Isnin, 8 November 2021

Ucapan Penggulungan Muktamar Tahunan PAS Kali Ke-67 oleh YB Ahmad Fadhli Shaari

 "ISLAM MENYATUKAN UMMAH"

Ucapan Penggulungan
Muktamar Tahunan PAS Kali Ke-67
YB Ahmad Fadhli Shaari
Ketua Dewan Pemuda PAS Malaysia (DPPM)
07 November 2021
Duyong Marina Resort, Kuala Terengganu

Sabtu, 6 November 2021

"ISLAM MENYATUKAN UMMAH"

 

[Coretan Ucapan Dasar Presiden PAS]
"ISLAM MENYATUKAN UMMAH" SEBAGAI TEMA MUKTAMAR
Muktamar PAS kali ini mengetengahkan tema yang konsisten dengan sesi sebelumnya. 'Islam Menyatukan Ummah' menjadi konsep asas pergerakan PAS dalam mendepani kehidupan masyarakat majmuk di negara ini. Tambahan, muktamar kali ini juga merupakan muktamar yang terpenting bagi memastikan hala tuju PAS dalam mendepani Pilihan Raya Umum 15 yang bakal menjelang.
Pembukaan Ucapan Dasar YBhg. Presiden PAS, Dato' Seri Tuan Guru Haji Abdul Hadi Awang meletakkan prasyarat penyatuan pada aspek iman. Persaudaraan Islam memerlukan iman bagi memastikan perhubungan yang damai tanpa pembohongan. Manakala hubungan dengan keseluruhan masyarakat majmuk disebutkan sebagai tuntutan fitrah insan.
Ucapan diteruskan dengan membawa tauladan kisah perjuangan Nabi Muhammad SAW yang telah lebih lama mengerah usaha menyatukan ummah. Tidak kira bangsa dan kaum, Rasulullah telah diutuskan sebagai agen penyatuan.
PAS konsisten meneruskan amanah penyatuan ini dengan dasar Islam dan cakupan sirah baginda Rasulullah selaras dengan ungkapan,
اسلم تسلم
'Terimalah Islam, nescaya kamu akan selamat (di dunia dan akhirat)' (Riwayat Bukhari 2941)

Kaedah-kaedah penting untuk seorang muslim dalam menghadapi fitnah

 1. Jika timbul fitnah, maka hendaklah hadapi dengan sikap hati-hati, tidak gegabah dan penuh kesabaran.

 
Hadapi dengan lemah lembut dan ramah tamah, karena Sabda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam:
 
« إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ ».
 
Artinya: "Sesungguhnya kelemah lembutan (keramah tamahan) tidaklah ada di dalam sebuah perkara kecuali menghiasinya dan tidak dicabut (kelemah lembutan) dari sesuatu kecuali memburukkannya". HR. Bukhari dan Muslim.
 
Hadapi dengan sikap hati-hati (tidak gegabah) dan kesabaran, berdasarkan sabda Nabi Muhammadshallallahu 'alaihi wasallam kepada Asyajj Abdul Qais radhiayallahu 'anhu:
 
إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ الْحِلْمُ وَالأَنَاةُ

Artinya: "Sesungguhnya di dalam dirimu ada dua sifat yang dicintai oleh Allah, yaitu; kesabaran dan pelan-pelan (tidak gegabah)". HR. Muslim.

2. Tidak menghukumi sesuatu kecuali sesudah mengetahui kejadian sebenarnya, sesuai dengan kaedah fiqih:
 
الحكم على الشيء فرع عن تصوره
 
Artinya: "Menghukumi sesuatu itu adalah termasuk bagian tentang gambaran sesuatu tersebut."
 
Dan perlu diingat, suatu perkara tidak bisa diketahui kecuali dengan dua: dari kabar kaum muslim yang terpercaya dan dari berita orang yang meminta fatwa akan perkara tersebut meskipun orang yang minta fatwa tersebut adalah orang fasik.
 
3. Hendaklah selalu memegang sikap adil dan pertengahan (tidak berlebih-lebihan).
Karena firman Allah Ta'ala:
 
{وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى} [الأنعام: 152]
 
Artinya: "…Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabatmu…," (QS. 6:152).
 
Juga firman Allah Ta'ala:
 
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ } [المائدة: 8]
 
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang akamu kerjakan." (QS. 5:8).
 
Dan arti sikap adil dan sikap pertengahan bukanlah berarti membenarkan yang salah dan menyalahkan yang batil tetapi menempatkan standar kesalahan dan standar kebenaran sesuai dengan syari'at Islam bukan dengan hawa nafsu, harap diperhatikan point ini.
 
4. Selalu bersatu dalam kesatuan kaum muslim di bawah kepemimpinan yang sah.
 
Karena hal inilah yang ditunjukkan Allah dalam firman-Nya:
 
{وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ} [آل عمران: 103]
 
Artinya: "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk." (QS. 3:103).
 
Dan berdasarkan sabda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam:
 
عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ
 
Artinya: "Hendaklah kalian berjama'ah (di dalam kesatuan kaum muslimin) dan jauhilah dari perpecahan". HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani.
 
Dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berpecah belah ketika sudah jelas keterangan dan dalil bagi dia, firman Allah Ta'ala:
 
{وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (104) وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (105)} [آل عمران: 104، 105]
 
Artinya: "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung. (QS. 3:104) Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat." (QS. 3:105).
 
5. Slogan, bendera, visi dan yang semisalnya yang dibawa ketika fitnah harus ditimbang oleh seorang muslim dengan timbangan syari'at agama Islam, timbangannya Ahlu Sunnah wal Jama'ah.
 
Dan timbangan yang digunakan ada dua macam: pertama, timbangan yang digunakan untuk mengukur apakah bendera, visi, misi, slogan merupakan agama Islam, kalau tidak, berarti kebalikan Islam yaitu kekufuran. Dan kedua, timbangan yang digunakan untuk mengukur apakah bendera, visi, misi dan yang semisalnya sesuai dengan islam yang benar, kalau tidak, berarti kebalikan Islam yang benar adalah Islam yang tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
 
Allah Ta'ala berfirman:
 
{وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ} [الأنبياء: 47]
 
Artinya: "Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tidaklah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan". (QS. 21:47).
 
6. Setiap perkataan dan perbuatan di dalam setiap fitnah harus ada dhawabith (ukuran yang tepat).
 
Karena tidak semua perkataan yang anda anggap baik itu cocok untuk dikatakan dalam fitnah tertentu, begitu pula tidak semua perbuatan yang anda anggap baik itu cocok untuk diperbuat di dalam fitnahtertentu.
 
Karena setiap perkatan ataupun perbuatan akan mendatangkan beberapa perkara yang lain.
Oleh sebab itu ada riwayat dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:
 

مَا أَنْتَ بِمُحَدِّثٍ قَوْمًا حَدِيثًا لاَ تَبْلُغُهُ عُقُولُهُمْ إِلاَّ كَانَ لِبَعْضِهِمْ فِتْنَةً.

 
Artinya: "Tidak anda berbicara dengan suatu kaum sebuah pembicaraan yang tidak bisa dipahami oleh akal mereka kecuali akan menjadi fitnah bagi sebagian dari mereka". HR.Muslim.
 
7.    Jika terjadi fitnah, maka bersatulah dengan kaum muslimin apalagi para ulama.
 
Dan para ulama yang merupakan referensi (tempat kembali kaum muslimin) adalah mereka yang mempunyai dua sifat: pertama, dari ulama Ahlus sunnah yang mengerti tentang tauhid, sunnah dan yang lainnya yang berdasarkan pemahaman para shahabat nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Dan kedua, yang benar-benar paham akan hukum-hukum islam secara menyeluruh, paham akan kaedah-kaedah dasar, akar-akar permasalahan, sehingga mereka tidak mempunyai kesamaran dalam menghadapi permasalahan.
 
8. Seorang muslim tidak boleh menurunkan hadits-hadits tentang fitnah yang disebutkan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam kepada fitnah yang lagi berlangsung, misalkan dengan mengatakan : "Inilah fitnah yang disebutkan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, atau dengan mengatakan: "Inilah orang yang dikabarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, padahal fitnah tersebut masih berlangsung belum selesai, boleh kita mengatakan seperti itu ketika fitnah tersebut sudah selesai sebagai pernyataan seorang muslim akan berita yang dikabarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
 
 

Sabtu, 9 Oktober 2021

Perangai Keji Mengaibkan Orang Lain dan Diri Sendiri

Aib yang sifatnya merupakan kejadian Allah seperti kecacatan pancaindera, atau perbuatan yang mengaibkan atau kesalahan yang dilakukan, atau ciptaan yang direka bertujuan mengaibkan dan menjadi aib bagi dirinya, tidak boleh dibicarakan dan disebarkan, lebih-lebih dengan niat jahat dan buruk kerana pandangan majoriti ulama berpendapat bahawa perbuatan itu merupakan satu dosa. Apabila kita menyebarkannya bererti menghina Penciptanya. (Al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din). Lebih teruk lagi ia bersifat menfirnah, berbohong atas dasar mahu menghina, mengeji, sakit hati dan sebagainya.

Mungkin berniat baik, dengan mengatakan Allah lebih tahu, niat dan matlamat, Allah lebih tahu, niat untuk memberi nasihat dan sebagainya. Namun, apakah hukuman dilaksanakan terhadap sesuatu yang tidak nampak atau hukuman dilaksanakan pada sesuatu yang zahir? Islam memberitahu, sekali niat yang baik walau tidak dilakukan, maka beroleh satu kebaikan. Tetapi niat jahat, hanya memperoleh satu keburukan apabila dilakukan. Walau ada yang berniat baik, namun mereka sangat keji dari segi akhlak.

Imam al-Syafi’i berkata, “Sesiapa yang menasihati saudaranya dengan tetap menjaga rahsianya bererti dia benar-benar menasihatinya dan memperbaikinya. Sedangkan yang menasihati tanpa menjaga rahsianya, bererti telah membuka aib dan mengkhianati saudaranya.” (Syarh Sahih Muslim)

Rasulullah saw bersabda yang bermaksud: "Sesiapa yang menolak kata-kata buruk terhadap kehormatan diri saudaranya nescaya Allah menolak api neraka daripada mengenainya pada hari kiamat".

Kefahaman daripada hadis ini ialah, sesiapa yang menghemburkan kata-kata buruk terhadap kehormatan diri saudaranya nescaya Allah memasukkan ke dalam api neraka pada hari kiamat.

Firman Allah swt: “Sesungguhnya orang-orang yang suka menghebah (menyiarkan) tuduhan-tuduhan yang buruk dalam kalangan orang-orang yang beriman, mereka akan beroleh azab seksa yang tidak terperi sakitnya di dunia dan di akhirat.” (Surah an-Nûr: 19)

Allah swt mengecam orang yang menyiarkan berita buruk agar diketahui oleh orang mukmin lain, bahkan bagi mereka azab pedih di dunia dan di akhirat. Ini sebagaimana firman-Nya yang bermaksud, “Sesungguhnya orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar dalam kalangan orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah maha Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Surah an-Nur 24:19)

Memerli, memperolok-olok, mengejek, menghina, mengeji, memperleceh, memperlekeh, memanggil dengan gelaran yang memalukan dan mengaibkan, menyatakan kekurangan orang secara terang-terangan dan sebagainya adalah perbuatan yang sangat dilarang oleh Allah. Sesiapa yang mencaci orang lain sebenarnya dia mencaci dirinya sendiri. Sesiapa yang melakukan perbutan buruk kepada orang lain, dengan niat sengaja buruk tanpa paksaaan pihak lain, hakikatnya dia sedang menempah keburukan dan melakukan kejahatan terhadap dirinya sendiri.

Firman Allah swt: "Kecelakaan besar bagi tiap-tiap pencaci, pengeji," (Surah al-Humazah:1)

Dari Jabir dan Abi Said, Rasulullah SAW bersabda: “Awaslah daripada mengumpat, kerana mengumpat itu lebih keras daripada zina. Sesungguhnya seseorang terkadang ia berzina dan bertaubat, maka diterima Allah swt akan taubatnya. Dan sesungguhnya seseorang yang mengumpat, tidak akan diampun dosanya sebelum diampuni oleh orang yang diumpatnya itu.”  Seseorang yang melakukan keburukan dan kejahatan ke atas diri orang lain, kesalahan tersebut tiada kemaafan dan keampunan melainkan dimaafkan oleh orang yang menjadi mangsa keburukan tadi.

Pelbagai cara dan jalan keburukan yang boleh dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain. Daripada Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu dia berkata, aku berkata, “Wahai Rasulullah, orang Islam yang bagaimanakah yang paling utama? Baginda menjawab, “Orang yang kaum Muslimin selamat dari lisannya dan tangannya.” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim) Ada yang memburukkan orang alain dengan kelantangan lidahnya menyembur kata-kata makian dan mengaibkan, ada juga yang menggunakan tangan sebagai wasilah daripada dendam kesumat di dalam hatinya.

Firman Allah swt: "Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari sangkaan (supaya kamu tidak menyangka sangkaan yang dilarang) kerana sesungguhnya sebahagian dari sangkaan itu adalah dosa; dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang; dan janganlah setengah kamu mengumpat setengahnya yang lain. Adakah seseorang dari kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? (Jika demikian keadaan mengumpat) maka sudah tentu kamu jijik kepadanya. (Oleh itu, patuhilah larangan-larangan yang tersebut) dan bertaqwalah kamu kepada Allah; sesungguhnya Allah Penerima taubat, lagi Maha mengasihani." (Surah al-Hujurat: 12)

Orang yang mengumpat diibarat memakan daging saudaranya yang lain. Apatah lagi mengaibkan?

Apa yang sedang membarah kini ialah sikap yang suka mengaibkan orang lain. Dalam kata lain suka mendedahkan keburukan orang lain secara terang-terangan, sebar kepada orang lain dengan niat jahat dan tanpa pengetahuan orang yang diaibkan. Islam tidak pernah mengajar perlakuan jahat dan buruk terhadap orang lain bersandarkan tujuan yang baik. Di dalam sebuah hadith, Nabi saw bersabda, "Tiada mudharat dan tiada memudharatkan."

Sabda Rasulullah saw yang bermaksud: “Wahai golongan yang beriman dengan lisannya, tetapi tidak beriman dengan hatinya. Janganlah kamu mengumpat kaum Muslimin dan janganlah mengintip keaiban mereka, maka barangsiapa yang mengintip keaiban saudaranya, nescaya Allah akan mengintip keaibannya dan sesiapa yang diintip Allah akan keaibannya maka Allah akan membuka keaibannya walaupun dirahsiakan di lubang kenderaannya.” (Hadis riwayat at-Tirmidzi)

Seandainya keaiban tadi adalah keaiban orang lain pula, maka itu sudah masuk ke dalam kategori mengumpat dan seperti yang Allah fimankan tadi, perbuatan itu diumpamakan seperti memakan daging saudara muslim yang telah mati. 

Semua orang ada melakukan kesilapan dalam hidup dan lazimnya mereka akan merahsiakan kesilapan itu bagi mengelakkan rasa malu jika ia diketahui umum. Sedangkan seorang kanak-kanak pun tahu malu jika silapnya ditegur di khalayak ramai, inikan pula orang dewasa. Maka, biasanya kita akan merahsiakan kesilapan itu agar ia tidak mengaibkan diri kira sendiri. Ia sama keadaan dengan aib pada kecacatan dan kekurangan diri.

Keaiban yang dilarang untuk diceritakan itu bukan cuma keaiban orang lain. Keaiban diri sendiri juga harus dan perlu ditutup oleh setiap orang. 

Rasulullah SAW bersabda: "Semua umatku selamat, kecuali orang yang terang-terangan melakukan dosa. Dan termasuk terang-terangan itu adalah seseorang yang melakukan dosa di waktu malam gelap, mendadak pagi-pagi diceritakan kepada orang lain. Padahal semalam Allah telah menutupi dosanya itu tetapi setelah paginya dia membuka apa yang Allah tutup itu" (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Setiap orang mempunyai keaiban dan tidak ada seorang pun yang terlepas dari melakukan kesalahan. Rasulullah saw bersabda: "Setiap daripada kamu adalah orang yang berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang bertaubat." ( HR Ahmad).

Maka, selagi mana perbuatannya itu tidak dilakukan secara terang-terangan, maka perlakuan itu haruslah dirahsiakan dan dia tidak dihukum disebabkan dosanya itu.

Aib sendiri merupakan satu rahsia. Ada orang yang berbangga dengan maksiat dan keburukan yang dilakukan. Islam mengajar kita supaya menutup aib sendiri, sebagaimana sabda Rasulullah saw yang bermaksud, “Sesiapa yang melakukan dosa sedemikian (syirik, mencuri dan zina) dan dihukum keranannya, maka hukuman itu adalah kifarah baginya. Dan sesiapa yang melakukan dosa sedemikian lalu Allah menutupinya, maka terpulang kepada Allah sama ada untuk mengampunkannya atau mengazabnya.” (Riwayat Bukhari)

Kalaulah Allah ingin membuka aib kita, memang tidak tertanggung malunya. Allah Maha Pengasih, sebanyak mana pun dosa yang kita lakukan, Allah tidak mendedahkannya. Oleh sebab itu, janganlah kita sendiri pula yang mendedahkan keaiban kita. Menutup aib ialah perbuatan yang dianjurkan oleh Islam, sekalipun dosa itu besar.

Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud, “Tahukah kamu siapa orang yang muflis?”

Jawab mereka, “Orang yang muflis dalam kalangan kami ialah sesiapa yang tiada dirham dan harta.”

Sabda baginda memberikan perspektif berbeza bagi perkataan muflis, “Orang yang muflis dalam kalangan umatku ialah sesiapa yang datang pada hari kiamat kelak bersama pahala solat, puasa dan zakat, namun dia juga pernah memaki dan menuduh seseorang, memakan harta, menumpahkan darah serta memukul seseorang. Lalu diberikan kepada orang ini dan itu pahalanya. Jika pahala-pahalanya habis sebelum sempat dilangsaikan kesalahannya, maka diambil dosa-dosa mereka dan dicampakkan ke atasnya, lantas dia dicampakkan ke dalam neraka.” (Riwayat Muslim)

Setiap orang mempunyai keaiban dan tidak ada seorang pun yang terlepas dari melakukan kesalahan. Rasulullah saw bersabda, “Setiap daripada kamu adalah orang yang berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang bertaubat.” (Riwayat Ahmad)

Sabda Nabi saw: “Jauhilah perkara-perkara keji yang telah dilarang oleh Allah, sesiapa yang telah melakukannya, hendaklah dia menutupinya dengan tutupan Allah dan bertaubat kepada Allah. Ini kerana jika sesiapa menampakkan perkara keji (yang dilakukannya) kepada kami, kami akan menjatuhkan hukuman yang telah diperintahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla.” (Dikeluarkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak, hadis no: 7615 dan beliau berkata: “Hadis ini sahih atas syarat kedua-dua syaikh (al-Bukhari dan Muslim) dan mereka tidak mengeluarkannya.” Ini dipersetujui oleh al-Zahabi)

Sabda Nabi saw: “Jangan buka aib orang kerana Allah akan membuka aibmu walaupun di dalam rumahmu sendiri "

Sabda Nabi saw: "Barangsiapa yang menutup aib saudara muslimnya, nescaya Allah swt akan menutup keaibannya di akhirat kelak." 

Sabda Rasulullah saw lagi yang bermaksud: “Barangsiapa menutup aib seseorang Islam, maka Allah akan tutupkan aibnya di dunia dan di akhirat." (Riwayat Tirmidzi)

Sabda Nabi saw: "Tiada seorang yang menutupi aurat (keaiban) orang di dunia, melainkan Allah akan menutupi keaibannya di hari kiamat." (Riwayat Muslim)

Tidaklah seseorang itu banyak bercakap akan aib orang lain, menyebutkan kesalahan dan mendedahkan aib mereka melainkan orang itu orang munafiq yang terhina.

Hidup dalam mencari..

 

Rabu, 8 September 2021

Al-Qur’an melarang menjadikan orang kafir sebagai Pemimpin

 QS. 3. Aali ‘Imraan : 28.

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara  diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu).”

QS. 4. An-Nisaa’ : 144.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) ?”

QS. 5. Al-Maa-idah : 57.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi PEMIMPINMU, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.”

2.  Al-Qur’an melarang menjadikan orang kafir sebagai Pemimpin walau Kerabat sendiri :

QS. 9. At-Taubah : 23.

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan BAPAK-BAPAK dan SAUDARA-SAUDARAMU menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan, dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

QS. 58. Al-Mujaadilah : 22.

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling  berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekali pun orang-orang itu BAPAK-BAPAK, atau ANAK-ANAK atau SAUDARA-SAUDARA atau pun KELUARGA mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada- Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun merasa  puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa  sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.”

3. Al-Qur’an melarang menjadikan orang kafir sebagai teman setia

QS. 3. Aali ‘Imraan : 118.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi TEMAN  KEPERCAYAANMU orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang  disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.”

QS. 9. At-Taubah : 16.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi TEMAN SETIA selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman ? Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

4. Al-Qur’an melarang saling tolong dengan kafir yang akan merugikan umat Islam

QS. 28. Al-Qashash : 86.

“Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al-Quran diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu menjadi PENOLONG bagi orang-orang kafir.”

QS. 60. Al-Mumtahanah : 13.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan PENOLONGMU kaum yang dimurkai Allah. Sesungguhnya mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa.”

5. Al-Qur’an melarang mentaati orang kafir untuk menguasai muslim

QS. 3. Aali ‘Imraan : 149-150.

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu MENTAATI orang-orang yang KAFIR itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi. Tetapi (ikutilah Allah), Allah lah Pelindungmu, dan Dialah sebaik-baik Penolong.”

6. Al-Qur’an melarang beri peluang kepada orang kafir sehingga menguasai muslim

QS. 4. An-Nisaa’ : 141.

“…… dan Allah sekali-kali tidak akan MEMBERI JALAN kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.”

7. Al-Qur’an memvonis munafiq kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin QS. 4. An-Nisaa’ : 138-139

Kabarkanlah kepada orang-orang MUNAFIQ bahwa mereka akan mendapat siksaan  yang pedih. (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.”

8. Al-Qur’an memvonis ZALIM kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin

QS. 5. Al-Maa-idah : 51.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak  memberi petunjuk kepada orang-orang yang ZALIM.”

9. Al-Qur’an memvonis fasiq kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin

QS. 5. Al-Maa-idah : 80-81.

“Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang FASIQ.”

10. Al-Qur’an memvonis sesat kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin

QS. 60. Al-Mumtahanah : 1.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu     karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu  nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah TERSESAT dari jalan yang lurus.”

11. Al-Qur’an mengancam azab bagi yang jadikan kafir sbg Pemimpin / Teman Setia

QS. 58.  Al-Mujaadilah : 14-15.

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman ? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui. Allah telah menyediakan bagi mereka AZAB yang sangat  keras, sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.”

12. Al-Qur’an mengajarkan doa agar muslim tidak menjadi sasaran fitnah orang kafir

QS. 60. Al-Mumtahanah : 5.

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (SASARAN) FITNAH bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

RESIKO MANUSIA YANG MENGINGKARI AL QUR’AN

Barangsiapa berpaling daripada Al Qur’an maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat, (QS. 20:100)
Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. 20:124)
Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” (QS. 20:125)
Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan”. (QS. 20:126)
Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal. (QS. 20:127)
Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. “.(QS. 2:39)
Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah (Al Qur’an) Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka dan bagi mereka azab yang pedih. (QS.16:104)
Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur’an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. (QS.43:36)
Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. (QS.43:37)

 

Hakekat Kesombongan

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. (HR. Muslim no. 91)

Selasa, 31 Ogos 2021

Rasulullah SAW wajib diikuti

 


SETIAP penganut Islam bukan sahaja berikrar menerima kerasulan Baginda, bahkan wajib menjadikan Baginda teladan bagi hamba Allah yang berwawasan dunia sehingga akhirat. Firman Allah:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ (الأحزاب 21).

“Sesungguhnya adalah menjadi kewajipan kamu, menjadikan pada diri Rasulullah S.A.W ikutan yang terbaik kepada sesiapa yang mengharapkan keredhaan Allah dan keselamatan di hari Akhirat” (Al Ahzab:21)

Firman Allah dengan perintah dan amaran:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ   (7:الحشر).

“Apa-apa yang di bawa oleh Rasulullah S.A.W ambillah dan apa-apa yang dilarangnya tinggalkanlah dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah itu sangat keras balasannya.”(Al Hasyr: 7)

Muhammad S.A.W adalah Rasul terakhir sebelum ditamatkan ajal dunia. Semua para Rasul itu pilihan Allah yang menjadi contoh pelaksanaan hikmah kejadian makhluk manusia di alam bumi dengan sifat kejadian yang istimewa berfitrahkan jasad, akal, roh, kedirian, berkeluarga dan bermasyarakat. Berbeza dengan makhluk yang lain.

Peranan manusia ialah beribadah (memperhambakan diri kepada Allah) dan berkhilafah (mentadbir alam bumi dengan petunjuk Allah daripada Islam) menunaikan amanah (pelaksanaan Syariat Allah) Yang Maha Adil kepada makhluknya. Konsep ini hanya terkandung dalam ajaran Islam yang sempurna dan lengkap melalui sebahagian prinsip yang tetap dan sebahagian yang boleh berubah serta berbeza. Kesempurnaan ini tidak mampu dicipta oleh akal dan pengalaman manusia sahaja tanpa hidayah (petunjuk) daripada Allah pencipta alam. 

Bagi Rasul akhir zaman dikurniakan Al-Quran yang diwahyukan menjadi mukjizat ilmu, berbeza dengan mukjizat para Rasul terdahulu. Tugas Rasul akhir zaman ini adalah kepada seluruh manusia di semua benua dan sepanjang zaman. Pelaksanaannya pula ditafsirkan oleh Rasulullah S.A.W dalam segala aspek, merangkumi Iman, Islam dan Ihsan. Bermula dengan tarbiyah jati diri dan keluarga serta persaudaraan kemanusiaan keseluruhannya, sehinggalah menegakkan masyarakat madani di bawah negara masyarakat majmuk. Ini dilaksanakan oleh Baginda setelah melakukan Hijrah ke Yathrib yang ditukar namanya kepada Madinah, sinonim dengan perkataan Madani dan Al-Din yang sempurna itu.

Rasulullah S.A.W berdakwah secara langsung kepada semua mereka yang ada di sekeliling Baginda, menghantar perutusan kepada raja-raja dan pemimpin dan mengarahkan kalangan umatnya yang meneruskan dakwah supaya bergerak ke seluruh pelosok dunia. 

Negara Islam Madinah yang berkonsepkan Islam yang berkuasa memerintah dengan menerima kewujudan masyarakat majmuk berbagai bangsa dan agama, termasuk kalangan bukan Islam. Adapun kalangan yang menolaknya diterima tanpa permusuhan dan yang bermusuh pula dihadapi dengan adil dan berperikemanusiaan. 

Rasulullah S.A.W menolak segala tawaran ketika masih berada di Mekah, tawaran ditabal menjadi raja, dilantik menjadi ketua yang diberi kekayaan melimpah ruah. Ini kerana bercanggah dengan Islam, kerana semua tawaran itu adalah ciptaan manusia tanpa hidayah daripada Allah. 

Islam yang dilaksanakan sepenuhnya tidak akan mampu dihujah oleh penentangnya. Allah menegaskan dengan firman ketika Haji Wada’ (selamat tinggal) yang selepasnya diwafatkan Rasulullah S.A.W.

الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا (3) المائدة

“Pada hari ini orang kafir (yang menentang Islam itu) telah berputus asa daripada agama kamu. Maka jangan kamu takut menghadapi mereka, takutlah kepada Ku. Pada hari ini aku telah sempurnakan agama kamu, Aku juga telah menyempurnakan nikmat Ku (Islam) kepada kamu dan Aku telah redha hanya Islam menjadi ajaran anutan kamu.”(Al Maidah:3)

Generasi awal yang membawa ajaran Islam selepas kewafatan Rasulullah S.A.W telah berjaya menumbangkan kuasa besar yang zalim, apabila rakyat seluruh jajahan takluknya menerima pemerintahan Islam tanpa paksaan. Keadaan ini dapat disaksikan di kawasan yang dikuasai pengaruh Islam di sepanjang jalan sutera di Asia Tengah, seterusnya Asia Tenggara, sehingga ke Afrika dan sebahagian Eropah. Dalam tempuh tidak sampai satu abad, para pendukung Islam itu mencapai kemenangan yang dijanjikan oleh Allah:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (55)النور .

“Allah telah berjanji kepada mereka yang beriman dan mengerjakan amal soleh bahawa Dia akan jadikan mereka kalangan yang memerintah di bumi sebagaimana pernah dikurniakan kepada mereka yang sepertinya di zaman dahulu. Di kala diberikan Islam agama yang diredhai-Nya itu berkuasa memerintah, lalu bertukarlah keadaan daripada ketakutan menjadi aman, dalam keadaan mereka semua beribadah kepada Ku (Allah)  dan tidak menyekutui Aku (Allah) dengan sesuatu yang lain. Dan sesiapa yang kufur selepas itu, nescaya mereka menjadi orang-orang yang fasik.”(An Nur: 55)

Generasi awal yang melangsungkan Islam selepas wafatnya Rasulullah S.A.W memerintah negara berteraskan empat perkara penting daripada ajaran Islam yang diwarisinya iaitu Beriman Kepada Allah, Beriman Kepada Hari Akhirat, Konsep Taqwa dan Konsep Rahmat.

Beriman kepada Allah menjadikan Ketua Negara tidak boleh mengatasi hukum Syariat atau undang-undang negara, semuanya dikawal sempadan hukum Syariat. Maka tidak ada sesiapa yang bebas daripada tindakan undang-undang sekiranya melakukan kesalahan. Setiap Ketua Negara samada bernama Khalifah atau Raja dan sebagainya tidak ada kekebalan di bawah Syariat Allah.

Beriman kepada Hari Akhirat, menjadikan seseorang itu tidak terlepas daripada balasan selepas meninggal alam dunia, dimana hukumannya lebih keras sekiranya menipu atau menyalahgunakan kuasanya di alam dunia. 

Konsep taqwa pula menjadikan ketaatan kepada Allah adalah kedudukan martabat manusia, bukannya keturunan, warna kulit, pangkat dan harta.  

Adapun rahmat kepada seluruh alam itu mencipta keadilan untuk semua, termasuk terhadap penganut bukan Islam dan pihak musuh. Juga mencipta hak asasi manusia yang sebenarnya mengikut sifat kemanusiaannya yang berbeza dengan binatang dan makhluk lain yang ada haknya juga. 

Islam yang berpandukan petunjuk Allah, menghormati akal manusia dan pengalamannya mengikut bangsa dan tempat masing-masing. Ini menjadikan Islam menerima segala yang baik dari seluruh pelosok dunia daripada tamadun kebendaannya yang bermanfaat dan menolak segala keburukan yang dinamakan jahiliyyah, temasuk jahiliyah Arab di Mekah bangsa Rasulullah S.A.W sendiri. Maka terciptalah Tamadun Islam yang murni berasaskan ilmu wahyu daripada Allah, kemajuan sains teknologi ciptaan akal serta ilmu dan pengalaman manusia yang berpandukan Hidayah Wahyu.

Allah menghuraikan ciri -ciri Islam kepada mereka yang berkuasa memerintah negara dengan firman-Nya:
 
الَّذِينَ إِن مَّكَّنَّاهُمْ فِي الأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الأُمُورِ (41)الحج.

“Mereka (kumpulan Islam) yang kami berikan kepada mereka kekuasaan memerintah di bumi, mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat dan mereka menyuruh berbuat kebaikan dan mereka mencegah kemungkaran. Ingatlah! Bagi Allah jua kesudahan segala urusan.”(Al Hajj: 41)

Ciri-ciri ini merangkumi hubungan diri dengan Allah (solat), ekonomi yang adil (zakat), dakwah dan kehebatan undang-undang (amar maaruf dan nahi mungkar) dan berwawasan akhirat (balasan Allah).

Islam tidak memisahkan ibadat, politik, ekonomi dan dakwah. Di mana urusannya akan dihisab apabila kembali kepada Allah setelah berlakunya hari Kiamat. Ini menjadikan seluruh kegiatan manusia berkait dengan Islam dan perhitungan Allah. 

Adapun kejatuhan umat Islam selepasnya kerana leka dengan kemajuan dunia sahaja sehingga meninggalkan petunjuk Islam, sehingga memutuskan hubungan segala cara kehidupan dengan petunjuk Allah.

Adapun Tamadun Barat yang menciplak Tamadun Islam pula, sedang megalami kemusnahannya kerana menolak Hidayah Allah daripada ajaran Islam yang sempurna. 

Kini, Tamadun Barat tanpa iman dan budiman sedang memusnahkan diri manusia sejagat dengan senjata pemusnah, politik, ekonomi, kezaliman dan penjajahan, serta pembangunan kebendaan yang merosakkan diri, alam sekitar dan seluruh kehidupan alam dunia. Berbeza dengan kedatangan Islam menjadi penyelamat bukannya penjajah.

Firman Allah:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (41) قُلْ سِيرُوا فِي الأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِن قَبْلُ كَانَ أَكْثَرُهُم مُّشْرِكِينَ (42) فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ الْقَيِّمِ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ يَوْمٌ لاَّ مَرَدَّ لَهُ مِنَ اللَّهِ يَوْمَئِذٍ يَصَّدَّعُونَ (43)  الروم.

“Telah zahirlah kerosakan di darat dan lautan dengan sebab apa yang dilakukan oleh tangan-tangan manusia, supaya dirasakan sebahagian daripada perkara yang dilakukan oleh mereka, mudah-mudahan mereka kembali (ke pangkal jalan setelah bersalah). Katakanlah! Berjalanlah kamu di muka bumi, lihatlah bagaimana akibat menimpa golongan yang terdahulu. Sebenarnya kebanyakan mereka melakukan dosa syirik. Tegakkanlah wajahmu beristiqamah bersama ajaran yang betul (Islam), sebelum datangnya hari yang tidak dapat ditolak  berlakunya. Pada hari mereka diasingkan (sebahagianya  ke syurga dan sebahagian lagi ke neraka).”(Ar Rum: 41-43)

Terserlah kebenaran firman Allah dengan tersebarnya penyakit diri, keluarga, masyarakat dan kemusnahan alam sekitar kerana melakukan perkara yang haram, menolak yang wajib, yang halal dan diharuskan, serta mencipta undang-undang sendiri dalam perkara yang tidak diizin oleh Allah Yang Maha Penyayang dan Maha Adil lagi Maha Bijaksana. Bacalah Firman Allah:

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاء شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّهُ وَلَوْلا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (21)الشورى.

“Apakah mereka punya sekutu-sekutu (tuhan-tuhan selain Allah)? Yang mencipta hukum syariat sendiri  dalam urusan agama dan cara hidup tanpa keizinan Allah? Kalaulah tidak kerana firman Allah menjanjikan adanya keputusan (di hari kiamat) nescaya mereka telah dijatuhkan hukuman (di dunia ini). Dan disediakan kepada orang-orang yang zalim itu azab neraka yang menyakitkan.”(As Syura: 21)

Jika dikaji betapa ajaran selain daripada Islam itu tidak memenuhi fitrah kemanusiaan di mana ia tidak mampu untuk menjalinkan hubungan penting yang sekali-kali tidak boleh dipisahkan daripada perkara kehidupan manusia dan agamanya.

Ada ajaran yang mementingkan jasad tanpa roh, atau roh tanpa jasad. Ada yang mementingkan hak kebebasan individu tanpa mengambil kira hak masyarakat, atau menjaga kepentingan masyarakat sehingga mengorbankan hak individu, berkeluarga dan berbangsa. Begitulah seterusnya menggunakan akal dan ilmu manusia sahaja tanpa Hidayah Wahyu yang dibawa para Rasul, sehingga berlakunya kepincangan dan kerosakan dalam kehidupan manusia dan alam sekitarnya.

Akhirnya, Pujangga Islam Mustafa Lutfi Manfaluti pernah menegaskan: “Kita tidak perlu kepada teori ahli falsafah dan pendeta Greece, Rom dan Parsi atau pemikir bukan Islam daripada Timur dan Barat, kerana kita punya Rasulullah S.A.W yang menjadi teladan terbaik.”

“Inilah Penyelesaian Kita”
 
ABDUL HADI AWANG
Presiden PAS