PAUTAN TAMBAHAN

Sabtu, 18 Februari 2017

BAHAYA BURUK SANGKA (SUUDZHAN) DALAM JEMAAH


Buruk sangka atau biasa disebut dengan Suudzhon adalah sifat yang sangat dilarang oleh Allah swt, banyak sekali kisah-kisah dan nasehat yang menggambarkan betapa besarnya kerugian yang diakibatkan oleh buruk sangka tersebut.

Apakah berburuk sangka itu? Para ulama mendefinisikan buruk sangka:-

Adanya rasa curiga dan kekhawatiran yang tidak beralasan baik kepada saudara, sahabat dan manusia secara umum sementara tidak ada bukti atau alasan yang bisa membuktikannya.

يٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُواْ ٱجْتَنِبُواْ كَثِيراً منَ ٱلظَّن إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّن إِثْمٌ وَلاَ تَجَسَّسُواْ وَلاَ يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضاً أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوهُ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.(QS Al Hujurat: 12)

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِياَّكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ، وَلاََ تَجَسَّسُوْا وَلاَ تَحَسَّسُوْا، وَلاَ تَنَافَسُوْا، وَلاَ تَحَاسَدُوْا، وَلاَ تَبَاغَضُوْا، وَلاَ تَدَابَرُوْا، وَكُوْنوُاْ عِبَادَ اللهِ إِخْوَاناً”.(رَوَاهُ الْبُخَارِيْ)

Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda,”Jauhilah oleh kamu sekalian berprasangka, karena sebenarnya berprasangka itu adalah suatu kebohongan yang besar, janganlah saling mengintip-ngintip dan memcari-cari aib orang lain, janganlah saling menjatuhkan dalam bersaing, janganlah saling mendengki, saling membenci, saling menolak satu sama lain, akan tetapi jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara” (HR Bukhori)

Ayat dan hadis di atas adalah sebuah isyarat sekaligus sebuah ancaman betapa besarnya bahaya yang akan timbul akibat dari berprasangka buruk terhadap orang lain terlebih lagi antara sesama Muslim. Sebuah silaturahmi yang telah terjalin dengan baik akan menjadi sia-sia bahkan menjadi satu permusuhan yang mengakibatkan dendam yang berkepanjangan…Nauzu Billah min Zalik..

Cara menghindari dan mengatasinya

Lantas bagaimanakah cara kita menghindarinya…Rasulullah memerintahkan kepada kita untuk selalu menghindari dengan segera segala sesuatu yang akan menghantarkan kita kepada dosa dan maksiat. Hal ini beliau tegaskan dalam sabdanya yang berbunyi:

عَنْ حَارِثَة َبْنِ النُعْمَانِ : قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ - صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ثَلاَثٌ لاَزِمَاتٌ ِلأُمَّتِىْ : ” اَلطِّيَرَةُ وَالْحَسَدُ وَسُوْءُ الظَّنِّ ” : فَقَالَ رَجُلٌ : مَا الَّذِىْ يُذْهِبْنَ ياَ رَسُوْلَ اللهِ مَنْ هُنَّ فِيْهِ؟ قَالَ : ” إِذَا حَسَدْتَ فَاسْتَغْفِرِ اللهَ ، وَإِذاَ ظَنَنْتَ فَلاَ تُحَقِّقْ ، وَإِذاَ تَطَيَّرْتَ فَامْضِ ” ” .(رَوَاهُ الْبَيْهَقِىْ )

Dari Haritsah bin Nukman ra bahwaRasulullah saw pernah bersabda: ada tiga hal yang tidak bisa dihindari oleh umatku, yaitu meramal hal-hal yang buruk, dengki dan buruk sangka. Berkata seorang laki-laki: apakah yang bisa menghilangkannya apabila seseorang berada dalam kondisi tersebut?

Rasulullah bersabda,”apabila engkau dengki maka segeralah beristighfar kepada Allah, apabila engkau mulai berprasangka, maka janganlah engkau memastikannya dan apabila engkau meramal hal-hal yang buruk maka segeralah melupakannya. (HR Baihaqi).

Berhati-hatilah dengan sifat tersebut, marilah kita selalu berbaik sangka terhadap orang lain, terlebih lagi kepada sesama ahli jemaah. Karena seorang Muslim yang baik itu adalah mereka yang tidak menghabiskan waktu yang tidak ada manfaatnya bagi dirinya bahkan membahayakan orang lain. Hal ini sesuai dengan anjuran Rasulullah saw serta sebagai ciri dari mukmin yang sejati:

عن عَلِيِّ بنِ حُسَيْنِ قَالَ ،: قَالَ رَسُولُ الله : «إِنَّ مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ المَرْءِ تَرْكَهُ مَالاَ يَعْنِيهِ (رَوَاهُ التَّرْمِذِيْ)

Dari Ali bin Husein bahwasanya Rasulullah saw pernah bersabda,

”Sesunnguhnya sebaik muslim itu adalah orang yang meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi dirinya.(HR Turmuzi)

Manakala lawan daripada sifat suudzhan ialah HUSNU ZAN (Baik Sangka)

BAIK SANGKA salah adalah satu cabang iman yang patut di pegang oleh muslimin dan muslimat kita untuk pembentukan kehalusan iman yang hakiki.

Sekiranya kita terlalu mudah BURUK SANGKA , ia akan menjadi duri di dalam daging kita sendiri dan menjadi musuh di dalam selimut kita sendiri.

Andaian kita terlalu jauh di dalam hati seseorang ; malah sifat takabur dan bongkak akan lebih menjadi bertambah buruk bahananya kerana BURUK SANGKA adalah seperti nanah dari kudis yang ada.

Husnu Zan akan menjuruskan kepada keredhaan Allah, redha dengan segala ketentuan buruk yang Allah berikan kepada dia. Dan seorang yang berbaik sangka akan sentiasa berfikiran positif dan tidak takut dengan segala cabaran iman yang ada. Cekal dan tetap di dalam pendiriannya sendiri.

Berbaik sangka juga akan menjadikan kita mulia hati dan sentiasa bersifat lapang dada dan tidak takut itu dan tidak takut ini. Ia akan membuat kita BERANI.

Berbaik sangka sesame kita juga, akan memudahkan segala perjalanan di dalam urusan pentadbiran Parti, kerajaan, urusan perniagaan dan juga urusan di dalam rumahtangga baik untuk persahabatan secara rasmi mahupun urusan tidak rasmi.

Dalam konteks hubungan sesame ahli jemaah dan sahabat-sahabatnya. Apabila di beri teguran yang membina, seorang yang mempunyai sifat baik sangka akan menerimanya sebagai satu ingatan bukan sebagai satu penghinaan malah akan berterima kasih di atas pemberi ingatan kerana hakikatnya manusia itu sentiasa lupa dan lalai.

Tetapi orang yang sentiasa berburuk sangka dan mempunyai sifat dangkal di dalam hati, akan hanya menambah dosa yang ada. BODOH SOMBONG di namakan di dalam islam. Dia menggelapkan jiwa yang bertambah gelap. Contoh yang nyata apabila dia ditegur ia akan berkata:

“Aku tahu lah aku buat salah..tetapi tak payahlah nak tegur tegur. Jaga tepi kain sendiri lah. Tak payah nak berceramah panjang. Macam lah dia baik sangat. Baik sangat ke awak ni”

Dan kemudian terus mempersoalkan keburukan orang dan mencari kesalahan dalam diri orang lain.

Sifat buruk sangka dengan kebaikan yang orang hendak tunjulkan di dalam diri sendiri inilah yang di katakan Takabur. Maka dari sifat Takaburlah , sang Iblis di campak keluar dari syurga oleh Allah dengan penuh hina dan dina.

Sebalik nya ....Orang yang berbaik sangka akan berkata

“Bagus juga lah awak beri nasihat kat saya. Sekurang-kurangnya memberi keringanan dalam diri saya dari terus rasa marah dan menambah dosa yang telah ada ni”

Orang yang berbaik sangka akan mewujudkan sifat Mahasabah dan sentiasa menerima tunjuk ajar dengan baik. Itulah kelembutan hati yang membenarkan pintu kebaikan menuju ke arahnya.

Kiranya ada baiknya kita merenungkan syair yang dituliskan oleh Imam Syafi’i tentang tips membuang jauh-jauh sifat jelek-jelek dari dalam diri kita.

. وَعَيْنُ الرِّضاَ عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَلِيْلَةٌ..كَمَا أَنَّ عَيْنَ السُّخْطِ تُبْدِيْ الْمَسَاوِيْ..

Mata apabila dibalut dengan rasa cinta, maka yang nampak hanyalah yang indah-indah saja… Tetapi apabila mata dibalut dengan rasa benci, maka yang nampak hanyalah yang keji-keji saja…

Wallahu a’lam