Akhir-akhir ini ada sebahagian orang yang suka mencemarkan nama 1 atau sekumpulan ulama. Kemudian mereka meninggalkan dan tidak mengambil pendapat atau fatwa mereka, serta berlepas diri dari bimbingan mereka ... Lalu apa kesan dan risikonya? Padahal di sebutkan di dalam satu hadis, para Ulama ini adalah "Delegasi" Allah di muka bumi atas makhluknya. Merekalah yang mewarisi ilmu dari para Nabi.
Jika benar manusia sekarang sudah lari dan menjauhi ulama’ maka ada 3 adzab yang menimpa umat ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits
سَيَأْتِيْ زَمَانٌ عَلَى اُمَّتِيْ يَفِرُّوْنَ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَالْفُقَهَاءِ فَيَبْتَلِيْهِم اللهُتَعَالَى بِثَلاَثِ بَلِيَّاتٍ:
Akan datang kepada umatku suatu masa dimana mereka lari menjauhi ulama’ dan fuqoha’ (ahli fiqih), maka Allah menurunkan tiga bala’ untuk mereka.
Pertama
اُوْلاَهَا يَرْفَعُ بَرَكَةَ مِنْ كَسْبِهِمْ
Allah menghilangkan barokah dari usaha mereka
Benarkah saat ini mencari harta yang barokah sukar? Kalau tidak benar kenapa para konglomerat nakal, para pejabat korup yang sudah berharta trilyunan masih gila harta, masih memakan harta rakyat? Jawabnya kerana hartanya sudah tidak barokah. Hasil usaha yang tidak barokah pasti membawa kesan negatif, bila dimakan tidak menambah kenyang tapi malah kurang dan semakin rakus.
Makanan yang masuk menyebabkan tubuh malas beribadah, dan kebanyakan berakhir menjadi suatu penyakit. Harta yang tidak barokah bila digunakan untuk kos pendidikan anak bukannya menjadikan anak semakin baik melainkan malah menjadi semakin buruk, digunakan berfoya-foya, zina, dadah, sekurang-kurangnya menyebabkan anak berani terhadap orang tua. Lantas jika ingin selamat dari harta yang tidak barokah jalan satu-satunya adalah mendekat pada para ulama '.
Kedua
وَالثَّانِيَةُ يُسَلِّطُ اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِمْ سُلْطَانًا ظَالِمًا
Allah mengangkat penguasa untuk mereka, penguasa yang zalim.
Akibat jauh dari para ulama ', banyak diantara kita memilih pemimpin, pegawai, anggota dewan bukan lagi atas dasar kemampuannya berbuat adil tetapi kerana kemasyhuran beliau, atau kerana obral janjinya, atau kerana obral hartanya. Sehingga ketika menjawat jawatan mereka bukannya menjadi pengayom rakyat, pembawa suara rakyat, malah memakan harta rakyat.
Ketiga
وَالثَّالِثَةُ يَخْرُج. ُ مِنَ الدُّنْيَا بِغَيْرِ اِيْمَان
ٍ
Mereka keluar dari dunia (mati) dalam keadaan tanpa iman. Dengan kata lain Su'ul Khatimah. Dan inilah Azab yang paling ditakutkan, naudzu billahi min dzalik.
Jika hal ini terjadi maka kesengsaraan yang dialami bukan tahunan melainkan kekal selama-lamanya disiksa di api neraka.
Oleh karena itu, Bila menghormati para ulama diperintahkan, maka sebaliknya menghina dan merendahkan mereka dilarang, sungguh betapa mengerikan jika ada seorang muslim berani menghina Ulama Shalafus Shalih, ingin tahu bahayanya lainnya??
1. Menghina ulama akan menyebabkan rusaknya agama
Berkata Al-Imam Ath-Thahawi –rahimahullah- :
“Ulama salaf dari kalangan ulama terdahulu, demikian pula para tabi’in, harus disebut dengan kebaikan. Maka siapa yang menyebut mereka dengan selain kebaikan maka dia berada di atas kesesatan”
Berkata Al-Imam Ibnul Mubarak –rahimahullah- :
"Siapa yang mengganggu ulama, akan hilang akhiratnya. Siapa yang mengganggu umara '(pemerintah), akan hilang dunianya. Siapa yang mengganggu teman-temannya, akan hilang kehormatannya "
Dan mencela ulama termasuk diantara dosa-dosa besar.
2. Orang yang menghina ulama sama artinya dia mengumumkan perang kepada Allah. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits tentang wali Alloh yang diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari -rahimahullah- dari Abu Hurairah -radhiyallohu 'anhu-:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ : مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْآذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ – …رواه البخاري
Dari Abu Hurairah”Sesungguhnya Allah ta’ala telah berfirman :
‘Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka sesungguhnya Aku menyatakan perang terhadapnya…[HR. Al Bukhari]
Dan para ulama, mereka adalah termasuk wali-wali Allah.
3. Orang yang menghina ulama sengaja mencampakkan dirinya untuk terkena do’a dari seorang alim yang terzhalimi. Hal ini sebagaimana kisah salah seorang Shahabat yang bernama Sa’ad bin Abi Waqqash –radhiyallohu ‘anhu- dan beliau termasuk salah seorang dari 10 Shahabat yang dijamin dengan Surga.
4. Orang yang mencibir para ulama maka ia akan dijerumuskan kepada apa yang ia tuduhkan kepada ulama itu.
Berkata Ibrahim An-Nakha-i –rahimahullah- :
"Aku mendapati dalam jiwaku keinginan untuk membicarakan aib seseorang; akan tetapi yang mencegahku dari memperkatakannya adalah aku bimbang jika aib orang itu ternyata menimpa diriku "
5. Orang yang merasa lezat dengan meng-ghibah para ulama maka ia akan diberikan su-ul khatimah (akhir kehidupan yang jelek)
Al-Qadhi Az-Zubaidi, ketika dia meninggal dunia lisannya berubah menjadi hitam, hal ini dikarenakan dia suka mencibir Al-Imam An-Nawawi.
6. Daging para ulama itu beracun Berkata Imam Ahmad bin Hanbal –rahimahullah- :
“Daging para ulama itu beracun. Siapa yang menciumnya maka ia akan sakit. Siapa yang memakannya maka ia akan mati.”
7. Mencela ulama merupakan sebab terbesar bagi seseorang untuk terhalangi dari dapat mengambil faidah dari ilmu para ulama.
Berkata Al-Imam Hasan Al-Bashri –rahimahullah- : “Dunia itu seluruhnya gelap, kecuali majelis-majelisnya para ulama.”
Demikianlah dampak bahayanya menjauh, terlebih membenci dan meninggalkan diri dari bimbingan para ulama.
Semoga kita Allah persatukan di bawah bimbingan para Ulama Billah wa Fillah. Dan tidak di kelompokkan menjadi para pembenci kekasih-kekasih kekasih Allah.
Memaparkan catatan dengan label hina ulamak. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label hina ulamak. Papar semua catatan
Ahad, 7 Mei 2017
Sabtu, 27 April 2013
Barangsiapa yang menghina ulama maka dia telah menghina Nabi s.a.w

Bismillah,
Ketahuilah barangsiapa yang menghina ulama maka dia telah menghina Nabi s.a.w. Ulama adalah pewaris para anbiya’, kerana tugas mereka meneruskan perjuangan Nabi s.a.w. iaitu menyebarkan dakwah Islam agar mengesakan Allah s.w.t. Maka terkutuklah manusia yang bermain-main dan mempersendakan ulama kerana merekalah yang membawa sinar cahaya Islam selepas kewafatan baginda s.a.w.
Kedudukan ulama’ sangat mulia di sisi Allah s.w.t. Oleh itu, jangan sesekali kita memperkecilkan kewibawaan mereka apatah lagi menghina, mengutuk dan mencerca mereka dengan tuduhan yang tidak berasas. Bahkan termaktub di dalam hadith bahawa Nabi s.a.w. melarang kita daripada menyakiti hati orang kafir zimmi, inikan pula alim ulama kita. Tidak dinafikan bahawasanya mereka tidak terlepas daripada melakukan kesilapan, kesalahan dan juga dosa, tapi semua itu tidak boleh kita ukur dengan batang tubuh kita.Dalam sebuah atsar (riwayat) yang populer disebutkan, jadilah seorang alim, atau seorang penuntut ilmu, atau seorang penyimak ilmu yang baik, atau seorang yang mencintai Ahli Ilmu dan janganlah jadi yang kelima, niscaya kalian binasa. [1]
Salah seorang ulama Salaf mengatakan: "Maha suci Allah, Dia telah memberi jalan keluar bagi kaum muslimin. Yakni tidak akan keluar dari keempat golongan manusia yang dipuji tadi, melainkan golongan yang kelima, golongan yang binasa. Yaitu seorang yang bukan alim, bukan penuntut ilmu, bukan penyimak yang baik dan bukan pula orang yang mencintai Ahli Ilmu. Dialah orang yang binasa. Sebab, barangsiapa membenci Ahli Ilmu, berarti ia pasti mengharapkan kebinasaan mereka. Dan barangsiapa yang mengharapkan kebinasaan Ahli Ilmu, berarti ia menyukai padamnya cahaya Allah di atas muka bumi. Sehingga kemaksiatan dan kerusakan merajalela. Kalau sudah begitu keadaannya, dikhawatirkan tidak akan ada amal yang terangkat. Demikianlah yang dikatakan oleh Sufyan Ats Tsauri."

Menghormati ulama termasuk pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Musa Al Asy'ari Radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللَّهِ إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ وَحَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرِ الْغَالِي فِيهِ وَالْجَافِي عَنْهُ وَإِكْرَامَ ذِي السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ
Sesungguhnya termasuk pengagungan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, yaitu memuliakan orang tua yang muslim, orang yang hafal Al Qur'an tanpa berlebih-lebihan atau berlonggar-longgar di dalamnya dan memuliakan penguasa yang adil. [2]
Ubadah bin Shamit Radhiyallahu 'anhu meriwayatkan, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ
Bukan termasuk ummatku, siapa yang tidak memuliakan orang yang lebih tua, menyayangi orang yang lebih muda dan mengetahui hak-hak orang alim.[3]
Thawus rahimahullah mengatakan: "Termasuk Sunnah, yaitu menghormati orang alim." [4]
Berdasarkan nash-nash di atas, jelaslah bahwa kewajiban setiap muslim terhadap para ulama dan orang-orang shalih adalah mencintai dan menyukai mereka, menghormati dan memuliakan mereka, tanpa berlebih-lebihan atau merendahkan sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Mengolok-olok ulama dan orang-orang shalih, mengejek atau melecehkan mereka, tentu saja bertentangan dengan perintah untuk mencintai dan memuliakan mereka. Melecehkan ulama dan orang shalih, sama artinya dengan menghina dan merendahkan mereka. [5]

Rumah Allah pun sanggup dihina oleh Samseng munafik UMNO
Al Alusi mengatakan: "Istihza', artinya merendahkan dan mengolok-olok. Al Ghazzali menyebutkan makna istihza', yaitu merendahkan, menghinakan dan menyebutkan aib dan kekurangan, supaya orang lain mentertawainya; bisa jadi dengan perkataan, dan bisa dengan perbuatan dan isyarat." [6]
Mengolok-olok dan memandang rendah Ahli Ilmu dan orang shalih, termasuk sifat orang kafir dan salah satu cabang kemunafikan. Sebagaimana disebutkan dalam banyak ayat, diantaranya yaitu:
زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَيَسْخَرُونَ مِنَ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَالَّذِينَ اتَّقَوْا فَوْقَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَاللهُ يَرْزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertaqwa itu lebih mulia dari pada mereka di hari Kiamat. Dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendakiNya tanpa batas. [Al Baqarah:212]
Dalam ayat lain Allah mengatakan:
وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُوْلَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ . تَلْفَحُ وُجُوهَهُمُ النَّارُ وَهُمْ فِيهَا كَالِحُونَ . أَلَمْ تَكُنْ ءَايَاتِي تُتْلَى عَلَيْكُمْ فَكُنتُم بِهَا تُكَذِّبُونَ . قَالُوا رَبَّنَا غَلَبَتْ عَلَيْنَا شِقْوَتُنَا وَكُنَّا قَوْمًا ضَآلِّينَ . رَبَّنَآ أَخْرِجْنَا مِنْهَا فَإِنْ عُدْنَا فَإِنَّا ظَالِمُونَ . قَالَ اخْسَئُوا فِيهَا وَلاَتُكَلِّمُونِ . إِنَّهُ كَانَ فَرِيقٌ مِّنْ عِبَادِي يَقُولُونَ رَبَّنَآ ءَامَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ . فَاتَّخَذْتُمُوهُمْ سِخْرِيًّا حَتَّى أَنسَوْكُمْ ذِكْرِي وَكُنتُم مِّنْهُمْ تَضْحَكُونَ . إِنِّي جَزَيْتُهُمُ الْيَوْمَ بِمَاصَبَرُوا أَنَّهُمْ هُمُ الْفَآئِزُونَ
Dan barangsiapa yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam naar Jahannam. Muka mereka dibakar api naar, dan mereka di dalam naar itu dalam keadaan cacat. Bukankah ayat-ayatKu telah dibacakan kepadamu sekalian, tetapi kamu selalu mendustakannya? Mereka berkata: "Ya Rabb kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan adalah kami orang-orang yang tersesat. Ya Rabb kami, keluarkanlah kami daripadanya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zhalim". Allah berfirman: "Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku. Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hambaKu berdo'a (di dunia): "Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik. Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan, sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku, dan adalah kamu selalu mentertawakan mereka, Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka di hari ini, karena kesabaran mereka; sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang. [Al Mu’minun:103-111].
Berkaitan dengan tafsir ayat ini, Ibnu Katsir menyatakan: Kemudian Allah menyebutkan dosa mereka di dunia, yaitu mereka dahulu mengolok-olok hamba-hamba Allah yang beriman dan para waliNya. Allah mengatakan: "Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hambaKu berdo'a (di dunia): Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik. Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan," yakni kalian malah mengolok-olok dan mengejek do’a dan permohonan mereka kepadaKu. Sampai pada firman Allah "sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku," yakni kebencian kalian kepada mereka membuat kalian lupa kepadaKu. Firman Allah: "kamu selalu mentertawakan mereka," yakni mentertawakan perbuatan dan amal ibadah mereka. [7]
Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ ءَامَنُوا يَضْحَكُونَ . وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ . وَإِذَا انْقَلَبُوا إِلىَ أَهْلِهِمُ انقَلَبُوا فَاكِهِينَ . وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هَآؤُلآَءِ لَضّآلُّونَ . وَمَآأُرْسِلُوا عَلَيْهِمْ حَافِظِينَ
Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) mentertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mu'min, mereka mengatakan: "Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat", padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mu'min. [Al Muthaffifin:29-33].
Ayat ini merupakan dalil, bahwa mengolok-olok itu ada kalanya dengan isyarat. Dalam ayat ini Allah menggambarkan, bagaimana bentuk olok-olokan orang-orang kafir terhadap orang-orang mukmin, yaitu mereka saling mengedip-ngedipkan mata, dengan tujuan mengejek.
Dalam ayat lain, Allah menjelaskan tentang kebiasaan orang-orang munafik:
وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ ءَامَنُوا قَالُوا ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوْإِلىَ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِءُونَ . اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ
Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami telah beriman". Dan bila mereka kembali kepada syetan-syetan mereka, mereka mengatakan: "Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok". Allah akan (membalas) olokan-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka. [Al Baqaarah:14, 15].
Dalam ayat lain, Allah menjelaskan pula:
الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لاَيَجِدُونَ إِلاَّ جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ اللهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
(orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mu'min yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka adzab yang pedih. [At Taubah:79].
Sabtu, 30 Julai 2011
Jumaat, 29 Julai 2011
Imam Ahmad berkata : Daging para ulama beracun. Sesiapa yang menghidunya, akan mengalami sakit, dan sesiapa yang memakannya akan mati
Menghina Ulama
Isu yang semakin membarah di kalangan umat Islam pada hari ini ialah penghinaan terhadap ulama’. Baik dari kalangan ahli Pakatan sendiri, apatah lagi BN. Pernah disiarkan di dalam blog, lukisan yang menghina ulama kita, dan ia sangat mengaibkan. Begitu juga disiarkan di dalam sebuah blog, bermacam-macam kesalahan yang dikutip semata-mata untuk menjadi hero dalam pentas menghina ulama.
1. Perlu diingat, bahawa mengumpat itu umpama memakan daging seseorang. Apatah lagi menghina dan mengecam. Perkara ini telah disebutkan di dalam al Quran, Surah al Hujurat, ayat 11.
Adakah seseorang dari kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? (Jika demikian keadaan mengumpat) maka sudah tentu kamu jijik kepada-nya (Surah al Hujurat : 11)
( Ismail al Khalwati, Tafsir Ruhul Bayan, cet. Darul Ehya’ Turath al Arabi, bah. 9, ms 71, tafsir Surah al Hujurat, ayat 11 )
2. Perlu diingat juga bahawa mencaci, menghina ulama, dan sebagainya umpama memakan daging mereka. Kita telah diingatkan bahawa daging para ulama’ cukup berbisa, untuk di”makan”.
(Muhammad bin Abdul Rahman, Nasyrati Fi Fadhli Hamlatil Ilmis Syarif, cet. Pertama 1997, Darul Minhaj, Bah. 1, ms 46, Atiah bin Muhammad Salim 1420, Syarah Bulughul Maram, rakaman bersuara terbitan Islamweb.net, Bah. 123, ms 15)
Imam Ahmad berkata :
Daging para ulama beracun. Sesiapa yang menghidunya, akan mengalami sakit, dan sesiapa yang memakannya akan mati
(Muhammad bin Yusuf as Solihi asy Syami, Subulul Huda War Rashad Fi Sirati Khairil Ibad, terbitan yasoob.com bah. 10, ms 237, Thoskubri Zadah 968H, asy Syaqaiq an Ni’maniah Fi Ulama’id Daulatil Uthmaniah, cet. Darul Kitab al Arabi 1975, bah. 1, ms 39)
3. Penghinaan terhadap ulama’, adalah penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW. Mereka yang menghina Nabi Muhammad SAW, juga telah menghina Allah SWT. Lihatlah mulut-mulut mereka yang menghina Allah ini. Mereka juga telah menghina Islam secara jelas.
(Husamuddin ‘Afanah, Fatawa Yas’alunaka’, terbitan yasaloonaka.net, Bah 2, ms 121, berdasarkan Surah Az Zumar : 9, al Mujadalah : 11, Shahih al Bukhari Bah. 1, ms 119 pendahuluan hadis 66, dan disebut dalam Syarah Aqidah Thohawiyah ms 554)
4. Umat akhir zaman, sememangnya melakukan banyak penghinaan terhadap para ulama’. Inilah tanda akhir zaman yang dapat dilihat pada hari ini, berdasarkan Hadis Nabi SAW. Perkara ini telah dijelaskan oleh Imam Ibnu Hajar al Asqolani tentang sebab hilangnya ilmu pada akhir zaman, antaranya ialah penghinaan terhadap ulama’.
( Ibnu Hajar al Asqolani Fath al Bari, Syarah Shahih al Bukhari, cet. 1379 H, Darul Makrifah, tahqiq Ahmad bin Ali al Asqolani, hadis no 3845, bah. 1, ms 194 )
5. Mereka yang menghina ulama sepatutnya dikenakan hukuman ta’zir oleh pemerintah. Tetapi, malangnya ia tidak dilaksanakan di Malaysia. Maka, masyarakat boleh sewenang-wenangnya memperlakukan sesuatu yang jahat terhadap peribadi ulama’.
( Abdul Rahman As Sa’adi 1376, Taysirul Karimir Rahmani Fi Tafsiril Kalamil Minan, cet 1 tahun 2000, Mu’assasah ar Risalah, tahqiq Abdul Rahman bin Ma’la al Luwaihiq, bah. 1, ms 671 )
6. Mereka yang menghina ulama’ layak untuk didoakan supaya ditimpa bencana, bertujuan mendiamkan penghinaan mereka tersebut. Sekiranya kita membiarkan mereka dengan fitnah mereka, akan memburukkan lagi keadaan. Maka, lebih patut untuk kita doakan agar mereka di”senyap”kan oleh Allah.
( Imam al Qurtubi 671 H, al Jami’ Li Ahkamil Quran, cet. 1964 Darul Kutub al Misriah, tahqiq Ahmad al Barduni dan Ibrahim Atfish, bah. 6, ms 1-3, tafsir Surah an Nisa’, ayat 148 )
Muhammad Mujahid bin Mohammad Fadzil
Kuliah Usuluddin, Jabatan Akidah dan Falsafah
Universiti al Azhar
Isu yang semakin membarah di kalangan umat Islam pada hari ini ialah penghinaan terhadap ulama’. Baik dari kalangan ahli Pakatan sendiri, apatah lagi BN. Pernah disiarkan di dalam blog, lukisan yang menghina ulama kita, dan ia sangat mengaibkan. Begitu juga disiarkan di dalam sebuah blog, bermacam-macam kesalahan yang dikutip semata-mata untuk menjadi hero dalam pentas menghina ulama.
1. Perlu diingat, bahawa mengumpat itu umpama memakan daging seseorang. Apatah lagi menghina dan mengecam. Perkara ini telah disebutkan di dalam al Quran, Surah al Hujurat, ayat 11.
Adakah seseorang dari kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? (Jika demikian keadaan mengumpat) maka sudah tentu kamu jijik kepada-nya (Surah al Hujurat : 11)
( Ismail al Khalwati, Tafsir Ruhul Bayan, cet. Darul Ehya’ Turath al Arabi, bah. 9, ms 71, tafsir Surah al Hujurat, ayat 11 )
2. Perlu diingat juga bahawa mencaci, menghina ulama, dan sebagainya umpama memakan daging mereka. Kita telah diingatkan bahawa daging para ulama’ cukup berbisa, untuk di”makan”.
(Muhammad bin Abdul Rahman, Nasyrati Fi Fadhli Hamlatil Ilmis Syarif, cet. Pertama 1997, Darul Minhaj, Bah. 1, ms 46, Atiah bin Muhammad Salim 1420, Syarah Bulughul Maram, rakaman bersuara terbitan Islamweb.net, Bah. 123, ms 15)
Imam Ahmad berkata :
Daging para ulama beracun. Sesiapa yang menghidunya, akan mengalami sakit, dan sesiapa yang memakannya akan mati
(Muhammad bin Yusuf as Solihi asy Syami, Subulul Huda War Rashad Fi Sirati Khairil Ibad, terbitan yasoob.com bah. 10, ms 237, Thoskubri Zadah 968H, asy Syaqaiq an Ni’maniah Fi Ulama’id Daulatil Uthmaniah, cet. Darul Kitab al Arabi 1975, bah. 1, ms 39)
3. Penghinaan terhadap ulama’, adalah penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW. Mereka yang menghina Nabi Muhammad SAW, juga telah menghina Allah SWT. Lihatlah mulut-mulut mereka yang menghina Allah ini. Mereka juga telah menghina Islam secara jelas.
(Husamuddin ‘Afanah, Fatawa Yas’alunaka’, terbitan yasaloonaka.net, Bah 2, ms 121, berdasarkan Surah Az Zumar : 9, al Mujadalah : 11, Shahih al Bukhari Bah. 1, ms 119 pendahuluan hadis 66, dan disebut dalam Syarah Aqidah Thohawiyah ms 554)
4. Umat akhir zaman, sememangnya melakukan banyak penghinaan terhadap para ulama’. Inilah tanda akhir zaman yang dapat dilihat pada hari ini, berdasarkan Hadis Nabi SAW. Perkara ini telah dijelaskan oleh Imam Ibnu Hajar al Asqolani tentang sebab hilangnya ilmu pada akhir zaman, antaranya ialah penghinaan terhadap ulama’.
( Ibnu Hajar al Asqolani Fath al Bari, Syarah Shahih al Bukhari, cet. 1379 H, Darul Makrifah, tahqiq Ahmad bin Ali al Asqolani, hadis no 3845, bah. 1, ms 194 )
5. Mereka yang menghina ulama sepatutnya dikenakan hukuman ta’zir oleh pemerintah. Tetapi, malangnya ia tidak dilaksanakan di Malaysia. Maka, masyarakat boleh sewenang-wenangnya memperlakukan sesuatu yang jahat terhadap peribadi ulama’.
( Abdul Rahman As Sa’adi 1376, Taysirul Karimir Rahmani Fi Tafsiril Kalamil Minan, cet 1 tahun 2000, Mu’assasah ar Risalah, tahqiq Abdul Rahman bin Ma’la al Luwaihiq, bah. 1, ms 671 )
6. Mereka yang menghina ulama’ layak untuk didoakan supaya ditimpa bencana, bertujuan mendiamkan penghinaan mereka tersebut. Sekiranya kita membiarkan mereka dengan fitnah mereka, akan memburukkan lagi keadaan. Maka, lebih patut untuk kita doakan agar mereka di”senyap”kan oleh Allah.
( Imam al Qurtubi 671 H, al Jami’ Li Ahkamil Quran, cet. 1964 Darul Kutub al Misriah, tahqiq Ahmad al Barduni dan Ibrahim Atfish, bah. 6, ms 1-3, tafsir Surah an Nisa’, ayat 148 )
Muhammad Mujahid bin Mohammad Fadzil
Kuliah Usuluddin, Jabatan Akidah dan Falsafah
Universiti al Azhar
Langgan:
Catatan (Atom)