Memaparkan catatan dengan label Memilih Pemimpin. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Memilih Pemimpin. Papar semua catatan

Isnin, 1 April 2013

Pemimpin yang Zalim - Jangan bergaul dengan para pemimpin dan pembesar yang zalim, bahkan jangan menemuinya


Ya Tuhan kami, Sesungguhnya kami telah mentaati Pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami Lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar) Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab Dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar.
(QS Al Ahzab [33]: 67-68)

Imam al Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin pernah memberikan nasihat tentang cara berinteraksi dengan pemimpin yang zalim. “Jangan bergaul dengan para pemimpin dan pembesar yang zalim, bahkan jangan menemuinya. Berjumpa dan bergaul dengan mereka hanya membawa petaka. Dan sekiranya kamu terpaksa bertemu, jangan memuji-muji mereka, karena Allah sangat murka ketika orang fasik dan zalim dipuji. Dan barangsiapa mendoakan mereka panjang umur, maka sesungguhnya dia suka agar Allah didurhakai di muka bumi.”

Tak hanya tentang pertemuan, bahkan Imam al Ghazail mengeluarkan larangan menerima pemberian dari penguasa yang zalim. “Jangan menerima apa-apa pemberian dari golongan pembesar, meski kamu tahu pemberian itu bersumber dari yang halal. Sebab, sikap tamak mereka akan merusak agama. Pemberian itu akan menimbulkan rasa simpati (jika diterima). Lalu kamu akan mulai menjaga kepentingannya mereka dan berdiam diri atas kezaliman yang mereka lakukan. Dan itu semua telah merusak agama.”



Peringatan susulan juga diungkapkan. Sekecil-kecilnya mudharat ketika seseorang menerima hadiah dari penguasa adalah, akan muncul rasa saya terhadap mereka. “Seterusnya kami akan mendoaakan mereka kekal dan lama di atas kedudukannya. Mengharapkan orang yang zalim lama berkuasa sama seperti mengharapkan kezaliman berkepanjangan atas hamba-hamba Allah dan alam akan musnah binasa.”

Jika sudah demikian, Imam al Ghazali mengajukan pertanyaan yang luar biasa menyeramkan. “Apalagi yang lebih buruk dibanding dengan kerusakan agama?”

Setiap penguasa, selalu memiliki kemungkinan untuk berbuat zalim, kecuali penguasa yang beriman kepada Allah, berteman dan dikeliling orang-orang yang beriman pula. Mereka saling mengingatkan dan memberi nasihat, hanya demi kebaikan, dan bukan untuk kepentingan.

Tapi ketika seorang penguasa dikelilingi orang-orang yang busuk dan jahat, maka kezaliman hanya tinggal menunggu waktu untuk dirasakan. Dan ketika semua itu terjadi, kerusakan akan merajalela, kehancuran di depan mata, menggelincirkan manusia dari jalan kebenaran dan menjadikan kesesatan sebagai panutan. Karena itu, pemimpin yang zalim masuk menjadi salah satu golongan yang paling dibenci oleh Allah SWT.



Rasulullah bersabda, “Ada empat golongan yang paling Allah benci. Pedagang yang banyak bersumpah, orang fakir yang sombong, orang tua yang berzina, dan seorang pemimpin (penguasa) yang zalim.” (HR. An-Nasai)

Bahkan, Rasulullah memberikan penegasan sanksi atas para pemimpin yang zalim. Dalam Shahih Bukhari Muslim disebutkan, Rasulullah bersabda, “Tidaklah ada seseorang hamba yang Allah beri kepercayaan untuk memimpin, kemudian pada saat matinya dia berada dalam (keadaan) melakukan penipuan terhadap rakyatnya, kecuali akan diharamkan atasnya untuk masuk surga.”

Alangkah ruginya para pemimpin seperti ini. Dan alangkah malangnya umat dan rakyat yang mendapat pemimpin seperti ini.

Ketika seorang pemimpin zalim berkuasa, maka yang bertanggung jawab bukan hanya para pelaku kekuasaan; raja, kaisar, presiden bahkan gubernur dan kepala desa. Umat dan rakyat pun akan bertanggung jawab memikul beban penguasa yang zalim.



Ibnu Taimiyyah dalam karyanya Siyasah Syari’iyah mengutip sebuah hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. “Barangsiapa yang mengangkat seseorang (pemimpin) untuk mengurusi perkara kaum Muslimin sementara dia mendapati ada seseorang yang lebih layak daripada orang yang diangkatnya, maka dia telah berkhianat pada Allah SWT dan Rasul-Nya.”

Dalam hadits lain yang diriwayatkan dari sahabat Jabir ra, Rasulullah juga menegaskan bahwa mereka yeng memilih pemimpin dengan pamrih duniawi maka Allah tidak akan menyapa orang-orang seperti ini di akhirat nanti.

“Ada tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak dilihat dan tidak akan disucikan, dan bagi mereka azab yang pedih. Mereka adalah; Orang yang mempunyai kelebihan air di padang pasir namun tidak mau memberikannya kepada orang yang berada di tengah perjalanan; orang yang menawarkan barang dagangan kepada orang lain setelah Ashar, lalu ia bersumpah dengan nama Allah bahwa ia telah membelinya sekian dan sekian sehingga lawannya mempercayainya, padahal sebenarnya tidaklah demikian; dan seseorang yang mengikrarkan kepatuhannya kecuali untuk kepentingan dunia (harta), bila sang pemimpin memberinya ia akan patuh dan bila tidak memberinya ia tidak akan mematuhinya.”



Jauh-jauh hari, sesungguhnya Allah telah melakukan proteksi agar kita tak memiliki kecenderungan hati pada orang-orang yang zalim. Sebab, kecenderungan itu akan mengantarkan kita pada azab yang pedih. “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (QS Huud [11]: 113)

Sungguh, seorang pemimpin sejatinya adalah sebuah perisai yang melindungi rakyatnya. Seperti sabda Rasulullah, “Sesungguhnya seorang pemimpin itu merupakan perisai, rakyat akan berperang di belakang serta berlindung dengannya. Bila ia memerintah untuk takwa kepada Allah azza wa jalla serta bertindak adil, maka ia akan memperoleh pahala. Namun bila ia memerintah dengan selainnya, maka ia akan mendapatkan akibatnya.” (HR Muslim)

Pemimpin dan yang dipimpin adalah mata rantai yang tak terpisahkan. Pemimpin lahir dari dan terpilih oleh orang-orang yang akan dipimpin. Ketika seorang pemimpin bersalah, maka bersalah pula mereka yang memilihnya. Ketika seorang pemimpin berbuat zalim, maka mereka yang memilih juga akan menanggung akibatnya.



Sungguh bukan pekerjaan ringan untuk menjaga dan menghalang-halangi para pemimpin agar tidak berbuat zalim. Orang-orang yang dipimpin harus menjaga para pemimpin dengan cara memastikan bahwa kepala negara melakukan kewajiban-kewajiban besarnya. Kewajiban pemimpin negara adalah menegakkan keadilan, memberantas kezaliman, menerapkan hukum syariat, dan bahkan kewajiban personal untuk tidak melakukan maksiat.

Umar bin Khattab ra lebih tegas lagi mengatakan, tugas seorang pemimpin adalah menjaga agama. “Pemimpin di angkat untuk menegakkan agama Allah,” kata Umar bin Khattab.

Jika kita mampu menjaga para pemimpin yang terpilih, menjadi para pemimpin yang menegakkan agama Allah, menjaga akidah umatnya, memberantas kezaliman dan menerapkan syariat, sungguh negeri ini ibarat potongan surga di dunia. Apalagi Rasulullah bersabda bahwa menasihati para pemimpin untuk taat pada Allah, adalah salah satu perilaku yang mengundang ridha-Nya.

“Sesungguhnya Allah ridha terhadap tiga perkara dan membenci tiga perkara. Dia rela apabila kalian menyembah-Nya, berpegang tegug pada tali-Nya dan menasihati para pemimpin. Dan Allah membenci pembicaraan sia-sia, menghambur-hamburkan harta dan banyak bertanya.”

Ada beberapa hal yang membuat pemimpin tergelincir pada perilaku zalim. Yang paling berbahaya adalah, ketika seorang pemimpin menuruti hawa nafsu dan mengejar kesenangan dunia. Kemudian, kolusi dan nepotisme yang tidak sesuai dengan aturan kebenaran. Para penasihat yang buruk dan teman yang jahil, juga mampu menggelincirkan para pemimpin. Jika orang-orang yang lemah dan kaum kuffar dijadikan sebagai pembantu, kehancuran tinggal menunggu waktu. Rela dan mudah terpengaruh pada tekanan internasional, juga menjadi penyebab pemimpin berlaku zalim.

Tugas umat, belum lagi selesai. Setelah terpilih, para pemimpin harus terjaga. Jika tidak, kita juga yang akan merasakan azab dan akibatnya. Sebab, keadilan seorang pemimpin adalah penawar dahaga bagi umatnya dan lebih utama dari ibadah ritual yang dilakukannya. “Keadilan seorang pemimpin walaupun sesaat jauh lebih baik daripada tujug puluh tahun,” demikian sabda Rasulullah. (HR Thabrani)

Tapi jika yang terjadi justru sebaliknya, maka sungguh keadaan yang akan menimpa. “Yang aku takuti pada umatku adalah pemimpin-pemimpin yang menyesatkan,” sabda Rasulullah. (HR Dawud)
Jika pemimpin-pemimpin sesat telah memimpin, maka manusia akan berada pada penyelasan yang tiada tara seperti yang digambarkan Allah dalam firman-Nya. “Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.” (QS al Ahzab [33]: 66)

Dan ketika kita sampai pada tahap itu, penyesalan paling besar pun tak akan berarti. Semoga kita adalah umat yang terbaik, dengan pemimpin-pemimpin yang shalih dan muslih. Bukan sebaliknya, umat yang dipimpin para penguasa yang zalim dan bathil. Semoga pemimpin kita tidak seperti pepatah, tongkat yang membawa rebah!


Khamis, 24 November 2011

Berhati-hati Memilih Pemimpin

Ciri- ciri Pemimpin Islam
http://www.youtube.com/watch?v=EprrwI5M_QY



Dalam surah al-Hajj ayat 40-41, Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah menolong sesiapa yang menolong Agama-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Gagah, lagi Maha Perkasa. Iaitu mereka yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi nescaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf serta mencegah perbuatan yang mungkar. Dan kepada Allah sahajalah kembali segala urusan”.

Dalam ayat ini Allah menceritakan tentang golongan yang mendapat pertolongan daripada Allah. Mereka ialah golongan yang ‘diteguhkan kedudukan mereka di muka bumi’ berdasarkan kalimat ‘makkannaahum fil ardh’ dalam surah al-Hajj ayat 41. Imam al-Hasan dan Abu al-‘Aliyah mentafsirkan golongan ini sebagai ‘golongan daripada umat ini yang diberikan kemenangan oleh Allah’. Imam Ibn Abu Najih mentafsirkannya sebagai ‘pemimpin-pemimpin’. Imam ad-Dahhak mentafsirkannya sebagai ‘mereka yang kurniakan kerajaan dan kekuasaan oleh Allah’. Kesemua pendapat ini dilaporkan dalam al-Jamik li Ahkamil Quran oleh Imam Qartubi.

Pemimpin yang bagaimanakah yang mendapat pertolongan dan diredai Allah? Secara dasarnya Allah tidak memberi cek kosong kepada para pemimpin, sebaliknya yang diberikan kepada mereka adalah amanah dan tanggungjawab. Antara tanggungjawab itu ialah “mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf serta mencegah perbuatan yang mungkar”.


Ciri Ciri Pemimpin Islam & Realiti Semasa - Dr Asri SMNS 220511
http://www.youtube.com/watch?v=M_yQwH44mYw


Pemimpin Dan Solat
Seseorang pemimpin Muslim memerlukan bantuan dan pertolongan untuk melaksanakan tugasnya dengan baik, dan penolong yang terbaik baginya ialah Allah. Justeru pemimpin Muslim perlu sentiasa mendekati Allah dengan beribadah kepadanya, dan ibadah yang paling penting ialah solat.
Seorang Muslim yang tidak melaksanakan solat tidak layak menjadi pemimpin. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim nabi bersabda, “Sebaik-baik pemimpinmu ialah mereka yang kamu kasihi dan mereka mengasihimu dan kamu mendoakan mereka dan mereka mendoakan kamu. Sejahat-jahat pemimpinmu ialah mereka yang kamu benci dan mereka membencimu dan kamu mengutuk mereka dan mereka mengutukmu.’ Sahabat-sahabat pun berkata, ‘Bolehkah kami menentang mereka?’ Jawab Nabi, ‘Tidak, selama mana mereka tetap menegakkan solat’.”
Hadis ini menunjukkan apabila seseorang pemimpin Muslim memperkecilkan solat, dia perlu turun dari jawatan kepimpinannya.

Pemimpin Dan Zakat
Hubungan yang baik dengan Allah perlu disusuli dengan hubungan yang baik sesama manusia. Dalam erti kata yang lain, seseorang pemimpin Muslim perlu berada di masjid untuk beribadah dan perlu juga berada di rumah rakyat untuk membantu mereka. Kebajikan rakyat tidak boleh diabaikan termasuk dalam aspek material dan kesenangan duniawi. Jika boleh kemiskinan dibasmi sepenuhnya dan semua rakyat hidup dalam keadaan senang lenang.

Antara contoh yang terbaik ialah pemerintahan khalifah Omar bin Abdul Aziz. Beliau terkenal sebagai seorang pemimpin yang bertakwa lagi adil. Pemerintahannya memakan masa 30 bulan. Dalam masa itu kemiskinan berjaya dibanteras dan rakyat ketika itu hidup dalam kemewahan. Berhubung dengan ini Yahya bin Said meriwayatkan, “Khalifah Omar Abdul Aziz mengutus aku untuk mengutip zakat di Afrika. Aku pun melaksanakan tugas ini dan kemudiannya aku pun mencari golongan fakir miskin untuk di berikan zakat namun golongan ini tidak aku temui. Sesungguhnya khalifah Omar Abdul Aziz telah menjadikan kami manusia yang kaya raya”.
Ibadah zakat yang disebutkan dalam surah al-Hajj ayat 41 menekankan tentang aspek ini. Kebajikan rakyat dalam aspek duniawi tidak boleh dipandang ringan.



Ustaz Azhar Idrus - Dosa Pemimpin Yg Membuat Mungkar
http://www.youtube.com/watch?v=-x4HNZYLUqE&NR=1



Pemimpin Dan Amar Makruf Nahi Mungkar
Terdapat sebahagian pemimpin Muslim yang tidak melupakan solat dan zakat, tetapi mereka melupakan tanggungjawab untuk mengajak kepada makruf dan mencegah kemungkiran. Mereka juga tidak layak memimpin masyarakat. Berhubung dengan ini Imam Qartubi, dalam al-Jamik li Ahkamil Quran, melaporkan perkataan Imam Sahl bin Abdullah yang bermaksud, “Mengajak kepada makruf dan mencegah kemungkaran adalah wajib ke atas mereka yang berkuasa serta ulama”.

Tidak ada kemuliaan bagi mereka yang mengabaikan amar makruf dan nahi mungkar. “Makruf” bermaksud “sesuatu yang baik mengikut pandangan syarak dan akal,” dan “mungkar” pula bermaksud “sesuatu yang berlawanan dengan makruf sebagai contoh, meninggalkan perkara yang difardukan serta kewajipan, ataupun melakukan perbuatan yang haram sama ada berbentuk dosa kecil ataupun besar”. Tafsiran ini disebutkan oleh Muhammad ibn Illan Al-Makki dalam Dalilul Falihin (Maktabah Al-Halabi, Mesir; jilid 2)

Aspek ini amat dipentingkan oleh Islam sehinggakan, mengikut riwayat Muslim, Nabi mengizinkan penentangan dilakukan jika pemimpin melakukan ‘kufran bawaahan.’ Sahabat Abdullah bin Samit meriwayatkan, “Kami berbaiah (iaitu membuat perjanjian taat setia) agar tidak menentang kepimpinan melainkan jika berlaku ‘kufran bawaahan’ di mana di sisi Allah bukti-buktinya adalah amat jelas.” Imam Nawawi mentafsirkan ‘kufran bawaahan’ sebagai ‘maksiat yang dilakukan oleh seseorang pemimpin yang jelas bercanggah dengan kehendak agama Allah dan kaedah-kaedah Islam’. Hal ini dilaporkan dalam kitab Sahih Muslim bi Syarhi An-Nawawi (Al-Matbaah Al-Fikriah; juz. 12, 1924).

Justeru seseorang yang tidak menyeru kepada makruf dan pada ketika yang sama membiarkan serta menggalakkan perbuatan mungkar (dan yang lebih teruk lagi ialah dia sendiri terlibat melakukan kemungkaran itu), maka dia tidak layak menjadi pemimpin umat. Qadhi Iyad memfatwakan, “Apabila berlaku ke atas seseorang pemimpin tanda-tanda kekufuran, perbuatan mengubah syariat ataupun amalan bidaah, wajiblah dilucutkan kepimpinannya dan gugurlah ketaatan rakyat kepadanya. Ketika itu beliau hendaklah digantikan dengan seorang yang adil”. Fatwa ini dilaporkan dalam Sahih Muslim bi Syarhi An-Nawawi (Al-Matbaah Al-Fikriah; juz. 12, 1924).

Usaha untuk mengajak kepada makruf dan mencegah kemungkaran tidak akan dapat dilaksanakan dengan sempurna tanpa ilmu. Justeru seseorang pemimpin Muslim wajib menguasai ilmu apatah lagi ilmu agama. Rata-ratanya kita sudah mengetahui bahawa ilmu yang diperlukan bukanlah semata-mata ilmu tentang tajwid, rukun solat, mandi wajib, wuduk, tayamum dan yang seumpamanya. Ia lebih dari itu.

Di samping itu beliau juga merupakan peribadi yang bersedia untuk terus belajar dan mendengar serta menghormati pandangan golongan ilmuwan terutamanya dalam bidang agama.

Berhati-hati Memilih Pemimpin

Ketika dalam perjalanan kita disuruh berhati-hati di jalan raya. Hadis-hadis pula menyuruh umatnya berhati-hati ketika memilih pasangan hidup serta kawan. Maka dalam konteks memilih pemimpin ia sudah pasti lebih dituntut lagi kerana isunya adalah lebih besar dan kesannya lebih meluas.

Dalam surah Al-Baqarah ayat 124, Allah berfirman,  “Berkata Allah (kepada Ibrahim), ‘Sesungguhnya Allah akan menjadikan kamu Imam (pemimpin) untuk manusia’. Berkata Ibrahim, ‘Dan juga dari keturunanku.’ (Berfirman Allah), ‘Janji-Ku tidak akan diberikan kepada mereka yang zalim’.”

Ayat ini menunjukkan pemimpin tidak boleh dilantik secara sembarangan. Sehubungan dengan ini Imam Qartubi dalam Al-Jamik li Ahkamil Quran berkata, “Ayat ini (iaitu al-Baqarah ayat 124) merupakan dalil bagi satu jemaah ulama Islam bahawa pemimpin-pemimpin mestilah dari golongan yang adil, ihsan dan mulia…..Adapun yang fasiq dan zalim mereka tidak layak menjadi pemimpin”.
Nukilan Dr. Danial bin Zainal Abidin Untuk mindasuper.com
Hasil Nukilan :

Dr. Danial Zainal Abidin
dzcsyifa@streamyx.com
http://danialzainalabidin.com