PAUTAN TAMBAHAN

Jumaat, 30 Jun 2017

KEMBALILAH KEPADA KEBENARAN

Syaikhul Islam رحمه الله berkata, "Hati diciptakan untuk mencintai kebenaran. la akan selalu mencari dan menginginkannya."1

Sesungguhnya Allah عزّوجلّ menciptakan manusia di atas fitrah. Allah عزّوجلّ berfirman:

فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا

"Tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu." (QS ar-Rum [30]: 30)

Dan kebenaran adalah salah satu fitrah yang telah ditanamkan oleh Allah عزّوجلّ dalam diri setiap manusia.

TIDAK ADA MANUSIA YANG BERSIH DARI KESALAHAN

Seorang hamba tidak dituntut maksum dari kesalahan, baik ketika dia bergaul dengan manusia atau beribadah kepada Allah عزّوجلّ. Bagaimanapun juga, salah dan lupa menjadi tabiat dasar seorang insan. Ketika seorang hamba bersalah atau terjatuh ke dalam dosa, yang wajib baginya adalah kembali kepada kebenaran, bersegera kembali kepada Allah عزّوجلّ agar dia termasuk seorang hamba yang disebutkan dalam al-Qur'an:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui." (QS Ali 'Imran [3]: 135)

Barang siapa meneliti perjalanan para salaf, niscaya tidak akan menemui pada mereka seorang pun yang punya keistimewaan terjaga dari kesalahan. Akan tetapi, secara yakin kita akan mendapati bahwa mereka adalah orang-orang yang sangat sedikit salahnya. Mereka adalah orang-orang yang paling berhak untuk menyandang gelar dalam firman Allah عزّوجلّ:

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ

"Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya." (QS al-A'raf [7]: 201)

Inilah letak pentingnya untuk bersegera bertaubat, kembali kepada kebenaran ketika telah jelas kesalahan. Hal ini lebih baik daripada tetap berada dalam kebatilan hanya demi mengikuti hawa nafsu, bujukan setan, senang dan bangga dengan kesombongan diri.

MANUSIA BERBEDA-BEDA TABIATNYA

Telah diketahui secara pasti bahwa manusia punya tabiat yang berbeda-beda. Ada orang yang sifatnya selalu senang, ada yang sering murung, ada juga yang tawadhu', ada yang sombong, dan seterusnya.

Sifat-sifat tersebut yang paling istimewa adalah orang yang sedikit marahnya dan segera mengakui salah serta kembali kepada kebenaran.

Orang yang seperti ini akan cepat mengakui kesalahannya, akan cepat bertaubat dan merasa bersalah yang membawanya untuk kembali ke jalan kebenaran dan memohon ampunan. Jiwanya selalu memerintahkan kepada keburukan, tetapi dirinya mampu menguasainya dan mengalahkannya sehingga dia akan segera kembali kepada kebenaran. Orang semacam ini yang akan mendapat keutamaan. Apa saja keutamaan kembali kepada kebenaran? Jawabnya:

HIKMAH DAN KEUTAMAAN KEMBALI KEPADA KEBENARAN

1. Melaksanakan perintah Allah عزّوجلّ

Allah عزّوجلّ mewajibkan seluruh manusia mengikuti kebenaran, bukan mengikuti adat istiadat atau selalu dalam kebatilan. Allah عزّوجلّ berfirman:

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيلا مَا تَذَكَّرُونَ

"Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya)." (QS al-A'raf [7]: 3)

2. Mengakui kerendahan dirinya

Sifat manusia yang selalu bersalah akan membawa manusia bersifat rendah hati, mengakui kerendahan dirinya, tidak sombong, karena hanya Allah عزّوجلّ semata yang Maha Sempurna. Nabi عزّوجلّ bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ

"Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Seandainya kamu tidak berbuat dosa, Allah benar-benar akan menggantikan kamu dan mendatangkan suatu kaum yang akan berbuat dosa, lalu mereka memohon ampun kepada Allah, maka Allah mengampuni mereka."2

3. Sifat orang yang beriman

Sifat orang yang beriman adalah orang yang segera sadar dari kesalahan, bertaubat kepada Allah عزّوجلّ, dan tidak sombong untuk kembali kepada kebenaran. Sebaliknya, orang munafik adalah orang yang sombong dan enggan menerima kebenaran. Allah عزّوجلّ berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُ اتَّقِ اللَّهَ أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالإثْمِ فَحَسْبُهُ جَهَنَّمُ وَلَبِئْسَ الْمِهَادُ

"Dan apabila dikatakan kepadanya 'bertaqwalah kepada Allah', bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya." (QS al-Baqarah [2]: 206)

4. Meninggikan kedudukannya di hadapan manusia

Orang yang mulia dan terhormat adalah orang yang menerima kebenaran dan mau kembali pada kebenaran. Sementara itu, orang yang angkuh adalah orang yang menolak kebenaran.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

الْـكِبْرُ بَطَرُ الْـحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ

"Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia."3

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin رحمه الله mengatakan, "Yang wajib bagi seorang insan adalah kembali kepada kebenaran di mana pun dia mendapatinya. Walaupun hal itu menyelisihi pendapatnya, tetapi kembalilah kepada kebenaran. Karena hal ini lebih mulia di sisi Allah, lebih mulia di sisi manusia, lebih selamat bagi jiwanya dan lebih bersih, tidak akan membahayakannya. Dan janganlah engkau menyangka jika engkau meninggalkan pendapatmu menuju kebenaran maka hal itu akan menjatuhkan kedudukanmu di mata manusia. Bahkan sebaliknya, hal ini akan meninggikan kedudukanmu dan orang-orang akan mengetahui bahwa engkau tidak mengikuti kecuali kebenaran. Adapun orang yang terus memegangi pendapatnya dan menolak kebenaran, maka orang yang seperti ini adalah orang yang sombong, dan kita berlindung kepada Allah."4

5. Masuk ke dalam surga

Orang-orang yang tidak sombong, yang mau kembali kepada kebenaran, yang mengakui kesalahannya itulah yang berhak masuk surga. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

لَا يَدْخُلُ الـجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِيْ قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةِ مِنْ كِبْرِ

"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sifat sombong walaupun seberat biji sawi."5

Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali رحمه الله tatkala mengomentari hadits di atas beliau berkata, "Orang yang sombong adalah orang yang memandang dirinya sempurna segala-galanya. Dia memandang rendah orang lain, meremehkan dan menganggap orang lain tidak pantas mengerjakan suatu urusan, sombong menerima kebenaran jika datang dari orang lain."6

KEMBALI KEPADA KEBENARAN LEBIH BAIK DARIPADA TERUS DALAM KEBATILAN

Bukan sebuah aib jika seorang terjatuh dalam kesalahan, karena Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْـخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ

"Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat."7

Yang menjadi musibah adalah jika seseorang tetap dan terus berada dalam kesalahan dan kebatilan setelah jelas baginya kebenaran. Padahal, jika kita renungi ayat-ayat al-Qur'an, ternyata sangat banyak yang memerintahkan kita agar mengikuti kebenaran. Di antaranya:

Allah عزّوجلّ berfirman:

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيلا مَا تَذَكَّرُونَ

"Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya)." (QS al-A'raf [7]: 3)

Allah berfirman pula:

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertaqwa." (QS al-An'am [6]: 153)

BUANG JAUH-JAUH SIKAP SOMBONG!

Mulai detik ini, marilah kita berlapang dada untuk menerima kebenaran. Buang jauh-jauh sikap sombong menolak kebenaran dan terus dalam kebatilan. Janganlah Anda berpaling dari kebenaran dan seruan Allah عزّوجلّ untuk mengikuti kebenaran! Allah عزّوجلّ berfirman:

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ

"Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Rabbnya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa." (QS as-Sajdah [32]: 22)

Al-Imam Ibnul Qayyim رحمه الله mengatakan, "Demikianlah jika seorang hamba berpaling dari Rabbnya, Allah akan membalasnya dengan berpalingnya Allah darinya. Tidak mungkin baginya kembali kepada Allah. Ingatlah selalu kisah Iblis, semoga engkau bisa mengambil manfaat dari kisah ini, tatkala Iblis bermaksiat kepada Rabbnya dan tidak patuh terhadap perintah-Nya, dia terus seperti itu, maka Allah menghukumnya dengan menjadikan dirinya sebagai penyeru setiap kemaksiatan, baik yang besar maupun yang kecil, hal ini karena sebab berpaling dari Allah. Balasan kejelekan adalah kejelekan semisalnya, sebagaimana balasan kebaikan adalah kebaikan."8

Note

1. Majmu’ Fatawa 10/88.
2. HR Muslim: 2749.
3. HR Muslim: 91.
4. Syarh Riyadhush Shalihin 3/537, Madar al-Wathan.
5. HR Muslim: 91.
6. Jami'ul 'Ulum wal Hikam 2/275.
7. HR at-Tirmidzi: 2499, Ibnu Majah: 4251, ad-Darimi: 2783. Asy-Syaikh al-Albani menyatakan bahwa hadits ini hasan dalam al-Misykah No. 2341.
8. Tafsir al-Qayyim hlm. 320.

Sumbar:
Muslimin Harahap

Rabu, 28 Jun 2017

BAGAIMANA QADA SOLAT YANG TIDAK DIKETAHUI BILANGANNYA?


1. Solat fardu yang tidak dilakukan dalam waktunya, wajib diqada sama ada solat itu ditinggalkan dengan sengaja atau tidak sengaja. Solat yang ditinggalkan dengan sengaja, wajib diqada segera, manakala solat yang ditinggalkan secara tidak sengaja tidak wajib diqada segera tetapi menyegerakan qadanya adalah sunat.

2. Ada beberapa perbezaan antara melakukan solat secara tunai (dalam waktu) dan melakukannya secara qada. Antara perbezaannya seperti berikut :

a.  Solat tunai dilakukan dalam waktunya sedangkan solat qada tidak semestinya dilakukan dalam waktunya. Maksudnya solat Zuhur tidak wajib diqada dalam waktu Zuhur, bahkan boleh diqada dalam waktu Asar, Maghrib, Isyak dan Subuh.

b.  Solat tunai dibaca nyaring pada solat Maghrib, Isyak dan Subuh manakala solat Zuhur dan Asar dibaca secara sir (perlahan). Solat qada pula dibaca sir pada waktu sir dan dibaca jahar (nyaring) pada waktu nyaring. Maksudnya solat Maghrib, Isyak dan Subuh dibaca perlahan jika diqada pada waktu Zuhur atau Asar walaupun ia jenis solat yang dibaca nyaring. Begitu juga solat Zuhur dan Asar dibaca nyaring jika diqada pada waktu Maghrib, Isyak dan Subuh walaupun ia jenis solat yang dibaca sir atau perlahan.

c.  Solat tunai dilakukan secara tamam dalam keadaan bermukim dan secara qasar dalam keadaan musafir. Solat qada wajib dilakukan secara tamam jika dilakukan semasa bermukim walaupun solat yang diqada itu ditinggalkan semasa musafir. Jika diqada solat semasa musafir, ia boleh dilakukan secara tamam atau qasar walaupun solat yang diqada itu ditinggalkan semasa bermukim.

3. Jika tidak diketahui bilangan solat yang ditinggalkan, bagaimana cara mengqadanya. Caranya mudah sahaja. Seseorang yang tidak mengetahui bilangan solat yang ditinggalkan, maka dia hendaklah mengqada setiap fardu solat berulang-ulang kali sehingga dia yakin dia telah mengqadakan sepenuhnya. Sekiranya dia masih tidak yakin, maka dia terus mengqadanya sehingga sampai tahap yakin. Dengan cara itu semua solat yang ditinggalkan dikira telah diqada sepenuhnya.

(Catatan Syeikh Ahmad Faisol Hj Omar)

Isnin, 26 Jun 2017

Islam Banyak Mengatur Etika dan Moral Kepemimpinan

Islam telah banyak mengatur etika dan moral kepemimpinan, baik di dalam Alquran maupun hadis Nabi Muhammad saw serta ijma para ulama. Semua ajaran etika dan moral dalam kehidupan masyarakat adalah merupakan etika dan moral kepemimpinan, namun inti dari semua itu adalah amanah dan keadilan sebagaimana firman Allah swt dalam QS. An-Nahl/16:90

Bermaksud: "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran".

Keadilan dalam hal ini adalah di dalam memutuskan suatu perkara tidak berat sebelah, keadilan harus dinikmati setiap orang baik muslim muapun non muslim, pejabat maupun bukan pejabat, keluarga maupun bukan keluarga, hendaknya putusan yang diberikan kepada mereka sesuai dengan ketetapan hukum dan bukan berdasarkan atas permusuhan.

Beberapa perinsip ajaran Islam yang dapat dijadikan etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara antara lain meliputi kekuasaan sebagai amanah, musyawarah, keadilan sosial, persamaan, pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia. Dalam konteks kenegaraan, amanah dapat berupa kekuasaan ataupun kepemimpinan. Kekuasaan adalah amanah, maka Islam secara tegas melarang kepada pemegang kekuasaan agar melakukan abusei atau penyalagunaan kekuasaan yang diamanahkannya. Karena itu pemegang kekuasaan atau pemimpin wajib berlaku adil dalam arti yang sesungguhnya.

Apabila beberapa perinsip ajaran Islam tersebut di atas tidak diamalkan dengan baik dan benar, maka akan muncul keterpurukan etika dan moral pemimpin sebagai berikut:

Pertama,

Keterpurukan etika dan moral pemimpin disebabkan masih ada hubungannya dengan korupsi yaitu pemimpin yang sangat ambisius untuk mendapatkan harta yang banyak, tidak mempertimbangkan halal dan haram yang penting tujuan tercapai.

Selain itu,  hukum bertujuan untuk mencapai keadilan sebagaimana yang ditegaskan dalam surah Al-Maidah/5:42 "sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya".

Kedua,

Keterpurukan etika dan moral seorang pemimpin adalah pemahaman terhadap ajaran agama sebagai pengendali dalam melakukan tindakan, karena lemahnya agama dapat menyebabkan para pemimpin tidak memperhatikan nilai-nilai etika dan moral. Oleh karenanya wajib bagi seorang pemimpin untuk memperbaiki pemahaman terhadap ajaranya.

Ketiga,

Keterpurukan etika dan moral pemimpin adalah pemimpin yang bersikap sombong. Sebagaimana halnya raja Namruz. Dia adalah orang pertama yang melakukan kesombongan di muka bumi yang mengakui dirinya sebagai Tuhan. Ketika terjadi krisis ekonomi pada zaman kerajaannya, rakyat sangat menginginkan makanan, tetapi raja Namruz tidak mau memberikan makanan yang dia miliki walaupun membeli, jika rakyat tidak mau bersujud kepadanya dan mengucapkan Kamulah Tuhanku.

Itulah sikap sombong yang diperlihatkan oleh seorang pemimpin yang tidak memperdulikan nilai-nilai etika dan moral dalam kepemimpinannya.

Keempat,

Kurangnya rasa tanggung jawab. Kekuasaan bukanlah sebuah kenikmatan yang harus dihirup, melainkan suatu tanggung jawab, maka berat harus dipikul dan mempertanggungjawabkannya dihadapan Allah swt yang secara demokrasi adalah dihadapan rakyat secara terbuka dan jujur. Berkuasa adalah bukan memegang kendali politik sambil menikmati sumber daya dengan cara menindas, melainkan terkandung pertanggungjawaban politik yang berat di dalamnya.

Kelima,

Tidak jujur. Tanpa kejujuran, maka keutamaan moral lainnya kehilangan nilai. Bersikap baik kepada orang lain, tetapi tanpa kejujuran adalah kemunafikan dan sering beracum. Hal yang sama berlaku pada sikap tenggang rasa dan  diri, tanpa kejujuran, dua sikap itu tidak lebih dari sikap berhati-hati tanpa tujuan untuk tidak ketahuan maksud yang sebenarnya.

Sikap jujur harus dimiliki setiap pemimpin, karena tanpa kejujuran seorang penguasa atau seorang pemimpin, segala tindakannya akan mengarah kepada kemunafikan dan tanpa kejujuran keutamaan etika dan moral kehilangan nilai.

Alquran adalah petunjuk bagi umat manusia, maka tidak berlebihan apabila alquran dijadikan sebagai konsep etika politik, dimana etika ingin menjawab “bagaimana hidup yang baik”.

Dengan demikian alquran menerangkan tentang etika dan moral sebagaimana terdapat dalam QS. Al-Imran/3:159

Maksudnya : Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Kandungan ayat tersebut di atas menerangkan tentang etika dan moral kepemimpinan yang diperlukan untuk mendapatkan dukungan dan partisipasi umat, antara lain memiliki sifat lemah lembut dan tidak menyakiti hati orang lain dengan perkataan atau perbuatan, serta memberi kemudahan dan ketentraman kepada masyarakat. sifat-sifat ini merupakan faktor subyektif yang dimiliki seorang pemimpin yang dapat merangsang dan mendorong orang lain untuk berpartisipasi dalam musyawarah,. Sebaliknya, jika seorang pemimpin tidak memiliki sifat-sifat tersebut di atas, niscaya orang akan menjauh dan tidak memberi dukungan.

Dalam sejarah, kaum Majusi telah menguasai dunia selama empat ribu tahun. Kelanggengan kekuasaan hanya dapat terjadi dengan perilaku adil terhadap rakyat dan memelihara urusannya secara bersama-sama. Mereka tidak membiarkan kezaliman dalam urusan agama dan keyakinan mereka. Mereka mengelolah negaranya dengan adil. Mereka juga senantiasa berbuat adil terhadap manusia. Dengan demikian dapat dipahami bahwa kemakmuran dan kehancuran dunia bergantung kepada penguasanya. Jika penguasa adil, maka dunia akan makmur dan rakyat akan merasa aman, sebaliknya penguasa tidak adil, maka dunia akan runtuh. Sebab agama merupakan sistem nilai yang diyakini kebenarannya dan panduan kehidupan serta modal ketenangan jiwa sebelum seseorang menentukan suatu tindakan tertentu.

Prinsip ajaran Islam yang dapat dijadikan etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah kekuasaan sebagai amanah. Prinsip amanah tercantum dalam Alquran surah Al-Nisa/4:58

Maksudnya: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat".

 Makna amanah adalah “titipan” atau “pesan”. Dalam demokrasi Islam, amanah dipahami sebagai “sesuatu karunia atau nikmat Allah yang merupakan suatu bentuk pemeliharaan dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan perinsip-perinsip dasar yang telah ditetapkan dalam Alquran yang kelak harus dipertanggungjawabkan kepada Allah.

Seseorang yang bertanggungjawab diharapkan takut kepada Allah terhadap apa yang ditugaskan kepadanya dari urusan umat agar ia ingat betapa besarnya amanah yang diemban untuk mengerjakannya. Alquran sebagai sumber gagasan etika politik berusaha menanamkan perilaku yang baik kepada para pemimpin untuk mewujudkan suatu pemerintahan yang berwibawa. Oleh karenanya perilaku rakyat sangat tergantung dari kebijakan para pemimpin, rakyat bermoral adalah cerminan dari seorang pemimpin. Pemimpin yang bertanggungjawab adalah pemimpin yang beretika dan bermoral yang bersumber dari nilai-nilai luhur agama. Dengan demikian segala tindakan yang baik, adil, beramanah dari pemimpin akan mendapatkan syafaat, selama pemimpin tidak keluar dari koridor yang telah digariskan oleh Allah swt dalam Alquran sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Kesimpulan

Etika politik Islam senantiasa merujuk pada ketentuan dalam Alquran dan hadis. Dalam Alquran menyerukan umatnya untuk berlaku adil dan berbuat baik serta berlaku amanah. Perinnsip dasar dalam etika politik Islam adalah menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan dan menghormati hak-hak asasi manusia, sehingga tercipta suatu kedamaian yang berkelanjutan dibawah norma-norma agama. Dan ketika segala aktifitas politik yang dilakukan senantiasa dituntut oleh nilai-nilai yang bersumber dari Alquran, maka aktifitas yang dilakukan mendapat berkah yang berlipat ganda, sehingga terhindar dari malapetaka yang disebabkan karena melakukan keterpurukan atau kemungkaran.

Ahad, 25 Jun 2017

CERAMAH BADAR AL- KUBRA OLEH TITM -19 JUN 2017



CERAMAH BADAR AL- KUBRA OLEH TITM -19 JUN 2017
Madinah Ramadhan, Perkarangan Stadium Sultan Muhammad IV, Kota Bharu, Kelantan.

PERUTUSAN PRESIDEN PAS SEMPENA HARI RAYA AIDILIFTRI 1438H


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

Alhamdulillah bersyukur kepada Allah kerana dapat menjadi tetamu Allah selama sebulan di bulan Ramadan. Allah telah mendidik kita dengan meninggalkan makan minum dan kemahuan nafsu yang dihalalkan di waktu siang hari pada bulan-bulan yang lain. Tujuannya supaya kita sedar betapa kehidupan kita menjadi manusia dengan adanya akal fikiran untuk mencari ilmu dan pengalaman hidup, rezeki harta dan kemudahan adalah semuanya pemberian daripada Allah. 

Hari raya bermakna kita menyambut kemenangan, maka tiada kemenangan bagi mereka yang tidak berpuasa Ramadan dan tidak meninggalkan maksiat. Setelah itu, wajiblah juga kita raikan kemenangan dengan berjuang melawan musuh Allah seluruh pelosok dunia yang menyekat dan menghalang Islam, supaya hukum Allah di dalam Al-Quran yang diajarkan oleh Rasulullah SAW diamalkan semula keseluruhannya setelah dibuang oleh para penjajah.

Walaupun kita telah berjaya meletakkan di dalam Perlembagaan Persekutuan melalui rundingan bahawa Islam adalah agama negara, tetapi di dalam perlembagaan itu juga masih ada halangan-halangan yang menyekat kuasa hukum Islam. Di antaranya adalah perkara yang disebut Akta 355 yang menjadikan Mahkamah Syariah bagi orang-orang Islam disekat kuasanya. 

Mewujudkan Mahkamah Syariah adalah perintah Al-Quran dan ajaran Rasulullah SAW. Mahkamah Syariah sudah ada pada namanya sahaja, tetapi kuasa berhukum dengan syariat Allah disekat dan dihalang oleh penjajah Inggeris dahulu. Maka wajib kepada kita semua bersatu membuang segala sekatan itu dan haram bersama mereka yang menentang dan menghalang usaha ini. Melaksanakan hukum Allah juga menjadi sebahagian daripada iman dan amal soleh yang wajib kerana termasuk dalam perkara amar maaruf dan nahi mungkar yang disebut oleh Allah menjadi syarat mendapat rahmat-Nya.

Marilah kita menyambut hari raya dengan semangat kuat bertaqwa kepada Allah, membuktikan keimanan kepada semua petunjuk Al-Quran dan bersatu menentang semua pihak yang bermusuh dengan usaha menegakkan hukum Islam, yang terkini adalah RUU 355 yang menjadi pembuka pintu kepada semua negeri bagi kembali kepada hukum Islam mengikut kemampuan masing-masing. Lupakan segala perbalahan kita dengan menghadapi musuh yang sebenar kerana yang menjadi musuh kita adalah yang menentang Islam secara terbuka atau bersembunyi dengan berbagai tipu daya dan fitnah.

Dalam kesempatan ini juga, saya bagi pihak Parti Islam Se-Malaysia (PAS), ingin mengucapkan Selamat Hari Raya Aidilfitri kepada semua ahli PAS, para penyokong dan seluruh umat Islam walau dimana jua berada.

Saya mendoakan anak-anak di perantauan yang pulang beraya di kampung halaman agar selamat sampai ke destinasi yang dituju. Pandulah secara berhemah dan berhati-hati. Elakkan memandu ketika mengantuk, berehatlah sekejap. Patuhi peraturan jalanraya dan had laju yang ditetapkan serta menghormati pengguna jalanraya yang lain.

Selamat Hari Raya Aidilfitri.
Minal 'Aidin Wal Faizin
 
ABDUL HADI AWANG
Presiden PAS

Bertarikh: 1 Syawwal 1438H bersamaan  25 Jun 2017M

Selasa, 20 Jun 2017

DAP anti Islam, Umno tak bersungguh dengan Islam.


DAP anti Islam, Umno tak bersungguh dengan Islam.

Ketika berucap dalam Majlis Berbuka Puasa di Jitra kelmarin 19 Jun, Perdana Menteri Dato' Seri Najib mendakwa sebab PAS telah meninggalkan pakatan pembangkang ialah kerana dibuli oleh DAP.

Suatu kenyataan yang bunyinya agak lucu dari seorang Presiden Umno yang gagal untuk memahami isu sebenar yang menyebabkan PAS membatalkan tahaluf dengan DAP.

Umum mengetahui PAS adalah sebuah parti yang telah begitu lama berjuang di persada politik tanahair. Kewujudannya telah menjangkau usia 66 tahun. Kematangan dan ketahanan PAS melalui jatuh bangun serta kalah menang dalam perjalanan yang panjang ini usah dipertikaikan lagi. Malah PAS adalah sebuah parti yang jauh lebih kukuh berbanding parti-parti lain dalam pakatan pembangkang dari segi aspek jentera parti, jumlah cawangan serta keahlian di peringkat akar umbi.

Selama 66 tahun PAS teguh mempertahankan prinsip perjuangan dengan meletakkan Islam sebagai dasar. Ketika berpakat atau berpisah dengan mana-mana parti lain, syarat utama PAS ialah Islam. Tidak ada kompromi dan tolak ansur dalam mempertahankan prinsip Islam walau dengan siapa sekalipun PAS membuat kerjasama.

DAP bukan setakat tidak mahu melaksanakan Islam malah memusuhi Islam. DAP adalah sebuah parti anti Islam walaupun di dalamnya ada beberapa orang pemimpin Melayu.

Ibarat seorang kawan yang naik satu kereta bermusafir bersama kita, bila masuk waktu solat, kalau pun mereka tak mahu solat, sekurang-kurangnya mereka bersetuju untuk berhenti dan tunggu sehingga kita selesai solat. Bukan kita nak paksa mereka solat. Tapi ternyata DAP bukan setakat tak mahu solat, malah mereka juga menentang keras untuk kita berhenti seketika bagi menunaikan solat. Maka DAP tak layak lagi dibuat kawan.

Orang yang tak faham Sirah Nabi akan mengatakan bahawa Rasulullah dan para Sahabat telah berhijrah meninggalkan Kota Mekah ke Madinah kerana ditindas, dizalimi dan disiksa oleh musyrikin Quraisy. Lalu Rasulullah berhijrah untuk menyelamatkan diri. Tetapi mereka yang faham akan mengerti bahawa sebab Rasulullah berhijrah dari Mekah ke Madinah adalah untuk berpindah dari satu tempat dimana Islam tak diizinkan berdiri sebagai satu sistem lengkap lalu berpindah ke satu tempat baru dimana Islam boleh berdiri sebagai sistem lengkap sehingga membentuk dan mentadbir sebuah negara. Perlaksanaan Islam yang menjadi sebab hijrah, bukannya kerana takut dan bukan juga kerana dibuli oleh musyrikin Quraisy.

Mereka yang tak faham akan mengatakan PAS telah meninggalkan pakatan pembangkang kerana dibuli, tapi mereka yang faham akan melihat dengan jelas bahawa halangan dan penentangan DAP terhadap Islam adalah punca PAS meninggalkan rakan tahaluf dalam pakatan pembangkang. Tahaluf bukannya dilaksanakan semata-mata kerana nak menang ke Putrajaya tanpa menghiraukan soal bagaimana dan dimana nanti syariat Allah mengambil peranan dalam mengisi kemenangan.

Kalau DAP menghalang dan menentang syariat Allah, kenapa PAS tak bersama Umno? Sebuah parti orang Melayu beragama Islam!

Jawabnya DAP menentang Islam manakala Umno pula tak bersungguh dan tak serius nak melaksanakan Islam. Islam bagi Umno cuma dizahirkan ketika terdesak dan terhimpit untuk meraih sokongan. Masa senang Umno lupa Islam, bila tersepit Umno ingat Islam. Pemimpin Umno bertakbir dalam Perhimpunan Agong Umno, dalam masa yang sama kerajaan Umno jugalah yang memberi lesen kepada pelbagai maksiat dan judi dihalalkan dalam negara.

Pemimpin Umno bercakap tentang Islam. Mereka jugalah juara penyelewengan, rasuah, salah guna kuasa, kroni, nepotisme, salah tadbir urus, pembaziran harta negara serta kemewahan melampau pemimpin negara.

Islam dalam Umno hanyalah satu biro, bukannya dasar dan matlamat perjuangan.

Memang PAS dan Umno sama-sama orang Melayu, tetapi sangat berbeza kerana Melayu Umno berjuang atas dasar kebangsaan sementara Melayu PAS meletakkan Islam sebagai dasar.

Pemimpin Umno dan PAS sama-sama Islam. Tapi belum ada lagi pemimpin PAS yang ditahan dan dibicarakan kerana rasuah. Pemimpin Umno pula ramai yang merengkok dalam penjara kerana rasuah.

Pemisah antara PAS dan Umno ialah Islam! Terima Islam sebagai dasar perjuangan lalu berkerja untuk melaksanakan Islam, maka kita boleh bersama.

Dr Azman Ibrahim
Ahli Jawatankuasa Kerja PAS Pusat
20 Jun 2017

Ahad, 18 Jun 2017

PAS merupakan sebuah parti yang memperjuangkan Islam di Malaysia.

PAS merupakan sebuah parti yang memperjuangkan Islam menjadi amalan dan teras kepada masyarakat di Malaysia. Menjadikan Islam sebagai teras perjuangan bermakna menjadikan Al-Quran dan As-Sunnah sebagai rujukan utama dalam merancang perjalanan dan menentukan tindakan yang ingin diambil. Ulama pula menjadi teraju utama perjuangan PAS kerana merekalah yang lebih hampir kepada Al-Quran dan As-Sunnah, dan merekalah yang selayaknya memimpin sebuah gerakan Islam.

Islam adalah panduan, Islam juga adalah matlamat dan cita-cita perjuangan PAS. Sepertimana yang disebut oleh Saidina Omar R.A:

“Kita adalah kaum dimuliakan oleh Allah dengan Islam. Sekiranya kita mencari kemuliaan selain daripada Islam, Allah akan menghinakan kita.”

Islam tidak memerlukan teras tambahan kerana kesempurnaan kandungan yang ada pada Islam. Dibimbangi, tokok tambah yang dibuat, diambil pula daripada sumber yang tidak Islamik, menjejaskan hala tuju perjuangan Islam itu sendiri. Firman Allah Taala di dalam Al-Quran:

“Pada hari ini Aku (Allah) telah sempurnakan bagi kamu Agama (Deen = cara hidup) kamu, dan Aku cukupkan ke atas kamu nikmat-nikmatKu, dan Aku redha Islam menjadi Agama (Deen = cara hidup) bagi kamu.” (Surah Al-Maidah, 5 : 3)

Menjadikan Islam sebagai teras juga membawa makna matlamat utama perjuangan ialah mencari keredhaan Allah. Berjuang bukan kerana jawatan dan kedudukan, sebaliknya berjuang sehingga sanggup berkorban harta dan nyawa semata-mata untuk mencari keredhaan Allah dan meninggikan kalimah Allah yang Maha Tinggi. Misi Islam ialah beramal kerana Allah, Dialah yang lebih layak menjadi tempat rujukan dan menjadi pemutus dalam setiap tindakan hamba-hambaNya.

Dahulu, Tanah Melayu pernah menjadikan Islam dan segala undang-undang yang terdapat di dalamnya sebagai perlembagaan dan sumber rujukan utama. Namun, pencerobohan dan penjajahan oleh imperialis barat telah mengganggu-gugat kedudukan Islam sehinggalah pada hari ini, rakyat Malaysia sendiri lupa akan asal-usul juga sejarah yang pernah dilakarkan oleh ulama silam. Imperialis Barat bukan sahaja datang membawa misi untuk menjajah Tanah Melayu, bahkan mereka membawa doktrin dan ideologi yang memisahkan masyarakat, khususnya pentadbiran di Tanah Melayu ini daripada Islam.

Konsep demokrasi yang diperkenalkan juga merupakan antara doktrin yang berjaya mereka terapkan di dalam amalan pentadbiran Kerajaan Malaysia. Sungguhpun begitu, PAS menggunakan ruang yang ada untuk terus memastikan agenda Islam dapat diperjuangkan dalam suasana demokrasi. Malah bersama-sama dengan Pakatan Rakyat memastikan keadilan dan demokrasi dapat ditegakkan kembali di Malaysia. Ini kerana, demokrasi selagi tidak melampaui batas, adalah diterima dan boleh menjadi platform yang baik untuk memperjuangkan Islam. Hasilnya, Kerajaan Negeri Kelantan terus aman dan berkembang dan dipimpin dengan Islam menjadi teras utama kerajaan.

Demokrasi pula merujuk kepada kuasa rakyat dan penyertaan ramai dalam membuat sesuatu keputusan. Konsep majoriti merupakan asas kepada demokrasi. Dalam konteks negara demokrasi, parti yang mendapat lebih banyak undi akan terpilih sebagai parti pemerintah. Semua parti politik yang menyertai pilihanraya di Malaysia, menerima hakikat ini. Sekalipun proses demokrasi di Malaysia tidak begitu menjamin hak semua rakyat, khususnya parti politik, kita perlu bersetuju bahawa proses demokrasi ini adalah proses terbaik untuk memastikan keharmonian politik dan sosial di Malaysia.

Begitupun, Islam tidak boleh disamaertikan dengan proses Demokrasi. Kebenaran Islam tidak bergantung kepada ramainya penyokong. Apalagi hukum-hakam dalam Islam, bukanlah subjek yang boleh dipertimbangkan melalui suara majoriti. Namun, situasi dalam negara demokrasi memerlukan sokongan ramai untuk memastikan Islam berjaya ditegakkan. Maka menjadi tanggungjawab semua umat Islam di Malaysia tidak kira dari parti Umno Barisan Nasional, lebih-lebih lagi dari parti PAS untuk memperjuangkan Islam melalui lunas-lunas demokrasi.

Islam merupakan agama Allah. Ia disampaikan oleh para Nabi dan Rasul, melalui proses yang pelbagai. Namun, ia bukanlah suatu yang boleh dipertimbangkan untuk diterima atau ditolak, sebaliknya menjadi tanggungjawab setiap individu muslim untuk melaksanakan Islam dalam kehidupan.

PAS sebagai sebuah parti politik mengambil bahagian dalam pilihanraya, sebagai tanda penerimaan dan persetujuan bahawa Malaysia sebuah negara yang demokratik. PAS juga berkeyakinan penuh bahawa melalui jalan demokrasi ini, PAS mampu mencapai matlamatnya memaknakan kedudukan Islam sebagai agama rasmi negara. Walaupun bersetuju untuk menyertai proses demokrasi, tetapi PAS perlu kekal sebagai parti Islam yang tulen. Menggabungkan diri dalam perjuangan Islam sahaja sudah cukup indah dan sempurna tanpa menyamakannya dengan mana-mana bentuk ideologi dan pemikiran.

PAS sebagai sebuah parti politik tidak pernah menjadikan Islam sebagai bahan dagangan politik untuk mendapatkan kuasa, apa lagi menjadikan Islam sebagai mangsa demokrasi sehingga isi kandungannya boleh dipisah-pisahkan sesuka hati. Sebaliknya, PAS komited menjadikan Islam sebagai teras perjuangan dan menjadikan Malaysia ini Negara yang berkebajikan adalah selaras dengan misi ini.

Bahkan Allah Taala melantik seluruh umat manusia, tidak terkecuali walau seorangpun, sebagai khalifah yang menjadi wakil pemerintahan di muka bumi. Bermakna, manusia seluruhnya memikul tanggungjawab untuk memakmurkan dan memelihara dunia ini dengan penuh keharmonian dan keadilan.

Sumbar dari:
Muhammad Ismi Mat Taib

Isnin, 5 Jun 2017

Peranan PAS melalui dakwah dan politik.


Tanggapan yang selalu tersilap ialah menganggap PAS hanyalah sebuah parti politik.

PAS sebenarnya lebih dari itu. PAS pada asasnya ialah satu gerakan dakwah dan tarbiyah ummah yang bertujuan mengajak kembali kepada ketauhidan dan menjauhi syirik.

Selain itu, PAS juga mengajak ummah untuk menentang perhambaan kepada harta, pangkat kebesaran dan menentang perhambaan kepada manusia dan sistem ciptaan manusia.

Politik membentuk sebahagian dari asas perjuangan PAS.

Penyertaan PAS dalam pilihanraya tidak sama matlamatnya dengan parti politik lain.

Dalam apa juga keadaan, PAS berusaha menzahirkan Islam di dalam semua aspek kehidupan, termasuklah politik.

PAS terus bekerja menyampaikan risalah dakwah kepada seluruh sendi masyarakat. Dakwah bukan hanya mengajak kepada Islam sebagai aqidah tetapi seluruh sendinya.

Jika kita menggunakan kebersihan awam dan tandas awam di negara Malaysia yang majoriti rakyatnya beragama Islam sebagai piawai, begitulah jauhnya lagi amalan Islam dipraktikkan di Malaysia.

Ini menjadikan persoalan-persoalan seperti kebajikan, kebersihan, keselamatan pekerja, pembelaan golongan tertindas, tadbir urus kerajaan, sistem kenegaraan sebagai medan dakwah yang sangat luas.

Bukankah semua ini adalah manhaj Islam sebagai penyelamat ummah?

Pembinaan tarbiyah ummah bermula seawal kelahiran. Semua medan besar dakwah ini tidak terikat dengan pilihanraya.

Kerana itu, ahli dan pimpinan PAS yang memahami perjuangan besar PAS sebagai satu gerakan dakwah, tidak akan terbelenggu dengan dogma bahawa kalau tewas maka habislah perjuangan.

Selain dakwah, PAS juga berusaha untuk memperbaiki diri.

PAS juga berusaha untuk menentang kemungkaran, menukar parti yang korup, rasuah dan pelbagai kelemahan yang ada dengan Islam sebagai pemandu.

PAS bekerja keras bagi mencapai kemenangan setiap kerusi yang dipertandingkan. Kerana itu, PAS berdaftar sebagai sebuah parti politik. Bukan semacam jamaah dakwah lain.

Kerana mendapatkan kekuasaan adalah sebahagian dari kesempurnaan penghayatan Islam. Kuasa ialah alat bukannya matlamat akhir perjuangan PAS.

Inilah yang membezakan kita dengan parti politik lain.

Mereka yang hanya berfikir mengenai kerusi pilihanraya akan meroyan apabila hanya memikirkan soal menang kalah perjuangan berdasarkan pilihanraya sahaja.

Aspek kemenangan pilihanraya hanyalah sebahagian daripada wasilah perjuangan PAS yang luas.

Penetapan tiga tonggak utama perjuangan iaitu dakwah, tarbiyah dan siasah membuktikan jauhnya pandangan politik PAS.

Di saat kita memburu kemenangan pilihanraya, kita wajib memperkasakan kesemua dimensi perjuangan iaitu dakwah dan tarbiyyah.

Ketiga-tiga tonggak ini mestilah seimbang, bagi mempastikan perubahan secara seimbang dan bersepadu.

Fokus yang besar kepada gerak kerja politik sahaja, dengan mengabaikan tarbiyyah akan hanya melahirkan golongan yang kecewa dan putus asa apabila tewas dalam pilihanraya hatta pemilihan parti di muktamar.

Ia akan mula menyalahkan pelbagai pihak atas kekalahannya, lantas ia menjadi golongan yang mudah futur dalam perjuangan. Di saat inilah syaitan akan menghasutnya dan menjauhkan ia dari perjuangan dan jihad.

Andainya ukuran kejayaan hanya kepada kalah atau menang pilihanraya sahaja, maka sangat murahlah perjuangan ini. Hampir tiada beza dengan parti lain yang dasarnya tidak berpijak kepada aqidah dan syariat Allah.

Memantapkan tonggak dakwah

Apabila Lujnah Dakwah dipisahkan dari lujnah penerangan, maka ia telah menghantar isyarat jelas perlunya diperkasakan peranan dakwah dalam PAS.

Lujnah kanan dalam parti ini mempunyai fungsinya tersendiri. Ia berkait rapat dengan hala tuju parti dan pemerkasaan organisasi parti.

Lujnah ini menjadi pilihan kepada ahli yang berminat dalam medan dakwah melebihi medan politik pilihanraya. Ia mesti menyediakan ruang dan peluang yang terbuka kepada petugasnya.

Medan dakwah yang sangat luas ini memerlukan kesungguhan kerja dan mujahadah yang sangat tinggi.

Medan ini memerlukan dana yang besar bagi menggerakkan aktiviti samada di kalangan umat Islam atau mereka yang belum menerima Islam sebagai aqidah mereka.

Kita mesti bekerja sebagai sebuah kerajaan menanti yang tersusun teguh samada fizikal jamaah (organisasi) atau rohiyyah jamaah yang dibuktikan melalui kepatuhan, ketaatan, dan keikhlasan dalam perjuangan.

Bahtera besar ini mesti terus belayar, di saat gelombang besar, mungkin perjalanannya perlahan dan lebih berhati-hati, manakala di saat lautan tenang ia boleh meluncur laju ke destinasi.

Nakhoda kapal akan memastikan laluan kapal akan belayar dengan betul walau sesekali membelok ke kiri atau kanan bagi mengelak batu karang atau gelombang besar. Ia tahu apa yang perlu dilakukan.

Anak-anak kapal tidak perlu mengambil alih tugas nakhoda. Kerana nakhoda jamaah ini mempunyai pasukan bagi membincang, merangka dan membuat keputusan bagi membantu tepatnya keputusan dan benarnya tindakan.

Tarbiyyah adalah tonggak utama dalam parti. Ia bukan hanya berlegar di sekitar kepimpinan melalui medan sedia ada, seperti usrah, tamrin, rehlah, muqayyam dan liqa fikri.

Tarbiyyah meliputi pendidikan politik Islam kepada rakyat. Mendidik agar berfikir secara Islam agar boleh bertindak secara Islam.

Apabila PAS memperkenalkan BPMS (Budaya Politik Matang dan Sejahtera), ia bukan sekadar anjakan pendekatan politik, tetapi ia adalah perubahan cara berfikir di kalangan masyarakat.

Ia dijadikan dorongan untuk mendidik rakyat agar berfikir secara Islam, berdasarkan wahyu Ilahi. Penilaiannya bukan hanya hitam dan putih. Tetapi yang hak sebagai hak, yang batil sebagai batil.

Anjakan ini bersifat mendidik rakyat agar berani menyokong kebenaran seandainya ia sesuatu yang benar, walaupun ia dilakukan oleh pihak yang tidak disukai mereka.

Gambaran bahawa pembangkang perlu membangkang kerajaan secara totok, dan kerajaan perlu mempertikaikan segala cadangan pembangkang adalah cara lapuk dan ketinggalan.

BPMS membuat anjakan besar bahawa kita perlu menyokong apa jua tindakan yang betul dan tepat walaupun ia daripada pihak yang tidak disukai seperti kerajaan memerintah, selagi tidak bercanggah dengan syarak.

Namun kita perlu bangkit menentang sesuatu yang bercanggah dengan syarak, walau dilakukan oleh pihak yang disukai, seperti parti sendiri.

Penentangan terhadap kemungkaran tidak semestinya dalam bentuk menyerang peribadi atau memaki hamun dan mencerca. Lagi tidak munasabah jika kemungkaran dijawab menggunakan fitnah atau fitnah diguna untuk menjawab satu fitnah yang lain.

Ia boleh dilakukan dengan menegur, menasihati, memberi cadangan, menyerah memo, demonstrasi, atau menggerakkan rakyat agar mengundi dengan betul di dalam pilihanraya.

Pendekatan yang lebih matang ini inshaAllah menjadikan perubahan yang dicari tidak mendatangkan kemudharatan yang lebih besar kepada rakyat dan negara. Tragedi perubahan yang malang yang telah banyak berlaku di pelbagai negara perlu dijadikan panduan.

Betapa banyak rakyat yang lebih menderita selepas perubahan yang dicari. Mereka ditekan dengan kezaliman pemimpin, rasuah dan salahguna kuasa, penyelewengan harta negara sehingga sangat membebankan rakyat lalu mereka bangkit.

Sayangnya selepas berjaya dilakukan pertukaran kerajaan yang zalim dan menindas itu, mereka baru sedar penggantinya sebenarnya jauh lebih teruk menjadikan mereka lebih menderita dari sebelumnya. Inilah yang berlaku di Iraq, Libya dan Mesir.

Ini semua memberi petunjuk bahawa mengurus perubahan lebih penting dari perubahan itu.

Anjakan pendekatan BPMS, malangnya telah menyebabkan PAS dilihat mesra Umno-BN. Lalu pelbagai serangan dihalakan kepada parti dan kepimpinannya untuk terus menanam persepsi tersebut.

Pimpinan PAS menyedari dan sudah menjangkakan hal ini, kerana rata-rata pembangkang masih berfikiran lama, dan hanya selesa dengan politik warisan penjajah yang berpaksi kepada politik sekular yang tidak ada kawalan akhlak dan adab Islam.

Ceramah yang tradisinya mesti ada maki hamun, cerca dedah keaiban peribadi, dan sengaja mewujudkan persepsi negatif walaupun berdasarkan fakta yang tidak betul sekalipun.


Permohonan maaf atau menarik balik tuduhan menjadi perkara murah yang boleh dijualbeli dalam politik. Satu-satu fitnah hari ini sanggup dipertahankan sehingga ia dibicarakan di mahkamah bertahun kemudian sebelum meminta maaf. Bagi golongan ini, yang penting ialah membina persepsi semasa bagi meraih sokongan pada waktu itu sahaja.

Beginilah budaya politik negara bertahun lamanya yang semakin menjadi-jadi saban hari kerana adanya media sosial sehingga memualkan. Tidak hairan bila munculnya gambaran bahawa politik itu kotor. Politik yang tiada kena-mengena dengan agama. Politik suku agama suku dan sebagainya.

Negara dikatakan sedang menuju kepada negara maju. Kemajuan bukan hanya dalam aspek pembangunan, ia juga mesti meliputi politik kepartian.

Kalau di negara maju menjadi kebiasaan Perdana Menteri boleh menjemput ketua pembangkang hadir mendengar taklimat sesuatu projek besar negara. Peruntukan yang sama akan diberi kepada parti kerajaan atau pembangkang yang memenangi pilihanraya.

Pembangkang juga akan dilantik dalam sesuatu jawatankuasa bagi memantau perjalanan kerajaan.

Tanpa budaya BPMS, ini mustahil diamalkan di negara ini. Jika ada ahli parlimen setempat daripada pembangkang yang hadir dalam program kerajaan seperi majlis bantuan kepada nelayan di bawah parlimennya, mereka terus dicop kononnya hendak bersama kerajaan. Ini yang terjadi pada PAS.

Apabila pimpinan PAS menghadiri majlis menentang kezaliman umat Islam Rohingya, pelancaran kapal Flotilla maka terus diserang sebagai ' PAS dan Umno sekapal'. Beginilah cara berpolitik hari ini sehingga melahirkan kenaifan fikiran sebahagian masyarakat kita.

Namun begitu, PAS akan terus membudayakan BPMS.

PAS berbangga bahawa kita telah berjaya membuat anjakan cara berfikir dan berpolitik di negara ini.

Apa-apa yang baru yang melanggar amalan hari ini akan pasti mendatangkan pelbagai reaksi. InsyaAllah, kita pasti akan berjaya dengan izin Allah.

PAS percaya bahawa budaya BPMS ini sangat diperlukan sebelum negara boleh bergerak ke depan, dan supaya perubahan yang dicari tidak akan bersifat separa dan tergantung.

Hampir semua rakyat bersetuju, negara memerlukan pemandu baru.

Pemandu yang lama ini sengaja mengekalkan rakyat dalam keadaan sakit, pada masa yang sama berlakon menjadi doktor tunggal yang dapat memberikan panadol menyebabkan rakyat terpaksa bergantung padanya. Itulah kaitan sebenar antara GST dan BR1M.

Kita mengakui bahawa kepimpinan negara yang diterajui oleh Umno-BN adalah punca kepada masalah negara. Namun, perkara yang lebih penting pada waktu ini ialah membantu rakyat bagi memahami situasi yang berlaku dalam negara kini.

Rakyat memerlukan pemandu baru yang bukan sahaja tahu jalan yang ingin dilalui, tetapi turut memahami jalan mana yang selamat bagi rakyatnya di dunia dan akhirat.

Pemandu ini tidak hanya sibuk membina dunia, tapi juga sibuk membina akhirat bagi negara dan rakyatnya.

Oleh itu, pemandu yang baru mesti juga bertindak mengikut panduan Al-Quran dan Hadis.

PAS telah mengutarakan kerajaan teknorat sebagai penyelesaian.

Kerajaan teknokrat adalah satu langkah ke hadapan bagi memberi peluang kepada tokoh dan cendekiawan negara menerajui hala tuju baru dan pentadbiran negara manakala parti dan ahli politik menjadi wadah perubahan tersebut.

Maksud kerajaan teknorat ialah sebuah sistem pemerintahan yakni kuasa parti politik terhadap negara hanya terhad untuk melantik kalangan profesional sebagai eksekutif pentadbir negara bermula daripada Perdana Menteri hingga ke peringkat terbawah.

Sebelum ini, pemimpin parti politik yang biasa menjawat jawatan PM dan menteri. Tetapi idea kerajaan teknokrat ini meletakkan penjawat tersebut berdasarkan kelulusan akademik tertentu yang tidak terlibat dengan pilihan raya.

Kuasa politik yang didapati melalui pilihanraya hanyalah sekadar kuasa untuk melantik siapa yang sesuai di kalangan professional untuk mentadbir negara.

Berdasarkan sejarah politik negara, kita harus menerima hakikat bahawa bukan semua teknokrat tahu berpolitik dan bukan semua ahli politik itu berminda teknokratik.

Seperti BPMS, PAS akan berusaha melanjutkan idea kerajaan teknorat ini sebagai satu model pentadbiran untuk negara. InshaAllah.

Tuan Ibrahim Tuan Man
Timbalan Presiden PAS
4 Jun 2017