Selasa, 1 November 2022

Dalil-Dalil Mengharamkan Umat Islam Memilih Pemimpin Kafir

Menjadikan orang kafir sebagai pemimpin bagi umat Islam berarti menentang Allah SWT dan Rasulullah SAW serta Ijma' Ulama. Memilih orang kafir sebagai pemimpin umat Islam berarti memberi peluang kepada orang kafir untuk "mengerjai" umat Islam dengan kekuasaan dan kewenangannya.Berikut ini adalah sejumlah Dalil Qur'ani beserta Terjemah Qur'an Surat (TQS) yang menjadi dasar untuk bersikap dalam memilih pemimpin :

1. Al-Qur'an melarang menjadikan orang kafir sebagai Pemimpin

QS. 3. Aali 'Imraan : 28.

"Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu)."

QS. 4. An-Nisaa' : 144.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) ?"

QS. 5. Al-Maa-idah : 57.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi PEMIMPINMU, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman."

JAKARTA (VoA-Islam) - Menjadikan orang kafir sebagai pemimpin bagi umat Islam berarti menentang Allah SWT dan Rasulullah SAW serta Ijma' Ulama. Memilih orang kafir sebagai pemimpin umat Islam berarti memberi peluang kepada orang kafir untuk "mengerjai" umat Islam dengan kekuasaan dan kewenangannya.

Berikut ini adalah sejumlah Dalil Qur'ani beserta Terjemah Qur'an Surat (TQS) yang menjadi dasar untuk bersikap dalam memilih pemimpin :

1. Al-Qur'an melarang menjadikan orang kafir sebagai Pemimpin

QS. 3. Aali 'Imraan : 28.

"Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu)."

QS. 4. An-Nisaa' : 144.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) ?"

QS. 5. Al-Maa-idah : 57.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi PEMIMPINMU, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman."

2. Al-Qur'an melarang menjadikan orang kafir sebagai Pemimpin walau Kerabat sendiri :

QS. 9. At-Taubah : 23.

"Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan BAPAK-BAPAK dan SAUDARA-SAUDARAMU menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan, dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim."

QS. 58. Al-Mujaadilah : 22.

"Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekali pun orang-orang itu BAPAK-BAPAK, atau ANAK-ANAK atau SAUDARA-SAUDARA atau pun KELUARGA mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada- Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung."

3. Al-Qur'an melarang menjadikan orang kafir sebagai teman setia

QS. 3. Aali 'Imraan : 118.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi TEMAN KEPERCAYAANMU orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya."

QS. 9. At-Taubah : 16.

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi TEMAN SETIA selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman ? Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

4. Al-Qur'an melarang saling tolong dengan kafir yang akan merugikan umat Islam

QS. 28. Al-Qashash : 86.

"Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al-Quran diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu menjadi PENOLONG bagi orang-orang kafir."

QS. 60. Al-Mumtahanah : 13.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan PENOLONGMU kaum yang dimurkai Allah. Sesungguhnya mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa."

5. Al-Qur'an melarang mentaati orang kafir untuk menguasai muslim

QS. 3. Aali 'Imraan : 149-150.

"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu MENTAATI orang-orang yang KAFIR itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi. Tetapi (ikutilah Allah), Allah lah Pelindungmu, dan Dialah sebaik-baik Penolong."

6. Al-Qur'an melarang beri peluang kepada orang kafir sehingga menguasai muslim

QS. 4. An-Nisaa' : 141.

"...... dan Allah sekali-kali tidak akan MEMBERI JALAN kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman."

7. Al-Qur'an memvonis munafiq kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin QS. 4. An-Nisaa' : 138-139.

"Kabarkanlah kepada orang-orang MUNAFIQ bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih. (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu ? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah."

8. Al-Qur'an memvonis ZALIM kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin

QS. 5. Al-Maa-idah : 51.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang ZALIM."

9. Al-Qur'an memvonis fasiq kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin

QS. 5. Al-Maa-idah : 80-81.

"Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang FASIQ."

10. Al-Qur'an memvonis sesat kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin

QS. 60. Al-Mumtahanah : 1.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah TERSESAT dari jalan yang lurus."

11. Al-Qur'an mengancam azab bagi yang jadikan kafir sbg Pemimpin / Teman Setia

QS. 58. Al-Mujaadilah : 14-15.

"Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman ? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui. Allah telah menyediakan bagi mereka AZAB yang sangat keras, sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan."

12. Al-Qur'an mengajarkan doa agar muslim tidak menjadi sasaran fitnah orang kafir

QS. 60. Al-Mumtahanah : 5.

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (SASARAN) FITNAH bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Sabtu, 15 Oktober 2022

Hukum Memakan Harta Pusaka

Allah S.W.T. berfirman yang membawa maksud: “Dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dengan yang bathil), Dan kamu mencintai harta benda dengan cara yang berlebihan. Jangan (melakukan perkara tersebut). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut, Dan datanglah Tuhanmu; sedang Malaikat berbaris-baris. Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, tidak akan berguna lagi mengingat itu baginya.” (Surah Al-Fajr : Ayat 19-23) Hukum memakan harta pusaka dilarang sama sekali dalam hadis tersebut. Daripada Abdullah bin Umar R.A. yang berkata secara langsung:

 

“Sesiapa yang mengambil tanah orang lain tanpa hak walaupun sedikitt dia pasti akan ditenggelamkan dengannya di hari kiamat sehingga ke tujuh lapis bumi.” (Hadis Riwayat Bukhari)

 

Hukum memakan harta pusaka membawa kepada balasan yang sangat dahsyat di dunia dan akhirat kelak.

 

Begitu juga dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Ya’la bin Murrah R.A. bahawa Rasulullah S.A.W. bersabda:

 

“Sesiapa yang menzalimi orang lain dengan mengambil tanahnya walau sejengkal nescaya Allah akan membuatkan dia menggali tanah tersebut.”

 

dan dalam riwayat yang lain menyebut:

 

” Tanah itu akan dihadirkan sebanyak tujuh lapis bumi yang dalam, lalu dibebankan kepadanya pada hari kiamat sehingga seluruh manusia diadili. “ (Hadis riwayat Tibrani)

 

Pada hari ini, orang yang menyangka kecerdikan menipu dan memperdayakan orang lain sebagai satu kemahiran yang dibanggakan. Kononnya ia dapat membawa keuntungan bagi duniawi namun mereka lupa bahawa yang tertipu dan terpedaya sebenarnya adalah diri mereka sendiri.

Fadhilat Solat Sunat Sebelum Fajar/ Subuh

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan sanadnya daripada Saiyidatina Aishah r.a., isteri Rasulullah SAW, bahawa Baginda telah bersabda: "Solat dua rakaat (sebelum) Solat Subuh itu lebih baik daripada dunia dan segala isi buminya".

Solat Qabliyah Subuh adalah solat sunat yang paling banyak pahala. Lebih baik daripada segala kebaikan isi dunia. Cuba bayangkan, harta, wang, pangkat jawatan, isteri , anak…semuanya tidak kekal. Yang dulu cantik lama-lama jadi tua, bongkok, berkedut dan tidak secantik masa muda. “Segala sesuatu akan binasa,”(Surah al-Qashash ayat 88).

Segala dunia dan isinya tidak lebih baik dari solat sunat fajar ini. Dalam situasi apa pun , jangan tinggalkan solat sunat Subuh ini kerana Rasulullah sendiri memesan dalam situasi apa pun sama ada dalam perjalanan ataupun dalam pertempuran, jangan tinggalkan solat sunat Subuh.

Solat Subuh juga dapat menjadi penerang pada Hari Kiamat seperti yang dinyatakan oleh Rasulullah, “Berilah khabar gembira bagi orang yang berjalan dalam kegelapan menuju masjid dengan cahaya yang terang benderang pertolongan pada Hari Kiamat” (Hadis Riwayat Abu Daud, Tirmizi dan Ibnu Majah).

Waktunya

Diriwayatkan hadith dari Nafi’ hadith dari Ibni Omar (r.a) bahawasanya Hafsah, menceritakan kepadanya bahawasanya Rasulullah (S.A.W) ada dia ketika diam tukang azan (yakni, muazin) sudah selesai membaca azannya untuk solat Subuh dan telah jelas nampak fajr Subuh, baginda solat dua rakaat solat sunat yang ringkas (atau diringkaskan) sebelum mendirikan solat Subuh).) [Hadith Muslim]

Nota: Solat sunat 2 rakaat sebelum Solat Subuh (solat rawatib) itu dikerjakan secara ringkas, yakni tidaklah membaca surah-surah yang panjang, memadai surah-surah pendek supaya segera selesai. Namun ketertibannya dijaga, seperti cukup tamakninahnya dalam setiap rukunnya.]

Sentiasa Diperhatikan Supaya Tidak Tetinggal

Diriwayatkan hadith dari Ubaidi b. Umairin, hadith dari Aisyah (r.ah) bahawasanya Nabi (S.A.W) tidak ada atas sesuatu dari solat sunat yang lebih tersangat menjaga darinya (oleh Rasulullah (S.A.W)) atas dua rakaat sebelum solat Subuh.’ [Hadith Muslim]

[Nota: Hadith ini menyebutkan bahawa Rasulallah (S.A.W) sangat menjaga solat sunat 2 rakaat sebelum Solat Subuh ini – tidak diremehkan atau ditinggalkannya. Ini menunjukkan betapa utamanya solat sunat rawatib ini.]

Pahalanya

Diriwayatkan hadith dari Qatadah hadith dari Zurarah b Aufa hadith dari Said b Hisyam hadith dari Aisyah hadith dari Nabi (S.A.W) yang bersabda: ‘Rak’atal fajri khairun minad-dunya wa-ma fiha.’ (Yang bermaksud: Dua rakaat solat (sunat) sebelum Solat Fajr (ie. Subuh) itu lebih baik dari (nilainya dari nilai) dunia dan seisinya.) [Hadith Muslim, Kitab Solat]

[Nota: Jelaslah mengapa dalam hadith sebelum ini Aisyah (r.a) memberitahu bahawa Rasulullah (S.A.W) dalam hayatnya sentiasa memastikan bahawa dia tidak terlupa atau tertinggal mengerjakan solat (sunat) 2 rakaat sebelum Solat Subuh ini. Kerana pahala mengerjakannya hanya rakaat lebih utama pada Allah (S.W.T) dari nilai dunia dan segala yang ada di permukaaan dan di dalam perut dunia. Rugilah orang yang tahu (atau, diberitahu) begitu besar ganjaran pahalanya, tidak mengerjakannya. Bersolat setakat 3 minit dapat ganjaran dividen akhirat yang amat besar!]

"Sahaja aku menunaikan solat sunat sebelum (Zuhur/Asar/Isyak/Subuh) dua raka’at, kerana Allah Ta’ala."

Surah-surahnya

Diriwayatkan oleh Marwan b ibnu Mua’wiyah hadith dari Yazid, iaitu Ibnu Kasyana hadith dari Abi Hazim hadith dari Abi Hurairah bahawasanya Rasulullah (S.A.W) membaca di dalam dua rakaat (solat sebelum) Fajr (Subuh) dengan (surah) ‘Qul ya aiyuhalla kafiruna’ (Surah al-Kafirun) dan ‘Qu huallahu ahad’ (Surah al-Ikhlas). [Hadith Muslim, Kitab Solat]

[Nota: Jelaslah dalam hadith ini ada surah yang khusus untuk solat sunat 2 rakaat sebelum Solat Subuh – Surah al-Kafirun (pada rakaat pertama) dan Surah al-Ikhlas (pada rakaat ke-2). Hadith ini bukanlah mentapkan bahawa hanya dua surah ini sahaja dibaca dan tidak boleh surah-surah lain, tapi, kalau kita baca dua surah sedemikian ini, kita mencontohi Rasulullah (S.A.W), maka pasti mendapat pahala sunahnya, selain pahala mengerjakannya.]

p/s : Jika solat sunat sebelum fajar ini menjadi rutin, kita akan berasa janggal sekiranya tertinggal disebabkan bangun lewat untuk mengerjakannya. Solusinya, boleh qada' solat sunat subuh ini selepas mengerjakan selepas solat subuh.

Keberkahan Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW !!!

Isnin, 10 Oktober 2022

Hadis mengenai Sholawat Kepada Nabi Muhammad SAW

 

Shalawat kepada Nabi adalah salah satu bentuk ibadat yang besar. Apabila kita menzahirkan rasa syukur kepada Nabi dengan berdoa kepadanya, berjuta-juta malaikat juga berdoa untuk kita. Pada suatu hari, Rasulullah SAW datang dengan wajah berseri dan berkata:

"Malaikat Gabriel datang kepada saya dan berkata, 'Sangat menyenangkan bagi anda untuk mengetahui, wahai Muhammad bahawa untuk satu Shalawat salah seorang daripada umatmu, saya akan mengimbangi dengan sepuluh doa untuknya dan sepuluh salam untuk saya, saya akan membalas dengan sepuluh salam untuknya. '" ( HR. An-Nasa'i).

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda,

"Jika seseorang melawan saya, maka malaikat juga akan berdoa untuk keselamatan baginya, yang berjuang, sama ada sedikit atau banyak." ( HR. Ibn Majah dan Thabrani).

Berdasarkan hadis-hadis sejarah ini, dapat dilihat bahawa membaca shalawat ke atas Nabi mempunyai banyak faedah dan kebaikan. Berikut adalah ulasan penuh:

1. Diutamakan pada Hari Kiamat

Ini selaras dengan firman Nabi Muhammad SAW, iaitu:

"Sesungguhnya yang paling utama bagi saya lelaki esok pada penghujung hari, adalah orang-orang yang membaca lebih banyak shalawat kepada saya." (HR. Turmudzi of Ibn' Mas'ud Ra)

2. Mempelawa Kedatangan Hadiah dan Nikmat daripada Allah Yang Maha Kuasa

Doa dan doa mempunyai pengaruh yang besar dalam menjemput kedatangan hadiah dan nikmat Allah Yang Maha Kuasa. Shalawat adalah doa. Dengan berjuang, kita secara tidak langsung telah menjemput kedatangan hadiah dan nikmat daripada Tuhan, Pemberi Nikmat.

3. Mendapat Kebanggaan Rasulullah SAW berpuas hati dengan shalawat, sebagaimana firman baginda:

"Sesungguhnya saya bangga dengan anda kepada orang lain."

Sebagai orang yang bangga, kita harus mencintainya, sentiasa mengatakan namanya dan berjuang untuknya.

4. Mendekatkan diri dengan Allah Yang Maha Kuasa

Suatu ketika dahulu, sebagaimana yang diturunkan oleh Allah Yang Maha Kuasa kepada Rasulullah SAW, Allah telah diamanahkan kepada Nabi Musa sebagai :

"Wahai Musa, adakah kamu berharap agar aku lebih dekat denganmu daripada keakraban ucapan kepada lidahmu, daripada bisikan hatimu dari hatimu sendiri, daripada rohmu kepada tubuhmu dan daripada cahaya matamu ke matamu?"

Musa sebagai. Menjawab:

"Ya, Wahai Tuhanku." Lalu Allah berfirman: "Maka berlipat ganda membacakan shalawat kepada Rasulullah SAW."

5. Diangkat UntukNya Sepuluh Darjah dan Dikeluarkan DaripadaNya Sepuluh Maksiat

Abas bin Malik berkata, telah berkata kepada Rasulullah SAW :

"Sesiapa yang melawan saya sekali, sudah pasti Allah akan melawannya sepuluh kali dan dikeluarkan daripadanya sepuluh perintah, diangkat untuknya sepuluh darjah." (HR. An-Nasa'I no. 1296)

6. Shalawat menjanjikan tempat pulangan terbaik bagi mereka yang mengamalkannya dan memberi kejayaan dengan ganjaran yang banyak.

7. Shalawat adalah amal yang paling mudah diberikan, menjadikan keadaan hati bersih, dan melalui shalawat barokah-barokah diturunkan dan doa diberikan.

8. Dengan shalawat seseorang itu boleh mencapai kesanggupan Allah Yang Maha Kuasa.

9. Dengan shalawat seseorang mendapat kebahagiaan dan kepuasan, diampunkan dosa-dosanya, dan dapat membaca tangga ke tahap tertinggi.

10. Dalam sebuah hadis diriwayatkan bahawa shalawat boleh menyamai ganjaran beribadah kepada hamba yang bebas.

11. Orang yang sentiasa melipatgandakan bacaan shalawat bagi Nabi akan menerima pahala yang paling besar, iaitu, Nabi akan hadir di sisinya ketika menghadapi korban kematian.

12. Shalawat boleh membawa masuk ramai isteri dan istana di syurga.

13. Sesetengah shalawat mempunyai faedah istimewa dalam setiap bacaan mereka. Seperti shalawat Munjiyat, shalawat ini berguna untuk menentang semua jenis bencana dan memenuhi semua jenis perayaan yang agak besar dan bahkan mendesak, tentu saja, dengan cara tertentu.

14. Melanggar perbuatan orang munafik dan kafir.

15. Allah Yang Maha Kuasa telah memerintahkan dan mendorong kita untuk berjuang atas Nabi, dengan kehormatan dan penghargaan kepada-Nya.

Begitu istimewalah kedudukan Nabi Muhammad SAW, bahawa sesiapa yang membaca dan mengamalkan shalawat di atasnya akan diberi manfaat yang boleh membawa kita kepada garis kebaikan. Semoga manfaat membaca shalawat ini dapat menjadikan kita, individu yang lebih dekat dengan Rasulullah SAW khususnya kepada Allah Yang Maha Esa.

Bacaan Shalawat Memang terdapat pelbagai jenis nabi Shalawat, antaranya ialah Shalawat iaitu disyari'atkan. Shalawat ini merupakan shalawat yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada sahabat-sahabatnya. Antara bentuk shalawat yang diajar oleh Nabi Muhammad SAW ialah:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى (إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى) آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ (فِي رِوَايَةٍ: وَ بَارِكْ) عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى (إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى) آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

(Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad, kamaa shallaita 'ala Ibrahim wa 'ala aali Ibrahim, innaKa Hamidum Majid. Allahumma barik (dalam satu akaun, wa barik, tanpa Allahumma) 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad, kama barakta 'ala Ibrahim wa 'ala ali Ibrahim, innaKa Hamiidum Majid).

Oh tuhan. Berikan (iaitu, tambah) shalawat (syirik) kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad SAW, kerana Engkau telah memberikan shalawat kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Art Paling Terpuji (sekali lagi) Maha Gemilang. Oh tuhan. Berikan rahmat (kebaikan tambahan) kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, kerana Engkau telah memberi rahmat kepada Ibrahim dan keluarga Abraham, sesungguhnya Engkau Paling Terpuji (sekali lagi) Maha Mulia. " (HR. Bukhari, umat Islam dan lain-lain. Lihat Shifat Shalat Nabi, ms. 165-166, Karya Al-Albani, Maktabah Al-Ma'arif).

Rabu, 14 September 2022

Fadhilat Membaca Al-Quran

 



1. Al-Quran sebagai Syafaat di akhirat kelak

Abu Umamah r.a meriwayatkan bahawa beliau mendengar Rasulullah s.a.w bersabda, "Bacalah Al-Quran sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafaat kepada pembacanya." Hadis Riwayat Muslim

2. Al-Quran sebagai Pembela

Nawwas Bin Sam’an r.a telah meriwayatkan bahawa beliau mendengar Rasulullah s.a.w bersabda, "Pada hari akhirat kelak akan didatangkan Al-Quran dan orang yang membaca dan mengamalkan isi kandungannya, didahului dengan Surah Al-Baqarah dan Surah A-li'Imraan, kedua-dua surah ini menghujah (mempertahankan) orang yang membaca dan mengamalkannya." Hadis Riwayat Muslim

3. Orang yang belajar Dan mengajar Al-Quran Adalah sebaik-baik Amalan Uthman Bin ‘Affan r.a telah berkata Rasulullah s.a.w bersabda, "Sebaik manusia di antara kamu orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarnya kepada orang lain." Hadis Riwayat Bukhari

4. Dua pahala Bagi orang yang susah Menyebut dan Membaca Al-Quran

Aisyah r.a telah berkata Rasulullah s.a.w bersabda, "Orang yang membaca Al-Quran dan susah untuk menyebut ayatnya ia mendapat dua pahala." Hadis Riwayat Bukhari

5. Allah mengangkat Martabat Golongan pembaca Al-Quran Umar Bin Al-Khattab r.a berkata bahawa Nabi s.a.w bersabda, "Sesungguhnya Allah mengangkat martabat beberapa golongan dan merendahkan martabat yang lain dengan sebab Al-Quran." Hadis Riwayat Muslim

6. Membaca Al-Quran Mendapat ketenangan

Barra’ bin ‘Azib r.a telah meriwayatkan bahawa, seorang lelaki membaca Surah Al-Kahfi dan di sisinya seekor kuda yang diikat dengan dua tali, maka awan di langit mula melindunginya dan semakin hampir, dan kudanya mula menjauhinya. Apabila menjelang pagi beliau pergi berjumpa Nabi s.a.w dan menceritakan peristiwa tersebut maka baginda bersabda, "Itulah (sakinah) ketenangan yang turun disebabkan bacaan Al-Quran." Hadis Riwayat Bukhari

7. Membaca dan Memperelokkan bacaan Mendapat kebaikan

Abdullah Bin ‘Amru Bin Al-‘As r.a berkata bahawa Nabi s.a.w bersabda, "Satu masa nanti akan dikatakan kepada orang yang membaca Al-Quran, 'Bacalah, perbaikilah dan perelokkanlah bacaan Al-Quran sepertimana engkau memperelokkan urusan di dunia, sesungguhnya tempat engkau akan ditentukan di akhir ayat yang engkau bacakan'." Hadis Riwayat Abu Daud

8. Fasih membaca Al-Quran Lebih layak menjadi Imam solat berjemaah 

Ibnu Mas’ud r.a bahawa s.a.w bersabda, "Orang yang paling layak mengimami kaum di dalam solat ialah mereka yang terfasih membaca Al-Quran." Hadis Riwayat Muslim

9. Setiap satu huruf Membaca Al-Quran Mendapat sepuluh Ganjaran pahala

Ibnu Mas’ud r.a meriwayatkan bahawa Nabi s.a.w bersabda, "Barangsiapa yang membaca satu huruf daripada Al-Quran maka baginya satu kebaikan, satu kebaikan menyamai dengan sepuluh pahala, aku tidak bermaksud: Alif, Lam, Mim ialah satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf." Hadis Riwayat Tirmizi

10. Memperelokkan suara Dengan Al-Quran

Al-Bara’ bin ‘Aazib r.a berkata bahawa Rasulullah s.a.w bersabda, "Hiasilah Al-Quran dengan suara kalian." Hadis Riwayat Ibnu Majah

Ahad, 21 Ogos 2022

Berdoa dengan Al Asmaa ul Husna.

 


Apabila seorang hamba berdoa dengan menggunakan “Asmaa’ul Husna”, Allah SWT akan merasa senang hati untuk memakbulkan permintaan hamba-Nya itu. Maka janganlah kita lepaskan peluang yang baik ini. Kita boleh gunakan kesemua 99 nama Allah atau kita boleh memilih mana-mana nama Allah yang sesuai dengan doa yang akan diminta. 

Alhamdulillahi rabbil a’lamin, Allahuma solli a’la Muhammad wa a’laa aalihi wa ashaabihi ajamaiin.

Ya Allah! Dengan menadahkan tangan-tangan kami ini kepada-Mu, kami mengharapkan Rahmat-Mu; Sesungguhnya Rahmat-Mu adalah luas dan meluasi segala sesuatu.

Ya Allah! Kami beriman kepada-Mu, kewujudan-Mu dan Kebesaran-Mu; Dikaulah Yang Maha Agung dan Maha segala-galanya.

1. Ya Allah! Ya Rahman, Ya Rahim, Dikaulah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kasihanilah kami ya Allah, kami sangat-sangat mengharapkan belas kasihan daripada-Mu ya Allah. Sesungguhnya tidak ada yang dapat memberikan kasih sayang yang sebenarnya melainkan hanya Dikau. Segala kasih sayang yang pernah kami harapkan daripada selain-Mu, ternyata selalu menghampakan kami ya Allah.

2. Ya Allah! Ya Malik, Raja kepada segala raja, kepimpinan-Mu adalah yang terbaik dan akan membawa kepada kebaikan, tidak ada yang lebih baik kepimpinannya melainkan hanya Dikau. Kami redha menjadikan-Mu sebagai Pemimpin kami, yang lebih berhak dipatuhi daripada segala pemimpin yang lain.

3. Ya Allah! Ya Quddus, yang Maha Suci, Dikaulah Tuhan yang bersih daripada segala kelemahan, menyembuh dan mentaati hanya kepada-Mu tidak akan merugikan kami. Sesungguhnya segala pengharapan yang dicurahkan kepada selain Dikau selalu mengecewakan; Kami redha mempertuhankan Dikau Zat yang Maha suci.

4. Ya Allah! Ya Salam, yang Maha Selamat, berikanlah keselamatan kepada kami dan ahli keluarga kami. Peliharalah kami semua daripada segala macam kejahatan dan keburukan. Selamatkanlah kami dengan kebesaran nama-Mu ini daripada segala bencana dunia dan akhirat.

5. Ya Allah! Ya Mukmin, yang Maha Aman, amankanlah kami daripada segala yang kami takuti. Amankanlah ahli keluarga kami daripada segala sengketa, amankanlah kejiranan kami, amankanlah kawasan kami dan amankanlah negara kami daripada segala kejahatan dan keburukan. Kami sedar bahawa, tidak ada nikmat yang lebih baik daripada hidup dalam keadaan aman sentosa, rukun dan damai.

6. Ya Allah! Ya Muhaimin, yang Maha Memelihara, peliharalah kami daripada segala yang tidak kami kehendaki. Peliharalah kami daripada segala yang keji, peliharalah kami daripada segala penyakit dan iri, peliharalah kami daripada hasad dan dengki. Sesungguhnya sesiapa yang dipelihara oleh-Mu akan selamatlah daripada segala yang tidak baik.

7. Ya Allah! Ya Aziz, yang Maha Mulia, Dikaulah yang termulia, agama-Mu adalah mulia, Nabi-Mu adalah mulia, kitab-Mu adalah mulia, maka masukkanlah kami di kalangan yang mulia.

8. Ya Allah! Ya Jabbar, yang Maha Perkasa bantulah kami yang lemah ini, mengatasi segala muslihat mereka yang memusuhi kami. Berikanlah kekuatan-Mu kepada kami.

9. Ya Allah! Ya Mutakabbir, yang Maha Megah, Dikaulah berhak untuk memiliki sifat ini, kerana tidak ada yang lebih hebat daripada Dikau, maka jauhkanlah kami daripada sifat bermegah-megah hingga menyebabkan kami berhak menerima kemurkaan-Mu.

10. Ya Allah! Ya Khaliq, yang Maha Pencipta, ciptakanlah untuk kami yang terbaik, ciptakanlah zuriat yang baik untuk kami, kami mahukan seorang anak lelaki/perempuan atau cukuplah sudah anak-anak yang telah Dikau berikan kepada kami. (mintalah mengikut apa yang kita perlukan). Ciptakanlah kesempurnaan pada diri kami.

11. Ya Allah! Ya Bari’, Yang Maha Pembuat, buatkanlah untuk kami apa sahaja yang baik untuk kami dunia dan akhirat dan jauhkan daripada kami segala apa yang akan membinasakan kami.

12. Ya Allah! Ya Mushawwir, yang Maha Pembentuk, bentuklah untuk kami apa yang kami kehendaki, bentuklah untuk kami zuriat lelaki/perempuan, kembalikanlah kesempurnaan kami, hanya Dikau sahaja yang berkuasa untuk membentuk dan mengubah segala bentuk.

13. Ya Allah! Ya Ghaffar, kami meminta keampunan-Mu, ampunilah kami ya Allah, seandainya Dikau tidak mengampunkan kami, pastilah kami akan sengsara dunia dan akhirat.

14. Ya Allah! Ya Qahhaar, yang Maha Pemaksa, kasihanilah kami, dan jangan Dikau paksa kami melakukan sesuatu yang kami tidak mampu melakukannya, janganlah Dikau paksakan kepada kami ujian yang terlalu berat untuk kami, sebaliknya Dikau paksalah mereka, fulan bin fulan (sebut nama-nama) atau sesiapa sahaja untuk menerima kami dan apa-apa daripada kami. Dikaulah maha segala-galanya, dan paksakanlah musuh-musuh kami untuk melakukan sesuatu yang baik untuk kami.

15. Ya Allah! Ya Wahhab, wahai Tuhan yang Maha Pemberi, berikanlah kepada kami apa sahaja yang kami perlukan, (sebutkan apa yang diperlukan), sesungguhnya apa yang Dikau berikan, tidak ada siapa yang dapat menghalang, dan apa sahaja yang tidak Dikau berikan, tidak ada siapa yang dapat memberinya.

16. Ya Allah! Ya Razzaq, wahai Tuhan yang Maha Pemberi Rezeki, berikanlah kepada kami rezeki-Mu yang banyak, cukukanlah keperluan kami, cukupkanlah keperluan anak-anak kami, cukupkanlah keperluan ahli keluarga kami, janganlah sampai kami terpaksa meminta-minta akibat daripada kekurangan rezeki.

17. Ya Allah! Ya Fattaah, wahai Tuhan yang Maha Pembuka, bukakanlah untuk kami kejayaan dalam apa jua usaha kami, bukakanlah pintu kefahaman kami, bukakanlah segala kesusahan dan kesukaran kami.

18. Ya Allah! Ya A’liim, wahai Tuhan yang Maha Mengetahui, Dikau mengetahui sesuatu yang kami tidak ketahui, Dikau ketahui apa yang ada di dalam hati-hati hamba-hamba-Mu, berikanlah kepada kami apa yang Dikau ketahui baik untuk kami dunia dan akhirat, jauhkanlah dari kami apa-apa yang Dikau ketahui tidak baik untuk kami dunia dan juga akhirat.

19. Ya Allah! Ya Qaabidh, wahai Tuhan yang Maha Pencabut, cabutlah segala keburukan yang ada pada kami, dan janganlah Dikau cabut nikmat yang Dikau telah berikan kepada kami lantaran daripada kelalaian dan kesilapan kami, sesungguhnya akan binasalah kami tanpa nikmat daripada-Mu. Sebaliknya Dikau cabutkan sahaja kekuasaan yang ada pada musuh kami .

20. Ya Allah! Ya Baasith, wahai Tuhan yang Maha Meluas, kuasa-Mu adalah luas, nikmat-Mu adalah luas, Rahmat-mu adalah luas, segala-gala kepunyaan-Mu adalah luas, luaskan Rahmat-Mu kepada kami, luaskan pemberian-Mu kepada kami, luaskanlah pemeliharaan-Mu kepada kami.

21. Ya Allah! Ya Khaafidh, wahai Tuhan yang Maha Menjatuhkan, Dikau akan menjatuhkan siapa yang Dikau kehendaki, maka jatuhkan mereka yang memusuhi kami, jatuhkanlah mereka yang berniat mengkhianati kami, Dikaulah maha segala-galanya dan kami tidak ada kuasa dan upaya.

22. Ya Allah! Ya Rafi’, wahai Tuhan yang Maha Mengangkat, angkatlah darjat kami disisi-Mu, angkatlah darjat kami di dunia dan juga di akirat. Angkatlah darjat kami di sisi mereka yang menghina kami.

23. Ya Allah! Ya Mu’iz, wahai Tuhan yang Maha Memuliakan, Dikau memuliakan sesiapa yang Dikau kehendaki, maka muliakanlah kami di dunia dan akhirat, muliakanlah kami di sisi mereka yang memandang rendah kepada kami. Kalau tidak kepada-Mu, kepada siap lagi hendak kami berserah diri.

24. Ya Allah! Ya Mudzil, wahai Tuhan yang Maha Penghina, tidak akan mulia orang yang Dikau hina dan tidak akan hina orang yang Dikau muliakan, maka kepada Dikaulah tempat kami menaruh pengharapan kami; Sesungguhnya Dikau tidak akan mensia-siakan kami, janganlah Dikau masukkan kami di kalangan mereka yang hina.

25. Ya Allah! Ya Sami’, wahai Tuhan yang Maha Mendengar, dengarkan segala rintihan kami, dengarlah segala doa dan permintaan kami, janganlah Dikau palingkan diri-Mu daripada kami, lantaran daripada kederhakaan kami, ampunilah kami.

26. Ya Allah! Ya Basir, wahai Tuhan Maha melihat, Dikau melihat siang dan malam, Dikau melihat gelap dan terang, kepada-Mulah kami menyerahkan diri kami, kami lemah tanpa penglihatan-Mu, Dikau dengarkanlah untuk kami apa yang baik untuk kami, Dikau lihatkan untuk kami apa sahaja yang baik untuk kami, siang dan malam, gelap dan terang.

27. Ya Allah! Ya Hakam, wahai Tuhan yang Maha Penentu Hukum, segala hukum-hukum-Mu adalah yang paling adil, hukumkan yang baik untuk kami, dan hukumkanlah yang sebaliknya untuk mereka yang berniat jahat kepada kami. Dikaulah yang Maha Menghukum, dan hukuman-mu adalah dahsyat, jauhkanlah kami daripada mendapatkan hukuman yang buruk daripada-Mu.

28. Ya Allah! Ya A’dl, wahai Tuhan yang Maha Adil, tidak ada yang lebih Adil daripada-Mu, kepada Keadilan-Mu kami beriman, jadikanlah kami orang yang adil, jadikanlah kami ibu/bapa yang adil, jadikanlah kami di kalangan mereka yang sentiasa bersikap adil.

29. Ya Allah! Ya Latif, wahai Tuhan yang Maha Lembut, lembutkanlah kami, lembutkanlah hati kami, lembutkanlah hati fulan bin fulan (sebutkan nama) terhadap kami.

30. Ya Allah! Ya Khabir, wahai Tuhan yang Maha Berwaspada, kewaspadaan-Mu mencakupi segala perkara, peliharalah kami daripada segala mala petaka.

31. Ya Allah! Ya Halim, wahai Tuhan yang Maha Penyantun, layanilah kami dengan kesantunan-Mu, kami berlindung diri dengan-Mu daripada segala kekerasan-Mu.

32. Ya Allah! Ya A’zim, wahai Tuhan yang Maha Agung, Dikaulah yang paling agung, tidak ada yang lebih agung daripada-Mu, bantulah kami daripada segala pemimpin dan penguasa yang zalim, Dikaulah maha segala-galanya.

33. Ya Allah! Ya Ghafur, wahai Tuhan yang Maha Pengampun, ampunkanlah segala kesalahan dan kesilapan kami, tukarkan kejahatan kami yang lalu dengan kebaikan. Hapuskanlah segala dosa-dosa kami, Kami berharap agar dapat mati dengan keadaan tiada dosa ya Allah, sesungguhnya azab-Mu menanti mereka yang berdosa.

34. Ya Allah! Ya Syakur, wahai Tuhan yang Maha Menghargai segala amalan kebaikan hamba-Nya, tatkala manusia tidak menghargai segala usaha kebaikan kami kepada mereka, maka Dikau hargailah segala kebaikan amalan kami, Dikaulah yang mengetahui akan kesungguhan kami, janganlah Dikau sia-siakan segala amalan kami, kami sedar amalan kami terlalu banyak cacat dan kekurangannya, maka dengan nama-Mu ini kami bermohon semoga Dikau terima segala amalan-amalan kami.

35. Ya Allah! Ya A’liy, wahai Tuhan Maha Tinggi, tiada yang lebih tinggi kedudukannya melainkan hanya Dikau, maka tinggikanlah juga kami dalam penghidupan ini dan janganlah Dikau merendahkan kami.

36. Ya Allah! Ya Kabir, wahai Tuhan yang Maha Besar, tiada yang memiliki kebesaran selain Dikau, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang akan sentiasa membesarkan-Mu, janganlah Dikau jadikan kami di kalangan mereka yang membesarkan penghidupan dunia, membesarkan harta, membesarkan kedudukan dan pangkat, membesarkan manusia. Kami sedar sikap sedemikian hanya akan menyebabkan Dikau murka, maka jauhkanlah kami daripada segala yang menyebabkan kemurkaan-Mu.

37. Ya Allah! Ya Hafiz, wahai Tuhan yang Maha Memelihara, peliharalah kami semua, peliharalah anak-anak kami daripada segala bencana keburukan, peliharalah kesemua ahli keluarga dan mereka yang kami sayangi daripada segala yang tidak diingini, bencana, wabak, penyakit, kemiskinan, perangai dan lain-lain keburukan.

38. Ya Allah! Ya Muqith, wahai Tuhan yang Maha Menepati Waktu, tiada yang lebih daripada-Mu, setiap ciptaan-Mu telah Dikau berikan tempoh dan masa, berikanlah kami waktu yang membolehkan kami berbakti kepada-Mu, sebaliknya Dikau matikan kami bilamana Dikau ketahui dengan waktu itu kami hanya akan menjauhi-Mu.

39. Ya Allah! Ya Hasib, wahai Tuhan yang Maha Penghitung, tiada siapa yang lebih tepat dan cepat menghitung daripada-Mu, dengan keimanan kami terhadap nama dan sifat-Mu ini, maka berilah perhitungan yang baik kepada amalan baik kami dan janganlah Dikau ambil kira keburukan dan kejahatan kami, ampunkanlah segala kesalahan kami yang lalu.

40. Ya Allah! Ya Jalil, wahai Tuhan yang memiliki sifat Keagungan, tiada yang lebih agung daripada-Mu, terimalah pengakuan ikhlas kami ini dan tetapkanlah kami dalam keimanan ini, bahawa tiada yang lebih agung dalam kehidupan kami melainkan Dikau.

41. Ya Allah! Ya Karim, wahai Tuhan yang Maha Mulia, tiada yang lebih mulia daripada-Mu, maka muliakan kami yang beriman kepada kemuliaan-Mu, hinakanlah mereka yang tidak beriman kepada kemuliaan-Mu.

42. Ya Allah! Ya Raqib, wahai Tuhan yang Maha mengawas, pengawasan-Mu mencakupi setiap pelusuk alam ini, tiada satu pun yang terluput daripada pemerhatian-Mu, maka berikanlah pengawasan-Mu kepada kami, perhatikanlah anak-anak kami, ahli keluarga kami, harta benda kami semasa ketiadaan kami.

43. Ya Allah! Ya Mujib, wahai Tuhan yang Maha Memperkenankandoa, perkenanlah segala permintaan kami, janganlah Dikau biarkan tangan-tangan yang menadah ini dalam keadaan kosong dan sia-sia, kasihanilah kami, cukupkanlah segala keperluan kami, jauhkan kami daripada keterpaksaan meminta dan mengemis, hanya kepada-Mulah tempat kami meminta.

44. Ya Allah! Ya Wasi’, wahai Tuhan yang Maha Luas, kurniaan-Mu adalah luas, Rahmat-Mu juga adalah luas, maka luaskanlah kurniaan dan rahmat-Mu kepada kami.

45. Ya Allah! Ya Hakim, wahai Tuhan yang Maha Bijaksana, tiada yang lebih bijak daripada-Mu, kebijaksanaan-Mu meliputi ciptaan-Mu dan segala hukum penetapan-Mu, maka dengan keimanan kami terhadap kebijaksanaan_mu ini, berikanlah kebaikan daripadanya jadikanlah kami di kalangan mereka yang sentiasa menyanjungi ciptaandari hukum-hukum-Mu, termasuk juga hukum syariat-Mu, janganlah Dikau jadikan hati dan pemikiran kami meremehkan hokum-hukum-Mu.

46. Ya Allah! Ya Waduud, Dikaulah Tuhan yang Maha Menyintai, cinta-Mu adalah hakiki, cinta-Mu adalah sejati, maka cintailah kami, teruskan menyintai kami dan jadikanlah kami di kalangan hamba-Mu yang menyintai-Mu, menyintai Nabi utusan-Mu, menyintai kitab-Mu, meyintai agama-Mu dan menyintai segala orang yang Dikau cintai. Jadikanlah harti kami benci kepada segala yang Dikau benci.

47. Ya Allah! Ya Majiid, Dikaulah yang Maha Pemurah, murahkanlah kurniaan-Mu kepada kami, murahkan rezeki-Mu kepada kami.

48. Ya Allah! Ya Baa’ith, Tuhan yang Membangkitkan, kami beriman bahawasanya Dikau akan bangkitkan kami sesudah mati nanti, bangkitkanlah kami dalam kebaikan dan bersama orang-orang yang baik, bangkitkanlah kami untuk mendapatkan kebaikan, kemuliaan dan keindahan syurga-Mu. Janganlah Dikau bangkitkan kami dalam keadaan dosa yang tidak terampun, ingatkanlah kami kepada hari pembangkitan-Mu, janganlah Dikau lalaikan kami daripadanya.

Ya Allah! Ya Tuhan kami, dengan menggunakan sebahagian daripada nama-nama-Mu yang baik ini, kabulkanlah permintaan kami. Dikau telah menjanjikan akan mengkabulkan permintaan mereka yang berdoa dengan menggunakan nama-nama-Mu. Kabulkanlah permintaan kami ya Allah, janganlah Dikau sia-siakan doa kami ini.

Kami beriman kepada-Mu, beriman kepada nama-nama-Mu, dan beriman kepada sifat-sifat-Mu yang agung. Tiada Tuhan melainkan hanya Dikau, tiada yang berkuasa melainkan hanya Dikau.

Wa solallaahu a’laa nabiyyikal karim wa a’laa aalihi wasohbihi ajmain, wal hamdulillahi rabbil a’lamin.

 

Selasa, 25 Januari 2022

PENYAKIT BILA SUDAH TUA


ORANG YANG DIBENCI ALLAH

Orang yang mencela orang lain, ia tidak akan mati sebelum ia mengalami keadaan sebagaimana orang yang dicela.

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ أَبِي يَزِيدَ الْهَمْدَانِيُّ عَنْ ثَوْرِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ عَيَّرَ أَخَاهُ بِذَنْبٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَعْمَلَهُ.(رواه الترمذي|كتاب صفاة القيامة:2429)

Dari Khalid bin Ma’dan dari Mu’ad bin Jabal ia berkata: Rasulullah SAW bersabda,”Barangsiapa yang mencela saudaranya karena suatu dosa, maka dia belum mati sehingga dia berbuat dosa seperti saudaranya itu.”(HR. At Tirmidzi, kitab shifat al qiyamah, 2429)

Keterangan:

Hadits di atas menurut At Tirmidzi adalah ghorib, karena sanadnya tidak muttashil (sambung). Menurut Ibnu Hajar At Tirmidzi seakan menilainya hasan karena banyaknya hadits senada yang menguatkannya. Sehingga hadits tersebut tidak dapat dilemahkan karena tidak bersambungnya sanad tersebut. Menurut beliau Kholid bin Ma’dan meriwayatkan dari banyak orang dari sahabat-sahabat Mu’adz (dan mereka) dari Mu’adz. Wallahu a’lam.

Hadits di atas melarang mencela atau membicarakan aib orang lain kecuali karena beberapa sebab yang dibenarkan secara syar’i, sebagaimana yang telah dijelaskan pada bab ghibah.

  1. 2.      Termasuk orang yang dikutuk Allah, orang yang berdusta dengan tujuan supaya ditertawakan oleh orang lain (karena dinilai lucu, humoris)

عَنْ بَهْزِ بْنِ حَكِيمٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ .(رواه أبو داود|كتاب الأدب:4338)

Dari Bahzi ibni hakiim, ia berkata: Telah bercerita bapakku dari kakek, beliau berkata: aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda,”Celakalah bagi orang yang berbicara tetapi berdusta untuk menjadikan orang tertawa karenanya. Celaka baginya, dan celaka baginya.”(HR. Ahmad, kitab al-adab, 4338)

Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh At Tirmidzi, Ahmad dan Ad Darimi dengan matan (isi) hadits yang sama.

Setiap orang hendaklah menjauhi ini, walaupun mungkin dengan perilaku itu ia mendapatkan keuntungan yang besar di dunia. Bahkan tidak jarang dianggap sebagai sedekah, karena dapat menjadikan orang senyum, tertawa, dan bahagia.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا.(رواه البخاري|كتاب البر والصلة:4721)

Dari Abdillah ia berkata: Rasulullah SAW bersabda,”Hendaklah kalian senantiasa bersikap jujur, karena kejujuran kepada kebajikan, dan kebajikan memimpin kepada surga. Dan hendaklah seseorang selalu berlaku jujur/benar dan ia selalu memilih kejujuran /kebenaran itu sehingga di sisi Allah ditulis sebagai orang yang sangat jujur/jujur. Dan jauhilah dusta, karena dusta memimpin kepada kejahatan, dan kejahatan memimpin kepada neraka. Dan senantiasa seseorang berdusta dan memilih kedustaan sehingga dia dicatat di sisi Allah orang yang sangat dusta.”(HR. Bukhari, kitab albirr wa ashshilah, 4721)

عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ يَزِيدَ أَنَّهَا سَمِعَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ يَقُولُ أَيُّهَا النَّاسُ….كُلُّ الْكَذِبِ يُكْتَبُ عَلَى ابْنِ آدَمَ إِلاَّ ثَلاَثَ خِصَالٍ رَجُلٌ كَذَبَ عَلَى امْرَأَتِهِ لِيُرْضِيَهَا أَوْ رَجُلٌ كَذَبَ فِي خَدِيعَةِ حَرْبٍ أَوْ رَجُلٌ كَذَبَ بَيْنَ امْرَأَيْنِ مُسْلِمَيْنِ لِيُصْلِحَ بَيْنَهُمَا.(رواه أحمد|مسند القبائل:26289)

Dari Asma’ binti Yazid bahwasannya ia mendengar Rasulullah SAW khutbah, beliau bersabda,”Hai sekalian manusia,… Setiap dusta dicatat dosa atas anak Adam (manusia) kecuali pada tiga perkara, yaitu (1) seorang laki-laki yang berdusta kepada istrinya untuk menyenangkan hatinya, (2) seorang yang berdusta dalam peperangan, (3) orang yang berdusta di antara dua orang muslim untuk mendamaikan keduanya.”(HR. Ahmad, musnad al-qobail, 26.289)

  1. 3.      Permusuhan adalah perbuatan yang dibenci Allah ‘azza wajalla.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهَا عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ اْلأَلَدُّ الْخَصِمُ.(رواه البخاري|كتاب المظالم والغضب:2277)

Dari Aisyah RA dari Nabi SAW, beliau bersabda,”Orang yang paling dibenci oleh Allah adalah orang yang paling membantah atau paling memusuhi.“(HR. Bukhari, kitab almadholim wal ghadlab, 2277)

Alkhosimu adalah sangat bermusuhan, yang selalu berusaha mengalahkan musuhnya. Orang yang berusaha mengalahkan lawan-lawannya dengan memperhatikan segi kelemahan lawan pada beberapa bagian pembicaraannya.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ …وَمَنْ خَاصَمَ فِي بَاطِلٍ وَهُوَ يَعْلَمُهُ لَمْ يَزَلْ فِي سَخَطِ اللَّهِ حَتَّى يَنْزِعَ عَنْهُ.(رواه أبو داود|كتاب الأقضية:3123)

Dari Abdillah bin Umar ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW  bersabda,”Barangsiapa yang mendebat lawan di dalam kebatilan (dalam rasa permusuhan dengan tanpa ilmu) padahal ia mengetahunya, maka senantiasa ia di dalam kemurkaan Allah, sehingga dia mencabut kembali perdebatannya.”(HR. Abu Dawud, kitab al aqdliyah, 3123)

Hadits di atas dengan matan yang lengkap termaktub pada Ibnu Majah dalam kitab al-ahkam, Imam Ahmad dalam musnad Al muktsirin, Ad Darimi dalam kitab wuquutis shalah.

Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras.(QS. Al Baqarah (2):204)

Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), Maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!(QS. Yasin (36):77)

  1. 4.      Haram mendengarkan percakapan orang yang tidak senang didengar percakapannya.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يَسْتَمِعْ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ صُبَّ فِي أُذُنِهِ الْآنُكُ (رواه أحمد|مسند بني هشيم:2103)

Dari Ibnu Abbas RA ia berkata Rassulullah SAW bersabda,”Barangsiapa yang mendengarkan percakapan suatu kaum padahal mereka tidak senang kepadanya, maka akan dituangkan pada dua telinganya timah pada hari kiamat kelak.”(HR. Ahmad, Musnad Bani Hasyim, 2103)

Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab at-ta’bier. Sedang at Tirmidzi meriwayatkan dalam kitab allibas, dan hadits ini dinilai hasan shahih.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَوَّرَ صُورَةً عَذَّبَهُ اللَّهُ حَتَّى يَنْفُخَ فِيهَا يَعْنِي الرُّوحَ وَلَيْسَ بِنَافِخٍ فِيهَا وَمَنِ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ وَهُمْ يَفِرُّونَ بِهِ مِنْهُ صُبَّ فِي أُذُنِهِ الْآنُكُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.(رواه الترمذي|كتاب اللباس:1673)

Dari Ibnu Abbas ia berkata, Rasulullah SAW bersabda,”Barangsiapa yang menggambar suatu gambar (makhluk yang bernyawa) Allah akan mengadzabnya sehingga ia meniupkan ruh padanya, padahal ia tidak akan mampu meniupkannya. Dan barangsiapa yang mendengarkan percakapan suatu kaum padahal mereka tidak senang kepadanya, maka akan dituangkan pada dua telinganya timah pada hari kiamat kelak.”(HR. At Tirmidzi, kitab allibas, 1673)

Terkait dengan hadits di atas para ulama’ berpendapat sebagai berikut;

  1. a.       Abdil Barr : Tidak boleh bagi seseorang masuk pada dua orang yang sedang berbicara dalam keadaan pembicaraan keduanya itu.
  2. b.      Ibnu Hajar: Tidak boleh bagi orang yang masuk pada keduanya duduk di sisi keduanya, sekalipun jauh dari keduanya kecuali dengan seizin keduanya.

5. Orang yang sibuk mencari aib orang lain tidak disenangi Alloh.

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم طُوْبَى لِمَنْ شَغَلَهُ عَيْبُهُ عَنْ عُيُوْبِ النِّاسِ.(أخرجه البزار بإسناد حسن)

Dari Anas RA ia berkata: Rasulullah SAW bersabda,”Kebahagian bagi orang yang sibuk melihat cacatnya dari melihat cacat orang lain.”(HR. Al Bazzar dengan sanad yang baik)

Setiap orang mempunyai cacat, maka beruntunglah orang yang menyibukkan diri mencari cacatnya untuk berbenah diri dari pada sibuk mencari cacat atau aib orang lain. Kesibukan mencari cacat orang lain akan berlanjut pada menghinakan dan merendahkan orang lain.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.(QS. Al Hujurat (49):11)


Khamis, 20 Januari 2022

Hukum Bermusuhan Sesama Islam

1. Silaturahmi (menyambung hubungan kekeluargaan) dan haram memutuskannya.

Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk sehingga setelah selesai menciptakan mereka, bangkitlah rahim (hubungan kekeluargaan) berkata: Ini adalah tempat bagi orang berlindung (kepada-Mu) dengan tidak memutuskan tali silaturahmi. Allah menjawab: Ya. Apakah kamu senang kalau Aku menyambung orang yang menyambungmu, dan memutuskan orang yang memutuskanmu? Ia berkata: Tentu saja. Allah berfirman: Itulah milikmu. Kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Bacalah ayat berikut ini kalau kalian mau: Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan telinganya dan dibutakan matanya. Maka apakah mereka tidak memperhatikan Alquran ataukah hati mereka terkunci. (Shahih Muslim No.4634)

Hadis riwayat Aisyah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Rahim (tali persaudaraan) itu digantungkan pada arsy, ia berkata: Barang siapa yang menyambungku (berbuat baik kepada kerabat), maka Allah akan menyambungnya dan barang siapa yang memutuskan aku, maka Allah pun akan memutuskannya. (Shahih Muslim No.4635)

Hadis riwayat Jubair bin Muth`im Radhiyallahu’anhu: Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam. bahwa beliau bersabda: Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan kekeluargaan. (Shahih Muslim No.4636)

Hadis riwayat Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Barang siapa yang merasa senang bila dimudahkan rezekinya dan dipanjangkan usianya, maka hendaklah dia menyambung hubungan kekeluargaan (silaturahmi). (Shahih Muslim No.4638)

2. Pengharaman saling mendengki, saling membenci dan saling bermusuhan· 

Hadis riwayat Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu: Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Janganlah kamu saling membenci, saling mendengki dan saling bermusuhan, tetapi jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudaRadhiyallahu’anhu Tidak halal seorang muslim mendiamkan (tidak menyapa) saudaranya lebih dari tiga hari. (Shahih Muslim No.4641)

3. Haram mendiamkan lebih dari tiga hari tanpa alasan syara· 

Hadis riwayat Abu Ayyub Al-Anshari Radhiyallahu’anhu: Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Tidak halal seorang muslim mendiamkan (tidak mau menyapa) saudaranya lebih dari tiga malam di mana keduanya bertemu lalu yang ini berpaling dan yang itu berpaling. Yang terbaik di antara keduanya ialah orang yang memulai mengucapkan salam. (Shahih Muslim No.4643)

4. Haram berburuk sangka, mencari-cari aib orang lain, saling bersaing dalam kehidupan dunia, saling menjerumuskan dan sebagainya· 

Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu: Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Hindarilah oleh kamu sekalian berburuk sangka karena buruk sangka adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kamu sekalian saling memata-matai yang lain, janganlah saling mencari-cari aib yang lain, janganlah kamu saling bersaing (kemegahan dunia), janganlah kamu saling mendengki dan janganlah kamu saling membenci dan janganlah kamu saling bermusuhan tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudaRadhiyallahu’anhu (Shahih Muslim No.4646)

5. Haram berbuat zalim . Hadis riwayat Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu, ia berkata: 

Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Sesungguhnya kezaliman itu akan mendatangkan kegelapan-kegelapan pada hari kiamat kelak. (Shahih Muslim No.4676)

Hadis riwayat Ibnu Umar Radhiyallahu’anhu: Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Seorang muslim itu adalah saudara muslim lainnya, dia tidak boleh menzaliminya dan menghinakannya. Barang siapa yang membantu keperluan saudaranya, maka Allah akan memenuhi keperluannya. Barang siapa yang melapangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah akan melapangkan satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan hari kiamat nanti. Dan barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat. (Shahih Muslim No.4677)

Hadis riwayat Abu Musa Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung akan mengulur-ulur waktu bagi orang yang zalim. Tetapi ketika Allah akan menyiksanya, maka Dia tidak akan melepaskannya. Kemudian beliau membaca firman Allah: Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras. (Shahih Muslim No.4680)

6. Menolong saudara muslim yang zalim dan yang dizalimi

Hadis riwayat Jabir bin Abdullah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Dua orang pemuda, yang satu dari golongan Muhajirin dan yang lain dari kaum Ansar, saling berbaku-hantam. Seorang dari kaum Muhajirin berteriak: Wahai kaum Muhajirin! Dan seorang dari Ansar juga berteriak: Wahai orang-orang Ansar! Kemudian keluarlah Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. dan berkata: Ada apa ini? Kenapa harus berteriak dengan seruan jahiliah? Mereka menjawab: Tidak ada apa-apa wahai Rasulullah! Kecuali ada dua pemuda yang berkelahi sehingga seorang dari keduanya memukul tengkuk yang lain. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Kalau demikian, tidak apa-apa! Tapi hendaklah seseorang itu menolong saudaranya yang lain baik yang zalim maupun yang dizalimi. Kalau ia berbuat kezaliman hendaklah dicegah karena begitulah cara memberikan pertolongan kepadanya dan apabila dizalimi maka hendaklah ia membelanya. (Shahih Muslim No.4681)

7. Saling kasih, saling menyayang dan saling membantu di antara orang-orang mukmin

Hadis riwayat Abu Musa Radhiyallahu’anhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Seorang mukmin terhadap mukmin yang lain adalah seperti sebuah bangunan di mana bagiannya saling menguatkan bagian yang lain. (Shahih Muslim No.4684)

Hadis riwayat Nukman bin Basyir Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayang dan saling cinta adalah seperti sebuah tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam. (Shahih Muslim No.4685)

8. Keutamaan bersikap lembut

Hadis riwayat Aisyah Radhiyallahu’anhu istri Nabi Shallallahu alaihi wassalam.: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Wahai Aisyah! Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut yang menyukai kelembutan. Allah akan memberikan kepada orang yang bersikap lembut sesuatu yang tidak diberikan kepada orang yang bersikap keras dan kepada yang lainnya. (Shahih Muslim No.4697)

9. Pengharaman dusta dan dusta yang mubah

Hadis riwayat Ummu Kaltsum binti Uqbah Radhiyallahu’anhu: Bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Bukanlah termasuk pendusta orang yang berdusta untuk mendamaikan antara manusia. Dia berkata yang baik dan menyampaikan yang baik pula. (Shahih Muslim No.4717)

10. Haram mengadu-domba di antara manusia

Hadis riwayat Abdullah bin Masud Radhiyallahu’anhu: Sesungguhnya Muhammad Shallallahu alaihi wassalam. pernah bersabda: Maukah kamu sekalian aku beritahukan tentang apa itu adhhu? Adhhu adalah perkataan adu-domba yang selalu diucapkan di antara orang banyak. Dan sesungguhnya Muhammad Shallallahu alaihi wassalam. juga pernah bersabda: Sesungguhnya seseorang selalu berkata jujur sehingga dia tercatat sebagai orang jujur dan seseorang selalu berdusta sehingga dia dicatat sebagai seorang pendusta. (Shahih Muslim No.4718)

11. Keutamaan orang yang dapat menguasai dirinya ketika marah, dan cara meredahkan kemarahan

Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu: Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Bukanlah orang kuat itu dengan menang bergulat, tetapi orang yang kuat ialah orang yang dapat menguasai dirinya ketika marah. (Shahih Muslim No.4723)

Hadis riwayat Sulaiman bin Shurad Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Dua orang pemuda saling mencaci di hadapan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. lalu mulailah mata salah seorang dari mereka memerah dan urat lehernya membesar. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Sesungguhnya aku tahu suatu kalimat yang apabila diucapkan, maka akan hilanglah kemarahan yang didapati yaitu “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk”. Lelaki itu berkata: Apakah engkau menyangka aku orang gila?. (Shahih Muslim No.4725)

12. Larangan memukul wajah

Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Apabila salah seorang kamu bertengkar dengan saudaranya, maka hindarilah pemukulan wajah. (Shahih Muslim No.4728)

13. Larangan menghunus senjata ke arah seorang muslim

Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Abul Qasim Shallallahu alaihi wassalam. pernah bersabda: Barang siapa yang menghunuskan senjata ke arah saudaranya, maka malaikat akan terus mengutuknya sampai ia melepaskannya meskipun dia itu adalah saudara kandungnya sendiri. (Shahih Muslim No.4741)

14. Anjuran mempergauli orang-orang saleh dan menjauhi kawan-kawan yang jahat

Hadis riwayat Abu Musa Radhiyallahu’anhu: Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam., beliau bersabda: Sesungguhnya perumpamaan berkawan dengan orang saleh dan berkawan dengan orang jahat adalah seperti seorang penjual minyak wangi (misk) dan seorang peniup dapur tukang besi. Penjual minyak wangi, dia mungkin akan memberikan kamu atau kamu akan membeli darinya atau kamu akan mendapatkan aroma harum darinya. Tetapi peniup dapur tukang besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu atau kamu akan mencium bau yang tidak sedap. (Shahih Muslim No.4762)

15. Apabila Allah mencintai seorang hamba maka Allah akan membuat hamba-hamba-Nya yang lain mencintainya

Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Sesungguhnya apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan memanggil Jibril dan berkata: Sesungguhnya Aku mencintai si polan maka cintailah dia! Jibril pun mencintainya. Kemudian dia menyeru para penghuni langit: Sesungguhnya Allah mencintai si polan, maka cintailah dia! Para penghuni langitpun mencintainya. Kemudian dia pun diterima di bumi. Dan apabila Allah membenci seorang hamba, maka Dia memanggil Jibril dan berkata: Sesungguhnya Aku membenci si polan, maka bencilah pula dia! Jibril pun membencinya. Kemudian dia menyeru para penghuni langit: Sesungguhnya Allah membenci si polan, maka bencilah kepadanya. Para penghuni langit pun membencinya. Kemudian kebencianpun merambat ke bumi. (Shahih Muslim No.4772)

Sabtu, 18 Disember 2021

Doa Majlis Pertunangan


Bacaan Al-Fatihah.


Selawat ke atas Nabi Muhammad SAW.

Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim, Ampunkanlah Dosa-Dosa Kami, Berikanlah Taufik Dan Hidayah Kepada Jiwa2 Kami Dan Orang-Orang Yang Kami Sayangi. Ya Allah Tuhan Yang Sangat Banyak Memberi, Janganlah Kamu Memalingkan Hati Kami Setelah Engkau Memberi Petunjuk Kepada Kami Dan Berikanlah Kami Rahmatmu Yang Besar.

Ya Allah, Sesungguhnya Hati-Hati Ini Berkumpul Kerana Mengasihi Mu Dan Ingin Mencari Keredhaanmu. Wahai Tuhanku, Kayakanlah Kami Dengan Ilmu, Hiasilah Kami Dengan Ketenangan Jiwa Dan Muliakanlah Kami Dengan Takwa Dan Elokkanlah Kami Dengan Akhlak Yang Baik.

Ya Allah, sumber segala barakah, curahkanlah berkat-Mu atas lambang ikatan pertunangan  ini, dan bimbinglah kedua saudara kami ini dalam masa pertunangannya.  Semoga mereka mencari kehendakMu dengan hati yang ikhlas dan memperoleh kebaikanMu yang berlimpah.  Ya Allah Ya Tuhan Kami, sumber segala cinta kasih, karena ehsan-Mu, dua pasangan muda ini dapat saling bertemu. Kini mereka memohon rahmatMu untuk memasuki masa pertunangan dan mempersiapkan diri untuk gerbang Perkahwinan. Kami mohon, kuatkanlah mereka dengan berkat-Mu yang melimpah. Semoga dalam masa pertunangan suci ini, mereka kian hari kian saling menghargai, dan saling mengasihi dengan kasih sejatimu Ya Allah.  

Kami memuji Engkau  ya Allah, kerana dengan pengharapan yang lembut dan mendalam, Engkau menggerakkan hati dan merancangkan pertunangan 

Nama si lelaki dan bakal isteri

Kami mohon, sudilah menguatkan hati mereka, agar mereka menjalani masa pertunangan ini dengan bertumpu pada iman, dan dalam segala hal berusaha berkenan kepadaMu, sehingga dengan aman sentosa akhirnya sampai pada gerbang perkahwinan. 

Ya Allah yang maha pengasih penuh cinta kasih, yang maha penyayang penuh kasih sayang, jadikan bagi kami seorang suami/istri yang menyayangi dan mencintai sesama. Jadikan bagi kami jodoh yang serasi, saling mengasihi saling menyayangi dalam rahmat dan kasih sayangMu. 

Jauhkanlah kami daripada kemaksiatan, kebencian, kemarahan, kecurigaan dari hati kami masing masing. Jadikan kami dalam naungan rahmat dan kasih sayangMu, Lindungi hubungan kami dari campur tangan syetan dari golongan jin dan manusia yang menimbulkan perpecahan, kemarahan dan kebencian diantara sesama kami. Perkenankanlah permohonan kami ini ya Allah , Engkaulah sebaik baik yang memperkenankan doa. Ya Allah limpahkanlah rezki yang halal lagi banyak kepada kami, sehingga kami dapat menolong agamamu ya Allah, jaukanlah kami daripada kefakiran dan malapetaka.

Ya Allah, Berkatilah Majlis Pertunangan Ini, Limpahkanlah Baraqah Dan Rahmat Kepada pasangan Ini, Teguhkanlah hati dan keimanan mereka terhadapMu ya Allah. Peliharalah mereka daripada hasutan dan gangguan syaitan. Kekalkanlah ikatan pertunangan Mereka sehingga hari perkahwinan. Dan Sempurnakanlah Agama Mereka Dengan Berkat Ikatan Ini. Ya Allah Ya Tuhan Kami, Kurniakan Rahmat Kepada Pasangan ini Agar Kekal Abadi, Aman Damai Yang Berkekalan, Sihat Walafiat, Dimurahkan Rezeki Dan Dilanjutkan Usia Serta Mendapat Syafaat Daripada Junjungan Besar Nabi Muhammad SAW.

Ya Allah, Satukanlah Hati Kedua pasangan Ini Seperti Engkau Satukan Hati Adam Dan Hawa, Yusuf Dan Zulaikha Dan Seperti Engkau Satukan Hati Muhammad Saw Dan Siti Khadijah. Semoga Allah Memberi Berkah Kepadamu Dan Atasmu Serta Mengumpulkan Kamu Berdua Dalam Kebaikan.

Rabu, 15 Disember 2021

Menghina, mencela, atau mengolok-olok orang lain termasuk dalam dosa besar

Menghina, mencela, atau mengolok-olok orang lain termasuk dalam dosa besar

Menghina, mencela, atau mengolok-olok orang lain termasuk perbuatan yang terlarang. Allah Ta’ala berfirman,  

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ       

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) itu lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri (maksudnya, janganlah kamu mencela orang lain, pen.). Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar (yang buruk). Seburuk-buruk panggilan ialah (penggilan) yang buruk (fasik) sesudah iman. Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” (QS. Al-Hujuraat [49]: 11)  

Bahkan perbuatan tersebut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kategorikan dalam dosa besar. Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  

سِبَابُ المُسْلِمِ فُسُوقٌ، وَقِتَالُهُ كُفْرٌ 

 “Mencela seorang muslim adalah kefasikan (dosa besar), dan memerangi mereka adalah kekafiran.” (HR. Bukhari no. 48 dan Muslim no. 64)  

Jika seseorang mencela sesama muslim dengan panggilan-panggilan, dia berhak mendapatkan hukuman dari penguasa.  

Diriwayatkan dari sahabat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau ditanya tentang ucapan seseorang kepada orang lain, “Wahai orang fasiq!”; “Wahai orang jelek!”; maka beliau radhiyallahu ‘anhu berkata,  

هن فواحش فيهن تعزير وليس فيهن حد  

“Itu perbuatan buruk, terdapat hukuman ta’zir [1], namun tidak ada hukuman hadd [2] untuknya.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi 8: 253 dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa’ no. 2393)  

Jangankan mencela sesama muslim, bahkan mencela binatang saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya.  

Diriwayatkan dari sahabat Zaid bin Khalid radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  

لَا تَسُبُّوا الدِّيكَ فَإِنَّهُ يُوقِظُ لِلصَّلَاةِ  

“Janganlah Engkau mencela ayam jantan, karena sesungguhnya ayam jantan itu yang membangunkan kalian shalat.” (HR. Abu Dawud no. 5101, dinilai shahih oleh Al-Albani)  

Dua orang yang saling mencaci, maka dosanya ditanggung pihak yang memulai Cacian itu seringkali disebabkan karena adanya pertengkaran dan perselisihan. Dalam masalah ini, hendaknya kita senantiasa mengingat bahwa saling mencaci yang terjadi di antara dua orang yang sedang berselisih, dosanya akan ditanggung oleh pihak yang memulai.  

Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  

الْمُسْتَبَّانِ مَا قَالَا فَعَلَى الْبَادِئِ، مَا لَمْ يَعْتَدِ الْمَظْلُومُ  

“Apabila ada dua orang yang saling mencaci-maki, maka cacian yang diucapkan oleh keduanya itu, dosanya akan ditanggung oleh orang yang memulai, selama orang yang dizalimi itu tidak melampaui batas.” (HR. Muslim no. 2587 dan Abu Dawud no. 4894)  

Dalam hadits di atas, dosa saling mencaci-maki antara dua orang itu akan ditanggung oleh pihak yang memulai. Hal ini dengan syarat bahwa pihak yang dicaci itu tidak melampaui batas, yaitu tidak membalas cacian dengan kuantitas dan kualitas yang lebih jelek.  

Jika dia membalas dengan cacian yang lebih jelek (baik secara kuantitas atau kualitas), maka dosa melampaui batas itu dia tanggung sendiri, sedangkan sisanya ditanggung oleh pihak yang memulai. [3]  

Mencela, menghina, atau memanggil orang lain dengan menyebutkan nama binatang Yang lebih parah lagi adalah ketika seseorang mencela, menghina, atau memanggil orang lain dengan nama binatang.  

Sangat disayangkan, keburukan ini begitu tersebar pada jaman ini, salah satunya sebagai akibat buruk pesta demokrasi di negeri ini beberapa waktu yang lalu dan mungkin berlanjut sampai hari ini.  

Betapa mudah kita melihat saudara kita memanggil saudaranya yang lain yang berbeda pilihan politiknya dengan sebutan, “Dasar kecebong!”; atau “Dia itu cebong”; atau bahkan julukan semisal (maaf), “Bonglaf” (kecebong salaf, yang dinisbatkan kepada pihak-pihak yang dianggap paham agama, namun menjadi pendukung salah satu pihak). Bahkan, ucapan dan hinaan semacam itu keluar dari pihak-pihak yang secara lahiriyah paham agama dan memiliki semangat tinggi dalam menjalankan agama.  

Sedangkan di pihak lain, mereka pun tidak mau kalah dengan melontarkan julukan “kampret” (kelelawar) kepada saudaranya yang berbeda pilihan politik. Demikianlah, satu keburukan akan memunculkan keburukan berikutnya, dan demikian seterusnya.  

Saudaraku, ketahuilah bahwa menghina orang lain dengan menyebutkan nama binatang itu dosanya lebih parah. An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,  

ومن الألفاظ المذمومة المستعملة في العادة قوله لمن يخاصمه، يا حمار ! يا تيس ! يا كلب ! ونحو ذلك؛ فهذا قبيح لوجهين : أحدهما أنه كذب، والآخر أنه إيذاء؛ وهذا بخلاف قوله : يا ظالم ! ونحوه، فإن ذلك يُسامح به لضرورة المخاصمة، مع أنه يصدق غالباً، فقلّ إنسانٌ إلا وهو ظالم لنفسه ولغيرها .  

“Termasuk di antara kalimat yang tercela yang umum dipergunakan dalam perkataan seseorang kepada lawannya (adalah ucapan), “Wahai keledai!”; “Wahai kambing hutan!”; “Hai anjing!”; dan ucapan semacam itu. Ucapan semacam ini sangat jelek ditinjau dari dua sisi. Pertama, karena itu ucapan dusta. Ke dua, karena ucapan itu akan menyakiti saudaranya.  

Ucapan ini berbeda dengan perkataan, “Wahai orang dzalim!” dan semacamnya. Ucapan ini dimaafkan karena adanya kebutuhan darurat disebabkan oleh pertengkaran. Selain itu, pada umumnya ucapan itu adalah ucapan yang benar, karena keadaan mayoritas orang yang zalim terhadap dirinya sendiri atau orang lain.” (Al-Adzkaar, hal. 314)  

Memanggil orang lain dengan nama-nama binatang itu disebut ucapan dusta karena orang lain yang dia panggil itu adalah manusia, bukan binatang. Inilah sisi kedustaannya. Orang yang melakukannya pun berhak untuk mendapatkan hukuman dari penguasa kaum muslimin.  

Diriwayatkan dari sahabat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,  

إنكم سألتمونى عن الرجل يقول للرجل: يا كافر! يا فاسق! يا حمار! وليس فيه حد , وإنما فيه عقوبة من السلطان , فلا تعودوا فتقولوا  

“Sesungguhnya kalian bertanya kepadaku tentang seseorang yang mengatakan kepada orang lain, “Wahai orang kafir!”, “Wahai orang fasiq!”, atau “Wahai keledai!” Tidak ada hukuman hadd dari syari’at (untuk perbuatan itu). Yang ada hanyalah hukuman ta’zir dari penguasa. Maka janganlah diulangi mengucapkannya lagi!” [4]  

Sa’id bin Al-Musyyab rahimahullah mengatakan,  

لَا تَقُلْ لِصَاحِبِكَ: يَا حِمَارُ، يَا كَلْبُ، يَا خِنْزِيرُ. فَيَقُولَ لَكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: أَتُرَانِي خُلِقْتُ كَلْبًا أَوْ حِمَارًا أَوْ خِنْزِيرًا؟  

“Janganlah Engkau berkata kepada temanmu, “Wahai keledai!”, “Wahai anjing!”, atau “Wahai babi!” Karena kelak di hari kiamat Engkau akan ditanya, “Apakah Engkau melihat aku diciptakan sebagai anjing, keledai, atau babi?” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 5: 282)  

Dalam kitab Mukhtashar Al-Khalil (8: 409) disebutkan,  

مَنْ قَالَ لِرَجُلٍ: يَا ابْنَ الْفَاسِقَةِ أَوْ يَا ابْنَ الْفَاجِرَةِ فَعَلَيْهِ فِي ذَلِكَ النَّكَالُ، وَمَنْ قَالَ لِرَجُلٍ: يَا حِمَارَ أَوْ يَا ابْنَ الْحِمَارِ فَعَلَيْهِ النَّكَالُ، وَمَنْ قَالَ لِرَجُلٍ: يَا سَارِقُ عَلَى وَجْهِ الْمُشَاتَمَةِ نُكِّلَ  

“Siapa saja yang berkata kepada seseorang, “Wahai anak dari wanita fasik!“ atau “Wahai anak dari wanita fajir (pezina)’, maka dia berhak mendapatkan hukuman. Dan siapa saja yang berkata kepada seseorang, “Wahai keledai!” atau “Wahai anak keledai!”, maka dia berhak mendapatkan hukuman.”  

Kemudian dikutip perkataan Ibnu Salmun,  

مَنْ قَالَ لِآخَرَ: يَا كَلْبُ أَوْ يَا ثَوْرُ فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ الْأَذَى وَعَلَيْهِ الْأَدَبُ، وَكَذَلِكَ إنْ قَالَ لَهُ: يَا خِنْزِيرُ فَعَلَيْهِ الْأَدَبُ عَلَى مَا يَرَاهُ السُّلْطَانُ إلَّا أَنْ يَكُونَ الْقَائِلُ مَا لَا يُعْرَفُ بِالْأَذَى وَإِنَّمَا هِيَ زَلَّةٌ أَوْ فَلْتَةٌ فَلَا بَأْسَ أَنْ يُقَالَ  

“Siapa saja yang berkata kepada orang lain, “Wahai anjing!” atau “Wahai sapi jantan!”, maka ucapan itu menyakiti saudaranya, sehingga berhak dihukum. Demikian pula ucapan, “Wahai babi!”, maka dia berhak mendapatkan hukuman sesuai dengan kebijakan penguasa. Kecuali jika dia tidak tahu kalau ucapan semacam itu menyakitkan, yang hanya muncul karena ketergelinciran atau salah ucap lisan, maka hal itu tidak mengapa (dimaafkan, pen.).” (Mukhtashar Al-Khalil, 8: 409)

Rabu, 8 Disember 2021

Akibat Melupakan Al Quran



Terdapat sekurang-kurangnya 10 malapetaka yang disenaraikan dalam al-quran akibat mengabaikan Al-Quran. 

1- Kesesatan Yang Nyata Firman Allah S.W.T;

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di anta mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah( As-sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata” 
Surah Al-Jumuah: 2

Al-Quran menyifatkan penduduk mekah sebelum kebangkitan Rasulullah S.A.W dalam keadaan yang nyata. Al Imam Ibnu Kathir menafsirkan bahawa kesesatan yang nyata itu adalah kerana masyarakat arab dahulu asalnya berpegang kepada ajaran Nabi Ibrahim A.S.

Namun mereka mengantikan, merubah, menokok tambah, memutarbelitkan serta menukar tauhid kepada syirik, merubah keyakinan dengan keraguan.

Hal ini dapat kita lihat bagaimana realiti umat islam sekarang apabila ramai umat islam yang terlibat dengan masalah sosial yang semakin bertambah. Ini kerana sikap umat islam itu sendiri yang menjauhkan dirinya daripada Al-Quran.

2-Kesempitan Dan Kesesakkan Dada Firman Allah S.W.T;

“…..Dan Barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang yang tidak beriman” Surah Al-An’am: 125

Allah menjanjikan bahawa orang yang menerima hidayah Allah itu akan dilapangkan dadanya sebaliknya orang yang tidak menerima hidayah allah dijadikan dada mereka sempit.

Walaupun disekililing mereka terlihat berjaya memenuhi kepuasan manusia tetapi jauh di dalam dada bereka begitu sesak dan sempit dek pelbagai masalah.

3-Kehidupan Yang Sempit 

“ Dan barangsiapa yang berpaling daripada peringatan-ku, Maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan kami akan menghimpunkan pada hari kiamat dalam keaadaan buta” Surah Taha: 124

Apabila hidup kita tidak lagi bertemankan dengan Al-Quran yang menjadi sumber keberkatan hidup maka apa yang mereka lakukan tidaklah mendatang kepuasan dalam hati melainkan kesempitan dan kesesakkan. Teringat pesanan daripada ibu penulis;

“Biar kita kerja gaji kecil tetapi berkat”

Bagi yang menyisihkan Al-Quran dalam hidupnya ketahuilah telah terputus daripada hidupnya keberkatan.

4- Buta Mata Hati 

Mereka ini terhijab daripada mata hatinya menerima hidayah Allah. Mungkin matanya mampu melihat dan mencerap cahaya dengan baik namun hatinya gagal dalam melihat kebenaran.

Seringkali sukar menilai sbuah kebenaran yang hadir dalam hidupnya. Hayatilah firman Allah ini yang bermaksud;

“……Kerana sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati di dalam dada mereka.” Surah Al-Hajj: 46

5- Kekerasan Hati 

“ …… dan jangan lah mereka menjadi orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudia berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakkan diantara mereka adalah orang-orang yang fasik.” Surah Al-Hadid: 16

Ayat di atas menjelaskan bagaimana ahli kitab terdahulu yang tergolong daripada yahudi dan nasrani, mereka telah menerima kitab masing-masing tetapi mereka mengabaikanya sehingga suatu tempoh yang lama.

Pengabaian ini menjadikan hati mereka keras dan mereka ini terdiri daripada orang yang fasiq.

6- Kezaliman

 “ Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya?…..” Surah As-Sajadah: 22

Amat menggetarkan jiwa kita seandainya dibulatkan kefahaman ayat ini dalam diri kita. Dilontarkan suatu persoalan, siapakah yang lebih zalim daripada mereka ini?

Seolah-olah mereka yang paling zalim diatas muka bumi ini ialah orang-orang yang menjauhkan dirinya daripada ayat-ayat Allah. Sedangkan ayat-ayat Allah inilah yang menjadi penentu kebahagiaan di dunia apatah lagi diakhirat.

7- Menjadi Teman Syaitan 

“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al-Quran), kami akan adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya (Qarin) Surah Az-Zukhruf:36

Mengikut Tafsir Jalalaian, Qarin yang dimaksudkan itu adalah teman yang erat dan akan dituruti kehendaknya. Hal ini bukanlah bermaksud mereka yang bertemankan syaitan ini mampu melihat hal-hal ghaib dan sebagainya tetapi mereka ini akan menjadikan bisikan syaitan sebagai neraca berhukum.

Tindakkan-tindakan, keputusan-keputusan dan emosi mereka akan terpedaya dengan nasihat-nasihat syaitan.

8- Lupa Diri 

“ Dan jangan kamu menjadi orang-orang yang lupa Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. Surah Al-Hasyr: 19

Ayat di atas menjelaskan bagi mereka yang melupakan ayat-ayat Allah nescaya baginya dilupakan nasib keadaan dirinya di akhirat kelak sedangkan suatu kerugian yang besar apabila seseorang itu melupakan Allah kerana akhirnya di akhirat kelak akan menimpa dirinya semula.

9- Pendosa (Fasiq) 

Gelaran fasik ini sebenarnya banyak sudah Allah ungkapkan bersama dengan dalam ayat-ayat Allah yang dinyatakan di atas.

Ya, fasik itu pada ayat-ayat di atas merujuk kepada ahli kitab tetapi ini merupakan aset pengalaman yang harus diperhatikan oleh umat Islam.

10- Menjadi Munafiq 

“ Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” Surah An-Nisa:61

Mereka yang digelar sebagai munafiq ini bukan sekadar tidak mahu menjadikan Allah sebagai panduan berhukum, tetapi mereka cuba mengahalangi manusia lain untuk turut sama bersama mereka. Moga kita semua dijauhi daripada sifat ini.