Memaparkan catatan dengan label Hormati Ulamak. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Hormati Ulamak. Papar semua catatan

Khamis, 22 Julai 2021

Menghormati Ulama dan kelebihan Orang Berilmu

Ulamak adalah pewaris para nabi. Allah telah memilih mereka supaya membawa agama dan syariat. Mereka adalah golongan yang paling mengenali Allah. Tugas mereka adalah menunjukkan manusia jalan kepada Allah. Firman Allah:

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (Fusshilat: 33)

Firman Allah:

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (Fathir: 28)

Dari Abu Umamah r.a bahwa nabi saw bersabda:

“Barangsiapa yang berusaha mencari satu jalan untuk menuntu ilmu, nescaya Allah akan mudahkan baginya jalan ke syurga. Para malaikat akan mengembangkan sayapnya sebagai tanda redha kepada penuntut ilmu. Bagi mereka yang berilmu segala yang ada di langit dan di bumi memohon ampun untuknya termasuk ikan-ikan paus di tengah lautan. Kelebihan orang yang berilmu berbanding ahli ibadah seumpama kelebihan bulan mengambang berbanding semua bintang. Ulamak adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan wang dinar dan dirham tetapi mereka mewariskan ilmu. Sesiapa yang mengambilnya pastilah mereka memperolehi keuntungan yang melimpah”. (Tirmizi)

Dari Abu Darda’ r.a disebutkan kepada Rasulullah saw tentang dua orang lelaki, salah seorang ialah abid (ahli ibadah) dan seorang lagi seorang alim (orang berilmu). Lalu nabi bersabda: “Kelebihan orang berilmu berbanding ahli ibadah seperti kelebihan saya berbanding orang yang paling rendah di kalangan kamu”. Kemudian nabi bersabda lagi: Sesungguhnya Allah, para malaikat, penghuni langit dan bumi termasuk semut di celah batu dan termasuk ikan paus sentiasa berselawat kepada orang yang mengajar orang kepada kebaikan”. (Abu Daud)

Allah telah melebihkan dan memuliakan para ulamak dan meninggikan kedudukan dan darjat mereka. Allah telah menyatakan ada perbezaan antara ulamak dan orang yang tidak mengetahui kerana kepentingan ilmu dan pengetahuan yang dimiliki. Firman Allah:

“Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?"

Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (Az-Zumar: 9)

Firman Allah:

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Mujadalah: 11)

Menurut Umar bin al-Khattab r.a: “Sesungguhnya Allah meninggi golongan-golongan tertentu dengan Kitab ini dan merendahkan yang lain”.

Oleh kerana kepentingan ulamak kepada kehidupan umat Allah telah meminta manusia supaya sentiasa bertanya mereka dalam urusan yang tidak diketahui. Firman Allah:

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”. (An-Nahl: 43)

Di samping itu Islam mengambil kira kewujudan mereka sebagai nikmat dan rahmat daripada Allah kepada umat, sedangkan kematian mereka suatu musibah besar kepada umat. Ini kerana kematian seorang ulamak bermakna diangkat ilmu dari muka bumi.

Dari Abdullah bin Amru bin al-As r.a, nabi saw bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak menghilangkan ilmu dengan cara mencabutnya daripada hamba, tetapi Allah mengambil ilmu dengan mematikan ulamak, sehingga apabila tiada lagi ulamak, manusia akan mengambil orang jahil sebagai pemimpin mereka. Apabila ditanya tentang sesuatu urusan agama, mereka akan memberi jawapan tanpa ilmu. Lalu mereka sesat dan menyesatkan”. (Bukhari)

Hasan al-Basri mengungkapkan: “Mereka ini berkata kematian ulamak sebagai satu lubang di dalam agama. Sesuatupun tidak akan menutupnya sekalipun bertukar malam dan siang”.

Nabi saw amat menyukai amalan menghormati ulamak bahkan mewajibkan manusia sentiasa memuliakan dan mengasihi mereka. Dari Abu Musa al- Asy’ari r.a, nabi saw bersabda:

“Di antara ketinggian Allah ialah sentiasa memuliakan muslim yang beruban, membawa al-Quran tanpa melakukan keburukan dan tidak kosong darinya dan memuliakan sultan yang adil”. (Abu Daud)

Bagi nabi saw orang yang tidak menghormati dan memuliakan ulamak bukan termasuk orang yang sempurna Islamnya. Dia sebenarnya terdapat kekurangan dalam agamanya an kefahamannya tentang Islam seolah-olah dia hidup di luar dari jamaah Islam. Di dalam sebuah hadith dari Ubadah bin Samit r.a, nabi saw telah bersabda: “Bukan termasuk kalangan umatku yang tidak memuliakan yang lebih tua, mengasihi yang lebih kecil dan mengenali orang alim dengans sebenarnya”. (Ibn Munzir)

Di antara hukum syarak yang penting ialah tidak harus membincangkan tentang kekuarangan ulamak dan mencari keburukan dan mendedahkannya di dalam majlis-majlis.

Menurut Ibn Asakir: “Sesungguhnya daging para ulamak beracun dan sunnah Allah dalam mengkritik mereka telah dimaklumi”.

Menurut Imam Ahmad pula: “Daging para ulamak beracun, siapa yang menghidunya sakit dan siapa yang memakannya mati”.

Kata Imam Ahmad juga: “Siapa yang lidahnya menutur perkara negative tentang ulamak, Allah akan memberi bala sebelum matinya iaitu dengan mematikan hati”.

Para salaf as-soleh sentiasa menyebutkan tentang ulamak dengan sifat-sifat dan sebutan yang baik dan indah. Bahkan mereka sentiasa berhati-hati dari memburuk dan mengeji mereka.

Menurut Ibn Mubarak: “Orang yang merendahkan ulamak akan hilang akhiratnya, orang yang merendahkan para pemimpin akan hilang dunianya dan orang merendahkan para saudara akan hilang maruahnya”.

Menurut Auza’e: “Memerangi golongan ilmuan terutama yang terkenal termasuk ke dalam sebesar-besar dosa”.

Abu Hanifah berkata tentang hak gurunya Imam Hamad: “Aku tidak tidak pernah solat selepas kematian Hamad, melainkan saya akan saya akan memohon ampun untuknya bersama ibubapaku”.

Menurut Ibn al-Athimin: “Memuliakan ulamak bermakna memuliakan syariat, kerana mereka adalah pembawanya. Menghina ulamak bermakna menghina syariat”.

Ibn Abbas telah memegang tempat pijak tunggangan dan memegang tali pemacu untuk Zaid bin Tsabit dan berkata: “Beginilah kami diperintahkan memuliakannya kepada ulamak kami. Lantas Zaid pula memegang tangang Ibn Abbas dan menciumnya lalu berkata: “Beginilah kami diperintahkan melakukannya kepada ahli keluarga nabi saw”.

Kita mohon Allah menjadikan kita termasuk ke dalam golongan seperti firmanNya:

“Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. mereka Itulah orang-orang yang Telah diberi Allah petunjuk dan mereka Itulah orang-orang yang mempunyai akal”. (Az-Zumar: 18)

Dr. Ahmed Abdul Hadi Syahin

Khamis, 6 Mac 2014

“Barang siapa memandang kepada wajah orang Alim sekali dengan pandangan yang senang, niscaya Allah menjadikan pandangan tersebut malaikat yang memintakan ampun baginya hingga hari kiamat”.

Habib Omar

Keutamaan Memandang Wajah Ulama‘

Mata yang memandang mempunyai pengaruh kuat dan berdampak signifikan terhadap aktivitas batiniyyah kita. Begitu kuatnya pengaruh itu sehingga mempengaruhi kekhusyu’an seseorang untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Syekh Thahir bin Saleh Al-Jazairi dalam kitabnya: Jawahirul Kalamiyah menguraikan sebuah permasalahan:

‘Bagaimana mata mempunyai pengaruh, padahal mata itu hanya termasuk bagian badan manusia yang lembut dan tidak ada hubungannya dengan sesuatu yang dilihat, dan tidak ada sesuatu yang keluar dari mata itu yang berhubungan dengan sesuatu yang dilihat?’ Maka dijawab bahwa tidak ada yang menghalangi jika sesuatu yang lembut itu mempunyai pengaruh yang kuat, dan tidak diisyaratkan bahwa adanya pengaruh itu harus ada hubungannya, karena sesungguhnya kita lihat sebagian manusia yang mempunyai kewibawaan dan kekuasaan bila melihat kepada seseorang dengan pandangan yang mengandung amarah, kadang-kadang menyebabkan yang dipandang itu ketakutan dan gemetar, malah bisa menyebabkan kematiannya. Padahal pada lahirnya ia tidak memasukkan sesuatu pada yang dilihatnya dan tidak terjadi antara yang mempengaruhi dan yang dipengaruhi hubungan ataupun sentuhan. Kalau magnet mempunyai kekuatan dapat menarik besi padahal tidak ada hubungan antara magnet dan besi yang ditariknya itu dan tidak keluar sesuatu yang dapat menyebabkan menariknya itu. Bahkan benda-benda yang lembut lebih besar pengaruhnya daripada benda-benda yang kasar. Karena sesungguhnya perkara-perkara yang besar adalah timbul dari kuatnya kehendak dan niat, sedangkan kehendak dan niat itu termasuk hal yang tidak tampak. Maka tidak mengherankan kalau mata mempunyai pengaruh terhadap yang dipandangnya sekalipun mata itu sangat lembut, dan tidak ada hubungan atau sesuatu yang keluar dari mata itu.

 Ulama' Keturunan Rasulullah

Kekuatan dan kecepatan pengaruh mata dalam memandang telah disinggung oleh Nabi SAW dalam suatu riwayat dari Ibnu Abbas Ra.:

“Pandangan mata adalah suatu kebenaran. Jika ada sesuatu yang dapat mendahului taqdir (ketetapan Allah), maka sungguh pandangan mata akan mendahuluinya”. (HR. Muslim). Karena itulah mata bisa membahayakan, seperti hipnotis, dll. dan Nabi SAW mengajarkan kepada kita suatu do’a:

“Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari setiap syetan, binatang buas, dan pandangan mata yang membahayakan”.

Sari As-Saqathi Rhm. berkata: “Lidahmu adalah penyambung dari hatimu, dan wajahmu adalah cermin darinya. Pada wajahmu ditemukan apa yang ada di dalam hatimu”.[1]

BERSAMA KEPIMPINAN ULAMA'

Ketika anak-anak Ya’qub ingin pergi ke Mesir, menemui Yusuf As. yang ketika itu sudah menjadi Perdana Menteri, Ya’qub As. menasehati mereka: “Hai anak-anakku, janganlah kamu bersama-sama masuk dari satu pintu gerbang, masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlainan!” (QS. Yusuf[17]: 67)

Qatadah mengatakan bahwa Ya’qub As. mengkhawatirkan mereka dari bahaya pandangan (Al-‘Ain) orang-orang yang melihat mereka karena anak-anak Ya’qub As. tergolong orang-orang yang tampan dan berpenampilan menarik. Demikianlah Al-Quran mengisahkan tentang isyarat kuatnya pengaruh pandangan terhadap sesuatu yang diinginkan, yang dipahami oleh sebagian orang tertentu yang diberikan pengetahuan tentangnya.

Keutamaan pandangan kepada wajah seorang Ulama banyak sekali, di antaranya sebagaimana disabdakan oleh Nabi SAW:

“Barang siapa memandang kepada wajah orang Alim sekali dengan pandangan yang senang, niscaya Allah menjadikan pandangan tersebut malaikat yang memintakan ampun baginya hingga hari kiamat”. [2]

Imam Al-Hafizh Al-Mundziri meriwayatkan sebuah hadits dari 40 hadits berkenaan dengan keutamaan menuntut ilmu, yakni bersabda Rasulullah SAW:

“Pandangan sekali kepada orang Alim lebih Allah cintai daripada ibadah 60 tahun, berpuasa siang harinya dan berdiri ibadah pada malamnya”. Kemudian sabda beliau SAW: “Jika tiada Ulama niscaya binasa (celaka)lah umatku”.

Hadits tersebut menunjukkan betapa besarnya keutamaan memandang wajah orang Alim secara lahiriyyah, dikarenakan seseorang yang melakukannya akan mendapat pengaruh kekhusyu’an dan ketenangan hati sehingga mendorongnya kepada Hubbul Akhirah. Tidak semua Ulama dikategorikan seperti makna hadits di atas, karena kata ‘Ulama’ menggunakan Isim Makrifah (Al-’Ulamaa-u), yang menandakan ketertentuan/kekhususan. Tentunya Ulama yang dimaksud di sini adalah Ulama yang telah mencapai kemakrifatan yang Hakiki, dimana pancaran jiwanya mampu melenyapkan sekat-sekat yang menutupi hati. Maka Rabithah, yakni memandang wajah Syekh dengan mata hati lebih diutamakan dan memiliki tempat yang khusus di kalangan Ahli-ahli Thariqat, sebagai penyatuan ruhaniyah seorang murid yang dhaif lagi faqir, dengan Syekhnya yang kamil menuju Hadhrat Allah Ta’ala.

Di dalam sebuah hadits dikatakan bahwa ada sebagian ahli dzikir yang dapat menyebabkan orang lain ingat kepada Allah. Yakni dengan memandang wajahnya saja, membuat mereka teringat untuk dzikrullah. Hadits lain menyebutkan bahwa ‘Sebaik-baik orang di antara kamu ialah seseorang yang apabila orang lain memandang wajahnya, maka ia ingat kepada Allah, jika mendengar ucapannya maka bertambah ilmunya, dan jika melihat amal perbuatannya maka tertariklah pada akhirat’.[3] Atas dasar hadits ini para pembimbing dzikir (Syekh Shufi) terdahulu sangat menganjurkan untuk senantiasa mengenang wajah Syekhnya sebagai alat untuk mempermudah dzikir (ingat) kepada Allah SWT, dan yang demikian itu akan membuat dirinya tenggelam dalam lautan mahabbah dzikir-Nya.

Berkata Syekh Mushthafa Al-Bakri Rahimahullaahu Ta’ala:

“Dan di antara apa yang diwajibkan atas seorang murid adalah rabithah hatinya dengan Gurunya dan maknanya bahwa murid senantiasa mengekalkan atas penyaksian akan rupa Syekhnya. Inilah merupakan syarat yang dianjurkan bagi kaum Shufi yang mewariskan kepada maqam makrifat yang tinggi”. (Hidayatus Salikin)

(Dikutip dari Buku ‘DZIKIR QUR’ANI, mengingat Allah sesuai dengan fitrah manusia’)

Khamis, 2 Februari 2012

Hormati Tok Guru / Ulama 1 of 2 - Ustaz Kazim Elias



Tempat: Surau Al-Muttaqin, Ulu Klang Huraian Kitab BAHRU AL-MADZI" Jilid 19