Khamis, 11 November 2021
Isnin, 8 November 2021
Ucapan Penggulungan Muktamar Tahunan PAS Kali Ke-67 oleh YB Ahmad Fadhli Shaari
"ISLAM MENYATUKAN UMMAH"
Sabtu, 6 November 2021
"ISLAM MENYATUKAN UMMAH"
Kaedah-kaedah penting untuk seorang muslim dalam menghadapi fitnah
1. Jika timbul fitnah, maka hendaklah hadapi dengan sikap hati-hati, tidak gegabah dan penuh kesabaran.
Sabtu, 9 Oktober 2021
Perangai Keji Mengaibkan Orang Lain dan Diri Sendiri
Rabu, 6 Oktober 2021
Rabu, 8 September 2021
Al-Qur’an melarang menjadikan orang kafir sebagai Pemimpin
QS. 3. Aali ‘Imraan : 28.
“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu).”
QS. 4. An-Nisaa’ : 144.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) ?”
QS. 5. Al-Maa-idah : 57.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi PEMIMPINMU, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.”
2. Al-Qur’an melarang menjadikan orang kafir sebagai Pemimpin walau Kerabat sendiri :
QS. 9. At-Taubah : 23.
“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan BAPAK-BAPAK dan SAUDARA-SAUDARAMU menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan, dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
QS. 58. Al-Mujaadilah : 22.
“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekali pun orang-orang itu BAPAK-BAPAK, atau ANAK-ANAK atau SAUDARA-SAUDARA atau pun KELUARGA mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada- Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.”
3. Al-Qur’an melarang menjadikan orang kafir sebagai teman setia
QS. 3. Aali ‘Imraan : 118.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi TEMAN KEPERCAYAANMU orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.”
QS. 9. At-Taubah : 16.
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi TEMAN SETIA selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman ? Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
4. Al-Qur’an melarang saling tolong dengan kafir yang akan merugikan umat Islam
QS. 28. Al-Qashash : 86.
“Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al-Quran diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu menjadi PENOLONG bagi orang-orang kafir.”
QS. 60. Al-Mumtahanah : 13.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan PENOLONGMU kaum yang dimurkai Allah. Sesungguhnya mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa.”
5. Al-Qur’an melarang mentaati orang kafir untuk menguasai muslim
QS. 3. Aali ‘Imraan : 149-150.
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu MENTAATI orang-orang yang KAFIR itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi. Tetapi (ikutilah Allah), Allah lah Pelindungmu, dan Dialah sebaik-baik Penolong.”
6. Al-Qur’an melarang beri peluang kepada orang kafir sehingga menguasai muslim
QS. 4. An-Nisaa’ : 141.
“…… dan Allah sekali-kali tidak akan MEMBERI JALAN kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.”
7. Al-Qur’an memvonis munafiq kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin QS. 4. An-Nisaa’ : 138-139
Kabarkanlah kepada orang-orang MUNAFIQ bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih. (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.”
8. Al-Qur’an memvonis ZALIM kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin
QS. 5. Al-Maa-idah : 51.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang ZALIM.”
9. Al-Qur’an memvonis fasiq kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin
QS. 5. Al-Maa-idah : 80-81.
“Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang FASIQ.”
10. Al-Qur’an memvonis sesat kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin
QS. 60. Al-Mumtahanah : 1.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah TERSESAT dari jalan yang lurus.”
11. Al-Qur’an mengancam azab bagi yang jadikan kafir sbg Pemimpin / Teman Setia
QS. 58. Al-Mujaadilah : 14-15.
“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman ? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui. Allah telah menyediakan bagi mereka AZAB yang sangat keras, sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.”
12. Al-Qur’an mengajarkan doa agar muslim tidak menjadi sasaran fitnah orang kafir
QS. 60. Al-Mumtahanah : 5.
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (SASARAN) FITNAH bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
RESIKO MANUSIA YANG MENGINGKARI AL QUR’AN
Barangsiapa berpaling daripada Al Qur’an maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat, (QS. 20:100)
Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. 20:124)
Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” (QS. 20:125)
Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan”. (QS. 20:126)
Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal. (QS. 20:127)
Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. “.(QS. 2:39)
Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah (Al Qur’an) Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka dan bagi mereka azab yang pedih. (QS.16:104)
Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur’an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. (QS.43:36)
Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. (QS.43:37)
Hakekat Kesombongan
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim no. 91)
Selasa, 31 Ogos 2021
Rasulullah SAW wajib diikuti
SETIAP penganut Islam bukan sahaja berikrar menerima kerasulan Baginda, bahkan wajib menjadikan Baginda teladan bagi hamba Allah yang berwawasan dunia sehingga akhirat. Firman Allah:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ (الأحزاب 21).
“Sesungguhnya adalah menjadi kewajipan kamu, menjadikan pada diri Rasulullah S.A.W ikutan yang terbaik kepada sesiapa yang mengharapkan keredhaan Allah dan keselamatan di hari Akhirat” (Al Ahzab:21)
Firman Allah dengan perintah dan amaran:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (7:الحشر).
“Apa-apa yang di bawa oleh Rasulullah S.A.W ambillah dan apa-apa yang dilarangnya tinggalkanlah dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah itu sangat keras balasannya.”(Al Hasyr: 7)
Muhammad S.A.W adalah Rasul terakhir sebelum ditamatkan ajal dunia. Semua para Rasul itu pilihan Allah yang menjadi contoh pelaksanaan hikmah kejadian makhluk manusia di alam bumi dengan sifat kejadian yang istimewa berfitrahkan jasad, akal, roh, kedirian, berkeluarga dan bermasyarakat. Berbeza dengan makhluk yang lain.
Peranan manusia ialah beribadah (memperhambakan diri kepada Allah) dan berkhilafah (mentadbir alam bumi dengan petunjuk Allah daripada Islam) menunaikan amanah (pelaksanaan Syariat Allah) Yang Maha Adil kepada makhluknya. Konsep ini hanya terkandung dalam ajaran Islam yang sempurna dan lengkap melalui sebahagian prinsip yang tetap dan sebahagian yang boleh berubah serta berbeza. Kesempurnaan ini tidak mampu dicipta oleh akal dan pengalaman manusia sahaja tanpa hidayah (petunjuk) daripada Allah pencipta alam.
Bagi Rasul akhir zaman dikurniakan Al-Quran yang diwahyukan menjadi mukjizat ilmu, berbeza dengan mukjizat para Rasul terdahulu. Tugas Rasul akhir zaman ini adalah kepada seluruh manusia di semua benua dan sepanjang zaman. Pelaksanaannya pula ditafsirkan oleh Rasulullah S.A.W dalam segala aspek, merangkumi Iman, Islam dan Ihsan. Bermula dengan tarbiyah jati diri dan keluarga serta persaudaraan kemanusiaan keseluruhannya, sehinggalah menegakkan masyarakat madani di bawah negara masyarakat majmuk. Ini dilaksanakan oleh Baginda setelah melakukan Hijrah ke Yathrib yang ditukar namanya kepada Madinah, sinonim dengan perkataan Madani dan Al-Din yang sempurna itu.
Rasulullah S.A.W berdakwah secara langsung kepada semua mereka yang ada di sekeliling Baginda, menghantar perutusan kepada raja-raja dan pemimpin dan mengarahkan kalangan umatnya yang meneruskan dakwah supaya bergerak ke seluruh pelosok dunia.
Negara Islam Madinah yang berkonsepkan Islam yang berkuasa memerintah dengan menerima kewujudan masyarakat majmuk berbagai bangsa dan agama, termasuk kalangan bukan Islam. Adapun kalangan yang menolaknya diterima tanpa permusuhan dan yang bermusuh pula dihadapi dengan adil dan berperikemanusiaan.
Rasulullah S.A.W menolak segala tawaran ketika masih berada di Mekah, tawaran ditabal menjadi raja, dilantik menjadi ketua yang diberi kekayaan melimpah ruah. Ini kerana bercanggah dengan Islam, kerana semua tawaran itu adalah ciptaan manusia tanpa hidayah daripada Allah.
Islam yang dilaksanakan sepenuhnya tidak akan mampu dihujah oleh penentangnya. Allah menegaskan dengan firman ketika Haji Wada’ (selamat tinggal) yang selepasnya diwafatkan Rasulullah S.A.W.
الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا (3) المائدة
“Pada hari ini orang kafir (yang menentang Islam itu) telah berputus asa daripada agama kamu. Maka jangan kamu takut menghadapi mereka, takutlah kepada Ku. Pada hari ini aku telah sempurnakan agama kamu, Aku juga telah menyempurnakan nikmat Ku (Islam) kepada kamu dan Aku telah redha hanya Islam menjadi ajaran anutan kamu.”(Al Maidah:3)
Generasi awal yang membawa ajaran Islam selepas kewafatan Rasulullah S.A.W telah berjaya menumbangkan kuasa besar yang zalim, apabila rakyat seluruh jajahan takluknya menerima pemerintahan Islam tanpa paksaan. Keadaan ini dapat disaksikan di kawasan yang dikuasai pengaruh Islam di sepanjang jalan sutera di Asia Tengah, seterusnya Asia Tenggara, sehingga ke Afrika dan sebahagian Eropah. Dalam tempuh tidak sampai satu abad, para pendukung Islam itu mencapai kemenangan yang dijanjikan oleh Allah:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (55)النور .
“Allah telah berjanji kepada mereka yang beriman dan mengerjakan amal soleh bahawa Dia akan jadikan mereka kalangan yang memerintah di bumi sebagaimana pernah dikurniakan kepada mereka yang sepertinya di zaman dahulu. Di kala diberikan Islam agama yang diredhai-Nya itu berkuasa memerintah, lalu bertukarlah keadaan daripada ketakutan menjadi aman, dalam keadaan mereka semua beribadah kepada Ku (Allah) dan tidak menyekutui Aku (Allah) dengan sesuatu yang lain. Dan sesiapa yang kufur selepas itu, nescaya mereka menjadi orang-orang yang fasik.”(An Nur: 55)
Generasi awal yang melangsungkan Islam selepas wafatnya Rasulullah S.A.W memerintah negara berteraskan empat perkara penting daripada ajaran Islam yang diwarisinya iaitu Beriman Kepada Allah, Beriman Kepada Hari Akhirat, Konsep Taqwa dan Konsep Rahmat.
Beriman kepada Allah menjadikan Ketua Negara tidak boleh mengatasi hukum Syariat atau undang-undang negara, semuanya dikawal sempadan hukum Syariat. Maka tidak ada sesiapa yang bebas daripada tindakan undang-undang sekiranya melakukan kesalahan. Setiap Ketua Negara samada bernama Khalifah atau Raja dan sebagainya tidak ada kekebalan di bawah Syariat Allah.
Beriman kepada Hari Akhirat, menjadikan seseorang itu tidak terlepas daripada balasan selepas meninggal alam dunia, dimana hukumannya lebih keras sekiranya menipu atau menyalahgunakan kuasanya di alam dunia.
Konsep taqwa pula menjadikan ketaatan kepada Allah adalah kedudukan martabat manusia, bukannya keturunan, warna kulit, pangkat dan harta.
Adapun rahmat kepada seluruh alam itu mencipta keadilan untuk semua, termasuk terhadap penganut bukan Islam dan pihak musuh. Juga mencipta hak asasi manusia yang sebenarnya mengikut sifat kemanusiaannya yang berbeza dengan binatang dan makhluk lain yang ada haknya juga.
Islam yang berpandukan petunjuk Allah, menghormati akal manusia dan pengalamannya mengikut bangsa dan tempat masing-masing. Ini menjadikan Islam menerima segala yang baik dari seluruh pelosok dunia daripada tamadun kebendaannya yang bermanfaat dan menolak segala keburukan yang dinamakan jahiliyyah, temasuk jahiliyah Arab di Mekah bangsa Rasulullah S.A.W sendiri. Maka terciptalah Tamadun Islam yang murni berasaskan ilmu wahyu daripada Allah, kemajuan sains teknologi ciptaan akal serta ilmu dan pengalaman manusia yang berpandukan Hidayah Wahyu.
Allah menghuraikan ciri -ciri Islam kepada mereka yang berkuasa memerintah negara dengan firman-Nya:
الَّذِينَ إِن مَّكَّنَّاهُمْ فِي الأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الأُمُورِ (41)الحج.
“Mereka (kumpulan Islam) yang kami berikan kepada mereka kekuasaan memerintah di bumi, mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat dan mereka menyuruh berbuat kebaikan dan mereka mencegah kemungkaran. Ingatlah! Bagi Allah jua kesudahan segala urusan.”(Al Hajj: 41)
Ciri-ciri ini merangkumi hubungan diri dengan Allah (solat), ekonomi yang adil (zakat), dakwah dan kehebatan undang-undang (amar maaruf dan nahi mungkar) dan berwawasan akhirat (balasan Allah).
Islam tidak memisahkan ibadat, politik, ekonomi dan dakwah. Di mana urusannya akan dihisab apabila kembali kepada Allah setelah berlakunya hari Kiamat. Ini menjadikan seluruh kegiatan manusia berkait dengan Islam dan perhitungan Allah.
Adapun kejatuhan umat Islam selepasnya kerana leka dengan kemajuan dunia sahaja sehingga meninggalkan petunjuk Islam, sehingga memutuskan hubungan segala cara kehidupan dengan petunjuk Allah.
Adapun Tamadun Barat yang menciplak Tamadun Islam pula, sedang megalami kemusnahannya kerana menolak Hidayah Allah daripada ajaran Islam yang sempurna.
Kini, Tamadun Barat tanpa iman dan budiman sedang memusnahkan diri manusia sejagat dengan senjata pemusnah, politik, ekonomi, kezaliman dan penjajahan, serta pembangunan kebendaan yang merosakkan diri, alam sekitar dan seluruh kehidupan alam dunia. Berbeza dengan kedatangan Islam menjadi penyelamat bukannya penjajah.
Firman Allah:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (41) قُلْ سِيرُوا فِي الأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِن قَبْلُ كَانَ أَكْثَرُهُم مُّشْرِكِينَ (42) فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ الْقَيِّمِ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ يَوْمٌ لاَّ مَرَدَّ لَهُ مِنَ اللَّهِ يَوْمَئِذٍ يَصَّدَّعُونَ (43) الروم.
“Telah zahirlah kerosakan di darat dan lautan dengan sebab apa yang dilakukan oleh tangan-tangan manusia, supaya dirasakan sebahagian daripada perkara yang dilakukan oleh mereka, mudah-mudahan mereka kembali (ke pangkal jalan setelah bersalah). Katakanlah! Berjalanlah kamu di muka bumi, lihatlah bagaimana akibat menimpa golongan yang terdahulu. Sebenarnya kebanyakan mereka melakukan dosa syirik. Tegakkanlah wajahmu beristiqamah bersama ajaran yang betul (Islam), sebelum datangnya hari yang tidak dapat ditolak berlakunya. Pada hari mereka diasingkan (sebahagianya ke syurga dan sebahagian lagi ke neraka).”(Ar Rum: 41-43)
Terserlah kebenaran firman Allah dengan tersebarnya penyakit diri, keluarga, masyarakat dan kemusnahan alam sekitar kerana melakukan perkara yang haram, menolak yang wajib, yang halal dan diharuskan, serta mencipta undang-undang sendiri dalam perkara yang tidak diizin oleh Allah Yang Maha Penyayang dan Maha Adil lagi Maha Bijaksana. Bacalah Firman Allah:
أَمْ لَهُمْ شُرَكَاء شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّهُ وَلَوْلا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (21)الشورى.
“Apakah mereka punya sekutu-sekutu (tuhan-tuhan selain Allah)? Yang mencipta hukum syariat sendiri dalam urusan agama dan cara hidup tanpa keizinan Allah? Kalaulah tidak kerana firman Allah menjanjikan adanya keputusan (di hari kiamat) nescaya mereka telah dijatuhkan hukuman (di dunia ini). Dan disediakan kepada orang-orang yang zalim itu azab neraka yang menyakitkan.”(As Syura: 21)
Jika dikaji betapa ajaran selain daripada Islam itu tidak memenuhi fitrah kemanusiaan di mana ia tidak mampu untuk menjalinkan hubungan penting yang sekali-kali tidak boleh dipisahkan daripada perkara kehidupan manusia dan agamanya.
Ada ajaran yang mementingkan jasad tanpa roh, atau roh tanpa jasad. Ada yang mementingkan hak kebebasan individu tanpa mengambil kira hak masyarakat, atau menjaga kepentingan masyarakat sehingga mengorbankan hak individu, berkeluarga dan berbangsa. Begitulah seterusnya menggunakan akal dan ilmu manusia sahaja tanpa Hidayah Wahyu yang dibawa para Rasul, sehingga berlakunya kepincangan dan kerosakan dalam kehidupan manusia dan alam sekitarnya.
Akhirnya, Pujangga Islam Mustafa Lutfi Manfaluti pernah menegaskan: “Kita tidak perlu kepada teori ahli falsafah dan pendeta Greece, Rom dan Parsi atau pemikir bukan Islam daripada Timur dan Barat, kerana kita punya Rasulullah S.A.W yang menjadi teladan terbaik.”
“Inilah Penyelesaian Kita”
ABDUL HADI AWANG
Presiden PAS
