PAUTAN TAMBAHAN

Jumaat, 29 Julai 2016

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (QS Adz Dzaariyaat [51]: 55)



Kita adalah da’i sebelum menekuni profesi apa pun. Karena berda’wah dan mengajak kepada kebaikan sesuai dengan kemampuan adalah tuntutan keimanan seorang mukmin. Termasuk bagian dari da’wah adalah At Tadzkir (memberi peringatan) bukan memberi hidayah. Sebab, manusia dikenal pelupa. Maka, ia dalam bahasa Arab disebut Insaan likatsrati nisyaan (karena sering lupa). Sementara memberi hidayah hak prerogratif Allah swt.

Tugas Nabi saw dan da’i

Ayat di atas didahului dengan perintah Allah swt kepada Rasulullah saw untuk berpaling dari orang-orang kafir dan tidak selalu risau dan galau terhadap dosa-dosa mereka (QS Adz Dzaariyaat [51]: 54). Sebab, tugas Rasul hanyalah Al Balaagh (menyampaikan risalah) dan At-Tadzkir. Dan beliau saw telah melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya.

Ayat ini menunjukan kegalauan yang sekaligus perhatian besar Rasulullah yang besar terhadap kaumnya. Namun, kemudian Allah menegaskan bahwa tugas beliau hanyalah memberi peringatan, bukan memberi hidayah. Dalam ayat lain, Allah juga berfirman, “Maka tetaplah memberi peringatan, sesungguhnya engkau hanya pemberi peringatan” (QS Al Ghaasyiyah [88]:21). Apakah mereka merespon secara positif atau negatif itu bukan wewenang dan urusan Nabi. Firman Allah, “Engkau tidaklah mampu menguasai (hati) mereka” (QS Al Al Ghaasyiyah [88]:22). Sebab, yang mampu memberi hidayah hanyalah Allah. Karenanya Rasulullah saw pernah ditegur olah Allah ketika bersikeras ingin mengajak dan menyeru pamannya, Abu Thalib kepada laailaaha illallah menjelang akhir hayatnya seperti dalam hadits riwayat Imam Muslim (lihat Asbabun Nuzul, As Suyuti) sehingga turunlah ayat, “Sesungguhnya engkau tidak akan mampu memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai. Akan tetapi Allah yang mampu memberi hidayah kepada orang yang ia kehendaki. Dan Dia Maha Mengetahui orang-orang yang telah mendapat hidayah” (QS Al Qashas [28]: 56). Dan da’i adalah pewaris Nabi, maka ia mengemban misi dan tugas Nabi.

Menurut Syekh Abdurrahman As Sa’di dalam kitab tafsirnya, bahwa At Tadzkir yang diemban oleh Nabi dan juga da’i ada dua macam:

Mengingatkan hal-hal yang tidak diketahui secara terperinci, namun secara global dapat dicerna dan diketahui oleh fitrah dan akal. Sebab, Allah telah menciptakan akal untuk menyukai kebaikan dan membenci keburukan. Dan syari’at Allah menyetujui hal itu. Untuk itu semua yang diperintahkan dan dilarang oleh syari’at adalah masuk dalam kategori tadzkir. Dan sempurnanya tadzkir adalah mengingatkan kebaikan dan kemaslahatan yang terdapat dalam setiap perintah syari’at dan mengingatkan kemudharatan yang terdapat dalam setiap larangan syari’at.

Mengingatkan apa yang sudah maklum diketahui oleh orang-orang mukmin, tetapi kelalaian menimpanya sehingga perlu diingatkan secara berulang-ulang supaya terpatri dalam benaknya untuk kemudian diamalkan. (Taysir Al Karim Ar Rahman fi Tafsir Kalam Al Mannan, As Sa’di, hal. 812, Muassasah Ar Risalah Lebanon, 2002)

Dari sudut pandang pendidikan keluarga. Tentu ayat ini sangat penting bagi para orangtua dan kalangan pendidik bahwa kewajiban mereka adalah selalu mengingatkan secara kesinambungan dan tanpa kenal putus asa para anak dan siswa mereka untuk senantiasa rajin belajar, berakhlakul karimah dan menjadi anak yang shalih.

Orang beriman selalu merespon positif teguran dan peringatan

Dalam ayat di atas, Allah swt mempostkan bahwa peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. Keimanan, rasa takut (khosyyah), ketundukan dan mengikuti ridha Allah yang mereka miliki mewajibkan mereka untuk dapat mengambil manfaat setiap teguran, nasehat dan peringatan. Ayat ini sekaligus memberikan pemahaman betapa bahayanya orang yang tidak terpengaruh dan tidak mengambil manfaat dari peringatan. Sebab, dikhawatirkan hal ini menafikan keimanannya. Sungguh kerugian dan malapetaka besar ketika seseorang mengklaim beriman, tetapi tidak dianggap beriman karena tidak mau mengambil pelajaran dari setiap peringatan.

Hal ini dipertegas oleh Allah swt dalam ayat yang lain, “Maka berikanlah peringatan jika peringatan itu bermanfaat. Orang yang takut akan dapat mengambil pelajaran, sementara orang yang celaka akan menjauhinya”(QS Al A’la [85]: 9:10).

Sementara orang yang tidak memiliki iman dan tidak memiliki kesiapan untuk menerima peringatan, maka tidak ada manfaatnya memberikan peringatan kepadanya. Ia seperti tanah yang teramat tandus dan gersang yang tidak terpengaruh oleh air hujan sederas apapun. Manusia yang semacam ini meski dibombardir dengan ayat sebayak apapun tidak akan beriman sampai mereka melihat azab yang sangat pedih. Inilah prototype orang kafir yang sngat bebal dan kebal terhadap peringatan apa pun sebagaimana firman Allah swt “Sesungguhnya orang-orang kafir itu sama saja engkau beri peringatan atau tidak, mereka tidak akan beriman” (QS Al Baqarah [2]: 6)

Hal ini menuntut kita untuk waspada, jangan sampai kita memiliki sifat seperti orang kafir. Seorang istri harus mendengar nasehat dan peringatan suaminya. Begitu juga sebaliknya. Anak mendengar peringatan-peringatan dan petuah orangtuanya. Murid mesti merespek nasehat dan teguran gurunya. Seorang pemimpin harus merespon positif setiap peringatan dan teguran rakyatnya. Sekeras apapun peringatan yang ditunjukan kepada kita, dari siapapun datangnya selama itu positif dan membawa kebaikan dunia dan akhirat, kita harus menerimanya dengan lapang dada dan tangan terbuka.

Al Quran telah mengabadikan sosok ternama di zamannya yang dihancurkan dan dibinasakan olah Allah swt karena sombong dan tidak pernah mau mendengar nasehat dan peringatan Rasul-Nya. Di antaranya adalah kaum ‘Ad, Tsamud, Fir’aun, Qarun dan lain-lain.

Nah, relakah terlucuti keimanan dari hati kita gara-gara kita tidak mau mengambil manfaat dari setiap peringatan?! Sebab, dalam kajian tafsir Imam Ibnu Katsir - rahimahullah - bahwa, “Hanya hati yang beriman yang dapat mengambil manfaat dari setiap peringatan.” (Tafsir Ibnu katsir V/213)

Dan keunggulan manusia-manusia besar yang dicatat dengan tinta emas sejarah adalah diantaranya disebabkan mereka adalah manusia yang selalu terbuka dengan teguran dan peringatan. Sayyidina Umar bin Khathab ra misalnya, mengungkapkan kebahagiaannya yang luar biasa ketika ditegur dan diperlihatkan kekurangan-kekuranganya oleh sahabatnya, bahkan beliau ra sampai perlu mendoakannya dengan mengatakan, “Semoga Allah merahmati orang yang menghadiahkan kepadaku aib atau kekurangan-kekuranganku.”

Semoga kita sekeluarga selalu mampu memelihara dan mempertahankan kualitas keimanan kita dengan selalu merespon positif setiap nasehat, teguran dan peringatan dari manapun datangnya.

Khamis, 28 Julai 2016

Hukum Memilih Pemimpin Kafir [ Bukan Muslim Hukumnya Haram ] - Buya Yahya



DALIL QUR’AN TENTANG HARAMNYA ORANG KAFIR MEMIMPIN UMAT ISLAM

Berikut ini adalah sejumlah Dalil Qur’ani beserta Terjemah Qur’an Surat (TQS) yang menjadi dasar untuk bersikap dalam memilih pemimpin :

Al-Qur’an melarang menjadikan orang kafir sebagai Pemimpin

3. Aali ‘Imraan : 28.

{لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ} [آل عمران: 28]

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN/PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Alloh, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Alloh memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Alloh kembali(mu).”

4. An-Nisaa’ : 144.

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَتُرِيدُونَ أَنْ تَجْعَلُوا لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُبِينًا} [النساء: 144]

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Alloh (untuk menyiksamu) ?”

5. Al-Maa-idah : 57.

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا وَلَعِبًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ} [المائدة: 57]

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi PEMIMPINMU, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Alloh jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.”

Al-Qur’an melarang menjadikan orang kafir sebagai Pemimpin walau Kerabat sendiri :

9. At-Taubah : 23.

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا آبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الْإِيمَانِ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ } [التوبة: 23]

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan BAPAK-BAPAK dan SAUDARA-SAUDARAMU menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan, dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

58. Al-Mujaadilah : 22.

{لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ} [المجادلة: 22]

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Alloh dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Alloh dan Rasul-Nya, sekali pun orang-orang itu BAPAK-BAPAK, atau ANAK-ANAK atau SAUDARA-SAUDARA atau pun KELUARGA mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada- Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Alloh ridha terhadap mereka, dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Alloh. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.”

Al-Qur’an melarang menjadikan orang kafir sebagai teman setia

3. Aali ‘Imraan : 118.

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ } [آل عمران: 118]

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi TEMAN KEPERCAYAANMU orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.”

9. At-Taubah : 16.

{ أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تُتْرَكُوا وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَلَمْ يَتَّخِذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَا رَسُولِهِ وَلَا الْمُؤْمِنِينَ وَلِيجَةً وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ} [التوبة: 16]

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan sedang Alloh belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi TEMAN SETIA selain Alloh, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman? Dan Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Al-Qur’an melarang saling tolong dengan kafir yang akan merugikan umat Islam

28. Al-Qashash : 86.

{ وَمَا كُنْتَ تَرْجُو أَنْ يُلْقَى إِلَيْكَ الْكِتَابُ إِلَّا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ ظَهِيرًا لِلْكَافِرِينَ} [القصص: 86]

“Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al-Quran diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu menjadi PENOLONG bagi orang-orang kafir.”

60. Al-Mumtahanah : 13.

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ قَدْ يَئِسُوا مِنَ الْآخِرَةِ كَمَا يَئِسَ الْكُفَّارُ مِنْ أَصْحَابِ الْقُبُورِ} [الممتحنة: 13]

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan PENOLONGMU kaum yang dimurkai Alloh. Sesungguhnya mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa.”

Al-Qur’an melarang mentaati orang kafir untuk menguasai muslim

3. Aali ‘Imraan : 149-150.

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا الَّذِينَ كَفَرُوا يَرُدُّوكُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ (149) بَلِ اللَّهُ مَوْلَاكُمْ وَهُوَ خَيْرُ النَّاصِرِينَ } [آل عمران: 149، 150]

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu MENTAATI orang-orang yang KAFIR itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi. Tetapi (ikutilah Alloh), Alloh lah Pelindungmu, dan Dialah sebaik-baik Penolong.”

Al-Qur’an melarang beri peluang kepada orang kafir sehingga menguasai muslim

4. An-Nisaa’ : 141.

{… وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا} [النساء: 141]

“…… dan Alloh sekali-kali tidak akan MEMBERI JALAN kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” Al-Qur’an memvonis munafiq kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin

4. An-Nisaa’ : 138-139.

{ بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (138) الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا} [النساء: 138، 139]

“Kabarkanlah kepada orang-orang MUNAFIQ bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih. (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu ? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Alloh.”

Al-Qur’an memvonis ZALIM kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin

5. Al-Maa-idah : 51.

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ } [المائدة: 51]

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang ZALIM.”

Al-Qur’an memvonis fasiq kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin

5. Al-Maa-idah : 80-81.

{تَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنْفُسُهُمْ أَنْ سَخِطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ (80) وَلَوْ كَانُوا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالنَّبِيِّ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَا اتَّخَذُوهُمْ أَوْلِيَاءَ وَلَكِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ فَاسِقُونَ} [المائدة: 80، 81]

“Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Alloh kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Alloh, kepada Nabi dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang FASIQ.”

Al-Qur’an memvonis sesat kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin

60. Al-Mumtahanah : 1.

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ أَنْ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ رَبِّكُمْ إِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي تُسِرُّونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنْتُمْ وَمَنْ يَفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ } [الممتحنة: 1]

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Alloh, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah TERSESAT dari jalan yang lurus.”

Al-Qur’an mengancam adzab bagi yang jadikan kafir sbg Pemimpin / Teman Setia

58. Al-Mujaadilah : 14-15.

{أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ تَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مَا هُمْ مِنْكُمْ وَلَا مِنْهُمْ وَيَحْلِفُونَ عَلَى الْكَذِبِ وَهُمْ يَعْلَمُونَ (14) أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ} [المجادلة: 14، 15]

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Alloh sebagai teman ? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui. Alloh telah menyediakan bagi mereka AZAB yang sangat keras, sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.”

Al-Qur’an mengajarkan doa agar muslim tidak menjadi sasaran fitnah orang kafir
60. Al-Mumtahanah : 5.

{رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ} [الممتحنة: 5]

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (SASARAN) FITNAH bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Sabtu, 23 Julai 2016

Seorang lagi permata ummah dijemput pergi bertemu Illahi, Tuan Guru Salleh Musa Meninggal Dunia


Seorang lagi permata ummah dijemput pergi bertemu Illahi. Buat yang belum mengenali, di bawah disertakan serba ringkas latar belakang beliau.

Nama : Tuan Guru Hj Salleh bin Musa
Tarikh Lahir : 08.02.1929
Ayah : Tn Guru Hj Musa bin Salleh
Ibu : Khatijah bt Md Saad Mehamad
Tempat lahir : Pekan Sik Kedah
Bil Adik beradik : 8 orang
Anak ke : 3

Pendidikan :
1. Sek Rendah Keb Sik (Dan ke Pondok Tn Hussin Kedah, kemudian ke Pondok Tn Guru Hj Mad Nawawi Gurun Kedah, ini kurang mashur kerana Tn Guru Sekejap sahaja disana)
2. Pondok Pak Chu Him Gajah Mati Pendang Kedah
3.Darul Ulum Makkah dan menamatkan sijil kepujian Aliy
4. Kemudian mendalami ilmu di Masjidil Haram Makkah bersama syeikh-syeikh terkemuka diantaranya Syeikh Ismail Fatani , Syeikh Yassin Al Fadani , Syeikh Abd Qadir Mandili , Syeikh Syed Alawi Al Malikki , Syeikh Syed Amin Qutubi dan syeikh muktabar lain .

Berkahwin dengan Hj Hatiah bt Hanafi
Mendapat 2 orang cahaya mata semasa berlajar di Makkah. Tn Guru memiliki 11 orang cahaya mata semuanya. Kini isteri beliau sudah meninggal dunia dan Tn Guru sekali lagi berkahwin dengan Hj Sofiah bt Hj Awang.

Tahun 1964 Tn Guru pulang ke Tanah air dan terus berkhidmat membantu mengajar di pondok ayah beliau di Pekan Sik. Tn Guru menggantikan ayah beliau sebagai mudir Madrasah Ar Rahmaniah hingga sekarang. Sekarang Tn Guru dibantu oleh anak beliau Syeikh Muslim sebagai Timbalan Mudir. Tn Guru menumpukan dakwah sepenuh masa di Pondok hingga sekarang dan beliau menyampaikan dakwah di setiap daerah di sekitar negri Kedah Darul Aman.

KDYMM Sultan Kedah telah anugerahkan beberapa pingat kebesaran , diantaranya B.K.M , S.D.K dan Tokoh Pendakwah Negeri Kedah tahun 2009,

Pada tahun 2010 MB Kedah YAB Dato' Seri Di-Raja Ust Azizan Abd Razak meanugerahkan Tokoh Pondok Negeri Kedah , 2011 beliau dinobat Tokoh Ilmuan Daerah Sik Oleh Pegawai Daerah Sik.

ULAMA DARI TANAH ARAB TERUTAMANYA YAMAN , JORDAN, MESIR SERING MENZIARAHI TN GURU KERANA TN GURU MERUPAKAN ULAMA YANG SEMPAT MENDALAMI ILMU DENGAN ULAMA MUKTABAR MASJIDIL HARAM MAKKAH SATU KETIKA DULU.

Antara masyaikh hafizahumullah yang menziarahi beliau :
Syeikh Yussuf Al Hassani (Lubnan)
Syeikh Muhammad Ibrahim (Mesir)
Habib Kazim ( Yaman )
Habib Abdullah ( Jeddah)
Syeikh Habib ( Jordan)

Saudara yang saya kasihi ,Tn Guru Hj Salleh merupakan ulama yang terkenal di Kedah kerana beberapa faktor ketokohan beliau, diantaranya beliau merupakan Tn Guru Pondok yang paling tua nisbah umur dikalangan Tn Guru Pondok disekitar Kedah.

Kedua beliau merupakan tokoh ulama Tauhid di alam melayu, seluruh pelajar pondok seluruh Malaysia , Thailand akan berkumpul di Pondok Tn Guru Hj Salleh Sik setiap bulan Ramadan semata-mata untuk belajar ilmu tauhid dengan Tn Guru Hj Salleh.

Ketiga beliau sangat petah dalam penyampaian ilmu dan dakwah , mudah difahami apa yang beliau syarahkan. Kuliah minguan beliau setiap hari Jumaat tidak kurang dari 3000 orang yang hadir. Setiap hari beliau gigih mengajar di Madrasah Ar Rahmaniah dan beliau keluar menyampaikan dakwah di seluruh daerah didalam Kedah , hampir 24 tempat beliau jelajah setiap bulan, Allah beri taufiq pada beliau , walau usia 83 tahun tetapi beliau masih bertenaga menyebarkan ilmu dan berjuang.

Keempat ketokohan beliau tidak dapat dinafikan oleh kawan dan lawan ,tegas dalam hukum menyebabkan ramai suka dengan beliau . Allahyarham Pak Teh Keroh pernah berpesan pada muridnya "Kamu semua kena taat segala fatwa dari Tn Guru Hj Salleh Sik."

Kelima beliau sangat aktif berjuang untuk memastikan Islam tertegak didalam negara Malaysia yang kita cintai. Wadah yang beliau pilih adalah Parti Islam Se-Malaysia(PAS) kerana ini merupakan amanat dari dua orang Guru Mulia beliau di Makkah iaitu Syeikh Qadir Mandili dan Syeikh Wan Ismail ( Pak Da Eil).

Keenam Fikiran beliau sangat terbuka.

Ketujuh beliau merupaka tempat rujuk kepada pimpinan tertinggi parti Parti Islam Se-Malaysia Peringkat Pusat & Negeri.

Seorang ulama di negeri Kedah apabila saya ziarahi beliau, beliau berkata " Tn Guru Hj Salleh merupakan setengah daripada orang yang memiliki wilayah yang luas dan punya sahabat dan musuh semua tunduk padanya"

BERASA DOSA andai tidak perkenalkan Ulama yang dikenali kepada Umum .
Masyarakat sekarang selalunya kenal ulama setelah ulama itu meninggal, mari kita mula berazam untuk memperkenalkan ulama tempatan seramai mungkin kepada masyarakat umum , mudahan dengan usaha ini ramai masyarakat dapat mengenali ulama kita yang masih wujud untuk kita sama-sama ambil menafaat dengan mereka.

ULAMA ADALAH PEWARIS ANBIYA , seharusnya kita mendekati mereka.
Jangan setelah mereka meninggal dunia barulah kita menyesal kerana tidak bertemu dan belajar dari mereka.







Jumaat, 1 Julai 2016

Hukum Sambut Raya 6 | Ziarah Kubur Masa Raya & Makan Atas Kubur - Ustaz ...



Suasana hari raya disambut meriah dengan adik-beradik, anak-anak, saudara-mara yang duduk jauh dapat berkumpul sekali. Justeru itu peluang berkumpul itu dimanfaatkan dengan menziarahi kubur untuk sama-sama bertahlil dan berdoa.

Kawasan perkuburan yang banyak diziarahi diberkati dengan doa, tahlil dan ucapan salam daripada pengunjung. Sehubungan dengan itu, ulamak Fiqh menyatakan sunat mengkebumikan jenazah orang Islam di tanah perkuburan yang banyak kubur dan ramai diziarahi orang bagi mendapat doa daripada mereka.

Ziarah kubur bertujuan mengingat mati supaya kita tidak leka dengan nikmat dunia. Firman Allah swt,

أَلْهَـٰــكُمُ التَّكَاثُرُ. حَتَّى زُرْتُمُ المَقَابِرَ

Yang bermaksud, Bermegah-megah telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur[1].
Mengingati mati juga adalah satu cara membersihkan hati, hadith Nabi saw,

قال رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ القُلُوبَ تَصْدَأُ كَمَا يَصْدَأُ الحَدِيد. قِيْلَ : يَا رَسُولَ الله وَمَا جَلاَءُهَا؟ فَقَالَ : تِلاَوَة القُرآن وَذِكْر المَوْت. أخرجه البيهقى

Yang bermaksud, Sabda Rasulullah saw, sesungguhnya hati ini berkarat sepertimana besi yang berkarat. Sahabat bertanya: Wahai Rasulullah bagaimana untuk mengilatkannya? Baginda menjawab: Membaca al-Quran dan mengingati mati.

Ulama menyatakan ada tiga perkara untuk merawat hati:
1. Taat kepada Allah.
2. Memperbanyakkan mengingati mati.
3. Menziarahi kubur orang Islam.


Islam menggalakkan kita mengingati mati supaya kita sedar dan membuat persediaan untuk mati. Membuat persediaan untuk mati adalah sebahagian daripada Taqwa sebagaimana pentakrifan Taqwa oleh Saidina Ali Karamallahu Wajhah:

Taqwa ialah takut kepada Allah, beramal dengan al-Quran, redha dengan yang sedikit dan membuat persediaan untuk hari kematian[2].

Hukum menziarahi kubur adalah harus dengan dengan adab-adab yang digariskan oleh Syariat. Manakala menziarahi kubur kaum kerabat terutama ibu bapa adalah sunat Muakkad. Makin bertambah pahalanya jika kubur ibu bapa diziarahi pada tiap-tiap hari Jumaat atau hari raya[3] dan dibaca surah Yasin di sisinya. Hal ini berdasarkan hadith,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ زَارَ قَبْرَ أَبَوَيْهِ أَوْ إِحْدَاهُمَا فِي كُلِّ جُمْعَةٍ غُفِرَ لَهُ وَكُتِبَ بِرًّا. (رواه الطبرانى في الأوسط)

Yang bermaksud, Dari Abu Hurairah ra berkata: Sabda Nabi saw: Barang siapa menziarahi kubur kedua ibu bapanya atau salah seorang daripadanya, tiap-tiap hari Jumaat nescaya diampunkan baginya dan dicatit sebagai (anak) yang berbakti.

Begitu juga hadith,

عَن ابْن عمر رَضِي الله عَنهُ قَالَ مَنْ زَارَ قَبْر أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدهُمَا احتِسَابًا كَانَ كَعدْلِ حجَّة مَبْرُورَة وَمَنْ كَانَ زوارًا لَهُمَا زَارَت الْمَلَائِكَة قَبْره

Yang bermaksud, Daripada Ibn Umar ra berkata: Sesiapa menziarahi kubur kedua ibu bapanya atau salah seorang daripadanya dengan penuh keikhlasan ianya menyamai pahala haji yang mabrur dan sesiapa menziarahi kedua-duanya maka malaikat akan menziarahi kuburnya pula[4].

Kebiasaan pengunjung akan memberi salam dahulu kemudian berdoa semoga Allah memberikan rahmat dan maghfirahNya (keampunan) kepada simati.

Daripada Ibnu Mas‘ud, Rasulullah saw bersabda:

كُنْتُ نَهَيتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ القُبُورِ، فَزُورُوا القُبُور فَـإِنَّهَا تُزَهِّدُ فِى الدُّنْيَا وَتُذَكِّرُ الآخِرَة

Yang bermaksud, Aku melarang kamu menziarahi kubur maka ziarahlah kubur. Ini kerana dengan menziarahi kubur menjadikan kamu bersederhana dengan dunia dan mengingati akhirat.

Bertahlil atau berdoa adalah untuk menolong simati. Sabda Rasulullah saw, yang bermaksud:

Tiadalah orang yang mati di dalam kuburnya melainkan seperti orang yang tenggelam meminta pertolongan menanti doa yang ada perhubungannya daripada bapanya, atau saudaranya atau kawan temannya. Dan apabila dia mendapati orang mendoakannya adalah terlebih kasih baginya daripada dunia dan segala isinya. Riwayat al-Dailimi
Hadith tentang menghadiah pahala al-Quran kepada ahli kubur[5],

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أنه قَالَ: مَنْ دَخَلَ المَقَابِر وَقَرَأَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَد عَشَر مَرَّات وَأَهْدَى ثَوابها لِلْمَوْتَى، غَفَرَ اللهُ لِلْمَوْتَى وَأَدْخل فِى قَبُورِهِمُ النُّور وَالسُّرُور، وَيَكْتُب اللهُ تَعَالَى لِلُقَارِئ بِكُلِّ مَيت مَاتَ مِنْ يَوْمٍ أَهْبَطَ الله آدَم إِلَى الأَرْضِ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ عَشَر حَسَنَات.

Yang bermaksud, Daripada Nabi SAW bersabda: Sesiapa memasuki kawasan kubur dan membaca (قل هو الله أحد) sepuluh kali serta menghadiahkan pahala bacaan tersebut kepada si mati, maka Allah ampunkan si mati dan memasukkan cahaya dan kegembiraan ke dalam kubur mereka. Allah akan tulis pahala si pembaca dengan sepuluh kebajikan, mengikut bilangan mayat yang mati bermula dari hari Nabi Adam dicampakkan ke bumi hinggalah ke hari kiamat.

[1] (At-Takathur 001-002)
[2] Taqwa: Hakikat, Hukum-Hukum dan Kesan-Kesannya, Dr. Muhammad al-Zuhayli, terbitan Jabatan Mufti N.Sembilan, hlmn 2.
[3] Mastika Hadith Rasulullah SAW, Bahagian Hal Ehwal Islam, Jabatan Perdana Menteri, Jld 2 Hlmn 428.
[4] Nawadir al-Usul fi Ma’rifah Ahadith al-Rasul, al-Hakim al-Tirmizi, Sumber ke-15, bab fi Tahqiq al-Tahdid ‘Ala Zuwarat al-Qubur.
[5] Bustan al-Waizin wa Riyadh al-Sami’in, Imam Abi al-Farj Abdul Rahman bin Abi al-Hasan Ali bin Muhammad bin Ali bin al-Jauzi al-Qarasyi al-Tamimi al-Bakri al-Hanbali, Dar al-Kutub al-Arabi, 2001, halaman 293

Kesimpulan ; Usahlah kita bergaduh semata-mata nak kata orang sesat dan bid’ah dalam perkara furu’ ini. Belajarlah merai perbezaan.

Ziarah kubur hari raya tidak lah wajib tapi ia amalan yang baik terutama dalam mengingati mati. Cuma jagalah adab2 ketika menziarahi kubur. Bacalah doa utk penghuni kubur kerana nanti kita juga akan menyertai mereka.

Janganlah kerana amalan baik ini, golongan wahabi atau sefikrah dengannya menuduh orang awam itu bid’ah dan sesat dan janganlah juga orang awam mengasari semula dengan kata-kata kesat.
Railah perbezaan. Islam ini untuk dinikmati bukanlah dihukumi.

Ahad, 26 Jun 2016

AMALAN 10 HARI TERAKHIR RAMADHAN



بسم الله الرحمن الرحيم

AMALAN UMUM :

a) Sebolehnya beri’tikaf.

b) Mandi antara solat Maghrib dan Isya’.

c) Tidak bersama (jima’) dengan isteri.

d) Makan sedikit waktu iftar .

e) Solat fardhu berjemaah.

f) Solat Rawatib dan Nawafil.

g) Baca Al-Qur’an sebanyak-banyaknya.

h) Bersedekah.

i) Membuat segala amal kebaikan yang termampu termasuk pergi ke majlis ilmu dan muzakarah, menziarahi para alim ulama’ dan orang-orang soleh, khidmat kepada kedua orang tua atau guru/ masyaikh, bersifat ihsan/ belas kasihan kepada semua makhluk dan lain-lain.

j) Usahakan untuk mengkhatam pada setiap hari bermula 20 Ramadhan :

1- لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (1000x)

2- أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ (1000x)

3- اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ (1000x)

4- Surah Al-Ikhlas (100x, atau paling sedikit 25x)

AMALAN KHUSUS:

PAGI:

1- Solat sunat sebelum Subuh, solat fardhu Subuh berjemaah, wirid selepas solat .

2- Al-Wird al-Lathif dan Hizb an-Nawawi.

3- Sebelum naik matahari baca :

i- سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ (100x)

ii- لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ (100x)

iii- سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ (100x)

iv- سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ (100x)

v- لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (100x)

4- Solat sunat Isyraq dan sunat Dhuha.

TENGAHARI:

1- Solat Qabliyyah Zohor, solat fardhu Zohor berjemaah, solat Ba’diyyah Zohor.

2- Ratib al-Aththos.

3- أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِجَمِيعِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ (25x)

PETANG:

1- Solat Qabliyyah Asar, solat fardhu Asar berjemaah.

2- Hizb al-Bahr.

3- اَللهُ أَكْبَرُ (100x)

MAGHRIB:

1- Berzikir dan berdoa ketika hampir waktu berbuka puasa .

2- Berbuka puasa, solat fardhu Maghrib berjemaah, solat Ba’diyyah Maghrib.

3- Solat sunat Awwabin.

4- Ratib al-Haddad.

ISYA’:

1- Solat Qabliyyah Isya’, solat fardhu Isya’, solat Ba’diyyah Isya’.

2- Solat Tarawih dan Witir.

Amalan pada malam yang diharapkan Lailatul Qadar :

Bermula pada pukul 12 tengah malam:

1- Mandi, memakai pakaian yang bagus, berhias diri dan berwangi-wangian .

2- Berwudhu’, solat sunat Wudhu’.

3- Solat Hajat mohon agar dipertemukan dengan Lailatul Qadar.

4- Membaca Al-Qur’an.

5- أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ (100x)

6- لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ (1000x)

7- لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ حَيٌّ دَائِمٌ لاَ يَمُوتُ، بِيَدِهِ الْخَيْرُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (400x)

8- لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْحَلِيمُ الْحَكِيمُ، سُبْحَانَ رَبَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (3x)

9- سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ (100x)

10- سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيمِ (200x)

11- اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ (1000x)

12- Ayat Al-Kursi. (3x)

13- Solat sunat Tahajjud, Taubah, Hajat, Tasbih, Witir.

14- Al-Wird al-Lathif.

15- Membaca doa khusus .

16- Solat Lailatul Qadar .

17- Paling kurang solat Isya’ berjemaah dan solat Subuh berjemaah .

LAMPIRAN:

(A):

Sebelum berdoa bacalah:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Sebelum berselawat bacalah:

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sebelum berzikir atau bertasbih, bacalah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ اَمَنُوا اذْكُرُوا اللهَ ذِكْرًا كَثِيرًا. وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلاً

Tujuannya ialah supaya mengingatkan hati agar sentiasa tunduk dan patuh kepada suruhan Allah untuk berdoa, berselawat dan berzikir serta bertasbih kepadanya .

(B):

Usahakan untuk tidak meninggalkan 2 amalan ini selepas salam pada solat Subuh:

1) Membaca sebanyak 10 x dalam keadaan masih duduk Tahiyyat Akhir (sama ada masih duduk Tawarruk atau Iftirasy) dan tidak berkata-kata sehingga selesai bacaan:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيتُ، وَهُوَ عَلىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Tiada Tuhan melainkan Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya, bagiNya segala kerajaan dan bagiNya segala pujian, Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dialah Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu.”

Fadhilat:

Hadith dari Abu Zar berkata: Sesungguhnya Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang membaca selepas solat Subuh dalam keadaan kakinya masih seperti kedudukan duduk Tasyahhud Akhir, sebelum berkata-kata 10 kali, ditulis baginya 10 kebaikan, dihapuskan daripadanya 10 kejahatan (dosa), diangkatkan baginya 10 derjat (kedudukan), dan dia pada hari itu terjaga dari segala perkara yang dibenci, terbenteng dari syaitan, serta tidak ada suatu dosa yang dapat membinasakannya pada hari itu kecuali perbuatan syirik (menyekutukan) Allah.”

2) Membaca sebanyak 7 x sebelum berkata-kata sehingga selesai bacaan:

اَللَّهُمَّ أَجِرْنِي مِنَ النَّارِ

“Ya Allah, peliharalah aku dari api neraka”
Fadhilat:

Hadith dari Al-Harith bin Muslim dari ayahnya berkata: Nabi bersabda: Apabila kamu selesai menunaikan solat Subuh, maka bacalah sebelum kamu berkata-kata: اَللَّهُمَّ أَجِرْنِي مِنَ النَّارِ 7 kali, maka sekiranya kamu meninggal dunia pada hari itu, Allah menulis bagimu perlindungan dari api neraka. Dan apabila kamu selesai menunaikan solat Maghrib, maka bacalah sebelum kamu berkata-kata: اَللَّهُمَّ أَجِرْنِي مِنَ النَّارِ 7 kali, maka sekiranya kamu meninggal dunia pada malam itu, Allah menulis bagimu perlindungan dari api neraka.”

Cacatan:

Boleh juga menggunakan shighah (bentuk) jama’ (ramai) umpamanya:

اَللَّهُمَّ أَجِرْنَا مِنَ النَّارِ

“Ya Allah, peliharalah kami dari api neraka”

(C):

Zikir dan doa ketika hampir berbuka puasa:

1- أَشْهَدُ أَن لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ (3x)

2- اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا (3X)

3- يَا كَرِيمُ (1x)

4- Doa:

اَللَّهُمَّ سَلِّمْنَا لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لَنَا، وَسَلِّمْهُ لَنَا مُتَقَبَّلاً حَتَّى يَنقَضِيَ وَقَدْ غَفَرْتَ لَنَا وَرَحِمْتَنَا وَعَفَوْتَ عَنَّا، اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا فِيهِ الْعَافِيَةَ الْحَالَةَ وَالرِّزْقَ الْحَسَنَ وَدِفَاعَ اْلأَسْقَامِ، وَالْعَوْنَ عَلىَ الصَّلاَةِ وَالصِّيَامِ وَالْقِيَامِ وَتِلاَوَةِ الْقُرْآنِ، اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا لَيْلَةَ الْقَدْرِ، وَأَعِنَّا عَلَى الصَّلاَةِ وَالْقِيَامِ وَتِلاَوَةِ الْقُرْآنِ وَالْعَمَلِ فِيهَا حَتَّى تَرْضَى عَنَّا.

“Ya Allah, selamatkanlah kami untuk Ramadhan dan selamatkanlah Ramadhan untuk kami. Dan selamatkanlah ia untuk kami sehingga ia pergi dalam keadaan Engkau telah mengampuni kami dan merahmati kami. Ya Allah, berikanlah kami di dalamnya keafiatan yang segera, rezeki yang baik, perlindungan daripada penyakit, serta pertolongan untuk melakukan solat, puasa, beribadah pada waktu malam dan membaca Al-Qur’an. Ya Allah, rezekikanlah kami Lailatul Qadar dan bantulah kami untuk bersolat, beribadah pada waktu malam, membaca Al-Quran dan beramal di dalamnya sehingga Engkau redha dengan kami.”

Boleh juga membaca doa dan zikir-zikir lain.

(D):

Walaupun tarikh berlakunya Lailatul Qadar menjadi rahsia Allah, para ulama dan Ahli Sufi telah membuat kaedah dengan harapan berjumpa dengan malam berkat tersebut, mengikut pengalaman masing-masing.

Kaedah:

Di dalam kitab Hasyiah Fath al-Wahhab disebutkan bahawa: Jika awal Ramadhan jatuh pada hari Ahad atau Rabu, Lailatul Qadar diharapkan akan terjadi pada malam ke 29, jika hari Isnin, malam ke 21, jika hari Selasa atau Jumaat, malam ke 27, jika hari Khamis, malam ke 25 dan jika hari Sabtu, malam ke 23. Kaedah ini juga disebut di dalam Al-Barmawi dan Al-Qalyubi (2/26).

Di dalam kitab Al-Jauhar al-Mauhub dan Al-Bujairami ‘ala al-Khathib (2/410), disebutkan bahawa ahli-ahli Sufi termasuklah Syaikh Abu Bakar al-Maghribi, Imam Al-Ghazali dan lain membuat dhobith (kaedah) iaitu jika awal Ramadhan jatuh pada hari Jumaat, Lailatul Qadar diharapkan akan terjadi pada malam 29, jika hari Sabtu, malam ke 21, jika hari Ahad, malam ke 27, jika hari Isnin, malam ke 29, jika hari Selasa, malam ke 25, jika hari Rabu, malam ke 27 dan jika hari Khamis, malam ke 21 .

Walau bagaimanapun, kebanyakan ulama’ mentarjihkan (menguatkan) pendapat yang mengatakan Lailatul Qadar terjadi pada malam 27 Ramadhan berdasarkan keterangan hadith daripada Ubay bin Ka’ab dan peristiwa-peristiwa yang berlaku pada malam 27 itu .

Tanda-tanda:

1- Malamnya tenang (tidak bunyi bising/ hiruk pikuk), tidak panas dan tidak sejuk.

2- Cahaya matahari pada paginya kelihatan putih cerah, tidak banyak sinarannya .

3- Anjing tidak menyalak .

(E):

Doa khusus dibaca pada malam Lailatul Qadar:

بسم الله الرحمن الرحيم

اَللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنَّا، عَفْوُكَ يَا عَفُوُّ فِي الْمَحْيَا، وَفِي الْمَمَاتِ عَفْوَكَ، وَفِي الْقُبُورِ عَفْوَكَ، وَعِندَ النُّشُورِ عَفْوَكَ، وَعِندَ تَطَايُرِ الصُّحُفِ عَفْوَكَ، وَفِي الْقِيَامَةِ عَفْوَكَ، وَفِي مُنَاقَشَةِ الْحِسَابِ عَفْوَكَ، وَعِندَ الْمَمَرِّ عَلَى الصِّرَاطِ عَفْوَكَ، وَعِندَ الْمِيزَانِ عَفْوَكَ، وَفِي جَمِيعِ اْلأَحْوَالِ عَفْوَكَ، يَا عَفُوُّ عَفْوَكَ.

“Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau menyukai keampunan, maka ampunilah aku. Aku memohon keampunanMu, wahai Yang Maha Pengampun, dalam kehidupan, dalam kematian, aku juga memohon keampunanMu, dalam kubur aku juga memohon keampunanMu, ketika dibangkitkan aku juga memohon keampunanMu, ketika diberikan lembaran amal, aku juga memohon keampunanMu, ketika sidang perhitungan amal, aku juga memohon keampunanMu, dalam semua keadaan, aku juga memohon keampunanMu, wahai Tuhan Yang Maha Pengampun, aku memohon keampunanMu.”

Baca juga doa-doa lain. Boleh juga bermohon dalam Bahasa Melayu kepada yang ada hajat jika tidak boleh berbahasa Arab .

(F):

Solat pada malam berlakunya Lailatul Qadar

Lafaz niat:

أَصَلِّي سَنَّةَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ لِلَّهِ تَعَالَى

“Sahaja aku sembahyang sunat Lailatul Qadar empat rakaat kerana Allah Ta’ala.”
Pada setiap rakaat, selepas membaca Al-Fatihah, hendaklah membaca Surah At-Takathur sekali dan Surah Al-Ikhlas tiga kali.

Solat pada malam 27 Ramadhan .

Ia dikerjakan sebanyak 12 rakaat. Pada pendapat Al-Faqir, boleh juga dikerjakan dengan dua rakaat dan salam, kemudian meneruskannya sehingga ke dua belas rakaat. Pada rakaat pertama, setelah membaca Surah Al-Fatihah, dibaca Surah Al-Qadar 1x dan Surah Al-Ikhlas 15x untuk setiap 2 rakaat.

Jumaat, 17 Jun 2016

Jadilah seorang Islam. Ini saja telah cukup untuk mendorong anda berjuang melawan segala bentuk ketidakadilan sosial, suatu perjuangan yang dilakukan dengan terus-terang, penuh semangat, penuh dorongan.



Orang-orang yang berpendapat bahwa setiap prinsip manapun yang dikenal umat manusia dalam sejarahnya yang panjang, mungkin untuk berjuang menentang segala macam keaniayaan, sebagaimana perjuangan yang telah dilakukan Islam, atau dapat berdiri di samping orang-orang yang teraniaya semuanya sebagaimana yang telah dilakukan Islam, atau dapat berteriak di depan muka para tiran dan diktator-diktator yang sombong sebagaimana yang telah dilakukan oleh Islam, maka orang yang berpendapat begini amat tersalah, atau amat tergoda, atau amat tidak mengerti akan Islam.

Orang yang berpendapat bahwa mereka itu orang Islam, tetapi mereka tidak berjuang menentang keaniayaan dengan segala bentuknya, tidak mempertahankan orang-orang yang teraniaya dengan sebaik-baiknya dan tidak berteriak di depan muka para tiran dan diktator. Orang yang berpendapat seperti ini amat tersalah sekali, atau mereka itu amat munafik, atau amat tidak mengerti akan Islam.

Inti Islam itu adalah gerakan pembebasan. Mulai dari hati nurani setiap individu dan berakhir di samudera kelompok manusia. Islam tidak pernah menghidupkan sebuah hati, kemudian hati itu dibiarkannya menyerah tunduk kepada suatu kekuasaan di atas permukaan bumi, selain daripada kekuasaan Tuhan Yang Satu dan Maha Perkasa. Islam tidak pernah membangkitkan sebuah hati, lalu dibiarkannya hati itu sabar tidak bergerak dalam menghadapi keaniayaan dalam segala macam bentuknya, baik keaniayaan ini terjadi terhadap dirinya, atau terjadi terhadap sekelompok manusia di bagian dunia manapun, dan di bawah penguasa manapun juga.

Jika anda melihat keaniayaan terjadi, bila anda mendengar orang-orang yang teraniaya menjerit, lalu anda tidak menemui umat Islam ada di sana untuk menentang ketidakadilan itu, menghancurkan orang yang aniaya itu, maka Anda boleh langsung curiga apakah umat Islam itu ada atau tidak. Tidak mungkin hati-hati yang menyandang Islam sebagai aqidahnya, akan rela untuk menerima ketidakadilan sebagai sistemnya, atau rela dengan penjara sebagai hukumnya.

Masalahnya, Islam itu ada atau tidak ada. Kalau Islam itu ada maka ini berarti perjuangan yang tidak akan henti-hentinya, jihad yang tidak ada putus-putusnya, mencari syahid demi untuk menegakkan kebenaran, keadilan dan persamaan. Kalau Islam tidak ada, maka di waktu itu yang terdengar adalah bisikan do’a-do’a, bunyi tasbih yang dipegang di tangan, jimat-jimat dengan do’a perlindungan, berserah diri dengan harapan langit akan menghujankan rezeki dan kebaikan ke atas bumi, menghujankan kemerdekaan dan keadilan. Langit tidak pernah menghujankan hal-hal seperti ini. Tuhan tidak akan menolong suatu kelompok manusia yang tidak mau menolong diri sendiri, orang yang tidak percaya kepada keluarganya sendiri, dan tidak menjalankan hukum Tuhan tentang jihad dan perjuangan:

“Allah tidak akan mengubah nasib suatu bangsa, sampai bangsa itu mengubah nasibnya sendiri.” (QS. Ar-Rad [13] : 11)

Islam adalah aqidah revolusioner yang aktif. Artinya kalau ia menyentuh hati manusia dengan cara yang benar, maka dalam hati itu akan terjadi suatu revolusi: revolusi dalam konsepsi, revolusi dalam perasaan, revolusi dalam cara menjalani kehidupan, dan hubungan individu dan kelompok. Revolusi yang berdasarkan persamaan mutlak antara seluruh umat manusia. Seorang tidak lebih baik dari yang lainnya selain dengan taqwa. Berdasarkan kehormatan manusia, yang tidak meninggalkan seorang makhluk pun di atas dunia, tidak suatu kejadian pun, dan tidak suatu nilai pun. Revolusi itu berdasarkan keadilan mutlak, yang tidak dapat membiarkan ketidakadilan dari siapa pun juga, dan tidak dapat merelakan ketidakadilan terhadap siapa pun juga. Baru saja manusia merasakan kehangatan aqidah ini, ia akan maju ke depan untuk merealisasikannya dalam alam nyata dengan seluruh jiwanya. Ia tidak tahan untuk bersabar, untuk tinggal diam, untuk tenang-tenang saja, sampai ia benar-benar telah menyelesaikan realisasinya di alam nyata. Inilah pengertiannya bahwa Islam itu suatu aqidah revolusioner yang aktif-dinamis.

Orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah adalah orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan sungguh-sungguh, kemudian mereka orang-orang yang berjuang untuk menegakkan kalimat Allah yang tinggi. Kalimat Allah di atas bumi ini tidak akan dapat tertegak, selain jika ketidakadilan dan keaniayaan telah dihilangkan darinya sampai seluruh manusia itu memperoleh persamaan seperti gigi sisir, di mana tidak ada salah seorang pun yang lebih dari orang lain selain karena ketaqwaan.

Orang-orang yang melihat ketidakadilan di sepanjang jalan, dan bertemu dengan kesewenang-wenangan di setiap saat, dan mereka tidak menggerakkan tangan maupun lidah, padahal mereka itu mampu untuk menggerakkan tangan dan lidah. Mereka ini adalah orang-orang yang hatinya tidak digugat oleh Islam. Jika hatinya tergugat oleh Islam tentulah mereka akan berubah menjadi para mujahidin yang berjuang mulai dari saat api yang suci itu menyentuh hati-hati yang rasional dan menyalakannya, dan mendorongnya dengan dorongan yang kuat ke medan perjuangan.

Seandainya jiwa nasionalisme mampu mendorong kita sekarang ini untuk berjuang menentang penjajahan yang dibenci itu, seandainya jiwa kemasyarakatan mampu mendorong kita hari ini untuk berjuang menentang kaum feudal yang tidak berbudi dan kapitalisme yang memeras, seandainya jiwa kebebasan individu mampu untuk mendorong kita sekarang ini untuk berjuang menentang diktator yang melampaui batas dan ketidakadilan yang congkak, maka jiwa Islam mengumpulkan penjajahan, feudalisme dan kediktatoran di bawah sebuah nama, yaitu: ketidakadilan. Jiwa Islam mendorong kita semua untuk memerangi segalanya itu, tanpa pikir-pikir dan tanpa ragu-ragu, tanpa pembicaraan lagi dan tanpa dibeda-bedakan lagi. Itulah salah satu ciri Islam yang besar di bidang perjuangan manusia untuk menegakkan kemerdekaan, keadilan dan kehormatan.

Seorang muslim yang telah merasakan jiwa Islam dengan hatinya, tidak mungkin akan memberikan pertolongan kepada pihak penjajah, atau memberikan bantuan kepada mereka, atau berdamai dengan mereka sehari pun, atau berhenti berjuang melawan mereka, baik secara sembunyi-sembunyi atau secara terang-terangan. Pertama-tama ia akan menjadi pengkhianat bagi agamanya, sebelum menjadi pengkhianat terhadap tanah airnya, terhadap bangsanya dan terhadap kehormatan dirinya. Setiap orang yang tidak merasakan adanya rasa permusuhan dan kebencian terhadap kaum penjajah dan tidak melakukan perjuangan menentang mereka sekuat tenaga, adalah pengkhianat. Lalu bagaimana dengan orang yang mengadakan perjanjian persahabatan dengan mereka? Bagaimana dengan orang yang mengadakan persekutuan abadi dengan mereka? Bagaimana dengan orang yang memberikan bantuan kepada mereka baik di zaman damai maupun di zaman perang? Bagaimana dengan orang yang membantu mereka dengan makanan sedangkan bangsanya sendiri kelaparan? Bagaimana dengan orang yang melindungi dan menutup-nutupi mereka?

Seorang muslim yang merasakan jiwa Islam dengan hatinya tidak mungkin akan membiarkan kaum feudal yang tidak bermoral dan kaum beruang yang menindas itu berada dalam keamanan dan ketenteraman. Ia akan memberitahukan perbuatan mereka yang tidak punya rasa malu. Ia akan menjelaskan kejelekan-kejelekan mereka. Ia akan berteriak di depan muka mereka yang tidak bermalu itu. Ia akan berjuang menentang mereka dengan tangan, dengan lidah dan dengan hati, dengan segala cara yang dapat dilakukannya. Setiap hari yang dilaluinya tanpa perjuangan, setiap saat yang dilaluinya tanpa pergelutan, dan setiap detik yang dilaluinya tanpa karya nyata, dianggapnya sebagai dosa yang menggoncang hati nuraninya, sebagai kesalahan yang membebani perasaannya, sebagai suatu perbuatan kriminil yang hanya dapat dihapuskan dengan perjuangan penuh dorongan, penuh kehangatan, penuh tolakan.

Setiap muslim yang merasakan Islam dengan hatinya tidak akan mungkin membiarkan diktator yang aniaya serta penguasa zalim yang tidak bermalu bergerak di atas permukaan bumi, menjadikan manusia budak beliannya, padahal tiap-tiap manusia dilahirkan oleh ibunya sebagai orang yang merdeka. Tetapi orang Islam itu akan maju ke depan dengan jiwa dan hartanya, untuk memperkenankan seruan Tuhannya yang menciptakannya dan memberi rezeki kepadanya:

“Kenapa kamu tidak berjuang di jalan Allah dan untuk kepentingan orang-orang yang tertindas, yang terdiri dari laki-laki, wanita dan anak-anak kecil, yang berkata, ‘Wahai Tuhan Kami! Keluarkanlah kami dari negara yang penduduknya aniaya ini. Berikanlah kepada kami seorang penolong dari sisi-Mu. Berikanlah kepada kami seorang pembantu dan sisi-Mu’.” (QS. An-Nisa’ [4] : 75)

Jadilah seorang Islam. Ini telah cukup untuk mendorongmu berjuang menentang penjajahan dengan berani, mati-matian, penuh pengorbanan dan kepahlawanan. Kalau Anda tidak dapat melakukannya, cobalah periksa hatimu. Barangkali hati itu telah tertipu tentang hakekat imanmu. Kalau tidak begitu, alangkah sabarnya Anda, karena tidak berjuang menentang penjajahan.

Jadilah seorang Islam. Ini saja telah cukup untuk mendorong anda berjuang melawan segala bentuk ketidakadilan sosial, suatu perjuangan yang dilakukan dengan terus-terang, penuh semangat, penuh dorongan. Kalau Anda tidak melakukan hal ini, cobalah periksa hatimu. Mungkin hati itu telah tertipu tentang hakekat imanmu. Kalau tidak begitu, kenapa Anda menjadi demikian teganya untuk tidak berjuang melawan pencaplokan hak?

Jadilah seorang Islam. Ini saja telah cukup untuk mendorong maju ke depan, berjuang melawan ketidakadilan, dengan tekad yang teguh tanpa memperdulikan kekuatan-kekuatan lawan yang hanya berupa kekuatan lalat, tetapi oleh orang-orang lemah dikira merupakan halangan besar. Kalau Anda tidak melakukan hal ini, cobalah periksa hatimu, mungkin ia telah tertipu tentang hakekat imanmu. Kalau tidak begitu, kenapa Anda menjadi demikian sabarnya dan teganya untuk tidak berjuang menentang ketidakadilan?

Semua prinsip yang terdapat di atas dunia ini, semua jalan pemikiran yang terdapat di atas dunia ini, akan mengambil jalan yang berada-beda, masing-masingnya mencari bidangnya sendiri-sendiri, untuk merealisasikan keadilan, kebenaran dan kemerdekaan. Tetapi Islam berjuang di segala bidang itu. Ia mencakup seluruh gerakan pembebasan. Ia menggerakkan seluruh pejuang.

Kalau orang-orang yang mempunyai prinsip dan jalan pemikiran mendasarkan kekuatannya kepada kekuatan dunia yang cepat hilang, Islam mendasarkan kekuatannya kepada kekuatan azali dan abadi. Orang orang Islam melakukan perjuangan dengan hati yang penuh rindu untuk mencapai syahid di bumi, agar ia beroleh kehidupan di langit:

“Sesungguhnya Allah telah membeli jiwa dan harta orang-orang yang beriman, dengan janji bahwa mereka itu akan mendapat surga. Mereka berjuang di jalan Allah. Mereka membunuh dan terbunuh. Ini adalah suatu janji yang benar yang terdapat dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih memenuhi janji dari Allah?” (QS. At-Taubah [9] : 111)

Khamis, 16 Jun 2016

Kewajiban Memilih Pemimpin



Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam selalu berdo’a: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rizki dan buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian”. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali” (QS Al Baqarah [2]:126).

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat selalu membutuhkan adanya pemimpin. Dalam kehidupan rumah tangga, diperlukan adanya pemimpin atau kepala keluarga, begitu pula halnya di masjid sehingga shalat berjamaah bisa dilaksanakan dengan adanya orang yang bertindak sebagai imam, bahkan perjalanan yang dilakukan oleh tiga orang muslim, harus mengangkat salah seorang diantara mereka sebagai pemimpin perjalanan. Ini semua menunjukkan betapa penting kedudukan pemimpin dalam suatu masyarakat, baik dalam skala kecil apalagi dalam skala besar seperti wilayah provinsi dan negara. Untuk tujuan memperbaiki kehidupan yang lebih baik, seorang muslim tidak boleh mengelak dari tugas kepemimpinan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ وُلِيَ مِنْ أَمْرِ النَّاسِ شَيْئًا فَاحْتَجَبَ عَنْ أُوْ لِى الضَّعْفِ وَالْحَاجَةِ، إِحْتَجَبَ اللهُ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

“Barangsiapa diserahkan kekuasaan urusan manusia lalu menghindar (mengelak) melayani kaum lemah dan orang yang membutuhkannya, maka Allah akan mengindahkannya pada hari kiamat.” (HR. Ahmad)

Di dalam Islam, pemimpin kadangkala disebut imam tapi juga khalifah. Dalam shalat berjamaah, imam berarti orang yang di depan. Secara harfiyah, imam berasal dari kata amma, ya’ummu yang artinya menuju, menumpu dan meneladani.

Ini berarti seorang imam atau pemimpin harus selalu di depan guna memberi keteladanan atau kepeloporan dalam segala bentuk kebaikan. Disamping itu, pemimpin disebut juga dengan khalifah yang berasal dari kata khalafa yang berarti di belakang, karenanya khalifah dinyatakan sebagai pengganti karena memang pengganti itu dibelakang atau datang sesudah yang digantikan.

Kalau pemimpin itu disebut khalifah, itu artinya ia harus bisa berada di belakang untuk menjadi pendorong diri dan orang yang dipimpinnya untuk maju dalam menjalani kehidupan yang baik dan benar sekaligus mengikuti kehendak dan arah yang dituju oleh orang yang dipimpinnya kearah kebenaran.

Di samping itu, pemimpin disebut juga dengan ra’un yang artinya gembala, karena seorang gembala biasanya sangat bertanggungjawab terhadap gembalaannya, baik makan dan minumnya maupun keamanan serta kelangsungan hidupnya.

Dari pengantar di atas, terasa dan terbayang sekali betapa dalam pandangan Islam pemimpin itu memiliki kedudukan yang sangat penting, karenanya siapa saja yang menjadi pemimpin tidak boleh dan jangan sampai menyalahgunakan kepemimpinannya untuk hal-hal yang tidak benar. Karena itu, para pemimpin dan orang-orang yang dipimpin harus memahami hakikat kepemimpinan dalam pandangan Islam.

Kriteria Pemimpin.

Karena begitu besar tanggungjawab seorang pemimpin dalam Islam, maka manakala kita harus memilih seorang pemimpin, harus dengan kriteria yang seideal mungkin.

Adapun diantara kriteria seorang pemimpin di dalam Islam antara lain;

Pertama, memiliki aqidah yang kokoh dan pemahaman terhadap ajaran Islam yang memadai sehingga dengan modal ini seorang pemimpin akan selalu terikat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam segala aspek kehidupannya.

Karenanya bila ada pemimpin yang muslim dan telah menunjukkan ketaatannya, tidak dibenarkan bagi kita memilih yang bukan muslim sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).” (QS Ali Imran [3]:28).

Kedua, memiliki daya ingat yang kuat, cerdas, berwawasan yang luas, berpandangan ke masa depan yang baik, memiliki ketajaman berpikir dan mampu menganalisa dengan baik berbagai persoalan yang dihadapi.

Ketiga, sabar, penyantun, ramah dan lemah lembut sehingga segala persoalan tidak dihadapai secara emosional.

Keempat, benar dan dapat dipercaya, baik ucapan maupun perbuatannya, sebab manakala seorang pemimpin sudah tidak bisa dipercaya oleh orang yang dipimpinnya, akan sangat sulit baginya mencapai tujuan.

Kelima, tawadhu atau rendah hati, sehingga dengan sifat ini seorang pemimpin tidak akan berlaku sombong kepada orang yang dibawahinya dan tidak akan minder kepada orang yang lebih tinggi darinya dalam hal yang sifatnya duniawi.

Keenam, memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik dengan berbagai lapisan masyarakat, baik komunikasi lisan maupun tulisan.

Ketujuh, memiliki pendirian yang teguh dalam arti bila kebenaran sudah dipegang dan hendak dilaksanakan, maka dia akan terus berpendirian terhadap kebenaran itu.

Kedelapan, bersikap dan bertindak adil sehingga yang salah akan disalahkan dan yang benar dibenarkan.

Kesembilan, selalu optimis akan keberhasilan usahanya.

Kesepuluh, memiliki kondisi fisik yang sehat atau memiliki daya tahan tubuh yang kuat sehingga tugas-tugas seorang pemimpin bisa dilaksanakan dengan baik karena salah satunya ditunjang dengan fisik yang sehat.

Pemimpin Yang Baik dan Buruk.

Pemimpin yang baik akan membawa kehidupan masyarakat menjadi lebih baik, sedangkan pemimpin yang buruk akan membawa kehidupan masyarakat yang dipimpinnya menjadi lebih buruk.

Para pemimpin dan calon-calon pemimpin harus mengetahui dan memahami seperti apa pemimpin yang baik dan pemimpin yang buruk agar ia bisa menjadi pemimpin yang baik bukan malah menjadi pemimpin yang buruk.

Dalam keterangan yang sederhana, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan gambaran tentang pemimpin yang baik dan pemimpin yang buruk dalam satu haditsnya:

خِيَارُ اَئِمَّتِكُمُ الَّذِيْنَ تُحِبُّوْنَهُمْ وَيُحِبُّوْ نَكُمْ وَيُصَلُّوْنَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّوْنَ عَلَيْهِمْ

“Sebaik-baik pemimpin adalah orang yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian. Mereka mendo’akan kalian dan kalian juga mendo’akan mereka.” (HR. Muslim).

Dari hadits di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan gambaran tentang pemimpin yang baik bahkan yang terbaik dengan memiliki dua keriteria.

Pertama, mencintai rakyat dan dicintai rakyat.

Manakala pemimpin mencintai rakyatnya, maka segala usaha yang dilakukan oleh pemimpin adalah untuk kebaikan rakyat dengan cara-cara yang baik.

Pemimpin yang mencintai rakyat tidak rela dan tidak akan membiarkan rakyatnya menderita sementara ia dalam keadaan senang.

Pemimpin yang mencintai rakyatnya tidak akan membiarkan rakyat terjerat dalam berbagai persoalan hidup tanpa usaha untuk memecahkan dan mengatasi masalah itu.

Pemimpin yang mencintai rakyat akan melindungi rakyatnya dari berbagai macam gangguan sehingga rakyatnya berada dalam keamanan dan ketenangan dimanapun mereka berada.

Pemimpin yang mencintai rakyat akan selalu berusaha memenuhi hak-hak rakyatnya serta memberikan fasilitas yang memadai, hak untuk hidup, hak beribadah, hak mendapatkan rizki, hak menuntut ilmu dan sebagainya.

Tegasnya, pemimpin yang mencintai rakyatnya adalah pemimpin yang mau melayani rakyat dengan sebaik-baiknya sehingga rakyat dapat menjalani kehidupan yang baik, lahir dan batin.

Manakala pemimpin telah menunjukkan kecintaan kepada rakyatnya, tidak ada alasan bagi rakyat untuk tidak bisa mencintai pemimpinnya. Karena itu, bila rakyat mencintai pemimpinnya, rakyat akan selalu memberikan dukungan atas kepemimpinan yang dijalankan, rakyat taat kepada pemimpin dalam perkara-perkara yang benar dan mereka tidak ragu-ragu dan tidak takut-takut untuk menegur, menasihati atau mengkritik pemimpinnya bila melakukan tindakan yang salah.

Rakyat yang mencintai pemimpinnya tidak ingin melihat pemimpinnya melakukan kesalahan. Rakyat akan selalu bersama pemimpin dalam suka dan duka, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

عَلَيْكَ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فىِ عُسْرِكَ وَيُسْرِكَ وَمَنْشَطِكَ وَمَكْرَهِكَ وَاَثِرَةٍ عَلَيْكَ

“Hendaklah kamu mendengar, patuh dan taat (kepada pemimpin) dalam masa senang (mudah dan lapang), dalam kesulitan dan kesempitan, dalam hal yang kamu suka maupun hal yang kamu tidak suka meskipun hal itu merugikan kepentinganmu.” (HR. Muslim dan Nasa’i).

Kedua, mendo’akan rakyat dan dido’akan rakyat.

Bila pemimpin sudah memberikan perhatian kepada rakyat karena cintanya yang begitu besar dan dalam, maka iapun pasti menginginkan segala kebaikan bagi rakyatnya. Untuk itu, sebagai seorang muslim ia selalu berdo’a dan salah satu muatan dalam do’anya adalah mengharapkan kebaikan bagi rakyatnya.

Bahkan Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan Nabi Ibrahim bahwa berdo’a itu bukan hanya untuk kebaikan rakyatnya yang muslim, rakyat yang kafirpun akan diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kesenangan di dunia ini.

Sebagai seorang pemimpin, Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam selalu berdo’a: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rizki dan buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian.”

Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali” (QS Al Baqarah [2]:126).

Setelah menggambarkan ciri pemimpin yang baik, hadits Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam juga menjelaskan tentang gambaran pemimpin yang buruk, bahkan terburuk dengan sabdanya:

وَشِرَارُ اَئِمَّتِكُمْ الَّذِيْنَ تُبْغِضُوْنَهُمْ وَيَبْغِضُوْنَكُمْ وَتَلْعَنُوْنَهُمْ وَيَلْعَنُوْنَكُمْ

“Dan seburuk-buruk pemimpin adalah orang yang kalian benci dan merekapun membenci kalian, mereka kalian kutuk dan mereka mengutuk kalian.” (HR. Muslim). Dari hadits di atas, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam mengemukakan dua gambaran tentang pemimpin yang buruk, bahkan seburuk-buruk pemimpin.

Pertama, dibenci rakyat dan membenci rakyat.

Ini merupakan sesuatu yang sangat menakutkan dan tidak membahagiakan.

Pemimpin menjadi sangat buruk apabila ia membenci rakyatnya, akibatnya ia tidak suka bila rakyatnya mencapai kemajuan, karena kemajuan rakyat akan menjadi saingan bagi pemimpin.

Pemimpin yang membenci rakyatnya juga tidak suka bila rakyatnya memiliki ilmu yang banyak dan kecerdasan berpikir, karena dengan begitu pemimpin yang buruk itu tidak bisa lagi membodohi rakyatnya, bahkan pemimpin seperti ini tidak ragu-ragu untuk membunuh rakyatnya sendiri, itulah yang pernah dilakukan oleh Fir’aun laknatullah yang mengeluarkan kebijakan membunuh setiap bayi laki-laki, karena anak laki-lakilah yang kelak berpotensi menjadi pemimpin yang bisa jadi akan menggeser posisi kepemimpinannya.

Kedua, mengutuk rakyat dan dikutuk rakyat.

Di dunia ini, kita dapati pemimpin seperti ini, pemimpin yang mengutuk dan mencaci maki rakyat yang sebenarnya menjadi tanggungjawabnya. Bila pemimpin bersikap demikian, tidak ada yang dipikirkan dan diusahakan melainkan keburukan bagi rakyatnya, kecuali bagi rakyat yang mau menuruti kehendak-kehendaknya yang tidak benar.

Manakala pemimpin suka mengutuk rakyatnya, maka rakyatpun akhirnya mengutuk para pemimpinnya, meskipun kutukan itu tidak diungkapkan secara terbuka, karena resiko yang tidak menyenangkan akan menimpa mereka.

Dari uraian yang singkat ini, dapat kita simpulkan bahwa bila suatu masyarakat dan bangsa memiliki pemimpin yang baik, kebahagiaan akan diperoleh, tidak hanya bagi sang pemimpin dan keluarganya, tapi juga bagi rakyat yang dipimpinnya, baik di dunia maupun di akhirat.

Sebaliknya bila pemimpin buruk, maka ketidaktenangan dan kekacauan akan melanda kehidupan, tidak hanya bagi rakyat yang dipimpin, tapi juga bagi pemimpin itu sendiri serta keluarganya. Dalam konteks kehidupan kita sekarang, memiliki pemimpin yang bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar lagi, suara kita ikut menentukan.

Selasa, 14 Jun 2016

Petua-petua Untuk Mencegah Penyakit Jantung


JANTUNG adalah salah satu anggota penting pada badan manusia, Ia sentiasa berdenyut. Tugas asasinya ialah mengepam darah ke seluruh jasad manusia yang hidup. Jika jantung berhenti bergerak, maka bererti berhentilah kehidupan jasad seseorang- mati. Seperti dengan anggota-anggota yang lain juga, jantung terdedah kepada serangan berbagai-bagai jenis penyakit merbahaya yang boleh menjadi ancaman kepada kehidupan.

Kian maju manusia, kian terancam jantung mereka. Kian tidak selamat. Hari ini penyakit jantung kronis telah mengancam seluruh dunia. Ia menjadi pembunuh utama penduduk dunia hari ini. Seramai 17.3 orang setiap tahun di seluruh dunia menjadi korban penyakit jantung, dan menjelang tahun 2030 pula, ia dijangka akan meningkat kepada seramai 23 juta jiwa setiap tahun.

Malangnya sejak kebelakangan ini penyakit jantung ini telah menular ke negara kita Malaysia yang kian maju dari segi kebendaannya.

Malah pada tahun 1912 Malaysia merupakan sebuah negara yang paling tinggi angka kematiannya kerana penyakit jantung.

Mengikut kajian, di Malaysia penyakit ini berpunca daripada obesiti, tekanan darah tinggi dan kencing manis.

Sebahagian besar daripada penghidap-penghidap penyakit jantung itu terdiri dari golongan muda, dari seawal usia 24 tahun. Kajian itu menunjukkan bahawa 64 peratus pesakit jantung Malaysia adalah mereka yang berada dalam tahap lingkungan usia 65 tahun ke bawah, dan hanya 6 peratus sahaja mereka yang berada dalam lingkungan usia 65 tahun ke atas.

Dapat Diselamatkan

Walau bagaimana pun menurut Dr. Peter Steincrohn, seorang doktor dan penulis perubatan yang terkenal, mungkin ramai orang dapat diselamatkan selepas diserang penyakit jantung, kiranya dia bernasib baik kakinya patah, yang memaksa dia berihat, dan ini bererti memberi peluang kepada jantungnya untuk pulih kembali.

Menurut beliau untuk memberi rawatan yang wajar kepada jantung bukanlah semata-mata bergantung kepada rawatan dan pantang yang dijalani oleh seseorang selama beberapa minggu sahaja selepas dia diserang penyakit jantung, malah juga bergantung kepada gaya hidup seseorang untuk selama-lamanya selepas dia diserang penyakit jantung.

Ramai orang tidak menyedari, bahawa banyak orang yang telah diserang penyakit jantung boleh hidup banyak tahun lagi dengan penyakitnya itu. Malah ramai pesakit jantung yang menyangka dia akan mati dalam masa beberapa hari lagi selepas mendapat serangan jantung, tapi dapat terus hidup berpuluh-puluh tahun kemudian tidak seperti jangkaannya itu. Banyak kesakitan dan penderitaan dapat dihindari, andainya para pesakit dapat memahami matalamat yang ingin dicapai oleh sang doktor.

Menurut beliau tidak semua penyakit jantung itu serius sebenarnya. Tiga dari empat pesakit jantung yang dibawa ke dewan bedah didapati memiliki jantung yang sihat. Daripada berbagai-bagai sungutan kesakitan di bahagian jantung yang diadukan kepada doktor, tidak kurang pula aduan-aduan itu hanya berpunca daripada ketakutan dan kebimbangan mereka semata-mata.

[Saya mempunyai dua orang kawan yang pernah mengandaikan diri mereka menghidap penyakit jantung setelah membaca rencana-rencana dalam akhbar dan majalah tanah air yang mendiskripsikan tanda-tanda penyakit jantung yang dihidapi oleh seseorang. Maka kedua-duanya pun melayan diri mereka sebagai mangsa penyakit jantung. Tapi setelah dipaksa menemui doktor dan menjalani pemeriskaan, maka kedua-duanya didapati bebas dari penyakit jantung].

Tapi sebaliknya pula, menurut Dr. P. Steincrohn, ramai orang yang benar-benar menghidap penyakit jantung tapi enggan menemui doktor dengan berbagai-bagai alasan pula.

Beberapa Petua

Beliau selanjutnya mengutarakan beberapa petua kepada orang-orang yang sihat walfiat dan juga kepada penghidap-penghidap penyakit jantung, agar mereka dapat mencapai usia hidup yang lebih panjang.

Pertama-tamanya beliau memberi nasihat kepada sesiapa sahaja yang mempunyai gejala-gejala sebagai berikut supaya menemui doktor:

Batuk kronis, meludah berdarah, pingsan, lelah, bengkak pergelangan kaki, letih lesu, sembelit, berdebar, nadi berdenyut pentas, pendek nafas, sakit dada, pening-pening, dan tidak dapat baring dengan rapat belakang ketika tiudr.

Kedua beliau menasihati pesakit supaya mendengar apa yang dikatakan oleh doktor sahaja bukanya mengambil nasihat daripada kawan-kawan yang bersimpati tapi tidak mempunyai latihan-latihan perubatan dan tidak pula berdasarkan apa-apa yang dilapurkan oleh akhbar-akhbar, majalah-majalah dan buku-buku.

[Seorang pesakit jantung, kebetulan seorang sahabat saya ketika berada dalam wad pertama kali di hospital selepas diserang penyakit jantung, tidak tahan mendengar berbagai-bagai pandangan dan nasihat yang diberikan oleh sahabat-sahabat pengunjungnya yang ramai itu yang menyebabkan fikirannya menjadi serabut dan kusut. Doktor yang menerima aduannya itu meminta kebenaranya untuk meletak notis melarang kunjungan para pelawat walaupun keadaannya tidaklah begitu teruk demi untuk menjaga emosinya supaya tidak terus terganggu].

Penyakit jantung mempunyai banyak jenis, sesetengahnya ada mempunyai titik-titik keserupaan dan sesetengah pula mempunyai titik yang berbeza. Justeru setiap penyakit jantung ada mempunyai ubat-ubat yang tertentu. Namun begitu ada satu rawatan asasi kepada penyakit jantung, iaitu mengatur cara hidup yang wajar. Tanpa cara hidup yang wajar, maka kebanyakan ubat-ubat yang lain itu tidak berguna.

Pesakit jantung walaupun telah sembuh wajar menyusun hidupnya yang boleh meringankan kerja-kerja jantungnya. Menjaga badan supaya tidak bertambah gemuk. Jangan makan minum sesuka hati sahaja. Jangan bekerja keras. Jangan kejar waktu dan mengikut emosi, kerana semuanya itu boleh membebankan jantung. Jauhkan mengah dan lain-lain gejala yang boleh menganggu kenteraman. Tidak ada ubat untuk membolehkan pesakit jantung bekerja keras seperti biasa sebelum dia diserang penyakit jantung.

Justeru berat badan hendaklah dikawal supaya normal dan sejajar dengan keadaan fizikal seseorang, baik dari tinggi rendah, besar kecil dan tua muda usia mereka. Tindakan mengurus badan yang gemuk hendaklah dilakukan secara teratur, dengan memperbaiki cara makan minum dan mengamalkan riadah yang wajar, dan bukannya dengan memakan ubat-ubat kurus. Jangan makan terlalu banyak seumur-umur.

Pesakit jantung dinasihatkan supaya mengurangkan kecepatan, keberatan dan kegiatan-kegiatan yang melibatkan jasmani. Jangan berlari-lari untuk mengejar keratapi, [mengejar bas], menaiki tangga, jangan cuba memberhentikan kereta di tempat yang sempit, atau menggunakan mana-mana anggota jasmani dengan sehabis tenaga yang dimiliki.

Selepas selesai makan jangan libatkan diri dalam sebarang kegiatan jasmani, jangan lakukan sesuatu yang boleh memendekkan nafas. Andainya pesakit mulai merasa nafasnya singkat-singkat, atau merasa sakit dalam dada, dia hendaklah segera baring dan berihat sahaja.

Kerja-kerja menggunakan otak hanya boleh dilakukan bila otak berada dalam keadaan cukup segar dan berhenti bila merasa otak kepenatan. Dengan itu, perhatian dapat diberikan sebaik-baiknya kepada masalah kerja tanpa mendapat ketegangan mental yang berat.

Riaksi-riaksi emosional yang meluap-luap hendaklah dielakkan. Beliau memberitahu tentang seorang pesakit yang darahnya akan naik setinggi 60 poin bila dia berada dalam keadaan marah.

Kita selalu mempersalahkan orang lain yang melakukan sesuatu yang menaikkan kemarahan kita, tapi tidak menganggap diri kita bodoh kerana membenarkan perbuatan-perbuatan seperti itu menganggu kententeraman kita.

Beliau menceritakan tentang seorang doktor yang menghidap penyakit jantung. Dia sedar riaksi emosi terhadap jantungnya, tapi dia tidak mampu mendisplinkan dirinya sendiri, menyebabkan akhirnya dia mati ketika dia berada dalam keadaan marah yang meluap-luap.

[Seorang jiran saya di kampung adalah seorang pesakit jantung pada mula-mulanya tidak serius. Tapi dia tidak dapat menerima dengan kelakuan dan tingkah laku salah seorang daripada anaknya yang selalu menimbulkan kemarahannya yang meluap-luap. Dia sering meluahkan perasaannya itu kepada saya. Pada suatu hari kerana terlalu marahnya dengan tindakan yang dilakukan oleh anaknya itu dia menjadi tidak sedarkan diri, dan terpaksa diusung ke hospital kerana diserang pernyakit jantung. Sejak itu kehidupanya tidak lagi normal seperti di masa-masa sebelumnya, dia tidak dapat lagi berfikir dengan normal].

Justeru bila ada sesuatu problem yang mulai menceutskan kemarahan, atau mulai menganggu kententeraman jiwa, maka kita dinasihatkan supaya segera merelek dan menenangkan diri kita agar perasaan yang mendidih dalam batin kita itu tidak meletup.

Beliau menasihatkan supaya bergembira dalam semua keadaan. Sikap mu-sang atau mudah terganggu dan cepat suggul tidak menolong mencergaskan jantung dan juga saluran-saluran darah. Sesunggunya untuk bergembira dalam saat-saat kesedihan tidaklah mudah. Ia mudah diucapkan tapi sukar dipraktikkan.

Justeru itu beliau menyarankan, ketika berada di dalam kesuggulan, cubalah fikirkan mana-mana pengalaman gembira yang telah dialami di masa lampau, kerana mud kita sering dapat dipengaruhi oleh apa yang kita fikirkan.

[Seorang doktor di sebuah hospital di negara kita pernah memberi nasihat kepada seorang pesakitnya, kebetulan sahabat saya, ketika berada dalam gangguan perasaan, supaya mengingatkan saat-saat gembira ketika dia mula-mula bertemu dengan isterinya menjelang mereka bercinta dan mendirikan rumahtangga].

Jika pesakit itu seorang perokok, beliau menasihati pesakit itu supaya berhenti merokok, kerana dia yakin rokok merbahaya kepada orang yang sakit jantung.

[Seorang sahabat saya, ketika pertama kali diserang oleh penyakit jantung dan dirawat di sebuah hospital tempatan selama beberapa hari, sebelum dibenarkan keluar dari rumah sakit itu telah dinasihatkan oleh doktor yang merawatnya supaya segera berhenti merokok dengan membuat satu akujanji bertulis yang dia tidak akan menjamah rokok lagi selepas itu. Sehingga kini dia masih lagi berpegang teguh akujanjinya itu]

Tegas Dr. Peter Steincrohn, “Penghidapan jantung anda memerlukan anda mengubahkan cara-cara hidup anda. Anda harus selalu tenang dan bergembira dan mengurangkan kegiatan-kegiatan badan, mental dan emosi”.

“Saya mempunyai beberapa orang sahabat yang sama menghidap seperti anda, tapi hari ini mereka masih sihat walafiat dan sedang melaksanakan kerja-kerja yang cemerlang. Anda juga boleh mencapai kesihatan yang dinikmati mereka andainya anda bersedia untuk menurut jejak cara-cara hidup mereka”. Demikian Dr.Peter Steincrohn.

Itulah sebabnya kita rakyat Malaysia harus sentiasa menjalani kehidupan dengan cara yang wajar, bersih dan suci lahir dan batinnya, lebih-lebih lagi kepada kita yang beragama Islam yang diwajibkan menjaga kebersihan diri jasmani dan ruhaninya sebagai hamba Allah dalam mengejar kebahagian dunia dan akhirat.



Ramuan Bahan2 adalah seperti berikut :-

1. Satu cawan Jus lemon
2. Satu cawan Jus Halia
3. Satu cawan Jus Bawang Putih
4. Satu cawan Cuka Epal
5. Tiga cawan Madu Asli.

Cara Membuatnya

Campurkan bahan 1 hingga 4 diatas dan masukkan dalam periuk dan masak diatas api yang sederhana selama lebih kurang 20 minit. Kacau sentiasa untuk mengelakkan dari berkerak. Setelah masak alihkan kedalam bekas dan biarkan ianya sejuk dalam 30 minit. Kemudian campurkan 3 cawan madu asli.....dan boleh diminum.

Sukatan Minumannya

Ikut resipi asal hendaklah diminum 3 sudu teh selepas bangun tidur ketika perut kosong sekali sehari. Tapi pada saya yg belum ada sakit jantung merasakan tindak balas yang agak kuat seperti terasa darah berjalan dengan laju. Maka, saya hanya mengambil satu sudu teh sahaja sehari....itupun sudah cukup kuat. Rasanya masam manis.

Supliment Tambahan

Saya membaca beberapa Doa Rukyah pada ramuan bahan sebelum diproses. Rukyah yang dibaca adalah :-

1. Surah Al Fatihah
2. Ayat Kursi
3. Solawat Syifa
4. Solawat Tafjiriyah
5. Ayat Pemecah Surah Al Anbiyaa ayat 30
6. Ayat Pemecah Surah Al Hasyr ayat 21 - 24
7. Ayat Pemecah Surah Al Mukminuun ayat 115 - 118

Kesemua ayat2 diatas ada saya lampirkan di Halaman "Pengubatan Islam Assyifa'

Selamat mencubanya.



1. Satu cawan Jus lemon



2. Satu cawan Jus Halia


3. Satu cawan Jus Bawang Putih



4. Satu cawan Cuka Epal

5. Tiga cawan Madu Asli.



Khamis, 9 Jun 2016

POLITIK DAN AGAMA & CADANGAN PINDAAN AKTA 355 MAHKAMAH SYARIAH



Dalam hal beragama, adalah tidak adil bagi mana-mana pihak meletakkan had kepada cara penganutnya mengamalkan ajaran agama masing-masing. Malah sebenarnya tiada apa yang perlu dimalukan dengan amalan agama masing-masing.

Contohnya, tiada sesiapa yang harus menggunakan undang-undang pencemaran alam sebagai alasan untuk menghalang dan mengugut orang bukan Islam daripada melakukan kewajibannya membakar bahan-bahan yang disembahkan ketika melakukan sembahyang kubur atau di tempat beribadat mereka.

Orang agama lain tidak perlu sibuk berhujah mengambil contoh daripada agama mereka untuk memujuk orang bukan Islam meninggalkan upacara membakar bahan-bahan yang disembahkan hanya kerana agama mereka tidak mengamalkannya. Bayangkan sekiranya ada perkara sedemikian berlaku, susah tentu keharmonian antara kaum dan agama akan terjejas teruk.

Perkara yang sama juga dengan orang Islam dan agama Islam. Di dalam agama Islam, ada larangan-larangannya terhadap penganut. Dan di dalam agama Islam, sudah ada ketentuan hukuman bagi penganut yang menyalahi larangan-larangan tersebut. Tidak perlulah ada suara-suara mempertikaikan mengapa agama Islam menetapkan ketentuan sebegini dan mengapa umat Islam mahukan perkara ini dilaksanakan. Ia adalah sebahagian daripada tuntutan agama sebagaimana seorang Muslim akan cuba menunaikan haji apabila peluang tiba dan dia sudah mampu melakukannya.

Adalah lebih elok kalau masing-masing dapat mengikut ajaran agama masing-masing dan mengiktiraf kewajipan agama lain asalkan ia dapat membawa kebaikan daripada keburukan dan mengukuhkan keharmonian dan hubungan antara kaum dan agama.

Hari ini, had hukuman Akta Mahkamah Syariah (Akta 355) terhadap pesalah beragama Islam sahaja dalam 4 perkara iaitu minum arak, qazaf (tuduh zina), murtad dan berzina adalah seperti berikut: denda tidak melebihi RM5,000, penjara tidak melebihi 3 tahun dan sebatan tidak melebihi 6 sebatan atau mana-mana kombinasi.

PAS hanya mencadangkan agar pesalah beragama Islam dihukum lebih berat dengan menaiktaraf Mahkamah Syariah agar had hukuman (RM5000 denda, 3 tahun penjara dan 6 sebatan) dapat dipinda kepada satu angka yang memenuhi tuntutan Islam agar pesalahlaku beragama Islam akan menghindari perbuatan jahat seperti zina, qazaf, arak dan murtad.

Orang bukan Islam tidak mungkin dibicara di Mahkamah Syariah dalam 4 kesalahan ini.

Akta 355, juga tidak berkaitan dengan kesalahan awam seperti kecurian atau rompakan kerana di bawah kuasa kerajaan persekutuan. Oleh itu, tiada hukuman potong tangan seperti yang diwar-warkan. Akta 355 juga tidak melibatkan hukuman bunuh dan tidak boleh digunakan dalam kes-kes rogol, kerana itu melibatkan kuasa undang-undang perseketuan di bawah Akta Jenayah.

Itulah ringkasnya cadangan bagi menaiktaraf kuasa Mahkamah Syariah ini. Ia sebuah inisiatif dari orang Islam kepada orang Islam agar mereka sentiasa berkelakuan baik dan jangan sesekali berbuat jahat demi memelihara keharmonian dan keamanan dalam masyarakat.

Teruk sangatkah, dan gerun sangatkah cadangan pindaan yang sedikit ini terhadap Akta 355 melalui RUU persendirian Presiden PAS? Apakah reaksi berlebihan parti-parti politik bukan Islam setimpal dengan apa yang dicadangkan? Apakah hak orang Islam untuk melaksanakan ajaran Islam perlu dinafikan hanya kerana mereka sengaja mempolitikkan perkara yang tidak melibatkan mereka?

Bayangkan kalau ada parti yang hendakkan kerjasama meletakkan syarat di mana penganut agama lain tidak lagi boleh melakukan pembakaran, termasuk pembakaran mayat kerana kekangan undang-undang alam sekitar, apakah kerjasama itu masih akan wujud? Oleh itu, adalah mustahil kerjasama politik dilakukan dengan mana-mana pihak yang sanggup menghalang kewajipan bagi umat Islam mengamalkan ajaran agamanya, terutamanya apabila perkara sekecil seperti mengusulkan pindaan Akta 355 untuk menaiktaraf Mahkamah Syariah menjadi titik pertikaian. Dan itulah yang berlaku antara DAP dan PAS.

Orang Islam mempunyai kewajipan terhadap agamanya, sebagaimana penganut agama lain melaksanakan kewajipan mereka. Kewajipan orang Islam ini tidak pernah pun mencampuri urusan agama lain.

PAS tidak mengambil jalan pendek untuk melaksanakan tuntutan agama dalam pindaan Akta 355. Presiden PAS mengemukakan cadangan Pindaan RUU 355 melalui Parlimen untuk dibahas dan diterima. Ia memenuhi semua prosiding dalam sistem demokrasi yang diamalkan dalam negara ini.

Di manakah alasan bahawa ia bercanggah dengan perlembagaan negara?

Punca rakyat, nama negara dan nilai Ringgit merana hari ini ialah kerajaan Umno-BN. Berlakunya pelbagai gejala sosial, rasuah, salahguna kuasa sehingga muncul pelbagai isu yang membebankan masyarakat di Malaysia hari ini seperti isu 1MDB, GST, isu dana RM2.6 bilion dan lain-lain menunjukkan satu penyelesaian menyeluruh diperlukan, terutamanya untuk mencabut akar budaya rasuah yang menyubur hari ini.

Menumbangkan kerajaan Umno-BN memang menjadi agenda perjuangan politik PAS sejak mula ditubuhkan. PAS tidak pernah berubah dasar dan perjuangan bahkan sejarah pertembungan politik negara ini adalah pertembungan antara PAS dan Umno. Ahli-ahli PAS ditekan dengan pelbagai bentuk bahkan kerajaan Kelantan terus dianaktirikan dan sistem federalism tidak berjalan sebagaimana sepatutnya.

Semua ini ditanggung oleh ahli PAS.

Adalah aneh ada pihak yang bertubi-tubi menuduh PAS hendak bekerjasama dengan Umno. Apa lagi bukti PAS ialah musuh politik Umno yang lebih jelas daripada tindakan PAS melawan Umno di semua PRU dan PRK?

Kerjasama politik blok pembangkang memang menjadi hasrat rakyat negara ini, bahkan PAS juga melihat keperluan yang sama. Namun, bagi PAS, parti tidak boleh bersetuju dengan kerjasama politik yang menyekat PAS daripada melaksanakan kewajipan sebagaimana yang dituntut ajaran Islam sebagaimana PAS juga tidak akan bersetuju mengadakan kerjasama politik bagi menyekat pengamalan bagi agama lain.

PAS berjuang di atas prinsip Islam sebagaimana kami diasaskan. PAS sejak dahulu tidak bersama Umno. Semua ini adalah berpaksi kepada pertembungan dasar antara PAS dengan Umno.

PAS menyambut baik apabila pihak kerajaan memberi ruang bagi Presiden PAS membentang RUU di Parlimen, kerana ini membuka ruang bagi untuk orang Islam mengamalkan ajaran agama mereka. Ini melibatkan agama, sebagaimana kelulusan diberikan kerajaan Umno untuk membina kuil mahupun tokong di kawasan pembangkang. Tapi dalam isu TPPA, GST dan 1MDB, PAS tidak akan berganjak daripada posisi membantah kerajaan.

PAS akan terus berjuang memastikan orang bukan Islam bebas untuk mengamalkan agama mereka. Pada masa yang sama, PAS akan terus berjuang agar orang Islam juga diberi kebebasan yang mengamalkan ajaran agama secara penuh dalam keadaan perlembagaan negara mengiktiraf Islam sebagai agama persekutuan. Hormatilah kewajipan dan tuntutan agama masing-masing demi keharmonian bersama. Tolaklah pihak yang menyemai kebencian.

Tuan Ibrahim Tuan Man
Timbalan Presiden PAS
7 Jun 2016