Selasa, 27 Disember 2011

MANUSIA YANG LEBIH SESAT DARIPADA BINATANG.





وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ (١٧٩)

Terjemahan:

(179) Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia; mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagaikan binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Al-A’raaf 7:179)

Mukaddimah:

Tujuan makhluk jin dan manusia diciptakan oleh Allah adalah supaya mereka mentauhidkan dan beribadah kepada Allah (Al-Zaariyat :56). Beribadat kepada Allah adalah bukti kita mensyukuri ni’mat pemberianNya. Dan di antara ni’mat yang paling utama yang wajib kita syukuri ialah: Telinga, Mata dan Hati. Ketiga-tiganya pasti akan ditanya oleh Allah di akhirat nanti. Dan dengan ni’mat-ni’mat tersebut kita boleh menjadi manusia yang sempurna dan memiliki ilmu pengetahuan.

Firman Allah:

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawapannya (ditanya). (Al-Israa 17:36)

وَاللّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لاَ تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ الْسَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَالأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan Allah yang mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”. (An-Nahl 16:78)

Di antara kesimpulan yang dapat diambil daripada ayat-ayat di atas ialah:


1. Telinga, mata dan hati termasuk ni’mat utama. Ketiga-tiganya disebut secara khusus dalam ayat untuk ditanya dan diminta pertanggung jawabannya di akhirat nanti, walaupun sebenarnya anggota-anggota lain juga akan ditanya.


2. Tujuan pemberian ketiga-tiga ni’mat tersebut ialah agar kita bersyukur kepada Yang Maha Pemberinya (Allah SWT).

Namun demikian, dalam kenyataannya (reality) sungguhsedikit manusia yang dapat mensyukuri ni’mat tersebut. Ini sebagaimana firman Allah:

وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ
“Dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali yang bersyukur”. (As-Sajadah 32:9)

Manusia: Antara Malaikat Dan Binatang:

Pada garis besarnya makhluk terbagi kepada tiga golongan iaitu:

1. Golongan Malaikat. Makhluk ini hanya Allah akan berikan akal tanpa nafsu. Itu sebabnya semua mereka senantiasa patuh kepada Allah dan tidak pernah durhaka.

2. Golongan Haiwan (binatang). Makhluk ini hanya Allah berikan nafsu tanpa akal. Itu sebabnya mereka tidak ada daya penimbang ukuran antara baik dan buruk.


3. Golongan Jin Dan Manusia. Tujuan penciptaan mereka adalah sama, oleh itu Allah SWT anugerahkan kepada mereka kedua-duanya, iaitu: Akal dan Nafsu.

Akal senantiasa mendorong manusia agar berbuat baik dan nafsu pula senantiasa mendorong manusia agar berbuat jahat. Jika akal seseorang dapat menundukkan nafsunya, maka ia akan menjadi manusia yang baik. Malahan mungkin juga lebih baik daripada Malaikat seperti Nabi Muhammad (sallallahu alaihi wasalam) dapat mengatasi kedudukan Jibrail dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Malaikat Jibrail hanya mampu naik sampai ke Sidratul Muntaha, tetapi Baginda Rasul dapat naik lebih tinggi daripada itu untuk menemui Allah SWT.

Demikian juga menurut setengah riwayat tentang jenis Jin yang bernama Azazil yang pernah diangkat menjadi imam para malaikat di langit setelah ia beribadah kepada Allah selama 8000 tahun di bumi dan di langit.

Sebaliknya jika nafsu seseorang dapat menundukkan akalnya maka ia boleh menjadi manusia yang jahat. Malahan mungkin lebih jahat dan lebih sesat daripada binatang. Ini sebagaimana kandungan ayat yang menjadi topik pembahasan kita.

Tafsiran Ayat:

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia

Maksudnya: Allah menyatakan dalam ayat ini bahwa kebanyakan penghuni neraka terdiri daripada golongan jin dan golongan manusia. Ini karena matlamat mereka dijadikan oleh Allah adalah sama iaitu agar mereka beribadah kepada Allah.

Apakah sifat-sifat manusia dan jin tersebut sehingga mereka mengalami nasib sedemikian? Allah SWT menjelaskan pada ayat yang sama bahwa di antara sebab-sebab utamanya ialah karena mereka tidak mensyukuri ni’mat telinga, mata dan hati.

Mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah)

Maksudnya: Dalam ayat ini pula Allah SWT menyatakan secara jelas sebab-sebab mengapa kebanyakan manusia dan jin dilemparkanNya ke dalam neraka Jahannam iaitu karena mereka tidak mensyukuri ketiga-tiga ni’mat di atas iaitu nikmat hati, ni’mat mata dan ni’mat telinga.

Imam Al-Ghazali berkata dalam kitabnya Ihyaa ‘Uluumiddin bahwa rukun syukur ada tiga:

1. Mengucap syukur dengan lidah (Alhamdulillah)

2. Pengakuan dalam hati bahwa ni’mat adalah anugerah Allah

3. Menggunakan ni’mat pada jalan yang diredhai Allah.

Atas dasar ini, seseorang belum lagi digolongkan telah bersyukur kepada Allah kalau hanya sekedar mengucapkan syukur dengan lisannya (Alhamdulillah) dan pengi’tirafannya bahwa ni’mat itu pemberian Allah sekiranya dia tidak ikuti dengan rukun ketiga iaitu menggunakan ni’mat tersebut sesuai dengan tujuan ni’mat itu diciptakan oleh Allah.

Mensyukuri ni’mat hati (minda) ialah dengan berusaha keras memahami ayat-ayat Allah samada ayat-ayat Al-Quraniyah ataupun ayat-ayat Kauniyah (kejadian dalam alam maya ini). Lanjutan daripada pemahaman yang mendalam itu akan membuahkan natijah bahwa hanya Allah saja yang wajib disembah dan dipatuhi dalam hidup ini.

Mensyukuri ni’mat mata (penglihatan) dan ni’mat telinga (pendengaran) ialah dengan menggunakan ni’mat-ni’mat tersebut untuk melihat akan kekuasaan Allah dan mendengar pengajaran dan nasehat yang terkandung dalam ayat-ayat Allah. Dan selanjutnya dengan bersikap demikian akhirnya ia akan insaf dan menjadi manusia yang lebih bertaqwa kepada Allah dan kometmen (istiqamah) dengan ajaran Islam.

Tetapi sekiranya ketiga-tiga ni’mat tersebut tidak disyukuri sebagaimana semestinya maka Allah SWT menggolongkan mereka seperti makhluk hewan (binatang), malahan lebih sesat lagi daripada binatang. Ini sebagaimana firman Allah SWT selanjutnya:

Mereka itu bagaikan binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi

Maksudnya: Mereka yang mempunyai sifat sebagaimana yang tersebut di atas adalah seperti binatang ternak: onta, kerbau, lembu, kambing. Mengapa demikian? Karena ni’mat-ni’mat di atas (telinga dan mata) hanya mereka gunakan untuk memenuhi keperluan syahwat jasmani atau duniawy sahaja. Malahan kedudukan mereka lebih sesat daripada binatang. Dan mengapa pula demikian? Karena mereka mempunyai kelebihan yang tidak ada pada binatang iaitu alat pembeda antara yang baik dan buruk, antara yang haq dan batil iaitu hati atau minda atau akal.

Mereka itulah orang-orang yang lalai

Maksudnya: Mereka adalah orang-orang yang lalai akan kemaslahatan (kebaikan) mereka pada dua kehidupan iaitu kehidupan di dunia dan di akhirat. Sebab jika manusia benar-benar memahami dan mengikuti panduan Al-Quran tentang rahasia penciptaan manusia niscaya mereka akan mempergunakan ni’mat-ni’mat tersebut dengan sebaik-baiknya, bukan hanya untuk kebaikannya di dunia yang sementara ini saja tetapi lebih-lebih lagi untuk memperbanyak perbekalannya di alam akhirat yang kekal abadi nanti.

Peringkat Kelalaian Manusia:

Kelalaian manusia tidak sama derjatnya.

1. Ada di antara mereka yang lalai daripada menghayati ayat-ayat Allah yang ada pada diri mereka dan alam semesta (ayat kauniyah), yang sebenarnya boleh menolong mereka untuk mengenali Allah (Ma’rifatul Llaah).

2. Ada pula yang lalai daripada menggunakan minda mereka untuk memikirkan tentang matlamat utama mereka diciptakan oleh Allah.

3. Ada juga yang lalai terhadap keperluan mereka yang asasi; baik dia sebagai indevidu, atau dia sebagai ketua rumah tangga, atau dia sebagai anggota masyarakat, atau dia sebagai salah seorang muslim atau muslimat.

Kesimpulan:

1. Penghuni neraka Jahannam kebanyakannya terdiri daripada Jin dan Manusia yang jahil dan lalai. Kejahilan mereka karena lalai mensyukuri ni’mat-ni’mat Allah.

2. Pendengaran, Penglihatan dan Hati termasuk ni’mat yang paling utama. Siapa yang pandai mensyukurinya akan bahagia di dunia dan di akhirat. Tetapi jika sebaliknya, mereka boleh menjadi makhluk yang lebih sesat daripada binatang.

3. Jika hati selalu digunakan untuk memikirkan akan kebesaran Allah dan memahami ayat-ayatNya (Quraniyah dan Kauniyah) dan jika mata selalu digunakan untuk melihat kekuasaan Allah dan telingan untuk mendengar pengajaran Allah yang terkandung dalam firmanNya, Insya Allah kita termasuk ke dalam golongan yang mensyukuri ni’mat-ni’mat Allah.

Wasallam.
Sumber: Ustaz Abdullah Yasin.

SIMPAN EMAS DAN DINAR EMAS LEBIH BAIK