan syaitan itu, Lambung seseorang penuh dengan nanah lebih baik daripada penuh dengan syair”

Ibnu Baththal berkata: sebahagian ulama berpendapat bahawa syair yang dimaksud dalam hadis adalah syair-syair yang mengandung hujatan terhadap Rasulullah Saw. Akan tetapi Abu Ubaid secara pribadi berdasarkan kesepakatan ulama menganggap bahawa penafsiran tentang makna syair adalah penafsiran yang salah sebab kaum muslimin telah sepakat bahawa satu kalimat yang mengandung hujatan kepada Rasulullah Saw maka akan menjadikan kufur. Akan tetapi dikalangan sebahagian ulama melarang syair dan bersyair secara mutlak. Hal tersebut didasarkan perkataan Rasulullah Saw : “tahan Syaitan itu” dan firman Allah yang Artinya: Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. (Q.S. al-Syu’ara’ : 224)

Berdasarkan ayat dan hadis tersebut, mereka yang melarang syair secara mutlak menganggap bahawa syair dan bersyair merupakan pekerjaan syaitan yang sesat. Para ahli tafsir seperti al-Thabary berpendapat bahawa para ahli syair tersebut mengikuti jejak orang-orang yang sesat bukan jejak orang-orang yang mendapat petunjuk. Dan yang dimaksud dengan orang yang sesat menurut Ibnu Abbas adalah para pembuat syair dari kalangan orang-orang kafir dan yang lainnya berpendapat yang dimaksud dengan orang sesat adalah Syaitan. Ikrimah berkata bahawa suatu ketika terdapat dua ahli syair yang saling mencaci satu sama lain (dengan menggunakan syair), maka Allah menurunkan ayat ini (al-Syu’ara’:224). Qatadah berpendapat bahawa para ahli syair memuji seseorang dengan hal-hal yang batil dan mencela dengan hal-hal yang batil pula.

Imam al-Qurthuby mengomentari hadis Abu Said al-Khudri dengan mengatakan bahawa para ulama berkata bahwa Rasulullah Saw melakukan hal tersebut –iaitu mencela penyair tersebut- kerana Baginda Saw telah mengetahui keadaan penyair tersebut, kerana penyair tersebut dikenal sebagai penyair yang menjadikan syair-syairnya sebagai jalan untuk mendapatkan penghasilan sehingga dia berlebihan dalam memuji ketika diberi, dan berlebihan dalam mencela ketika tidak diberi, sehingga menyiksa manusia, baik dari segi harta mahupun kehormatan. Oleh kerana itu mereka yang melakukan hal ini wajib untuk diingkari.

An-Nawawi berkata : syair itu hukumnya boleh selama didalamnya tidak terdapat hal-hal yang keji dan sejenisnya.

Al-Mubarakfury berkata: yang dimaksud dengan memenuhi (perutnya dengan syair) adalah ketika syair telah menguasainya dimana dia lebih disibukkan dengannya dari al-Qur’an dan ilmu-ilmu Islam lainnya, maka hal tersebut menjadi syair yang tercela apapun bentuknya.

Maka dari itu Imam al-Bukhary dalam shahihnya memberikan bab khusus tentang syair dengan nama bab dibencinya syair ketika lebih mendominasi manusia dari al-Qur’an dan zikir kepada Allah. Jadi apabila seseorang menjadikan al-Qur’an dan Ibadah kepada Allah sebagai kesibukan utama, maka baginya boleh untuk membuat syair dan melantunkankannya selama syair tersebut tidak bertentangan dengan aturan-aturan syari’at.

Berdasarkan analisis dari pendapat para ulama di atas dapat difahami secara kontekstual bahawa hadis Rasulullah Saw yang menyebutkan secara eksplisit larangan syair dan bersyair bersifat temporal karena syair yang terlarang adalah syair yang mengandung pujian yang berlebihan dan dicampuri dengan kebohongan serta syair yang mengandung cacian, celaan dan hinaan terhadap harkat dan martabat manusia baik secara khusus mahupun umum. Sehingga hadis tentang larangan syair dan bersyair hanya dapat difahami dengan kaedah:

الْعِبْرَةُ بِخُصُوْصِ السَّبَبِ لاَ بِعُمُوْمِ اللَّفْظِ

“Yang dijadikan sebagai pengajaran adalah kekhususan sebab bukan keumuman lafaz”

Akan tetapi Rasulullah Saw sebagai seorang arab memiliki kecenderungan melantunkan syair dan mendengarkan syair sebagaimana hadis-hadis yang menjelaskan akan kebolehan syair dan melantunkan syair tetapi Baginda tidak membuat atau menyusun syair karena kedudukan beliau sebagai Rasul hal ini ditegaskan oleh dalam firmanNya yang artinya: “Dan kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan Kitab yang memberi penerangan” (Q.S. Yasin : 69).

Ayat di atas menunjukkan bahawa Rasulullah Saw tidak membuat atau menyusun syair dan tidak mengatakan sebait syair pun, jika beliau ingin melantunkan syair beliau tidak menyempurnakan atau senantiasa memotong timbangan syair tersebut, sebagai salah contoh sebagaimana disebutkan oleh Aisyah dalam riwayat Ahmad & al-Tirmidzi :

رُبَّمَا تَمَثَّلَ شِعْرَ ابْنِ رَوَاحَةَ وَيَقُولُ وَيَأْتِيكَ بِالْأَخْبَارِ مِنْ لَمْ تُزَوِّدِ

‘Beliau pernah melantunkan Syair Ibnu Rawahah dan beliau melantunkan: ‘Dan akan datang kepadamu berita dari yang tidak kamu sangka’.”

Penjelasan dari Aisyah menunjukkan bahawa Rasulullah Saw hanya menyebutkan dan melantunkan potongan syair karya Abdullah bin Rawahah pada masa perang Khandak dengan tujuan agar lebih bersemangat, karena sesungguhnya syair karya Ibnu Rawahah menyebutkan :

سَتُبْدِي لَكَ الْأَيَّامُ مَا كُنْتَ جَاهِلًا وَيَأْتِيكَ بِالْأَخْبَارِ مَنْ لَمْ تُزَوِّدِ

Akan tampak kepadamu hari hari dimana kebodohanmu # Dan akan datang kepadamu berita dari yang tidak kamu sangka

Dan banyak lagi riwayat-riwayat lain yang menunjukkan bahawa Baginda hanya menyebutkan syair karya sahabat-sahabat dengan cara memotongnya dan bukan dari syair-yair karya Baginda sendiri, karena larangan dari Allah. Di antara hikmah larangan Allah terhadap Rasul-Nya untuk menyusun syair dan melantunkannya adalah agar anggapan kaum kafir bahawa Rasulullah Saw adalah seorang ahli syair dan al-Qur’an merupakan syair karya Muhammad Saw terbantahkan.

Kesimpulan

Dari huraian di atas dapat disimpulkan bahawa hadis tentang larangan syair dan bersyair bersifat temporal karena syair yang terlarang adalah syair yang menyalahi aturan-aturan syariat, dan syair yang tercela adalah syair-syair yang disusun untuk merendahkan martabat manusia secara umum dan kaum muslimin secara khusus. Demikian pula syair yang sangat menyibukkan melebihi kesibukan dalam membaca al-Qur’an dan beribadah kepada Allah.

Adapun syair-syair yang disusun dengan tidak menyampingkan apalagi meninggalkan ibadah kepada Allah dengan tujuan untuk menyedarkan manusia atau membangkitkan semangat kaum muslimin dan melemahkan semangat kaum kafir dan sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah, maka syair tersebut adalah syair yang dibolehkan dan bahkan mendapatkan posisi terpuji dalam Islam sebagaimana yang pernah diberikan kepada para ahli syair dari kalangan sahabat seperti Hassan, Labid, Abdullah bin Rawahah dan selainnya yang dikenal sebagai ahli syair pada masa mereka. Selain itu larangan mutlak untuk menyusun syair dan melantunkannya hanya dikhususkan kepada Rasulullah Saw dan tidak kepada umatnya.

Mohd. Abd. Rashid Bin Yah al-Kubrawiy al-Husaini

Jumaat, 7 Februari 2014

PENYEBUTAN KATA “SAYYIDINA” KEPADA NABI MUHAMMAD SAW ADALAH KEHARUSAN

Mawlana Shaykh Hisham bersama dengan Rambut Rasulullah Sollallahu Alaihi Wa Sallam yang dipamerkan di Burton, Michigan

Allah swt.berfirman : “Janganlah kalian memanggil Rasul (Muhammad) seperti kalian memanggil sesama orang diantara kalian”. (S.An-Nur : 63). Dalam tafsirnya mengenai ayat diatas ini Ash-Shawi mengatakan: Makna ayat itu ialah janganlah kalian memanggil atau menyebut nama Rasulallah saw. cukup dengan nama beliau saja, seperti Hai Muhammad atau cukup dengan nama julukannya saja Hai Abul Qasim. Hendaklah kalian menyebut namanya atau memanggilnya dengan penuh hormat, dengan menyebut kemuliaan dan keagungannya. Demikianlah yang dimaksud oleh ayat tersebut di atas.

Menurut Ibnu Jarir, dalam menafsirkan ayat tersebut Qatadah mengatakan : Dengan ayat itu (An-Nur:63) Allah memerintahkan ummat Islam supaya memuliakan dan mengagungkan Rasulallah saw.

Dalam kitab Al-Iklil Fi Istinbathit-Tanzil Imam Suyuthi mengatakan: Dengan turunnya ayat tersebut Allah melarang ummat Islam menyebut beliau saw. atau memanggil beliau hanya dengan namanya, tetapi harus menyebut atau memanggil beliau dengan Ya Rasulallah atau Ya Nabiyullah. Menurut kenyataan sebutan atau panggilan demikian itu tetap berlaku, kendati beliau telah wafat.

Dalam kitab Fathul-Bari syarh Shahihil Bukhori juga terdapat penegasan seperti tersebut diatas, dengan tambahan keterangan sebuah riwayat berasal dari Ibnu ‘Abbas ra. yang diriwayatkan oleh Ad-Dhahhak, bahwa sebelum ayat tersebut turun kaum Muslimin memanggil Rasulallah saw. hanya dengan Hai Muhammad, Hai Ahmad, Hai Abul-Qasim dan lain sebagainya. Dengan menurunkan ayat itu Allah swt. melarang mereka menyebut atau memanggil Rasulallah saw. dengan ucapan-ucapan tadi. Mereka kemudian menggantinya dengan kata-kata : Ya Rasulallah, dan Ya Nabiyullah.

Presiden Chechnya, Ramzan Kadyrov melihat Rambut Rasulullah Sollallahu Alaihi Wa Sallam


Hampir seluruh ulama Islam dan para ahli Fiqih berbagai madzhab mempunyai pendapat yang sama mengenai soal tersebut, yaitu bahwa mereka semuanya melarang orang menggunakan sebutan atau panggilan sebagaimana yang dilakukan orang sebelum ayat tersebut diatas turun.

Didalam Al-Qur’an banyak terdapat ayat-ayat yang mengisyaratkan makna tersebut diatas. Antara lain firman Allah swt. dalam surat Al-A’raf : 157 ; Al-Fath : 8-9, Al-Insyirah : 4 dan lain sebagainya. Dalam ayat-ayat ini Allah swt. memuji kaum muslimin yang bersikap hormat dan memuliakan Rasulallah saw., bahkan menyebut mereka sebagai orang-orang yang beruntung. Juga firman Allah swt. mengajarkan kepada kita tatakrama yang mana dalam firman-Nya tidak pernah memanggil atau menyebut Rasul-Nya dengan kalimat Hai Muhammad, tetapi memanggil beliau dengan kalimat Hai Rasul atau Hai Nabi.

Firman-firman Allah swt. tersebut cukup gamblang dan jelas membuktikan bahwa Allah swt. mengangkat dan menjunjung Rasul-Nya sedemikian tinggi, hingga layak disebut sayyidina atau junjungan kita Muhammad Rasulallah saw. Menyebut nama beliau saw. tanpa diawali dengan kata yang menunjuk- kan penghormatan, seperti sayyidina tidak sesuai dengan pengagungan yang selayaknya kepada kedudukan dan martabat beliau.

Al-Hakim dalam Al-Mustadrak. Hadits yang mempunyai isnad shohih ini berasal dari Jabir bin ‘Abdullah ra. yang mengatakan sebagai berikut:

“Pada suatu hari kulihat Rasulallah saw. naik keatas mimbar. Setelah memanjatkan puji syukur kehadirat Allah saw. beliau bertanya : ‘Siapakah aku ini ?’ Kami menyahut: Rasulallah ! Beliau bertanya lagi: ‘Ya, benar, tetapi siapakah aku ini ?’. Kami menjawab : Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul-Mutthalib bin Hasyim bin ‘Abdi Manaf ! Beliau kemudian menyatakan : ‘Aku sayyid anak Adam….’.”

Riwayat hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa Rasulallah saw. lebih suka kalau para sahabatnya menyebut nama beliau dengan kata sayyid. Dengan kata sayyid itu menunjukkan perbedaan kedudukan beliau dari kedudukan para Nabi dan Rasul terdahulu, bahkan dari semua manusia sejagat.

Para sahabat pun menghormati keluarga Rosul dgn menyebut sayyidi

Didalam Al-Mustadrak Al-Hakim mengetengahkan sebuah hadits dengan isnad shohih, bahwa “Abu Hurairah ra. dalam menjawab ucapan salam Al-Hasan bin ‘Ali ra. selalu mengatakan “Alaikassalam ya sayyidi”. Atas pertanyaan seorang sahabat ia menjawab: ‘Aku mendengar sendiri Rasulallah saw. menyebutnya (Al-Hasan ra.) sayyid’ “.

Ibnu ‘Athaillah dalam bukunya Miftahul-Falah mengenai pembicaraannya soal sholawat Nabi mewanti-wanti pembacanya sebagai berikut: “Hendak- nya anda berhati-hati jangan sampai meninggalkan lafadz sayyidina dalam bersholawat, karena didalam lafadz itu terdapat rahasia yang tampak jelas bagi orang yang selalu mengamalkannya”.

Ini baru segelintir dalil yg dpt ana paparkan.msh bnyk dalil2 yg menjelaskan ttg keutamaan dan keharusan menyebut Nama Rosul didahului sebutan yg mulia.

اَللَّهُمَّ صَلِِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَىآلِ. سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Source: Ust. Ivan Madinah