Isnin, 31 Ogos 2015

Jumaat, 28 Ogos 2015

hukum Bersengkongkol Dengan Pemimpin Yang Zalim


Syaikul Islam Imam al Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin pernah memberikan nasihat tentang cara berinteraksi dengan pemimpin yang zalim.

"Jangan bergaul dengan para pemimpin dan pembesar yang zalim, bahkan jangan menemuinya. Berjumpa dan bergaul dengan mereka hanya membawa petaka. Dan sekiranya kamu terpaksa bertemu, jangan memuji-muji mereka, kerana Allah sangat murka ketika orang fasik dan zalim dipuji. Dan barangsiapa mendoakan mereka panjang umur, maka sesungguhnya dia suka agar Allah didurhakai di muka bumi. "

Tidak hanya tentang pertemuan, bahkan Imam al Ghazail mengeluarkan larangan menerima pemberian dari penguasa yang zalim.

"Jangan menerima apa-apa pemberian dari golongan pembesar, meski kamu tahu pemberian itu berpunca dari yang halal. Sebab, sikap tamak mereka akan merosakkan agama. Pemberian itu akan menimbulkan rasa simpati (jika diterima). Lalu kamu akan mula menjaga kepentingannya mereka dan berdiam diri atas kezaliman yang mereka lakukan. Dan itu semua telah merosakkan agama. "

Peringatan susulan juga diungkapkan. Sekecil-kecilnya mudharat ketika seseorang menerima hadiah dari penguasa adalah, akan muncul rasa saya terhadap mereka. "Seterusnya kami akan mendoakan mereka kekal dan lama di atas kedudukannya. Mengharapkan orang yang zalim lama berkuasa sama seperti mengharapkan kezaliman berpanjangan atas hamba-hamba Allah dan alam akan musnah binasa. "

Jika sudah demikian, Imam al Ghazali mengajukan soalan yang luar biasa menyeramkan. "Apalagi yang lebih buruk dibanding dengan kerosakan agama?"

Setiap penguasa, selalu mempunyai kemungkinan untuk berbuat zalim, kecuali penguasa yang beriman kepada Allah, berteman dan dikeliling orang-orang yang beriman pula. Mereka saling mengingatkan dan memberi nasihat, hanya demi kebaikan, dan bukan untuk kepentingan.

Tapi ketika seorang penguasa dikelilingi orang-orang yang busuk dan jahat, maka kezaliman hanya tinggal menunggu masa untuk dirasakan. Dan ketika semua itu terjadi, kerosakan akan bermaharajalela, kehancuran di depan mata, menggelincirkan manusia dari jalan kebenaran dan menjadikan kesesatan sebagai panutan. Kerana itu, pemimpin yang zalim masuk menjadi salah satu golongan yang paling dibenci oleh Allah SWT.

Rasulullah bersabda, "Ada empat golongan yang paling Allah benci. Peniaga yang banyak bersumpah, orang fakir yang sombong, orang tua yang berzina, dan seorang pemimpin (penguasa) yang zalim." (HR. An-Nasai)

Bahkan, Rasulullah memberikan penegasan sanksi atas para pemimpin yang zalim. Dalam Shahih Bukhari Muslim disebutkan, Rasulullah bersabda, "Tidaklah ada seseorang hamba yang Allah beri kepercayaan untuk memimpin, kemudian pada saat matinya dia berada dalam (keadaan) melakukan penipuan terhadap rakyatnya, kecuali akan diharamkan atasnya untuk masuk syurga."

Alangkah ruginya para pemimpin seperti ini. Dan alangkah malangnya umat dan rakyat yang mendapat pemimpin seperti ini. Ketika seorang pemimpin zalim berkuasa, maka yang bertanggung jawab bukan hanya para pelaku kekuasaan; raja, maharaja, presiden bahkan gabenor dan kepala desa. Umat ​​dan rakyat pun akan bertanggung jawab memikul beban penguasa yang zalim.

Ibnu Taimiyyah dalam karyanya Siyasah Syari'iyah mengutip sebuah hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. "Barangsiapa yang mengangkat seseorang (pemimpin) untuk mengurusi perkara kaum Muslimin sementara dia mendapati ada seseorang yang lebih layak daripada orang yang diangkatnya, maka dia telah berkhianat pada Allah SWT dan Rasul-Nya."

Dalam hadis lain yang diriwayatkan dari sahabat Jabir ra, Rasulullah juga menegaskan bahawa mereka yeng memilih pemimpin dengan pamrih duniawi maka Allah tidak akan menyapa orang-orang seperti ini di akhirat nanti.

"Ada tiga orang yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak dilihat dan tidak akan disucikan, dan bagi mereka azab yang pedih. Mereka adalah; Orang yang mempunyai kelebihan air di padang pasir namun tidak mau memberikannya kepada orang yang berada di tengah perjalanan; orang yang menawarkan barang dagangan kepada orang lain setelah Ashar, lalu ia bersumpah dengan nama Allah bahawa ia telah membelinya sekian dan sekian sehingga lawannya mempercayainya, padahal sebenarnya tidaklah demikian; dan seseorang yang mengikrarkan kepatuhannya kecuali untuk kepentingan dunia (harta), bila sang pemimpin memberinya ia akan patuh dan bila tidak memberinya ia tidak akan mematuhinya. "

Jauh-jauh hari, sesungguhnya Allah telah melakukan perlindungan agar kita tidak mempunyai kecenderungan hati pada orang-orang yang zalim. Sebab, kecenderungan itu akan mengantarkan kita pada azab yang pedih.

"Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan." (QS Hud [11]: 113)

Sungguh, seorang pemimpin sejatinya adalah sebuah perisai yang melindungi rakyatnya. Seperti sabda Rasulullah, "Sesungguhnya seorang pemimpin itu merupakan perisai, rakyat akan berperang di belakang serta berlindung dengannya. Bila ia memerintah untuk takwa kepada Allah azza wa jalla serta bertindak adil, maka ia akan memperoleh pahala. Namun bila ia memerintah dengan selainnya, maka ia akan mendapatkan akibatnya. "(HR Muslim)

Pemimpin dan yang dipimpin adalah mata rantai yang tidak boleh dipisahkan. Pemimpin lahir dari dan terpilih oleh orang-orang yang akan dipimpin. Ketika seorang pemimpin bersalah, maka bersalah pula mereka yang memilihnya. Ketika seorang pemimpin berbuat zalim, maka mereka yang memilih juga akan menanggung akibatnya.

Sungguh bukan pekerjaan ringan untuk menjaga dan menghalang-halangi para pemimpin agar tidak berbuat zalim. Orang-orang yang dipimpin harus menjaga para pemimpin dengan cara memastikan bahawa ketua negara melakukan kewajiban-kewajiban besarnya. Kewajiban pemimpin negara adalah menegakkan keadilan, memberantas kezaliman, melaksanakan undang-undang syariat, dan bahkan kewajiban personal untuk tidak melakukan maksiat.

Umar bin Khattab ra lebih tegas lagi mengatakan, tugas seorang pemimpin adalah menjaga agama. "Pemimpin di angkat untuk menegakkan agama Allah," kata Umar bin Khattab.

Jika kita mampu menjaga para pemimpin yang terpilih, menjadi para pemimpin yang menegakkan agama Allah, menjaga akidah umatnya, memberantas kezaliman dan melaksanakan syariat, sungguh negeri ini ibarat potongan syurga di dunia. Apalagi Rasulullah bersabda bahawa menasihati para pemimpin untuk taat pada Allah, adalah salah satu perilaku yang mengundang ridha-Nya. "Sesungguhnya Allah redha terhadap tiga perkara dan membenci tiga perkara. Dia rela apabila kalian menyembah-Nya, berpegang tegug pada tali-Nya dan menasihati para pemimpin. Dan Allah membenci pembicaraan sia-sia, menghambur-hamburkan harta dan banyak bertanya. "

Ada beberapa perkara yang membuat pemimpin tergelincir pada perilaku zalim. Yang paling berbahaya adalah, ketika seorang pemimpin menuruti hawa nafsu dan mengejar kesenangan dunia. Kemudian, kolusi dan nepotisme yang tidak sesuai dengan peraturan kebenaran. Para penasihat yang buruk dan teman yang jahil, juga mampu menggelincirkan para pemimpin. Jika orang-orang yang lemah dan kaum kuffar dijadikan sebagai pembantu, kehancuran tinggal menunggu waktu. Rela dan mudah terpengaruh pada tekanan antarabangsa, juga menjadi penyebab pemimpin berlaku zalim.

Tugas umat, belum lagi selesai. Setelah terpilih, para pemimpin harus terjaga. Jika tidak, kita juga yang akan merasakan azab dan akibatnya. Sebab, keadilan seorang pemimpin adalah penawar dahaga bagi umatnya dan lebih utama dari ibadah ritual yang dilakukannya. "Keadilan seorang pemimpin walaupun sesaat jauh lebih baik daripada tujuh puluh tahun," demikian sabda Rasulullah. (HR Thabrani)

Tapi jika yang terjadi justru sebaliknya, maka sungguh keadaan yang akan menimpa. "Yang aku takuti pada umatku adalah pemimpin-pemimpin yang menyesatkan," sabda Rasulullah. (HR Dawud)

Jika pemimpin-pemimpin sesat telah memimpin, maka manusia akan berada pada penyelasan yang tiada tara seperti yang digambarkan Allah dalam firman-Nya. "Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata:" Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul. " (QS al Ahzab [33]: 66)

Dan ketika kita sampai pada tahap itu, penyesalan paling besar pun tidak akan bermakna. Semoga kita adalah umat yang terbaik, dengan pemimpin-pemimpin yang soleh dan muslih. Bukan sebaliknya, umat yang dipimpin para penguasa yang zalim dan bathil. Semoga pemimpin kita tidak seperti pepatah, tongkat yang membawa rebah!

Sabtu, 22 Ogos 2015

Perancangan Musuh Islam Untuk Melemahkan Islam

Rancangan Yahudi Melemahkan Tasawwuf dan Tarekat lantas Membawa Kepada Kemusnahan Islam-

Pada perang salib dahulu, mereka musuh-musuh Islam memperoleh kekalahan yang cukup besar, dengan Kehebatan Salahuddin Al-Ayubi dan tentera-tenteranya yang menimbulkan rasa gerun pihak Musuh.

Oleh kerana kekalahan yang besar itu, Maka mereka orang-orang Yahudi pun berkumpul bermensyuarat untuk mengkaji apakah yang menyebabkan Ummat Islam ketika itu kuat. Setelah perbincangan demi perbincangan dilakukan, kajian demi kajian dijalankan, Maka mereka sepakat untuk memisahkan 4 perkara daripada diri Ummat Islam supaya kelak Ummat Islam akan berada dibawah kaki mereka.

Yang pertamanya mereka memutuskan untuk memisahkan Dzikir daripada Ummat Islam supaya Ummat Islam hari ini berjuang tanpa dzikir dan sudah semestinya perkara yang tidak disertai dengan dzikir itu adalah perkara yang sia-sia.

Keduanya mereka memutuskan untuk memisahkan Ilmu Tassawuf/ Tarekat daripada diri Ummat Islam kerana mereka mendapati Raja dan tentera-tentera yang hebat-hebat daripada kalangan Ummat Islam dahulu semuanya adalah daripada golongan Sufi/Tarekat, antaranya Sultan Muhammad Al-Fateh yang mengambil tarekat Naqshbandi daripada gurunya Shaykh Shamsuddin Al-Wali, Salahuddin Al-Ayubi dan banyak lagi pahlawan-pahlawan Islam yang merupakan Ahli Sufi.

Ketiganya, mereka memutuskan untuk memisahkan Qasidah-qasidah/ Syair-syair yang memuji Allah dan Baginda Rasulullah saw daripada diri ummat Islam. Hal ini kerana tentera-tentera Islam dahulu sebelum pergi berperang mereka akan mendendangkan qasidah-qasidah serta syair-syair yang yang menaut hati mereka kepada Allah, menaut hati mereka kepada Rasulullah saw, dan membangkit semangat Juang didalam diri mereka yang menyebabkan mereka menjadi seperti Singa yang Gagah apabila dimedan perang.

Keempatnya pula mereka memutuskan untuk memisahkan Rasulullah saw daripada diri Ummat Islam, hal ini kerana kesemua pejuang-pejuang Islam dahulu itu berjuang kerana Rasulullah saw, bahkan tidak pernah walau sedetik sekalipun mereka berpisah daripada Rasulullah saw(melupakan Rasulullah saw). Dengan memisahkan Rasulullah saw daripada diri Ummat Islam maka mereka akan memperoleh kemenangan yang paling besar.

Umumnya diketahui bahawa Rasulullah saw itu merupakan Qudwatul Hasanah(Contoh yang agung lagi terbaik). Apabila terpisahnya Rasulullah saw daripada diri Ummat Islam maka Ummat Islam akan menjadi terhuyung-hayang tanpa arah tuju, tanpa contoh atau ikutan. Hal ini telah terbukti dizaman ini, Ummat Islam hari ini lebih mencontohi tokoh-tokoh barat daripada Baginda Rasulullah saw, Ummat Islam lebih mencontohi artis-artis, pelakon-pelakon, dan penyanyi-penyanyi daripada mencontohi Baginda Rasulullah saw.

Maka sekarang telah berjayalah keempat-empat perancangan mereka ini untuk meletakkan Ummat Islam dibawah telapak kaki mereka, cuba lihat di Institusi pengajian seperti sekolah-sekolah atau universiti-universiti yang ada kini, Fakulti Pengajian Usuluddin ada, Fakulti Pengajian Syariah ada, tapi Fakulti Pengajian Tasawuf tiada. Kemanakah hilangnya? Sedangkan Iman, Islam dan Ihsan itu adalah perkara yang tidak dapat dipisahkan.

Kini telah terlaksana keempat-empat perkara ini, dan dan Ummat Islam hari ini tersangat-sangatlah lemah.

` TUAN GURU USTAZ MUSTADA KAMAL.. BATU BUROK TERENGGANU.

Jumaat, 21 Ogos 2015

Hendaklah kamu berjemaah kerana sesungguhnya jemaah itu adalah rahmat dan perpecahan itu merupakan azab.



1. PENGERTIAN JEMAAH

Jamaah dari segi Bahasa berasal dari Bahasa Arab bererti bilangan yang ramai dari manusia tertentu yang berkumpul di atas satu tujuan.

Dari segi syara’ berdasarkan al-Qur’an dan AsSunnah, Jamaah Islamiyyah ialah satu jamaah (perkumpulan umat Islam) yang dibentuk oleh ulama’ yang terdiri daripada ahli al-Halli wa al-aqdi yang berhimpun di atas mandat seorang khalifah (Amir, imam atau ketua daripada kalangan orang Islam ) bagi seluruh umat Islam. Ia hendaklah dibina di atas kesepakatan dalam urusan Islam yang dipimpinoleh ahli-ahli Islam dan jamaah ulama’ mujtahidin dengan seorang ketua atau amir. Pendapat ini mengambil kira tentang kewibawaan ulama’ dalam mengawasi dan menasihatinya supaya tidak terkeluar dari landasan syariat Islam.

2. KEPERLUAN KEPADA SEBUAH JAMAAH ISLAMIYYAH

a) Jamaah Islam merupakan satu institusi yang bergerak memperjuangkan Islam dari sebarang ancaman musuh-musuh Islam. Oleh itu jemaah diperlukan untuk membina individu, keluarga, masyarakat, pemerintahan dan perlaksanaan undang-undang Islam.

b) Umat Islam yang berorganisasi dengan jemaah Islam yang benar-benar mempoerjuangkan Islam tidak akan dapat disesatkan oleh musuh kerana mereka sentiasa dilindungi oleh ajaran Al-Qur’an dan Hadis Nabi saw. Nabi saw bersabda:-

“Barangsiapa yang memecahbelahkan, maka ia bukan dari kalangan kami. Rahmat Allah berada bersama-sama dengan jemaah, dan sesungguhnya serigala hanya memakan kambing yang menyendiri”

Sabda Nabi saw lagi:

“Hendaklah kamu berjemaah kerana sesungguhnya jemaah itu adalah rahmat dan perpecahan itu merupakan azab”

c) Jemaah Islam merupakan satu tempat melatih kita berkepimpinan dengan cara memberi wala’ dan baiah kepada seseorang ketua pimpinan. Sebagaimana Sabda Nabi saw:-

“Apabila berangkat tiga orang dalam musafir, maka salah seorang daripada mereka hendaklah menjadi ketua”

d) Berjemaah merupakan jalan pelaksanaan cita-cita Islam untuk memakmurkan bumi Allah ini, berlandaskan kaedah usul fiqh.

“Tidak sempurna suatu kewajipan melainkan dengannya maka ia adalah wajib.”

e) Berjemaah boleh menambahkan keutuhan hubungan antara mukmin dengan mukmin yang lain. Mereka juga saling mempercayai, menyayangi serta bekerjasama dalam menegakkan kebenaran dan menghapuskan kemungkaran. Firman Allah swt:-

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan setengahnya menjadi penolong bagi setengahnya yang lain, mereka menyuruh berbuat kebaikan dan melarang daripada berbuat kejahatan, dan mereka mendirikan solat dan mengeleluarkan zakat, serta taat kepada Allah dan RasulNya. Mereka itu diberi rahmat oleh Allah” (Surah At Taubah : 71)

f) Bagi orang yang berada dalam jemaah Islam, mereka adalah syuhada’ dan pejuang Islam yang sanggup bekerja dan beramal untuk keredhaan Allah.

g) Beriltizam dengan kepatuhan, ketaatan dan disiplin jemaah. Setiap anggota jamaah mestilah beriltizam dengan memberi sepenuh keyakinan, ketaatan dan komitmen dengannya. Kesetiaan dan kepatuhan ini terpancar dari dalam diri ahli-ahli sendiri dengan kerelaan dan kecintaan kepada jamaah.

h) Jemaah Islam sebagai pembentuk masyarakat berakhlak. Sesungguhnya kekuatan sesebuah jamaah bukan hanya bergantung kepada pencapaian dalam bidang ekonomi, politik, teknologi, perhubungan dan sebagainya tetapi juga kepada kekentalan semangat beragaman dan akhlak mulia. Seringkali organisasi yang tidak berasaskan keredhaan Allah mengalami kehancuran akibat keruntuhan moral ahli-ahlinya seperti pecah amanah, rasuah, penyelewengan dan sebagainya. Jamaah Islam adalah pemangkin masyarakat kea rah melahirkan masyarakat yang bermoral.

i) Jamaah sebagai pelantar masa depan ummah. Masyarakat Islam kini menghadapi pelbagai masalah sama ada dari dalaman atau luaran, ditambah pula dengan kemunduran berbanding dengan Negara-negara lain. Jamaah Islam perlu menyatukan semula umat Islam dan membuat perancangan mengenai arah tuju dan corak pentadbiran Islam pada masa depan, umat Islam bukan sahaja ditelan arus kemajuan tetapi menjadi mangsa kemusnahan dari musuh-musuh Islam.

3. DALIL DAN KEWAJIPAN BERJEMAAH

Jamaah Islam adalah untuk merealisasikan segala tuntutan Islam yang diwajibkan. Tujuannya adalah untuk menegakkan daulah Islamiyyah. Adalahmustahil untuk laksanakan hasrat itu dengan hanya usaha perseorangan tanpa usaha jamaie yang tersusun rapi.

Oleh kerana merealisasikan tujuan yang besar ini merupakan satu kewajipan yang diwajibkan oleh Islam ke atas umat Islam dan tujuan ini hanya dapat dilaksanakan dengan adanya jamaah dan amal jamaie. Keperluan kepada sebuah jamaah Islamiyyah dan amal jamaie adalah berdasarkan kepada hujah-hujah berikut:

a) Dalil daripada al-Qur’an

Firman Allah swt:

“Dan hendaklah ada dikalangan kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan dan menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah yang mungkar, dan merekalh orang yang berjaya” (Ali Imran ; 104)

Perkataan ummah di dalam ayat tersebut adalah bermaksud ‘toifah atau jamaah’. Jelas bahawa ianya bukan beerti individu-individu yang terpancar-pancar atau sekadar sekelompok manusia. Ummah disini bermaksud satu jemaah yang terdiri daripada individu yang bersatu dalam satu ikatan ukhwah atau wahdah yang padat, laksana organ-organ yang ada pada diri seseorang.

Firman Allah swt;

“Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia, kamu menyuruh orang berbuat baik dan melarang orang berbuat mungkar dan kamu beriman kepada Allah” (Ali Imran ayat 110)

“Sesungguhnya Allah suka kepada orang-orang yang berjihad dijalannya dalam barisan seolah-olah satu binaan yang tersusun kukuh” (As Saff ayat 4)

‘Satu binaan yang tersusun kukuh’ bermaksud satu organisasi yang luas diikat dengan kesatuan dan kekuatan, sebahagian memperteguhkan sebahagian yang lain dengan caranya yang tersendiri, dan seluruh organisasi itu umpama satu organ yang hidup dan lengkap.

b) Dalil daripada hadis Rasulullah saw:

“Hendaklah kamu berada dalam jamaah kerana sesungguhnya berjemaah itu rahmat sedang perpecahan itu adalah azab”

“Barangsiapa yang memecahbelahkan, maka ia bukan daripada kalangan kami. Rahmat Allah berada bersama-sama dengan jamaah, dan sesungguhnya serigala hanya memakan kambing yang menyendiri”

“Barangsiapa yang mati dalam keadaan memisahkan diri daripada jamaah kaum muslimin, maka beerti ia mati sebagai mati jahiliyyah”

Hujah berikutnya yang menekankan kepentingan amal jamaie’ adalah waqi’ atau realiti yang kita hadapi sekarang. Realiti memberikan pengajaran bahawa usaha berseorangan walaupun ikhlas sekalipun tidak dapat meninggalkan kesan yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang dimaksudkan. Allah menjadikan dunia ini berjalan diatas hukum sebab dan akibat. Dimana kelalaian dalam sesuatu perencanaan atau tindakan itu menjadi sebab sesuatu akibat buruk yang terjadi kepada kita.

Jika diperhatikan pada golongan yang menentang Islam, maka didapati mereka itu bekerja secara jamaah, parti dan kesatuan-kesatuan yang tersusun. Kerana itu tidak dapat diterima syara’ dan akal musuh-musuh ini dapat dihadapi dengan jayanya oleh usaha-usaha individu-individu yang terpancar-pancar.

FUNGSI DAN TANGGUNGJAWAB SEBUAH JAMAAH ISLAMIYYAH

1. Membentuk kesedaran dan penghayatan Islam terhadap masyarakat.

Jamaah Islamiyyah adalah berperanan untuk mewujudkan kesedaran masyarakat terhadap ubudiyyah kepada Allah. Kesedaran ini pula hendaklah diasaskan kepada hakikat bahawa Islam tidak dapat wujud bersama jahiliyyah. Perubahan yang dipimpin oleh jamaah Islam adalah satu perubahan yang menyeluruh. Perubahan ini bermula dengan memberi penjelasan kepada manusia berkenaan aqidah Islam yang kukuh supaya mereka dapat membezakan di antara hak dan batil.

2. Mentarbiyyah dan menyusun du’at di dalam sebuah gerakan untuk berperanan sebagai penggerak dakwah di dalam masyarakat.

Setiap usaha kea rah perubahan memerlukan penggerak. Penggerak ini perlu terlebih dahulu disediakan untuk memikul tugas kepimpinan da’wah dan risalah. Peranan ini hendaklah dilaksanakan oleh jamaah agar persediaan yang sepatutnya telah dilakukan sebelum ianya terus terjun ke kancah perjuangan yang lebih luas.

Kesedaran Islam yang disebarkan oleh jamaah Islam di dalam masyarakat semestinya dapat mendorong beberapa orang di kalangan masyarakat yang sedar bahawa mereka juga bertanggungjawab untuk terlibat dalam perjuangan Islam. Unsure-unsur inilah yang mesti dikumpulkan oleh jamaah Islamiyyah bagi menguatkan soffnya untuk melaksanakan tugas-tugas penyusunan tanzim dan penyebaran da’wah kepada masyarakat.

3. Mengepalai risalah perjuangan Islam dan berfungsi sebagai Negara Islam.

Jamaah Islamiyyah yang tegak di atas prinsip untuk menghancurkan taghut dan menegakkan aqidah dalam mengepalai risalah Islam yang syumul. Ia hendaklah benar-benar menonjolkan ciri-ciri Islam yang sepenuhnya dari segi aqidah, syariat, ibadah dan akhlak.

4. Menentang dan menghancurkan jahiliyyah dari akar umbinya hingga kepada seluruh manifestasinya.

Perubahan yang dilaksanakan oleh jamaah Islamiyyah adalah perubahan yang menyeluruh. Perubahan ini adalah yang dapat mewujudkan tuntutan asas terhadap penerimaan manusia dan masyarakatnya terhadap Islam. Tuntutan asas ini ditegaskan oleh al-Qur’an:

“Wahai orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh kamu yang nyata” (Surah Al Baqarah : 208)

5. Menegakkan Daulah Islamiyyah di atas keruntuhan jahiliyyah dan terus berjuang untuk berperanan sebagai pemimpin umat sejagat.

Jamaah Islam mestilah mencabut jahiliyyah ke akar umbinya sebelum menegakkan Daulah Islamiyyah. Daulah Islamiyyah mesti ditegakkan di atas keruntuhan jahiliyyah. Ini kerana selagi jahiliyyah mempunyai tapak dalam masyarakat, maka selagi itulah perubahan yang total tidak dapat diwujudkan oleh Jamaah Islam.

Tertegaknya Negara Islam beerti tugas-tugas da’wah dan jihad yang dahulunya tidak dapat dilaksanakan melalui kuasa pemerintahan dan perundangan kini dapat dilaksanakan melalui kuasa Negara. Tujuan Daulah Islamiyyah bukan hanya mewujudkan suasanan damai, melindungi keselamatan rakyat dan menentang pencerobohan musuh dari luar, tetapi juga untuk melaksanakan hokum-hukum Islam dalam segala urusan kenegaraan dan menyebarkan da’wah Islam di seluruh pelusuk Negara.

CIRI-CIRI JAMAAH ISLAM HAKIKI.

Di antara cirri-ciri yang ada pada sebuah jamaah Islamiyyah adalah:

1. Jamaah yang meyakini bahawa Islam adalah satu-satunya kekuatan yang dapat membangun semula ummah.

Jamaah ini dapat membebeaskan semula golongan mustad’afin (golongan yang lemah) dan menyelamatkan dunia dari kehuru-haraan dan kehancuran.

2. Jamaah yang lahir dari kesedaran sendiri.

Jamaah ini lahir daripada tuntutan al-Qur’an dan as-Sunnah tanpa dipengaruhi oleh mana-mana golongan sama ada timur ataupun barat. Firman Allah swt:

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan yang menyeru kepada kebajikan dan menyuruh berbuat segala perkara yang baik, serta melarang dari melakukan segala perbuatan yang salah. Dan mereka ialah orang-orang yang berjaya” (Surah Ali Imran : 104)

Sabda Nabi saw yang diriwayatkan dari Huzaifah Ibnu Yaman: “Wajiblah kamu bersama Jamaah Muslimin dan pimpinan mereka”

3. Jamaah yang meyakini akan kesejagatan Islam.

Kedatangan Islam ialah untuk memberi kebahagiaan kepada sekalian makhluk terutamanya terhadap manusia. Ianya tidak ditentukan hanya kepada bangsa Arab, Melayu, Turki dan bangsa-bangsa tertentu sahaj bahkan ianya untuk seluruh manusia.

4. Jamaah yang memperjuangkan Islam secara menyeluruh tidak kurang dan tidak melampau.

Firman Allah swt:

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu semua ke dalam agama Islam dan janganlah kamu menurut jejak langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh bagi kamu yang terang lagi nyata” ( Surah Al Baqarah: 207)

5. Jamaah yang mengutarakan kebenaran yang tunggal dalam sejarah perjuangan Islam.

Jamaah yang memperjuangkan apa yang diperjuangkan oleh ahli Sunnah Wal Jamaah. Ia berterus-terang dalam menyatakan kebenaran walaupun di saat orang lain membisu seribu bahasa. Meskipun mereka ditindas, namun Jamaah Islamiyyah tetap diteruskan dengan perjuangannya yang suci.

Jamaah Islam itu sentiasa wujud di sepanjang sejarah dan ia berperanan menjaga Islam dan memeliharanya dengan lengkap dan sempurna sama ada dalam hal-hal aqidah, akhlak, perjalanan hidup serta kewajipan beriltizam dengan Islam sebagai cara hidup.

6. Jamaah yang mengutarakan kebenaran yang membolehkan umat Islam bersatu.

Jamaah yang tidak melupai wadah perjuangan yang bersifat keterbukaan yang boleh menyatupadukan para anggotanya pada prinsip dan dasar sekalipun mereka berbeza di dalam masalah furu’.

7. Di antara sifat-sifat Hizbullah ialah: – Cintakan Allah dan Allah cintakan mereka

– Merendah diri sesama mukmin

– Bersikap tegas dengan orang-orang kafir.

– Berjihad pada jalan Allah dan tidak takut kepada celaan orang yang mencelanya.

– Memberi kesetiaan kepada Allah, Rasul dan para mukmin (pimpinan).

– Mendirikan solat.

– Menunaikan zakat

– Sentiasa ruku’ kepada Allah

Sifat mereka tersebut selari dengan Firman Allah di dalam Al-Qur’an:

“Wahai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang berpaling tadah dari agamanya(murtad), maka Allah akan mendatangkan pula satu kaum yang Allah kasihkan kepada mereka dan mereka kasih kepada Allah, bersifat lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman dan bersifat tegas terhadap orang-orang kafir. Mereka berjuang pada jalan Allah dan tidak takut kepada celaan orang yang mencela. Yang demikian itu adalah kurnia Allah yang diberikan kepada sesiapa yang dikehendakiNya kerana Allah amat luas limpah kurnianya lagi meliputi pengetahuanNya” (Surah Al-Maidah : 54-56)

REALITI JAMAAH ISLAM MASA KINI.

Gerakan islam yang muncul di beberapa Negara telah memainkan peranan amat penting dalam mencetuskan perubahan sosial di dalam lingkungan operasinya. Dengan pelbagai pendekatan, gerakan Islam bergerak ke arah mencapai cita-cita membangunkan kegemilangan dan keagungan Islam.

Kemunculan gerakan-gerakan sememangnya ditunggu-tunggu kehadirannya. Tetapi realiti yang berlaku, gerakan-gerakan yang septutnya mengungguli konsep al-ta’awun fil birr- wa al taqwa dalam membangunkan Islam tidak mengikut acuan sepatutnya. Bahkan persefahaman yang sepatutnya dijadikan penghubung antara mereka diganti dengan perbalahan dan perlumbaan yang tidak menguntungkan. Hasilnya agenda membangunkan Islam terpaksa dikongsi dengan agenda perseteruan sesame gerakan Islam yang dengan sendirinya melemahkan kembali Islam.

Pertembungan yang berlaku sedikit sebanyak menimbulkan kesan buruk terhadap Islam dan umatnya. Umat Islam semakin kabur tentang Islam ditengah-tengah pertembungan gerakan Islam. Anggota-anggota gerakan Islam juga tidak sekata di dalam menghadapi situasi ini. Bahkan kebanyakan mereka mengambil jalan mudah dengan bertindak berkecuali dan escape daripada gerakan dakwah.

Umat Islam perlu menyedari keunikan mereka sebagai umat yang satu (ummatan wahidah). Usaha-usaha ke arah itu perlu dirancang dan difikirkan semula dengan mengenepikan segala kepentingan dan hawa nafsu dan meletakkan kepentingan ummah sebagai agenda utama. Justeruj, gerakan Islam perlu nmengambil beberapa langkah dalam usaha mewujudkan perpaduan dengan penuh rasa pengorbanan dan pengharapan agar perpaaduan ummah wujud sekali lagi untuk menerangi alam yang gelap gelita.

TA’ADDUD JAMAAH: PENGERTIAN, FAKTOR PENYEBAB, KESAN DAN PENYELESAIANNYA.

Ta’addud Jamaah bermaksud berbilang-bilang jamaah.

Menurut Al-Imam Asy Syafie di dalam kitabnya ‘ Ar-Risalah’ merengakan bahwa : mengikut fahaman saya terhadap Rasulullah saw:

“Wajiblah kamu bersama-sama Jamaah Islam dan kepimpinan mereka”

Bahawa gerakan Islam itu sepatutnya satu sahaja. Walaupun demikian sabda junjungan dan pendapat para ulama’ yang muktabar tetapi kenyataannya tidak sedemikian khususnya di Negara kita. Di Negara kita ini terdapat bermacam-macam jamaah yang menamakan jamaah mereka dengan gerakan Islam.

HAKIKAT PERBEZAAN DAN PERSELISIHAN

Sebenarnya, apabila diteliti sebab wujudnya pelbagai jamaah dan memerhati tabiat kemunculannya, kita akan dapati bahawa kebanyakannya berpunca dari perbezaan manhaj dan cara bekerja para daie. Mereka memilih jalan yang difikirkan paling sesuai dan lebih dekat untuk mencapai matlamat, berpandukan nas-nas al-Qur’an dan al-hadith dan membuat beberapa penyesuaian mengikut keperluan semasa.

Para nabi telah diutuskan ke atas muka bumi ini dengan manhaj dan syariat mereka yang berbeza. Firman Allah swt dalam Al-Maidah 5:48.

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,”

Kita meyakini bahawa perbezaan ijtihad yang didasarkan kepada al-Qur’an an as-Sunnah samalah dengan perbezaan manhaj para nabi dan syariat mereka dalam sesetengah perkara, sedangkan agama mereka sama. Firman Allah swt Al-An-am 6:161

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik”.”

dan an-Nahl 16:123.

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif.” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.”

Kepelbagaian manhaj inilah yang telah mempengaruhi cara berfikir para pendakwah hai ini. Hal ini telah mengajak mereka untuk berijtihad berdasarkan pemahaman mereka terhadap nas-nas al-Qur’an dan al-Hadith. Ijtihad ini sendiri mungkin tepat dan mungkin tidak tepat. Jadi ia mempunyai ruang untuk perbincangan dan kritikan.

Hasil daripada perbincangan di atas menjelaskan bahawa di sana terdapat kepelbagaian dan perbezaan yang telah menjadi fitrah manusia. Walaubagaimanapun ini tidak menafikan perpaduan yang dituntutserta larangan perpecahan ummah kerana perbezaan dalam persepsi ini sememangnya suatu yang diharuskan oleh syara’ dengan beberapa syarat yang telah ditetapkan.

FAKTOR-FAKTOR BERLAKUNYA TA’ADDUD JAMAAH.

Banyak jamaah yang muncul dengan faktor-faktor (dakwaan) tersendiri, antaranya ialah: 1. Gerakan Islam sedia ada telah kehabisan matlamat dan tujuannya sedangkan matlamat dan cita-cita Islam belum tercapai.

2. Gerakan Islam sedia ada tidak lengkap dan menyeluruh.

3. Gerakan Islam sedia ada mempunyai kekeliruan dan seribu satu persoalan. Justeru mewujudkan Gerakan Islam baru dapat menyelamatkan mereka yang bekerja dalam lapangan Islam daripada pelbagai tuduhan dan subahat serta persoalan yang pelbagai itu.

4. Gerakan Islam sedia ada banyak melakukan kesalahan.

NATIJAH BERBILANG JAMAAH.

1. Tuduhan, cabaran dan kesalahan yang dijangka tidak mengenainya juga turut dihadapi.

2. Mereka tidak sedar bahawa yang ditentang ialah Islam sekalipun atas nama apa jamaahnya.

3. Kecacatan yang mereka lihat ada pada orang lain hinggakan menubuhkan jamaah baru sebenarnya telah berada pada mereka. Sedangkan apa yang mereka lakukan adalah sebahagian pemecahan kepada umat Islam.

4. Jamaah baru itu hanya seperti gerakan dhirar yang mengelirukan orang ramai terhadap kemampuan Islam menyelesaikan masalah ummah.

SOALAN PERBINCANGAN

1. Bincangkan jamaah-jamaah di sekitar kampus dan bezakan manhaj perjuangan (ideology) setiap jamaah tersebut.

2. Huraikan penyelesaian terhadap ta’addud jamaah di dalam kampus.

3. Huraikan ppakah kaedah terbaik di dalam melakukan amal jamaie

Rujukan :

1. Kertas Kerja Jemaah Islamiyyah (UM)

2. Kertas Kerja Amal Jamaie dan Tuntutannya (UM)

3. Model Kerajaan Islam (Y.B Dato’ Haji Haron Taib)

4. Pra Syarat Kemenangan Kita ( Ustaz Hj Nasruddin Hassan At Tantawi).

5. Manhaj Daurah Tadribiyyah (tajuk Akhlak dan Adab Berjemaah).

Khamis, 20 Ogos 2015

Ceramah Isu Semasa - Ustaz Mohd Amar Abdullah


Ceramah Isu Semasa - Ustaz Mohd Amar Abdullah
Rakaman Ceramah Isu Semasa oleh YB Ustaz Dato' Hj Mohd Amar bin Nik Abdullah, Naib Presiden PAS

Ceramah Isu Semasa - Ustaz Dato' Tuan Ibrahim Tuan Man



Ceramah Isu Semasa - Ustaz Dato' Tuan Ibrahim Tuan Man
Rakaman Ceramah Isu Semasa oleh Ustaz Dato' Tuan Ibrahim Tuan Man, Timbalan Presiden PAS.

Selasa, 18 Ogos 2015

Nasib Buruk Semasa Kematian - Ustaz Ahmad Jailani



Nasib Buruk Semasa Kematian - Ustaz Ahmad Jailani ~ Angka yang sangat menggerunkan kita ~ Berapa banyakkah nilai "Billion" wang tunai?

Ahad, 16 Ogos 2015

Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa, “Aku ciptakan mereka itu dengan tujuan untuk menyuruh mereka beribadah kepada-Ku, bukan karena Aku memerlukan mereka.



SEBAGIAN Muslim beranggapan bahwa ibadah itu hanya melakukan praktik-praktik syariat yang berdimensi spiritual semata, seperti sholat, dzikir, dan lain sebagainya. Anggapan tersebut sebenarnya tidak keliru. Karena memang di dalam al-Qur’an, Allah memberikan kabar bahwa demikianlah para malaikat beribadah kepada-Nya.

Satu tujuan utama dari penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Dalam firmannya, Allah menyampaikan,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. 51: 56).

Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa, “Aku ciptakan mereka itu dengan tujuan untuk menyuruh mereka beribadah kepada-Ku, bukan karena Aku memerlukan mereka.

Mengenai lafadz Illa Liya’budun Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibn Abbas, “Artinya, melainkan supaya mereka mau tunduk beribadah kepada-Ku, baik secara suka rela maupun terpaksa.” Sedangkan menurut Ibn Juraij lafadz tersebut mengandung maksud, “Yakni supaya mereka mengenal-Ku.”

Dengan demikian ibadah adalah perintah yang tidak bisa ditinggalkan dengan alasan apa pun. Oleh karena itu, dalam rangka membimbing umat manusia dari kesalahan dalam hal ibadah, Allah pun mengutus Rasulullah Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai role model yang tentu seluruh umat Islam harus mengikutinya (ittiba) secara totalitas.

Namun demikian, sekalipun ibadah kepada Allah merupakan perintah, hakikatnya Allah tidak membutuhkan ibadah manusia. Ibadah itu diperintahkan sebagai kewajiban adalah dalam rangka untuk kemaslahatan manusia itu sendiri secara keseluruhan meliputi kehidupan dunia dan akhirat.

Hal ini Allah tegaskan dalam ayat berikutnya,

مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ

“Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan” (QS. 51: 57).

Artinya, ibadah itu semata-mata memberikan manfaat bagi manusia itu sendiri. Ibadah manusia tidak sedikit pun akan menambah keagungan Allah. Demikian pula sebaliknya, pembangkangan manusia juga tidak akan mengurangi sedikit pun kemuliaan Allah Ta’ala.

Bahkan, bagi manusia yang mau beribadah kepada Allah dengan ikhlas, baginya disediakan kebaikan yang sangat luar biasa. Sebaliknya, jika membangkang, maka kedukaan luar biasa juga akan menjadi balasannya.

Artinya, ibadah itu baik dan hakikatnya sangat dibutuhkan oleh setiap Muslim. Mengenai hal ini, Ibn Katsir mengutip satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

“Wahai anak Adam, luangkanlah waktu untuk beribadah kepada-Ku aku akan memenuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku akan menutupi kefakiranmu. Dan jika kamu tidak melakukannya, maka Aku akan mengisi hatimu dengan kesngsaraan dan Aku tidak akan menutupi kefakiranmu.”

Dengan demikian, teranglah duduk perkara masalah ini, bahwa ternyata ibadah adalah hal utama yang tidak boleh ditinggalkan oleh setiap Muslim. Siapa saja yang meninggalkan ibadah karena mementingkan perkara lain, maka baginya jelas, kerugian yang tak terkira.

Dengan kata lain, siapa yang taat dalam ibadah maka ia termasuk Muslim yang benar dan hidup hatinya. Dan, sebaliknya, siapa yang enggan apalagi membangkang dari beribadah, maka baginya kerugian tak terkira.

Sepanjang Kehidupan

Menurut Sayyid Qutb dalam tafsirnya Fi Zhilalil Qur’an menjelaskan, bagaimana ibadah malaikat kepada Allah. Karena malaikat adalah makhluk yang paling dekat dengan-Nya. Hal ini bisa dilihat dari ketaatan malaikat dalam ibadah yang tidak pernah terputus dan terhenti.

“Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.” (QS. 21: 19-20).

Manusia, menurut Sayyid Qutb, bisa melakukan ibadah seperti itu sepanjang siang dan malam, tetapi tidak sama dengan apa yang malaikat mampu lakukan (dengan tasbih tanpa putus dan . Sebab malaikat tidak punya hawa nafsu.

Manusia bisa menjadikan seluruh hidupnya sebagai ibadah tanpa harus meliburkan diri dan memutuskan segala kegiatan lain, hanya untuk bertasbih dan beribadah seperti yang dilakukan oleh para malaikat.

Karena Islam menganggap segala gerakan dan napas sebagai ibadah bila seorang Muslim mempersembahkan dan menghadapkannya kepada Allah. Bahkan, walaupun hal itu merupakan kesenangan materi dengan menikmati kebaikan-kebaikan kenikmatan duniawi.

Jadi, setiap Muslim bisa tetap dalam ibadah selama 24 jam, sejauh apa yang dilakukan berupa amal-amal kebaikan. Mencuci baju, menyetrika, mengajar, menulis, membaca, berkata baik, memasak untuk keluarga, bahkan mencari nafkah dan seluruh aktivitas, menyayangi anak/istri/suami, hatta hanya sekedar senyum, adalah ibadah, selama itu diniatkan karena Allah.

Karena aktivitas bernilai ibadah jika memang niat awalnya adalah dalam rangka mendapat ridha Allah Ta’ala.

“Sesungguhnya setiap amalan bergantung pada niatnya,” (HR. Bukhari).

Strategi dalam Ibadah

Meskipun demikian, tetap saja ibadah yang Allah sebutkan di dalam al-Qur’an secara eksplisit dan dicontohkan oleh Rasulullah tetap menjadi perkara yang sangat utama. Seperti sholat, membaca al-Qur’an, membaca tasbih dan lain sebagainya.

Akan tetapi, dalam perjalanan kehidupan, setiap Muslim pasti mengalami fluktuasi keimanan, sehingga kadangkala muncul rasa malas dalam melakukan ibadah. Seperti sholat Sunnah di tengah malam atau dzikir yang agak panjang, atau pun membaca al-Qur’an sesuai komitmen yang sudah dibuat.

Terkait masalah ini, Abbdullah Ibn Mas’ud berkata, “Sesungguhnya bagi setiap hati ada saat-saat giat dan semangat, juga ada saat-saat lemah dan malas. Maka manfaatkanlah dengan beramal sebaik-baiknya tatkala ia giat dan semangat, kemudian istirahatkanlah tatkala ia lemah dan malas.”

Berarti, tatkala hati semangat, lakukanlah ibadah dengan sebaik-baiknya dan manfaatkanlah waktu yang ada untuk beribadah. Karena hati yang sedang semangat laksana tanah yang sedang subur. Jadi, di tanami apa pun, semuanya akan tumbuh dengan baik.

Tetapi, jika hati sedang malas dan tidak bergairah, maka istirahatkanlah ia dari berbagai aktivitas dan beban dan janganlah engkau paksakan. Karena itu ibarat tanah yang kering lagi tandus, yang tak mungkin bisa menumbuhkan apa pun.

Oleh karena itu Rasulullah tidak pernah lepas dari yang namanya istighfar. Dalam sehari setidaknya beliau beristighfar sebanyak 70 kali.

Hal ini adalah dalam rangka untuk menjaga hati dari berbagai macam gangguan, satu di antaranya adalah gangguan kemalasan dalam beribadah. Dan, yang paling utama dari istighfar itu adalah agar Allah mengampuni dosa-dosa kita.

Komen ustaz Muhammad Fawwaz tentang GHB.



Komen ustaz Muhammad Fawwaz tentang GHB.
Posted by Abdul Rahman on 10hb Ogos 2015

Rabu, 12 Ogos 2015

Pengajian Kitab Fiqh Manhaji 07-08-2015



Diterbitkan pada 8 Ogo 2015
Masjid Negeri Selangor - Pengajian Kitab Fiqh Manhaji 07-08-2015 bersama Tuan Guru Dato’ Dr Haron Din

Sabtu, 8 Ogos 2015

Rasulullah S.A.W. telah bersabda yang bermaksud: " Wajiblah kamu bersama-sama dengan jamaah Muslimin dan pimpinan mereka."



Kewajiban berada di dalam satu Jamaah atau Harakah Islamiyyah ini dapat dilihat di dalam Al Qur’an, sebagaimana firman Allah Taala yang bermaksud:

"Sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berperang untuk menegakkan agamanya di dalam satu Jamaah yang tersusun rapi, seolah-olah mereka sebuah bangunan yang tersusun kukuh."

Di dalam hadis, Rasulullah S.A.W. telah bersabda yang bermaksud:

" Wajiblah kamu bersama-sama dengan jamaah Muslimin dan pimpinan mereka."

Di dalam hadis yang lain pula, baginda bersabda yang bermaksud:

" Sesungguhnya syaitan itu serigala kepada manusia, seperti serigala kambing juga. Dia menangkap mana-mana yang jauh dan terpencil. Maka janganlah kamu memencilkan diri dan hendaklah kamu berjamaah dan mencampuri orang ramai serta menghadiri masjid."

Kaedah fiqh ada menerangkan tentang wajibnya menyertai Jamaah Islamiyyah. Antara lainnya ialah yang maksudnya :

" Sesuatu yang tidak sempurna yang wajib melainkan dengannya maka ianya juga menjadi wajib."

Daulah Islamiyyah hanya dapat ditegakkan dengan adanya Jamaah Islamiyyah dan ianya mustahil dapat ditegakkan secara individu. Oleh itu mewujudkan Jamaah Islamiyyah menjadi satu kewajiban ke atas ummat Islam dan menyertainya Juga adalah satu tuntutan yang mesti ditunaikan.

JAMAAH ISLAMIYYAH YANG DIWAJIBKAN OLEH RASULULLAH S.A.W. SUPAYA KITA BERSAMA-SAMA DENGANNYA

Jamaah Islamiyyah yang diwajibkan kita bersama-sama dengannya itu mempunyai dua matlamat yang besar iaitu :

1 - Matlamat kursus
2 - Matlamat umum

Matlamat Yang Khusus

1. Melahirkan individu muslim dan mengembalikan keperibadian Islam yang tulin kepadanya.

2. Membina keluarga Islam yang benar-benar memberi saham di dalam pembentukan individu Muslim dan masyarakat Islam.

3. Membina masyarakat Islam yang mencerminkan Islam kepada masyarakat yang belum menerima Islam.

4. Mendirikan negara Islam.

5. Menyatukan semula ummat Islam yang berpecah belah sebagaimana yang ada pada hari ini.

Matlamat Yang Umum

1. Mengabdikan manusia kepada Allah yang Esa. Sebagaimana Al Qur’an menerangkan di dalam Surah Az Zaariyaat ayat 56 yang maksudnya :

" Dan ingatlah, Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mereka menyembah dan beribadah kepada Aku."

2. Mempelopori kerja-kerja amal ma’arof dan nahi mungkar. Firman Allah Taala yang maksudnya :

" Kamu (Wahai ummat Muhammad) adalah sebaik-baik ummah yang dilahirkan bagi faedah ummat manusia (kerana) kamu menyuruh berbuat segala perkara yang baik dan melarang dari segala perkara yang salah (buruk dan keji serta kamu berirnan kepada Allah (dengan sebenar-benar iman). Dan kalaulah ahli kitab itu beriman, tentulah iman itu menjadi baik bagi mereka. Tetapi di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan dari mereka orang-orang yang fasiq."

3. Menyampaikan risalah Islam kepada manusia seluruhnya, sebagaimana firman Allah Taala yang maksudnya :

" Dan demikian (pula) kami telah menjadikan kamu (ummat Islam), ummat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidaklah menjadikan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar kamu mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sesungguhnya (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, dan Allah tidak akan mensia-siakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia."

4. Menghapuskan fitnah dan kekufuran dan berkuasa di bumi ini, sebagaimana firman Allah Taala yang maksudnya:

" Dan perangilah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah, dan sehingga menjadi agama itu seluruhnya bagi Allah semata-mata. Kemudian jika mereka berhenti (dari kekufurannya dan gangguannya), (nescaya mereka dibalas baik) kerana sesungguhnya Allah Amat Melihat akan apa yang mereka kerjakan."

Mudah-mudahan kita semua di kalangan mereka yang memahami akan kepentingan berada dalam Jemaah ini. Bukan nak melata, tapi ia adalah kemestian bagi setiap orang Islam yang mukallaf. Sedarlah muslimin dan muslimat sekalian, Orang Islam sekarang ini berada dalam keadaan yang membimbangkan. Hanya berada dalam Jemaah Islam sahaja yang dapat menyelamatkan kita. Fikir-fikirkanlah...

Khamis, 6 Ogos 2015

Pemimpin yang baik ialah pemimpin yang disayangi oleh rakyat atau orang bawahannya.


Peranan Dan Tanggungjawab Pemimpin Dalam Islam

Firman Allah swt, Al Anfaal: 27. Wahai orang-orang yang beriman! janganlah kamu mengkhianati (amanah) Allah swt dan Rasul-Nya, dan (janganlah) kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan ke atas kamu, sedang kamu mengetahui (salahnya).

Marilah kita bertakwa kepada Allah swt di mana sahaja kita berada dengan meningkatkan rasa takut kita kepada-Nya, semoga kita sentiasa dibawah jagaan-Nya.

Ikhwan muslimin, hari ini ramai orang yang ghairah untuk menjadi pemimpin tanpa melihat dan mengukur kelayakan diri sendiri, sedangkan jawatan pemimpin itu satu amanah dan tanggungjawab. Mereka meminta menjadi pemimpin dalam berbagai jawatan dalam sektor awam atau swasta, sehingga meminta menjadi wakil rakyat dan menteri. Demi untuk memperolehi sesuatu jawatan ada kemungkinan mereka akan melakukan apa saja dan bersedia menghalalkan cara walaupun dengan melakukan jenayah dan perkara-perkara yang ditegah oleh syarak seperti rasuah, mencaci, mengumpat, menipu dan sebagainya.

Memimpin adalah amanah dan tanggungjawab yang akan dipersoalkan di akhirat nanti. Amanah dan tanggungjawab ini tidak akan terlaksana tanpa adanya pemimpin yang berwibawa memeliki ciri-ciri dan sifat-sifat yang tertentu, sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya, mengajak manusia mengabdikan diri sesungguhnya kepada Allah swt, melalui kerja-kerja memakmurkan bumi Allah swt, melakukan islah, menegakkan kebenaran, mengujudkan keamanan, keharmonian dan kesejahteraan dalam masyarakat dan negara.

Berdasarkan amanah dan tanggungjawab seorang pemimpin, maka orang yang lemah dan tidak memiliki kelayakan tidak boleh menjadi pemimpin. Oleh itu melantik seorang pemimpin atau pegawai yang tidak memeliki kelayakan kepada sesuatu jawatan sedangkan masih ada orang yang lebih layak kepada jawatan tersebut, merupakan suatu pengkhianatan besar kepada Allah swt dan Rasulullah saw. Dan sangat bertentangan dengan ajaran syariat Islam kerana akibat dari perbuatan itu, masyarakat dan negara akan musnah dan tergadai serta diangkat keberkatannya.

Sabda Rasulullulah saw; ‘Apabila disandarkan pekerjaan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kiamat (saat kehancuran)’.

Sabda Rasulullulah saw lagi; ‘Barang siapa melantik seseorang sebagai pemimpin/pegawai di dalam sebuah kumpulannya sedangkan masih ada di kalangan mereka orang yang lebih layak, orang yang lebih disukai Allah swt daripadanya maka sesungguhnya dia telah mengkhianati Allah swt dan Rasul-Nya dan mengkhianati orang-orang yang beriman’.

Demi menjaga kepentingan umat dan negara, demi menjaga pengaruh keduniaan agar tidak meresab masuk ke dalam jiwa pemimpin, Rasulullah saw melarang meminta sesuatu jawatan di dalam pemerintahan, apa lagi merebut tanpa kelayakan dan persedi aan yang mencukupi. Sabda Rasulullulah saw yang bermaksud; ’Kami demi Allah, tidak akan melantik ke jawatan pemerintahan ini, orang yang memohonnya dan juga orang yang sangat-sangat berkeinginan untuk mendapatkannya’.

Sifat loba dan sifat tamak dan menginginkan jawatan akan mendorong seseorang untuk berbuat zalim dan dosa demi untuk mendapatkannya. Apabila sudah dapat berjawatan maka akan dipergunakannya untuk kepentingan-kepentin gan dirinya. Adapun orang yang diberikan jawatan berdasarkan kelayakkan, sedangkan ia tidak mengingin kan jawatan itu, maka Allah swt akan memberikan pertolongan dan taufik kepadanya di dalam menjalankan tanggungjawabnya sebagai seorang pemimpin yang merupakan amanah daripada Allah swt.

Orang yang menginginkan jawatan kerana mengejar pangkat, mencari pengaruh, mengumpul harta kekayaan, kemewahan duniawi semata-mata, sangat terdedah kepada melakukan sebarang penyelewengan, pengkhianatan dan penipuan semasa menjalankan tugas dan tanggungjawabnya. Kepada mereka ini diingatkan bahawa pengkhianatan dan penipuan yang dilakukan oleh seorang pemimpin sangat besar kesan dan akibatnya keatas diri, keluarga, rakyat dan negara. Diatas perbuatannya itu ia akan menanggung kesusahan hidup di dunia dan di akhirat dan dia akan menyesal kerana disiksa oleh Allah swt di dalam Neraka jahanam nanti.

Sabda Rasulullulah saw yang bermaksud; ‘Tiadalah seorang hamba Allah swt yang diberi tugas pemimpin untuk memimpin rakyat kemudian dia mati di hari kematiannya dalam keadaan dia menipu rakyatnya melainkan Allah swt mengharamkannya dari memasuki syurga’. (Hadis Muttafaq’alaih)

Seorang pemimpin hendaklah menjalankan tugas dengan jujur, tidak boleh melarikan diri dari menjalankan tanggungjawabnya. Kalau dia seorang pemimpin rakyat, maka dia harus turun ke medan menemui rakyat dan menyelesaikan permasalahan mereka. Rakyat hendaklah dilayani dengan adil dan saksama.

Sabda Rasulullulah saw yang bermaksud; ’Sesiapa yang diberi Allah swt kuasa untuk menguruskan sesuatu urusan kaum Muslimin, tetapi dia berlindung tidak menunaikan keperluan mereka atau menghiraukan kemiskinan mereka, nescaya Allah swt berlindung Diri tidak melayani hajat dan permintaannya’. (Hadis Sahih)

Ikhwan muslimin, sudah menjadi hak masyarakat untuk dididik dan dibantu oleh pemimpin begitu juga menasihati dan menegur mana-mana pemimpin yang terlanjur dengan cara berkhikmah kerana Islam adalah agama ‘al-nasihah’; nasihah kerana Allah, berpandukan kitabnya dan Rasulnya untuk memimpin kaum Muslimin dan sekalian rakyatnya. Masyarakat dan rakyat hendaklah mentaati pemimpin dalam perkara-perkara kebaikan dan kebajikan dan hendaklah bersedia membantu dalam melaksanakan program-program pembangunan dan kebajikan.

Penyalahgunaan kuasa oleh pemimpin adalah merupakan satu kezaliman yang sangat besar bahayanya, demikian juga menyalahgunaan kekayaan negara dan harta rakyat. Pemimpin atau pegawai yang terlibat dengan mengurus harta kerajaan tidak boleh menggunakan harta kerajaan atau makan harta kerajaan dengan cara yang tidak benar dari segi syariat Islam dan melanggar peraturan. Apapun harta yang di sampaikan kepadanya, hendaklah ia menyerahkan kepada perbendaharaan atau Baitulmal milik kaum muslimin, jangan ada sedikitpun yang dijadikan milik peribadi.

Rasulullulah saw bersabda yang bermaksud; ‘Barang siapa di antara kamu yang kami tugaskan untuk memimpin, lalu dia menyembunyikan harta walaupun sebesar jarum atau lebih kecil dari itu, maka pada hari kiamat nanti dia akan datang membawanya sebagai seorang pengkhianat’.

Seorang pemimpin hendaklah sentiasa peka dan berwaspada terhadap perbagai manusia yang keluar masuk kepadanya dan yang ada di sekelilingnya, lantaran itu hendaklah ia mengambil penasihat-penasihat dari kalangan orang-orang yang baik-baik, ikhlas lagi dipercayai dari kalangan ulamak dan orang yang bijak pandai.

Rasulullulah saw pernah mengingatkan kita dengan sabdanya, bermaksud; ‘Tidak ada seorang nabi diutuskan Allah dan tidak ada pula seorang pemimpin yang diangkat kecuali mereka mempunyai dua jenis teman rapat; teman rapat yang menyuruhnya dan yang mendorongnya berbuat kebaikan dan selalu mendorongnya untuk berbuat baik sedangkan teman yang satu lagi menyuruhnya membuat kejahatan serta mendorongnya berbuat kejahatan. Orang yang terpelihara sebenarnya ialah orang yang mendapat jagaan dan pemeliharaan daripada Allah swt.’ (Sahih Bukhari)

Jalan yang selamat ialah sentiasa berhati-hati, tidak terburu-buru membuat keputusan atau tindakan tanpa bermesyuarah terlebih dahulu. Seorang pemimpin hendaklah bersikap jujur dan mesra dengan masyarakat atau orang bawahannya serta memberi layanan yang adil kepada semua tanpa memilih kasih.

Pemimpin yang baik ialah pemimpin yang disayangi oleh rakyat atau orang bawahannya. Oleh itu seorang pemimpin hendaklah memupuk kesetiaan masyarakat kepada kepimpinannya dan jangan melakukan sesuatu yang melemahkan kepercayaan mereka dan kesetiaan mereka. Ingatlah sabda Rasulullulah saw; kepada Abu Dzar ra ketika ia meminta dilantik menjadi pegawai Rasulullulah saw, Rasulullulah saw menepuk bahunya serta bersabda; ‘Hai Abu Dzar kamu seorang yang lemah sedangkan jawatan itu adalah satu amanah (tanggungjawab) yang kelak di hari kiamat menjadi hina dan menyesal kecuali orang yang mengambilnya dengan hak dan menunaikan kewajipannya’.