Rabu, 8 September 2021

Al-Qur’an melarang menjadikan orang kafir sebagai Pemimpin

 QS. 3. Aali ‘Imraan : 28.

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara  diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu).”

QS. 4. An-Nisaa’ : 144.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) ?”

QS. 5. Al-Maa-idah : 57.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi PEMIMPINMU, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.”

2.  Al-Qur’an melarang menjadikan orang kafir sebagai Pemimpin walau Kerabat sendiri :

QS. 9. At-Taubah : 23.

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan BAPAK-BAPAK dan SAUDARA-SAUDARAMU menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan, dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”

QS. 58. Al-Mujaadilah : 22.

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling  berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekali pun orang-orang itu BAPAK-BAPAK, atau ANAK-ANAK atau SAUDARA-SAUDARA atau pun KELUARGA mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada- Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun merasa  puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa  sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.”

3. Al-Qur’an melarang menjadikan orang kafir sebagai teman setia

QS. 3. Aali ‘Imraan : 118.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi TEMAN  KEPERCAYAANMU orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang  disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.”

QS. 9. At-Taubah : 16.

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi TEMAN SETIA selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman ? Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

4. Al-Qur’an melarang saling tolong dengan kafir yang akan merugikan umat Islam

QS. 28. Al-Qashash : 86.

“Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al-Quran diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu menjadi PENOLONG bagi orang-orang kafir.”

QS. 60. Al-Mumtahanah : 13.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan PENOLONGMU kaum yang dimurkai Allah. Sesungguhnya mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa.”

5. Al-Qur’an melarang mentaati orang kafir untuk menguasai muslim

QS. 3. Aali ‘Imraan : 149-150.

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu MENTAATI orang-orang yang KAFIR itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi. Tetapi (ikutilah Allah), Allah lah Pelindungmu, dan Dialah sebaik-baik Penolong.”

6. Al-Qur’an melarang beri peluang kepada orang kafir sehingga menguasai muslim

QS. 4. An-Nisaa’ : 141.

“…… dan Allah sekali-kali tidak akan MEMBERI JALAN kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.”

7. Al-Qur’an memvonis munafiq kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin QS. 4. An-Nisaa’ : 138-139

Kabarkanlah kepada orang-orang MUNAFIQ bahwa mereka akan mendapat siksaan  yang pedih. (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.”

8. Al-Qur’an memvonis ZALIM kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin

QS. 5. Al-Maa-idah : 51.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak  memberi petunjuk kepada orang-orang yang ZALIM.”

9. Al-Qur’an memvonis fasiq kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin

QS. 5. Al-Maa-idah : 80-81.

“Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang FASIQ.”

10. Al-Qur’an memvonis sesat kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin

QS. 60. Al-Mumtahanah : 1.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu     karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu  nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah TERSESAT dari jalan yang lurus.”

11. Al-Qur’an mengancam azab bagi yang jadikan kafir sbg Pemimpin / Teman Setia

QS. 58.  Al-Mujaadilah : 14-15.

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman ? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui. Allah telah menyediakan bagi mereka AZAB yang sangat  keras, sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.”

12. Al-Qur’an mengajarkan doa agar muslim tidak menjadi sasaran fitnah orang kafir

QS. 60. Al-Mumtahanah : 5.

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (SASARAN) FITNAH bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

RESIKO MANUSIA YANG MENGINGKARI AL QUR’AN

Barangsiapa berpaling daripada Al Qur’an maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat, (QS. 20:100)
Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. 20:124)
Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” (QS. 20:125)
Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan”. (QS. 20:126)
Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal. (QS. 20:127)
Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. “.(QS. 2:39)
Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah (Al Qur’an) Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka dan bagi mereka azab yang pedih. (QS.16:104)
Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur’an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. (QS.43:36)
Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. (QS.43:37)

 

Hakekat Kesombongan

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. (HR. Muslim no. 91)

Selasa, 31 Ogos 2021

Rasulullah SAW wajib diikuti

 


SETIAP penganut Islam bukan sahaja berikrar menerima kerasulan Baginda, bahkan wajib menjadikan Baginda teladan bagi hamba Allah yang berwawasan dunia sehingga akhirat. Firman Allah:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ (الأحزاب 21).

“Sesungguhnya adalah menjadi kewajipan kamu, menjadikan pada diri Rasulullah S.A.W ikutan yang terbaik kepada sesiapa yang mengharapkan keredhaan Allah dan keselamatan di hari Akhirat” (Al Ahzab:21)

Firman Allah dengan perintah dan amaran:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ   (7:الحشر).

“Apa-apa yang di bawa oleh Rasulullah S.A.W ambillah dan apa-apa yang dilarangnya tinggalkanlah dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah itu sangat keras balasannya.”(Al Hasyr: 7)

Muhammad S.A.W adalah Rasul terakhir sebelum ditamatkan ajal dunia. Semua para Rasul itu pilihan Allah yang menjadi contoh pelaksanaan hikmah kejadian makhluk manusia di alam bumi dengan sifat kejadian yang istimewa berfitrahkan jasad, akal, roh, kedirian, berkeluarga dan bermasyarakat. Berbeza dengan makhluk yang lain.

Peranan manusia ialah beribadah (memperhambakan diri kepada Allah) dan berkhilafah (mentadbir alam bumi dengan petunjuk Allah daripada Islam) menunaikan amanah (pelaksanaan Syariat Allah) Yang Maha Adil kepada makhluknya. Konsep ini hanya terkandung dalam ajaran Islam yang sempurna dan lengkap melalui sebahagian prinsip yang tetap dan sebahagian yang boleh berubah serta berbeza. Kesempurnaan ini tidak mampu dicipta oleh akal dan pengalaman manusia sahaja tanpa hidayah (petunjuk) daripada Allah pencipta alam. 

Bagi Rasul akhir zaman dikurniakan Al-Quran yang diwahyukan menjadi mukjizat ilmu, berbeza dengan mukjizat para Rasul terdahulu. Tugas Rasul akhir zaman ini adalah kepada seluruh manusia di semua benua dan sepanjang zaman. Pelaksanaannya pula ditafsirkan oleh Rasulullah S.A.W dalam segala aspek, merangkumi Iman, Islam dan Ihsan. Bermula dengan tarbiyah jati diri dan keluarga serta persaudaraan kemanusiaan keseluruhannya, sehinggalah menegakkan masyarakat madani di bawah negara masyarakat majmuk. Ini dilaksanakan oleh Baginda setelah melakukan Hijrah ke Yathrib yang ditukar namanya kepada Madinah, sinonim dengan perkataan Madani dan Al-Din yang sempurna itu.

Rasulullah S.A.W berdakwah secara langsung kepada semua mereka yang ada di sekeliling Baginda, menghantar perutusan kepada raja-raja dan pemimpin dan mengarahkan kalangan umatnya yang meneruskan dakwah supaya bergerak ke seluruh pelosok dunia. 

Negara Islam Madinah yang berkonsepkan Islam yang berkuasa memerintah dengan menerima kewujudan masyarakat majmuk berbagai bangsa dan agama, termasuk kalangan bukan Islam. Adapun kalangan yang menolaknya diterima tanpa permusuhan dan yang bermusuh pula dihadapi dengan adil dan berperikemanusiaan. 

Rasulullah S.A.W menolak segala tawaran ketika masih berada di Mekah, tawaran ditabal menjadi raja, dilantik menjadi ketua yang diberi kekayaan melimpah ruah. Ini kerana bercanggah dengan Islam, kerana semua tawaran itu adalah ciptaan manusia tanpa hidayah daripada Allah. 

Islam yang dilaksanakan sepenuhnya tidak akan mampu dihujah oleh penentangnya. Allah menegaskan dengan firman ketika Haji Wada’ (selamat tinggal) yang selepasnya diwafatkan Rasulullah S.A.W.

الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا (3) المائدة

“Pada hari ini orang kafir (yang menentang Islam itu) telah berputus asa daripada agama kamu. Maka jangan kamu takut menghadapi mereka, takutlah kepada Ku. Pada hari ini aku telah sempurnakan agama kamu, Aku juga telah menyempurnakan nikmat Ku (Islam) kepada kamu dan Aku telah redha hanya Islam menjadi ajaran anutan kamu.”(Al Maidah:3)

Generasi awal yang membawa ajaran Islam selepas kewafatan Rasulullah S.A.W telah berjaya menumbangkan kuasa besar yang zalim, apabila rakyat seluruh jajahan takluknya menerima pemerintahan Islam tanpa paksaan. Keadaan ini dapat disaksikan di kawasan yang dikuasai pengaruh Islam di sepanjang jalan sutera di Asia Tengah, seterusnya Asia Tenggara, sehingga ke Afrika dan sebahagian Eropah. Dalam tempuh tidak sampai satu abad, para pendukung Islam itu mencapai kemenangan yang dijanjikan oleh Allah:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (55)النور .

“Allah telah berjanji kepada mereka yang beriman dan mengerjakan amal soleh bahawa Dia akan jadikan mereka kalangan yang memerintah di bumi sebagaimana pernah dikurniakan kepada mereka yang sepertinya di zaman dahulu. Di kala diberikan Islam agama yang diredhai-Nya itu berkuasa memerintah, lalu bertukarlah keadaan daripada ketakutan menjadi aman, dalam keadaan mereka semua beribadah kepada Ku (Allah)  dan tidak menyekutui Aku (Allah) dengan sesuatu yang lain. Dan sesiapa yang kufur selepas itu, nescaya mereka menjadi orang-orang yang fasik.”(An Nur: 55)

Generasi awal yang melangsungkan Islam selepas wafatnya Rasulullah S.A.W memerintah negara berteraskan empat perkara penting daripada ajaran Islam yang diwarisinya iaitu Beriman Kepada Allah, Beriman Kepada Hari Akhirat, Konsep Taqwa dan Konsep Rahmat.

Beriman kepada Allah menjadikan Ketua Negara tidak boleh mengatasi hukum Syariat atau undang-undang negara, semuanya dikawal sempadan hukum Syariat. Maka tidak ada sesiapa yang bebas daripada tindakan undang-undang sekiranya melakukan kesalahan. Setiap Ketua Negara samada bernama Khalifah atau Raja dan sebagainya tidak ada kekebalan di bawah Syariat Allah.

Beriman kepada Hari Akhirat, menjadikan seseorang itu tidak terlepas daripada balasan selepas meninggal alam dunia, dimana hukumannya lebih keras sekiranya menipu atau menyalahgunakan kuasanya di alam dunia. 

Konsep taqwa pula menjadikan ketaatan kepada Allah adalah kedudukan martabat manusia, bukannya keturunan, warna kulit, pangkat dan harta.  

Adapun rahmat kepada seluruh alam itu mencipta keadilan untuk semua, termasuk terhadap penganut bukan Islam dan pihak musuh. Juga mencipta hak asasi manusia yang sebenarnya mengikut sifat kemanusiaannya yang berbeza dengan binatang dan makhluk lain yang ada haknya juga. 

Islam yang berpandukan petunjuk Allah, menghormati akal manusia dan pengalamannya mengikut bangsa dan tempat masing-masing. Ini menjadikan Islam menerima segala yang baik dari seluruh pelosok dunia daripada tamadun kebendaannya yang bermanfaat dan menolak segala keburukan yang dinamakan jahiliyyah, temasuk jahiliyah Arab di Mekah bangsa Rasulullah S.A.W sendiri. Maka terciptalah Tamadun Islam yang murni berasaskan ilmu wahyu daripada Allah, kemajuan sains teknologi ciptaan akal serta ilmu dan pengalaman manusia yang berpandukan Hidayah Wahyu.

Allah menghuraikan ciri -ciri Islam kepada mereka yang berkuasa memerintah negara dengan firman-Nya:
 
الَّذِينَ إِن مَّكَّنَّاهُمْ فِي الأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الأُمُورِ (41)الحج.

“Mereka (kumpulan Islam) yang kami berikan kepada mereka kekuasaan memerintah di bumi, mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat dan mereka menyuruh berbuat kebaikan dan mereka mencegah kemungkaran. Ingatlah! Bagi Allah jua kesudahan segala urusan.”(Al Hajj: 41)

Ciri-ciri ini merangkumi hubungan diri dengan Allah (solat), ekonomi yang adil (zakat), dakwah dan kehebatan undang-undang (amar maaruf dan nahi mungkar) dan berwawasan akhirat (balasan Allah).

Islam tidak memisahkan ibadat, politik, ekonomi dan dakwah. Di mana urusannya akan dihisab apabila kembali kepada Allah setelah berlakunya hari Kiamat. Ini menjadikan seluruh kegiatan manusia berkait dengan Islam dan perhitungan Allah. 

Adapun kejatuhan umat Islam selepasnya kerana leka dengan kemajuan dunia sahaja sehingga meninggalkan petunjuk Islam, sehingga memutuskan hubungan segala cara kehidupan dengan petunjuk Allah.

Adapun Tamadun Barat yang menciplak Tamadun Islam pula, sedang megalami kemusnahannya kerana menolak Hidayah Allah daripada ajaran Islam yang sempurna. 

Kini, Tamadun Barat tanpa iman dan budiman sedang memusnahkan diri manusia sejagat dengan senjata pemusnah, politik, ekonomi, kezaliman dan penjajahan, serta pembangunan kebendaan yang merosakkan diri, alam sekitar dan seluruh kehidupan alam dunia. Berbeza dengan kedatangan Islam menjadi penyelamat bukannya penjajah.

Firman Allah:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (41) قُلْ سِيرُوا فِي الأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِن قَبْلُ كَانَ أَكْثَرُهُم مُّشْرِكِينَ (42) فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ الْقَيِّمِ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ يَوْمٌ لاَّ مَرَدَّ لَهُ مِنَ اللَّهِ يَوْمَئِذٍ يَصَّدَّعُونَ (43)  الروم.

“Telah zahirlah kerosakan di darat dan lautan dengan sebab apa yang dilakukan oleh tangan-tangan manusia, supaya dirasakan sebahagian daripada perkara yang dilakukan oleh mereka, mudah-mudahan mereka kembali (ke pangkal jalan setelah bersalah). Katakanlah! Berjalanlah kamu di muka bumi, lihatlah bagaimana akibat menimpa golongan yang terdahulu. Sebenarnya kebanyakan mereka melakukan dosa syirik. Tegakkanlah wajahmu beristiqamah bersama ajaran yang betul (Islam), sebelum datangnya hari yang tidak dapat ditolak  berlakunya. Pada hari mereka diasingkan (sebahagianya  ke syurga dan sebahagian lagi ke neraka).”(Ar Rum: 41-43)

Terserlah kebenaran firman Allah dengan tersebarnya penyakit diri, keluarga, masyarakat dan kemusnahan alam sekitar kerana melakukan perkara yang haram, menolak yang wajib, yang halal dan diharuskan, serta mencipta undang-undang sendiri dalam perkara yang tidak diizin oleh Allah Yang Maha Penyayang dan Maha Adil lagi Maha Bijaksana. Bacalah Firman Allah:

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاء شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّهُ وَلَوْلا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (21)الشورى.

“Apakah mereka punya sekutu-sekutu (tuhan-tuhan selain Allah)? Yang mencipta hukum syariat sendiri  dalam urusan agama dan cara hidup tanpa keizinan Allah? Kalaulah tidak kerana firman Allah menjanjikan adanya keputusan (di hari kiamat) nescaya mereka telah dijatuhkan hukuman (di dunia ini). Dan disediakan kepada orang-orang yang zalim itu azab neraka yang menyakitkan.”(As Syura: 21)

Jika dikaji betapa ajaran selain daripada Islam itu tidak memenuhi fitrah kemanusiaan di mana ia tidak mampu untuk menjalinkan hubungan penting yang sekali-kali tidak boleh dipisahkan daripada perkara kehidupan manusia dan agamanya.

Ada ajaran yang mementingkan jasad tanpa roh, atau roh tanpa jasad. Ada yang mementingkan hak kebebasan individu tanpa mengambil kira hak masyarakat, atau menjaga kepentingan masyarakat sehingga mengorbankan hak individu, berkeluarga dan berbangsa. Begitulah seterusnya menggunakan akal dan ilmu manusia sahaja tanpa Hidayah Wahyu yang dibawa para Rasul, sehingga berlakunya kepincangan dan kerosakan dalam kehidupan manusia dan alam sekitarnya.

Akhirnya, Pujangga Islam Mustafa Lutfi Manfaluti pernah menegaskan: “Kita tidak perlu kepada teori ahli falsafah dan pendeta Greece, Rom dan Parsi atau pemikir bukan Islam daripada Timur dan Barat, kerana kita punya Rasulullah S.A.W yang menjadi teladan terbaik.”

“Inilah Penyelesaian Kita”
 
ABDUL HADI AWANG
Presiden PAS

Ahad, 15 Ogos 2021

Janji Allah Untuk Orang Yang Beriman

Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi janji kepada orang-orang beriman dengan janji-janji yang sangat banyak di dunia dan akhirat.

A.Janji-janji kepada orang-orang beriman di dunia

Di antaranya:

  1. Keberuntungan, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (QS. Al-Mukminun:1)
  2. Petunjuk, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: dan sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’alaadalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus. (QS. Al-Hajj:54)
  3. Pertolongan, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: .Dan kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman. (QS. Ar-Ruum:47)
  4. Kemuliaan/kekuatan, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mu’min, (QS. Al-Munafiqun: 8)
  5. Khilafah dan keteguhan di muka bumi, seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:  Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. (QS. An-Nuur: 55)
  6. Membela mereka, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala membela orang-orang yang telah beriman. (QS. Al-Hajj:38)
  7. Rasa aman, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-An’aam:82)
  8. Keselamatan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: Kemudian Kami selamatkan rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman, demikianlah menjadi kewajiban atas Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman. (QS. Yunus:103)
  9. Kehidupan yang baik, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. An-Nahl:97)
  10. Orang-orang kafir tidak bisa menguasai mereka, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:  dan Allah Subhanahu wa Ta’ala sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman. (QS. An-Nisaa`:141)
  11. Mendapat berkah, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al-A’raaf:96)
  12.  Kebersamaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang khusus, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: dan sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala beserta orang-orang yang beriman. (QS. Al-Anfaal:19)

B. Adapun yang dijanjikan di akhirat

Di antaranya adalah:

  1. Masuknya orang-orang beriman ke dalam surga, kekal di dalamnya, dan keridhaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan kepada orang-orang yang mu’min lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah lebih besar; Itu adalah keberuntungan yang besar. (QS. At-Taubah:72)
  2. Melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: Wajah-wajah (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat. (QS. Al-Qiyamah :22-23)

Sifat-sifat yang dijanjikan di dunia tidak ada dalam kehidupan kaum muslimin pada saat ini. Ini menunjukkan lemahnya iman mereka. Tidak ada jalan untuk mendapatkannya atau melihatnya kecuali dengan memperkuat iman yang ada saat ini dengan iman yang dituntut, agar kita bisa mendapatkan janji-janji Allah Subhanahu wa Ta’ala yang disebutkan di dunia terhadap iman, yaitu agar iman dan amal perbuatan kita seperti iman para nabi dan sahabat serta amal perbuatan mereka.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah:137)

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. (QS. An-Nisaa`:136)

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah:208)

Menjunjung perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi larangan-larangan-Nya dibangun atas iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan senantiasa menggambarkan keagungan al-Khaliq (Yang Maha Pencipta) dan Raja Diraja di dalam hati. Hal itu dengan cara memperbanyak berzikir kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Dan untuk menetapkan gambaran ini dan tertanamnya di dalam hati, Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyari’atkan kepada hamba-hamba-Nya dalam hal mengingatkan yang selalu diulang-ulang, amal yang silih berganti, yaitu ibadah. Apabila iman bertambah dan menjadi kuat, niscaya amal ibadah bertambah dan bertambah kuat. Kemudian segala kondisi menjadi baik dengan beruntung mendapatkan kebahagiaan di dua negeri. Dan sebaliknya juga sebaliknya.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah Subhanahu wa Ta’ala, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. (QS. Al-Ahzaab:41-42)

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al-A’raaf:96)

Jumaat, 13 Ogos 2021

Hidayah Itu Milik Allah

 Sesungguhnya Allah SWT memberi hidayah dan petunjuk kepada manusia melalui pelbagai cara. Dengan itu setiap insan perlu berusaha untuk mendapatkan hidayah dan petunjuk daripada Allah SWT melalui cara-cara yang telah ditentukan-Nya. Allah SWT mengutuskan para Nabi dan Rasul, serta diturunkan bersama mereka beberapa kitab suci. Selepas zaman kenabian, Allah SWT mengiktiraf pula para ulama sebagai pewaris nabi yang bertindak mengajak umat manusia kepada keredhaan Allah SWT. Semua itu merupakan bukti yang jelas atas adanya ketersediaan pelbagai cara dan saluran bagi manusia untuk memperolehi hidayah daripada Allah SWT.

Perlu difahami, walaupun Allah SWT telah menyediakan pelbagai cara untuk menyampaikan petunjuk dan hidayah kepada umat manusia, akan tetapi Allah SWT tidak pernah memaksa mereka untuk menerima saranan itu dan tidak pula pernah memaksa mereka untuk beriman kepada-Nya. Sehinggakan ada seseorang yang dibesarkan di rumah seorang Nabi, akan tetapi dia tidak dapat menerima petunjuk daripada Nabi tersebut, bahkan cenderung menentangnya. Sebaliknya, ada pula seseorang yang dibesarkan di dalam lingkup istana Firaun, akan tetapi dia beriman dan membesar sebagai seorang muslim di kalangan keluarga Firaun dan isterinya.

Petunjuk seperti ini berkait rapat dengan kesanggupan seseorang itu untuk menerima perintah dan hidayah daripada Allah SWT. Allah SWT hanya menyediakan pelbagai cara dan saranan untuk manusia menerima hidayah dan perintah daripada-Nya. Namun begitu penerimaan tersebut amat bergantung kepada kehendak individu itu sendiri. Walaupun keadaan penerimaannya itu cukup misteri, akan tetapi untuk menerima petunjuk dan hidayah itu mempunyai syarat-syaratnya yang tersendiri yang telah ditetapkan Allah SWT.

Al-Quran telah menyatakan, bahawa untuk menerima petunjuk dan hidayah ada beberapa syarat yang perlu dilakukan. Kenyataan ini sebagaimana yang disebutkan di dalam firman Allah SWT;

وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيۡنَٰهُمۡ فَٱسۡتَحَبُّواْ ٱلۡعَمَىٰ عَلَى ٱلۡهُدَىٰ فَأَخَذَتۡهُمۡ صَٰعِقَةُ ٱلۡعَذَابِ ٱلۡهُونِ بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ

Maksudnya“Dan adapun kaum Thamud, maka Kami beri petunjuk kepada mereka, lalu mereka mengutamakan kesesatan daripada hidayah dan petunjuk; maka mereka pun disambar oleh petir azab yang menghina dengan sebab apa yang mereka telah lakukan.”

(Surah Fushshilat: 17)

Dengan erti kata lain, Allah SWT telah menyediakan salah satu cara untuk memberi petunjuk kepada kaum Tsamud dengan diutuskan Nabi Ṣāliḥ as. kepada mereka. Namun sebaliknya mereka lebih mengutamakan kesesatan daripada menerima petunjuk (hidayah), sehingga mereka diseksa dan berakhir di api neraka.

Allah SWT juga telah berfirman,

رُّسُلٗا مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى ٱللَّهِ حُجَّةُۢ بَعۡدَ ٱلرُّسُلِۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمٗا

Maksudnya“Rasul-rasul (yang Kami telah utuskan itu semuanya) pembawa khabar gembira (kepada orang-orang yang beriman), dan pembawa amaran (kepada orang-orang yang kafir dan yang berbuat maksiat), supaya tidak ada bagi manusia sesuatu hujah (atau sebarang alasan untuk berdalih pada hari kiamat kelak) terhadap Allah sesudah mengutuskan Rasul-rasul itu. Dan (ingatlah) Allah Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.”

(Surah Al-Nisā’: 165).

Walaupun Allah SWT telah mengutuskan sejumlah Rasul kepada sekelompok manusia, namun tidak semuanya dapat menerima petunjuk Allah tersebut. Mereka lebih banyak menolak dengan pelbagai alasan yang diberikan daripada menerima ajakan dan seruan para Rasul untuk beriman.

Di samping itu, Allah SWT juga telah berfirman;

إِنَّآ أَرۡسَلۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ بَشِيرٗا وَنَذِيرٗاۚ وَإِن مِّنۡ أُمَّةٍ إِلَّا خَلَا فِيهَا نَذِيرٞ

Maksudnya“Sesungguhnya Kami mengutusmu dengan (Agama) yang benar, sebagai pembawa berita gembira (kepada orang-orang yang beriman) dan pemberi amaran (kepada orang-orang yang ingkar); dan tidak ada, sesuatu umat pun melainkan telah ada dalam kalangannya dahulu seorang Rasul pemberi ingatan dan amaran.”

 (Surah Fāthir: 24).

Di samping Allah SWT mengutus para Rasul dan Nabi untuk menerangkan bagi sekelompok manusia, Allah juga mentakdirkan di antara mereka ada yang mahu menerima seruan para Rasul itu dengan berlapang dada, bahkan terdapat juga di kalangan mereka yang menolaknya. Mereka yang menolak itu lebih memilih kesesatan daripada petunjuk.

Allah SWT juga telah berfirman;

مَّنِ ٱهۡتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهۡتَدِي لِنَفۡسِهِۦۖ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيۡهَاۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبۡعَثَ رَسُولٗا

Maksudnya“Sesiapa yang beroleh hidayah petunjuk (menurut panduan Al-Quran), maka sesungguhnya faedah petunjuk yang didapatinya itu hanya terpulang kepada dirinya sendiri, dan sesiapa yang sesat maka sesungguhnya kesan buruk kesesatannya hanya ditanggung oleh dirinya juga. Dan seseorang yang boleh memikul, tidak akan memikul dosa perbuatan orang lain (bahkan dosa usahanya sahaja). Dan tiadalah Kami mengazabkan sesiapapun sebelum Kami mengutuskan seorang Rasul (untuk menerangkan yang benar dan yang salah).”

(Surah Al-Isrā’: 15).

Allah SWT sengaja mengutus sebilangan para Nabi dan Rasul kepada sekelompok manusia, agar mereka menerima petunjuk daripada Allah. Ketentuan Allah SWT ini adalah sebagai hujah supaya mereka tidak beralasan, mengapa tidak diutus sebilangan Nabi dan Rasul kepada mereka, sehingga menyebabkan mereka lebih memilih jalan kesesatan. Kini, giliran kita yang telah diutuskan seorang Nabi dan Rasul yang bernama Muhammad SAW. Dengan pengutusan tersebut, tiada lagi alasan yang boleh diberikan untuk menolak petunjuk daripada Allah SWT. Hal yang demikian disebabkan, kita semua telah mendengar seruan Nabi SAW melalui al-Quran dan al-Sunnah yang beliau ditinggalkan.

Malahan Allah SWT juga telah menentukan para alim ulama yang menjadi penerus kepada tugasan para nabi dan rasul untuk memelihara dan memperbaiki keadaan agama Islam serta umatnya. Semua itu dilaksanakan oleh Allah SWT agar umat manusia mahu menerima petunjuk. Bahkan kesemuanya itu adalah merupakan kemurahan Allah SWT terhadap hamba-hamba-Nya. Namun begitu, mahu ataupun tidak seseorang hamba itu untuk menerima petunjuk daripada Allah SWT, sangat tergantung kepada kemahuannya sendiri.

Allah SWT mentakdirkan petunjuk dan kesesatan secara bersamaan. Allah SWT mengutus Nabi SAW di tengah-tengah kaum Quraisy, dan beliau menyampaikan agama Islam kepada mereka. Di antara mereka ada yang menerima secara langsung dan segera mentaati aturan yang disampaikan, seperti yang dilakukan oleh Sayyidina Abu Bakar al-Siddiq ra., kerana di lubuk sanubari Abu Bakar telah diberi cahaya keimanan oleh Allah SWT.

Walau bagaimanapun, terdapat juga yang menolak tuntunan daripada Rasulullah SAW dengan keras, seperti Abu Jahal. Dia lebih memilih kesesatan daripada menerima ajakan Rasulullah SAW kepada Islam. Tentunya semua itu terjadi kerana telah ditakdirkan oleh Allah SWT bagi diri Abu Jahal sebagai seorang kafir yang menentang Islam sehingga dia mati dalam keadaan kafir di medan peperangan Badar. (Lihat: Imam Ibnu Katsir, Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, Jld. 3, Hlm. 287)

Al-Quran memperjelaskan tentang adanya petunjuk dan seruan kepada rahmat Allah SWT. Terdapat  satu ayat, seperti telah disebutkan oleh Allah SWT di dalam firman-Nya:

وَٱللَّهُ يَدۡعُوٓاْ إِلَىٰ دَارِ ٱلسَّلَٰمِ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ

Maksudnya“(Itulah dia kesudahan kehidupan dunia), dan sebaliknya Allah menyeru manusia ke tempat kediaman yang selamat sentosa, dan Dia sentiasa memberi petunjuk hidayahNya kepada sesiapa yang dikehendakiNya (menurut undang-undang peraturanNya) ke jalan yang betul lurus (yang selamat itu).”

(Surah Yunus: 25).

Walaupun Allah SWT mengajak manusia ke jalan petunjuk, akan tetapi menerima atau tidaknya petunjuk itu sangat bergantung kepada kemahuan manusia; sesuai dengan kehendak-Nya. Sebab, Allah SWT akan memberi petunjuk atau kesesatan bagi siapa pun yang dikehendaki-Nya. Bagaimana pun cara yang dapat mengajak manusia ke arah jalan petunjuk, pasti Allah SWT akan anugerahkannya kepada manusia. Akan tetapi, ketentuannya sangat bergantung kepada takdir dan kehendak Allah SWT jua.

Kitab al-Quran adalah sumber petunjuk terbesar. Namun begitu, tidak semua orang mahu menerimanya, walaupun telah disebutkan bahawa al-Quran adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Sebagaimana telah disebutkan di dalam firman Allah SWT:

ذَٰلِكَ ٱلۡكِتَٰبُ لَا رَيۡبَۛ فِيهِۛ هُدٗى لِّلۡمُتَّقِينَ

Maksudnya“Kitab Al-Quran ini, tidak ada sebarang syak padanya (tentang datangnya dari Allah dan tentang sempurnanya); ia pula menjadi petunjuk bagi orang-orang yang (hendak) bertaqwa;”

(Surah al-Baqarah: 2).

Daripada firman Allah SWT di atas dapat difahami, bahawa untuk menerima petunjuk daripada al-Quran hendaklah terlebih dahulu menjadi orang-orang yang bertakwa. Dari segi takdir, setiap insan hendaklah berusaha menjadi orang-orang yang bertakwa. Hal ini jelas seperti yang telah disebutkan di dalam firman Allah SWT berikut ini;

أُوْلَٰٓئِكَ عَلَىٰ هُدٗى مِّن رَّبِّهِمۡۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

Maksudnya“Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang berjaya.”

(Surah al-Baqarah: 5).

Orang-orang yang beriman kepada yang ghaib, mendirikan solat, menunaikan semua kewajipan agama seperti puasa, zakat, dan beriman kepada kitab Allah yang diturunkan kepada para Nabi. Malah mereka beriman pula kepada alam akhirat, maka orang-orang seperti itulah yang disebut sebagai orang-orang yang bertakwa. Golongan yang sengaja diberikan petunjuk oleh Allah SWT sesuai dengan takdir-Nya yang telah tercatat di dalam kitab di Lauh al-Mahfuz.

Demikian lagi firman Allah SWT;

وَكَذَٰلِكَ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ رُوحٗا مِّنۡ أَمۡرِنَاۚ مَا كُنتَ تَدۡرِي مَا ٱلۡكِتَٰبُ وَلَا ٱلۡإِيمَٰنُ وَلَٰكِن جَعَلۡنَٰهُ نُورٗا نَّهۡدِي بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَاۚ وَإِنَّكَ لَتَهۡدِيٓ إِلَىٰ صِرَٰطٖ مُّسۡتَقِيمٖ  ٥٢ صِرَٰطِ ٱللَّهِ ٱلَّذِي لَهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۗ أَلَآ إِلَى ٱللَّهِ تَصِيرُ ٱلۡأُمُورُ  ٥٣

Maksudnya“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) – al-Quran sebagai roh (yang menghidupkan hati perintah Kami; engkau tidak pernah mengetahui (sebelum diwahyukan kepadamu): apakah Kitab (al-Quran) itu dan tidak juga mengetahui apakah iman itu; akan tetapi Kami jadikan al-Quran: cahaya yang menerangi, Kami beri petunjuk dengannya sesiapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) adalah memberi petunjuk dengan al-Quran itu ke jalan yang lurus, Iaitu jalan Allah yang memiliki dan menguasai segala yang ada di langit dan yang ada di bumi. Ingatlah! Kepada Allah jualah kembali segala urusan.”

(Surah al-Syurā: 52-53).

Penjelasan daripada firman Allah SWT di atas dapat difahami, bahawa petunjuk terbahagi kepada dua;

Pertama; berupa perantara yang dapat menyampaikan sesuatu seperti adanya kitab-kitab suci dan adanya para Nabi serta Rasul.

Kedua; ada yang berupa petunjuk yang telah diciptakan oleh Allah SWT di qalbu (sanubari) manusia.

Terdapat petunjuk yang disematkan ke dalam sanubari manusia melalui perantara, dan ada pula yang disematkan tanpa melalui perantara. Dengan erti kata lain, ia dimasukkan secara langsung oleh Allah SWT ke lubuk sanubari seseorang atas kehendak-Nya. Iaitu, petunjuk secara langsung yang disebutkan sebagai anugerah rahmat Allah SWT kepada seseorang hamba.

Di samping itu, terdapat pula petunjuk dan kesesatan yang Allah SWT diberikan secara bersamaan. Seperti telah disebutkan melalui sebuah hadis berikut ini, “’Umar Ibnul Khattab menyebutkan, bahawa Rasulullah SAW pernah bersabda, ‘Aku diutus sebagai seorang da’i (penyeru) dan muballigh (penyampai), akan tetapi masalah petunjuk bukan berada di tanganku sedikit pun. Demikian pula Allah menjadikan iblis sebagai perayu, akan tetapi masalah kesesatan bukan berada di tangannya sedikit pun.” (Imam al-‘Uqaili meletakkan riwayat ini dalam al-Dhu’afâ’, Jilid 2, hadis nombor 8. Lihat pula penjelasannya dalam Mîzân al-I’tidâl, karya Imam al-Dzahabi, Jilid 2, Hlm. 416. Juga dalam kitab Kanzu al-Ummâl, karya Imam al-Muttaqi, Jilid 1, Hlm. 546.)

Lazimnya manusia menghendaki sesuatu, dan Allah SWT yang menciptakan segala sesuatu yang dikehendaki oleh manusia itu. Walaupun Allah SWT telah mentakdirkan dalam perjalanan kehidupan manusia untuk mendapatkan pahala itu sangat terbatas, ditambah pula dengan dorongan nafsu yang fitrah suka melakukan segala bentuk dosa dan keburukan. Maka ia merupakan suatu cabaran yang utama kepada umat manusia untuk mencari petunjuk kepada kebaikan. Natijahnya, setiap manusia perlu gigih berusaha untuk mendapat petunjuk (hidayah) yang baik dari sisi Allah SWT, supaya dapat melakukan sesuatu yang baik pula di dalam kehidupan ini. Jika ditinjau dari sudut ini, maka setiap manusia wajib selalu berharap untuk dikurniakan petunjuk daripada Allah SWT agar dapat melakukan segala perbuatan yang baik sesuai dengan apa yang diredhai-Nya. Fahamilah, hidayah itu milik Allah SWT.

Wallahu’aklam.