Isnin, 29 Julai 2019

Rahsia Surah Al-Fatihah

AL-FATIHAH
 
- Seringkali di baca untuk arwah.

- Tanpa membacanya solat kita tidak sah

- Menjadi petunjuk bagi yang buntu dan resah.

- Jika merindui seseorang, maka bacalah.

- Dibaca ditiup pada beras, bagi anak yang bemasalah.

-Salah satu surah penawar sihir, sabda rasulullah SAW.

- Terjemahannya indah, hafalnya mudah.

- Sunat dibaca ketika masuk dan keluar rumah.

- Sunat dibaca ketika dirimu sedang marah.

- Bersama amalkan, tiada resah walaupun resah.


Ada banyak fadhilat dan keutamaan ketika seseorang membaca Surah Al-Fatihah. Antara hikmah dan keutamaan membaca Surah Al-Fatihah ialah;

1- Memperolehi Pahala

Membaca Surah Al-Fatihah mendapat pahala seperti membaca sepertiga Al-Quran.

2- Melapangkan Fikiran Dan Hati

Amalkan membaca Surah Al-Fatihah sebanyak 70 kali setiap hari dalam keadaan berwudhuk dan ditiupkan pada air lalu diminum selama tujuh hari.
Inshaa Allah akan mudah memperolehi ilmu pengetahuan. Disamping itu dapat mengawal hati dan fikiran dari hal-hal yang merosakkan.

3- Terhindar Dari Gangguan Syaitan

Amalkan membaca Surah Al-Fatihah sewaktu hendak tidur diikuti membaca Surah Al-Ikhlas tiga kali, Surah Al-Falaq dan Surah An-Nas.
Inshaa Allah akan aman tenteram dan terhindar dari gangguan syaitan dan iblis.

4- Hajat Dikabulkan

Bagi mereka yang memiliki hajat yang baik, termasuk untuk mendapatkan kenaikan pangkat dan untuk mendapatkan rezeki yang lebih baik dari keadaan fakir.

Selain itu, bagi menyelesaikan hutang, untuk menyembuhkan penyakit, berharap agar anak menjadi soleh dan berbagai hajat lagi.

Maka hendaklah ia memohon kepada Allah S.W.T dengan membaca Surah Al-Fatihah sebanyak 41 kali setiap hari.

Waktunya adalah antara solat sunat Subuh dan solat fardhu Subuh. Amalkan sehingga 40 hari, Inshaa Allah hajat kita akan dikabulkan oleh Allah S.W.T.

Barangsiapa mengamalkan bacaan Surah Al-Fatihah di waktu tengah malam sebanyak 41 kali maka Allah S.W.T bukakan pintu rezekinya dan Allah S.W.T permudahkan urusannya tanpa kepayahan dan kesulitan.

Selesai bacaan Surah Al-Fatihah tersebut sebaiknya diiringi dengan doa :

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada Mu dengan kebenaran Surah Al-Fatihah dan rahsianya sehingga Engkau membukakan bagiku pintu-pintu rahmat, mengurniakan rezeki Mu. Dan Engkau mudahkanlah setiap urusanku, murahkanlah bagiku rezeki Mu yang berkat tanpa kekurangan dan tanpa susah payah. Sesungguhnya Engkau berkuasa atas segala sesuatu. Aku mohon kepada Mu dengan kebenaran Surah Al-Fatihah dan rahsianya, berikan apa yang kuhajati…”
Riwayat Syeikh Muhyiddin Ibnul Arabi di dalam kitab ‘Qaddasallaahusirrahu
Setengah ulama menganjurkan membaca Surah Al-Fatihah sebanyak 40 kali selepas solat Maghrib dan sunatnya. Inshaa Allah apa yang dihajatkan akan terkabul.

5- Dimurahkan Rezeki

Amalkan membaca Surah Al-Fatihah sebanyak 20 kali setiap habis solat fardhu, Inshaa Allah akan memperolehi rezeki yang lancar, pangkat / darjat yang baik di sisi masyarakat dan baik akhlaknya.
Bahkan dimudahkan dalam urusan hidupnya dan keluarga mendapatkan perlindungan dari Allah S.W.T.

Allah S.W.T membuka pintu rezeki yang luas dan mempermudahkan segala urusan hidup serta terhindar dari segala kesulitan, amalkan membaca Surah Al-Fatihah sebanyak 41 kali sewaktu bangun tengah malam. Inshaa Allah akan dimakbulkan Allah S.W.T.

6- Ikhtiar Menyembuhkan Penyakit

Disarankan juga mengamalkan membaca Surah Al-Fatihah sebanyak 41 kali, Inshaa Allah dapat mengubati sakit mata, sakit gigi, sakit perut dan lain-lain.

Itulah beberapa fadhilah atau khasiat dari Surah Al-Fatihah yang boleh kita amalkan sesuai dengan hajat kita.

Apa pun hajat kita, asalkan kita yakin dan percaya dengan kekuasaan Allah S.W.T, tentu Allah S.W.T akan mengabulkan doa-doa kita.

Cara Wudhu Lengkap Beserta Doanya





Wudhu sangat berkaitan dengan syarat sah sebuah ibadah. Tanpa wudhu ibadah yang dilakukan tidak akan sah alias batal. Karena itu penting kiranya memperhatikan bagaimana cara berwudhu yang benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Berikut tata cara wudhu.

Pertama, Membaca Basmalah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمْ

Bismillahirrohaanirrohiim

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Kedua, Berdoa sebelum wudhu:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

Asyhadu al laa ilaaha illa-Llahu wahdahu laa syariika lah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu warosuluhu

“Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, tidak ada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan Rasulnya.

Ketiga, saat menyentuh air wudhu, berdoa:

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْمَاءَ طَهُورًا

Alhamdulillahi alladzi ja’ala al-maa`a thohuuron

“Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan air yang suci dan mensucikan.

Doa ini dimaksudkan sebagai rasa syukur kita kepada Allah yang telah menjadikan air sebagai alat bersuci kita sekaligus sebagai sumber kehidupan.

Keempat, menggosok gigi atau bersiwak.

Tatacara menggosok gigi sesuai ajaran Rasulullah ialah dilakukan dengan tangan kanan, dimana posisi jari kelingking berada di pangkal siwak, jari telunjuk, jari tengah dan jari manis berada di atas, serta jari jempol di bawah. Kemudian menggerakkan siwak kebagian gigi sebelah kanan, diteruskan dengan sebelah kiri, dan diteruskan dengan mengusap tenggorokan.
Sesudah itu berdoa:

اللَّهُمَّ بَيِّضْ بِهِ أَسْنَانِيْ وَشُدَّ بِهِ لِثَاتِيْ وَثَبِّتْ بِهِ لِهَائِيْ وَبَارِكْ لِيْ فِيْهِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

Allahumma bayyidl bihi asnaani wa syudda bihi litsaati wa tsabbit lihaa`i wa baarikli fiihi yaa Arhamarraahimiin

“Ya Allah, dengan menggosok gigi ini, putihkanlah gigiku, kuatkanlah gusiku, tetapkanlah lidahku, dan berkahi aku di dalamnya wahai Dzat Paling Pengasih diantara Terkasih”.

Kelima, membasuh telapak tangan sebanyak 3 kali. Sambil berdoa:

اللَّهُمَّ احْفَظْ يَدِيْ مِنْ مَعَاصِيْكَ كُلِّهَا

Allahumma ihfadz yadi min ma’aashiika kullaha

“Ya Allah, jagalah kedua tanganku dari semua perbuatan maksiat”. 

Keenam, berkumur sekaligus mencuci lubang hidung dengan sekali cakupan air. Hal ini dilakukan sebanyak 3 kali.

Saat berkumur, disunnahkan berdoa di dalam hati:

اللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ اللَّهُمَّ اسْقِنِي مِنْ حَوْضِ نَبِيِّكَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَأْسًا لَا أَظْمَأُ بَعْدَهُ أَبَدًا

Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika, Allahumma asqini min haudli nabiyyika shollallahu ‘alaihi wa sallam ka’san laa adzma’a ba’dahu Abadan

“Ya Allah, tolonglah aku (untuk selalu) mengingat dan bersyukur pada-Mu. Ya Allah, beri aku minuman dari telaga Kautsar Nabi Muhammad, yang begitu menyegarkan hingga aku tidak merasa haus selamanya”.

Dan saat membersihkan lubang hidung, saat menghirup air, dalam hati berdoa:

اللَّهُمَّ أَرِحْنِي رَائِحَةَ الْجَنَّةِ اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنِيْ رَائِحَةَ نِعَمِكَ وَجَنَّاتِك

Allahumma Arihni Raaihatal jannah. Allahumma laa tahrimni raaihata ni’amika wa jannatika

“Ya Allah, (izinkan) aku mencium wewangian surga. Ya Allah, jangan halangi aku mencium wanginya nikmat-nikmatmu dan wanginya surga.

Sedangkan ketika mengeluarkan air dari lubang hidung, berdoa:

اَلَّلهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ رَوَائِحِ النَّارِ وَسُوْءِ الدَّارِ

Allahumma inni a’udzu bika min rawaaihin naar wa suu`i daar

“Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari busuknya aroma neraka, dan dari buruknya tempat kembali”.

Ketujuh, niat wudhu dibarengi dengan membasuh wajah. Mengingat bahwa niat harus berbarengan dengan melakukan tindakan ibadah yang pertama.

Niat wudhu tersebut adalah:

نَوَيْتُ الْوُضُوْءِ لِرَفْعَ الْحَدَثِ الأَصْغَرِ فَرْضًا لِلهِ تَعَالَي

Nawaitul wudlu`a li rof’il hadatsil ashghori fardlan lillahi ta’ala.

“Aku niat berwudlu untuk menghilangkan hadats kecil, fardlu karena Allah Ta’ala”

Prosesi yang dilakukan pada saat niat ini ialah secara berbarengan mulut mengucapkan kalimat “nawaitu…” hingga akhir, hati berbisik “Aku niat berwudlu …” hingga akhir, dan tangan menyiramkan air ke wajah. Ketiga hal itu harus dilakukan secara berbarengan. Jika merasa kesulitan, jangan berkecil hati, tetaplah berusaha, Insya Allah, Allah akan membukakan pintu hidayah untuk kita.

Kedelapan, membasuh wajah secara keseluruhan dan dilebihkan sedikit. Sambil berdoa:

اللَّهُمَّ بَيِّضْ وَجْهِيْ يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ

Allahumma bayyidl wajhi yauma tabyadldlu wujuuhun wa taswaddu wujuuh

“Ya Allah, putihkanlah wajahku di hari ketika wajah-wajah memutih dan menghitam”

Doa ini ialah doa agar di akhirat kelak Allah menggolongkan kita sebagai orang baik, dimana saat berkumpul di padang mahsyar, orang baik dicirikan dengan berwajah putih, dan sebaliknya orang jelek dicirikan dengan berwajah hitam kusam.

Kesembilan, membasuh kedua tangan secara sempurna, yakni dengan menggosok sela-sela jemari, membasuhnya hingga siku dan dilebihkan sedikit hingga ke atasnya.

Saat membasuh tangan kanan, berdoa:

اللَّهُمَّ أَعْطِنِيْ كِتَابِيْ بِيَمِينِيْ وَحَاسِبْنِيْ حِسَابًا يَسِيرًا

Allahumma a’thini kitaabi biyamiini, wa haasibni hisaaban yasiiran.

“Ya Allah, berikanlah kitab amalku (kelak di akhirat) pada tangan kananku, dan hisablah aku dengan hisab yang ringan”

Baca Juga :  Empat Hal yang Disunahkan saat Salat Jenazah
Sedangkan saat membasuh tangan kiri, berdoa:

اللَّهُمَّ لَا تُعْطِنِيْ كِتَابِيْ بِشِمَالِيْ وَلَا مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِيْ

Allahumma laa tu’thini bi syimaali, wa laa min waraa`i dzahri

“Ya Allah, jangan Kau berikan kitab amalku (kelak di akhirat) pada tangan kiriku, dan jangan pula diberikan dari balik punggungku”.

Tentang doa diatas, kelak di akhirat nanti, Allah akan memberikan pada semua manusia, catatan amal mereka masing-masing. Apabila manusia tersebut amalnya baik, maka ia akan menerima kitab amalnya dengan tangan kanan dan berhadapan muka, namun apabila amalnya jelek, maka ia akan menerima kitab amalnya dengan tangan kiri dan diberikan dari balik punggung.

Kesepuluh, mengusap sekujur kepala. Cara paling sempurna adalah mengusap kepala dari depan ke belakang dan dikembalikan lagi ke depan, demikian diulang sebanyak 3 kali. Sambil berdoa:

اللَّهُمَّ حَرِّمْ شَعْرِيْ وَبَشَرِيْ عَلَى النَّارِ وَأَظِلَّنِيْ تَحْتَ عَرْشِكَ يَوْمَ لَا ظِلَّ إلَّا ظِلُّك

Allahumma harrim sya’ri wa basyari ‘ala an-naari wa adzilni tahta ‘arsyika yauma laa dzilla illa dzilluka.

“Ya Allah, halangi rambut dan kulitku dari sentuhan api neraka, dan naungi aku dengan naungan singgasana-Mu, pada hari ketika tak ada naungan selain naungan dari-Mu”.

Kesebelas, mengusap telinga, area dalam dan area luarnya. Cara melakukannya yang sempurna ialah masukkan telunjuk pada lubang telinga, gunakan jempol untuk mengusap area dalam daun telinga, dilanjut mengusap area luar daun telinga.

Pada saat mengusap telinga, dalam hati berdoa:

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنْ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ

Allahumma ij’alni minalladziina yastami’uunal qoula fayattabi’uuna ahsanahu.

“Ya Allah, jadikanlah aku orang-orang yang mampu mendengar ucapan dan mampu mengikuti apa yang baik dari ucapan tersebut”.

Kedua belas, membasuh kaki secara sempurna, yakni dengan menggosok sela-sela kaki. Caranya ialah menggosok sela-sela kaki kanan dengan tangan kiri, dan menggosok sela-sela kaki kiri dengan tangan kanan. Disempurnakan juga dengan memanjangkan basuhan hingga diatas kaki.

Rasulullah sangat menganjurkan melebihkan basuhan muka dan memanjangkan basuhan kaki serta tangan. Beliau bersabda bahwa kelak di akhirat, orang-orang yang berwudlu dengan cara demikian, akan bersinar wajah, kedua tangan, dan kedua kakinya.

Saat membasuh kaki kanan berdoa:

اللهم اجْعَلْهُ سَعْيًا مَشْكُوْرًا وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا. اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قَدَمِيْ عَلَى الصِّرَاطِ يَوْمَ تَزِلُّ فِيْهِ الْأَقْدَامُ

Baca Juga :  Jumlah Basuhan Saat Berwudhu
Allahumma ij’alhu sa’yan masykuuran wa dzamban maghfuuran wa ‘amalan mutaqabbalan. Allahumma tsabbit qadami ‘ala shiraathi yauma tazila fiihi al-aqdaam.

“Ya Allah, jadikanlah (segenap langkahku) sebagai usaha yang disyukuri, sebagai penyebab terampuninya dosa dan sebagai amal yang diterima. Ya Allah, mantapkanlah telapak kakiku saat melintasi jembatan shirathal mustaqim, kelak di hari ketika banyak telapak kaki yang tergelincir”

Dan saat membasuh kaki kiri berdoa:

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ أَنْ تَنْزِلَ قَدَمِيْ عَنِ الصِّرَاطِ يَوْمَ تَنْزِلُ فِيْهِ أَقْدَامُ الْمُنَافِقِيْنَ

Allahumma inni a’uudzu bika an tanzila qadami ‘an ash-shiraathi yauma tanzilu fiihi aqdaamul munaafiqiin

“Ya Allah, aku berlindung pada-Mu, dari tergelincir saat melintasi jembatan shirathal mustaqim, kelak di hari ketika banyak telapak kaki orang munafik yang tergelincir”.

Terkait doa diatas, kelak di akhirat, semua manusia akan melewati jembatan shirathal mustaqim, yakni jembatan yang dibawahnya terdapat jurang menuju neraka, dan di ujung jembatan terdapat surga. Orang yang beriman niscaya akan mampu melewati jembatan tersebut dan menuju surga, sementara orang munafik, banyak yang tergelincir dan masuk ke jurang neraka.

Terakhir, tertib dan melakukan semua rukun secara berkesinambungan tanpa ada pemisah.

Setelah wudhu dianjurkan membaca doa:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللهَ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِيْ مِنْ الْمُتَطَهِّرِينَ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إلَيْكَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ


Asyhadu al laa ilaaha illaLlah wahdahu laa syariika lah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuuluhu. Allahumma ij’alni minat tawwaabiina waj’alni minal mutathahhiriin. Subhaanaka Allahumma wa bihamdika asyhadu al laa ilaaha illa Anta astaghfiruka wa atuubu ilaik. Wa shallaLlahu ‘ala sayyidina Muhammad wa `aali Muhammad.

“Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Ya Allah, jadikanlah aku sebagian dari orang-orang yang bertaubat, dan jadikanlah aku sebagian dari orang yang suci. Maha suci engkau Ya Allah, dan dengan memuji-Mu. Aku bersaksi tiada Tuhan selain Engkau, aku meminta ampunan pada-Mu, dan bertaubat pada-Mu. Semoga berkah rahmat Allah senantiasa terlimpahkan pada nabi Muhammad dan keluarganya.”

Jumaat, 26 Julai 2019

PIAGAM MUAFAKAT DI ANTARA PAS&UMNO

[26/07, 10:22 am] Norza:
KENYATAAN MEDIA BERSAMA SETIAUSAHA AGUNG UMNO-PAS BERHUBUNG PIAGAM MUAFAKAT DI ANTARA KEDUA-DUA PARTI

UMNO dan PAS telah mencapai kata sepakat untuk berkerjasama (berta’awun) antara satu dengan lain dalam mengharungi cabaran arus perdana politik tanah air.

Untuk itu, kedua-dua parti telah memuktamadkan dan akan memeteraikan SATU PIAGAM BERSAMA dan SATU MEMORANDUM PERSEFAHAMAN yang telah siap digubal oleh satu jawatankuasa bersama yang diwujudkan sebelum ini.

Kedua-dua parti juga telah bersetuju untuk mengadakan satu MAJLIS MENANDATANGANI PIAGAM pada Hari Sabtu, 14 September 2019, jam 11 pagi bertempat di DEWAN MERDEKA, PUSAT DAGANGAN DUNIA PUTRA (PWTC),
KUALA LUMPUR.

Kedua-dua parti memutuskan PIAGAM INI AKAN DITANDATANGANI SENDIRI OLEH PRESIDEN KEDUA-DUA PARTI.

Majlis bersejarah ini akan dihadiri oleh semua pemimpin UMNO dan PAS dari seluruh negara.

Tan Sri Annuar Musa
Setiausaha Agung
UMNO MALAYSIA

Dato’ Takiyuddin Hassan
Setiausaha Agung
PARTI ISLAM SE-MALAYSIA (PAS)

25 hb. Julai 2019
[26/07, 10:22 am] Norza:
FAKTA ASAL USUL POLITIK MALAYSIA

Mari kita RENUNG dan FIKIR sejarah politik Malaysia.

1. PAS lahir daripada UMNO. Bila Tn Hj Fuad kalah lawan Tunku Abd Rahman untuk jawatan Presiden parti.

2. PKR lahir daripada  UMNO bila Anwar Ibrahim dipecat daripada jawatan Timbalan Presiden.

3. PAN lahir daripada  PAS bila Mat Sabu dan G18 kalah dalam muktamar pemilihan PAS.

4. PPBM lahir daripada UMNO bila Mahathir gagal mengangkat anak dan kroninya dalam UMNO.                       
          
5. Kini semua pengasas PKR sudah lari kembali kepada BN apabila tersedar mereka dikencing kerana PKR hanya alat peribadi Anwar.                  

6. Kini PPBM semakin retak menanti belah setelah ahlinya sedar PPBM adalah hak milik Lim Kit Siang.

7. DAP lahir selepas Singapura keluar daripada Malaysia.                           

8. DAP lahir daripada PAP. Lim Kit Siang bekas Setiausaha Politik Lee Kuan Yew.        

9. PAP dan DAP daripada acuan yg sama. Lahir drp MPAJA dan komunis Bintang 3 yang wujud di Tanah Melayu oleh Chin Peng.                                   

10. Ramai melayu dipancung disembelih. Ramai juga yg dirogol dan disula. Apabila kehendak komunis gagal dipenuhi. Itulah asal DAP amat licik.
                                               
11. Dulu di hutan kini mereka di bandar. Agenda perjuangan komunis masih tak berubah.
       
12. Yg tak berapa faham hanya org melayu. Akibat senang dipengaruhi pangkat dan wang, mereka lupa sejarah lampau. Mereka alpa dgn keindahan seketika. Setiap masa kita diperkuda sampai mampus. Apabila DAP sudah berkuasa, kita akan di”babi”kan mereka. Tak guna menangis lagi kerana nasi sudah menjadi bubur. DAP tetap anti melayu sampai bila2 pun kerana azam DAP untuk hancur UMNO dan melayu.                      

Nota; Cuba kaji latarbelakang dan salasilah pemimpin utama DAP. Mereka ini semua ada kaitan kekeluargaan dan beragama Kristian Evangelist iaitu agama pecahan Kristian yg dibuat oleh Yahudi Nasrani.

Chin Peng adalah pengasas Parti Komunis Malaya merupakan sepupu kpd Lim Kit Siang dan Lee Kuan Yew. Pengerusi DAP Perak, Ngeh Koo Ham dan Ngeh Kor Ming adalah anak saudara kepada Chin Peng. Anthony Loke, DAP N9 adalah anak dua pupu kpd Chin Peng. Teresa Kok adalah  sepupu kepada  isteri Lim Kit Siang. Tony Phua adalah  anak sepupu kpd Lee Kuan Yew. Nizar (bekas MB Perak) juga sepupu Ngeh dan Ngor.                                                       

Sila share pd anak muda melayu supaya mereka kaji sejarah dan jgn pakai ikut dan hentam kromo saja. Jadikan sejarah sebg tauladan supaya bangsa ini takkan lenyap di arus zaman. Jgn jadi Melayu Champa; drp kerajaan yg hebat suatu masa dulu kini merempat di bumi sendiri, Kemboja.

- Fikir2kan dan Renung2kanlah...

Wallahu a'lam...

https://t.me/AgensiRakyat

Khamis, 25 Julai 2019

Antara tanda-tanda Allah CINTA atau BENCI kepada hambaNya

Tanda-tanda Allah cinta pada hambaNya

Allah Ta’ala berfirman mafhumnya:

“Katakanlah (wahai Muhammad), jikalau engkau semua mencintai Allah, maka ikutilah aku, tentu engkau semua dicintai oleh Allah, serta Allah mengampuni dosamu semua dan Allah itu adalah Maha Pengampun lagi Penyayang,” [Surah Aali-lmran : 31]

Apa lagi yang lebih berharga dan lebih penting dari mendapat CINTA dari Allah S.w.t Pencipta sekalian makhluk.  Jika sudah mendapat cinta Allah, maka insyaAllah akan berbahagialah hidup di dunia dan juga di akhirat.

Di antara tanda-tanda Allah cinta pada hambaNya;

1 - Faham agama: Rasulullah S.a.w bersabda, maksudnya : “Apabila Allah mencintai seseorang maka Dia membuatnya faham mengenai agamanya.” [Hadits Riwayat al-Bukhari dan Muslim]

"....... Allah meninggikan darjat orang-orang yang beriman di antara kamu, dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan agama (dari kalangan kamu) beberapa darjat, dan (ingatlah), Allah Maha Mendalam PengetahuanNya tentang apa yang kamu lakukan."  [Surah Al-Mujadilah : ayat 11]

2 - Sabar dan redha dengan ujian-ujian dari Allah: "Dan sungguh akan Kami berikan ujian kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (iaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun" Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." [Surah Al-Baqarah : 155-157]

"Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. Dan sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum pasti Dia menguji mereka. Maka siapa yang redha (terhadapnya) maka baginya keredhaan Allah, dan siapa yang marah (terhadapnya) maka baginya kemurkaan Allah." [Hadits Riwayat Al-Tirmidzi dan Ibnu Majah]

"Tidaklah seorang mukmin dan mukminah tertimpa musibah pada dirinya, anaknya dan hartanya sehingga dia berjumpa Allah Ta'ala tidak membawa satu kesalahan pun." [Hadits Riwayat Al-Tirmidzi. Beliau berkata: hadits hasan shahih]

"Kalau Allah menghendaki kebaikan kepada hambaNya, maka akan disegerakan hukumannya di dunia, kalau mengkehendaki kepada hambaNya keburukan, maka ditahan (siksanya) kerana dosanya sampai penuh nanti di hari kiamat."  [Hadits Riwayat Tirmizi, 2396]

Oleh itu antara tanda Allah mencintai seorang hamba juga ialah Dia uji hamba itu dengan pelbagai ujian. Maka jika hamba itu bersabar dan redha, itulah tandanya Allah cintakan hamba tersebut. 

Dan ketahuilah, para rasul dan nabi lah yang paling berat menerima ujian dan musibah dari Allah S.w.t. Kerana itulah darjat mereka tinggi, dan menjadi teladan kepada seluruh manusia dalam menempuh kehidupan yang serba mencabar ini.

3 - Cinta mencintai kerana Allah: “Allah s.w.t berfirman, “pasti akan mendapat cinta-Ku orang-orang yang cinta-mencintai kerana Aku, saling kunjung mengunjungi kerana Aku dan saling memberi kerana Aku.” [Hadits Qudsi]

Semoga kita tidak menjadi orang yang cintakan manusia lain kerana nafsu syahwat, harta-benda dan keduniaan semata-mata. Cinta yang paling utama ialah cinta kepada Allah S.w.t, kemudian kepada Rasulullah S.a.w, ibu bapa dan barulah manusia-manusia lain.

4 - Berakhir hidup dengan husnul khatimah: Rasulullah S.a.w bersabda: "Jika Allah mencintai seorang hamba, Dia akan memaniskannya."

Sahabat bertanya: "Apa itu memaniskannya ya Rasulullah?"

Baginda berkata: "Dia akan memberinya petunjuk untuk melakukan kebaikan ketika menjelang ajalnya, sehingga tetangga akan meredhainya (atau ia berkata) orang sekelilingnya." [Hadits Riwayat Al-Hakim]

5 - Sentiasa berzikir pada Allah: Diriwayatkan bahawa Nabi Musa 'Alaihi salam pernah berkata, " Wahai Rabb Ku Yang Maha Mulia, Bagaimana aku dapat membezakan antara orang yang ENGKAU CINTAI dengan orang yang ENGKAU BENCI?"

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:  "Wahai Musa, Sesungguhnya jika Aku mencintai seorang hamba, maka Aku akan menjadikan dua tanda kepadanya"

Nabi Musa bertanya, "Wahai Rabb, apa kedua tanda itu?"

Allah S.w.t berfirman: "Aku akan mengilhamkannya agar dia berdzikir kepada Ku, agar aku dapat menyebutnya di kerajaan langit dan Aku akan menahannya dari lautan murka Ku, agar dia tidak terjerumus dalam azab dan siksaKu."

Tanda-tanda Allah benci pada hambaNya

1 - Lupa dan malas berzikir pada Allah: "Wahai Musa, jika Aku membenci seorang hamba, Aku jadikan juga dua tanda kepadanya"

Nabi Musa Alaihisalam : "Wahai RabbKu, apa kedua tanda itu?"

Allah S.w.t berfirman : "Aku akan melupakannya berdzikir kepada Ku, Aku akan melepaskan ikatan antara dirinya dan jiwanya,  agar dia terjerumus dalam lautan Murka Ku dan merasakan azab pedihKu."

2 - Syirik kepada Allah S.w.t: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar." [Surah An Nisa’ : 48]

3 - Hidup senang-lenang tanpa mendapat ujian berat yang membolehkannya menginsafi diri dan takut pada Allah.

"Kalau Allah menghendaki kebaikan kepada hambaNya, maka akan disegerakan hukumannya di dunia, kalau mengkehendaki kepada hambaNya keburukan, maka ditahan (siksanya) kerana dosanya sampai penuh nanti di hari kiamat."  [Hadits Riwayat Tirmizi, 2396]

4 - Banyak melakukan maksiat dan kerosakan, terutamanya maksiat dan perkara-perkara mungkar yang terang-terang tanpa malu dan segan.

"Allah tidak suka perbuatan orang yang melakukan kerosakan dalam masyarakat." [Surah Al Baqarah : ayat 205]

"Allah tidak suka para pengkhianat yang banyak berbuat dosa." [Surah An Nisaa’ : ayat 107]

".......dan (ingatlah) sesiapa yang dihinakan oleh Allah maka dia tidak akan beroleh sesiapa pun yang dapat memuliakannya, sesungguhnya Allah tetap melakukan apa yang dirancangkanNya." [Surah al-Hajj : ayat 18]

5 - Cinta kepada dunia dan hawa nafsu lebih daripada cinta kepada Allah dan RasulNya.

"Katakanlah: Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khuatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (daripada) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasiq." [Suraah At Taubah : Ayat 24]

"Tidak (sempurna) iman seorang daripada kamu sehingga aku (Muhammad) lebih disayangi daripada hartanya, anaknya dan orang lain." [Hadits riwayat Bukhari]

"Tidakkah kamu lihat (wahai Muhammad) orang yang menjadikan tuhannya ialah hawa nafsunya, dan Allah sesatkan dirinya padahal dia berilmu…" [Surah Al Jatsiyah : ayat 23]

6 - Orang yang sombong (takabbur).  "....... Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang sombong takabbur dan membangga-banggakan diri." [Surah An-Nisaa' : ayat 36]

"Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (kerana sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri." [Surah Luqman : ayat 18]

"Mahukah kamu aku beritahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang keras lagi kasar, tamak lagi rakus, dan takabbur (sombong)." [HR Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853]

"Tidak akan masuk syurga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi." Ada seseorang yang bertanya, "Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan selipar yang bagus?" Beliau S.a.w menjawab, "Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan merendah-rendahkan orang lain." [HR Muslim no. 91]

Imam Adz-Dzahabi rahimahullahu berkata, "Kesombongan yang paling buruk adalah orang yang menyombongkan diri di hadapan manusia dengan ilmunya, merasa dirinya besar dengan kemuliaan yang dia miliki. Bagi orang tersebut tidak bermanfaat ilmunya untuk dirinya. Barangsiapa yang menuntut ilmu demi akhirat maka ilmunya itu akan menimbulkan hati yang khusyu' serta jiwa yang tenang. Dia akan terus mengawasi dirinya dan tidak bosan untuk terus memerhatikannya, bahkan setiap saat dia selalu introspeksi dan meluruskannya. Apabila dia lalai dari hal itu, dia akan menyimpang dari jalan yang lurus dan akan binasa. Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk membanggakan diri dan meraih kedudukan, memandang remeh kaum muslimin yang lainnya serta membodoh-bodoh dan merendahkan mereka, maka hal ini merupakan kesombongan yang paling besar. Tidak akan masuk syurga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun hanya sebesar dzarrah (biji sawi).  Laa haula wa laa quwwata illaa billah."

7 - Orang yang tidak tenang dan sentiasa resah-gelisah kerana dunia. 
"....... dan sesiapa yang Allah kehendaki untuk menyesatkannya, nescaya Dia menjadikan dadanya sesak sempit sesempit-sempitnya, seolah-olah dia sedang mendaki naik ke langit (dengan susah payahnya). Demikianlah Allah menimpakan azab kepada orang-orang yang tidak beriman." 
[Surah al-An'aam : ayat 125]

8 - Orang yang menentang ajaran Islam.   Umar ibnu al-Khattab r.a berkata, "Kita dimuliakan Allah dengan Islam dan barangsiapa yang mencari kemuliaan selain dari Islam, maka dia akan dihinakan." [Ibnu Abdil Birr dalam kitab Al-Mujalasah wa Jawahiril Ilmi, juz II, hlm 273]

"Dan tidaklah layak bagi orang yang beriman sama ada lelaki atau perempuan, apabila telah ditetapkan oleh Allah S.w.t dan RasulNya akan sesuatu perkara, bahawa dia membuat pilihan yang lain selain dari apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan RasulNya. Barangsiapa yang mengingkari Allah dan RasulNya maka sesungguhnya dia telah sesat dengan suatu kesesatan yang nyata." 
[Surah al-Ahzab : ayat 36]

“Dan hendaklah engkau menjalankan hukum di antara mereka dengan apa yang telah diturunkan oleh Allah dan janganlah engkau menurut kehendak hawa nafsu mereka, dan berjaga-jagalah supaya mereka tidak memesongkanmu dari sesuatu hukum yang telah diturunkan oleh Allah kepadamu. Kemudian jika mereka berpaling (enggan menerima hukum Allah itu), maka ketahuilah, hanyasanya Allah mahu menyeksa mereka dengan sebab sebahagian dari dosa-dosa mereka; dan sesungguhnya kebanyakan dari umat manusia itu adalah orang-orang yang fasiq." 
[Surah Al-Ma’idah : ayat 49]

Khamis, 18 Julai 2019

Kelebihan Memasuki masjid kami ini untuk mempelajari kebaikan

Daripada Abu Hurairah RA bahawa Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ جَاءَ مَسْجِدِي هَذَا، لَمْ يَأْتِهِ إِلَّا لِخَيْرٍ يَتَعَلَّمُهُ أَوْ يُعَلِّمُهُ، فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَمَنْ جَاءَ لِغَيْرِ ذَلِكَ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الرَّجُلِ يَنْظُرُ إِلَى مَتَاعِ غَيْرِهِ

Maksudnya: “Barangsiapa yang mendatangi masjidku ini, tidaklah dia datang melainkan kerana sesuatu kebaikan yang dia pelajari atau mengajarkannya, maka dia seperti orang yang berjihad di jalan Allah. Dan barangsiapa yang mendatanginya disebabkan selain daripada itu, maka dia seperti seseorang yang melihat barang milik orang lain.” [Riwayat Ibn Majah (227)]

Adapun di dalam riwayat yang lain sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam musnadnya:

Daripada Abu Hurairah RA bahawa Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ دَخَلَ مَسْجِدَنَا هَذَا لِيَتَعَلَّمَ خَيْرًا، أَوْ لِيُعَلِّمَهُ، كَانَ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَمَنْ دَخَلَهُ لِغَيْرِ ذَلِكَ، كَانَ كَالنَّاظِرِ إِلَى مَا لَيْسَ لَهُ

Maksudnya: “Barangsiapa yang memasuki masjid kami ini untuk mempelajari kebaikan atau mengajarkannya seperti seseorang yang berjihad di jalan Allah. Dan barangsiapa yang memasukinya disebabkan selain daripada itu, maka dia seperti seseorang yang melihat sesuatu yang bukan miliknya.” [Riwayat Ahmad (8603)]

Berkaitan status hadith ini menjadi perselisihan dalam kalangan para ulama, Syeikh Syu’iab al-Arna’outh menilai hadith ini sebagai dhaif disebabkan salah seorang perawi bernama Humaid diperselisihi hukumnya dalam kalangan ahli hadith. [Lihat: Musnad Ahmad, /154] Manakala Syeikh al-Albani menilai hadith ini sebagai sahih. [Lihat: Sahih wa Dhaif Sunan Ibn Majah, 1/299] Di samping itu, Imam Ibn Hibban menukilkan riwayat Ahmad di dalam kitab sahihnya. [Lihat: Sahih Ibn Hibban, 288/1] Selain itu, Imam al-Munziri mengatakan bahawa tidak terdapat di dalam sanad perawi yang ditinggalkan dan perawi yang disepakati akan kedhaifannya oleh para ulama. [Lihat: al-Targhib wa al-Tarhib, 1/60] Setelah melihat kepada beberapa pandangan di atas, kami cenderung kepada hadith ini adalah sahih sebagaimana yang dinilai oleh Imam Ibn Hibban.

Adapun, maksud Nabi SAW apabila menyatakan “barangsiapa yang mendatangi masjidku ini” boleh difahami dengan maksud Nabi SAW mengkhususkan kelebihan ini hanya pada masjid al-Nabawi sahaja atau Nabi SAW menyatakan masjidku ini adalah disebabkan pada waktu itu hanya masjid al-Nabawi merupakan tempat untuk menyebarkan serta mempelajari ilmu. Tambahan pula, perumpamaan orang yang menuntut ilmu seperti orang yang berjihad di jalan Allah adalah kerana perbuatan tersebut menghidupkan agama, pencelaan kepada syaitan, meletihkan badan dan sebagainya. Selain itu, di dalam hadith ini menunjukkan bahawa masjid merupakan pasar ilmu, maka sesiapa yang mendatanginya perlu membeli ilmu dengan mempelajarinya atau mengajarkannya. Dengan itu, seseorang itu akan mendapatkan faedah daripadanya. [Lihat: Hasyiah al-Sindi ‘ala Sunan Ibn Majah, 100-101/1]

Kesimpulannya, hadith yang menceritakan berkaitan kelebihan menuntut ilmu di masjid al-Nabawi adalah sahih sebagaimana yang telah kami jelaskan di atas. Di samping itu juga, kita sebagai seorang muslim perlulah sentiasa berusaha untuk mencari ilmu kerana ia merupakan satu tuntutan dan kewajipan ke atas kita. Adapun bagi orang yang berkemampuan untuk mengajarkannya, maka menjadi kewajipan ke atasnya untuk menyampaikan ilmu tersebut. Akhirnya, semoga Allah SWT memberi kita kefahaman di dalam agama serta menjadikan ilmu yang diperolehi adalah ilmu yang bermanfaat. Amin.

Wallahua’lam

Selasa, 2 Julai 2019

BAHAYA SYIAH

FATWA IMAM MALIK

Al Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar Al Marwazi, katanya : Saya mendengar Abu Abdulloh berkata, bahwa Imam Malik berkata :

“Orang yang mencela sahabat-sahabat Nabi, maka ia tidak termasuk dalam golongan Islam”

( Al Khalal / As Sunnah, 2-557 )

Begitu pula Ibnu Katsir berkata, dalam kaitannya dengan firman Allah surat Al Fath ayat 29, yang artinya :

“ Muhammad itu adalah Rasul (utusan Allah). Orang-orang yang bersama dengan dia (Mukminin) sangat keras terhadap orang-orang kafir, berkasih sayang sesama mereka, engkau lihat mereka itu rukuk, sujud serta mengharapkan kurnia daripada Allah dan keridhaanNya. Tanda mereka itu adalah di muka mereka, karena bekas sujud. Itulah contoh (sifat) mereka dalam Taurat. Dan contoh mereka dalam Injil, ialah seperti tanaman yang mengeluarkan anaknya (yang kecil lemah), lalu bertambah kuat dan bertambah besar, lalu tegak lurus dengan batangnya, sehingga ia menakjubkan orang-orang yang menanamnya. (Begitu pula orang-orang Islam, pada mula-mulanya sedikit serta lemah, kemudian bertambah banyak dan kuat), supaya Allah memarahkan orang-orang kafir sebab mereka. Allah telah menjanjikan ampunan dan pahala yang besar untuk orang-orang yang beriman dan beramal salih diantara mereka”.

Beliau berkata : Dari ayat ini, dalam satu riwayat dari Imam Malik, beliau mengambil kesimpulan bahwa golongan Rofidhoh (Syiah), yaitu orang-orang yang membenci para sahabat Nabi SAW, adalah Kafir.
Beliau berkata : “Karena mereka ini membenci para sahabat, maka dia adalah Kafir berdasarkan ayat ini”. Pendapat tersebut disepakati oleh sejumlah Ulama.

(Tafsir Ibin Katsir, 4-219)

Imam Al Qurthubi berkata : “Sesungguhnya ucapan Imam Malik itu benar dan penafsirannya juga benar, siapapun yang menghina seorang sahabat atau mencela periwayatannya, maka ia telah menentang Allah, Tuhan seru sekalian alam dan membatalkan syariat kaum Muslimin”.

(Tafsir Al Qurthubi, 16-297).

FATWA IMAM AHMAD

Al Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar Al Marwazi, ia berkata : “Saya bertanya kepada Abu Abdullah tentang orang yang mencela Abu Bakar, Umar dan Aisyah? Jawabnya, saya berpendapat bahwa dia bukan orang Islam”.

( Al Khalal / As Sunnah, 2-557).

Beliau Al Khalal juga berkata : Abdul Malik bin Abdul Hamid menceritakan kepadaku, katanya: “Saya mendengar Abu Abdullah berkata : “Barangsiapa mencela sahabat Nabi, maka kami khawatir dia keluar dari Islam, tanpa disadari”.

(Al Khalal / As Sunnah, 2-558).

Beliau Al Khalal juga berkata :

“ Abdullah bin Ahmad bin Hambal bercerita pada kami, katanya : “Saya bertanya kepada ayahku perihal seorang yang mencela salah seorang dari sahabat Nabi SAW. Maka beliau menjawab : “Saya berpendapat ia bukan orang Islam”.

(Al Khalal / As Sunnah, 2-558)

Dalam kitab AS SUNNAH karya IMAM AHMAD halaman 82, disebutkan mengenai pendapat beliau tentang golongan Rofidhoh (Syiah) :

“Mereka itu adalah golongan yang menjauhkan diri dari sahabat Muhammad SAW dan mencelanya, menghinanya serta mengkafirkannya, kecuali hanya empat orang saja yang tidak mereka kafirkan, yaitu Ali, Ammar, Migdad dan Salman. Golongan Rofidhoh (Syiah) ini sama sekali bukan Islam.

FATWA AL BUKHORI

Iman Bukhori berkata : “Bagi saya sama saja, apakah aku sholat dibelakang Imam yang beraliran JAHM atau Rofidhoh (Syiah) atau aku sholat di belakang Imam Yahudi atau Nasrani. Dan seorang Muslim tidak boleh memberi salam pada mereka, dan tidak boleh mengunjungi mereka ketika sakit juga tidak boleh kawin dengan mereka dan tidak menjadikan mereka sebagai saksi, begitu pula tidak makan hewan yang disembelih oleh mereka.
(Imam Bukhori / Kholgul Afail, halaman 125).

FATWA AL FARYABI

Al Khalal meriwayatkan, katanya : “Telah menceritakan kepadaku Harb bin Ismail Al Karmani, katanya : “Musa bin Harun bin Zayyad menceritakan kepada kami : “Saya mendengar Al Faryaabi dan seseorang bertanya kepadanya tentang orang yang mencela Abu Bakar. Jawabnya : “Dia kafir”. Lalu ia berkata : “Apakah orang semacam itu boleh disholatkan jenazahnya ?”. Jawabnya : “Tidak”. Dan aku bertanya pula kepadanya : “Mengenai apa yang dilakukan terhadapnya, padahal orang itu juga telah mengucapkan Laa Ilaaha Illalloh?”. Jawabnya : “Janganlah kamu sentuh jenazahnya dengan tangan kamu, tetapi kamu angkat dengan kayu sampai kamu turunkan ke liang lahatnya”.
(Al Khalal / As Sunnah, 6-566)

FATWA AHMAD BIN YUNUS

Beliau berkata : “Sekiranya seorang Yahudi menyembelih seekor binatang dan seorang Rofidhi (Syiah) juga menyembelih seekor binatang, niscaya saya hanya memakan sembelihan si Yahudi dan aku tidak mau makan sembelihan si Rofidhi (Syiah), sebab dia telah murtad dari Islam”.
(Ash Shariim Al Maslul, halaman 570).

 FATWA ABU ZUR’AH AR ROZI

Beliau berkata : “Bila anda melihat seorang merendahkan (mencela) salah seorang sahabat Rasulullah SAW, maka ketahuilah bahwa dia adalah ZINDIIG. Karena ucapannya itu berakibat membatalkan Al-Qur'an dan As Sunnah”.
(Al Kifayah, halaman 49).

FATWA ABDUL QODIR AL BAGHDADI
 
Beliau berkata : “Golongan Jarudiyah, Hisyamiyah, Jahmiyah dan Imamiyah adalah golongan yang mengikuti hawa nafsu yang telah mengkafirkan sahabat-sahabat terbaik Nabi, maka menurut kami mereka adalah kafir. Menurut kami mereka tidak boleh di sholatkan dan tidak sah berma’mum sholat di belakang mereka”.
(Al Fargu Bainal Firaq, halaman 357).

Beliau selanjutnya berkata : “Mengkafirkan mereka adalah suatu hal yang wajib, sebab mereka menyatakan Allah bersifat Al Bada’

FATWA IBNU HAZM

Beliau berkata : “Salah satu pendapat golongan Syiah Imamiyah, baik yang dahulu maupun sekarang ialah, bahwa Al-Qur'an sesungguhnya sudah diubah”. Kemudian beliau berkata : ”Orang yang berpendapat bahwa Al-Qur'an yang ada ini telah diubah adalah benar-benar kafir dan mendustakan Rasulullah SAW”.
(Al Fashl, 5-40).

FATWA ABU HAMID AL GHOZALI

Imam Ghozali berkata : “Seseorang yang dengan terus terang mengkafirkan Abu Bakar dan Umar Rodhialloh Anhuma, maka berarti ia telah menentang dan membinasakan Ijma kaum Muslimin. Padahal tentang diri mereka (para sahabat) ini terdapat ayat-ayat yang menjanjikan surga kepada mereka dan pujian bagi mereka serta pengukuhan atas kebenaran kehidupan agama mereka, dan keteguhan aqidah mereka serta kelebihan mereka dari manusia-manusia lain”.
Kemudian kata beliau : “Bilamana riwayat yang begini banyak telah sampai kepadanya, namun ia tetap berkeyakinan bahwa para sahabat itu kafir, maka orang semacam ini adalah kafir. Karena dia telah mendustakan Rasulullah. Sedangkan orang yang mendustakan satu kata saja dari ucapan beliau, maka menurut Ijma’ kaum Muslimin, orang tersebut adalah kafir”.
(Fadhoihul Batiniyyah, halaman 149).

 FATWA AL QODHI IYADH

Beliau berkata : “Kita telah menetapkan kekafiran orang-orang Syiah yang telah berlebihan dalam keyakinan mereka, bahwa para Imam mereka lebih mulia dari pada para Nabi”.
Beliau juga berkata : “Kami juga mengkafirkan siapa saja yang mengingkari Al-Qur'an, walaupun hanya satu huruf atau menyatakan ada ayat-ayat yang diubah atau ditambah di dalamnya, sebagaimana golongan Batiniyah (Syiah) dan Syiah Ismailiyah”.
(Ar Risalah, halaman 325).

FATWA AL FAKHRUR ROZI

Ar Rozi menyebutkan, bahwa sahabat-sahabatnya dari golongan Asyairoh mengkafirkan golongan Rofidhoh (Syiah) karena tiga alasan :
Pertama: Karena mengkafirkan para pemuka kaum Muslimin (para sahabat Nabi). Setiap orang yang mengkafirkan seorang Muslimin, maka dia yang kafir. Dasarnya adalah sabda Nabi SAW, yang artinya : “Barangsiapa berkata kepada saudaranya, hai kafir, maka sesungguhnya salah seorang dari keduanya lebih patut sebagai orang kafir”.
Dengan demikian mereka (golongan Syiah) otomatis menjadi kafir.
Kedua: “Mereka telah mengkafirkan satu umat (kaum) yang telah ditegaskan oleh Rasulullah sebagai orang-orang terpuji dan memperoleh kehormatan (para sahabat Nabi)”.
Ketiga: Umat Islam telah Ijma’ menghukum kafir siapa saja yang mengkafirkan para tokoh dari kalangan sahabat.
(Nihaayatul Uguul, Al Warogoh, halaman 212).

FATWA IBNU TAIMIYAH

Beliau berkata : “Barangsiapa beranggapan bahwa Al-Qur'an telah dikurangi ayat-ayatnya atau ada yang disembunyikan, atau beranggapan bahwa Al-Qur'an mempunyai penafsiran-penafsiran batin, maka gugurlah amal-amal kebaikannya. Dan tidak ada perselisihan pendapat tentang kekafiran orang semacam ini”
Barangsiapa beranggapan para sahabat Nabi itu murtad setelah wafatnya Rasulullah, kecuali tidak lebih dari sepuluh orang, atau mayoritas dari mereka sebagai orang fasik, maka tidak diragukan lagi, bahwa orang semacam ini adalah kafir. Karena dia telah mendustakan penegasan Al-Qur'an yang terdapat di dalam berbagai ayat mengenai keridhoan dan pujian Allah kepada mereka. Bahkan kekafiran orang semacam ini, adakah orang yang meragukannya? Sebab kekafiran orang semacam ini sudah jelas....
(Ash Sharim AL Maslul, halaman 586-587).

FATWA SYAH ABDUL AZIZ DAHLAWI

Sesudah mempelajari sampai tuntas mazhab Itsna Asyariyah dari sumber-sumber mereka yang terpercaya, beliau berkata : “Seseorang yang menyimak aqidah mereka yang busuk dan apa yang terkandung didalamnya, niscaya ia tahu bahwa mereka ini sama sekali tidak berhak sebagai orang Islam dan tampak jelaslah baginya kekafiran mereka”.
(Mukhtashor At Tuhfah Al Itsna Asyariyah, halaman 300).

FATWA MUHAMMAD BIN ALI ASY SYAUKANI

Perbuatan yang mereka (Syiah) lakukan mencakup empat dosa besar, masing-masing dari dosa besar ini merupakan kekafiran yang terang-terangan.
Pertama : Menentang Allah.
Kedua : Menentang Rasulullah.
Ketiga : Menentang Syariat Islam yang suci dan upaya mereka untuk melenyapkannya.
Keempat : Mengkafirkan para sahabat yang diridhoi oleh Allah, yang didalam Al-Qur'an telah dijelaskan sifat-sifatnya, bahwa mereka orang yang paling keras kepada golongan Kuffar, Allah SWT menjadikan golongan Kuffar sangat benci kepada mereka. Allah meridhoi mereka dan disamping telah menjadi ketetapan hukum didalam syariat Islam yang suci, bahwa barangsiapa mengkafirkan seorang muslim, maka dia telah kafir, sebagaimana tersebut di dalam Bukhori, Muslim dan lain-lainnya.
(Asy Syaukani, Natsrul Jauhar Ala Hadiitsi Abi Dzar, Al Warogoh, hal 15-16)

PARA ULAMA SEBELAH TIMUR SUNGAI JAIHUN

Al Alusi (seorang penulis tafsir) berkata : “Sebagian besar ulama disebelah timur sungai ini menyatakan kekafiran golongan Itsna Asyariyah dan menetapkan halalnya darah mereka, harta mereka dan menjadikan wanita mereka menjadi budak, sebab mereka ini mencela sahabat Nabi SAW, terutama Abu Bakar dan Umar, yang menjadi telinga dan mata Rasulullah SAW, mengingkari kekhilafahan Abu Bakar, menuduh Aisyah Ummul Mukminin berbuat zina, padahal Allah sendiri menyatakan kesuciannya, melebihkan Ali r.a. dari rasul-rasul Ulul Azmi. Sebagian mereka melebihkannya dari Rasulullah SAW dan mengingkari terpeliharanya Al-Qur'an dari kekurangan dan tambahan”.
(Nahjus Salaamah, halaman 29-30).

Demikian telah kami sampaikan fatwa-fatwa dari para Imam dan para Ulama yang dengan tegas mengkafirkan golongan Syiah yang telah mencaci maki dan mengkafirkan para sahabat serta menuduh Ummul mukminin Aisyah berbuat serong, dan berkeyakinan bahwa Al-Qur'an yang ada sekarang ini tidak orisinil lagi (Mukharrof). Serta mendudukkan imam-imam mereka lebih tinggi (Afdhol) dari para Rasul.
Semoga fatwa-fatwa tersebut dapat membantu pembaca dalam mengambil sikap tegas terhadap golongan Syiah.
“Yaa Allah tunjukkanlah pada kami bahwa yang benar itu benar dan jadikanlah kami sebagai pengikutnya, dan tunjukkanlah pada kami bahwa yang batil itu batil dan jadikanlah kami sebagai orang yang menjauhinya.”