Memaparkan catatan dengan label syiah. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label syiah. Papar semua catatan

Ahad, 17 Januari 2016

Kota Suci Kaum Syiah Dilanda Penyakit AIDS Akibat Nikah Muta'ah.



Kota Suci Kaum Syiah Dilanda Penyakit AIDS Akibat Nikah Muta'ah.

… Bahwa penyebaran penyakit AIDS ini adalah fenomena praktik nikah mut’ah, terutama pengunjung syiah yang datang dari Iran dan Pakistan.

Perlu disebutkan, Najaf (kota suci bagi Syiah di Irak) mencatat rekor tertinggi bulan lalu di mana pengidap penyakit AIDS melebihi 80 kasus dan lebih dari 4000 penagih narkoba Iran.

IRAQ– Selasa (04/03/14) halaman berita di jejaring sosial Akhbarul Iraq melaporkan, ada seorang dokter di Iraq mengumumkan penyebaran AIDS di Najaf, kota suci bagi syiah, akibat nikah mut’ah dan meminta agar ulama syiah menghentikannya.

Dr Hussein Abdullah al-Jabiry, Ketua Institut Kajian Penyakit Menular di kota Najaf, utara Baghdad, menegaskan bahwa rata-rata penderita penyakit AIDS di kota Najaf majoriti dari penganut syiah.. Ia menambahkan bahwa penyebaran penyakit AIDS ini adalah fenomena praktik nikah mut’ah, terlebih para pengunjung syiah yang datang dari Iran dan Pakistan.

Al-Jabiry mengkritik para pembesar-pembesar syiah itu yang mencatat pernikahan kontrak antara pemuda dan pemudi, di mana kahwin kontrak tersebut tidak melebihi 1 minggu bahkan ada yang cuma sehari semalam.

Oleh kerana itu, al-Jabiry meminta pihak al-Hauzah al-‘Ilmiyyah dan marja’iyyat (ulama-ulama syiah) untuk menghentikan kahwin kontrak untuk masa mendatang hingga Jabatan Kesihatan memberikan keputusan untuk mengatasi krisis ini. Terlebih yang datang dari Iran dan melangsungkan kawin kontrak atas perestuan sayyid tanpa diketahui ia mengidap penyakit apa.

Perlu disebutkan, Najaf mencatat rekor tertinggi bulan lalu di mana pengidap penyakit AIDS melebihi 80 kes dan lebih dari 4000 penagih dadah di Iran.[usamah/iraq] (voa-islam.com) Selasa, 3 Jumadil Awwal 1435 H / 4 Maret 2014 23:29 wib

Ahad, 28 September 2014

Tazkirah Jumaat: Bahaya Syiah ! - Ustaz Muhammad Nazmi Karim



Tazkirah Jumaat |
Surau Wakaf Ahmad Dawjee Dadabhoy |
Bank Islam | KL

Oleh


Ustaz Muhammad Nazmi Karim

Ahad, 1 Disember 2013

FATWA ULAMA TENTANG SYIAH

Ulama Syiah Merayakan Hari Raya Pengutukan Saidatina Aisyah r.a

FATWA ULAMA TENTANG SYIAH

IMAM MALIK
االامام مالك

روى الخلال عن ابى بكر المروزى قال : سمعت أبا عبد الله يقول :

قال مالك : الذى يشتم اصحاب النبى صلى الله عليه وسلم

ليس لهم اسم او قال نصيب فى الاسلام.

( الخلال / السن: ۲،٥٥٧ )

Al Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar Al Marwazi, katanya : Saya mendengar Abu Abdulloh berkata, bahwa Imam Malik berkata : “Orang yang mencela sahabat-sahabat Nabi, maka ia tidak termasuk dalam golongan Islam”
.
( Al Khalal / As Sunnah, 2-557 )

Begitu pula Ibnu Katsir berkata, dalam kaitannya dengan firman Allah surat Al Fath ayat 29, yang artinya :
“ Muhammad itu adalah Rasul (utusan Allah). Orang-orang yang bersama dengan dia (Mukminin) sangat keras terhadap orang-orang kafir, berkasih sayang sesama mereka, engkau lihat mereka itu rukuk, sujud serta mengharapkan kurnia daripada Allah dan keridhaanNya. Tanda mereka itu adalah di muka mereka, karena bekas sujud. Itulah contoh (sifat) mereka dalam Taurat. Dan contoh mereka dalam Injil, ialah seperti tanaman yang mengeluarkan anaknya (yang kecil lemah), lalu bertambah kuat dan bertambah besar, lalu tegak lurus dengan batangnya, sehingga ia menakjubkan orang-orang yang menanamnya. (Begitu pula orang-orang Islam, pada mula-mulanya sedikit serta lemah, kemudian bertambah banyak dan kuat), supaya Allah memarahkan orang-orang kafir sebab mereka. Allah telah menjanjikan ampunan dan pahala yang besar untuk orang-orang yang beriman dan beramal salih diantara mereka”.
Beliau berkata : Dari ayat ini, dalam satu riwayat dari Imam Malik, beliau mengambil kesimpulan bahwa golongan Rofidhoh (Syiah), yaitu orang-orang yang membenci para sahabat Nabi SAW, adalah Kafir.
Beliau berkata : “Karena mereka ini membenci para sahabat, maka dia adalah Kafir berdasarkan ayat ini”. Pendapat tersebut disepakati oleh sejumlah Ulama.

(Tafsir Ibin Katsir, 4-219)

Imam Al Qurthubi berkata : “Sesungguhnya ucapan Imam Malik itu benar dan penafsirannya juga benar, siapapun yang menghina seorang sahabat atau mencela periwayatannya, maka ia telah menentang Allah, Tuhan seru sekalian alam dan membatalkan syariat kaum Muslimin”.

(Tafsir Al Qurthubi, 16-297).

IMAM AHMAD
الامام احمد ابن حمبل
:
روى الخلال عن ابى بكر المروزى قال : سألت ابا عبد الله عمن يشتم
أبا بكر وعمر وعائشة ؟  قال: ماأراه على الاسلام
.
( الخلال / السنة : ۲، ٥٥٧)


Al Khalal meriwayatkan dari Abu Bakar Al Marwazi, ia berkata : “Saya bertanya kepada Abu Abdullah tentang orang yang mencela Abu Bakar, Umar dan Aisyah? Jawabnya, saya berpendapat bahwa dia bukan orang Islam”.

( Al Khalal / As Sunnah, 2-557).

Beliau Al Khalal juga berkata : Abdul Malik bin Abdul Hamid menceritakan kepadaku, katanya: “Saya mendengar Abu Abdullah berkata : “Barangsiapa mencela sahabat Nabi, maka kami khawatir dia keluar dari Islam, tanpa disadari”.

(Al Khalal / As Sunnah, 2-558).

Beliau Al Khalal juga berkata :

وقال الخلال: أخبرنا عبد الله بن احمد بن حمبل قال : سألت أبى عن رجل شتم رجلا

من اصحاب النبى صلى الله عليه وسلم فقال : ما أراه على الاسلام

(الخلال / السنة : ۲،٥٥٧)

“ Abdullah bin Ahmad bin Hambal bercerita pada kami, katanya : “Saya bertanya kepada ayahku perihal seorang yang mencela salah seorang dari sahabat Nabi SAW. Maka beliau menjawab : “Saya berpendapat ia bukan orang Islam”.

(Al Khalal / As Sunnah, 2-558)


Dalam kitab AS SUNNAH karya IMAM AHMAD halaman 82, disebutkan mengenai pendapat beliau tentang golongan Rofidhoh (Syiah) :

“Mereka itu adalah golongan yang menjauhkan diri dari sahabat Muhammad SAW dan mencelanya, menghinanya serta mengkafirkannya, kecuali hanya empat orang saja yang tidak mereka kafirkan, yaitu Ali, Ammar, Migdad dan Salman. Golongan Rofidhoh (Syiah) ini sama sekali bukan Islam.


AL BUKHORI
الامام البخارى
.
قال رحمه الله : ماأبالى صليت خلف الجهمى والرافضى
أم صليت خلف اليهود والنصارى

ولا يسلم عليه ولا يعادون ولا يناكحون ولا يشهدون ولا تؤكل ذبائحهم
.
( خلق أفعال العباد :١٢٥)


Iman Bukhori berkata : “Bagi saya sama saja, apakah aku sholat dibelakang Imam yang beraliran JAHM atau Rofidhoh (Syiah) atau aku sholat di belakang Imam Yahudi atau Nasrani. Dan seorang Muslim tidak boleh memberi salam pada mereka, dan tidak boleh mengunjungi mereka ketika sakit juga tidak boleh kawin dengan mereka dan tidak menjadikan mereka sebagai saksi, begitu pula tidak makan hewan yang disembelih oleh mereka.
(Imam Bukhori / Kholgul Afail, halaman 125).

AL FARYABI

الفريابى :

روى الخلال قال : أخبرنى حرب بن اسماعيل الكرمانى

قال : حدثنا موسى بن هارون بن زياد قال: سمعت الفريابى ورجل يسأله عمن شتم أبابكر

قال: كافر، قال: فيصلى عليه، قال: لا. وسألته كيف يصنع به وهو يقول لا اله الا الله،

قال: لا تمسوه بأيديكم، ارفعوه بالخشب حتى تواروه فى حفرته.

(الخلال/السنة: ۲،٥٦٦)


Al Khalal meriwayatkan, katanya : “Telah menceritakan kepadaku Harb bin Ismail Al Karmani, katanya : “Musa bin Harun bin Zayyad menceritakan kepada kami : “Saya mendengar Al Faryaabi dan seseorang bertanya kepadanya tentang orang yang mencela Abu Bakar. Jawabnya : “Dia kafir”. Lalu ia berkata : “Apakah orang semacam itu boleh disholatkan jenazahnya ?”. Jawabnya : “Tidak”. Dan aku bertanya pula kepadanya : “Mengenai apa yang dilakukan terhadapnya, padahal orang itu juga telah mengucapkan Laa Ilaaha Illalloh?”. Jawabnya : “Janganlah kamu sentuh jenazahnya dengan tangan kamu, tetapi kamu angkat dengan kayu sampai kamu turunkan ke liang lahatnya”.

(Al Khalal / As Sunnah, 6-566)
.
AHMAD BIN YUNUS

Beliau berkata : “Sekiranya seorang Yahudi menyembelih seekor binatang dan seorang Rofidhi (Syiah) juga menyembelih seekor binatang, niscaya saya hanya memakan sembelihan si Yahudi dan aku tidak mau makan sembelihan si Rofidhi (Syiah), sebab dia telah murtad dari Islam”.

(Ash Shariim Al Maslul, halaman 570).

ABU ZUR’AH AR ROZI


أبو زرعة الرازى.

اذا رأيت الرجل ينتقص أحدا من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم

فاعلم أنه زنديق، لأن مؤدى قوله الى ابطال القران والسنة.

( الكفاية : ٤٩)


Beliau berkata : “Bila anda melihat seorang merendahkan (mencela) salah seorang sahabat Rasulullah SAW, maka ketahuilah bahwa dia adalah ZINDIIG. Karena ucapannya itu berakibat membatalkan Al-Qur'an dan As Sunnah”.

(Al Kifayah, halaman 49).

ABDUL QODIR AL BAGHDADI

Beliau berkata : “Golongan Jarudiyah, Hisyamiyah, Jahmiyah dan Imamiyah adalah golongan yang mengikuti hawa nafsu yang telah mengkafirkan sahabat-sahabat terbaik Nabi, maka menurut kami mereka adalah kafir. Menurut kami mereka tidak boleh di sholatkan dan tidak sah berma’mum sholat di belakang mereka”.

(Al Fargu Bainal Firaq, halaman 357).

Beliau selanjutnya berkata : “Mengkafirkan mereka adalah suatu hal yang wajib, sebab mereka menyatakan Allah bersifat Al Bada’

IBNU HAZM

Beliau berkata : “Salah satu pendapat golongan Syiah Imamiyah, baik yang dahulu maupun sekarang ialah, bahwa Al-Qur'an sesungguhnya sudah diubah”.
Kemudian beliau berkata : ”Orang yang berpendapat bahwa Al-Qur'an yang ada ini telah diubah adalah benar-benar kafir dan mendustakan Rasulullah SAW”.

(Al Fashl, 5-40).

ABU HAMID AL GHOZALI

Imam Ghozali berkata : “Seseorang yang dengan terus terang mengkafirkan Abu Bakar dan Umar Rodhialloh Anhuma, maka berarti ia telah menentang dan membinasakan Ijma kaum Muslimin. Padahal tentang diri mereka (para sahabat) ini terdapat ayat-ayat yang menjanjikan surga kepada mereka dan pujian bagi mereka serta pengukuhan atas kebenaran kehidupan agama mereka, dan keteguhan aqidah mereka serta kelebihan mereka dari manusia-manusia lain”.
Kemudian kata beliau : “Bilamana riwayat yang begini banyak telah sampai kepadanya, namun ia tetap berkeyakinan bahwa para sahabat itu kafir, maka orang semacam ini adalah kafir. Karena dia telah mendustakan Rasulullah. Sedangkan orang yang mendustakan satu kata saja dari ucapan beliau, maka menurut Ijma’ kaum Muslimin, orang tersebut adalah kafir”.

(Fadhoihul Batiniyyah, halaman 149).


AL QODHI IYADH

Beliau berkata : “Kita telah menetapkan kekafiran orang-orang Syiah yang telah berlebihan dalam keyakinan mereka, bahwa para Imam mereka lebih mulia dari pada para Nabi”.
Beliau juga berkata : “Kami juga mengkafirkan siapa saja yang mengingkari Al-Qur'an, walaupun hanya satu huruf atau menyatakan ada ayat-ayat yang diubah atau ditambah di dalamnya, sebagaimana golongan Batiniyah (Syiah) dan
Syiah Ismailiyah”.

(Ar Risalah, halaman 325).

AL FAKHRUR ROZI

Ar Rozi menyebutkan, bahwa sahabat-sahabatnya dari golongan Asyairoh mengkafirkan golongan Rofidhoh (Syiah) karena tiga alasan :
Pertama: Karena mengkafirkan para pemuka kaum Muslimin (para sahabat Nabi). Setiap orang yang mengkafirkan seorang Muslimin, maka dia yang kafir. Dasarnya adalah sabda Nabi SAW, yang artinya : “Barangsiapa berkata kepada saudaranya, hai kafir, maka sesungguhnya salah seorang dari keduanya lebih patut sebagai orang kafir”.
Dengan demikian mereka (golongan Syiah) otomatis menjadi kafir.
Kedua: “Mereka telah mengkafirkan satu umat (kaum) yang telah ditegaskan oleh Rasulullah sebagai orang-orang terpuji dan memperoleh kehormatan (para sahabat Nabi)”.
Ketiga: Umat Islam telah Ijma’ menghukum kafir siapa saja yang mengkafirkan para tokoh dari kalangan sahabat.

(Nihaayatul Uguul, Al Warogoh, halaman 212).

IBNU TAIMIYAH

Beliau berkata : “Barangsiapa beranggapan bahwa Al-Qur'an telah dikurangi ayat-ayatnya atau ada yang disembunyikan, atau beranggapan bahwa Al-Qur'an mempunyai penafsiran-penafsiran batin, maka gugurlah amal-amal kebaikannya. Dan tidak ada perselisihan pendapat tentang kekafiran orang semacam ini”
Barangsiapa beranggapan para sahabat Nabi itu murtad setelah wafatnya Rasulullah, kecuali tidak lebih dari sepuluh orang, atau mayoritas dari mereka sebagai orang fasik, maka tidak diragukan lagi, bahwa orang semacam ini adalah kafir. Karena dia telah mendustakan penegasan Al-Qur'an yang terdapat di dalam berbagai ayat mengenai keridhoan dan pujian Allah kepada mereka. Bahkan kekafiran orang semacam ini, adakah orang yang meragukannya? Sebab kekafiran orang semacam ini sudah jelas....

(Ash Sharim AL Maslul, halaman 586-587).

SYAH ABDUL AZIZ DAHLAWI

Sesudah mempelajari sampai tuntas mazhab Itsna Asyariyah dari sumber-sumber mereka yang terpercaya, beliau berkata : “Seseorang yang menyimak aqidah mereka yang busuk dan apa yang terkandung didalamnya, niscaya ia tahu bahwa mereka ini sama sekali tidak berhak sebagai orang Islam dan tampak jelaslah baginya kekafiran mereka”.

(Mukhtashor At Tuhfah Al Itsna Asyariyah, halaman 300).

MUHAMMAD BIN ALI ASY SYAUKANI

Perbuatan yang mereka (Syiah) lakukan mencakup empat dosa besar, masing-masing dari dosa besar ini merupakan kekafiran yang terang-terangan.
Pertama : Menentang Allah.
Kedua : Menentang Rasulullah.
Ketiga : Menentang Syariat Islam yang suci dan upaya mereka untuk melenyapkannya.
Keempat : Mengkafirkan para sahabat yang diridhoi oleh Allah, yang didalam Al-Qur'an telah dijelaskan sifat-sifatnya, bahwa mereka orang yang paling keras kepada golongan Kuffar, Allah SWT menjadikan golongan Kuffar sangat benci kepada mereka. Allah meridhoi mereka dan disamping telah menjadi ketetapan hukum didalam syariat Islam yang suci, bahwa barangsiapa mengkafirkan seorang muslim, maka dia telah kafir, sebagaimana tersebut di dalam Bukhori, Muslim dan lain-lainnya.

(Asy Syaukani, Natsrul Jauhar Ala Hadiitsi Abi Dzar, Al Warogoh, hal 15-16)


PARA ULAMA SEBELAH TIMUR SUNGAI JAIHUN

Al Alusi (seorang penulis tafsir) berkata : “Sebagian besar ulama disebelah timur sungai ini menyatakan kekafiran golongan Itsna Asyariyah dan menetapkan halalnya darah mereka, harta mereka dan menjadikan wanita mereka menjadi budak, sebab mereka ini mencela sahabat Nabi SAW, terutama Abu Bakar dan Umar, yang menjadi telinga dan mata Rasulullah SAW, mengingkari kekhilafahan Abu Bakar, menuduh Aisyah Ummul Mukminin berbuat zina, padahal Allah sendiri menyatakan kesuciannya, melebihkan Ali r.a. dari rasul-rasul Ulul Azmi. Sebagian mereka melebihkannya dari Rasulullah SAW dan mengingkari terpeliharanya Al-Qur'an dari kekurangan dan tambahan”.

(Nahjus Salaamah, halaman 29-30).

Demikian telah kami sampaikan fatwa-fatwa dari para Imam dan para Ulama yang dengan tegas mengkafirkan golongan Syiah yang telah mencaci maki dan mengkafirkan para sahabat serta menuduh Ummul mukminin Aisyah berbuat serong, dan berkeyakinan bahwa Al-Qur'an yang ada sekarang ini tidak orisinil lagi (Mukharrof). Serta mendudukkan imam-imam mereka lebih tinggi (Afdhol) dari para Rasul.
Semoga fatwa-fatwa tersebut dapat membantu pembaca dalam mengambil sikap tegas terhadap golongan Syiah.
“Yaa Allah tunjukkanlah pada kami bahwa yang benar itu benar dan jadikanlah kami sebagai pengikutnya, dan tunjukkanlah pada kami bahwa yang batil itu batil dan jadikanlah kami sebagai orang yang menjauhinya.”

Selasa, 26 November 2013

Hukum Menyertai, Meniru & Membesarkan Perayaan Orang Kafir


Anas bin Malik radhiAllahu `anhu berkata yang maksudnya:
“Nabi sallAllahu `alaihi wasallam pernah datang ke Madinah sedangkan penduduknya memiliki dua hari raya yang mana mereka bermain-main (bergembira) di masa jahiliah pada kedua-dua hari itu.  
Lalu Baginda berkata:  “Aku datang kepada kamu semua sedangkan kamu memiliki dua hari (raya) yang menjadi medan permainan kalian pada masa jahiliyyah.”
Sabda Baginda lagi:  “Sesungguhnya ALLAH telah menggantikan kedua-dua hari itu dengan yang lebih baik, iaitu hari raya `Eidul-Adha dan `Eidul-Fitri.”"
(Hadis riwayat al-Nasaai di dalam Sunannya, no: 959)
Malahan pula terdapat perkataan dari ALLAH `Azza wa Jalla yang menyuruh Nabi sallAllahu `alaihi wasallam mengatakan:

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Maksudnya:  “Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”
(Surah al-Kafirun, 109:6)
Melalui ayat pendek dan tegas ini, sepatutnya kita ummat ISLAM menggariskan sempadan yang jelas memisahkan antara agama ISLAM yang kita sama-sama anuti dengan agama lain.  Tidak boleh bercampur.
Ummat ISLAM boleh bertoleransi malah digalakkan berbuat baik sesama manusia tidak kira siapa mereka, tetapi dalam bab agama, tiada toleransi terhadapnya.  Mereka dengan jalan mereka sendiri.  Dan kita dengan jalan kita sendiri.  Dan jalan yang ditunjuki RasulNYA lah jalan yang benar dan selamat.

ADA PERSAMAAN ANTARA SYIAH DAN YAHUDI

ISLAM Agama Benar

ISLAM adalah agama yang benar dan tinggi.  Dan tidak ada yang lebih benar dan tinggi dari ISLAM!  Tidak perlu kita mencari sesuatu di luar dari lingkungan ajaran ISLAM.  Cukuplah ISLAM menunjuki jalan hidup kita.
Seharusnya ummat ISLAM hidup di dalam lingkungan cara yang ditunjuki oleh Rasulullah sallAllahu `alaihi wasallam.  Sungguh, tidak ada apa yang tertinggal di dalam ajaran yang Baginda tunjukkan.  Semuanya ada di dalam ISLAM, tidak ada apa yang kurang.
ALLAH, TUHAN Sekalian Alam telah berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا

Maksudnya:  “Pada hari ini telah KUsempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah KU-cukupkan kepadamu nikmat-KU, dan telah KU-redhai ISLAM itu jadi agama bagimu.”
(Surah al-Ma’idah, 5:3)
ALLAH Subhanahu wa Ta`ala berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ

Maksudnya:  “Sesungguhnya agama (yang diredhai) di sisi ALLAH hanyalah ISLAM.”  
(Surah ali-`Imran, 3:19)
Hanya ISLAM lah agama yang selamat dan diterima oleh ALLAH, TUHAN Sekalian Alam.  Dan kita mesti beristiqamah berjalan di atasnya jika mahu selamat.

Jangan Tasyabbuh

Ummat ISLAM juga mesti awas dengan hadith Nabi sallAllahu `alaihi wasallam berikut yang maksudnya:
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum tersebut.”
(HR Abu Daud dengan sanad hasan).
Lalu bertanya ke dalam diri, siapakah yang mahu kita serupai?  Di manakah kita mahu letak diri kita?  Di dalam kelompok bersama dengan Nabi sallAllahu `alaihi wasallam atau di dalam kelompok selain Baginda?
Bukan sedikit ummat ISLAM yang leka dan meniru-niru dalam menghidupkan kehidupan mereka.  Banyak!  Dan kita khuatir peniruan ini yang akan akhirnya menjerumuskan ummat ISLAM ke lembah yang dimurkai ALLAH.
Nabi sallAllahu `alaihi wasallam pernah bersabda yang maksudnya:
“Kamu akan mengikut jejak langkah orang-orang sebelummu sejengkal sejengkal dan sehasta sehasta sehingga kamu akan menuruti mereka walaupun mereka memasuki lubang-lubang biawak.”
Sahabat bertanya: “Siapakah mereka itu ya Rasulullah?”
Nabi menjawab: “Yahudi dan Nasara, siapa lagi.”
(HR Muslim)

Selasa, 31 Januari 2012

Presiden PAS Haji Hadi Awang "bercerita" tentang Syiah






Bahaya Syiah Sesat. Ziarah Kubur Para Nabi dan Wali Bida'ah Syirik? Pendapat Ahlussunnah



Jumaat, 30 September 2011

Kami Tidak Akan Tinggal Diam dalam Hadapi Penghinaan Syi'ah

Al-Azhar: Kami Tidak Akan Tinggal Diam dalam Hadapi Penghinaan Syi'ah


Imam Agung Al-Azhar Syaikh Ahmad al-Thayyib mengatakan pada Kamis kemarin (29/9/11) bahwa ia menolak semua upaya untuk menyebarkan ajaran Syiah di Mesir dan negara-negara Islam lainnya, pada saat Syiah melakukan penghinaan terhadap sahabat Nabi Muhammad dan tokoh-tokoh Sunni lainnya.
Pernyataan itu dibuat selama pertemuan dengan delegasi yang mewakili Lembaga Al-Hakim di Lebanon dan beberapa perwakilan dari Dewan Tertinggi Islam di Irak.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan pada hari Kamis kemarin, Al-Azhar mengatakan pertemuan itu ditujukan dalam upaya Al-Azhar untuk mendamaikan perbedaan sekte dan doktrin dalam Islam.
Thayyib mengatakan kendala pertama adalah adanya upaya untuk menyebarkan ajaran Syiah di negara-negara Sunni, khususnya di Mesir, rumah bagi Al-Azhar, otoritas keagamaan tertinggi di dunia Muslim Sunni.
"Saya pikir ada motif tersembunyi di balik upaya ini, yang tidak satu orang pun akan menyetujuinya," kata Thayyib. "Hal ini telah berkembang banyak, dimulai dengan tulisan-tulisan di sana-sini mempertanyakan keyakinan muslim Sunni dan kemudian menghina Sayyida Aisyah Ra."
Thayyib melanjutkan dengan mengatakan bahwa "Al-Azhar sejauh ini telah berusaha menjaga kesatuan umat Islam, tetapi jika situasi ini dibiarkan, Al-Azhar memiliki pilihan ideologis."
Dia menambahkan bahwa hambatan kedua adalah adanya saluran TV satelit yang ditujukan untuk mengutuk dan menghina para sahabat nabi SAW, menghina Sunni dan bahkan mengklaim Al-Quran telah dipalsukan.(fq/amay) eramuslim.com

Kesesatan Syiaih

Syiah-kesesatan yg nyata.flv

Kata la Ya Allah madad---cukuplah kata Ya Ali madad,Saidina Ali bukannya tuhan---
by malaymoslem 

Syiah-kesesatan yg nyata 2.flv

Kata la Ya Allah madad---cukuplah kata Ya Ali madad,Saidina Ali bukannya tuhan---
by malaymoslem 

Syiah-Kesesatan yang nyata 3.flv

Kata la Ya Allah madad---cukuplah kata Ya Ali madad,Saidina Ali bukannya tuhan---Jauhilah perkataan sesat itu
by malaymoslem  


3:29

Isnin, 19 September 2011

Bahaya Syiah

Bahaya Syiah 1


Bahaya Syiah 2


Bahaya Syiah 3


Bahaya Syiah 4


RUKUN ISLAM KE 5 WILAYAH


KABAH IKUT SYIAH


KESESATAN SYIAH


KHOMENEI DIHINA ALLAH


CARA YAHUDI PENGURUSAN JENAZAH


TENTERA DAJJAL BERIBADAH


SYIAH AMALAN SYIRIK

Sabtu, 6 Ogos 2011

Mengapa Syiah Wajib Ditolak

Mengapa Syiah Wajib Ditolak


Kertas kerja “Mengapa Syiah Wajib Ditolak” telah dibentang dan dikulliahkan di Masjid Negeri, Negeri Perlis.  Penulis merasakan bahawa masyarakat Islam Perlis amat perihatin tentang isu Syiah. Mereka juga sangat mengharapkan ketampilan para ulama Ahli Sunnah wal-Jamaah yang dapat menerangkan kepada umat Islam tentang bahaya dan sesatnya akidah serta fahaman Syiah.  Penulis merasa bertanggungjawab memenuhi permintaan mereka setelah diminta memberi kulliah tentang kegiatan Syiah yang sudah lama menyebarkan fahaman mereka di seluruh Malaysia dan kini mula ingin menyebarkannya pula di Negeri Perlis.
Semoga Jabatan Agama Islam Perlis, para iman, ahli jawatan kuasa Masjid Negeri Perlis dan para ulama Perlis sentiasa berusaha menghidupkan kegiatan dakwah Islamiyah dalam usaha menghalang, menggagalkan dan membasmi kegiatan dakwah Syiah di Perlis.  Mudah-mudahan segala usaha suci mereka mendapat keredhaan dan dirahmati Allah Subhanahu wa-Ta’ala.  Amin!! 
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اِنَّ الْحَمْدَ للهِ ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتِعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ سُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ ، وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .  أمَّا بَعْده:

          Baru-baru ini penulis telah diminta agar memberi penjelasan kepada umat Islam Perlis tentang bahayanya fahaman Syiah terhadap akidah Islamiyah.  Isu ini disuarakan kerana terdapatnya beberapa orang aktivis Syiah yang cuba menyebarkan fahaman Syiah di Negeri Perlis.  Oleh kerana fahaman Syiah ini benar-benar sesat, menyesatkan dan boleh memecah-belahkan umat Islam, maka dengan ‘inayah Allah penulis dengan rasa tanggungjawab dan hati yang ikhlas insya-Allah akan berusaha sedaya mungkin bekerjasama dengan para ulama dan masyarakat Islam untuk sama-sama menyekat dan membenteras fahaman sesat ini supaya tidak tersebar di kalangan umat Islam yang berakidah Ahli Sunnah wal-Jamaah walau di mana saja mereka berada.
            Agar hakikat kesesatan akidah Syiah dapat diketahui dan difahami oleh masyarakat Islam Ahli Sunnah wal-Jamaah, maka penulis menyiapkan kertas kerja tentang penyelewengan dan bahayanya fahaman serta akidah Syiah.  Kertas kerja yang ringkas ini akan dibentangkan sebagai siri kulliah akidah terutamanya di beberapa masjid di sekitar Perlis, Pulau Pinang dan Selangor insya-Allah.
            Semoga Allah membantu kita sekalian menghapuskan fahaman yang sesat ini dari terus merebak  dan sentiasa memelihara akidah Ahli Sunnah wal-Jamaah, kedaulatan agama, negara, kerajaan, masyarakat dan perpaduan Ummah Islamiyah.  Amin Ya Rabbal 'Alamin.

Definisi (شِيْعَة) Syiah Dan Tasyayyu' (تَشَيُّع)
            Dari segi etimologis (bahasa), Syiah bererti "Para Pengikut, Penyokong, Pendukung atau Pembela".  Contohnya:  Syiah Ali, bermaksud satu kelompok yang berupa "Penyokong, pendokong atau pembela Ali".  Menurut Terminologi (istilah) syara, Syiah bermaksud "Sesiapa yang mengangkat kepimpinan Ali radiallahu 'anhu dan anak-anaknya".  Dan apabila disebut si Fulan itu Syiah maka dia menganut atau berfahaman Syiah.
            Tasyayyu' (التشيع) pula menurut keterangan Syeikh al-Mufid ialah[1]:
التشيع لغة : هوالاتباع على وجه التدين والولاء للمتبوع علىالاخلاص.
 
"Tasyayyu' menurut etimologi adalah sikap mengikut yang didasari agama dan mengangkat orang yang diikuti dengan ikhlas".[2]
            Pada zaman pemerintahan Khalifah Abu Bakar, 'Umar dan 'Uthman kalimah syiah dalam erti faktual suatu kelompok atau fahaman belum wujud dan belum terbentuk.  Tetapi kelompok ini lahir ketika terjadinya pertikaian dan peperangan antara Syiah (penyokong) Ali dan Syiah Muawiyah.  Hanya kelompok Syiah di waktu itu kesemua mereka berfahaman Ahli Sunnah wal-Jamaah. 

Abdullah Bin Saba' (Si Munafik)
            Abdulah bin Saba' adalah seorang pendita Yahudi dari Yaman.  Berpura-pura masuk Islam (secara nifak) di zaman Khalifah 'Uthman bin Affan radiallahu 'anhu.  Dialah pereka ajaran Syiah yang ekstrem yang menjadi punca bersemaraknya perpecahan dalam kalangan masyarakat Islam terutama dalam kelompok Syiah itu sendiri.  Abdullah bin Saba' pernah berkata yang ditujukan kepada Khalifah Ali radiallahu 'anhu"Engkaulah Allah".[3]  Maka Ali mengisytiharkan bunuh terhadap Abdullah bin Saba' tetapi ditegah oleh Ibn Abbas.  Penyokong Ali membuangnya ke Madain (Ibu Negeri Iran lama).
            Abdullah bin Saba' orang pertama mengkafirkan Abu Bakar, 'Umar dan 'Uthman dan tidak mengiktiraf kekhalifahan kecuali hanya dari kalangan Ahli Bait".[4]  Seorang ulama Syiah Muhammad Husin al-Zain pernah memperkatakan tentang Abdullah bin Saba':
"Abdullah bin Saba' mengeluarkan qaul (yang sesat), mengajarkan fahaman yang ghalu (keterlaluan)..... dan perbuatannya sangat melampaui batas".[5]
            Saad bin Abdullah al-Qumy seorang ulama, pemimpin serta ahli hukum Syiah yang lahir pada 229H mengakui wujudnya Abdullah bin Saba'.  Beliau menyebut beberapa nama orang yang berkonspirasi yang digelar sebagai Saba'iyah.  Menurut beliau lagi bahawa komplot Saba'iyah adalah firqah pertama dalam Islam yang mengeluarkan perkatan-perkataan yang ghalu (keterlaluan).
Saad bin Abdullah al-Qumy ulama besar Syiah yang masyhur ini telah memastikan bahawa Abdullah bin Saba' adalah orang yang mengeluarkan perkataan dan menampakkan dirinya mengecam dan menentang Abu Bakar, 'Umar dan 'Uthman radiallahu anhum serta tidak mengiktiraf kekhalifahan mereka.[6]
            Pegangan Syiah Imamiyah yang ada sekarang adalah berasaskan ideologi dan doktrin sesat Abdullah bin Saba'. Fahaman ini disampaikan (dipelihara) dalam bentuk riwayat hadis yang dinasabkan kepada keluarga Nabi (Ahli Bait) dengan penuh kebohongan tetapi diterima oleh mereka yang jahil.[7]

Syiah Mengkafirkan Para Sahabat
            Agama Syiah mengkafirkan para pembesar sahabat secara umum.  Pengkafiran ini boleh dilihat dalam kitab-kitab besar Syiah yang ditulis oleh ulama mereka, contohnya ialah wasiat para ulama mereka:
1.     Abu Ja'far berkata:
"Semua manusia (kaum muslimin Ahli Sunnah wal-Jamaah) menjadi Ahli Jahiliyah (kafir/murtad setelah kewafatan Rasulullah) kecuali empat orang, Ali, Miqdad, Salman dan Abu Dzar".[8]
2.     Al-Kulaini[9] mensifatkan Abu Bakar, 'Umar dan 'Uthman telah terkeluar dari kalangan orang yang beriman (murtad/kafir) lantaran tidak melantik Ali sebagai khalifah setelah Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam wafat.[10]  Malah al-Kulaini mengkafirkan seluruh penduduk Mekkah dan Madinah.  Menurut Kulaini: 
"Penduduk Madinah lebih buruk dari penduduk Mekkah dan penduduk Mekkah telah kufur kepada Allah dengan terang-terang".[11]
         Al-Kulaini juga menetapkan dalam kitabnya al-Kafi:
"Sesiapa yang tidak beriman kepada Imam Dua Belas maka dia adalah kafir walaupun dia keturunan Ali atau Fatimah".[12]
3.     Al-Majlisi  seorang ulama besar Syiah menegaskan:
“Bahawa mereka (Abu Bakar, 'Umar dan 'Uthman) adalah pencuri yang khianat dan murtad, keluar dari agama, semoga Allah melaknat mereka dan semua orang yang mengikut mereka dalam kejahatan mereka, sama ada orang dahulu atau orang-orang kemudian".[13]
 
Budak Ali bin Husin berkata:
 
"Saya pernah bertanya kepada Ali bin Husin tentang Abu Bakar dan 'Umar.  Maka dia menjawab:  Keduanya kafir dan sesiapa yang mencintainya juga kafir".[14]
4.     Abu Basir (ulama Syiah) menegaskan:
"Sesungguhnya penduduk Mekkah telah kufur kepada Allah secara terang-terang dan penduduk Madinah lebih buruk dari penduduk Mekkah, lebih buruk tujuh puluh kali dari penduduk Mekkah".[15]
            Demikianlah kenyataan, fatwa, kepercayaan, pandangan dan tuduhan jahat para ulama Syiah terhadap Ahli Sunnah wal-Jamaah sama ada terhadap ulama atau orang awamnya.

Al-Quran Menurut Syiah
            Menurut kepercayaan penganut Syiah al-Quran yang ada sekarang sudah diubah-suai, ditambah dan dikurangi oleh para sahabat dan tidak asli.  Al-Quran yang asli berada di tangan Ali yang kemudian diwariskan kepada putera-puteranya.  Menurut Syiah lagi bahawa pada masa sekarang ini al-Quran yang asli berada di tangan Imam Mahadi al-Muntazar.
Al-Kusyi pula berkata:
"Tidak sedikitpun isi kandungan di dalam al-Quran (yang digunakan oleh Ahli Sunnah wal-Jamaah sekarang,  Pent.) yang boleh kita jadikan pegangan".[16]
            Menurut para ulama Syiah:
“Seseorang itu akan dianggap kafir dan masuk neraka kerana tidak mengikut Imam Dua Belas Syiah atau kafir terhadap Syiah”.
Syiah banyak merubah ayat-ayat al-Quran dan tafsirannya.  Contohnya ayat:
مَاسَلَكَكُمْ فِى سَقَرٍ
"Mengapa kamu masuk neraka?"
             (Menurut penafsiran ulama Syiah):
  قَالُوْا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّيْن
"Orang-orang kafir menjawab, Kami tidak solat".
            Ulama Syiah merubah tafsirannya yang sebenarnya kepada maksud dan tafsiran:
"Kami (masuk neraka kerana) tidak mengikut Imam (Syiah)".[17]
            Begitulah kekarutan, khurafat dan batilnya kepercayaan penganut syiah yang telah disepakati oleh para ulama Ahli Sunnah wal-Jamaah sebagai akidah yang sesat lagi menyesatkan.

Hadis Menurut Syiah
            Syiah menolak hadis-hadis sahih yang diriwayatkan oleh muhaddis Ahli Sunnah wal Jamaah, seperti Imam Bukhari, Muslim, Turmizi dan yang lainnya.  Syiah hanya menerima hadis yang diriwayatkan oleh perawi Ahli Bait.  Menurut Syiah hadis bukan semata-mata dari Nabi tetapi dari Imam Dua Belas yang maksum.  Nilai perkataan imam yang maksum senilai dengan wahyu dan sabda nabi.[18]

Syiah Mengkafirkan Ahli Sunnah Wal-Jamaah
1.     Syiah menggelar golongan Ahli Sunnah wal-Jamaah sebagai Nasibi(نَاصِبِي)  "Penipu, Pembangkang atau penentang Ali bin Abi Talib" kerana mereka mendahulukan Abu Bakar, 'Umar dan 'Uthman sebagai khalifah.
         Begitu juga ulama Syiah mengkafirkan pengikut mazhab Syafie, Hambali, Maliki dan Hanafi kerana mereka digolongkan sebagai an-Nasibi.  Menurut ulama Syiah lagi:
"Dalam kalangan ulama (Ahli Sunnah) dari Malik, Abi Hanifah, Syafie, Ahmad dan Bukhari semua mereka kafir dan terlaknat".[19]
         Keyakinan Syiah yang sesat ini diambil dari keterangan ulama mereka Syeikh Husin al-'Usfur ad-Darazi al-Bahrani.  Beliau menegaskan:
"Riwayat-riwayat para imam menyebutkan bahawa an-Nasibi (si Kafir) adalah mereka yang digelar Ahli Sunnah wal-Jamaah".[20]
2.     Syiah menganggap seluruh Ahli Sunnah wal-Jamaah kafir yang setara dengan orang-orang kafir musyrikin dan najis.  Berkata Abu Qasim al-Musawi al-Khuri (ulama besar Syiah):
         "Najis ada sepuluh jenis, yang ke sepuluh adalah orang kafir, iaitu yang tidak beragama atau yang beragama bukan Islam atau beragama Islam menolak yang datang dari Islam.  Dalam hal ini tidak ada perbezaan antara murtad, kafir asli, kafir zimmi, Khawarij yang ghalu atau an-Nasibi (Ahli Sunnah wal-Jamaah)".[21]
         Berkata Ruhullah al-Musawi (ulama Syiah):
         "Sesungguhnya an-Nasibi (Ahli Sunnah wal-Jamaah) dan Khawarij dilaknati Allah Subhanahu wa-Ta'ala.  Keduanya adalah najis tanpa diragukan lagi".[22]
3.     Syiah mengkafirkan Ahli Sunnah kerana tidak mengiktiraf (tidak mengimani) Imam Dua Belas.  Berkata Yusuf al-Bahrani (ulama Syiah):
         "Tidak ada perbezaan antara orang yang kafir kepada Allah Subhanahu wa-Ta'ala, RasulNya dan yang kafir kepada para Imam Dua Belas".[23] 
 
         Dan berkata Kamil Sulaiman (ulama Syiah): 
         "Sesiapa yang meyakini para Imam Dua Belas maka dia adalah orang yang beriman dan sesiapa yang mengingkarinya dia adalah kafir".[24]
Syiah menghalalkan darah dan harta Ahli Sunnah.  Berkata Muhammad bin Ali Babawaihi al-Qummi, dia meriwayatkan dari Daud bin Farqad:
         "Aku bertanya kepada Abu Abdullah 'alaihis salam:  Bagaimana pendapat engkau membunuh an-Nasibi (Ahli Sunnah wal-Jamaah)?  Dia menjawab:  Halal darahnya akan tetapi lebih selamat bila engkau sanggup menimpakan dengan tembok atau menenggelamkan (mati lemas) ke dalam air supaya tidak ada buktinya.  Aku bertanya lagi:  Bagaimana dengan hartanya?  Dia menjawab:  Rampas sahaja semampu mungkin".[25]
         Berkata Abu Ja'far ath-Thusi (ulama Syiah): 
        
         "Berkata Abu Abdullah 'alaihis salam (Imam as-Sadiq):  Ambillah harta an-Nasibi (Ahli Sunnah wal-Jamaah) dari jalan apapun kamu mendapatkannya dan berikan kepada kami seperlima".[26]
 
         Yusuf al-Bahrani berkata (ulama Syiah):
         "Dari dahulu sehinggalah sekarang, bahawa an-Nasibi kafir dan najis secara hukum, dibolehkan mengambil segala harta benda mereka bahkan dihalalkan membunuhnya".[27]
            Begitulah sikap golongan Syiah terhadap Ahli Sunnah wal-Jamaah yang mereka gelar sebagai an-Nasibi.  Mereka bukan sahaja memusuhi Ahli Sunnah malah mengistiharkan bunuh dan rampas harta benda Ahli Sunnah wal-Jamaah.  Dan rampasan tersebut dianggap oleh mereka sebagai ganimah (harta rampasan perang).

Agama Syiah Mewajibkan Taqiyah
            Taqiyah (dissimulation) adalah satu prinsip yang diyakini oleh syiah Imamiyah.  Berpegang kepada taqiyah adalah wajib bagi setiap penganut Syiah.  Ianya adalah satu sikap yang menyembunyikan kebenaran yang (kononnya) jika didedahkan akan membawa kemusnahan diri atau agama seseorang Syiah.[28]  Pada mulanya taqiyah dilakukan kerana takut terjadinya penindasan dari pihak pemerintah.  Tetapi selanjutnya diamalkan untuk menipu, berbohong dan seterusnya untuk menghalalkan sesuatu yang haram atau sebaliknya.
Orang-orang Syiah akan menyamar sebagai Ahli Sunnah secara taqiyyah untuk memerangkap Ahli Sunnah yang kurang faham akan agama mereka.  Tujuannya supaya dapat dirosakkan fahaman, akidah dan amal ibadahnya.
Abu Ja'far berkata:
"Taqiyah adalah agamaku dan agama nenek moyangku.  Dan tidak beragama bagi sesiapa yang tidak bertaqiyah".[29]
 
Abdullah berkata:
 
"Wahai Abu 'Umar!  Sesungguhnya sembilan persepuluh dari agama terletak pada taqiyyah, tidak beragama bagi sesiapa yang tidak bertaqiyyah pada segala sesuatu, kecuali arak dan menyapu sepatu".[30]
 
Diriwayatkan dari Ali bin Muhammad:
 
"Wahai Daud!  Sekiranya kamu mengatakan bahawa orang yang meninggalkan taqiyah sama seperti orang yang meninggalkan solat, maka sesungguhnya betullah kata-katamu itu".[31]
          Sebenarnya taqiyyah dalam agama Syiah adalah perbuatan nifak, pembuat nifak adalah seorang munafik.  Tidak ada hadis sahih yang menghalalkan taqiyah sebagaimana yang dilakukan oleh golongan Syiah.  Si Munafik pula dilaknat Allah dan ditempat di neraka yang paling bawah (kerak neraka), maka Ahli Sunnah wal-Jamaah diharamkan dari bertaqiyah.

Syariat Syiah Yang Menyesatkan
            Syariat Syiah yang sebenar amat bertentangan dengan syariat Ahli Sunnah wal-Jamaah.  Syiah digolongkan oleh Imam Syahrastani di dalam bukunya “Al-Milal Wan-Nihal” dan al-Bagdadi dalam bukunya “Al-Faraq Bain al-Firaq” segabai golongan 72 yang ke neraka, kerana penganut Syiah selain mengkafirkan Amirul Mukminin Abu Bakar, ‘Umar al-Khatab, Uthman radiallahu anhum dan para sahabat yang lain, mereka juga lebih meyakini syariat Daud 'alaihis salam  daripada syariat Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wa-sallam.  Abu Ja'far berkata:
"Apabila Imam ghaib (Imam Mahdi) datang, ia akan memerintah dengan hukum syariat Daud (bukan syariat Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa-sallam, pent)".[32]


Nikah Mut'ah
            Syiah menghalalkan nikah mut'ah seberapa banyak, beberapa kali yang diinginkan dan yang semampu.  Mereka menghalalkan nikah mut'ah sehingga ke Hari Kiamat.  Sebaliknya Ahli Sunnah wal-Jamaah telah mengharamkan nikah mut'ah sehinggalah ke Hari Kiamat.  Antara hadis (hadis-hadis sahih) dari Nabi Muhammad sallallahu 'alaihi wa-sallam yang mengharamkan nikah mut’ah ialah:
عَنْ عَلِيِّ اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ نِكَاحِ الْمُتْعَةِ يَوْمَ خَيْبَرَ وَعَنْ لُحُوْمِ الْحُمُرِ اْلاَهْلِيَّةِ.
 
"Dari Ali (Bin Abi Talib):  Sesungguhnya Nabi Sallallahu 'alaihi wa-sallam telah melarang nikah mut'ah pada hari peperangan Khaibar dan baginda mengharamkan makan daging keldai kampung".[33]
 
اَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى يَوْمِ الْفَتْحِ عَنْ مُتْعَةِ النِّسَاءِ.
 
"Sesungguhnya Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam melarang nikah mut'ah pada hari futuh (pembukaan) Mekkah".[34]
            Antara tanda-tanda penganut agama Syiah ialah menghalalkan nikah mut’ah walaupun telah diharamkan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam.  Golongan Syiah telah menyelewengkan hadis-hadis sahih yang mengharamkan mut’ah.  Oleh itu, orang-orang beriman yang mengakui sebagai Ahli Sunnah wal-Jamaah perlu membenteras fahaman dan ajaran Syiah kerana Syiah adalah golongan yang sesat lagi menyesatkan.

RUKUN IMAN AGAMA SYIAH
            Rukun iman Agama Syiah berbeza dengan rukum iman Ahli Sunnah wal-Jamaah, kerana rukun iman Syiah hanya lima perkara, iaitu:
1.     Beriman kepada keEsaan Allah    -             (التوحيد)
2.     Beriman kepada Keadilan         -                  (العدل)
3.     Beriman kepada Kenabian      -                    (النبوة)
4.     Beriman kepada Imam          -                       (الامانة)
5.     Beriman kepada Hari Kiamat    -                 (المعاه)
            Imam Malik secara terang-terangan telah mengkafirkan golongan Syiah kerana golongan ini membenci para sahabat Nabi dan sesiapa yang membenci sahabat Nabi adalah kafir.  Hal ini telah disepakati oleh sebahagian besar ulama.[35]
Imam Malik rahimahullah juga pernah menjelaskan tentang Syiah:
"Mereka (Syiah) jangan diajak berbual dan jangan pula diberi perhatian, mereka adalah golongan pembohong".[36]
 
Imam Syafie rahimahullah pula berwasiat:
 
"Belum pernah aku saksikan di kalangan manapun manusia yang begitu berani menjadi pendusta dan sebagai saksi-saksi palsu seperti golongan Syiah".[37]
             Begitulah fatwa-fatwa para ulama Ahli Sunnah wal-Jamaah terhadap golongan Syiah.  Tidak terdapat seorangpun dari kalangan mereka yang menerima Syiah sama ada fahaman atau akidah mereka.  Oleh itu, berwaspadalah terhadap gerakan, doktrin dan di’ayah Siyah, kerana pada hakikatnya mereka adalah pembohong yang hanya mengajak kepada kesesatan, pecah-belah dan kehancuran umat Islam.  Wallahua’lam.  Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.



[1].  Syeikh al-Mufid adalah seorang ulama Syiah abad (414 H/ 1022M).
[2].  Lihat:  Awaailul Maqalat. hlm. 2.  Syeikh al-Mufid. 
[3].  Lihat:  Rijal al-Kusyi. Hlm. 106-108.  (Kitab ini "Rijal al-Kusyi") adalah kitab tertua menjadi rujukan dan pegangan golongan Syiah.
[4].  Lihat:  Usul Mazhabi asy-Syiah al-Imamiyah al-Ithna 'Asyariah.  (1/74).
[5].  Lihat:  الشيعة فى التاريخ  Hlm. 213.  Muhammad Husin al-Zain.
[6].  Lihat:  Usul Mazhabi asy-Syiah al-Imamiyah al-Ithna 'Asariyah. (1/74).
[7].  Lihat:  Usul Mazhabi asy-Syiah al-Imamiyah al-Ithan 'Asariyah. (1/77).
[8].  Lihat:  Tafsir as-Safi.  (1/389).
[9].  Al-Kulaini, nama penuhnya Muhammad bin Yakub al-Kulaini. Meninggal dunia pada 328H
[10]. Lihat:  Usul al-Kafi. (1/488).
[11]. Ibid.  (2/409).
[12]. Lihat:  Al-Kafi. (1/372-374).
[13]. Lihat: بحار الانوار.  (4/385). Muhammad Baqir al-Majlisi
[14]. Ibid.   (2/216).
[15]. Ibid.   (2/410).
[16]. Lihat:  As-Safi. (1/33).
[17]. Lihat:  Usul Kafi.  (1/438).
[18]. Keyakinan bahawa para imam maksum menjadikan semua perkataan yang keluar dari mereka adalah sahih.  Maka tidak diperlukan menyandarkan sanadnya kepada Rasulullah s.a.w sebagaimana di kalangan Ahlu Sunnah wal-Jamaah.  Lihat:  Tarikh al-Imamiyah. Hlm. 140.  Abdullah Faiyad.
[19]. Lihat:  Asy-Syiah wa as-Sunnah.  Hlm.  7.  Ihsan Ilahi Zahiri.
[20]. Lihat:  Al-Masail al-Khurasaniyah. Hlm. 147.
[21]. Lihat:  Manhaj Shalihin. (1/116).
[22]. Lihat:  Tahrirul al-Wasilah. (1/116).   Cetakan Beirut.
[23]. Lihat:  Al-Hadiq an-Nadirah. (28/153).   Cetakan Beirut.
[24]  Lihat:  Kitabul Khalash Fi Zilli al-Qaimmul Mahdi.  Hlm.  44.  Cetakan Beirut, Lebnon.
[25]. Lihat:  'Ilal asy-Syar'i.  Hlm. 44.  Cetakan Beirut.
[26]. Lihat:  Tahzibul Ahkam.  (1V/122)   Cetakan Tehran.
[27]. Lihat:  Al-Hadiq an-Nadirah Fi Ahkam al-Atraf at-Tahirah.  (X11/323-324).
[28]. Lihat:  Al-Qummi, terjemahan Asaf .A Fyze.  Hlm. 71.
[29]. Lihat:   Usul Min Kafi.  (2/219).
[30]. Ibid.
[31]. Lihat:  Wasail asy-Syiah (X1/466).  Cetakan Tehran.
[32]. Lihat:  Tarikh Ma Ba'da Zuhur.  Hlm. 728.  Cetakan Beirut.
[33]. H/R Bukhari (5/78 dan 6/129).   Muslim (9/189-190). 
[34]. H/R Muslim.  (4/133).
[35]. Lihat:  Sunnah dan Syiah, Mungkinkah Dipertemukan?  Hlm. 57.  Dr. Abdullah Muhammad Gharib.  Edisi pertama,  Surabaya. 1984.
[36]. Ibid.  Hlm.  57.
[37]. Ibid.  hlm.  57.